Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

TINEA KAPITIS

Alham Wahyudin, S.Ked. 70 2008 055

Pembimbing Dr. Riliani Hastuti, Sp.PK

DEPARTEMEN KULIT KELAMIN RUMAH SAKIT KUSTA DR. RIVAI ABDULLAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2012

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

OKTOBER 2012 HALAMAN PENGESAHAN

Telaah Ilmiah berjudul TINEA KAPITIS Oleh: Alham Wahyudin, S.Ked

telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Kulit dan kelamin Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Palembang

Palembang, Oktober 2012 Dosen Pembimbing

Dr. Riliani Hastuti, Sp.KK

ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Semesta Alam, Allah SWT, atas nikmat dan karunia-Nya. Sholawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Penulis mengucapkan terima kasih atas bimbingan selama pengerjaan referat, yang berjudul Tinea Kapitis, ini kepada dr. Riliani Hastuti, Sp.KK dan terakhir, bagi semua pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, rela maupun tidak rela, yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, penulis haturkan terima kasih atas bantuannya hingga referat ini dapat terselesaikan. Semoga bantuan yang telah diberikan mendapatkan imbalan setimpal dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa didalam referat ini masih banyak kekurangan baik itu dalam penulisan maupun isi referat. Karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya referat ini. Penulis berharap referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang,

Oktober 2012

Penulis

iii

DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... KATA PENGANTAR . DAFTAR ISI ..................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ii iii iv v

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 1 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi. 3 2.2. Epidemiologi........................................................................................ 3 2.3. Etiologi dan Patogenesis .. 4 2.4. Manifestasi Klinis. 6 2.5. Pemeriksaan Penunjang 7 2.6. Diagnosis dan Diagnosis Banding .... 8 2.7. Tatalaksana .. 10 2.9. Prognosis .... 10 BAB III. KESIMPULAN Kesimpulan 11 DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Infeksi jamur dapat superfisial, subkutan dan sistemik, tergantung pada karakteristik dari host. Dermatofita merupakan kelompok jamur yang terkait secara taksonomi. Kemampuan mereka untuk membentuk lampiran molekul kertatin dan menggunakannya sebagai sumber nutrisi memungkinkan mereka untuk berkoloni pada jaringan keratin, masuk ke dalam stratum korneum dan epidermis, rambut, kuku dan jaringan pada hewan. Infeksi superfisial yang disebabkan oleh dermatofit yang disebut dermatofitosis dimana dermatimicosis mengacu pada infeksi jamur 1. Banyak cara untuk mengklasifikasikan jamur superfisial, tergantung habitat dan pola infeksi. Organisme geofilik berasal dari tanah dan hanya sesekali menyerang manusia,biasanya melalui kontak langsung dengan tanah. Tinea kapitis adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh jamur dermatofit. Tinea Kapitis (Ringworm of the scalp and hair, tinea tonsurans, herpes tonsurans.
1,2

adalah infeksi dermatofit pada kepala, alis mata dan bulu mata

karena spesies Microsporum dan Trichophyton.1 Penyakitnya bervariasi dari kolonisasi subklinis non inflamasi berskuama ringan sampai penyakit yang beradang ditandai dengan produksi lesi kemerahan berskuama dan alopesia (kebotakan) yang mungkin menjadi beradang berat dengan pembentukan erupsi kerion ulseratif dalam. Ini sering menyebabkan pembentukan keloid dan skar dengan alopesia permanen. Tipe timbulnya penyakit tergantung pada interaksi pejamu dan jamur penyebab.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Definisi Tinea kapitis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh jamur dermatofit (biasanya berasal dari spesies microsporum dan trichophyton) yang terjadi pada folikel rambut kulit kepala dan kulit sekitarnya 2.2. Epidemiologi Insidens tinea kapitis masih belum diketahui pasti, tersering dijumpai pada anak-anak 3-14 tahun3 jarang pada dewasa, 3,4 kasus pada dewasa karena infeksi T. tonsurans dapat dijumpai misalkan pada pasien AIDS dewasa4. Transmisi meningkat dengan berkurangnya higiene sanitasi individu, padatnya penduduk, dan status ekonomi rendah. 3 Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis di Medan 0,4% (1996 -1998), RSCM Jakarta 0,61 - 0,87% (1989 - 1992), Manado 2,2 - 6% (1990 -1991) dan Semarang 0,2%.5 Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001 - 2006 insidennya dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Pasien tinea kapitis terbanyak pada masa anak-anak < 14 tahun 93,33%, anak laki-laki lebih banyak (54,5%) dibanding anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan. Spesies penyebab Microsporum gypseum (geofilik), Microsporum ferrugineum (antropofilik) dan Trichophyton mentagrophytes (zoofilik yang dijumpai pada hewan kucing, anjing, sapi, kambing, babi, kuda, binatang pengerat dan kera 3).

