Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM METODE ANALISIS FISIKOKIMIA FA-3204 PERCOBAAN VII BIAMPEROMETRI

Disusun oleh : Kelompok VIII Shift Kamis


Tyas Kiranandaru Pawestri Endang Setyaningsih Aa Andineke Nurhanifa Tia Utami Alvia Magdalena Malau Indriani Mustika 10710072 10710075 10710081 10710087 10710096 10710104

Tanggal praktikum : 21 Maret 2013 Tanggal pengumpulan : 28 Maret 2013 Asisten : Ni Wayan Wiwik (10709089)

LABORATORIUM FISIKOKIMIA PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI SEKOLAH FARMASI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

PERCOBAAN VII BIAMPEROMETRI


A. Tujuan Menentukan konsentrasi Sulfanilamid dalam sampel (% b/b ) dengan menggunakan teknik biamperometri.

B. Data dan Pengolahan Data 1. 2. Data Waktu (menit) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Volume peniter (mL) 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 Arus (mikro A) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 9.5 10 10.5 11 11.5 12 12.5 13 13.5 14 14.5 15 15.5 16 16.5 17 17.5 18 18.5 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Data

39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68

19.5 20 20.5 21 21.5 22 22.5 23 23.5 24 24.5 25 25.5 26 26.5 27 27.5 28 28.5 29 29.5 30 30.5 31 31.5 32 32.5 33 33.5 34

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.03 1.07

3. Pengolahan Data

Kurva Arus terhadap Volume NaNO2


1.2 1

Arus (A)

0.8 0.6 0.4 0.2 0 12.5 15.5 18.5 21.5 24.5 27.5 30.5

Volume NaNO2 (mL)

a. Pengolahan data Kadar sulfanilamide V saat titik akhir titrasi = 33 mL M NaNO2 = 0.1 M Mr Sulfailamid = 172,21 M sulfanilamid V sulfanilamid = M NaNO2 V NaNO2 n sulfanilamid = M NaNO2 V NaNO2 m sulfanilamid / Mr sulfanilamid = M NaNO2 V NaNO2 m sulfanilamid = M NaNO2 V NaNO2 Mr sulfanilamid

33.5

3.5

23

11

14

17

20

26

29

0.5

6.5

9.5

32

= 0,1 M 33 mL 172,21 = 567,93 mg

C.

Pembahasan

1. Pembahasan teori dasar dan prinsip spektroflourometri Biamperometri adalah aplikasi dari voltametri yang digunakan untuk menentukan titik ekivalen titrasi. Dalam proses titrasinya, paling tidak satu komponen dari reaksi tersebut harus mengalami reaksi oksidasi atau reduksi. Spesi yang mengalami reaksi tersebut dapat disebut sebagai spesi elektroaktif. Titrasi biamperometri dilakukan menggunakan sepasang mikroelektroda identik, yaitu elektroda platinum, yang tercelup ke dalam larutan sampel dan diantara keduanya terdapat perbedaan potensial sebesar 0-200 mV yang sudah diatur. Pada titrasi ini, arus tidak akan timbul apabila tidak ada spesi yang mudah teroksidasi maupun tereduksi di dalam larutan dan salah satu elektroda terpolarisasi. Ketika terdapat spesi yang mudah teroksidasi maupun tereduksi di dalam larutan, maka salah satu elektroda tidak akan terpolarisasi (terdepolarisasi). Hal ini dapat terjadi karena oksidasi atau reduksi terjadi pada keberadaan spesi tersebut. Hasil dari serangkaian reaksi di atas adalah perubahan arus. Besarnya arus ini berbanding lurus dengan konsentrasi kelebihan reagen, sehingga metode ini dapat digunakan untuk mengestimasi titik ekivalen titrasi. Komponen-komponen dalam titrasi biamperometri yaitu: 1. Buret Sebagai alat penitrasi yang berisi larutan peniter. 2. Pengecek suhu Sebagai alat yang digunakan untuk mengecek suhu sehingga suhu titrasi dapat selalu dikontrol agar sesuai dengan standar titrasi. 3. Biamperometer Sebagai detektor perubahan arus yang terjadi ketika titrasi.

4. Elektroda Elektroda yang digunakan dapat berupa elektroda platinum, elektroda merkuri, dan elektroda emas. Pemilihan jenis elektroda didasarkan pada besarnya range potensial yang diinginkan untuk menguji sampel.

