Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pencampuran adalah suatu proses operasi yang sangat penting, bahkan dapat dikatakan suatu yang fundamental hampir di tiap proses operasi. Pencampuran zat cair bergantung pada pembentukan arus aliran yang membawa bahan yang belum bercampur ke dalam zona pencampuran di sekitar impeller. Keberhasilan suatu proses operasi kimia tergantung pada efektifitas pencampuran dan pengadukan dari fluida. Pengadukan yang dilakukan akan menyebabkan suatu material bergerak secara spesifik (tertentu), sedangkan pencampuran adalah suatu proses pendistribusian yang acak dan melalui satu atau yang lainnya dari dua fase atau lebih. Suatu material yang homogen, seperti air dingin dalam tanki yang penuh dapat diaduk, tetapi tidak dapat dilakukan pencampuran sebelum ditambahkan material lain ke dalam tanki. Jadi jelaslah bahwa pengadukan (agitasi) tidaklah sama dengan pencampuran (mixing). Tidak seperti unit pengoperasian yang lainnya, proses pencampuran dibutuhkan untuk melakukan beberapa tugas seperti pemompaan, perpindahan panas dan perpindahan massa secara cepat. Peralatan pencampuran yang dapat digunakan untuk kepentingan komersial sangatlah banyak, misalnya pencampuran yang digunakan untuk memproduksi bahan kimia, makanan, obat-obatan dan lain sebagainya. Tugas dari mixer (pencampur) itu sendiri adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengontakan cairan-cairan yang tidak dapat bercampur, misalnya proses ekstraksi solvent. Proses emulsi untuk menghasilkan produk yang stabil. Melarutkan padatan kasar pada cairan dengan viskositas rendah. Dispersi padatan halus dalam cairan dengan viskositas tinggi. Dispersi padatan halus dalam cairan, misalnya proses fermentasi. Mengontakkan gas/padatan/cairan pada reaksi katalitik. Tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa tidak satupun alat pencampuran tersebut yang dapat melakukan fungsi dari pencampuran secara

menyeluruh dan effisien karena disebabkan oleh biaya pengoperasian yang sangat tinggi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sangatlah perlu untuk mngetahui proses pencampuran ataupun pengadukan secara lebih dalam, tentang alat yang digunakan ataupun cara yang tepat sehingga nantinya akan diperoleh hasil yang optimal serta dapat menekan biaya yang digunakan seminimal mungkin. 1.2. Tujuan Percobaan 1. 2. 3. 4. Dapat mengetahui pola aliran yang ditimbulkan oleh dua impeller yang berbeda (propeller dan padle). Dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan pola aliran. Dapat mengetahui pengaruh yang ditimbulkan oleh penggunaan baffle pada proses pencampuran. Dapat mengetahui konduktifitas dari larutan garam terhadap kecepatan perputaran impeller dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai konduktivitas tersebut. 5. Untuk mengetahui pengaruh besarnya power yang diberikan impeller terhadap vorteks yang terbentuk. 1.3. Perumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bagaimanakah pengaruh penggunaan dari dua impeller yang berbeda (type propeller & padle) terhadap kualitas campuran yang dihasilkan. Bagaimanakah pengaruh penggunaan baffle dalam proses pencampuran. Bagaimanakah pengaruh kecepatan putaran impeller yang berbeda dalam proses pencampuran. Bagaimanakah pengaruhi penggunaan bahan dalam proses pencampuran. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola aliran dan kualitas campuran dalam proses pencampuran. Pengaruh kecepatan putaran impeller terhadap konduktivitas larutan garam.

1.4. Hipotesa 1. 2. 3. 4. 5. Semakin besar kecepatan putaran impeller maka semakin cepat pula terjadinya homogenitas dalam campuran. Dengan penggunaan baffle maka aliran yang terjadi adalah turbulen sehingga proses pencampuran akan terjadi lebih cepat. Semakin kecil ukuran padatan yang akan dicampur atau dilarutkan maka semakin cepat pula terjadinya homogenitas. Semakin kecil viskositas cairan yang digunakan semakin cepat terjadinya homogenitas. Vorteks dapat dihilangkan dengan pemakaian baffle sehingga arah aliran dapat menyebar. 1.5. Manfaat 1. 2. 3. Dapat mengetahui prinsip dasar dari percobaan fluid mixing apparatus. