Anda di halaman 1dari 14

SEL SEL PENYUSUN JARINGAN HEWAN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

OLEH Nama NIM Kelompok Asisiten : Demes Chornelia. M : J1C107009 : II : Echka Sastrawati B.

PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU November,2007

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Organisme multiseluler, termasuk hewan, memiliki sel-sel khusus yang mengelompok membentuk jaringan, yang merupakan tingkat struktur dan fungsi yang lebih tinggi. Pada sebagian besar hewan, kombinasi berbagai jaringan membentuk unit fungsional yang disebut organ, dan kumpulan organ yang bekerja bersama-sama akan membentuk sistem organ. Misalnya, sistem pencernaan manusia (Campbell,1999). Ada tiga lapisan spesifik (germinal) yang merupakan bakal dari pembentukan jaringan atau organ-organ dewasa yaitu : 1. Lapisan lembaga ektoderm , yang menurunkan antara lain kulit dan sistem syaraf. 2. Lapisan lembaga mesoderm, yang antara lain akan membentuk otot, rangka, organ ekstetori, jantung dengan pembuluh darahnya serta organ-organ genetalia. Juga akan menurunkan coelum atau body cavity di antara kedua lapisan mesoderm lateral. 3. Lapisan lembaga endoderm, lapisan ini terutama akan menjadi saluran dengan kelenjar pencernaannya, paru-paru dan kantung air seni (Radiopoetro, 1990). Jaringan adalah kumpulan sel-sel dengan struktur dan fungsi yang sama. Jenis jaringan yang berbeda memilki struktur yang berbeda yang sesuai dengan fungsinya.suatu jaringan disatukan oleh matriks ekstraseluler lengket yang melapisi selsel itu atau menenun mereka bersama-sama menjadi suatu anyaman erat. Jaringan dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama, yaitu jaringan epithelium, jaringan ikat, jaringan saraf, dan jaringan otot. Jaringan epitelium terdapat dalam wujud lapisan-lapisan sel yang terkemas dengan rapat. Jaringan tersebut melindungi bagian luar tubuh dan melapisi organ dan rongga didalam tubuh. Dalam tubuh manusia terdapat 9 jenis jaringan epitelium. Setiap epitel selalu melapisi permukaan luar organ atau membatasi lumen organ yang bersangkutan. Penamaannya sebagian besar berdasarkan jumlah lapisan yang ada dan bentuk sel yang paling permukaan (Campbell,1999). Beberapa jaringan macam jaringan konektif terdapat dalam tubuh manusia. Masing-masing terdiri atas sel-sel terdiferensiasi yang terbenam dalam jumlah besar bahan ekstraselular. Matriks ini disekresi oleh sel. Jaringan konektif penunjang digunakan untuk memberi kekuatan, bantuan dan perlindungan kepada bagian-bagian lemah pada tubuh. Jaringan konektif pengikat berfungsi untuk mengikat bagian-bagian tubuh (Kimball,1987). Jaringan saraf merasakan adanya stimulus atau rangsangan dan menghantarkan sinyal dari suatu bagian tubuh hewan ke bagian tubuh yang lain. Unit fungsional jaringan saraf adalah neuron, atau sel saraf yang secara unik dikhususkan untuk mengahantarkan sinyal yang disebut impuls saraf (Campbell,1999). Jaringan otot mempunyai fungsi melakukan pergerakan pada berbagai bagian tubuh. Jaringan otot dibedakan menjadi tiga, otot polos,otot lurik, dan otot jantung. Ketiganya mempunyai fungsi yang berbeda-beda dan mempunyai keistemewaan yang berbeda-beda pula. 1.2 Tujuan Praktikum

