Anda di halaman 1dari 46

MEMAHAMI BERBAGAI TERAPI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA: TERAPI KEPERAWATAN, TERAPI MODALITAS, TERAPI KOMPLEMENTER DAN KONSELING

ADE SUTRIMO G1D009060 A1 2008

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Keluarga II Dosen Pengampu : Ns. Endang Triyanto, M. Kep

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2011 KATA PENGANTAR i

Segala puji saya haturkan kehadirat Alloh SWT yang memberikan rahmat-Nya sehingga penyusunan makalah saya yang berjudul Memahami berbagai Terapi dalam Asuhan Keperawatan Keluarga : Terapi Keperawatan, Terapi Modalitas, Terapi Komplementer dan Konseling dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Keluarga II. Penyusunan makalah ini tidak akan terlaksana dengan lancar tanpa bantuan dari banyak pihak. Sehingga, pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada: 1. Ns. Endang Triyanto, M. Kep. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. 2. Orang tua yang telah membantu secara moral dan spiritual. 3. Teman-teman yang telah memberi semangat dan motivasi. 4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kesalahan yang harus diperbaiki dan dikaji ulang baik dalam segi bahasa, isi maupun penyajian. Penyusun mengharapkan semua hal tersebut dapat dimaklumi dan dengan kelapangan dada penyusun siap menerima kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca, baik secara lisan maupun tulisan agar pada masa berikutnya penyusun dapat menyempurnakan makalah ini.

Purwokerto, Oktober 2011

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG B. RUMUSAN MASALAH BAB II PEMBAHASAN A. TERAPI KEPERAWATAN 1. PENDIDIKAN KESEHATAN 2. IMUNISASI 3. LATIHAN RENTANG GERAK (ROM) 4. TEKNIK RELAKSASI 5. PERAWATAN LUKA B. TERAPI MODALITAS 1. TERAPI INDIVIDUAL 2. TERAPI LINGKUNGAN ( MILLEAU TERAPI ) 3. TERAPI KOGNITIF 4. TERAPI KELUARGA 5. TERAPI KELOMPOK 6. TERAPI PERILAKU 7. TERAPI BERMAIN C. TERAPI KOMPLEMENTER 1. PIJAT BAYI 2. TERAPI HERBAL 3. EXERCISE DAN DIET 4. REIKI 5. AKUPUNTUR 6. HIPNOTERAPI

i ii iii 1 1

2 5 6 9 10 13 15 15 16 17 18 19 20 22 23 25 27 29

iii

D. KONSELING 1. TUJUAN KONSELING 2. PRINSIP DASAR 3. PERSIAPAN DALAM MELAKUKAN KONSELING 4. ALAT BANTU KONSELING 5. KEMAMPUAN YANG HARUS DIMILIKI KONSELOR 6. PERAN KONSELOR 7. TAHAPAN 8. PERTANYAAN DALAM KONSELING 9. ETIKA DALAM KONSELING KELUARGA 10. FAKTOR YANG MENGHAMBAT KONSELING BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN B. SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 40 40 31 32 32 33 33 35 36 38 38 39

iv

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Profesional Ners harus mempunyai kecakapan yang tinggi dalam membuat asuhan keperawatan keluarga yang diberikan. Intervensi yang diberikanpun harus berorientasi pada derajat kesehatan kliennya. Perawatan di rumah mempunyai peran krusial dan menentukan proses kehidupan seseorang, sehingga perawat dituntut menggunakan standar dan pedoman asuhan keperawatan yang ditentukan dan bermutu. Perawat juga harus selalu mengguanakan critical thinking dalam asuhan keperawatan yang dibuatnya. Terapi yang dilakukan wajib dikombinasikan satu sama lainnya. Keluarga yang dianggap sebagai klien bukan hanya sebagai kumpulan orang yang tinggal serumah saja. Setiap perawat akan menemui berbagai macam kasus yang terjadi pada klien. Masalah yang terjadi pada klien mengharuskan perawat mampu memberikan perawatan yang tidak hanya tindakan invasive namun perlu memberikan terapi. Perawat perlu mengetahui macam-macam bentuk terapi selain terapi keperawatan. Selayaknya seorang profesional (Ners) mampu memberi intervensi keperawatan yang unik. Namun juga perlu mengetahui terapi lain seperti terapi modalitas, terapi komplementer dan konseling. Setiap jenis terapi ini memiliki keuntungan dan kekurangan. Bentuk terapi-terapi tersebut juga berbeda terhadap kasus yang dihadapi sehingga sebagai perawat dapat berhati-hati dalam memadu padankan bentuk terapi tersebut jika memang dapat dikombinasikan. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa definisi dari terapi keperawatan dan bagaimana aplikasinya? 2. Apa definisi dari terapi modalitas dan bagaimana aplikasinya? 3. Apa definisi dari terapi komplementer dan bagaimana aplikasinya? 4. Apa definisi dari konseling dan bagaimana aplikasinya? 1

BAB II PEMBAHASAN

A. TERAPI KEPERAWATAN KELUARGA Terapi keperawatan adalah intervensi keperawatan yang unik yang hanya dapat dilakukan oleh seorang profesional (Ners). Bentuk terapi keperawatan berupa tindakan yang bersifat alamiah,tindakan berupa bantuan untuk melakukan tindakan yang bersifat alamiah tersebut, tindakan berupa proses interaksi untuk mempengaruhi klien dan keluarga agar bersedia merubah perilaku/ mengikuti program perawatan, tindakan berupa proses interaksi untuk meningkatkan adaptasi klien dengan masalahnya, tindakan berupa pendidikan kesehatan agar mampu melakukan bagi diri klien. Adapun jenis terapi keperawatan yang bisa diterapkan pada keperawatan keluarga antara lain: 1. Pendidikan Kesehatan Pendidikan adalah upaya yang direncakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. INPUT PROSES OUT PUT Input Proses : sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat), pendidik. : upaya yang direncakan untuk mempengaruhi orang lain

Output : melakukan apa yang diharapkan/perilaku Pendidikan kesehatan merupakan bagian dari keseluruhan upaya kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) yang menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan perilaku hidup sehat. Juga merupakan upaya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsikan perilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberi informasi, memberi kesadaran dan sebagainya. Definisi lain dari pendidikan kesehatan adalah upaya agar perilaku individu, kelompok dan masyarakat mempunyai pengaruh positif terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Secara konsep pendidikan kesehatan 2

merupakan upaya mempengaruhi/mengajak orang lain (individu, keompok, masyarakat) agar berperilaku hidup sehat. Secara operasional pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan/ meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek masyarakat dalam memelihara dan meingkatkan kesehatannya. Status kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor, berdasarkan hirarkinya adalah sebagai berikut: a. Lingkungan (fisik, sosial, budaya) b. Perilaku c. Pelayanan kesehatan d. Herediter Pendidikan kesehatan merupakan bentuk intervensi utama terhadap perilaku, akan tetapi 3 faktor yang lain juga memerlukan intervensi pendidikan kesehatan. Output pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan: a. Pendidikan kesehatan pada aspek promotif b. Pendidikan kesehatan pada aspek preventif c. Pendidikan kesehatan pada aspek kuratif d. Pendidikan kesehatan pada aspek rehabilitatif. Tempat Pelaksanaan : a. Pendidikan kesehatan pada keluarga b. Pendidikan kesehatan pada sekolah c. Pendidikan kesehatan pada tempat kerja d. Pendidikan kesehatan pada tempat umum e. Pendidikan kesehatan pada instansi pelayanan kesehatan.

Metode Pendidikan Kesehatan a. Individu 1) Bimbingan dan konseling 2) Wawancara b. Kelompok 1) Kelompok besar: kegiatan cermah dan seminar 2) Kelompok kecil: diskusi kelompok, curah pendapat, bola salju, kelompok kelompok kecil, bermain peran (role play), simulasi, dan sebagainya. c. Massa 1) Ceramah umum 2) Pidato 3) Media (elektronik, cetak dan out door) Media Media pendidikan adalah alat (saluran) yang digunakan untuk penyampaian pesan. Manusia menggunakan indra untuk berinteraksi dengan lingkungannya sehingga untuk mempengaruhi interaksi tersebut digunakanlah berbagai media. Semakin banyak indra yang digunakan untuk menerima suatu pesan maka akan semakin mudah pesan itu diterima/dipahami. Elgar Dale, membagi media dalam 11 macam sesuai dengan tingkatan intensitasnya masing-masing.

Dari kerucut tersebut dapat dilihat bahwa lapisan paling bawah adalah benda asli dan yang palinga atas adalah kata-kata. Hal ini berarti dalamproses pendidikan, benda asli memiliki intensitas yang paling kuat/besar untuk mempersepsikan pesan yang disampaikan. Jenis media yang sering digunakan: a. Media cetak booklet, leaflet, flyer (selebaran), flip chart (lembar balik), rubrik, poster, foto, spanduk, umbul-umbul. b. Media elektronik TV, radio, video, slide, film strip, dan lain lain. c. Media papan (billboard) poster, pamplet, baleho, dan lain lain. d. Media peraga Alat tiruan seperti pantom, boneka, dami, dan instrumen lainnya. Atau benda asli. 2. Imunisasi Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan kedalam tubuh. Tujuannya adalah untuk melindungi dan mencegah terhadap penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak dan untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit. Sasaran imunisasi adalah semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir memerlukan Imunisasi untuk melindungi tubuhnya dari penyakit-penyakit yang berbahaya dan semua orang yang kontak (berhubungan) dengan penderita penyakit menular. Memberikan suntikan imunisasi pada bayi anda tepat pada waktunya adalah faktor yang sangat penting untuk kesehatan bayi dan imunisasi adalah salah satu yang terpenting dari bagian tanggung jawab orang tua. Imunisasi (atau vaksinasi) diberikan mulai dari lahir sampai awal 5

masa kanak-kanak. Imunisasi biasanya diberikan selama waktu pemeriksaan rutin ke dokter atau klinik. 3. Latihan rentang gerak (ROM) Latihan range of motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot dan sebagai dasar untuk menetapkan adanya kelainan ataupun untuk menyatakan batas gerakan sendi yang abnormal. Jenis ROM 1. ROM Pasif Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan perawat setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan fasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis ekstermitas total. Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. 2. ROM Aktif Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan ototototnya secara aktif Tujuan ROM 1. 2. 3. 4. Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot Memelihara mobilitas persendian Merangsang sirkulasi darah Mencegah kelainan bentuk

Prinsip Dasar Latihan ROM 6

1. 2. 3. 4. 5. 6.

ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring. Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki. ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagianbagian yang di curigai mengalami proses penyakit. Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah di lakukan.

Manfaat ROM 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Meningkatkan mobilisasi sendi Memperbaiki toleransi otot untuk latihan Meningkatkan massa otot Mengurangi kehilangan tulang Menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot dalam melakukan pergerakan Mengkaji tulang sendi, otot Mencegah terjadinya kekakuan sendi Memperlancar sirkulasi darah Memperbaiki tonus otot

ROM pasif post operasi fraktur femur Perawat membantu pasien pascaoperatif fraktur femur melakukan Latihan ROM pasif dan menganti posisi akan meningkatkan aliran darah ke ekstermitas sehingga stasis berkurang. kontraksi otot kaki bagian bawah akan meningkatkan aliran balik vena sehingga mempersulit terbentuknya bekuan darah. perawat membantu pasien melakukan latihan ini setiap 2 jam sekali saat klien terjaga. perawat membantu pasien pascaoperatif fraktur femur melakukan Latihan ROM pasif dengan cara atur posisi pasien terlentang, rotasikan kedua pergelangan kaki membentuk lingkaran penuh, lakukan 7

dorsofleksi dan flantar fleksi secara bergantian pada kedua kaki klien, lanjutkan latihan dengan melakukan fleksi dan ekstensi lutut cecara bergantian, mengangkat kedua telapak kaki klien secara tegak lurus dari permukaan tempat tidur secara bergantian. Latihan ini di lakukan untuk mengurangi efek imobilisasi pada pasien di lakukan ROM pasif dengan latihan isometrik otot-otot di bagian yang di imobilisasi latihan kuadrisep dan latihan gluteal dapat membantu mempertahankan kelompok otot besar yang penting untuk berjalan. Latihan aktif dan beban berat badan pada bagian tubuh yang tidak mengalami cedera dapat mencegah terjadinya atrofi otot. ROM aktif post operasi fraktur femur Pasien yang telah dilakukan operasi fraktur femur seringkali dapat menimbulkan permasalahan adanya luka operasi pada jaringan lunak dapat menyebabkan proses radang akut dan adanya oedema dan fibrosis pada otot sekitar sendi yang mengakibatkan keterbatasan gerak sendi terdekat. Latihan rentang gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi fraktur femur, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang di perlukan untuk pempercepat proses penyembuhan. Keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setelah operasi. Banyak pasien yang tidak berani mengerakan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. pandangan yang seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang peristaltik usus sehingga pasien cepat platus, menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernapasan dan terhindar dari kontraktur sendi, memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan dekubitus. Pedoman perawatan pasca bedah fraktur femur Sering kali di perlukan intervensi bedah ORIF dengan mengunakan sekrup dan plate pada hari ke 2-3 latihan aktif (ROM) yang di bantu dapat dimulai dari bidang anatomi yang normal, pada hari ke 4 berjalanlah pada cara berjalan tiga titik dengankruk

axilla pembantu berjalan standar dan kemudian penahan berat badan sesuai toleransi. 4. Teknik relaksasi Relaksasi merupakan metode yang efektif terutama pada pasien yang mengalami nyeri kronis. Latihan pernafasan dan teknik relaksasi menurunkan konsumsi oksigen, frekuensi pernafasan, frekuensi jantung, dan ketegangan otot, yang menghentikan siklus nyeri-ansietas-ketegangan otot (McCaffery, 1989). Ada tiga hal utama yang diperlukan dalam relaksasi, yaitu : posisi yang tepat, pikiran beristirahat, lingkungan yang tenang. Posisi pasien diatur senyaman mungkin dengan semua bagian tubuh disokong (misal; bantal menyokong leher), persendian fleksi, dan otot-otot tidak tertarik (misal; tangan dan kaki tidak disilangkan). Untuk menenangkan pikiran pasien dianjurkan pelan-pelan memandang sekeliling ruangan, misalnya melintasi atap turun ke dinding, sepanjang jendela, dll. Untuk melestarikan muka, pasien dianjurkan sedikit tersenyum atau membiarkan geraham bawah kendor. Banyak beberapa petunjuk / pedoman dalam melakukan teknik relaksasi ini, antara lain : Teknik relaksasi Stewar sebagai berikut : a. b. c. d. Pasien menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara Perlahan-lahan udara dihembuskan sambil membiarkan tubuh menjadi kendor dan merasakan dan merasakan betapa nyaman hal tersebut Pasien bernapas beberapa kali dengan irama normal Pasien menarik napas dalam lagi dan menghembuskan pelan-pelan dan membiarkan hanya kaki dan telapak kaki yang kendor. Perawat minta pasien untuk mengkonsentrasikan pikiran pasien pada kakinya yang terasa ringan dan hangat e. f. Pasien mengulang langkah ke-4 dan mengkonsentrasikan pikiran pada lengan perut, punggung dan kelompok otot-otot yang lain Setelah pasien merasa rileks, pasien dianjurkan bernapas secara pelan-pelan. Bila nyeri menjadi hebat, pasien dapat bernapas dangkal dan cepat.

Latihan Relaksasi Progresif: a. b. c. d. Kontraksikan masing-masing otot dalam 10 kali hitungan kemudian lemaskan Lakukan latihan diruangan yang tenang dengan posisi duduk atau sambil berbaring yang nyaman Lakukan latihan dengan musik yang santai, bila dikehendaki Bawalah seseorang yang berlaku sebagai pelatih yang memberikan perintah untuk mengkontraksikan otot, menghitiung sampai 10 kali dan memerintahkan untuk melemaskan otot e. Contoh latihan yang membantu bagi pasien PPOK 1) Mengangkat bahu, menurunkannya dan melemaskannya 2) Mengepalkan kedua tangan, mengepalkannya dengan kuat erat selama lima detik, dan melemaskannya dengan sempurna. f. Ada beberapa artikel dalam lieratur keperawatan mengenai teknik relaksasi.

Meningkatkan relaksasi khusus pada pasien dengan Gangguan pola tidur dapat berupa a. b. c. d. e. Memberikan lingkungan yang gelap dan tenang Memberikan kesempatan untuk memilih penggunaan bantal, linen dan selimut Memberikan ritual waktu tidur yang menyenangkan bila perlu Pastikan ventilasi ruangan baik Tutup pintu ruangan, bila klien menginginkan

5. Perawatan Luka Perawatan luka bertujuan ,merawat luka untuk mencegah trauma (injury) pada kulit, membran mukosa atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma, fraktur, luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit. Pendidikan perawat luka ini penting diberikan kepada klien dan keluarga klien agar mandiri. Tujuan pendidikan perawatan luka ini yaitu : a. Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran mukosa. 10

b. Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan. c. Mempercepat penyembuhan. d. Membersihkan luka dari benda asing atau debris. e. Drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat. f. Mencegah perdarahan. Perawat perlu menginformasikan tahap-tahap dalam perawatan luka agar luka tidak menimbulkan infeksi. Tahap yang harus dilakukan yaitu persiapan alat dan pelaksanaan. a. Persiapan alat berupa 1) Set steril yang terdiri atas :pembungkus, kapas atau kasa untuk membersihkan luka, tempat untuk larutan, larutan anti septic, sepasang pinset, gaas untuk menutup luka. 2) Alat-alat yang diperlukan lainnya seperti : extra balutan dan zalf. 3) Gunting 4) Kantong tahan air untuk tempat balutan lama 5) Plester atau alat pengaman balutan 6) Selimut mandi jika perlu, untuk menutup pasie 7) Bensin untuk mengeluarkan bekas plester b. Pelaksanaan 1) Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Jawab pertanyaan pasien. 2) Minta bantuan untuk mengganti balutan pada bayi dan anak kecil 3) Jaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar 4) Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan. Bukan hanya pada daerah luka, gunakan selimut mandi untuk menutup pasien jika perlu. 5) Tempatkan tempat sampah pada tempat yang dapat dijangkau. Bisa dipasang pada sisi tempat tidur. 6) Angkat plester atau pembalut. 7) Jika menggunakan plester angkat dengan cara menarik dari kulit dengan hati-hati kearah luka. Gunakan bensin untuk melepaskan jika perlu. 11 g. Mencegah excoriasi kulit sekitar drain.