2.3. Etiologi Spesies dermatofit umumnya dapat sebagai penyebab, kecuali E. floccosum, T. concentricum dan T. mentagrophytes var. interdigitale (T. interdigitale) yang semuanya jamur antropofilik tidak menyebabkan tinea kapitis2 dan T. rubrum jarang. penduduk migrasi.
2 4

Tiap negara dan daerah berbeda-beda untuk spesies

penyebab tinea kapitis2 , juga perubahan waktu dapat ada spesies baru karena Spesies antropofilik (yang hidup di manusia) sebagai penyebab yang predominan. 2.4. Patogenesis Dermatofit ektotrik (diluar rambut) infeksinya khas di stratum korneum perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan dibatang rambut bawak kutikula1 dari pertengahan sampai akhir anagen saja3 sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-hifa pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari sini hifa-hifa berpolifrasi dan membagi menjadi artrokonidia yang mencapai kortek rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh sekali. Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang tampak pada rambut yang patah, walaupun hifa intrapilari ada juga.3 Patogenesis infeksi endotrik (didalam rambut) sama kecuali kutikula tidak terkena1 dan artrokonidia hanya tinggal dalam batang rambut menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding folikuler hilang meninggalkan titik hitam kecil (black dot).3 Infeksi endotrik juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen. 3

3.5. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis tergantung etiologinya. 3 : 1. Bentuk Non- inflamasi, manusia atau epidemik3. Umumnya karena jamur ektotriks antropofilik, M. audouinii di Amerika dan Eropa namun sekarang jarang atau M. ferrugineum di Asia.
1,3

Lesi mula-mula

berupa papula kecil yang eritematus, mengelilingi satu batang rambut yang meluas sentrifugal mengelilingi rambut-rambut sekitarnya. Biasanya ada skuama, tetapi keradangan minimal. Rambut-rambut pada daerah yang terkena berubah menjadi abu-abu dan kusam sekunder dibungkus artrokonidia dan patah beberapa milimeter diatas kepala
1,3

. Seringkali lesinya tampak satu atau beberapa daerah

yang berbatas jelas pada daerah oksiput atau leher belakang. Kesembuhan spontan biasanya terjadi pada infeksi Microsporum.1 Ini berhubungan dengan mulainya masa puber yang terjadi perubahan komposisi sebum dengan meningkatnya asam lemak-lemak yang fungistatik, bahkan asam lemak yang berantai medium mempunyai efek fungistatik yang terbesar1. Juga bahan wetting (pembasah) pada shampo merugikan jamur seperti M. audouinii. 1 2. Bentuk inflamasi3 Biasanya terlihat pada jamur ektotrik zoofilik (M. canis) atau geofilik (M. gypseum). Keradangannya mulai dari folikulitis pustula sampai kerion yaitu pembengkakan yang dipenuhi dengan rambut-rambut yang patah-patah dan lubang-lubang folikular yang mengandung pus3. Inflamasi seperti ini sering menimbulkan alopesia yang sikatrik. Lesi keradangan biasanya gatal dan dapat nyeri, limfadenopati servikal, panas badan dan lesi tambahan pada kulit halus.3