Mengamati bentuk-bentuk sel yang menyusun jaringan tubuh hewan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sel dicirikan oleh adanya molekul makro khusus, seperti pati dan selulosa, yang terjadi dari ratusan sampai ribuan gula atau molekul lain, selain itu sel dapat juga dicirikan oleh adanya molekul makro seperti protein dan asam nukleat baik DNA atau RNA yang tersusun sebagai rantai yang terdiri dari ratusan sampai ribuan molekul (Saktiono,1989). Sel-sel penyusun jaringan pada hewan lebih banyak dan kompleks, jaringan hewan terdiri dari sel-sel dengan membran halus, dan jaringan digenangi dengan larutan yang mengandung NaCl. Jaringan pada hewan dibagi menjadi empat jaringan utama yaitu, jaringan epitelium, jaringan ikat atau jaringan penyambung, jaringan otot dan jaringan saraf (Brotowijoyo,1994). Tubuh hewan terdiri atas jaringan-jaringan atau sekelompok sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Jaringan dengan struktur yang khusus memungkinkan mereka mempunyai fungsi yang spesifik. Sebagai contoh, otot-otot jantung yang bercabang menghubungkan sel-jantung yang lainnya. Percabangan tersebut membantu kontraksi sel-sel dalam satu koordinasi (Campbell ,1999). Ilmu yang mempelajari jaringan disebut histologi. Jaringan didalam tubuh hewan mempunyai sifat yang khusus dalam melakukan fungsinya, seperti peka dan pengendali (jaringan saraf), gerakan (jaringan otot), penunjang dan pengisi tubuh (jaringan ikat), absorbsi dan sekresi (jaringan epitel), bersifat cair (darah) dan lainnya. Masing-masing jaringan dasar dibedakan lagi menjadi beberapa tipe khusus sesuai dengan fungsinya. Pada saat perkembangan embrio, lapisan kecambah (germ layers) berdiferensiasi (dengan proses yang disebut histogenesis) menjadi empat macam jaringan utama, yaitu jaringan epitel, jaringan pengikat, jaringan otot, dan jaringan saraf (Pearce,1983). 1. Jaringan Epitelium Jaringan epitelium ialah jaringan yang melapisi bagian permukaan tubuh organisme multicelluler, baik permukaan luar maupun permukaan dalam, misalnya pada: permukaan mulut, kerongkongan, lambung, usus, paru-paru yagn sesungguhnya ada hubungannya dengan permukaan luar. Permukaan-permukaan dalam yang lain, misalnya pada pembuluh-pembuluh darah dan rongga-rongga tubuh, yang meskipun tidak berhubungan dengan permukaan luar, juga dilapisi oleh epitelium (Radiopoetro,1990) Jaringan epitelium (epithelial tissue) terdapat dalam wujud lapisan-lapisan sel yang terkemas dengan rapat. Sel-sel epitelium menyatu dengan erat, dengan sedikit bahan diantara sel-sel tersebut. Pengemasan secara ketat ini memungkinkan epitelium berfungsi sebagai suatu rintangan yang melindungi sel dari kerusakan mekanis, serangan mikroorganisme yang menyusup masuk, dan kehilangan cairan (Campbell,1999). Dua kriteria yang menjadi dasar pengelompokan epitelium adalah jumlah lapisan sel dan bentuk- bentuk sel pada permukaan bebasnya. Bentuk-bentuk sel yang berada pada permukaan bebas epitelium itu dapat berupa kuboidal (seperti dadu), kolumnar ( seperti bata yang dijejer berdiri), atau skuamosa (datar seperti tegel lantai).