8) Keluarkan balutan atau surgipad dengan tangan jika balutan kering atau menggunakan sarung tangan jika balutan lembab. Angkat balutan menjauhi pasien. 9) Tempatkan balutan yang kotor dalam kantong plastik. 10) Buka set steril 11) Tempatkan pembungkus steril di samping luka 12) Angkat balutan paling dalam dengan pinset dan perhatikan jangan sampai mengeluarkan drain atau mengenai luka insisi. Jika gaas dililitkan pada drain gunakan 2 pasang pinset, satu untuk mengangkat gaas dan satu untuk memegang drain. 13) Catat jenis drainnya bila ada, banyaknya jahitan dan keadaan luka. 14) Buang kantong plastik. Untuk menghindari dari kontaminasi ujung pinset dimasukkan dalam kantong kertas, sesudah memasang balutan pinset dijauhkan dari daerah steril. 15) Membersihkan luka menggunakan pinset jaringan atau arteri dan kapas dilembabkan dengan anti septik, lalu letakkan pinset bersihkan dari insisi kearah drain : a) Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar. b) Jika ada drain bersihakan sesudah insisi. c) Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer, bersihkan dari tengah luka kearah luar, gunakan pergerakan melingkar. 16) Ulangi pembersihan sampai semua drainage terangkat. 17) Olesi zalf atau powder. Ratakan powder diatas luka dan gunakan alat steril. 18) Gunakan satu balutan dengan plester atau pembalut 19) Amnkan balutan dengan plester atau pembalut 20) Bantu pasien dalam pemberian posisi yang menyenangkan. 21) Angkat peralatan dan kantong plastik yang berisi balutan kotor. Bersihkan alat dan buang sampah dengan baik. 22) Cuci tangan jungnya labih rendah daripada pegangannya. Gunakan satu kapas satu kali mengoles,

12

Laporkan adanya perubahan pada luka atau drainage kepada perawat yang bertanggung jawab. Catat penggantian balutan, kaji keadaan luka dan respon pasien. B. TERAPI MODALITAS Terapi modalitas merupakan terapi dalam memberikan askep baik di institusi pelayanan maupun di masyarakat,yang bermanfaat bagi keswa dan berdampak terapeutik.Tujuan yang spesifik dari terapi modalitas menurut gostetamy 1973 yaitu menimbulkan kesadaran terhadap salah satu perilaku klien, mengurangi gejala, memperlambat kemunduran, membantu adaptasi dengan situasi yang sekarang, membantu keluarga dan orang-orang yang berarti, mempengaruhi keterampilan merawat diri sendiri , meningkatkan aktifitas dan meningkatkan kemandirian klien. Terapi modalitas kerapkali menerangkan terapi yang diguanakn untuk klien dengan gangguan jiwa. Ada beberapa jenis terapi modalitas, yaitu trapi individual, terapi lingkungan (milleu therapy), terapi biologis atau terapi somatic, terapi kognitif, terapi keluarga, terapi kelompok, terapi perilaku dan terapi bermain. Berikut ini merupakan contoh terapi modalitas : 1. Terapi individual individual antara seorang terapis dengan seorang klien. Suatu hubungan yang terstruktur yang terjalin antara perawat dan klien untuk mengubah perilaku klien. Hubungan yang dijalin adalah hubungan yang disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan sistematis (terstruktur) sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan tingkah laku klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan. Hubungan terstruktur dalam terapi individual bertujuan agar klien mampu menyelesaikan konflik yang dialaminya. Selain itu klien juga diharapkan mampu meredakan penderitaan (distress) emosional, serta mengembangkan cara yang sesuai dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

13

Tahapan hubungan dalam terapi individual meliputi: a. Tahapan orientasi b. Tahapan kerja c. Tahapan terminasi Tahapan orientasi dilaksanakan ketika perawat memulai interaksi dengan klien. Yang pertama harus dilakukan dalam tahapan ini adalah membina hubungan saling percaya dengan klien. Hubungan saling percaya sangat penting untuk mengawali hubungan agar klien bersedia mengekspresikan segala masalah yang dihadapi dan mau bekerja sama untuk mengatasi masalah tersebut sepanjang berhubungan dengan perawat. Setelah klien mempercayai perawat, tahapan selanjutnya adalah klien bersama perawat mendiskusikan apa yang menjadi latar belakang munculnya masalah pada klien, apa konflik yang terjadi, juga penderitaan yang klien hadapi. Tahapan orientasi diakhiri dengan kesepakatan antara perawat dan klien untuk menentukan tujuan yang hendak dicapai dalam hubungan perawat-klien dan bagaimana kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Perawat melakukan intervensi keperawatan setelah klien mempercayai perawat sebagai terapis. Ini dilakukan di fase kerja, di mana klien melakukan eksplorasi diri. Klien mengungkapkan apa yang dialaminya. Untuk itu perawat tidak hanya memperhatikan konteks cerita klien akan tetapi harus memperhatikan juga bagaimana perasaan klien saat menceritakan masalahnya. Dalam fase ini klien dibantu untuk dapat mengembangkan pemahaman tentang siapa dirinya, apa yang terjadi dengan dirinya, serta didorong untuk berani mengambil risiko berubah perilaku dari perilaku maladaptive menjadi perilaku adaptif. Setelah kedua fihak (klien dan perawat) menyepakati bahwa masalah yang mengawali terjalinnya hubungan terapeutik telah mereda dan lebih terkendali maka perawat dapat melakukan terminasi dengan klien. Pertimbangan lain untuk melakukan terminasi adalah apabila klien telah merasa lebih baik, terjadi

14

peningkatan fungsi diri, social dan pekerjaan, serta yang lebih penting adalah tujuan terapi telah tercapai. 2. Terapi lingkungan (milleau terapi) Terapi lingkungan adalah bentuk terapi yaitu menata lingkungan agar terjadi perubahan perilaku pada klien dari perilaku maladaptive menjadi perilaku adaptif. Perawat menggunakan semua lingkungan rumah sakit dalam arti terapeutik. Bentuknya adalah memberi kesempatan klien untuk tumbuh dan berubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan interaksi. Dalam terapi lingkungan perawat harus memberikan kesempatan, dukungan, pengertian agar klien dapat berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Klien juga dipaparkan pada peraturan-peraturan yang harus ditaati, harapan lingkungan, tekanan peer, dan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Perawat juga mendorong komunikasi dan pembuatan keputusan, meningkatkan harga diri, belajar keterampilan dan perilaku yang baru. Bahwa lingkungan rumah sakit adalah lingkungan sementara di mana klien akan kembali ke rumah, maka tujuan dari terapi lingkungan ini adalah memampukan klien dapat hidup di luar lembaga yang diciptakan melalui belajar kompetensi yang diperlukan untuk beralih dari lingkungan rumah sakit ke lingkungan rumah tinggalnya. 3. Terapi kognitif Terapi kognitif adalah strategi memodifikasi keyakinan dan sikap yang mempengaruhi perasaan dan perilaku klien. Proses yang diterapkan adalah membantu mempertimbangkan stressor dan kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi pola berfikir dan keyakinan yang tidak akurat tentang stressor tersebut. Gangguan perilaku terjadi akibat klien mengalami pola keyakinan dan berfikir yang tidak akurat. Untuk itu salah satu memodifikasi perilaku adalah dengan mengubah pola berfikir dan keyakinan tersebut. Fokus auhan adalah

15

membantu klien untuk reevaluasi ide, nilai yang diyakini, harapan-harapan, dan kemudian dilanjutkan dengan menyusun perubahan kognitif. Ada tiga tujuan terapi kognitif meliputi: a. Mengembangkan pola berfikir yang rasional. Mengubah pola berfikir tak rasional yang sering mengakibatkan gangguan perilaku menjadi pola berfikir rasional berdasarkan fakta dan informasi yang actual. b. Membiasakan diri selalu menggunakan pengetesan realita dalam menanggapi setiap stimulus sehingga terhindar dari distorsi pikiran. c. Membentuk perilaku dengan pesan internal. Perilaku dimodifikasi dengan terlebih dahulu mengubah pola berfikir. Bentuk intervensi dalam terapi kognitif meliputi mengajarkan untuk mensubstitusi pikiran klien, belajar penyelesaian masalah dan memodifikasi percakapan diri negatif. 4. Terapi keluarga Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga adalah agar keluarga mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran utama terapi jenis ini adalah keluarga yang mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan fungsi-fungsi yang dituntut oleh anggotanya. Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan diidentifikasi dan kontribusi dari masing-masing anggota keluarga terhadap munculnya masalah tersebut digali. Dengan demikian terleih dahulu masing-masing anggota keluarga mawas diri; apa masalah yang terjadi di keluarga, apa kontribusi masing-masing terhadap timbulnya masalah, untuk kemudian mencari solusi untuk mempertahankan keutuhan keluarga dan meningkatkan atau mengembalikan fungsi keluarga seperti yang seharusnya. Proses terapi keluarga meliputi tiga tahapan yaitu fase 1 (perjanjian), fase 2 (kerja), fase 3 (terminasi). Di fase pertama perawat dan klien mengembangkan 16

hubungan saling percaya, isu-isu keluarga diidentifikasi, dan tujuan terapi ditetapkan bersama. Kegiatan di fase kedua atau fase kerja adalah keluarga dengan dibantu oleh perawat sebagai terapis berusaha mengubah pola interaksi di antara anggota keluarga, meningkatkan kompetensi masing-masing individual anggota keluarga, eksplorasi batasan-batasan dalam keluarga, peraturan-peraturan yang selama ini ada. Terapi keluarga diakhiri di fase terminasi di mana keluarga akan melihat lagi proses yang selama ini dijalani untuk mencapai tujuan terapi, dan cara-cara mengatasi isu yang timbul. Keluarga juga diharapkan dapat mempertahankan perawatan yang berkesinambungan.