3. Tinea Kapitis black dot3 Bentuk ini disebabkan karena jamur endotrik antropofilik, yaitu T. onsurans atau T. violaceum. Rontok rambut dapat ada atau tidak. Bila ada kerontokan rambut maka rambut-rambut patah pada permukaan kepala hingga membentuk gambaran kelompok black dot. Biasanya disertai skuama yang difus; tetapi keradangannya bervariasi dari minimal sampai folikulitis pustula atau lesi seperti furunkel sampai kerion. Daerah yang terkena biasanya banyak atau poligonal dengan batas yang tidak bagus, tepi seperti jari-jari yang membuka. Rambut-rambut normal biasanya masih ada dalam alopesianya.3 3.6. Diagnosis Banding 1. Diagnosis banding tinea kapitis berskuama dan keradangan minimal3 : a. Dermatitis seboroik3,6 Keradangan yang biasanya terjadi pada sebelum usia 1 tahun atau sesudah pubertas yang berhubungan dengan rangsangan kelenjar sebasia 6. Tampak eritema dengan skuama diatasnya sering berminyak, rambut yang terkena biasanya difus, tidak setempat1. Rambut tidak patah. Distribusi umumnya di kepala, leher dan daerah-daerah pelipatan. Alopesia sementara dapat terjadi dengan penipisan rambut daerah kepala, alis mata, bulu mata atau belakang telinga. Sering tampak pada pasien penyakit syaraf atau immunodefisiensi.6 b. Dermatitis atopik3,6 Dermatitis atopik yang berat dan luas mungkin mengenai kepala dengan skuama kering putih dan halus. Khas tidak berhubungan dengan kerontokan rambut, bila ada biasanya karena trauma sekunder karena garukan kepala yang gatal. 6 Disertai lesi dermatitis atopik di daerah lain.

c.

Psoriasis3,6 Psoriasis kepala khas seperti lesi psoriasis dikulit, plak eritematos berbatas jelas dan berskuama lebih jelas dan keperakan diatasnya,
6

dan

rambutrambut tidak patah1. Kepadatan rambut berkurang di plak psoriasis juga meningkatnya menyeluruh dalam kerapuhan rambut dan kecepatan rontoknya rambut telogen. 10% psoriasis terjadi pada anak kurang 10 tahun dan 50% mengenai kepala6 , dan sering lesi psoriasis anak terjadi pada kepala saja, maka kelainan kuku dapat membantu diagnosis psoriasis6. d. Pitiriasis amiantasea1,6 (Pitiriasis asbestos) Adalah tumpukan skuama dalam masa yang kusut1. Dermatitis kepala lokalisata yang non infeksius yang tidak diketahui sebabnya 6. Skuama yang putih tebal melekat sering dijumpai mengikat batang rambut proksimal. Kepala dapat tampak beradang. Rontok rambut sementara dapat terjadi dengan pelepasan manual skuama yang melekat. Kelainan kulit dilain tempat yang menyertai biasanya tidak ada, namun dapat mempunyai penyakit yang menyertai, yaitu Dermatitis atopik atau keradangan kulit lainnya6. Ada yang menganggap sebagai psoriasis dini7. 2. Diagnosis banding tinea kapitis yang alopesia jelas3 : a. Alopesia areata1,3,6 Alopesia areata mempunyai tepi yang eritematus pada stadium permulaan, tetapi dapat berubah kembali ke kulit normal1,6. Juga jarang ada skuama dan rambut-rambut pada tepinya tidak patah tetapi mudah dicabut.1,6 b. Trikotilomania3,6 Khas adanya alopesia yang tidak sikatrik berbatas tidak jelas karena pencabutan rambut oleh pasien sendiri. Umumnya panjang rambut berukuran macam-macam pada daerah yang terkena. Tersering di kepala