Dari penggabungan ciri-ciri bentuk sel dan jumlah lapisan, kita mendapatkan istilah epitelium kuboidal sederhana dan epitelum skuamosa berlapis. Jaringan epitel dibagi atas dua golongan utama, masing-masing juga terdiri atas berbagai varietas. Semua epitel terletak di atas bahan homogen yang disebut membran alas (dasar) dan juga yang mempersatukan sel-sel itu (Pearce,1993). Jenis-Jenis Jaringan Epitel: a. Epitel Sederhana Golongan ini hanya terdiri atas satu lapis sel dan dapat dibagi lagi menjadi tiga golongan varisetas. b. Epitel gepeng Sel epitel gepeng terdiri atas lembaran tipis halus tersusun berdempetan seperti pada lukisan mozaik atau seperti pada lantai ubin. Sel yang sejenis ini yang membentuk alveoli paru-paru. Sel ini dijumpai ditempat-tempat dimana permukaan yang sangat halus diperlukan, seperti pada selaput jantung . pada sturktur-struktur itu , epitel membungkus atau melapisi itu disebut endotelium. c. Epitel silinder Epitel silinder dibentuk oleh satu lapis sel dan melapisi saluran dari sebagian besar kalenjer, hampir seluruh saluran pencernaan yang diselingi sel bentuk cangkir, diantaranya juga melapisi beberapa bagian dari saluran urogenital. d. Epitel berambut Epitel berambut dijumpai pada saluran pernapasan serta cabang-cabangnya seperti pada sinus frontalis dan sinus maxilaris. Juga melapisi lapisan saluran telur dan sebagian dari uterus dan ventrikel otak. e. Epitel Majemuk Epitel majemuk terdiri lebih dari satu lapis sel. Epitel berlapis membentuk lapisan epidermal (kulit ari )pada kulit. Epitel berlapis juga menyelimuti mulut, faring, usofagus, bagian bawah uretra, anus dan vagina, dan juga menutupi permukaan kornea. Pada daerah-daerah ini tidak terbentuk lapisan tanduk. Lapisan dekat permukaan kulit membentuk lapisan tanduk. Sel ini gepeng menyerupai sisik. Lapisan sel yang terletak paling dalam membentuk silinder . f. Epitel peralihan Epitel peralihan ialah epitel majemuk berlapis, terdiri atas tiga lapis sel. Ia melapisi kandung kencing, pelvis ginjal, ureter dan bagian atas dari uretra, (Pearce,1983). Selain melindungi organ-organ yang dilapisinya, beberapa macam epitelium dapat menyerap atau mensekresikan larutan kimia. Misalnya sel-sel epitelium yang melapisi lumen (rongga) saluran pencernaan dan pernapasan membentuk suatu membran mukosa. Sel-sel itu mensekresikan larutan encer, yang disebut mukus, yang melicinkan atau melumasi permukaan saluran dan menjaganya tetap lembab (Campbell,1999). Membran mukosa yang melapisi usus halus juga mensekresikan enzim-enzim pencernaan dan menyerap nutiren. Permukaan epitelium yang bebas pada membran mukosa memiliki silia yang berdenyut yang menggerakkan lapisan tipis mukosa disepanjang permukaan itu. Misalnya, epitelium bersilia pada saluran pernapasan kita, membantu menjaga paru-paru kita tetap bersih dengan cara menjerat debu dan partikel lain dan menyapu mereka kembali ke atas trakea (Campbell, 1999). 2. Jaringan Penyokong atau pengikat Jaringan ikat berfungsi untuk mengikat dan menyokong jaringan lain, jaringan ikat memiliki kumpulan sel-sel yang jarang, yang tersebar dalam suatu matriks