5. Terapi kelompok Terapi kelompok adalah bentuk terapi kepada klien yang dibentuk dalam kelompok, suatu pendekatan perubahan perilaku melalui media kelompok. Dalam terapi kelompok perawat berinteraksi dengan sekelompok klien secara teratur. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran diri klien, meningkatkan hubungan interpersonal, dan mengubah perilaku maladaptive. Tahapannya meliputi: tahap permulaan, fase kerja, diakhiri tahap terminasi. Terapi kelompok dimulai fase permulaan atau sering juga disebut sebagai fase orientasi. Dalam fase ini klien diorientasikan kepada apa yang diperlukan dalam interaksi, kegiatan yang akan dilaksanakan, dan untuk apa aktivitas tersebut dilaksanakan. Peran terapis dalam fase ini adalah sebagai model peran dengan cara mengusulkan struktur kelompok, meredakan ansietas yang biasa terjadi di awal pembentukan kelompok, dan memfasilitasi interaksi di antara anggota kelompok. Fase permulaan dilanjutkan dengan fase kerja. Di fase kerja terapis membantu klien untuk mengeksplorasi isu dengan berfokus pada keadaan here and now. Dukungan diberikan agar masing-masing anggota kelompok melakukan kegiatan yang disepakati di fase permulaan untuk mencapai tujuan terapi. Fase kerja adalah inti dari terapi kelompok di mana klien bersama kelompoknya melakukan kegiatan untuk mencapai target perubahan perilaku 17

dengan saling mendukung di antara satu sama lain anggota kelompok. Setelah target tercapai sesuai tujuan yang telah ditetapkan maka diakhiri dengan fase terminasi. Fase terminasi dilaksanakan jika kelompok telah difasilitasi dan dilibatkan dalam hubungan interpersonal antar anggota. Peran perawat adalah mendorong anggota kelompok untuk saling memberi umpan balik, dukungan, serta bertoleransi terhadap setiap perbedaan yang ada. Akhir dari terapi kelompok adalah mendorong agar anggota kelompok berani dan mampu menyelesaikan masalah yang mungkin terjadi di masa mendatang. 6. Terapi Perilaku Anggapan dasar dari terapi perilaku adalah kenyataan bahwa perilaku timbul akibat proses pembelajaran. Perilaku sehat oleh karenanya dapat dipelajari dan disubstitusi dari perilaku yang tidak sehat. Teknik dasar yang digunakan dalam terapi jenis ini adalah: a. Role model b. Kondisioning operan c. Desensitisasi sistematis d. Pengendalian diri e. Terapi aversi atau releks kondisi Teknik role model adalah strategi mengubah perilaku dengan memberi contoh perilaku adaptif untuk ditiru klien. Dengan melihat contoh klien mampelajari melalui praktek dan meniru perilaku tersebut. Teknik ini biasanya dikombinasikan dengan teknik kondisioning operan dan desensitisasi. Kondisioning operan disebut juga penguatan positif di mana terapis memberi penghargaan kepada klien terhadap perilaku yang positif yang telah ditampilkan oleh klien. Dengan penghargaan dan umpan balik positif yang didapat maka perilaku tersebut akan dipertahankan atau ditingkatkan oleh klien. Misalnya seorang klien begitu bangun tidur langsung ke kamar mandi untuk mandi, perawat 18

memberikan pujian terhadap perilaku tersebut. Besok pagi klien akan mengulang perilaku segera mandi setelah bangun tidur karena mendapat umpan balik berupa pujian dari perawat. Pujian dalam hal ini adalah reward atau penghargaan bagi perilaku positif klien berupa segera mandi setelah bangun. Terapi perilaku yang cocok untuk klien fobia adalah teknik desensitisasi sistematis yaitu teknik mengatasi kecemasan terhadap sesuatu stimulus atau kondisi dengan secara bertahap memperkenalkan/memaparkan pada stimulus atau situasi yang menimbulkan kecemasan tersebut secara bertahap dalam keadaan klien sedang relaks. Makin lama intensitas pemaparan stimulus makin meningkat seiring dengan toleransi klien terhadap stimulus tersebut. Hasil akhirnya adalah klien akan berhasil mengatasi ketakutan atau kecemasannya akan stimulus tersebut. Untuk mengatasi perilaku dorongan perilaku maladaptive klien dapat dilatih dengan teknik pengendalian diri. Bentuk latihannya adalah berlatih mengubah kata-kata negatif menjadi kata-kata positif. Apabila ini berhasil maka klien sudah memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilaku yang lain sehingga menghasilkan terjadinya penurunan tingkat distress klien tersebut. Mengubah perilaku dapat juga dilakukan dengan memberi penguatan negatif. Caranya adalah dengan memberi pengalaman ketidaknyamanan untuk merusak perilaku yang maladaptive. Bentuk ketidaknyamanan ini dapat berupa menghilangkan stimulus positif sebagai punishment terhadap perilaku maladaptive tersebut. Dengan ini klien akan belajar untuk tidak mengulangi perilaku demi menghindari konsekuensi negatif yang akan diterima akibat perilaku negatif tersebut. 7. Terapi bermain Terapi bermain diterapkan karena ada anggapan dasar bahwa anak-anak akan dapat berkomunikasi dengan baik melalui permainan dari pada dengan ekspresi verbal. Dengan bermain perawat dapat mengkaji tingkat perkembangan, status 19

emosional anak, hipotesa diagnostiknya, serta melakukan intervensi untuk mengatasi masalah anak tersebut. Prinsip terapi bermain meliputi membina hubungan yang hangat dengan anak, merefleksikan perasaan anak yang terpancar melalui permainan, mempercayai bahwa anak dapat menyelesaikan masalahnya, dan kemudian menginterpretasikan perilaku anak tersebut. Terapi bermain diindikasikan untuk anak yang mengalami depresi, anak yang mengalami ansietas, atau sebagai korban penganiayaan (abuse). Bahkan juga terpai bermain ini dianjurkan untuk klien dewasa yang mengalami stress pasca trauma, gangguan identitas disosiatif dan klien yang mengalami penganiayaan. C. TERAPI KOMPLEMENTER Terapi komplementer dan alternatif adalah terapi dalam ruang lingkup luas meliputi system kesehatan, modalitas, dan praktek-praktek yang berhubungan dengan teoriteori dan kepercayaan pada suatu daerah dan pada waktu/periode tertentu. Terapi komplementer adalah terapi yang digunakan secara bersama-sama dengan terapi lain dan bukan untuk menggantikan terapi medis. Terapi komplementer dapat digunakan sebagai single therapy ketika digunakan untuk meningkatkan kesehatan. Alasan yang paling umum orang menggunakan terapi komplementer adalah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan/wellness. Wellness mencakup kesehatan optimum seseorang, baik secara fisik, emosional, mental dan spiritual. Fokus terapi komplementer adalah kesejahteraan yang berhubungan dengan tubuh, pikiran dan spirit. Terapi komplementer bertujuan untuk mengurangi stres, meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, menghindari atau meminimalkan efek samping, gejala-gejala, dan atau mengontrol serta menyembuhkanpenyakit. Adapun beberapa contoh terapi komplementer yaitu: 1. Pijat bayi Pijat bayi itu sangat besar manfaatnya bagi bayi. Bayi -bayi prematur yang dipijat secara teratur setiap hari menunjukkan perkembangan fisik dan emosional yang 20

lebih baik ketimbang bayi-bayi yang tidak dipijat. Selain itu berat badan bayi prematur yg dipijat akan mengalami peningkatan berat badan 20 hingga 40 persen dibandingkan yang tidak dipijat. Dan hal ini telah dibuktikan oleh para ahli di Fakultas Kedokteran Universitas Miami pada tahun 1986. Dipimpin oleh Tiffany M Field PhD. Selain itu, katanya, bayi-bayi yang dipijat selama lima hari saja, daya tahan tubuhnya akan mengalami peningkatan sebesar 40 persen dibanding bayi-bayi yang tidak dipijat. Pijat bayi ternyata bukan hanya berpengaruh pada pertumbuhan fisik dan emosional bayi. Jika dilakukan oleh ayah misalnya, maka pijat bayi itu bisa meningkatkan produksi ASI (Air Susu Ibu) pada tubuh ibu dan disebut ''pemberdayaan ayah, ketika seorang ayah berinisiatif memijat si bayi, hal itu akan menimbulkan perasaan positif pada istri. Inisiatif suami ini membuat istri merasa disayang, nyaman, dan perasaan positif lainnya. Dan perasaan seperti ini akan merangsang produksi hormon oksitosin. Untuk diketahui, hormon ini sangat berguna untuk memperlancar produksi ASI. Penelitian menunjukkan, 80 persen produksi hormon oksitosin dipengaruhi oleh kondisi psikis ibu. Selain itu, pijat bayi akan membuat bayi cepat lapar. Makin banyak ASI disedot oleh bayi (menyusui), maka produksi ASI makin meningkat. Ini karena dalam proses produksi ASI berlaku hukum supply and demand. Artinya, makin banyak ASI dikeluarkan, makin banyak pula ASI diproduksi. Begitu pula sebaliknya. Tata cara pemijatan Mengingat manfaatnya yang tidak kecil, sudah sepantasnya para orangtua menerapkan terapi sentuhan ini pada bayi mereka. Bagaimana caranya, ikuti tips berikut ini. Sebelum mulai memijat, lakukan beberapa langkah persiapan, yaitu: a. Mencuci tangan. b. Hindari kuku dan perhiasan yang bisa menggores kulit bayi. c. Ruang untuk memijat usahakan hangat dan tidak pengap. d. Bayi selesai makan atau tidak berada dalam keadaan lapar. 21

