Anda di halaman 1dari 7

KETERAMPILAN KLINIK DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN DISLOKASI PENUNTUN PEMBELAJARAN PEMERIKSAAN DAN PENATALAKSANAAN DISLOKASI PADA SHOULDER, ELBOW,

DAN HIP JOINT

A. ANAMNESA, PEMERIKSAAN, DAN PENATALAKSANAAN DISLOKASI SHOULDER

1. Melakukan Anamnesis a. Ucapkanlah salam dan perkenalkanlah diri anda pada klien b. Ciptakanlah suasana yang menyenangkan c. Tanyakanlah Identitas lengkap penderita dan keluhan utamanya d. Tanyakanlah mekanisme trauma - Dislokasi anterior : Trauma tidak langsung pada ekstremitas atas dengan shoulder pada posisi abduksi, ekstensi, dan rotasi eksternal. Trauma langsung dari arah posterior. - Dislokasi Posterior: Trauma tidak langsung pada shoulder dalam posisi adduksi, fleksi, dan rotasi internal. Trauma langsung dari arah anterior.

2. Melakukan pemeriksaan inspeksi pada shoulder a. Membandingkan shoulder kanan dan kiri b. Menilai adanya deformitas pada shoulder yang mengalami dislokasi - Dislokasi Anterior : Abduksi dan rotasi external - Dislokasi Posterior : Adduksi dan rotasi internal

3. Melakukan pemeriksaan palpasi pada shoulder a. Menilai nyeri dan spasme otot b. Melakukan palpasi di axilla untuk menilai letak caput humerus. Biasanya letak caput humerus berada di bagian proximal. Pada dislokasi posterior biasanya teraba massa di belakang bahu sedangkan bagian depan rata. c. Menilai axillary nerve injury, menilai sensasi dengan pin prick test di daerah deltoid

4. Menilai ROM secara aktif dan pasif a. Menilai gerak flexi 0 o -180o dan extensi 0 o -60o b. Menilai gerak rotasi eksternal dan internal 0-90o c. Menilai gerak abduksi 0-180o dan adduksi 0-30o

5. Melakukan permintaan dan penilaian hasil pemeriksaan penunjang Pada kecurigaan dislokasi shoulder joint, permeriksaan yang perlu dilakukan adalah X-Ray Shoulder Antero-Posterior

6. Reposisi pada dislokasi anterior pada shoulder a. Reduksi tertutup harus dilakukan setelah pemeriksaan klinis yang adekuat dan telah diberikan analgetik , sedatif, dan muscle relaxant b. Hippocratic Technique : Efektif hanya dengan satu orang untuk melakukan reduksi dengan satu kaki ditempatkan diantara dinding axilla dan dinding dada dengan rotasi internal dan external secara hati-hati, disertai traksi axial. c. Traction Counter Traction: merupakan modifikasi dari Hippocratic Technique dengan menggunakan sabuk sekitar daerah dada untuk memberikan gaya countertraction. d. Stimsons Technique : pasien dalam posisi prone dengan bantalan di area clavicula di atas tempat tidur diberikan beban 2,5-4 kg yang diikat pada wrist joint. Persendian akan tereduksi secara spontan dalam waktu 15-20 menit. e. Milchs Technique : pasien dalam posisi supine, kemudian ekstremitas atas di posisikan abduksi dan rotasi eksternal, kemudian caput humerus di tekan ke tempatnya semula dengan bantuan ibu jari. f. Kochers maneuver : caput humerus ditarik hingga anterior glenoid untuk memberikan efek reduksi.

7. Reposisi pada dislokasi Posterior pada shoulder a. Reduksi tertutup harus dilakukan setelah pemeriksaan klinis yang adekuat dan telah diberikan analgetik , sedatif, dan muscle relaxan b. Pasien dengan posisi supine traksi dilakukan dengan adduksi dari lengan yang segaris

dengan deformitas, dengan cara mengembalikan secara hati-hati caput humerus ke dalam fossa glenoid.

8. Post-reposisi pada dislokasi pada shoulder a. Immobilisasi selama 2 5 minggu b. Immobilisasi dengan Velpeau sling c. Pemeriksaan X-Ray Shoulder AP untuk menilai hasil reduksi

B. ANAMNESA, PEMERIKSAAN, DAN PENATALAKSANAAN DISLOKASI ELBOW 1. Melakukan Anamnesis

a. Ucapkanlah salam dan perkenalkanlah diri anda pada klien b. Ciptakanlah suasana yang menyenangkan c. Tanyakanlah Identitas lengkap penderita dan keluhan utamanya d. Tanyakanlah mekanisme trauma - Dislokasi Posterior : kombinasi dari hiperekstensi elbow, valgus stress, lengan atas abduksi, dan lengan bawah supinasi - Dislokasi Anterior : gaya langsung pada bagian belakang lengan bawah dengan elbow dalam posisi fleksi. 2. Melakukan pemeriksaan inspeksi pada elbow a. Membandingkan elbow kanan dan kiri b. Menilai adanya edema dan instabilisasi dari elbow 3. Melakukan pemeriksaan palpasi pada elbow a. Menilai nyeri dan spasme otot b. Menilai status neurovaskular

4. Menilai ROM secara aktif dan pasif a. Menilai gerak flexi (Normal = 145o , Fungsional = 30o - 130o) b. Menilai gerak ekstensi (Normal = 0o laki-laki, 15o perempuan) c. Menilai gerak supinasi (Normal = 90o , fungsional = 50o)

d. Menilai gerak pronasi (Normal = 90o , fungsional = 50o)

5. Melakukan permintaan dan penilaian hasil pemeriksaan penunjang Pada kecurigaan dislokasi shoulder joint, permeriksaan yang perlu dilakukan adalah X-Ray Elbow AnteroPosterior dan Lateral

6.

