Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP DENYUT JANTUNG DAPHNIA

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Tri Yulia Ningsih : B1J011056 :V :2 : Asri Hestiningsih

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daphnia termasuk filum Arthropoda atau hewan beruas-ruas, kelas Crustasea (Djarijah, 1995). Organisme ini dikenal oleh masyarakat pada umumnya disebut sebagai kutu air, namun sebenarnya organisme ini termasuk dalam zooplankton. Mempunyai tubuh yang bersegmen yang terbungkus dalam suatu eksoskeleton (rangka luar) bersegmen yang kuat terdiri terutama atas kitin, suatu polimer dari N-Asetiglukoamin (NAG). Daphnia termasuk subfilum mandibulata yang memiliki mandibula yaitu sepasang bagian mulut yang digunakan untuk makan dan mempunyai antenna. Subfilum ini dibagi dalam empat kelas yaitu Crustaceae, Chilopoda, Diplopoda, dan Insekta. Lapisan luar daphnia mengalami molting atau ecdisis sebanyak 17 kali. Mulut Daphnia sp. terdiri dari satu labrum, satu pasang mandibula, satu buah labium (Radiopoetro, 1977). Daphia sendiri termasuk dalam kelas Crustaceae berupa plankton yang memiliki ciri-ciri kaliserata, kepala dan thoraks yang melebur menjadi cephalothoraks. Daphnia bernapas dengan insang. Hewan ini hidup di air tawar dan mudah ditemukan dikolam. Tubuhnya transparan dan tidak berwarna, apabila air sebagai tempat hidupnya teraerasi dengan baik. Alat gerak utamanya adalah antena yang mengatur gerakan ke atas dan ke bawah. Daphnia selalu ditemukan ditempat hidupnya dengan posisi kepala diatas. Jantung Daphnia merupakan struktur globular anterodorsal badan. Kecepatan denyut jantungnya dipengaruhi beberapa faktor antara lain suhu lingkungan. Suhu mempengaruhi proses fisiologis organisme termasuk frekuensi denyut jantung. Kenaikan ataupun penurunan tersebut dapat mencapai dua kali aktivitas normal. Perubahan aktivitas akibat pengaruh suhu. Aktivitas akan naik seiring dengan naiknya suhu sampai pada titik dimana terjadi kerusakan jaringan, kemudian diikuti aktivitas yang menurun dan akhirnya terjadi kematian. Pada suhu sekitar 10oC dibawah atau diatas suhu normal suatu jasad hidup dapat mengakibatkan penurunan atau kenaikan aktivitas jasad hidup tersebut kurang lebih dua kali pada suhu normalnya, sedangkan perubahan suhu yang tiba-tiba akan mengakibatkan terjadinya kejutan atau shock biasanya dikaitkan dengan koefisien aktivitas. Jantung berupa kantong berbentuk pelana terletak di dalam thoraks sebelah dorsal ditengah-tengah. Ini dianggap sebagai suatu peleburan pembuluh

sebelah dorsal serupa cacing tanah. Jantung terikat pada dinding-dinding Sinus pericardii dengan perantara sejumlah ligamenta. Tiga pasang lubang yang dilengkapi dengan valva disebut ostia (bentuk tunggal ostium) yang memungkinkan darah masuk kembali dari sinus yang melingkunginya. Ujung anterior jantung mempercabangkan lima buah arteriae, ialah : 1. Anteria ophthalmica, terletak disebelah dorsal ditengah-tengah, berjalan kearah anterior disebelah dorsal ventriculus, mengalir darah untuk pars cardiaca ventriculi, esophagus dan kepala. 2. Dua buah anteriae terletak dikanan kiri anteria opthalmica dengan cabang-cabangnya menuju ke pars cardiaca ventriculi, antennae, alat-alat ekskresi, dan menuju otot-otot dan jaringan-jaringan lain didaerah kepala. 3. Dua buah arteriae hepaticae, langsung menuju kelenjar-kelenjar pencernaan. Dari sisi ventral jantung keluar satu arteria yang berjalan ke arah posterior menuju daerah abdomen. Arteria ini dekat pangkalnya mempercabangkan arteria yang kemudian terbagi dua, satu berjalan ke arah anterior menuju ke daerah ventral abdomen dan extremitas pada abdomen.

