Anda di halaman 1dari 8

MANAJEMEN INVESTASI DAN PASAR MODAL DEWI NUR ZANIRAH 115020300111101

CORPORATE ACTION
Corporate Action atau dalam bahasa Indonesia disebut aksi korporasi, apakah benar adanya bahwa setiap corporate action akan selalu mempengaruhi perubahan harga saham? Sebenarnya corporate action sendiri memiliki pengertian langkah perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja atau menunjukkan performance baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Karena tujuannya meningkatkan kinerja atau performance, biasanya aksi korporasi selalu ditanggapi positif oleh pelaku pasar. Pada umumnya, semua jenis aksi perusahaan bersifat material sehingga setiap kali aksi korporasi digulirkan seringkali memberikan dampak terhadap perubahan harga saham di pasar. Karena setiap aksi korporasi berdampak material, maka Bapepam - LK mengatur dalam satu ketentuan khusus. Perlu diketahui bersama bahwa langkah emiten untuk melakukan keputusan corporate action harus disetujui dalam suatu rapat umum baik RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) ataupun RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa). Persetujuan pemegang saham adalah mutlak untuk berlakunya suatu corporate action sesuai dengan peraturan yang ada di pasar modal. Corporate action menimbulkan dampak yang positif terhadap perubahan harga saham. Artinya, harga saham emiten yang melakukan corporate action seringkali mengalami kenaikan. Dan karena itu pula, informasi tentang aksi korporasi selalu menjadi informasi yang ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar. Bahkan ada kecenderungan, pelaku pasar mencari-cari informasi aksi korporasi agar bisa mencuri start untuk membeli saham lebih dulu di pasar. Hal ini pula yang memunculkan istilah buy on rumors, sell on the news. Bagi sebagian besar pelaku pasar informasi tentang aksi korporasi merupakan informasi yang amat berharga. Siapa yang memperoleh informasi lebih dulu maka ia akan memperoleh peluang lebih besar untuk meraih capital gain. Jadi, corporate action adalah energi yang membuat investor lebih bersemangat berbelanja saham di bursa.

Instrumen-instrumen Corporate Action: 1. Repurchase atau Buy Back Merupakan aksi membeli kembali saham maupun obligasi yang sudah beredar oleh emiten dengan beragam alasan dan tujuan.

KKGI Siapkan Rp200 Miliar Untuk Buyback Saham


Thursday, October 25, 2012 16:42 WIB Ipotnews Perusahaan sektor pertambangan PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan. Perseroan menyiapkan dana sebesar Rp200 miliar untuk melakukan buyback tersebut. Demikian disampaikan Sekretaris Perusahaan Resource Alam Indonesia [KKGI 2,550 -50 (-1,9%)], Eric Tirtana, kepada wartawan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Kamis (25/10). "Buyback saham ini bertujuan untuk menaikkan harga saham dan juga menstabilkan harga saham perusahaan," tambahnya. Rencana itu disetujui mayoritas pemegang saham dalam RUPSLB. Eric menuturkan, bahwa pembelian kembali saham Perseroan akan dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 18 bulan sejak tanggal persetujuan RUPSLB. Aksi korporasi berupa pembelian kembali saham ini akan dilaksanakan mulai Senin pekan depan. "Aksi korporasi buyback saham ini akan diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas yang mengatur pembelian saham maksimal 10 persen dari seluruh saham milik Perseroan, atau sebanyak 100 juta lembar saham. Namun, bukan berarti buyback yang kami lakukan hanya 10%, bisa saja lebih," tutup Eric. Saat ini harga saham KKGI berada di level Rp2.925 per lembar saham atau melemah 0,85 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Pelemahan yang terus terjadi di saham KKGI membuat rasio harga saham per pendapatannya hanya sebesar 7,20 kali atau jauh lebih rendah dari PER industri sebesar 14,9 kali dan PER sektoral sebesar 15,14 kali. (Rheza) Sumber: http://www.ipotnews.com/index.php?jdl=KKGI_Siapkan_Rp200_Miliar_Untuk_Buyback_Saham&l evel2=newsandopinion&id=1670624&img=level2_markets_5 Analisis : Sebenarnya tuujuan dari repurchase atau buyback ini bukan semata-mata mengangkat kembali pamor saham yang sudah jatuh, tapi juga mengupayakan stabilitas harga di pasar dan meyakinkan masyarakat investor bahwa kondisi emiten masih cukup kuat. Program buy back juga merupakan bagian dari strategi investasi dalam rangka meningkatkan nilai perusahaan (company value).

