Anda di halaman 1dari 19

Tinjauan pustaka

Gangguan Telinga Tengah (Otitis Media Akut)


Neng Nurmalasari 10-2010-326 E3 26 mei 2013

Pendahuluan Otitis Media Otitis media ialah peradang sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. 1 Banyak ahli membuat pembagian dan klasifikasi otitis media. Secara mudah, otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif (=otitis media serosa, otitis media sekretoria, otitis media musinosa, otitis media efusi/OME). 1 Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu otitis media supuratif akut (otitis media akut=OMA) dan otitis media supuratif kronis (OMSK/OMP). Begitu pula otitis media serosa terbagi menjadi otitis media serosa akut (barotrauma=aerotitis) dan otitis media Alamat korespodensi : Jln. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Email : nengnurmalasari@ymail.com
1

serosa kronis. Selain itu terdapat juga otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa atau otitis media sifilitika. Otitis media yang lain ialah otitis media adhesiva.1

Gambar 1. Patogenesis terjadinya otits media OMA-OME-OMSK. 1 Anamnesis 1. Pengertian Anamnesa merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit si pasien. 2 Riwayat pasien merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiannya yaitu segala hal yang diceritakan penderita.2 2. Keluhan utama Yaitu gangguan atau keluhan yang dirasakan penderita sehingga mendorong ia untuk datang berobat dan memerlukan pertolongan serta menjelaskan tentang lamanya keluhan tersebut. Keluhan utama merupakan dasar untuk memulai evaluasi pasien.2
2

3. Riwayat penyakit sekarang Penyakit yang bermula pada saat pertama kali penderita merasakan keluhan itu. Tentang sifat keluhan itu yang harus diketahui adalah: Tempat Kualitas penyakit Kuantitas penyakit Urutan waktu Situasi Faktor yang memperberat atau yang mengurangi Gejala-gejala yang berhubungan. 2

4. Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit yang pernah diderita di masa lampau yang mungkin berhubungan dengan penyakit yang dialaminya sekarang. 2 5. Riwayat keluarga Segala hal yang berhubungan dengan peranan heredriter dan kontak antar anggota keluarga mengenai penyakit yang dialami pasien. Dalam hal ini faktor-faktor sosial keluarga turut mempengaruhi kesehatan penderita. 2 6. Riwayat pribadi Segala hal yang menyangkut pribadi pasien. Mengenai peristiwa penting pasien dimulai dari keterangan kelahiran, serta sikap pasien terhadap keluarga dekat. Termasuk dalam riwayat pribadi adalah riwayat kelahiran. Riwayat imunisasi, riwayat makan, riwayat pendidikan dan masalah keluarga. 2 7. Riwayat sosial Mencangkup keterangan mengenai pendidikan, pekerjaan dan segala aktivitas di luar pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, perkawinan, tanggungan keluarga, dan lain-lain. Perlu ditanyakan pula tentang kesulitan yang dihadapi pasien. 2

Telinga Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan luas keluhan utama pasien. Keluhan utama telinga dapat berupa 1) gangguan pendengaran/pekak (tuli), 2) suara berdenging/berdengung (tinitus), 3) rasa pusing yang berputar (vertigo), 4) rasa nyeri di dalam telinga (otalgia) dan 5) keluar cairan dari telinga (otore). 3 Bila ada keluhan gangguan pendengaran. Perlu ditanyakan apakah keluhan tersebut pada satu atau kedua telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah berat secara bertahap dan sudah berapa lama diderita. Apakah riwayat trauma kepala, telinga tertampat, trauma akustik, terpajan bising, pemakaian obat ototoksik sebelumnya atau pernah menderita penyakit infeksi virus seperti parotitis, influensa berat dan meningitis. Apakah gangguan pendengaran ini diderita sejak bayi sehingga terdapat juga gangguan bicara dan komunikasi. Pada orang dewasa tua perlu ditanyakan apakah gangguan ini lebih terasa di tempat yang bising atau ditempat yang lebih tenang. 3 Keluhan telinga berbunyi (tinitus) dapat berupa suara berengung atau berdenging, yang dirasakan di kepala atau ditelinga, pada satu sisi atau kedua telinga. Apakah tinitus ini disertai gangguan pendengaran atau keluhan pusing berputar. 3 Keluhan rasa pusing berputar (vertigo) merupakan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh yang disertai rasa mual, muntah, rasa penuh ditelinga, telinga berdenging yang mungkin kelainanya terdapat di labirin. Bila vertigo disertai keluhan neurologis seperti disarti, gangguan pengelihatan kemungkinan letak kelainannya di sentral. Apakah keluhan ini timbul pada posisi kepala tertentu dan berkurang bila pasien berbaring dan akan timbul lagi bila bangun dengan gerakan yang cepat. Kadang-kadang keluhan vertigo akan timbul bila ada kekakuan otot-otot di leher. Penyakit diabetes melitus, hipertensi, arteriosklerosis, penyakit jantung, anemia, kanker, sifilis dapat juga menimbulkan keluhan vertigo dan tinitus. 3 Bila ada keluhan nyeri dalam telinga (otalgia) perlu ditanyakan apakah pada telinga kiri atau kanan dan sudah berapa lama. Nyeri alih ke telinga (referred pain) dapat berasal dari mulut, tonsil atau tulang servikal karena telinga dipersarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organorgan tersebut. 3