e. Usahakan tidak diganggu dalam waktu lima belas menit untuk melakukan proses pemijatan. f. Baringkan bayi di atas kain rata yang lembut dan bersih. g. Ibu/ayah duduk dalam posisi nyaman. h. Sebelum memijat, mintalah izin kepada bayi dengan cara membelai wajahnya sambil mengajak bicara. 2. Terapi herbal Terapi Herbal atau yang sering disebut Herbalisme adalah penggunaan tanaman obat untuk kemampuan terpeutik atas kemampuan terapinya untuk menyembuhkan penyakit seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan Herbal adalah tanaman atau bagian tanaman yang memiliki nilai dikarenakan memiliki khasiat terapi, aaromatik atau rasanya, dan orang yang menerapkan terapi herbal dalam menangani pasiennya disebut Herbalis. Terapi herbal adalah terapi yang paling tua sepanjang sejarah kehidupan manusia. Setiap tempat kebudayaan memiliki pengetahuan tentang herbal masing-masing. Berdasarkan pengalaman tuurun-temurun dan cara mereka mengamati hewan yang memanfaatkan tanaman tersebut dengan metode coba-coba (trial and error). Oang jaman dahulu menggunakan berbagai tanaman yang ada di sekitarnya untuk digunakan sebagai obat. Menjelang meillenium baru, terapi herbal mengalami masa kebangkitannya dengan istilah "Back to Nature" kembali ke alam dan mulao diterima sebagai komplemen/pendamping untuk terapi konvensional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 4 milyar atau sekitar 80% dari penduduk dunia pada saat ini menggunakan terapi herbal untuk beberapa aspek dari kesehatan mereka. Sekitar 25% dari obat-obatan yang diresepkan di Amerika Serikat saat ini mengandung sedikitnya satu bahan aktif yang berasal dari tanaman. Menurut WHO pula, dari 119 obat-obatan farmasi yang berasal dari tanaman sekitar 75 pasiean digunakan dalam terapi modern dalam cara yang berkolerasi langsung dengan penggunaannya secara tradisional dalam kultur pribumi asalnya. 22

Perusahaan-perusahaan farmasi terkemmuka dunia kini sedang giat-giatnya melakukan riset intensif mengenai bahan tanaman yang dikumpulkn darai hutan hijau (rainforest) untuk diteliti potensi terapinya. Ada berbagai penyebab mengapa terjadi kembali terapi herbal : a. Terapi Konvensional Kedokteran modern makin terasa impersonal, pasien merasa kurang di orangkan oleh dokter-dokter mereka. b. Penggunaan jasa terapi konvensional kedokteran " Biaya Tinggi " karena penggunaan alat " High Tech" (teknologi tinggi). c. Makin nyatanya bukti akibat efek samping dari obat-obatan sintetik, dan ketidakmampuannya dalam mengatasi penyakit kronis, degeneratif dan yang berhubungan dengan sistem imunitas tubuh. d. Terapi herbal bersifat holistik dan penekanannya pada pemberdayaan diri sehingga sesuai dengan sentimen penggunanya yang ingin memegang kendali terhadap kehidupan mereka sendiri. Meski memiliki berbagai macam kelebihan dalam terapi herbal, secara prinsip dasar harus disadari bahwa terapi herbal ditujukan untuk memngembalikan keseimbangan tubuh secara alami, dengan membiarkan tubuh bekerja sendiri dalam memelihara kesehatannya. Oleh karena itu, sebaiknya tidak mengharapkan ramuan/ obat herbal akan mengusir semua gejala penyakit dengan cepat. Karena terapi ini lebih diarahkan untuk mendukung kerja sistem tubuh agar berfungsi dengan baik sehingga akan mampu mengatasi sendiri gangguan penyakit yang dialami. 3. Exercise dan Diet Fungsi nutrisi sebagai penyembuh baru disadari setelah Dr. Linus Pauling yang memperkenalkan konsep terapi ortomolekuler, yaitu penggunaan vitamin dalam dosis tinggi. Awalnya Dr. Linus Pauling hanya mengira bahwa vitamin C hanya digunakan untuk mencegah batuk pilek namun setelah di combain dengan vitamin B (B1, B6, B12) yang diperlukan untuk sel otak dan saraf.

23

Joseph Pizzorno,N.D., pakar terapi alami menulis textbook of Natural Meidcine and Encylopedia of Natural Medicine menjelaskan cara kerja kelompok nutrisi sebagai obat. Menurutnya seluruh proses tergantung pada enzim yang berfungsi membantu proses reaksi kimia agar sel-sel organ tubuh bekerja dengan baik. Untuk itu diperlukan mikronutrien sebagai konponen pembenguk enzim, menghalangi toksin, merusak enzim dan memperbaiki sel genetic yang menghasilkan enzim tersebut. Terapi nutrisi diperlukan untuk mengembalikan keseimbangan fungsi tubuh yang terganggu akibat kekurangan nutrisi. Hal ini sebagai akibat pola makan yang buruk dan stress kehidupan. Gangguan-gangguan tersebut berupa penurunan kemampuan system imun, keracunan dari toksin hasil metabolism tubuh yang tidak baik, gangguan system anti-radang yang berlebih sehingga tubuh meresponnya sebagai alergi, gangguan fungsi metabolic terutama pencernaan, gangguan system hormone dan proses penuaan dini yang sekarang banyakl terjadi karena stress karena gaya hidup modern. Untuk mnegatasi gangguan tersebut beberapa nutrisi yang digunakan dalam food supplement adalah : a. Memperkuat system imun yaitu vitamin A, C, herbal Echinacea dan jamur Shiitake. Untuk mnegobatai infeksi spesifik, digunakan goldenseal (infeksi bakteri), licorice (infeksi virus) dan tea tree oil (infeksi jamur kulit). b. Detoksifikasi digunakan betakaroten, vitamin C, E dan klorofil. Sedangkan untuk mengatasi toksik usus diberikan suplemen laktobasilus. Detoksifikasi hati digunakan bawang putih, Sylibum marianum dan sayuran golongan brassica. c. Mengatasi radang digunakan vitamin E dan C dosis tinggi yang berfungsi menormalkan kembali fungsi respon tubuh terhadap radang. d. Mengoptimalkan fungsi metabolic terutama system pencernaan digunakan zat pahit, betain hidroklorida dan enzim pepsin. e. Menyeimbangkan system hormone: hormone tyroid diberikan mineral tembaga, selenium, seng dan ekstrak kelenjar tiroid. Hormone DHEA diberikan ginseng Siberia, meningkatkan hormone wanita diberikan 24

mineral seng, vitamin A, herbal Vitex agnus-cactus, meningkatkan hormone pria diberikan mineral sneg dan ginseng Siberia. Awet muda digunakan suplemen vitamin C, E, B12, koenzim Q10, glukosamin sulfat, glutation, mineral kromium, magnesium selenium dan minyak biji rami. 4. Reiki Reiki merupakan salah satu dari 1800 jenis terapi komplementer yang ada di dunia. Reiki ditemukan pertama kali oleh Mikao Usui pada tahun 1922. Reiki berasal dari bahasa Jepang yaitu rei yang artinya alam semesta dan ki yang berarti energi kehidupan, jadi reiki berarti energi alam semesta yang dikarunia Tuhan sang maha pencipta kepada manusia yang diperoleh sejak ia dilahirkan. Energi ini dapat digunakan untuk memelihara kesehatan serta menyembuhkan diri sendiri ataupun orang lain. Teknik Penyembuhan reiki adalah teknik penyembuhan sangat sederhana dan mudah dipelajari oleh semua orang hanya dalam waktu inisiasi 30-45 menit dan langsung dapat digunakan untuk menyembuhkan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat permanen. Kemampuan reiki bisa diperoleh seketika melalui proses attunement/penyelarasan atau inisiasi yang dilakukan oleh reiki master. Setelah dilakukan proses penyelarasan energi terhadap sumber energi alam semesta oleh reiki master, secara langsung seseorang memiliki kemampuan memanfaatkan energi reiki. Cara menggunakanya energi reiki sangat mudah, hanya meniatkan akan menggunakan energi reiki dan meletakkan tangan pada cakra (pintu gerbang energi tubuh) atau bagian tubuh yang sakit. Proses attunement akan memberi efek detokfisikasi pada fisik, biasanya berupa kelebihan energi yang disertai tanda-tanda rasa panas, mengantuk, meningkatnya frekuensi buang air kecil maupun besar. Detokfisikasi ini akan diakhiri dengan rasa bugar, tenang dan nyaman sesudahnya. Pada attunement tingkat kedua, detoksifikasi terjadi pada lapisan mental dan emosional sehingga pembawaan lebih sabar dan tenang. Terakhir adalah attunement tingkat master, pada tahap ini detoksifikasi akan terjadi pada lapisan spiritual. Biasanya akan lebih 25

mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih tenang dan mempunyai kepekaan yang tinggi. Praktisi reiki atau master reiki merupakan mediator untuk mengalirkan energi alam kedalam tubuh manusia melalui kedua tangannya. Tubuh manusia tersusun atas tubuh fisik dan non fisik yang saling berhubungan, saat tubuh non fisik terganggu maka tubuh fisikpun akan tergangu. Terapi reiki tidak langsung ke ditujukan pada bagian fisik tubuh melainkan dialirkan dalam bentuk gelombang elektro magnetik melalui medan radiasi tubuh atau aura. Saat melakukan penyembuhan, seorang praktisi reiki akan menyerap energi reiki dari alam semesta dan menyalurkannya ke tubuh nonfisik si pasien melalui cakra/pintu gerbang energi yang ada dalam tubuh manusia. Hasil yang diharapkan adalah terjadi keselarasan/keseimbangan energi dalam tubuh, meningkatkan kerja sel tubuh sehingga fungsi tubuh akan membaik dan dapat melakukan pemeliharaan dan perbaikan kesehatan. Aktivasi cakra (pusat penyalur energi) dalam tubuh dapat menjaga keseimbangan berbagai sistem dalam tubuh, hal ini dapat memelihara kesehatan fisik dan mental manusia. Tujuan akhir aktivasi cakra ini adalah menciptakan manusia yang sehat jiwa dan raga. Meski lebih banyak ditujukan untuk tindakan preventif, aktivasi cakra juga dapat menyembuhkan gejala penyakit yang disebut cakra healing Sesuai namanya, chakra healing dapat menyembuhkan secara langsung berbagai penyakit, meski terbatas pada penyakit ringan. Kalau pusing, pilek atau stres, masih bisa ditanggulangi namun untuk penyakit berat seperti kanker, gastritis kronis, gangguan jantung, dan lainnya, lazimnya dikombinasikan dengan metode terapi lain. Penting untuk diingat bahwa reiki bukan untuk terapi alternative kanker namun reiki adalah terapi komplementer yang digunakan untuk meringankan efek samping dari terapi kanker.