2. Stock Split merupakan pemecahan nilai nominal saham menjadi pecahan lebih kecil, tujuannya agar dalam transaksi perdagangan lebih likuid dan jumlah saham yang beredar menjadi lebih banyak.

Stock Split, Saham Astra Bakal Jadi Buruan


Selasa, 28 Februari 2012, 11:39 VIVAnews - Usai memutuskan rencana pemecahan nilai nominal saham (stock split), investor ritel bakal memburu saham perusahaan otomotif, PT Astra International Tbk (ASII). Manajemen Astra International kemarin mengusulkan stock split saham ASII dengan rasio 1:10 pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) mendatang. Pada penutupan perdagangan kemarin, saham Astra ditutup menguat pada level Rp68.700 per unit. Sementara itu, hari ini, saham Astra juga melanjutkan penguatan hingga mampu menembus level tertinggi Rp69.950. "Kelihatannya respons dari masyarakat cukup bagus terkait masalah stock split ini. Terbukti, tadi pagi market kita sempat naik lumayan," kata Research Analyst PT Danpac Sekuritas, Teuku Hendry Andrean saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa, 28 Februari 2012. Hendry meyakini, tingginya minat investor ritel mengoleksi saham Astra karena kinerja perusahaan secara fundamental cukup kuat. Selain itu, Astra memiliki manajemen perusahaan yang sangat profesional. Namun, faktor utama pembelian saham Astra adalah harganya yang akan jauh lebih murah dari saat ini. "Jadinya, akan menambah minat investor terutama ritel," kata dia. Kendati nilai saham Astra bakal murah usai stock split, Hendry optimistis saham grup perusahaan yang memiliki anak usaha di bidang perkebunan, tambang, dan alat berat ini akan kembali melesat. Keyakinan itu berkaca dari kenaikan harga saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) yang menanjak usai stock split. Kasus serupa juga pernah dialami saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) ketika tengah berada di puncak kejayaannya. (art) Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/291862-stock-split--saham-astra-bakal-jadi-buruan Analisis: Nilai saham yang menjadi semakin murah per lembarnya setelah stock split akan menarik minat investor ritel dan membuat persebaran saham Astra di masyarakat menjadi semakin luas. Atau dalam kata lain, perdagangan saham perusahaan menjadi semakin likuid. Transaksi setelah stock split biasanya menimbulkan kenaikan harga saham pula.

3. Reverse Stock Split Merupakan lawan dari stock split dimana nilai nominal saham digabungkan menjadi lebih besar sehingga jumlah saham yang beredar menjadi lebih sedikit.

EMITEN JATIM: Sekar Bumi Tempuh Reverse Stock Split


27 June 2012 | 7:42 pm SURABAYA: Rapat Umum Pemegang Saham PT Sekar Bumi Tbk menyetujui manajemen perseroan segera melakukan reverse stock splitguna memenuhi ketentuan otoritas bursa terkait harga saham yang kurang dari Rp100 per lembar. Dirut Sekar Bumi (SKBM) Harry Lukmito mengatakan selama beberapa pekan terakhir ini harga saham SKBM hanya bertahan dikisaran Rp70 per lembar. Untuk bisa tetap tercatat di Bursa Efek Indonesia sebagai perusahaan Tbk, harga saham tersebut harus bisa naik minimal menjadi Rp100 per lembar. Itulah kami sepakat merencanakan untuk mengubah nilai saham atau reverse stock split, ujarnya di Surabaya, Rabu, 27 Juni 2012. Sebagaimana diketahui saham emiten berbasis di Sidoarjo Jatim ini sempat mengalami suspen, mengingat jumlah kepemilikan saham publiknya yang masih belum memenuhi persyaratan Bursa Efek Indonesia. Sekadar catatan dulunya perseroan tersebut melakukan listing di Bursa Efek Surabaya (BES). Setelah penggabungan BES dan Bursa Efek Jakarta menjadi BEI emiten yang tercatat di BES harus memenuhi peraturan dari otoritas bursa tersebut untuk dapat bertahan sebagai perusahaan publik. Leo Herlambang analis dan direktur PT Jatim Investment mengatakan selain Sekar Bumi, banyak perusahaan yang dulunya tidak memenuhi syarat untuk listing di Bursa Efek Jakarta, bisa listing di BES. Pasalnya pesyaratan di BES waktu itu lebih longgar termasuk masalah jumlah kepemilikan saham publiknya. Namun, setelah BES bergabung dengan Bursa Efek Jakarta menjadi BEI, semua emiten harus dapat memenuhi peraturan yang berlaku di otoritas bursa tersebut. Menurut Harry, sekarang Sekar Bumi sudah mendapat persetujuan BEI untuk melakukan reverse stock split yang prosesnya diperkirakan selesai pada September mendatang. Reverse stock split ini akan mengurangi jumlah saham dari 1,2 miliar lembar saham menjadi 880 juta lembar saham. Reverse stock split adalah tindakan emiten menggabungkan nilai nominal saham dengan rasio tertentu. Tindakan ini merupakan kebalikan dari stock split atau pemecahan nominal saham. Namun Harry tidak membeberkan lebih jauh tentang proyeksi harga saham yang akan terbentuk pasca penggabungan nilai saham tersebut. Dia berharap aksi korporasi itu akan semakin memperkuat kinerja perseroan. Tahun lalu emiten yang bergerak di bidang hasil laut dan pakan ternak ini membukukan penjualan sebesar Rp650 miliar atau naik 22,6% dibandingkan periode sebelumnya senilai Rp530 miliar. Produk hasil laut mendominasi penjualan perusahaan yakni sebesar Rp 607 miliar atau tumbuh 20,6%. Sisanya dari pakan ternak Rp24,8 miliar. Sumber: http://www.bisnis-jatim.com/index.php/2012/06/27/emiten-jatim-sekar-bumi-tempuh-reverse-stock-split/