atas, daerah oksipital dan parietal yang kontra lateral dengan tangan dominannya. Kadang-kadang ada gambaran lain dari kelainan bsesifkompulsif misalnya menggigit-gigit kuku, menghisap ibu jari atau ada depresi atau kecemasan.6 Dapat disertai efek efluvium telogen yaitu berupa tumbuhnya kembali rambut yang terlambat atau rontoknya rambut meningkat sebelum tumbuh kembali. 6 c. Pseudopelade3,8 Dari kata Pelade yang artinya alopesia areata. Pseudopelade adalah alopesia sikatrik progresif yang pelan-pelan, umumnya sebagai sindroma klinis sebagai hasil akhir dari satu dari banyak proses patologis yang berbeda (yang diketahui maupun yang tidak diketahui), walaupun klinis spesifik jenis tidak beradang selalu dijumpai misalkan karena likhen planus, lupus eritematus stadium lanjut. 8 3. Diagnosis banding tinea kapitis yang inflamasi3 : a. Pioderma bakteri Infeksi kulit karena bakteri Staphylococcus aerius atau Streptococcus pyogenes, misalkan folikulitis, furunkel atau karbunkel. 3 b. Folliculitis decalvans3,8 Adalah sindroma yang klinis berupa folikulitis kronis sampai sikatrik progresif8. Folikulitis atrofik pada dermatitis seboroik. 8 4. Diagnosis banding alopesia sikatrik3 : a. Diskoid Lupus eritematosus6,9 Diskoid LE di kepala tampak alopesia dan biasanya permanent khas ada foliculler plugging. Tampak pada 1/3 pasien DLE. 9 b. Liken planopilaris Lesi folikular disertai skuama yang kemudian menjadi alopesia sikatrik. 10

3.7. Diagnosis 1. Gejala Klinis Dipertimbangkan diagnosis tinea kapitis bila7 : Pada anak-anak dengan kepala berskuama, alopesia, limfadenopati servikal posterior atau limfadenopati aurikuler posterior atau kerion. Juga termasuk pustul atau abses, dissecting cellulitis atau black dot. 7 2. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan Lampu Wood 1 Rambut yang tampak dengan jamur M. canis, M. audouinii dan M. ferrugineum memberikan fluoresen warna hijau terang oleh karena adanya bahan pteridin.
1

Jamur lain penyebab tinea kapitis pada manusia

memberikan fluoresen negatif artinya warna tetap ungu1 yaitu M. gypsium dan spesies Trichophyton (kecuali T. schoenleinii penyebab tinea favosa memberi fluoresen hijau gelap). Bahan fluoresen diproduksi oleh jamur yang tumbuh aktif di rambut yang terinfeksi. 1 b. Pemeriksaan sediaan KOH Kepala dikerok dengan objek glas, atau skalpel no.15. Juga kasa basah digunakan untuk mengusap kepala, akan ada potongan pendek patahan rambut atau pangkal rambut dicabut yang ditaruh di objek glas selain skuama7,11, KOH 20% ditambahkan dan ditutup kaca penutup 6. Hanya potongan rambut pada kepala6 harus termasuk akar rambut, folikel rambut dan skuama kulit12. Skuama kulit akan terisi hifa dan artrokonidia11. Yang menunjukkan elemen jamur adalah artrokonidia oleh karena rambut-rambut yang lebih panjang mungkin tidak terinfeksi jamur 7. Pada pemeriksaaan mikroskop akan tampak infeksi rambut ektotrik yaitu pecahan miselium menjadi konidia sekitar batang rambut atau tepat

dibawah kutikula rambut dengan kerusakan kutikula. Pada infeksi endotrik, bentukan artrokonidia yang terbentuk karena pecahan miselium didalam batang rambut tanpa kerusakan kutikula rambut1. c. Kultur Memakai swab kapas steril yang dibasahi akua steril dan digosokkan diatas kepala yang berskuama7 atau dengan sikat gigi steril dipakai untuk menggosok rambut-rambut dan skuama dari daerah luar di kepala, atau pangkal rambut yang dicabut langsung ke media kultur 11. Spesimen yang didapat dioleskan di media Mycosel atau Mycobiotic (Sabourraud dextrose agar + khloramfenikol + sikloheksimid) atau Dermatophyte test medium (DTM). Perlu 7 - 10 hari untuk mulai tumbuh jamurnya7. Dengan DTM ada perubahan warna merah pada hari 2-3 oleh karena ada bahan fenol di medianya, walau belum tumbuh jamurnya berarti jamur dematofit positif. 3.8. Komplikasi 1. Infeksi sekunder 2. Alopesia sikatrik permanen 3. Kambuh 4. Reaksi Id. Pada tinea kapitis biasanya reaksi Id-nya lebih mengenai badan. 1 3.9 Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan Umum 13,14 a. Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk mencegah infeksi pada anak-anak lain. b. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila perlu dikultur c. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau topi, handuk, sarung bantal dan lain yang dipakai dikepala.

d.