ekstraseluler. Serat jaringan ikat, yang terbuat dari protein, terdiri atas tiga jenis, serat berkolagen, serat elastis, dan serat retikuler. Serat berkolagen, terbuat dari kolagen, yang mungkin merupakan protein yang paling berlimpah dalam kingdom hewan. Serat berkolagen bersifat tidak elastis dan tidak mudah robek jika ditarik mengikuti panjangnya (Campbell,1999). Serat elastis ( elastic fiber), adalah untaian yang panjang yang terbuat dari protein yang disebut elastin. Serat elastis memberikan suatu sifat seperti karet yang melengkapi kekuatan serat berkolagen yang tidak elastis. Serat retikuler ( reticular fiber), adalah serat yang sangat tipis dan bercabang. Tersusun atas kolagen dan tersambung dengan serat berkolagen, serat ini membentuk anyaman yang ditenun dengan ketat yang menghubungkan jaringan ikat dengan jaringan disebalahnya (Campbell,1999). Jenis- jenis jaringan ikat : a. Jaringan pengikat longgar Jaringan ikat yang paling banyak terdapat dalam tubuh vertebrata adalah jaringan ikat longgar (loose connective tissue) . Jaringan ini mengikatkan epitelium dengan jaringan dibawahnya dan berfungsi sebagai bahan pengemas, yang menjaga agar organ tetap ditempatnya. b. Jaringan Pengikat serabut padat Jaringan ini terdapat pada selaput pembuluh darah. c. Jaringan Lemak Jaringan ini adalah bentuk khusus dari jaringan pengikat longgar yang menyimpan lemak dalam sel-sel adiposa yang menyebar di seluruh matriknya. Jaringan adiposa melapisi dan menginsulasi tubuh, serta menyimpan molekul-molekul bahan bakar. Setiap sel adiposa mengandung suatu butiran lemak besar yang membengkak ketika lemak disimpan dan mengkerut ketika tubuh menggunakan lemak itu sebagai bahan bakar. d. Jaringan tulang Berdasarkan susunan matriknya, jaringan tulang dikelompokkan menjadi, jaringan tulang kompak, bila matriknya padat dan jaringan tulang spons (bunga karang), bila matriknya berongga (Kimball,1983). e. Jaringan tulang rawan/ kartilago Tulang rawan terbuat dari bahan yang padat, bening, dan putih kebiru-biruan. Sangat kuat tetapi kurang bila dibandingkan dengan tulang. Mula-mula tulang embrio adalah tulang rawan. Kemudian pusat-pusat yang masih tumbuh saja yang dipertahankan sebagai tulang rawan. Tulang rawan tidak mengandung pembuluh darah tetapi diselubungi membran , yaitu perikhondrium, tempat tulang rawan mendapatkan darah (Salomon et all,1993). Ada tiga jenis tulang rawan yang memperlihatkan ciri-cirinya yang khas yaitu ulet, lentur dan kokoh. Tulang rawan dibedakan menjadi : 1. Tulang Rawan hialin Tulang rawan hialin terdiri atas serabut kolagen yang terbenam dalam bahan dasar yang bening seperti kaca dan ulet. Kuat dan elastik dan dijumpai menutupi ujung tulang pipa sebgai tulang rawan sendi. 2. Tulang rawan fibrosa Tulang rawan fibrosa terbentuk oleh berkas-berkas serabut dengan sel tulang rawan tersusun di antara berkas serabut itu dan dijumpai di tempat yang memerlukan kekutan besar. 3. Tulang rawan elastik