Pada analisis dengan teknik biamperometri, terdapat berbagai kemungkinan terjadinya reaksi yang bergantung pada sifat-sifat spesi dalam titrasi. Berbagai kurva yang menunjukkan kemungkinan reaksi yaitu:

1. Analit tidak elektroaktif, peniter elektroaktif

Pada titrasi ini, analit yang diuji tidak bersifat elektroaktif atau tidak mudah mengalami oksidasi maupun reduksi. Oleh karena itu, analit sebagai spesi bebas tidak akan menimbulkan perubahan arus sampai titik ekivalen. Sehingga sebelum titik ekivalen tercapai, kurva yang terbentuk hanyalah garis datar karena reaksi analit dengan peniter menghasilkan spesi nonelektroaktif. Sedangkan setelah titik ekivalen tercapai, jumlah peniter yang berlebih menyebabkan adanya spesi peniter bebas yang bersifat elektroaktif. Hal tersebut akan mendepolarisasi elektroda sehingga ada arus yang timbul dan menyebabkan kenaikan kurva.

2. Analit elektroaktif, peniter tidak elektroaktif

Pada titrasi jenis ini, analit bersifat elektroaktif atau mudah mengalami oksidasi maupun reduksi, sedangkan peniter yang digunakan bersifat nonelektroaktif. Ketika dilakukan penambahan peniter, terjadi penurunan arus yang mengakibatkan kurva menurun. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya spesi stabil dari spesi analit bebas dengan peniter yang nonelektroaktif. Kurva yang dihasilkan akan menurun sampai tercapai titik ekivalen dimana seluruh analit telah bereaksi dengan peniter. Setelah melewati titik ekivalen, kelebihan peniter tidak akan menghasilkan perubahan arus karena sifatnya tidak elektroaktif dan menyebabkan kurva hanya berupa garis datar.

3. Analit dan peniter elektroaktif

Pada titrasi ini baik analit maupun peniter memiliki sifat elektroaktif atau mudah mengalami oksidasi maupun reduksi. Kurva yang dihasilkan pada penambahan peniter adalah menurun karena terjadi pembentukan spesi stabil antara spesi analit bebas dengan peniter. Hal ini terjadi sampai titik ekivalen dimana arus bernilai nol, yaitu saat semua analit telah bereaksi dengan peniter sehingga tidak ada spesi analit maupun peniter dalam bentuk bebas. Selanjutnya kelebihan peniter menyebabkan kenaikan arus karena peniter tersebut berada dalam bentuk bebas dan bersifat elektroaktif, sehingga kurva yang dihasilkan adalah kurva menaik. Polarografi merupakan suatu metode analisis yang didasarkan pada prinsip elektrolisis dengan elektroda mikro tetes air raksa. Peristiwa redoks digunakan di dalam metode ini, terutama reaksi reduksi. Ion-ion logam dan senyawa organik yang dapat direduksi dapat ditentukan jenis maupun konsentrasinya dengan metode ini.Selanjutnya teknik polarografi ini dijadikan dasar bagi pengembangan metode

voltametri. Polarografi merupakan sub bagianVoltametri dengan menggunakan elektroda kerja elektroda tetes merkuri (dropping mercury electrode, DME). Susunan alat polarografi terdiri atas sel polarografi dan alat pencatat polarogram.Sedangkan dalam sel polarografi terdiri atas: a. Elektroda pembanding. Dalam sel polarografi elektroda pembanding yang digunakan adalahelektroda kalomel jenuh (SCE) b. Elektroda indikator Dalam hal ini elektroda yang digunakan adalah elektroda tetes air raksa(DME). Digunakannya DME karena elektroda ini mempunyai daerahelektroaktivitas yang luas dan merupakan elektroda yang selalu segar permukaannya sehingga reaksi reduksi dapat berlangsung dengan cepat c. Pipa saluran gas N2 Pipa ini dimaksudkan untuk mengusir gas O2 yang kemungkinan terlarutdalam larutan yang sedang dianalisis. Hal ini bila ada gas O2 maka gas tersebut akan ikut tereduksi sehingga mempengaruhi hasil analisis

Berikut merupakan komponen polarogram. a. Polarograf Polarograf terdiri dari 2 bagian, sel polarografi (sel elektrolisis) dan pencatat polarogram. Secara umum, polarograf tersusun dari tiga komponen: 1. Mercury Elektroda (Elektroda Merkuri) Elektroda merkuri merupakan elektroda kerja dalam sistem polarografi,disamping 2 elektroda yang lain yaitu elektroda pembanding (Ag/AgCe atau kolonel jenuh) dan elektroda pembantu (Auxiallary elektroda) yaitu Pt atau Au. Ketiga elektroda ditempatkan dalam satu tabung yang mengandung analit.Adapun bentuk skema elektroda tersebut adalah sebagai berikut :

Gambar X. Elektroda Merkuri 2. Potensiostat Potensiostat merupakan bagian instrument yang terdiri dari rangkaianlistrik yang berguna untuk menjaga potensial dan mengatur potensial tetap padanilai tertentu.Secara sederhana:

Gambar X. Potensiostat

3. Alat pembaca (Readout) Pada prinsipnya polarografi adalah mengukur arus yang keluar akibatpemberian potensial tertentu. Alat ukur yang paling sederhana adalah mikroampermeter.Pada perkembangannya , pembacaan arus dapat dibaca secara digital menggunakan komputer.