26

Chakra healing memanfaatkan tenaga bioenergi yang terdapat dalam tubuh manusia. Bioenergi ini merupakan tenaga vital yang mempunyai sifat dasar hampir sama dengan energi lain seperti energi panas atau energi listrik. Jika darah mengalir lewat pembuluh, bioenergi tadi mengalir lewat suatu "lorong" yang dinamai meridian. Meridian ini berpangkal pada titik-titik tertentu pada tubuh, membentuk pusat-pusat energi yang disebut cakra. 5. Akupuntur Akupuntur adalah teknik terapi yang digunakan dalam terapi tradisional Cina. Jarum-jarum yang sangat tajam digunakan untuk menstimulasi titik-titik tertentu pada tubuh. Titik-titik ini terdapat pada jalur-jalur energi yang disebut "meridian". Terapi akupuntur dirancang untuk memperbaiki aliran dan keseimbangan energi sepanjang meridian-meridian ini. Terapi tradisional Cina memiliki sejarah lebih dari 2,500 tahun. Terapi tradisional ini melihat tubuh manusia sebagai suatu sistim aliran energi. Ketika aliran-aliran energi ini seimbang, maka tubuh tersebut sehat. Para praktisi memeriksa denyut nadi pasien dan mengamati keadaan lidah mereka untuk mendiagnosa ketidakimbangan energi. Dalam terapi Cina, denyut nadi dapat diperiksa pada tiga lokasi di masing-masing pergelangan tangan, dan pada tiga kedalaman pada masing-masing lokasi. Penyakit tidak didefinisikan dengan gejala-gejala atau nama penyakit seperti "infeksi HIV". Sebaliknya, seorang praktisi terapi Cina akan berbicara mengenai ketidakimbangan energi. Bahasanya dapat kedengaran sangat aneh, seperti "kekurangan yin" atau "peningkatan panas ginjal". Kata-kata Cina yin dan yang menggambarkan energi yang saling bertolak-belakang yang seharusnya tetap seimbang, dan Qi (dibaca "chi") secara kasar dapat diartikan sebagai energi atau kekuatan hidup. Dalam terapi tradisional Cina, terdapat banyak cara untuk memperbaiki keseimbangan aliran energi tubuh. Teknik yang paling sering digunakan di negaranegara barat adalah teknik senam seperti Qigong atau Tai Chi, akupuntur (tusuk jarum), dan jamu. Banyak praktisi terapi Cina mengkhususkan diri pada akupuntur atau jamu. Sangat jarang yang menggunakan keduanya. Berdasarkan ketidakimbangan energi klien, 27

ahli akupuntur klien akan memilih titik akupuntur untuk distimulir. Klien akan berbaring di atas dipan, bertelungkup atau telentang. Jarum-jarum akan dimasukkan pada titik-titik tertentu. Klien mungkin akan merasa sedikit sakit, kesemutan atau rasa kebal selagi jarum ditusukkan. Jarum-jarum ini dibiarkan pada tempatnya selama 30 hingga 45 menit tergantung pada tujuan dari akupuntur itu. Selama itu, banyak orang jatuh tertidur. Klien mungkin juga mendapatkan perawatan tambahan selama akupuntur untuk meningkatkan aliran energi klien. Jarum-jarum mungkin distimulir dengan aliran listrik bertenaga sangat rendah (electroacupuncture). Moxa adalah bahan lembut yang terdiri dari sejenis rempah mugwort kering. Moxa mungkin diaplikasikan di atas jarum akupuntur atau bahkan secara langsung di kulit. Moxa dibakar untuk menghasilkan rasa panas yang menusuk. Hal ini disebut moxibustion. Gelas-gelas bundar dapat digunakan untuk menghasilkan penyedotan pada titik-titik tertentu (bekam). Penyedotan ini menstimulir aliran energi. Bila gelas-gelas ini ditinggalkan pada kulit untuk waktu yang lama, akan ada bekas berwarna merah. Beberapa praktisi menggunakan manik-manik kecil atau jarum kecil yang ditinggalkan pada kulit selama beberapa hari untuk memberi tekanan pada titik akupuntur. Beberapa orang merasa sedikit rasa sakit, kaku atau kesemutan ketika jarum akupuntur ditusukkan. Dalam beberapa kasus yang jarang, orang akan merasa pusing atau mual selama akupuntur. Klien mungkin akan mengeluarkan beberapa tetes darah ketika jarum dicabut. Akupuntur memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan kebanyakan terapi terapi modern. Klien sebaiknya tidak melakukan akupuntur bila klien minum minuman beralkohol satu jam sebelumnya, atau bila klien telah menggunakan napza. Pastikan ahli akupuntur klien tahu bila klien hamil. Beberapa titik akupuntur tidak boleh distimulir selama kehamilan.

6.

Hipnoterapi

28

Di Indonesia, hipnosis sudah diakui sebagai salah satu alternatif penyembuhan yang telah teruji kebenarannya. Bahkan hipnosis kedoteran sudah menjadi seminar resmi bagi calon psikiater di FKUI. Sedangkan di RSPAD Gatot Subroto sebagai pusat hipnosis kedokteran pertama, menerapkan hipnodonsi (dental Hypnosis) untuk dokter gigi serta para psikiaternya. Jadi, jangan takut untuk mencoba manfaat hipnoterapi. Anggapan masarakat terhadap hipnoterapi sering diasumsikan sama dengan metode gendam yang sering digunakan untuk praktek kejahatan, keduanya memang sama menggunakan gelombang elektromanetik dan energi dalam tubuh manusia, namun ada perbedaan mendasar dalam penerapannya. Menurut Dr. Erwin, hipnoterapi bukanlah gendam atau ilmu sihir. Seperti yang banyak digunakan dalam kasus kejahatan, korban dibuat tidak sadar dan menyerahkan apa yang dimilikinya. Dalam hipnoterapi, si pasen dijadikan subjek aktif yang dipandu secara sadar dan mau menerima apa yang di lakukan terapis sehingga melakukan energinya sendiri untuk penyembuhan dimaksud. Sedangkan dalam gendam yang terjadi adalah proses magnetisme, yaitu si korban/pasien menjadi obyek pasif dan secara tidak sadar dipengaruhi energi dari si pelaku kejahatan. Cara Kerja Hipnoterapi Istilah hipnoterapi mengacu dari kata Hypno bahasa Yunani berarti tidur. Memang terapi penyembuhan hipnoterapi diawali dengan mengkondisikan pasien dalam fase relaksasi (seperti orang tertidur) sebelum dilakukan terapi inti. Hipnoterapi bekerja pada jiwa bawah sadar (alpha state) manusia. Untuk membangkitkan jiwa bawah sadarnya, pasien dalam kondisi relaksasi atau atau mengistirahatkan jiwa sadarnya. Saat jiwa sadarnya beristirahat maka jiwa bawah sadarnya akan muncul. Dalam kondisi ini rekaman bawah sadarnya seperti gangguan kesehatan yang dirasakan akan diketahui. Rekaman bawah sadar yang salah atau keliru akan diperbaharui dengan memberikan sugesti-sugesti positif oleh terapis melalui hipnoterapi. Sugesti ini diberikan secara terus menerus hingga keadaan dimana rekaman bawah sadar yang keliru menghilang dan digantikan oleh sugesti positif . 29

Tingkat keberhasilannya sugesti positif pada pasien berbeda masing-masing orang. Tergantung ganguan berat-ringanya penyakit yang diderita serta kemauan untuk sembuh dari dalam diri pasien. Hipnoterapi tidak bisa langsung menyembuhkan dalam satu atau dua kali terapi, seperti kasus kecanduan narkoba atau pasien ingin berhenti merokok. Jika kecanduan narkoba atau merokok sudah sangat berat, untuk sembuh total proses terapi bisa selama dua tahun. Untuk mempercepat kesembuhan, pasien juga harus proaktif dan mempunyai kemauan yang kuat untuk sembuh. Dalam hipnoterapi, terapis hanya berperan sebagai fasilitator, pasien harus kooperatif dan sebagai subyek aktif. Agar proses terapi tepat sasaran, pasin harus benar-benar memahami betul maksud dan tujuan hipnoterapi. Harus ada kesepakatan antara pasien dan terapis, karena pasienlah sebenarnya yang paling tau apa yang dideritanya, tutur dokter yang praktek di Klinik Prorevital di daerah Cempaka Putih dan RSPAD Jakarta. Hipnoterapi lebih efektif digunakan untuk mengobati ganguan kesehatan yang sifatnya fungsional. Ganguan kesehatan karena defisiensi organik dalam tubuh maupun defisiensi zat dari luar tubuh tidak bisa disembuhkan. Seperti kasus kekurangan zat gizi tertentu, dehidrasi atau ganguan penyakit kulit, tetap harus diobati dengan terapi medis yang lain, tidak bisa dengan hipnoterapi. Begitu juga kasus trauma fisik seperti patah tulang. Menangani penyakit akibat ganguan neurosis, seperti stres, depresi, fobia, atau rasa cemas yang berlebihan. Ganguan kejiwaan seperti stres lebih mudah disembuhkan dengan hipnoterapi, dengan memberikan sugesti, pasien bisa ditenangkan. Kebanyakan orang melakukan tindakan fisik untuk pencegahan dan penyembuhan penyakit kejiwaan. Penyakit jenis ini lebih tepat diobati dengan hipnoterapi, karena yang sakit bukan fisiknya namun jiwanya. Ganguan bioplasmik juga bisa disembuhkan dengan hipnoterapi. Ganguan bioplasmik biasanya ditandai dengan menurunnya ketahanan fisik dan mental.