Tulang rawan elastik sering disebut tulang rawan elastik kuning sebab mengandung sejumlah besar serabut elastik berwarna kuning (Pearce,1983). f. Jaringan darah Meskipun darah berbeda dari jaringan ikat lain, ia juga memenuhi salah satu kriteria jaringan ikat, yaitu memiliki matriks ekstraseluler yang luas. Matriks, itu berupa cairan yang disebut plasma, yang terdiri atas air, garam-garam, dan berbagai jenis protein terlarut. Darah merupakan jaringan pengikat yang memiliki ciri antaa lain : 1. Substansi intraselulernya berupa cairan yang disebut plasma. 2. Didalam plasma terdapat tiga tipe sel, yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. 3. Darah beredar dari jantung ke dalam pembuluh darah nadi, pembuluh darah balik dan kapiler ke seluruh tubuh dan kembali lagi ke jantung. g. Jaringan limfe Limfe merupakan suatu cairan yang terbentuk dari air, glukosa dan garam (Kimball, 1983). 3. Jaringan Otot Jaringan otot, terdiri atas sel-sel panjang yang disebut serabut otot yang mampu berkontraksi ketika diransang oleh impuls saraf. Tersusun dalam susunan partikel didalam sitoplasma, serabut otot adalah sejumlah besar mikrofilamen yang terbuat dari protein kontraktil aktin dan miosin. Otot adalah jaringan yang paling banyak terdapat pada sebagian besar hewan, dan kontraksi otot merupakan bagian besar dari kerja seluler yang memerlukan energi dalam suatu hewan yang aktif. Ada tiga jenis otot yaitu : 1. Otot Lurik Otot lurik atau otot rangka adalah sejenis otot yang menempel pada rangka tubuh dan digunakan untuk pergerakan. Otot ini mempunyai pigmen mioglobin dan mendominasi tubuh vertebrata. Otot ini disebut lurik, karena pada otot ini tampak daerah gelap (miosin) dan terang (aktin) yang berselang seling. Disebut juga otot rangka, karena melekat di rangka dan juga otot sadar, karena bekerja di bawah kesadaran (volunter). Ciri-cirinya adalah berbentuk silindris, memanjang dan berinti sel banyak (multinuklei), bergerak dalam waktu cepat, dan cepat lelah (Pearce, 1983) 2. Otot polos Jaringan otot polos mempunyai serabut-serabut (fibril) yang homogen sehingga bila diamati di bawah mikroskop tampak polos atau tidak bergaris-garis. Otot polos berkontraksi secara refleks dan di bawah pengaruh saraf otonom. Bila otot polos dirangsang, reaksinya lambat. Otot polos terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, saluran pernapasan (Pearce,1983). 3. Otot Jantung Jaringan otot ini hanya terdapat pada lapisan tengah dinding jantung. Strukturnya menyerupai otot lurik, meskipun begitu kontraksi otot jantung secara refleks serta reaksi terhadap rangsang lambat. Fungsi otot jantung adalah untuk memompa darah ke luar jantung (Pearce,1983). 4. Jaringan saraf Jaringan saraf berperan dalam penerimaan rangsang dan penyampaian rangsang. Secara embriologi, jaringan ini berasal dari lapisan ektoderm. Jaringan ini terdapat

pada sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan pada sistim saraf tepi. Ada dua macam sel, yaitu sel saraf (neuron) dan sel pendukung (sel glia). Neuron mengandung badan sel, nukleus, dan penjuluran atau serabut. Satu tipe penjuluran tersebut adalah dendrit, yang berperan dalam menerima sinyal dari sel lain dan meneruskannya ke badan sel. Tipe penjuluran sel saraf yang lain, disebut akson (neurit), yang berperan dalam meneruskan sinyal dari badan sel ke neuron lainnya. Beberapa akson berukuran sangat panjang, yaitu memanjang dari otak sampai ke bagian bawah abdomen (panjang 1/2 meter atau lebih). Transmisi sinyal dari neuron ke neuron lainnya umumnya dilakukan secara kimia. Selain neuron, ditemukan juga sel pendukung, seperti sel glia. Sel glia merupakan sel yang menunjang dan melindungi neuron. Sel-sel pendukung umumnya berperan dalam melindungi dan membungkus akson dan dendrit, sehingga membantu mempercepat transmisi sinyal (Campbell, 1999).

BAB III METODE PERCOBAAN 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 7 November 2007, pukul 16.00 18.00 Wita bertempat diruang Biologi 1 Laboratorium Dasar FMIPA, Banjarbaru. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah mikroskop,tusuk gigi, dan metilen blue. Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah preparat jadi otot poos dan otot lurik, sel epitelium rongga mulut, preparat jadi sel darah merah, preparat jadi tulang keras dan tulang rawan. 3.3 Prosedur Kerja 1. Bagian pipi sebelah dalam digaruk dengan tusuk gigi kemudian digoreskan pada gelas obyek. 2. Menetesi obyek dengan metilen blue dan dibiarkan selama 5 menit dan kemudian ditutup dengan kaca penutup serta diamati langsung dibawah mikroskop. Menggambar dan memberi keterangan bagian-bagian sel yang terlihat. 3. Untuk preparat awetan, memperhatikan bentuk dan bagaimana sel menyusun jaringan. 4. Menjelaskan bagaimana hubungan bentuk sel dan bagaimana sel menyusun jaringan dengan fungsi jaringan tersebut.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Keterangan gambar: a. Inti sel b. Sel epitel pipih

Gambar 1 : Sel epitelium rongga mulut (100 X)