1.2 Tujuan Tujuan percobaan ini adalah untuk mempelajari pengaruh temperatur lingkungan dan zat kimia terhadap denyut jantung Daphnia.

II. MATERI DAN CARA KERJA 2.1 Materi Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah daphnia, es batu, air panas dan alcohol 5%. Alat yang digunakan thermometer (celcius), pipet tetes, slide mikroskop berlekuk (cavity slide), mikroskop, stopwatch, gelas bekker, hand tally counter dan kertas tissue. 2.2 Metode Metode yang digunakan dalam praktikum pengaruh lingkungan terhadap denyut jantung daphnia adalah sebagai berikut: 1. Daphnia diambil dengan pipet. 2. Daphnia ditaruh di cavity slide. 3. Daphnia kemudian diamati di bawah mikroskop. 4. Daphnia diberi perlakuan (normal, dingin, panas, dan alcohol 5%). 5. Setiap perlakuan dihitung denyut jantung selama 1 menit.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Tabel hasil pengamatan Kelompok 1 2 3 4 5 6 Normal Suhu C DJ 28 216 28 300 28 240 28 356 27 288 28 300 Perlakuan (denyut/menit) Dingin Panas Suhu C DJ Suhu C DJ 22 256 56 296 22 240 54 244 22 292 52 196 25 368 58 258 22 316 46 224 25 352 52 306 Alkohol 5% Konsentrasi DJ 5% 268 5% 292 5% 264 5% 348 5% 316 5% 358

Foto hasil pengamatan

Gambar 1. Daphnia mikroskopis

Gambar 2. Daphnia skematis

1.2 Pembahasan Percobaan yang dilakukan menggunakan daphnia. Daphnia mempunyai tubuh yang transparan, sehingga denyut jantung terlihat jelas di bawah mikroskop. Hasil praktikum menunjukan saat kondisi suhu normal daphnia mempunyai denyut jantung 300 denyut/menit, dalam kondisi suhu dingin 244 denyut/ menit, dalam kondisi suhu panas rata-rata denyut jantungnya 240 denyut/menit, serta dalam kondisi di tambah zat kimia yaitu alkohol 5%, daphnia mempunyai denyut jantung rata-rata adalah 292 denyut/menit. Kondisi ini memperlihatkan bahwa daphnia akan menurunkan denyut jantungnya jika keadaan lingkungan extrim (panas, dingin dan zat kimia). Berdasarkan pada data pengamatan rombongan V, denyut jantung daphnia pada suhu normal yaitu 216, 300, 240, 356, 288 dan 300. Untuk suhu dingin yaitu 296, 244, 196, 258, 224 dan 306. Untuk suhu panas 256, 240, 292, 368, 316 dan 352. Untuk pemberian alkohol 5% jumlah denyut jantungnya menjadi 268, 292, 264, 348, 316 dan 358. Menurut Waterman (1980), hewan kecil memiliki frekuensi denyut jantung yang lebih cepat dari pada hewan besar, baik itu pada suhu atau temperatur panas, sedang, dingin, maupun alkoholik. Hal ini disebabkan adanya kecepatan metabolik yang dimiliki hewan kecil tersebut. Menurut Pennak (1953), mekanisme kerja jantung Daphnia sp. berbanding langsung dengan kebutuhan oksigen per unit berat badannya pada hewan-hewan dewasa. Daphnia sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada suhu 2231 C dan pH 6,57,4 yang mana organisme ini perkembangan larva menjadi dewasa dalam waktu empat hari (Djarijah, 1995). Menurut Barness (1966) menyatakan bahwa denyut jantung Daphnia sp. pada keadaan normal sebanyak 120 denyut per menit. Pada kondisi tertentu kecepatan rata-rata denyut jantung Daphnia ini dapat berubah-ubah disebabkan oleh beberapa faktor misalnya denyut jantung lebih cepat pada waktu sore hari, pada saat densitas populasi rendah dan pada saat betina mengerami telur. Respon denyut jantung Daphnia yang demikian terjadi karena Daphnia merupakan hewan poikiloterm dapat juga disebut ektoterm karena suhu tubuhnya ditentukan dan dipengaruhi oleh suhu lingkungan eksternal yaitu jika suhu lingkungan berubah maka suhu tubuh pada daphnia juga berubah seiring dengan suhu lingkungan, hal ini dipergunakan daphnia untuk menyesuaikan diri agar metabolism dalam tubuh tetap berjalan dan dapat bertahan hidup. Pada waktu temperatur turun maka laju metabolisme turun dan menyebabkan turunnya kecepatan pengambilan oksigen, sehingga denyut