Sekret yang keluar dari liang telinga disebut otore. Apakah sekret ini keluar dari satu atau dua telinga, disertai rasa nyeri atau tidak dan sudah berapa lama. Sekret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar dan sekret yang banyak dan bersifat mukoid umumnya berasal dari telinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya kolesteatom. Bila bercampur darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air jernih, harus waspada adanya cairan likuor cerebrospinalis.3 Perangkat diagnostik Pemeriksaan ototskopi memberikan informasi tentang gendang telinga yang dapat digunakan untuk mendiagnosis otitis media. Otitis media akut ditandai dengan penonjolan gendang telinga merah pada pemeriksaan otoskopi. Penanda tulang dan refleks cahaya mungkin kabur. Otitis media dengan efusi dapat tampak sebagai gendang telinga yang berwarna abu-abu, baik menonjol ataupun cekung ke dalam. Otitis eksterna didiagnosis dnegan teramatinya saluran eksternal yang merah dan mengalami inflamasi.4 Penggunaan alat pneumonik dengan otoskop (otoskop pneumatik) lebih lanjut membantu diagnosis otitis media. Dengan menekan balon berisi udara yang dihubungkan ke otoskop, bolus kecil udara dapat diinjeksikan ke dalam telinga luar. Morbilitas membran timpani dapat diobservasi oleh pemeriksa melalui otoskop. Pada otitis media akut dan otitis media dengan efusi, mobilitas membran timpani kurang. 4 Timpanogram, suatu pemeriksaan yang mencakup pemasangan sonde kecil pada telinga luar dan pengukuran gerakan membran timpani (gendang telinga) setelah adanya tonus yang terfiksasi, juga dapat digunakan untuk mengevaluasi mobilitas membran timfani. Pada otitis media akut dan otitits media dengan efusi, mobilitas gendang telinga berkurang. 4 Pemeriksaan audiologi memperlihatkan defisit pendengaran, yang meurpakan indikasi penimbunan cairan (infeksi atau alergi). 4