Reposisi dislokasi posterior pada elbow

a. Reduksi tertutup harus dilakukan setelah pemeriksaan klinis yang adekuat dan telah diberikan analgetik dan sedatif. b. Parvins method : pasien dalam posisi prone diatas tempat tidur, kemudian melakukan traksi wrist ke arah bawah dalam beberapa menit. Ketika olecranon bergeser ke arah distal, angkat lengan atas. c. In Meyn and Quigleys method : lengan bawah tergantung disamping tempat tidur, lakukan traksi ke arah bawah pada wrist, reduksi olecranon dengan menggunakan tangan lainnya.

7. Post-reposisi pada dislokasi pada elbow a. Immobilisasi selama 2 3 minggu b. Immobilisasi dengan crepe bandage dan sling c. Pemeriksaan X-Ray Elbow AP dan lateral untuk menilai hasil reduksi

C. ANAMNESA, PEMERIKSAAN, DAN PENATALAKSANAAN DISLOKASI HIP 1. Melakukan Anamnesis a. Ucapkanlah salam dan perkenalkanlah diri anda pada klien b. Ciptakanlah suasana yang menyenangkan c. Tanyakanlah Identitas lengkap penderita dan keluhan utamanya d. Tanyakanlah mekanisme trauma - Dislokasi Posterior : akibat dashboard injury dimana hip dan knee joint dalam keadaan fleksi.

- Dislokasi Anterior : berasal dari eksternal rotasi dan abduksi hip joint. Derajat dari fleksi hip mempengaruhi terjadinya tipe superior atau inferior dari dilokasi anterior hip joint. Dislokasi Inferior (dislokasi obturator) timbul akibat gerakan simultan abduksi, rotasi eksternal, dan fleksi hip. Dislokasi Superior(dislokasi iliac) timbul akibat gerakan simultan abduksi, rotasi eksternal, dan ekstensi hip.

2. Melakukan pemeriksaan inspeksi pada hip a. Membandingkan hip kanan dan kiri b. Menilai adanya edema dan deformitas dari hip - Dislokasi posterior :hip dalam posisi fleksi, rotasi internal, dan adduksi. - Dislokasi anterior : ditandai dengan rotasi eksternal, sedikit fleksi, dan abduksi. 3. Melakukan pemeriksaan palpasi pada hip a. Menilai nyeri dan spasme otot - Pasien tidak bisa menggerakkan ekstremitas bawah dan terasa sangat tidak nyaman. b. Menilai status neurovaskular - Cedera pada nervus sciatic atau neurovascular dari femur dapat terjadi pada disokasi hip

4. Menilai ROM secara aktif dan pasif a. Menilai gerak flexi (Normal = 90o - 120o) b. Menilai gerak ekstensi (Normal = 10o - 15o) c. Menilai gerak adduksi (Normal = 30o) d. Menilai gerak abduksi (Normal = 45o) e. Menilai gerak external rotation (Normal = 45o) f. Menilai gerak internal rotation (Normal = 35o) g. Menilai gerak retroversion (Normal = 15o) h. Menilai gerak anteroversion (Normal = 15o)

5.

Melakukan permintaan dan penilaian hasil pemeriksaan penunjang Pada kecurigaan

dislokasi hipr joint, permeriksaan yang perlu dilakukan adalah X-Ray Pelvis AnteroPosterior

6.

Reposisi pada dislokasi hip a. Reduksi tertutup harus dilakukan setelah pemeriksaan klinis yang adekuat dan

telah diberikan analgetik, sedatif, dan muscle relaxan b. Allis method : pasien dalam posisi supine, pemeriksa berada diatas pasien kemudian melakukan in-line traction, sementra assisten melakukan counter traction sambil menstabilkan pelvis pasien. Ketika traksi di tingkatkan, operator mengurangi fleksi sekitar 70o, kemudian lakukan gerakan rotasi dari hip seperti melakukan adduksi, hal ini akan membantu caput femur terbebas dari lip of acetabulum. Penekanan dari lateral ke arah proksimal femur akan membantu reduksi. Bunyi clunk merupakan tanda berhasilnya reduksi tertutup. d. Stimson gravity technique : pasien di posisikan prone, dengan kaki yang cedera tergantung di samping tempat tidur akan membuat hip fleksi dan knee fleksi masingmasing 90o, dalam posisi ini assisten mengimobilisasi pelvis sementara operator melakukan dorongan secara langsung pada proksimal betis, rotasi dari tungkai bawah akan membantu reduksi. e. Bigelow and reverse bigelow manuvers : Pasien dalam posisi supine, sementara operator melakukan traksi longitudinal pada tungkai, Femur yang dalam posisi adduksi dan rotasi internal kemudian difleksikan 90o , caput femur bergeser ke acetabulum dengan melakukan abduksi, rotasi eksternal, dan ekstensi dari hip. Pada reverse bigelow manuver dilakukan pada dislokasi anterior dari hip, traksi dilakukan in-line dengan deformitas , kemudian hip di adduksikan secara tajam kemudian di ekstensikan.

Post-reposisi pada dislokasi pada hip

a. Bedrest dilanjutkan dengan weight bearing protected selama 4-6 minggu b. Jika reduksi tidak berhasil maka dilakukan reduksi terbuka

c. Pemeriksaan X-Ray Pelvis AP untuk menilai hasil reduksi