30

Kelebihan hipnoterapi adalah murah, karena bisa dilakukan sendiri. Hipnoterapi juga relatif lebih efektif menghilangkan rasa nyeri dibandingkan terapi analgesik, termasuk morfin sekalipun. Hipnoterapi juga aman tanpa efek negatif seperti efek ketergantungan. Walaupun relatif aman, hipnoterapi mempunyai efek samping. Pada beberapa pasien bia menimbulkan abreaksi. Suatu keadaan dimana pasien keluar dari rekaman bawah sadarnya secara serentak. Akibatnya bisa menimbulkan rasa kekesalan atau kesedihan secara berlebihan, reaksinya pasien bisa tidak terkendali, namun kondisi biasanya tidak berlangsung lama dan bisa dikendalikan oleh terapis. D. KONSELING Konseling adalah proses komunikasi antara seseorang (konselor) dengan orang lain. Definisi lain dari konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan paduan ketrampilan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar/ upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Konseling juga bisa didefinisikan sebagai proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu klien. 1. Tujuan Konseling Secara Etimologi berasal dari bahasa Latin consilium artinya dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari sellan yang berartimenyerahkan atau menyampaikan. Jadi konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konsele) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang 31 keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan

kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien (client centered). Sedangkan konseling keluarga adalah memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya konseling keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan lingkungan keluarganya. 2. Prinsip Dasar Prinsip dasar konseling adalah terjadinya kemitraan atau korelasi antara klien dengan perawat sehingga terjadi perubahan perilaku klien secara sukarela. 3. Persiapan Dalam Melakukan Konseling Untuk menerapkan suatu konseling yang baik maka perawat harus memiliki persiapan. Perawat sebaiknya melihat dahulu data rekam medik pasien. Ini penting agar apoteker dapat mengetahui kemungkinan masalah yang terjadi. Selain itu apoteker juga harus mempersiapkan diri dengan informasi informasi terbaru yang berhubungan dengan maslah klien. Kemampuan nonverbal dalam berkomunikasi. Ada beberapa kemampuan nonverbal yang sangat membantu keberhasilan konseling yaitu : a. Senyum dan wajah yang bersahabat, perawat harus menunjukan perasaan yang bahagia saat akan melakukan konseling, karena ekspresi wajah perawat akan mempengaruhi suasana hati klien b. Kontak mata, kontak mata langsung selama sesi konseling. c. Gerakan tubuh, harus dilakukan seefektif mungkin. Jika terlalu berlebihan kadang akan mempengaruhi mood pasien. Sentuhan pada pasien juga kadang dibutuhkan untuk membuat merasa tenang. d. Jarak antara perawat dan pasien, jarak yang terlalu jauh membuat komunikasi menjadi tidak efektif, begitu juga dengan jarak yang terlalu 32

dekat. Sehinggga posisi dan jarak duduk dengan klien merasa nyaman bagi keduanya. e. Intonasi Suara, selama komunikasi berlangsung intonasi suara perawat harus diperhatikan. Suara yang terlalu pelan atau keras membuat komunikasi menjadi tidak efektif. Begitu juga dengan penekananpenekanan kalimat yang dilakukan. f. Penampilan apoteker yang bersih dan rapih membuat pasien merasa lebih nyaman. 4. Alat Bantu Konseling Agar konseling menjadi lebih efektif ada beberapa alat bantu yang dapat digunakan. Alat yang digunakan terdiri dari perlengkapan yang diperlukan oleh perawat sebagai konselor dan melakukan konseling maupun alat bantu yang diberikan kepada klien.Perlengkapan perawat yang digunakan adalah : 1. Panduan konseling, berisi daftar (check list) untuk mengingatkan perawat point-point konseling yang penting. 2. Kartu Pasien, berisi identitas pasien dan catatan kunjungan Klien 3. Literatur pendukung 4. Brosur tentang masalah tertentu, memberikan kesempatankepada pasien untuk membaca lagi jika lupa. 5. Alat peraga, dapat menggunakan audiovisual, gambar - gambar, dan poster. 6. Alat komunikasi untuk mengingatkan pasien untuk mendapatkan lanjutan kunjungan. 5. Kemampuan yang harus Dimiliki konselor a. Ketrampilan Observasi Hal hal yang ada dalam ketrampilan observasi yaitu: Apa yang diobservasi/diamati?, antara lain: 1) Tingkah laku non verbal klien. Cara menatap, bahasa tubuh, kualitas suara, merupakan indicator penting yang mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada klien.

33

2) Tingkah laku verbal klien. Kapan klien beralih topik, apa saja kata-kata kunci, penjelasan-penjelasan yang disampaikan dan pertanyaanpertanyaan yang diajukan. 3) Kesenjangan tingkah laku verbal dan non verbal. Seorang perawat yang tajam pengamatannya akan memperhatikan bahwa ada beberapa konflik/ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal dan non verbal, antara dua buah pernyataan, antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan. Dalam mengobservasi sesuatu ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan : 1) Pengamatan Obyektif adalah berbagai tingkah laku yang kita lihat dan dengar. Misalkan : jalan mondar-mandir, tangan dikepal, dsbnya. 2) Interpretasi/penafsiran adalah kesan yang kita berikan terhadap apa yang kita lihat (amati) dan kita dengar. b. Ketrampilan Mendengar Aktif Terdapat empat bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi, yaitu : 1) Mendengar Pasif (Diam) dilakukan antara lain bila klien sedang menceritakan masalahnya : berbicara tanpa henti, menggebu-gebu dengan ekspresi perasaan kesal atau sedih. Selain itu bila berhenti sejenak, konselor dapat mendengar pasif untuk memberi kesempatan menenangkan diri. 2) Memberi tanda perhatian verbal dan non verbal, seperti : Hmm, yaa, lalu, oh begitu, terus.. atau sesekali mengangguk. Dilakukan antara lain sewaktu klien berbicara panjang tentang peristiwa yang terjadi pada dirinya. 3) Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi. Dilakukan bila konselor ingin mendalami apa yang diucapkan/diceritakan klien. Misalnya : Bagaimana hubungan ibu dengan saudara-saudara suami? Apakah maksud ibu dengan perbuatan tidak layak itu? 34

4) Mendengar

Aktif

yaitu

dengan

memberikan

umpan

balik/merefleksikan isi ucapan dan perasaan klien. 5) Refleksi Isi atau Parahasing adalah menyatakan kembali ucapan klien dengan menggunakan kata-kata lain, memberi masukan kepada klien tentang inti ucapan yang baru dikatakan klien dengan cara meringkas dan memperjelas ucapan klien. 6) Refleksi Perasaan adalah mengungkapkan perasaan klien yang teramati oleh konselor dari intonasi suara, raut wajah dan bahasa tubuh klien maupun dari hal-hal yang tersirat dari kata-kata verbal klien. c. Ketrampilan Bertanya Semua jenis pertanyaan dapat dikelompokkan menjadi pertanyaan tertutup dan terbuka. 1) Pertanyaan Tertutup a) Menghasilkan jawaban ya atau tidak yang berguna untuk mengumpulkan informasi yang faktual. b) Tidak menciptakan suasana yang nyaman dalam berkomunikasi dan proses pengambilan keputusan c) Perawat mengontrol jalannya percakapan, klien hanya memberikaninformasi yang bersangkutan dengan pertanyaan saja. 2) Pertanyaan Terbuka a) Jenis pertanyaan biasanya memakai kata tanya bagaimana atau apa b) Memberi kebebasan atau kesempatan kepada klien dalam menjawab yang memungkinkan partisipasi aktif dalam percakapan. c) Merupakan cara yang efektif untuk menggali informasi dengan menggunakan intonasi suara yang menunjukkan minat dan perhatian. 6. Peran Konselor a. Konselor memberikan layanan secara professional kepada semua orang b. Konselor tidak boleh memanfaatkan hubungan konseling mereka untuk kepentingan pribadi, agama, politik dan bisnis. 35