Keterangan gambar : a. Inti sel b. Pemisah antar sel c. Sel berbentuk kumparan

Gambar 2 : Otot polos (Mammal smoth muscle) (100 X)

Keternagan gambar : a. Dinding sel b. Sitoplasma c. Bentuk lembaran berwarna hijau

Gambar 3 : Reptileskin (10 X)

Keteranagan gambar : a. Sel darah merah b. Plasma

Gambar 4 : Sel darah Merah (Human Blood) (100 X)

Keternagan gambar : a. Myofibril b. Fasciculi c. Inti sel

Gambar 5: Otot lurik ( Mucle Striated) (40x)

Keternagan gambar : a. Sel epitel banyak b. Perikondrium c. Daerah rawan sebenarnya d. Jaringan ikat fibrosa e. Kondroblas f. Lakuna

Gambar 6: Tulang rawan (Mammal Developing Cartilago) (40X)

Keterangan gambar : a. Sistem harvers b. Lakuna c. Lamella d. Saluran harvers

Gambar 7 : Tulang keras ( Mammal compact bone) (40X)

4.2 Pembahasan 1. Sel epitelium Bagian-bagian sel epitelium dapat dilihat dengan perbesaran 100 x, pada sel epitelium terdapat inti sel dan sel epitel pipih. Sel-sel jaringan epitel ini tersusun membentuk lembaran-lembaran yang menutupi permukaan tubuh yang terbuka, baik diluar maupun didalam tubuh. Sel-sel epitelium tersusun kompak, tergabung bersama oleh adanya perekat intercelluler sehingga menyusun suatu kekuatan, dan bagian dasarnya biasnya disokong oleh suatu membran basalis. Sel epitelium yang

2.

3. 4.

5.

6.

7.

terdapat pada dinding pipi bagian dalam ini berfungsi untuk perlindungan. Sel epitel pada bagian dalam pipi, merupakan epitel majemuk. Otot Polos ( Mammal smoth muscle) Untuk melihat bentuk dan bagian-bagian sel dari otot polos digunakan perbesaran 100 x. Dalam percobaan ini digunakan preparat otot polos yang sudah jadi. Setiap serabut otot polos adalah sel tunggal berbentuk gelendong dengan satu nukleus. Sel-sel tersusun dalam lembaran. Otot poos juga disebut otot tak berlurik karena tidak tampak adanya pola lurik melintang di bawah mikroskop cahaya. Akan tetapi sel-sel ini mengandung baik filamen tipis maupun filamen tebal aktin dan miosin, dan filamen tersebut tersusun menjadi fibril kontraktil. Otot polos dapat berkontraksi secara spontan, terutama dikendalikan oleh neuron motor dari sistem saraf simpatik dan parasimpatik. Kerja otot polos lebih lambat daripada kerja otot rangka. Otot polos memerlukan waktu antara tiga detik sampai tiga menit untuk berkontraksi. Selain itu otot polos berbeda dengan otot kerangka dalam kemampuannya utnuk tetap berkontraksi pada berbagai panjang. Keadaan ini juga dinamakan tonus, tetapi berlainan dengan tonus pada otot kerangka. Reptileskin Untuk melihat bagian- bagian sel dari kulit reptil digunakan perbesaran 10 x, dalam percobaan ini terlihat dinding sel, sitoplasma, bentuk lembaran berwarna hijau. Sel darah merah ( Human Blood) Sel darah merah dengan perbesaran 100x, terlihat seperti bintik-bintik kecil dengan berwarna merah tersebar diantaranya plasmanya. Sel darah merah mempunyai bentuk cakra dengan diameter 7,5m dan ketebalan tepi 2m. Tengah-tengah dari cakra tersebut lebih tipis dari pada tepinya. Bentuk Bikonkaf yang menarik ini mempercepat pertukaran gas-gas antara sel-sel dan plasma darah. Otot lurik (Mucle striated) Otot lurik mempunyai serabut otot dengan garis terang dan gelap melintang berselang-seling sehingga tampak lurik-lurik, dan disebut otot rangka karena otot ini melekat pada rangka. Otot lurik berbentuk bulat memanjang, terdiri atas sel-sel yang silidris memajang. Tiap serabut mempunyai banyak inti pada bagian tepi sel otot. Didalam plasma terdapat serabut-serabut halus (miofibril) yang berwarna gelap dan terang. Otot rangka geraknya dipengaruhi oleh kesadaran, maka dikenal sebagai otot sadar. Serabut-serabut otot membentuk satuan otot , dan selanjutnya berkas otot saling bergabung membentuk berkas otot. Tulang rawan (Mammal developing cartilago) Tulang rawan dengan perbesaran 40x terlihat memiliki bagian-bagian sel epitel banyak, perikondrium, daerah rawan sebenarnya, jaringan ikat fibrosa, kondroblas, lakuna. Tulang rawan memiliki serat berkolagen yang sangat berlimpah, yang tertanam dalam suatu matriks mirip karet yang tersusun atas suatu bahan yang disebut kondroitin sulfat, suatu kompleks protein-karbohidrat. Kondroitin sulfat dan kolagen disekresikan oleh kondrosit. Sel-sel yang hanya terdapat dalam ruangan yang tersebar dalam matriks yang disebut lakuna. Gabungan serat berkolagen dan kondroitin sulfat membuat tulang rawan menjadi materi penyokong yang kuat namun fleksibel. Tulang keras (Mammal compact bone) Dalam percobaan ini digunakan perbesaran 40 kali, bagian-bagian yang terlihat di mikroskop adalah, sistem harvers, lakuna, lamella, saluran harvers.Tulang keras merupakan jaringan pengikat yang tersusun oleh sel tulang (osteoblas) yang menghasilkan matriks yang mengandung endapan zat kapur, sehingga matriksnya