Anak-anak kontak disekolah atau penitipan anak diperiksakan ke dokter/ rumah sakit bila anak-anak terdapat kerontokan rambut yang disertai skuama. Dapat diperiksa dengan lampu Wood.

e.

Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan, sering perlu 3-6 bulan. Bila ada kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan alopesia permanen.

f.

Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk, boneka dan pakaian pasien, dan sarung bantal pasien dengan air panas dan sabun14 atau lebik baik dibuang12.

g. h.

Begitu pengobatan dimulai dengan obat anti jamur oral dan shampo, pasien dapat pergi ke sekolah13. Tidak perlu pasien mencukur gundul rambutnya atau memakai penutup kepala13.

2. Terapi Medis a. Terapi Utama Pengobatan yang ideal dan cocok untuk anak-anak adalah sediaan bentuk likuid, terasa enak, terapi singkat, keamanan yang baik dan sedikit interaksi antar obat14. Tablet Griseofulvin Sebagai Gold Standard1,3, 4 Dosis : 14, 15, 16 a. Tablet microsize (125, 250, 500mg) 20 mg / Kg BB/hari, 1-2 kali/hari selama 6-12 minggu b. Tablet ultramicrosize (330mg) 15 mg/Kg BB/hari, 1-2 kali/hari selama 6-12 minggu Diminum bersama susu atau es krim oleh karena absorbsinya dipercepat dengan makanan berlemak13. Semua baik untuk karena Microsporum maupun

10

Trichophyton. Pemberian pertama untuk 2 minggu kemudian dilakukan pemeriksaan lampu Wood, KOH dan kultur. Bila masih ada yang positif maka 7 sebaiknya dosis dinaikkan. Bila hasil negatif maka obat diteruskan sampai 6 minggu13. Bila hasil kultur negatif terbaik diteruskan 4-6 minggu13. Pemeriksaan laboratorioum rutin tidak diperlukan17. Kegagalan pengobatan tinea kapitis dengan griseofuvin dapat disebabkan karena14,16 : - dosis tidak adekwat (sebab tersering) maka sebaiknya dosis dinaikkan dapat sampai 25 mg/Kg BB/ hari terutama untuk kasus sulit sembuh.3 - pasien tidak patuh - gangguan absorbsi pencernaan - Interaksi obat, bersamaan phenobarbital mengurangi absorbsi griseofuvin menyebabkan kegagalan terapi14. - jenis dermatofit yang resisten terhadap griseofuvin - Terjadi reinfeksi terutama dari anggota keluarga atau teman bermain. Kapsul Itrakonazol (100 mg) a. Dosis 3-5 mg/Kg BB/hari selama 4-6 minggu3, 14, 15 b.Terapi denyut4 dosis 5 mg/Kg BB/ hari selama 1 minggu, istirahat 2 minggu/siklus bila belum sembuh diulang dapat sampai 2-3 siklus. Bersifat fungisidal sekunder oleh karena terjadi fungitoksik 15 Minumnya kapsul bersama mentega kacang, atau saus apel dan dilanjutkan dengan jus buah 14. Sama efektifnya untuk karena Microsporum canis maupun Trichophyton14. Tidak boleh diminum bersama antasida atau H2 blocker oleh karena absorbsinya perlu suasana asam.7,14 Bila diberikan bersama phenytoin dan H2 antagonis akan meningkatkan kadar kedua obat tersebut. Sedang kadar Itrakonazol akan lebih rendah bila diberikan bersamaan rifampisin, isoniasid, phenytoin dan karbamazepin. 7,14 Monitor laboratorium fungsi hepar dan darah lengkap bila pemakaian lebih 4 minggu.14