c. Konselor tidak diperkenankan untuk membayar atau menerima bayaran dalam refeal. d. Konselor tidak diperbolehkan untuk memberikan layanan kepada klien yang masih berada dalam penanganan dari orang professional lain e. Konselor tidak boleh menghina sesama rekan sejawat f. Konselor memiliki kewajiban untuk meneruskan pendidikan dan pengembangan professional g. Konselor berusaha menghindari hubungan dengan konseli yang mungkin dapat merusak penilaian professional atau yang menambah risiko karna mengeksploitasi konseli. h. Konselor tidak boleh memberikan diagnosis, memberikan resep, mengobati diluar batas-batas kemampuannya i. Asosiasi profesi mendorong atau mengajukan para anggotanya untuk bergabung dengan kelompok-kelompok professional Hubungan dengan klien a. Seorang konselor harus hati-hati memberikan dukungan yang wajar dan penghargaan dalam tahap prognosis b. Konselor harus mementingkan pemahaman yang jelas tentang keuangan bersama klien. c. Konselor d. Konselor harus membuat catatan-catatan dalam bagi semua setiap tahap kasus dan menyimpannya dengan aman dan terjamin kerahasiaannya mengadakan hubungan kehidupan, menghargai setiap waktu terhadap hak-hak konseli untuk membuat b. keputusan mereka sendiri. 7. Tahapan a. Wawancara tahap awal Pada tahap ini konselor mengawali kontak dengan salah seorang anggota keluarga, sering kali anggota keluarga yang mulai mengontak konselor melalui telepon, dengan menyampaikan problem-problem yang dialaminya dalam bentuk keluhan-keluhan yang berhubungan dengan biologis, psikologis, dan 36

hubungan antar pribadi. Berbagai cara telah dilakukan oleh konselorkonselorbterdahulu ketika mereka melakukan wawancara tahap awal dalam konseling keluarga. Menggunakan wawancara tahap awal untuk menghimpun data tentang latar belakang historis suatu keluarga adalh terapi yang baik. b. Wawancara tahap pertengahan Wawancara tahap pertengahan merupakan jantung dari proses terapeutik. Pada tahap ini konselor berperan sebagai pembimbing dan pengarah, tetapi senantiasa berupaya menghindari mengambil alih peran orang tua atau berkoalisi dengan salah seorang anggota keluarga. Setelah setiap anggota keluarga terlibat dalam treatment, dan resistensi telah dipecahkan dengan baik, penataan kembali struktur keluarga dapat dimulai. Anggota-anggota keluarga terbuka menyatakan keadaan dirinya, meningkatkan kemandirian, mengurangi peran-peran kaku, saling berbagi perasaan dan pengalaman, dan saling memberi dan menerima balikan untuk merespon dengan perilaku-perilaku baru. c. Wawancara tahap akhir Konseling keluarga menggunakan durasi waktu yang relative lebih singkat daripada konseling individual . karena konseling sejak awal difokuskan pada penjabaran problema secara spesifik, atau meredakan simpton-simpton yang tampak sehingga memungkinkan untuk memperpecepat setiap anggota keluarga mengetahui secara jelas tujuan-tujuan yang telah dicapai. Meskipun begitu proses konseling keluarga mungkin membutuhkan waktu beberapa session mingguan atau bulanan. Delapan sampai dua puluh pertemuan adalh waktu yang ideal. Kebanyakan praktisi konselor keluarga sepakat bahwa terminasi di dalam konseling lebih mudah dilaksanakan daripada di dalam konseling individual. Konseling keluarga dapat dihentikan apabila anggota keluarga yang terlibat dalam proses konseling keluarga bisa bekerja sama dengan baik sebagai suatu unit atau kelompok untuk memecahkan masalah masalah mereka dan mengubah perilaku-perilaku mereka yang destruktif. Di samping itu mereka juga telah mampu mengembangkan suatu internal support system dan tidak bergantung kepada orang lain, termasuk tidak bergantung kepada konselor. Indicator-indikator lainnya adalah mereka telah mampu 37

berkomunikasi secara terbuka, eksplisit, dan jelas, mampu melakukan peranan masing-masing secara fleksibel, keuatan-kekuatan di dalam keluarga seimbang, dan setiap anggota keluarga mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya masing-masing dalam keluarga. 8. Pertanyaan dalam Konseling Pemilihan kalimat tanya merupakan faktor yang penting dalam mewujudkan keberhasilan komunikasi. Pertanyaan yang digunakan sebaiknya adalah openended questions. Dengan pertanyaan model ini memungkinkan perawat memperoleh beberapa informasi yang dibutuhkan dari satu pertanyaan saja. Pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak", sebaiknya dihindari. Begitu juga denganpertanyaan yang berasal dari pendapat perawat. Open-endedquestions akan menghasilkan respon yang memuaskan sebabpertanyaan ini akan memberikan informasi yang maksimal. Kata tanya sebaiknya dimulai dengan bagaimana atau mengapa. 9. Etika dalam Konseling Keluarga Nilai-nilai moral pilihan konselor tentang tanggung jawabnya didalam konseling keluarga memiliki konsekuensi tertentu. Situasi dimana seorang suami inginmenceraikan istrinya, tetapi si istri menentang keinginan sang suami. Alas an sang suami karena dia tidak merasa adanya kebahagiaan lagi jika tetap bersama sang istri. Dalam kasus ini, tampaknya suami lebih senang kalau dalam keluarga ditekankan kesejahteraan individual, karena itu suami mengharapkan konseling keluarga yang lebih memperhatikan kesejahteraan individual. Sang istri menginginkan agar konselor memberikan penekanan dan prioritas utama pada kesejahteraan bersama. Posisi konselor didalam konseling keluarga memiliki pengaruh yang luas dan mendalam, tidak hanya berpengaruh pada hubungan awal konseling dan penelusuran masalah, tetapi berpengaruh juga pada perumusan tujuan dan perencanaan treatment dalam proses konseling. 10. Faktor yang menghambat Konseling a. Faktor Individual

38

Orientasi kultural (keterikatan budaya) merupakan factor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari : 1) Faktor fisik kepekaan panca indera (kemampuan untuk melihat, mendengar), usia, gender (jenis kelamin) 2) Sudut pandang nilai nilai 3) Faktor social- sejarah keluarga dan relasi, jaringan social, peran dalam masyarakat, status social, peran social. 4) Bahasa b. Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi 1) Tujuan dan harapan terhadap komunikasi 2) Sikap terhadap interaksi 3) Pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan, perhatian, dukungan) 4) Sejarah hubungan c. Faktor Situasional Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan kesehatan antara perawat dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas. d. Kompetensi dalam melakukan percakapan Agar efektif suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah: 1) kegagalan menyampaikan informasi penting 2) perpindahan topic bicara yang tidak lancar 3) salah Pengertian

39

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN a. Terapi keperawatan adalah intervensi keperawatan yang unik yang hanya dapat dilakukan oleh seorang profesional (Ners). Bentuk terapi keperawatan berupa tindakan yang bersifat alamiah, tindakan berupa bantuan untuk melakukan tindakan yang bersifat alamiah tersebut, tindakan berupa proses interaksi untuk mempengaruhi klien dan keluarga agar bersedia merubah perilaku/ mengikuti program perawatan ,tindakan berupa proses interaksi untuk meningkatkan adaptasi klien dengan masalahnya dan tindakan berupa pendidikan kesehatan agar mampu melakukan bagi diri klien. Aplikasi tindakan keperawatn ini yaitu pendidikan kesehatan, imunisasi, latihan rentang gerak (ROM), teknik relaksasi dan perawatan luka. b. Terapi modalitas sering digunakan pada klien dengan gangguan jiwa, bertujuan mengubah perilaku klien gangguan jiwa dengan perilaku maladaptifnya menjadi perilaku yang adaptif. Aplikasi terapi modalitas yaitu terapi individual, terapi lingkungan (milleau terapi), terapi kognitif, terapi keluarga, terapi kelompok, terapi perilaku dan terapi bermain. c. Terapi komplementer merupakan perawatan kesehatan yang tidak termasuk dalam praktek terapi barat modern. Beberapa aplikasi dalam terapi komplementer yaitu pijat bayi, terapi herbal, meditasi, exercise dan diet, reiki, akupuntur dan hipnoterapi. d. Konseling merupakan hubungan konselor yang terlatih dengan klien bertujuan untuk membentu klien memahami ruang hidupnya, serta mempelajari untuk membuat keputusan sendiri melalui pilihan yang bermakna dan yang berasaskan informasi dan melalui penyelesaian masalah-masalah yang berbentuk emosi dan masalah pribadi. Tugas konseling yaitu memberikan kesempatan kepada klien untuk mengeksplorasi, menemukan dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi sesuatu. B. SARAN

40

Perawat lebih baik mampu mengetahui berbagai terapi yang bisa diterapkan dan mengkombinasikan sesuai dengan keadaan kliennya.

41

DAFTAR PUSTAKA

Arifani, Ni Putu. (2007). Terapi Modalitas. Depok: Universitas Indonesia Asmad. (2008). Teknik Prosedural Konsep & Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien . Jakarta: Salemba Medika. Berman A, Shirlee JS, Barbara K. & Glenora E. (2009). Buku Ajar Praktik keperawatan Klinis Kozier Erb. Jakarta: EGC. David. A. (2004). Buku Saku Psikiatri. Jakarta: EGC. Guze, B., Richeimer, S., dan Siegel, D.J. (1990). The Handbook of Psychiatry. California: Year Book Medical Publishers Johnson, JY. (2005). Prosedur Perawatan di Rumah: Pedoman untuk Perawat. Jakarta: EGC. Kaplan, H.I., Sadock, B.J., dan Grebb, J.A. (1996). Synopsis of Psychiatry. New York: Williams and Wilkins Ludin, Abubakar M., (2010). Dasar-Dasar Konseling : Tinjauan Teori dan Praktik . Bandung :Citapustaka Media Perintis Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius. Setyoadi dan Kushariyadi. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan Pada Klien Psikogeriatrik. Jakarta: Salemba Medika. Stevens PJM., F. Bordui dan JAG. Van der Weyd. (1997). Ilmu Keperawatan. Jakarta: EGC. Stuart, G.W. dan Laraia, M.T. (2001). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. (Ed ke-7). St. Louis: Mosby, Inc.