Pemeriksaan telinga Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan telinga adalah lampu kepala, corong telinga, ototskop, pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga dan garputala. Pasien duduk dengan posisi badan condong ke depan dan kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk mempermudahkan melihat telinga dan membran timpani.3 Mula-mula dilihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang daun telinga (retroaurikuler) apakah terdapat tanda peradangan atau sikatriks bekas operasi. Dengan menarik daun telinga ke atas dan ke belakang, liang telinga menjadi lebih lurus dan akan mempermudah untuk melihat keadaan liang telinga dan membran timpani. Pakailah otoskop untuk melihat lebih jelas bagian-bagian membran timpani. Otoskop dipegang dengan tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan pasien dan dengan tangan kiri bila memeriksa telinga kiri. Supaya posisi ototskop ini stabil maka jari kelingking tangan yang memegang ototskop ditekankan pada pipi pasien.3 Bila terdapat serumen dalam liang telinga yang menyumbat maka serumen ini harus dikeluarkan. Jika konsistensinya cair dapat dengan kapas yang dililitkan, bila konsistennya lunak atau liat dapat dikeluarkan dengan pengait dan bila berbentuk lempengan dapat dipegang dan dikeluarkan dengan pinset. Jika serumen ini sangat keras dan menyumbat seluruh liang telinga makan lebih baik dilunakkan dulu dengan minyak atau karbogliserin. Bila sudah lunak atau cairan dapat dilakukan irigasi dengan air supaya liang telinga bersih.3 Uji pendengaran dilakukan melalui garputala dan dari hasil pemeriksaan dapat diketahui jenis ketulian apakah tuli konduktif atau tuli perseptif (sensorineural). Uji penala yang dilakukan sehari-hari adalah uji pendengaran rinne dan weber. 3 Uji rinne dilakukan dengan menggetarkan garputala 512 Hz dengan jari ayau mengetukkannya pada siku atau lutut pemeriksa. Kaki garputala tersebut diletakkan pada tulang mastoid telinga yang diperiksa selama 2-3 detik. Kemudian dipindahkan ke depan liang telinga selama2-3 detik. Pasien menentukan ditempat mana yang terdengar lebih keras. Jika bunyi terdengar lebih keras bila garpu tala diletakkan di depan liang telinga berarti telinga yang diperiksa normal atau menderita tuli sensorineural. Keadaan seperti ini disebut rinne positif. Bila bunyi yang terdengar lebih keras di tulang mastoid, maka telinga yang diperiksa menderita tuli konduktif dan biasanya lebih dari 20 dB. Hal ini disebut rinne negatif. 3
6

Uji weber dilakukan dengan meletakkan kaki penala yang telah digetarkan pada garis tengah wajah atau kepala. Ditanyakan pada telinga mana yang terdengar lebih keras. Pada keadaan normal pasien mendengar suara di tengah atau atau tidak dapat membedakan telinga mana yang mendengar lebih keras. Bila pasien mendengar lebih keras pada telinga sehat (lateralisasi ke telinga yang sehat) berarti telinga yang sakit menderita tulis ensorineural. Bila pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit (lateralisasi ke telinga yang sakit) berarti telinga yang sakit menderita tuli konduktif. 3 Diagnosis kerja Otitis media akut Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya miroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba eustachius, enzim dan antibodi. 1 Otitis media akut (OMA) terjadi karena faktor pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. 1 Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran napas. Pada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran napas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horisontal. 1 Etiologi Kuman penyebab utama pada OMA ialah bakteri piogenik, seperti streptokokus hemolitikus, stafilokokus aureus, pneumokokus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga haemophylus influenza, escherichia colli, streptococcus anhemolitikus, proteus vulgaris dan pseudomonas aeruginosa. Haemophylus influenzae sering ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun.1

Tabel 1. Bakteri Patogen pada Anak dengan Otitis Media Akut. 5 Streptoccocus pneumoniae Haemophylus influenzae (tipe tak dapat ditentukan) Streptococcus group A Branhamella catarrhalis Stapylococcus aureus Staphylococcus epidermidis Bayi Clamydia trachomatis Eschercia coli Spesies klebsiella

Patogenesis Insiden otitis media akut dan berulang yang tinggi pada anak mungkin merupakan kombinasi dari beberapa faktor, dengan disfungsi tuba Eustachius dan kerentanan anak terhadap infeksi saluran pernapasan atas berulang adalah faktor yang paling penting. Tuba Eustachius membuka kedalam ruang telinga tengah anterior dan menghubungkan struktur tersebut dengan nasofaring. Ia dilapisi oleh epitel saluran pernapasan dan dikelilingi pada jarak pendek dekat telinga tengah oleh tulang, tetapi untuk sebagian besar panjangnya ia dikelilingi oleh kartilago. Tuba Eustachius pada anak berbeda dengan tuba Eustachius pada dewasa yaitu tuba Eustachius pada anak lebih horizontal, lebih lebar dan pendek.6 Penyakit ini sering kali diawali dengan infeksi saluran napas bagian atas (ISPA). Perluasan radang atau infeksi dari hidung atau nasofaring ke dalam kavum timpani dikarenakan adanya hubungan langsung antara hidung dan kavum timpani melalui tuba Eustachius serta adanya persamaan jenis mukosa antara kedua tempat tersebut. 7 Pada bayi, tuba Eustachius relatif lebih lebar, lurus, pendek dan posisinya lebih horizontal sehingga mempermuda untuk cairan yang diminum seperti susu masuk ke dalam kavum timpani. Hal ini dapat terjadi apabila bayi menyusu dalam posisi berbaring atau jika bayi muntah. Keadaan ini digolongkan sebagai penyebab yang rinogen. 7
8