Analisis: Sangat jarang perusahaan mengambil aksi korporasi berupa reverse stock split. Namun perusahaan Sekar Bumi memilih mengambil langkah penyelamatan sedemikian rupa agar harga sahamnya pulih dan berada pada tingkat yang optimal sesuai trading range atau kisaran harga yang dapat mempengaruhi preferensi investor sehingga mereka tertarik untuk membeli. Tak hanya itu, setelah reverse stock split berhasil mengurangi jumlah saham yang beredar, maka perusahaan juga menghemat keluarnya biaya transaksi karena transaksi yang terjadi juga akan semakin berkurang.

4. Right Issue Merupakan penerbitan saham baru untuk meraih dana segar tambahan dari pemegang saham lama. Penerbitan ini ada yang berbentuk Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Tujuannya adalah untuk meraih dana tambahan yang akan digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain ekspansi usaha, akuisisi perusahaan lainnya, membayar hutan, dsb.

Rencanakan Ekspansi, Solusi Tunas Pratama Segera Rights Issue


Tuesday, July 10, 2012, 4:15 Financeroll PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) akan melakukan rights issue atau penawaran umum terbatas I sebanyak 135 juta saham biasa dengan nilai nominal Rp100 dengan harga pelaksanaan Rp 4.800 setiap saham. Jumlah penawaran umum terbatas tersebut sebesar Rp 648 miliar. Dalam pelaksanaan rights issue tersebut disertai dengan waran seri I sebanyak 59,4 juta waran atau sekitar 9,90% terhadap jumlah ditempatkan dan disetor penuh perseroan yang diterbitkan menyertai 40 saham baru yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi pemegang saham perseroan. Sesuai rencana, dana hasil rights issue tersebut sekitar 50% digunakan untuk pengembangan dan perluasan usaha perseroan melalui pengadaan dan pembangunan aset untuk kurun waktu 2012-2014, sekitar 35% akan digunakan untuk akuisisi baik akuisisi yang akan datang dan untuk pelunasan akuisisi yang sudah dilakukan perseroan, dan sekitar 15% untuk membiayai kegiatan operasional perseroan. Selain itu, pelaksanaan rights issue tersebut efektif bila mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 8 Agustus 2012. Jadwal pelaksanaan penawaran umum terbatas tersebut antara lain tanggal terakhir perdagangan saham (cum) dengan HMETD di pasar negoisasi pada 15 Agustus 2012 dan pasar tunai pada 24 Agustus 2012. Sementara negoisasi pada 16 Agustus 2012 dan pasar tunai dilaksanakan pada 27 Agustus 2012. Terakhir pencatatan dalam daftar pemegang saham yang berhak HMETD pada 24 Agustus 2012, distribusi HMETD pada 27 Agustus 2012, dan pencatatan HMETD. Untuk saham dan waran seri I di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 Agustus 2012. [geng] Sumber: http://financeroll.co.id/news/43820/rencanakan-ekspansi-solusi-tunas-pratama-segera-rights-issue

Analisis: Right issue dapat menyebabkan jumlah saham perusahaan bertambah. Sehingga diharapkan dengan langkah tersebut akan dapat meningkatkan frekuensi perdagangan dan likuiditas saham perusahaan. Right issue kali ini memuat informasi akan digunakan untuk ekspansi bisnis yang artinya menjanjikan bahwa kinerja perusahaan akan lebih baik di masa depan. Informasi yang dihasilkan memberikan sinyal positif pada investor yang selanjutnya akan meningkatkan harga saham perusahaan.