jantung juga menurun. Menurut Waterman (1980) pada lingkungan dengan suhu tinggi akan meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia. Namun berdasarkan hasil praktikum kelompok 2 pad suhu tinggi denyut jantung daphnia menurun, hal ini dapat disebabkan karena pada saat dilakukan perhitungan terhadap denyut jantung daphnia suhu dari cavity slide sudah menurun karena waktu yang terlalu lama. Perlakuan menggunakan alkohol pada hewan uji dengan keadaan detak jantung normal akan menyebabkan suatu penurunan laju denyut jantung. Alkohol dengan konsentrasi kecil (15 %) tidak akan mempengaruhi denyut jantung daphnia. Suatu konsentrasi yang lebih tinggi mungkin akan memberikan pengaruh, misal alkohol 70% atau 96% (Kamai, 2004). Baumgartner et al. (2008), mengatakan kecepatan denyut jantung dipengaruhi oleh temperatur atau suhu air, kandungan oksigen, pH air, nutrisi dan makanan yang terkandung. Selain itu, dipengaruhi juga oleh : Siang hari denyut jantung lebih cepat daripada malam hari Kerapatan populasi tinggi akan menyebabkan kecepatan denyut jantung semakin besar Hewan betina yang membawa telur/anaknya dalam kantong pengeraman akan menyebabkan kecepatan denyut jantungnya akan bertambah Pada saat pertama masak seksual denyut jantung akan semakin bertambah cepat Kenaikan kecepatan metabolisme akan menaikkan kecepatan detak jantung juga. Pemberian rangsang dalam beberapa variasi kondisi, semakin besar rangsangan yang diterima maka semakin tinggi kecepatan denyut jantung. Perubahan laju denyut jantung merupakan faktor utama dalam menyelesaikan output kebutuhan metabolisme dari hewan seperti halnya daphnia menurut Waterman (1980) ada beberapa faktor yang mempengaruhi denyut jantung yaitu: 1. 2. Aktifitas dan faktor yang berhubungan Jantung daphnia akan menjadi lambat setelah makan atau dalam keadaan terang.

3. 4.

Ukuran dan umur. Spesies yang besar cenderung mempunyai denyut jantung lebih lambat. Embrio daphnia mempunyai denyut jantung 1,3-1,5 dari denyut jantung daphnia dewasa.

5. 6. 7.

Cahaya, daphnia dalam lingkungan gelap mengalami penurunan denyut jantung, dan sebaliknya. temperatur, denyut jantung bertambah dengan kenaikan temperatur dalam jangka waktu lingkungan normal. zat kimia, penggunaan eter sering kali menyebabkan penurunan aktifitas jantung. Soetrisno (1987) menambahkan ada beberapa faktor yang

mempengaruhi fisiologi atau denyut jantung, diantaranya adalah : Faktor kimiawi yang meliputi ion adrenalin, karbondioksida serta pengaruh zat kimia lain dimana semakin tinggi konsentrasi semakin naik frekuensi denyut jantungnya. Temperatur dimana akan mempengaruhi denyut jantung, dimana denyut jantung akan naik seiring dengan naiknya temperatur tubuh Hewan kecil mempunyai denyut cepat daripada hewan besar Hewan muda frekuensinya akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan hewan tua. Hal tersebut karena ukuran tubuh hewan muda lebih kecil dan pengaruh hambatan berkurang. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Menghadapi fluktuasi suhu lingkungan hewan suhu poikilotermik tubuhnya melakukan konformitas dengan suhu suhu termokonformitas), terfluktuasi sesuai