Meskipun jarang, namun penyakit ini juga dapat terjadi melalui robekan membran timpani yang terjadi akibat fraktur basis kranii, trauma akibat ledakan, pukulan ataupun membran timpani yang tertusuk lidi. Selanjutnya dari meatus akustikus eksternus (MAE) lewat robekan membran timpani, kuman akan masuk ke dalam kavum timpani. Perjalanan penyakit yang demikian tergolong sebagai penyakit eksogen. 7 Penyakit ini juga dapat terjadi secara hematogen, yaitu pada penyakit yang berat atau jika daya tahan tubuh penderita sangat buruk misalnya pada kasus morbili, tuberkulosis paru, malnutrisi dan lain-lain. 7 Peradangan yang mengenai mukosa hidung dan nasofaring akibat adanya infeksi saluran napas atas berlanjut ke mukosa tuba Eustachius dan mukosa kavum timpani.akibatnya mukosa tuba Eustachius mengalami udem yang akan menyempitkan atau menyumbat lumen tuba Eustachius. Keadaan ini akan mengakibatkan fungsi tuba Eustachius terganggu (fungsi ventilasi dan drainase). Gangguan fungsi ini antara lain akan menyebabkan berkurangnya asupan O2 ke dalam kavum timpani. Akibatnya tekanan undara di dalam kavum timpani menjadi berkurang (hipotensi), menjadi kurang dari 1 atmosfermdan disebut vakum. Kondisi vakum kemudian akan menyebabkan terjadinya perubahan pada mukosa kavum timpani, berupa; (1) peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan limfe, (2) peningatan permeabilitas dinding sel, (3) terjadi poliferasi sel kelenjar submukosa. Perubahan yang terjadi pada mukosa kavum timpani tersebut mengakibatkan erjadinya perembesan cairan ke dalam kavum timpani (transudasi). Keadaan ini disebut sebagai Hydrops ex vacuo. 7 Perubahan yang terjadi pada mukosa kavum timpani akibat adanya vakum pada stadium kataralis, menyebabkan pertahan mukosa setempat menurun. Kuman yang berasal dari hidung dan nasofaring (akibat cara membuang ingus yang salah), besar kemungkinannya mampu mengadakan penetrasi kedalam jaringan mukosa kavum timpani. Nanah akan dengan cepat terbentuk sehingga tekanan didalam kavum timpani berubah menjadi lebih tinggi (hipertensi). 7 Apabila pada stadium ini parasentesis tidak segera dilakukan, maka dapat terjadi perforasi spontan pada membran timpani akibat tekanan yang tinggi. Dalam keadaan ini akan keluar sekret yang bersifat molor (mukopus), karena sekret tersebut dihasilkan oleh mukosa kavum timpani yang mengandung sel goblet. 7
9

Stadium oma Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium (1) stadium oklusi tuba eustachius, (2) stadium hiperemis, (3) stadium supurasi, (4) stadium perforasi dan (5) stadium resolusi. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani yang diamati melalui liang telinga luar. 1 Stadium oklusi tuba eustachius Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani ialah gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, akibat absorpsi udara. Kadang-kadang membran timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi. 1 Stadium hiperemis (stadium pre-supurasi) Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani ataus eluruh membran timpani tampah hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. 1 Stadium supurasi Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. 1 Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. 1 Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia, akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Ditempat ini akan terjadi ruptur. 1

10

Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga luar. 1 Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, maka luabang tempat ruptur (perforasi) tidak mudah menutup kembali. 1 Stadium perforasi Karenan beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut dengan otitis media akut stadium perforasi. 1 Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitits media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi. 1 Epidemiologi Anak-anak cenderung mengalami otitis. Otitis media adalah salah satu infeksi tersering pada anak-anak. Pada beberapa penelitian infeksi ini diperkirakan terjadi pada 25 persen anak. Lebih sering pada anak-anak indian Amerika dan Eskimo dibandingkan dengan anak kulit putih, dan paling jarang pada anak kulit hitam. Infeksi umumnya terjadi pada dua tahun pertama kehidupan, sedangkan insiden puncak kedua terjadi pada tahun pertama masa sekolah. Anak-anak yang telah mengalami enam kali serangan otitis media atau lebih disebut dengan istilah cenderung otitis. Suatu penelitian howie menunjukan bahwa suatu episode infeksi otitis media akut berulang.
11