menjadi lebih keras dibandingkan tulang rawan. Struktur mikroskopik tulang sejati mamalia terdiri atas unti berulang yang disebut sostem haversian. Masing-masing sistem memiliki lapisan-lapisan konsentrik yang terdiri dari matriks berimineral, yang didepositkan di sekitar saluran pusat yang mengandung pembuluh darah dan saraf yang menyediakan kebutuhan tulang sejati. Osteosit terletak didalam lakuna, ruangan yang dikelilingi matriks keras. Saluran-saluran kecil pada matriks itu akan menghubungkan lakuna dan membuat nutrien bisa disuplai ke osteosit. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan yang telah dilaksanakan adalah : 1. Pada percobaan dengan menggunakan tujuh preparat, dapat diketahui bahwa bentuk sel pada masing-masing jaringan berbeda-beda dan mempunyai fungsi yang berbeda-beda pula. Namun semuanya itu saling membutuhkan satu sama lain. 2. Ada empat jaringan utama, yaitu Jaringan epitel, Jaringan saraf, jaringan penyokong/pengikat, Jaringan otot. 3. Sel epitelium yang terdapat pada bagian dalam pipi berfungsi untuk perlindungan. Epitel ini merupakan epitel majemuk. 4. Otot polos berbentuk gelendong, bagain tengah besar dan ujungnya meruncing, berinti satu letaknya ditengah, tidak bergaris-garis. Sedangkan Otot lurik, mempunyai serabut otot, tiap serabut mempunyai inti. 5.2 Saran Untuk para praktikan sebaiknya lebih berhati-hati dalam menggunakan alat dan saat diadakannya praktikum tolong diusahakan untuk tidak ribut. Agar parktikum dapat berjalan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA Barnes, D. 1991. Zoology. Saunders College Publishing, New York. Brotowijoyo. 1994. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta. Kimball, J. W. 1997. Biologi. Erlangga, Jakarta. Pearce, C.1993. Anatomi dn Fisiologi Untuk paramedis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Radiopoetro. 1990. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Saktiono. 1989. Biologi Umum. Gramedia, Jakarta. Salomon et all. 1993 Biologi,3 ed. Saunders College Publishing, Orlando.