11

Tablet Terbinafin (tablet 250 mg) 3,7,14 - bersifat fungisidal primer terhadap dermatofit - dosis 3-6mg/KgBB/ hari selama 4 minggu : < 20 mg : 62,5 mg (1/4 tablet)/ hari 20-40 mg : 125 mg (1/2 tablet)/ hari > 40 mg : 250 mg/ hari Bila karena M. canis perlu 6-8 minggu, lebih sukar untuk dibasmi daripada karena Trichophyton oleh karena virulensinya atau karena infeksi ektotriknya masih belum diketahui.7,14 Diberikan untuk anak umur > 2 tahun4. Monitor laboratorium fungsi liver dan darah lengkap diperiksa bila pemakaian lebih 6 minggu3. Tablet Flukonazol3,4,14,17 Sebetulnya juga bisa digunakan untuk terapi tinea kapitis namun tidak lebih superior daripada obat lainnya. Lebih diindikasikan untuk infeksi mukosa dan infeksi sistemik pada kasus Kandidiasis, dan
8

Kriptokokosis, terutama pada

pasien imunokompromais. Flukonazol lebih cepat resisten dibanding obat jamur lain, sedangkan untuk tinea kapitis, flukonazol tidak lebih superior, sehingga sebaiknya flukonazol digunakan untuk kasus selektif. Dosisya 8 mg/Kg BB/minggu selama 8-16 minggu3,17. Efektif untuk Microsporum maupun Trichophyton17. b. Terapi Ajuvan Shampo7,14 Shampo obat berguna untuk mempercepat penyembuhan, mencegah kekambuhan dan mencegah penularan14,15,16, serta membuang skuama dan membasmi spora viabel17, diberikan sampai sembuh klinis dan mikologis : a. Shampo selenium zulfit 1% - 1,8% dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru dicuci b. Shampo Ketokonazole 1% - 2% dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru dicuci

12

c. Shampo povidine iodine dipakai 2 kali / minggu selama 15 menit Setelah menggunakan shampo diatas maka dianjurkan memakai Hair Conditioner dioleskan dirambutnya dan didiamkan satu menit baru dicuci air. Hal ini untuk membuat rambut tidak kering.7 Juga shampo ini dipakai untuk karier asimptomatik yaitu kontak dekat dengan pasien, seminggu 2 kali selama 4 minggu. Karena asimptomatik lebih menyebarkan tinea kapitis disekolah atau penitipan anak yang kontak dekat dengan karier daripada anak-anak yang terinfeksi jelas. 13 Terapi Kerion Pengobatan optimal kerion tidak jelas apakah perlu dengan obat oral antibiotika dan kortikosteroid sebagai terapi ajuvan dengan griseofulvin7. Beberapa penelitian menyatakan : a. kerion lebih cepat kempes dengan kelompok yang menerima griseofulvin saja7 b. sedangkan skuama dan gatal lebih cepat bersih / hilang dengan kelompok yang menerima ke 3 obat yaitu griseofuvin, antibiotika dan kortikosteroid oral7 c. Kortikosteroid oral mungkin menurunkan insiden sikatrik. Juga bermanfaat menyembuhkan nyeri dan pembengkakan3,17. Dosis prednison 1 mg/Kg BB/pagi untuk 10-15 hari pertama terapi3,17 d. Pemberian antibiotika dapat dipertimbangkan terutama bila dijumpai banyak krusta17. 3.10. Prognosis Tinea kapitis tipe Gray patch sembuh sendirinya dengan waktu, biasanya permulaan dewasa. Semakin meradang reaksinya, semakin dini selesainya penyakit, yaitu yang zoofilik (M. canis, T. mentagrophytes dan T. verrucosum) 1. Infeksi ektotrik sembuh selama perjalanan normal penyakit tanpa pengobatan. Namun pasien menyebarkan jamur penyebab kelain anak selama waktu infeksi1.
9

Sebaliknya infeksi endotrik menjadi kronis dan berlangsung sampai dewasa. T.

violacaum, T. tonsurans menyebabkan infeksi tetap, pasien menjadi vektor untuk menyebarkan penyakit dalam keluarga dan masyarakat1, pasien seharusnya cepat diobati secara aktif untuk mengakhiri infeksinya dan mencegah penularannya1.

