Anda di halaman 1dari 7

Larutan Encer pada Bobot Molekul melalui Metoda Cryoscopic

Adilah Aliyatulmuna Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang adilah_a@telkom.net

Abstrak. Penentuan bobot molekul melalui metoda cryoscopic merupakan kegiatan pembelajaran eksperimen yang populer. Di samping karena bobot molekul melalui metoda cryoscopic lebih tepat dibandingkan bobot molekul melalui metoda ebullioscopic, penentuan bobot molekul melalui metoda cryoscopic lebih mudah dilakukan dibandingkan melalui hipotesis Avogadro. Bobot molekul melalui metoda cryoscopic ditentukan dari hubungan berat pelarut, berat zat terlarut, konstanta cryoscopic, dan penurunan titik beku. Hubungan tersebut dituliskan dalam persamaan penurunan titik beku yang perumusannya didasarkan atas kondisi encer suatu larutan. Pada larutan encer, titik beku larutan dengan titik beku pelarut memiliki perbedaan yang kecil. Oleh karena itu pada penentuan bobot molekul melalui metode cryoscopic digunakan pendekatan ke penurunan titik beku sama dengan nol. Bobot molekul yang benar akan diperoleh saat penurunan titik beku mencapai nilai nol melalui cara ekstrapolasi. Ekstrapolasi ini memerlukan plot antara data bobot molekul melawan data penurunan titik beku. Data penurunan titik beku merupakan data perbedaan titik beku antara pelarut dengan larutan dari berbagai konsentrasi. Bobot molekul yang tidak diperoleh melalui data penurunan titik beku, melainkan cukup ditentukan dari satu nilai penurunan titik beku, belum menunjukkan diterapkannya kondisi encer larutan pada perumusan persamaan penurunan titik beku. Diharapkan dalam kegiatan pembelajaran secara eksperimen, bobot molekul dengan cara ekstrapolasi dapat menggantikan bobot molekul yang hanya ditentukan dari satu nilai penurunan titik beku.

Kata kunci: bobot molekul, cryoscopic, penurunan titik beku

Pendahuluan

Bobot molekul dapat ditentukan melalui beberapa metoda diantaranya metoda kenaikan titik didih/ebullioscopic, metoda penurunan titik beku/cryoscopic, dan hipotesis Avogadro. Penentuan bobot molekul menggunakan metoda cryoscopic memiliki kelebihan dibandingkan dua metoda lainnya. Bobot molekul melalui metoda cryoscopic lebih tepat dibandingkan bobot molekul melalui metoda ebullioscopic. Hal ini disebabkan penurunan titik beku larutan lebih besar dibandingkan kenaikan titik didihnya. Penurunan titik beku yang relatif besar memudahkan dalam pengamatan perbedaan titik beku. Tidak seperti dalam hipotesis Avogadro, zat terlarut dalam metoda cryoscopic tidak perlu berada dalam fasa uap. Zat terlarut dalam fasa uap diperlukan untuk mengetahui massa jenis gas dari zat terlarut tersebut. Penentuan bobot molekul melalui metoda cryoscopic telah populer dalam kegiatan pembelajaran eksperimen. Meski demikian, untuk dapat menentukan bobot molekul melalui metoda cryoscopic dengan cara yang benar perlu disertai pemahaman bahwa persamaan penurunan titik beku, yaitu persamaan yang menghubungkan antara molalitas, konstanta cryoscopic, dan penuruan titik beku, dirumuskan dari beberapa pendekatan. Pendekatan yang dimaksudkan adalah:

1. Zat terlarut sama sekali tidak terkandung dalam pelarut yang membeku sehingga pelarut yang membeku dianggap murni 2. Jumlah zat terlarut dalam larutan sangat kecil dibandingkan jumlah pelarutnya sehingga larutan dianggap encer[1]. Karena digunakan pendekatan kondisi encer pada perumusan persamaan penurunan titik beku, maka penentuan bobot molekul melalui metoda cryoscopic memerlukan pula penerapan dari pendekatan larutan encer tersebut.