Sel elektrolisis merupakan bagian yang paling penting dari polarograf. Sel ini dapat dituliskan sebagai,

SCE // Mn+ (x M) Hg Sel terdiri dari 2 elektroda yaitu elektroda kalomel sebagai elektroda pembanding dan elektroda tetes raksa (DME / dropping mercury electrode)sebagai elektroda indikator. Dan pipa saluran gas N2 semuanya dicelupkan kedalam larutan yang sedang dianalisis, gas N2 dimasukkan untuk mengusir gas O2 yang terlarut karena O2 dapat direduksi. Pereduksian O2 terjadi dalam 2 tahap pada proses ini.Oleh karena elektroda Hg bekerja pada pengukuran ini maka elektroda Hg disebut working elektrode. Reaksi reduksi terjadi pada permukaan air raksa. Bila larutan mengandung ion logam Mn +, maka semua ion logam akan bergertak menuju permukaan tetesan Hg untuk direduksi. Ion logam berubah menjadi amalgam dengan Hg. Selama reaksi reduksi berlamngsung arus kana mengalir dan jumlahnya dapat teramati, biasanya dinyatakan dalam mikroamapere. Reaksireduksi ini berlangsung pada harga potensial tertentu, bergantung pada jenis zat/ion yang sedang direduksi.Selama pengukuran berlangsung, air raksa diteteskan secara teratur denganbesar tetesan tertentu. Umumnya elektroda Hg diapakai dalam metode polarografikarena dengan penetaesan yang teratur diperoleh permukaan elektroda yang selalusegar dan bersih sehingga reaksi reduksi berlangsung cepat. Elektrode-elektrodeplatina (Pt) dan emas (Au) juga dapat diapakai dalam metode polarografi.

b. Polarogram Polarogram adalah kurva yang diperoleh dari pengukuran secara polarografi yangmenyatakan hubungan antara arus (A) dengan potensial (volt). Contoh bentuk polarogram dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar X. Polarogram

Pengukuran polarografi menghasilKan grafik (kurva) yang menyatakan hubungan antara arus (mA) dan potensial (Volt). Sumbu horisontal diberi namapotensial (volt) sedangkan sumbu vertikal diberi nama arus(A). Arus konstan yang diperoleh setelah peningkatan arus secara tajam disebut limiting current ,sedangkan arus konstan yang diperoleh sebelum peningkatan arus secara tajam disebut residual current. Limiting current (i1) dihasilkan pada pengukuran analit, sedangkan residual current dihasilkan pada pengukuran larutan blangko sebelumanalit ditambahakan. Perbedaan antara limiting current dengan residual curent disebut arus difusi, id . Harga potensial ketika arus mulai meningkat disebut potensial penguraian (decomposisting potensial). Analisa kualitatif dalam polarografi didasarkan pada potensial setengah gelombang (E1/2). Sedangkananalisa kuantitatif menggunakan besarnya arus difusi. Dari kurva pada gambar 1. ada beberapa istilah yang perlu diketahui, yaitu: a. Potensial penguraian (potensial dekomposisi) adalah potensial dimana terjadi peningkatan arus yang tajam

b. Arus limit (i1) adalah arus konstan yang diperoleh setelah terjadipeningkatan arus secara tajam. Arus ini diperoleh pada saat pengukuran analit. c. Arus residu (ir ) adalah arus konstan yang diperoleh sebelum terjadipeningkatan arus yang tajam. Arus ini diperoleh pada saat pengukuran blanko. d. Arus difusi (id) diperoleh dari selisih antara arus limit dengan arus residu,jadi id= i1 ir . Arus difusi bergantung pada konsentrasi zat yang direduksi, oleh karena itu penting untuk analisa secara kuantitatif (persamaan Ilkovic). e. Potensial setengah gelombang (E1/2) adalah harga potensial pada setengaharus difusi (Id1/2).Potensial setengah gelombang tergantung pada jenis zat yang direduksi, oleh karena itu penting untuk analisis kualitatif.