5. Secondary Public Offering Merupakan penjualan saham (divestasi) lanjutan milik pemegang saham mayoritas atau pendiri perusahaan kepada publik sebagaimana IPO (Initial Public Offering). Dana dari hasil penjualan saham akan masuk ke kas pemegang saham yang melepas sahamnya, bukan ke kas perusahaan.

BNI Siap Lepas 3,475 Miliar Lembar Saham ke Pasar


Rabu, 25 Juli 2007 15:44

Sebanyak 3,475 miliar lembar saham BNI 46 senilai sekitar Rp8 triliun segera dilepas ke pasar modal pada awal hingga pertengahan Agustus mendatang. Nilai ini fantastis karena diyakini tertinggi dari yang pernah tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Direktur Operasi BNI 46 Suroto Moehadji mengatakan pemerintah selaku pemegang saham mayoritas bank ini akan melepas 30% kepemelikan sahamnya. Komposisi saham yang akan dilepas ke masyarakat yakni 15% merupakan saham baru (right issue) dan 15% lagi untuk saham yang sudah ada. Saham yang akan dilepas ke pasar modal itu dijual seharga Rp2.050Rp2.700 per lembar. Pemerintah telah mencanangkan dan menetapkan dasar agar BNI segera melepaskan sahamnya ke publik, kata Suroto pada malam Customer Gathering dengan tema BNI GO Public Lagi di Hotel Mutiara Merdeka, Pekanbaru, Selasa, (24/7). BNI 46 merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang pertama kali go public pada 25 November 1996 lalu. Namun badai krisis moneter yang melanda Asia termasuk Indonesia pada 1997 dan sesudahnya membuat saham BNI terus merosot dari 25% menjadi 0,8% saja. Sejak saat itu praktis kepemilikan saham BNI diambil alih pemerintah hingga 99,9%. Pemerintah sendiri sejak 2004 telah metranformasikan program rekapitulasi dan restrukturisasi yang sebelumnya dicanangkan pada 2002. Dan kali ini merupakan saat yang tepat bagi BNI untuk go public lagi, kata Suroto. Dalam program BNI Go Public Lagi, mesin uang pemerintah ini juga mengalokasi sekitar 3,5% dari total 30% saham yang dilepas untuk nasabahnya. BNI sendiri sudah melakukan roadshow ke sejumlah daerah Indonesia dalam rangka mengumpulkan para nasabahnya yang ingin berpartisipasi menyertakan modalnya di BNI. Penawaran khusus bagi para nasabah BNI akan berlangsung dari 16-27 Juli. Sedang penawaran umumnya akan berlangsung dari 6-16 Agustus mendatang, kata Suroto. Ia yakin alokasi 3,5% saham tadi akan terserap oleh para nasabah setia BNI. Dari roadshow yang diselenggarakan di sejumlah tercatat ada sekitar 74 ribu lot saham BNI dipesan nasabah di Jakarta, sekitar 69 ribu di Bandung. Sekitar 50 ribu lot saham BNI juga dipesan nasabah di Surabaya, Pelembang dan Medan. Sedangkan pada malam BNI gathering di Pekanbaru, tercatat sekitar 23 ribu lot saham BNI dipesan nasabah. Sementara analis pasar modal Ryan Kiryanto mengatakan saat ini merupakan momen yang tepat bagi BNI untuk go public lagi. Indikasi memperkuat momen tersebut yakni rendahnya nilai inflasi serta kurs rupiah terus menguat. Selain itu Bank Indonesia (BI) rate juga cenderung turun pada level 8,25%. Ia optimis angka BI rate ini akan terus menguat hingga 8% pada akhir tahun. Selain itu, harga saham perbankan saat ini sangat prospek. Ini terlihat dari menguatnya indeks harga saham gabungan mencapai 2410 yang didorong oleh lembaga perbankan seperti BRI, Danamanon dan Mandiri. Dengan masuknya kembali BNI ke pasar modal, saya optimis, indeks harga saham gabungan akan menguat hingga ke level 2500, jelasnya. Ia menambahkan performa BNI 46 begitu positif setelah pemerintah melakukan restrukturisasi dan rekapitalisasi bank ini. Pemerintah, kata Ryan juga telah meletakakkan dasar-dasar yang kuat dalam portofolio penyaluran kredit bank ini. Skemanya, lanjut Ryan, 40% dari total keseluruhan pembiayan kredit bank ini ditujukan untuk pembangunan infrastuktur seperti jalan tol dan power plant. Sisanya disalurkan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Syariah, dan Consumer atau nasabah. Distribusi kredit yang merata ini akan memperkuat BNI, jelasnya.***(mad)
Sumber: http://www.riauterkini.com/politik.php?arr=15243