Pembahasan

A. Larutan Encer pada Perumusan Persamaan Penurunan Titik Beku

BSS_65_1_1 - 7

Pada proses pembekuan terjadi kesetimbangan antara fasa cair dan fasa padat. Kesetimbangan fasa tersebut salah satunya menyebabkan potensial kimia komponen fasa cair sama dengan potensial kimia komponen fasa padat[2]. Jika terdapat komponen A, dengan A dimisalkan sebagai pelarut, maka potensial kimia komponen A di kedua fasa dalam proses pembekuan dapat dituliskan sebagai:

(1)

*

A (padat)

A (cair)

dengan

dan

A

A (cair)

*

A (cair)

RT ln x

A

= potensial kimia pelarut A (J/mol)

(2)

R

T

x

= konstanta gas (J/mol K)

= titik beku larutan (K)

A

= fraksi mol pelarut A

Tanda * menunjukkan bahwa pada fasa tersebut hanya terdapat komponen A murni. Dari persamaan (1) dan (2):

*

A (padat)

sehingga

*

A (cair)

RT

ln x

ln x

*

A (cair)

*

A (padat)

A RT

A

dengan * = G = energi Gibbs molar (J/mol)

Dari persamaan (3) dan (4):

ln x

A

G

fusi

RT

(

G H T S

fusi

fusi

fusi

)

(3)

(4)

(5)

(6)

dengan G fusi = perubahan energi Gibbs molar pada peristiwa peleburan (J/mol)

H

S

fusi

fusi

= perubahan entalpi molar pada peristiwa peleburan (J/mol)

= perubahan entropi molar pada peristiwa peleburan (J/mol)

Dari persamaan (5) dan (6):

ln(1

 

x

B

)

H

fusi

RT

S

fusi

R

(7)

dengan

Digunakan pendekatan bahwa jumlah zat terlarut B sangat kecil dibandingkan pelarut A sehingga fraksi mol zat B mendekati nol. Jika x B mendekati nol maka titik beku larutan merupakan titik beku pelarut A murni. Persamaan (7) dapat dituliskan sebagai berikut:

x

B

= fraksi mol zat terlarut B.

ln1

H

fusi

RT

S

fusi

R

(8)

dengan T * = titik beku pelarut A murni (K). Persamaan (7) dikurangkan oleh persamaan (8) menghasilkan:

ln(1

ln(1

x B

x

B

)

)

H

fusi

R

  1

T T

1

*

H

fusi

R

*

T

T

TT

*

(9)

(10)

Pada larutan yang encer, perbedaan antara T dengan T * kecil sehingga TT pada persamaan (10) dituliskan sebagai (T ) 2

BSS_65_1_2 - 7

ln(1

x

B

)

  T

T

H

fusi

R

*

2

(11)

dengan T = penurunan titik beku (K) = T T Karena x B sangat kecil dibandingkan satu maka -ln (1-x B ) mendekati x B sehingga persamaan (11) menjadi:

x

B

 

H

fusi

T

R

T

*

2

(12)

Jika terdapat g gram zat terlarut dan G gram zat pelarut, maka dalam 1000 gram pelarut berat zat terlarutnya adalah

gx1000

G

Mengingat definisi molalitas (m) yaitu banyaknya mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut maka molalitas larutan adalah:

m

gx 1000

GxM

atau dapat juga dituliskan:

M

gx 1000

Gxm

(13)

dengan M = bobot molekul zat terlarut (g/mol)

g M x B  x G M A 0
g M
x B 
x
G M
A
0

dengan M 0 = bobot molekul pelarut (g/mol) Kombinasi persamaan (13) dan (14) menghasilkan:

m

1000 x

B

M

0

1 x

B

(14)

(15)

Penggabungan persamaan (12) dan (15) serta menggunakan pendekatan bahwa x B sangat kecil dibandingkan satu diperoleh:

(16)

1000

H R ( T

*

T

*

K

)

2

f

m

fusi

M

0

K f

2

)

M

0

 

T

R T

(

dengan

1000 H

fusi

K f disebut sebagai konstanta cryoscopic atau konstanta penurunan titik beku (K/molal) Persamaan (13) menjadi:

M

M gR ( T

0

*

)

2

G

H

fusi

T

1000

g

K

f

G T

Sisi kanan persamaan (11) disimbolkan sebagai –y:

y

H

fusi

R T

*

2

T

Persamaan (11) dituliskan dalam deret Maclaurin:

2

y y 1  x  e   1 y   B 2!
y
y
1
 x
e
 
1
y
B
2!
atau
y
y
x
 y  1  
B
2
1
 y
2

BSS_65_1_3 - 7

(17)

(18)

(19)

(20)

Nilai y 2 pada persamaan (19) lebih kecil dibandingkan satu sehingga persamaan (19) menjadi:

1 1  x   1 y  (21) B 1  y Penggabungan
1
1
x
 
1
y
(21)
B
1  y
Penggabungan persamaan (20) dan (21) menghasilkan
2
x
y
(1
y
)
y
y
B
2
 
y
    1 2
y
1  x
B 
1
 y
2
2
2
y
Memperhatikan persamaan (18):
2
x
  H
  H
fusi
fusi
B
 1 2 
 T 
1  x
RTT
RTT
 T       
B
Pendekatan variabel
TT adalah:
2
T
 T 
(
T
)
2
2
TT
( T
)
(
T 
)
1
(22)

T
T
1  T T
sehingga
2
x
 H
T
 H
T
fusi
fusi
B
 1 2
1  x
2
2
B
T
T
R
R
1
 T T
1  T T
 
2
 H
T T
 
T
H
T
(
T
 
T
)
fusi
fusi
 1 2
3
1  x
R T
(
 )
3
R T
(
 )
B
2
2
2
2
4
2
3
x
 H
(
)
(
T
)
(
T
)
 ( H
)
(
T
)
 ( H
)
(
T
)
2
T
B
fusi
fusi
fusi
1 2
2
6
1
 x
R
(
T
)
B
3
3
2
R T
(
)
 H
TT
R T
(
)
 H
(
T
)
fusi
fusi
(23)
2
6
R
(
T
 )
Perubahan entalpi sebagai fungsi suhu dituliskan sebagai:
C
*
*
p
 H
  
C
T
H
1 
 T
(24)
H fusi
fusi
p
fusi
 
*
 H
fusi
 
*
dengan
H
= perubahan entalpi molar pelarut murni pada peristiwa peleburan (J/mol)
fusi

C

p

= perubahan kapasitas panas molar pada peristiwa peleburan (J/K mol)

Persamaan (23) menjadi:

H

*

)

2

1

C

p

T

2

T

2

(

T

)

2

(

fusi

H

*

fusi

 
 

R

2

(

T

)

6

 

(

H

*

)

2

1

C

p

 

T

2

T

3

2

T

fusi

H

*

 
T  fusi   H *     fusi  R 2 ( T

fusi

R

2

(

T

)

6

 

(

H

*

fusi

)

2

1

C

p

 

T

2

T

4

   H * fusi  

H

*

fusi

R T

3

T

2

R

(

T

H

*

2

)

6

1

C

p

T

(

) (

)

fusi

 

H

*

fusi

 

R

2

(

T

)

6

1 2

x B  1 2 1  x B
x
B
1 2
1  x
B

1 2

BSS_65_1_4 - 7

 C 4 *  ) (  T   p R T (
 C
4
*
 )
(
T
 
p
R T
(
)
 H
1
 T
 
fusi
*
 H
 
fusi
 
2
6
R
(
T
 )
Kuadrat dari
*
1  C T H
mendekati satu sehingga penyederhanaan persamaan di atas
p
fusi
adalah:
*
2
2
2
*
2
4
*
2
3
x
( 
)
T
(
T
 )
(
 H
)
T
(
 H
)
T
(2
T
)
H fusi
fusi
fusi
B
 1 2
 1 2
 1
2
2
6
2
6
2
6
1  x
(
T
)
R
(
T
)
R
(
T
)
B R
C
3
3
p
*
R T
(
) (
 T
)
H
3
2
*
*
fusi
4
*
R (
T
) (
T
)
 H
H
R T
(
)
(
 
T
)
H
fusi
fusi
fusi
2
6
2
6
2
6
R
(
T
)
R
(
T
)
R
(
T
)
C
4
2
p
*
R
(
T
)
(
 T
)
H
*
fusi
 H
fusi
2
6
R
(
T
 )

Mengabaikan ΔT berpangkat tiga dan yang berpangkat lebih tinggi maka:

* 2 2 2 * * x (  H )  T ( 
*
2
2
2
*
*
x
(
H
)
T
(
T
)
H
(
 T  H
)
(
T
)
2 
C
B
fusi
fusi
fusi
p
 1 2
2
4
3
2
2
1 
R
(
T
)
R T
(
)
R T
(
)
R T
(
)
x B
 H
* 
T
1
 H
 C  
x B
fusi
 
fusi
p
1 
T
2
2
1 
x
R T
(
)
T 
2
R T
(
)
 H
B
 
fusi
  
1
H
C
fusi
p
Jika
k 
, maka persamaan (15) menjadi:
f
2
T
2
R T
(
)
 H
fusi
1000 
 H
fusi
 1
m 
T
k
T
f 
 
2
M
 R T
0

Memperhatikan persamaan (16):

m

T

K

f

1

k

f

T

Persamaan (13) menjadi:

g

K

f

M 1000

G

T

1

k

f

T

(25)

Persamaan (25) merupakan sebuah persamaan garis lurus tanpa melalui titik (0,0)

B. Larutan Encer pada Metoda Cryoscopic

Metoda cryoscopic digunakan pada penentuan bobot molekul zat terlarut melalui

. Kedua

persamaan tersebut dirumuskan atas dasar pendekatan pada larutan encer sehingga titik beku larutan dan titik beku pelarut murni dianggap nilainya hampir sama. Pendekatan ini diterapkan dengan cara ekstrapolasi ke ΔT sama dengan nol melalui persamaan

persamaan penurunan titik beku:

K

f

K

M 1000

g

f

1

k

f

G

T

atau

M

1000

g

T

G

T

M

1000

g

K

f

G

T

1

k

f

T

[3]

Mula-mula dibuat kurva pendinginan untuk pelarut murni dan untuk larutan pada masing-masing konsentrasi. Kurva pendinginan merupakan kurva hasil plot antara titik beku

BSS_65_1_5 - 7

melawan waktu seperti pada gambar 1. Dari kurva pendinginan diperoleh data T larutan pada berbagai konsentrasi. Bobot molekul zat terlarut pada berbagai konsentrasi dihitung

waktu/menit t/ o C
waktu/menit
t/ o C

Gambar 1. Kurva Pendinginan

M/g mol -1
M/g mol -1

T/ K

Gambar 2. Grafik M melawan T

dengan menggunakan persamaan penurunan titik beku, kemudian dibuat plot antara data M

seperti ditunjukkan pada gambar 2. Saat T mencapai nilai nol melalui

cara ekstrapolasi, maka M yang diperoleh merupakan bobot molekul suatu zat terlarut dari larutan encer. Selain ekstrapolasi ke T sama dengan nol, bobot molekul suatu zat terlarut juga dapat ditentukan dari ekstrapolasi ke pelarut murni, g sama dengan nol, melalui persamaan:

melawan data T

M

lim it

m zat terlarut 0

  K

1000

g

f

T G

[4]

Kesimpulan

Persamaan penurunan titik beku dirumuskan dari pendekatan kondisi encer suatu larutan. Ekstrapolasi ke ΔT sama dengan nol pada penentuan bobot molekul melalui metoda cryoscopic merupakan penerapan dari pendekatan kondisi encer larutan. Bobot molekul yang diperoleh dari satu nilai T belum menunjukkan digunakannya pendekatan larutan encer pada perumusan persamaan penurunan titik beku. Diharapkan bobot molekul yang diperoleh

melalui cara ekstrapolasi dengan menggunakan persamaan

baik dibandingkan bobot molekul yang diperoleh dari satu nilai ΔT dengan menggunakan

persamaan

lebih

g

K

G T

M

1000

f

1

k

f

T

g K

f

.

G T

M

1000

Daftar Pustaka

[1] Wisniak, J (2001), Francois-Marie Raoult: Past and Modern Look, Chem Educator., 6, 41-

49.

[2] Atkins, P (2001), The Elements of Physical Chemistry (3 rd ed), Oxford University Press,

New York [3] Shoemaker, D.P. (2003), Experiments in Physical Chemistry (7 rd ed), McGraw-Hill, New York [4] Arjona, D.G., and Duran, C.Y. (2006), An Inexpensive and Versatile Cryoscopic for Measuring Freezing-Point Depression, Chem. Educator., 11, 410-412.

BSS_65_1_6 - 7