Keadaan ini lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak wanita. Insiden kondisi alergi tidak meningkat pada anak-anak ini. Delapan serotipe S. pnemoniae bertanggung jawab atas lebih dari 75 persen episode otitis media akut. Dengan demikian pengembangan suatu vaksin pnemokok dapat merupakan suatu langkkah penting dalam mengendalikan episode berulang ini. 5 Gejala klinik OMA Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, keluhan di samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. 1 Apada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh diteling a atau rasa kurang engar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA ialah suhu tubuh tinggi dapat 39,5 oC (pada stadium supurasi) anak gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret megalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang. 1 Diagnosis Banding Otitis eksterna akut Terdapat 2 kemungkinan otitis eksterna akut yaitu otitis eksterna sirkumskripta dan otitis eksterna difus. 1 1. Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel=bisul) Oleh karena kulit di sepertiga luar liang telinga mengandung adneska kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka di tempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel. 8 Kuman penyebab biasanya staphylococcus aureus atau staphylococcus albus.8 Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat. Tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga mengandung jaringan longgar dibawahnya,
12

sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran, bila furunkel besar dan menyumbang liang telinga.8 Terapi tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika dalam bentuk salep, seperti polymixin B atau bacitracin atau antiseptik (asam asetat 2-5% dalam alkohol). 8 Kalau dinding furunkel tebal, dilakukan insisi, kemudian dipasang salir (drain) untuk mengalirkan nanahnya. 8 Biasanya tidak perlu diberikan antibiotika secara sistemik, hanya diberikan obat simtomatik seperti analgetik dan obat penenang. 8 2. Otitis eksterna difus Biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasnya. 8 Kuman penyebab biasanya golongan pseudomonas. Kuman lain yang dapat sebagai penyebab ialah staphylococcus albus, escherichia coli dan sebagainya. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis. 8 Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri tekan, terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir (musin) seperti sekret yang ke luar dari kavum timpani pada otitis media. 8 Pengobatannya dengan membersihkan liang telinga, memasukkan tampon yang mengandung antibiotik ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotika sistemik. 8

13

Penatalaksanaan Pengobatan anak-anak dengan kecenderungan mengalami otitis media ini dapat bersifat medis ataupun pembenahan. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotik dosis rendah dalam jangka waktu 3 bulan di musin dingin. Alternatif lain adalah pemasangan tuba ventilasi. Keputusan untuk melakukan miringotomi umumnya berdasarkan kegagalan profilaksis secara medis atau timbul reaksi alergi terhadap antimikroba yang lazim dipakai, baik golongan sulfa ataupun penisilin. 5 Medika mentosa Pengobatan OMA bergantung pada stadium penyakitnya. 1 Pada stadium oklusi pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba eustachius, sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat tetes hidung. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik (anak < 12 tahun) atau HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk yang berumur di atas 12 tahun dan pada orang dewasa. 1 Selain itu sumber infeksi harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah kuman, bukan oleh virus atau alergi. 1 Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiorika, obat tetes hidung dan analgetika. Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin atau ampisilin. Terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat di dalam darah, sheingga tidak terjadi mastoiditis yang terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan kekambuhan. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka diberkan eritromisin. 1 Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/kg BB per hari, dibagi dalam 4 dosis atau amoksisilin 40 mg/kg BB.hari dibagi dalam 3 dosis atau eritromisin 40 mg/kg BB/hari. 1 Pada stadium supurasi selain diberikan antibiotika, idealnya harus disertai dengan miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari. 1