Analisis: Pemrakarsa penawaran kedua ini biasanya adalah pemegang saham yang memiliki saham yang besar. Dalam kasus BNI, Pemerintah Indonesia ingin melepas sebagian sahamnya di BNI yang kini masih mencapai 99,11% hingga nantinya tinggal tersisa 73,26%. Karena yang melepas saham adalah pemegang saham, maka dana akan mengalir ke kantong pemegang saham. Ini berbeda dengan penerbitan saham baru atau rights issue yang akan menghasilkan uang untuk perusahaan. Keuntungannya adalah penawaran kedua ini tidak menimbulkan efek dilusi. Artinya, porsi kepemilikan pemegang saham lainnya tidak akan berkurang. Sebab, jumlah saham yang beredar tetap sama. Keuntungan langsung bagi investor memang tidak ada. Tapi, setelah secondary offering, saham perusahaan akan menjadi lebih likuid. Ini artinya saham akan lebih mudah diperdagangkan dan akan lebih sering terjadi transaksi di pasar. Sebab, jumlah saham yang dimiliki oleh publik menjadi lebih banyak.

6. Go Private Merupakan kebalikan dari go public yang artinya perusahaan akan membeli kembali sahamsahamnya dari publik melalui tender offer yang akan diumumkan di media massa. Kemudian perusahaan akan mengajukan permohonan penghapusan pencatatan saham dalam bursa efek atau biasa disebut voluntary delisting.

Ingin Go Private, Dell Siapkan Dana Buyout US$24,4 M


6 Februari 2013 - 08:50 Dell Inc, salah satu produsen PC terbesar dunia, berencana melakukan go private. Untuk mewujudkan niat tersebut, Dell menyiapkan dana pembelian saham sebesar US$24,4 miliar (Rp236 triliun). Produsen PC yang berbasis di Texas, Amerika Serikat, tersebut menawarkan harga pembelian saham sebesar US$13,65 per saham kepada para investor. Angka tersebut lebih tinggi 25% dibanding harga saham Dell sebelum isu go private muncul pada bulan Januari lalu. Dana pembelian saham Dell akan berasal kas internal perusahaan senilai US$ 1 miliar, pinjaman dari Microsoft sebesar US$2 miliar, serta pinjaman dari Bank of America Merril Lynch, Credit Suisse, Barclays, dan RBC Capital Markets sebesar US$11 miliar atau US$12 miliar. Dengan kembali menjadi perusahaan tertutup, Dell ingin mencoba meningkatkan performa perusahaan tanpa harus diawasi oleh bursa. Dell yang telah menjadi anggota Nasdaq Stock Exchange selama 25 tahun memang tengah mengalami kemerosotan penjualan PC akibat booming-nya perangkat mobile seperti tablet PC dan smartphone. Sumber: http://pasardana.com/ingin-go-private-dell-siapkan-dana-buyout-us244-m/

Analisis: Dell selama ini telah menjadi raja dalam produksi PC. Namun dengan semakin berkembangnya kebutuhan teknologi yang diimbangi mobilisasi yang mudah, PC kini bukan lagi menjadi pilihan. Hal ini menyebabkan Dell memutar otak dan mati-matian mempertahankan pasarnya namun pada akhirnya tidak sanggup. Akhirnya yang dipilih Dell adalah go private atau menjadi perusahaan tertutup. Dell beranggapan bahwa dengan tanpa diawasi oleh bursa, Dell dapat lebih berkembang. Tindakan yang sangat riskan, mengingat melakukan go private artinya membuat pelanggan semakin sulit untuk mencari tahu hasil produksi perusahaan. Dan tak hanya itu, Dell juga akan kesulitan jika nantinya ingin melakukan ekspansi yang membutuhkan dana ekstra.