lingkungannya (Soraya et al., 2012). Laju kehilangan panas pada hewan poikilotermik lebih tinggi dari pada laju produksi panas, sehingga suhu tubuhnya ditentukan oleh suhu lingkungan eksternalnya dari pada suhu metabolisme internalnya. Dilihat dari ketergantungan terhadap suhu lingkungan. Hewan poikilotermik disebut juga sebagai hewan ektoterm. Menghadapi suhu lingkunganya, hewan homeotermik melakukan regulasi suhu (termoregulasi), suhu tubuhnya konstan walaupun suhu lingkungannya berfluktuasi (sampai pada batas tertentu). Kehilangan panas lebih sedikit dibandingkan dengan laju

produksi panas internalnya, sehingga suhu tubuhnya lebih ditentukan oleh suhu internalnya. Perubahan suhu memiliki pengaruh besar terhadap berbagai tahap proses fisiologi. Misalnya, pengaruh suhu terhadap konsumsi oksigen. Dalam batas-batas toleransi hewan, kecepatan konsumsi oksigen akan meningkat dengan meningkatnya suhu lingkungan. Pada seekor hewan yang memiliki rentangan suhu toleransi luas, kecepatan konsumsi oksigennya akan meningkat dengan cepat begitu suhu lingkunganya naik (Waterman, 1980). Ikan dan amphibi memiliki toleransi yang lebih tinggi pada perubahan suhu lingkungan dibandingkan dengan daphnia (Minggawati, 2006).

IV. KESIMPULAN Berdasarkan pada hasil praktikum pengaruh lingkungan terhadap denyut jantung daphnia dapat disimpulkan : 1. Denyut jantung daphnia pada suhu normal (28 C) adalah 300 denyut jantung per menit, pada saat dingin (22o C) adalah 240 denyut jantung per menit, saat panas (54o C) adalah 244 denyut jantung per menit dan pada saat perlakuan alkohol 5% adalah 292 denyut jantung per menit. 2. Denyut jantung daphnia dipengaruhi oleh temperatur lingkungan dan zat kimia. Temperatur yang tinggi menyebabkan denyut jantung cepat, sedangkan temperatur rendah menyebabkan denyut jantung lambat. Sedangkan zat kimia akan menyebabkan denyut jantung akan semakin meningkat.

DAFTAR REFERENSI Barnes, R. D. 1966. Invertebrata Zoology. W. B. Saunders Company Philadelphia, London. Baumgartner G., Keshiyu N., Luiz C. G., Andrea B., Paulo V. S., Maristela C. M. 2008. Fish Larva From The Upper Parana River : Do Abiotic Factors Affect Larva Density. Volume 6(4): 551- 558. Neotropical Ichthyology. Djarijah, A.S. 1995. Pakan Alami Ikan. Kanisius, Yogyakarta.

Kamai, J., dan Allbrett, V. 2004. Kava Decreases the Heart Rate of Daphnia. Halau Lokahi Public Charter School, Hawaii, USA. Minggawati, I. Pengaruh Padat Penebaran Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila Gift (Oreochromis Sp) Yang Dipelihara Dalam Daskom Plastik. Fakultas Perikanan. Universitas Kristen Palangka Raya. Pennak, R.W. 1953. Fresh Water Invertebrata. The Ronal Company, New York. Radiopoetro. 1977. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta. Soetrisno. 1987. Fisiologi Hewan. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto. Soraya, Yara, Mindriany Syafilla dan Indah Rachmatiah S. Salami. 2012. Pengaruh Temperatur Terhadap Akumulasi dan Depurasi Tembaga (Cu) serta Kadmium (Cd) pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus), Institut Teknologi Bandung, Bandung. Waterman, H. T. 1980. The Physiology of Crustaceae. Academy Press, New York.