14

Pada stadium perforasi sering terlihat sekret banyak keluar dan kadang terlihat sekret keluar secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat pencuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.1 Pada stadium resolusi, maka membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup. 1 Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mgalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Keadaan ini dapat disebabkan karena berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian antibiotika dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan tetap banyak, kemungkinan telah terjadi mastoiditis. 1 Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. 1 Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis (OMSK).1 Pada pengobatan OMA terdapat beberapa faktor risiko yang menyebabkan kegagalan terapi. Risiko tersebut digolongkan menjadi risiko tinggi kegagalan terapi dan risiko rendah. 1 Nonmedika mentosa Miringotomi Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani, agar terjadi drenase sekret dari telinga tengah ke telinga luar. Istilah miringotomi sering dikacaukan dengan parasentesis. Timpanosenteis sebetulnya berarti pungsi pada membran timpani untuk mendapatkan sekret guna pemeriksaan mikrobiologik (dengan semprit dan jarum khusus). 1 Miringotomi merupakan tindakan pembedahan kecil yang dilakukan dengan syarat tindakan ini harus dilakukan secara a-vue (dilihat langsung), anak harus tenang dan dapat dikuasi, (sehingga membran timpani dapat dilihat dengan baik). Lokasi miringotomi ialah kuadran posteriorinferior. Untuk tindakan ini haruslah memakai lampu kepala yang mempunyai sinar cukup

15

terang, memakai corong telinga yang sesuai dengan besar liang telinga, dan pisau khusus (miringotomi) yang digunakan berukuran kecil dan steril. 1 Komplikasi miringotomi Komplikasi miringotomi yang mungkin terjadi ialah perdarahan akibat trauma pada liang telinga luar, dislokasi tulang pendengaran, trauma pada fenestra rotundum, trauma pada n.fasialis, trauma pada bulbus jugulare (bila ada anomali letak). 1 Mengingat kemungkinan komplikasi itu, maka dianjutkan untuk melakukan miringotomi dnegan narkosis umum dan memakai mikroskop. Tindakan miringotomi dengan memakai mikroskop, selain aman, dapat juga menghisap sekret dari telinga tengah sebanyak-banyaknya hanya dengan cara ini biayanya lebih mahal. 1 Bila terapi yang diberikan sudah adekuat, sebetulnya miringotomi tidak perlu dilakukan, kecuali bila jelas tampak adanya nanah ditelinga tengah. Dewasa ini sebagian ahli berpendapat bahwa miringotomi tidak perlu dilakukan, apabila terapi yang adekuat sudah dapat diberikan (antibiotika yang tepat dan dosis cukup). Komplikasi timpanosintesis kurang lebih sama dengan komplikasi miringotomi. 1 Prognosis Setelah dilakukannya perawatan pada penderita otitis media, bakteri yang menyerang pada telinga tengah dapat dilumpuhkan, maka penyebab utama terjadinya peradangan akan hilang. Komplikasi Sebelum ada antibiotika, OMA dapat menimbulkan komplikasi yaitu abses sub-periosteal sampai komplikasi yang berat (meningitis dan abses otak). 1 Sekarang setelah ada antibiotika, semua jenis komplikasi itu biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari OMSK. 1 Selama fase otitis media akut bila ada efusi, terdapat kehilangan pendengaran konduktif yang biasanya sembuh sempurna pada penderita yang diobati dengan memadai. Namun, proses radang dapat merangsang fibrosis, hialinisasi dan endapan kalsium pada MT dan pada struktur telinga
16

tengah. Plak timpanosklerotik ini tampak sebagai bercak bahan putih irregular. Timpanosklerosis dapat menghalangi mobilitas MT dan kadang-kadang dapat memfiksasi rantai osikula. 9 MT dapat mengalami perforasi akibat nekross jaringan selama infeksi. Perforasi biasanya kecil, terjadi pada bagian sentral pars tensa, dan menyembuh secara spontan bila infeksi sembuh. Perforasi yang lebih besar mungkin tidak dapat menutup. Otitis media tuberkulosis biasanya menyebabkan banyak perforasi kecil. Rantai osikula juga dapat terkena oleh nekrosis. Paling lazim prosesus longus inkus nekrosis, mengakibatkan osikula tidak konsisten. Perforasi MT menetap dan nekrosis osikula, keduanya menyebabkan kehilangan pendengaran konduktif yang memerlukan koreksi bedah dengan timpanoplasti. 9 Pada penyembuhan perforasi, epitel skuamosa, dapat tumbuh ke dalam telinga tengah, membentuk struktur seperti kantung yang mengumpulkan debris epitel yang lepas. Kista ono disebut kolesteatoma. 9 Paralisis n. Fasialis dapat terjadi pada otitis media supuratif akut. Sekitar sepertiga penderita mempunyai tulang telinga yang tidak sempurna yang menutupi n. Fasialis dalam telinga tengah. Paralisis dapat parsial atau total. Penyembuhan biasanya sempurna jika digunakan terapi antibiotik dan dilakukan miringotomi. Pemasangan PET memberikan jalan secara langsung bagi antibiotik untuk diteteskan pada daerah yang meradang. 9 Selama otitis media akut, respon radang yang disebut labirinitis serosa: dapat terjadi. Biasanya ada vertigo ringan tetapi bukan kehilangan pendengaran. Namun jika bakteri menginvasi labirin melalui fenestra ovalis dan rotundum. Terjadi labirinitis supuratif akut yang menyebabkan vertigo berat, nistagmus dan kehilangan pendengaran sensorineural berat. Mungkin perlu dilakukan drenase bedah terhadap labirin untuk menghindari penyebaran infeksi intrakranium. 9 Keterlibatan mastoid dengan radang dan eksudat purulent selalu ada selama otitis media akut, seperti ditujukkan oleh keopakan sistem sel udara (mastoiditis) pada rontenografi. Istilah mastoiditis supuratif akut menggambarkan osteomielitis mastoid koalesen akut; sekat-sekat sel udara mastoid mengalami nekrosis dan sistem sel udara menjadi konfluen. Hal ini disertai nyeri berat dibelakang telinga, oembengkakan dan radang pada mastoid dan perpindahan aurikula ke depan dan lateral kepala. Pada pemeriksaan otoskop, dinding posterosuperior saluran telinga