Dasar dari polarografi adalah elektrolisis dari suatu larutan yang mengandunganalit eletroaktif, artinya zat-zat yang dapat dioksidasi secara listrik (electrooxidable) dan yang dapat direduksi secara listrik (electro reductible) padaelektroda tetes air raksa. Misalnya dalam larutan mengandung ion logam, Mn+,maka akan terjadi reaksi reduksi secara listrik : Mn+ + ne + Hg (s) = M (Hg)

Apabila elektroda elektroda pada sel polarografi tersebut bekerja , maka reaksireduksi akan terjadi pada permukaan air raksa. Oleh Karena itu untuk larutan yangmengandung ion logam Mn+ akan direduksi pada permukaan tetes air raksa (Hg)sesuai reaksi. Dengan notasi sel adalah: SCE // Mn+(x M) / Hg

Selama reaksi berlangsung dengan potensial tertentu yang dapat diamati adalaharus yang mengalir (A) dan air raksa yang akan menetes dengan besaran tetes tertentu.Ilkovic telah mempelajari perilaku tetes air raksa yang dikenal dengan persamaan Ilkovic , yaitu: Id = 607 . n . D1/2. M2/3. t1/6. C

Dimana, 607 D M T C

Id

= arus difusi (A)

= koefisien persamaan Ilkovicn = jumlaah electron yang terlibat = koefisien difusi = kecepatan mengalir Hg(mg/ dt) = waktu yang diperlukan untuk setiap tetesan (dt) = konsentrasi(mol/L)

Dari persamaan diatas dapat dilihat adanya hubungan yang linier antara arus difusi dengan konsentrasi. Perpindahkan materi yang berlangsung di dalam larutan pada umumnya dapatterjadi dengan 3 cara : 1. Perpindahan secara migrasi. Materi yang bermuatan, karena adanya gaya tarik menarik elektrostatik,maka materi bermuatan bergerak menuju kutub dengan muatan yangberlawanan, yakni kation-kation menuju katoda dan anion-anion menuju anoda. 2. Perpindahan secara difusi. Partikel-partikel mengalir dari daerah yang lebih rapat (pekat) menuju daerah yang lebih renggang. 3. Perpindahan secara konveksi. Pengaruh temperatur dan goyangan atau pengadukan menyebabkanpartikel berpindah dari tempat ke tempat lain. Dari ketiga jenis perpindahan tersebut menyebabkan laju perpindahan massayang berimplikasi pada besarnya arus total (itot) yang terjadi : it im = arus total = arus migrasi = arus difusi = arus konveksi

i t = i m + id + ik

id ik

Dalam polarografi, diusahakan agar arus yang terukur adalah semata-mataberasal dari arus difusi saja, maka im dan ik harus dihilangkan atau diperkecil.Arus konveksi dapat

dikurangi dengan cara melakukan percobaan tanpa pengadukan dan arus migrasi dikurangi atau ditekan dengan penggunakan elektrolit pendukung.

Hal-hal Pendukung pada Polarografi 1. Pelarut dan elektrolit pendukungElektrolit pendukung berfungsi untuk menekan arus migrasi, mengontrolpotensial agar tahanan larutan dikurangi serta menjaga kekuatan ion total yang konstan. Polarografi dapat dilakukan pada fase air dan fase organik. Pada fase air biasanya digunakan elektrolit pendukung garam-garam seperti KCl, KNO3, NH4Cl dan NH4NO3. Pada polarografi dengan fase organik (asetonitril, propilen karbonat,dimetil formamid, dimetil sulfoksid dan alkohol) biasanya dipakai elektrolit pendukung garam tetra alkil amonium. Sedangkan buffer (seperti asetat, fostat atapun sitrat) digunakan apabila pH larutan sangat perlu untuk dikontrol.

2. Pengusir Oksigen Oksigen dapat mengalami reduksi dalam dua tahap, yaitu O2 + 2H+ + x = H2O2 H2O2+ 2H+ + x =2H2O E = -0,1 Volt E = -0,9 Volt

Apabila polarografi digunakan untuk analisis spesi zat yang mempunyai nilai potensial reduksi sekitar 0,1 Volt dan 0,9 Volt, maka adanya oksigen akan mengganggu

pengukuran. Oleh sebab itu diperlukan zat pengusir gas oksigen. Umumnya untuk kasus ini digunakan gas nitrogen untuk mengusir gas oksigen.

Perbedaan Biamperometri dan Polarografi No 1. 2. Komponen Elektroda Perpindahan panas Biamperometri Platina (Pt) Konveksi Polarografi Merkuri (Hg) Difusi

3. 4

Analisa Sampel

Kuantitatif terdestruktif

Kualitatif dan kuantitatif Tidak terdestruktif

1. Biamperometri Kelebihan :

3. Pembahasan Hasil

D. Kesimpulan

E. Daftar Pustaka Kar, Ashutosh. 2005. Pharmaceutical Drug Analysis. New Age Publisher: India. Hal. 255.