13

BAB III KESIMPULAN


Tinea kapitis adalah infeksi yang sering terjadi pada anak-anak dengan bermacammacam gejala klinis. Keadaan penduduk yang padat menyimpan jamur penyebab dan adanya karier asimtomatis yang tidak diketahui menyebabkan prevalensi penyakit.14 Tablet griseofulvin adalah pengobatan yang efektif dan aman, sebagai obat lini pertama (gold standard). Obat lini kedua yaitu Itrakonazol, terbinafin atau kalau terpaksa dengan flukonazol diberikan untuk pasien yang tidak sembuh dengan griseofuvin, atau dapat sebagai obat jamur lini pertama. Terapi ajuvan dengan shampo anti jamur untuk membasmi serpihan (fomites) yang terinfeksi, mengevaluasi serta penanganan kontak yang dekat dengan pasien.14

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Rippon JW. Medical Mycology 3rd ed. Philadelphia: WB Saunders Co, 1988 2. Hay RJ, Morre M. Mycology. Dalam : Champion RH, Burton JZ, Burns DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 1277-350. 3. Nelson MM; Martin AG, Heffernan MP. Superficial Fungal infection : Dermatophytosis, Onychomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam : Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 6th ed. New York Mc Graw Hill, 2003 : p 1989-2005. 4. Clayton YM, Moore MK. Superficial Fungal Infection. Dalam : Harper J; Oranje A, Prose N. editors. Textbook of Pediatric Dermatology. 2nd ed. Massachusetts. Blackwell Publishing, 2006 : p 542-56. 5. Nasution MA, Muis K, Rusmawardiana. Tinea Kapitis. Dalam : Budimulya U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S. editor. Dermatomikosis Superfisialis cetakan ke 2. Jakarta, Balai Penerbit FKUI, 2004 : h.24-30. 6. Schroeder TL, Levy ML. Treatment of hair loss disorders in children. Dermatol Ther 1997; 2 : 84-92. 7. Hebert AA. Diagnosis and treatment of tinea capitis in children. Dermatol Ther 1997; 2 : 78-83 8. Dawber RPR, de Becker D, Wojnarowska F, Disorder of Hair. Dalam : Champion RH, Burton JZ, Burno DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 2869-973 9. Rowell NR, Goodfield MJD. The Connective Tissue diseases. Dalam : Champion RH, Burton JZ, Burns DA, Breatnach SDM, editors.

Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 2437-575. 10. Black MM. Lichen planus and Lichenoid Disorders. Dalam : Champion RH, Burton JZ, Burno DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 18991926. 11. Cohen BA. Pediatric Dermatology 3rd ed. Philadelphia; Elsevier Mosby, 2005. 12. Richardson MD, Warnock DW. Fungal Infection. 3rd ed Massachusetts : Blackwell Publishing, 2003. 13. Weston WL, Lane AT, Morelli JG. Color Textbook of Pediatric Dermatology. 3rd ed. St. louis : Mosby, 2002. 14. Mercurio MG, Elewski B. Tinea capitis treatment. Dermatol Ther 1997; 3 : 79-83. 15. Suyoso S. Penatalaksanaan Dermatomikosis Superfisialis masa kini. Dalam : Simposium Penatalaksanaan Dermatomikosis Superfisialis masa kini, 11 Mei 2002; Surabaya; Indonesia. 16. Indranarum T, Suyoso S. Penatalaksanaan tinea kapitis. Berkala I. Penyakit Kulit dan kelamin 2001; 13 : 30-5. 17. Paller AS, Mancini AJ, Hurwitz Clinical Pediatric Dermatology. 3rd ed.Philadelphia : Elsivier Saunders, 2006 18. Lab. / SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unair / RSU Dr. Soetomo. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Surabaya : Airlangga University Press. 2007. 19. Janssen Research Council : Slide gambar dermatomikosis.

ter