17

tampak melengkung. Kadang-kadang ujung mastoid pecah karena infeksi dan nanah meluap ke dalam bidang leher yang terletak disebelah anterior m. Sternokleidomastoideus (abses bezoid). 9 Infeksi ini dapat mencapai sel udara bagian medial os temporal melalui sel perilabirin, menyebabkan osteomielitis apeks petrosa. Bila ini terjadi dapat mengakibatkan paralisis n. Kranialis VI, nyeri retro-orbital dalam akibat terlibatnya n. Trigeminus, dan otitis media pada sisi yang sama (sindrom gradenigo). Mastoiditis dan petrositis akut memerlukan drainase bedah pada daerah yang terkena. 9 Komplikasi intrakranium otitis media akut yang paling lazim adalah meningitis. Komplikasi ini paling mungkin terjadi bila diagnosis dan terapi terlambat. Meningitis otitis disertai dengan semua komplikasi neurologi meningitis yang biasa dan dapat juga disertai dengan tuli sensorineural berat serta disfungsi labirin. Organisme yang paling lazim menyebabkan meningitis yang menyebabkan ketulian adalah H. Influenzae. Sekitar 7% penderita dnegan meningitis ini mengalami tuli sensorineural. Komplikasi intrakranium lain adalah serebtiris, abses epidural absen otak dan trombosis sinus lateralis. Hidrosefalus otitis terjadi bila ada trombosis sinus petrosus. Pemindaian CT kranium amat membantu dalam mendeteksi komplikasi intrakranium awal. 9 Kesimpulan

18

Daftar pustaka 1. Djaafar ZA, Helmi, Restuti RD. Kelainan telinga tengah in: Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala & leher. Ed.6. Jakarta: FKUI; 2011.h. 64-9 2. Santoso M. Pemeriksaan fisik diagnosik. Jakarta: bidang penerbitan yayasan diabetes indonesia; 2004.h. 2-14 3. Soepardi EA. Pemeriksaan telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher in: Telinga hidung tenggorok kepala & leher. Ed.6. Jakarta: FKUI; 2011.h.1-2. 4. Corwin EJ. Patofisiologi : buku saku. Edisi 3. Jakarta: EGC;2009.h.384-385 5. Adams, George L. Boies: buku ajar penyakit THT. Ed.6. Jakarta: EGC; 2012.h.95-106. 6. Behrman, Kliegman, Alvin. Ilmu kesehatan anak Nelson. Ed.15. Vol.3. Jakarta: EGC; 2000.h.2207-14. 7. Herawati S, Rukmini S. Buku ajar ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Jakarta: EGC; 2003. h.25-9 8. Hafil AF, Sosialisman, Helmi, dan Restuti RD. Kelainan telinga luar in: Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala & leher. Ed.6. Jakarta: FKUI; 2011.h. 64-9 9. Alpers A. Buku ajar pediatri rudolph. Edisi 20. Jakarta: EGC;2006.h.1051-2

19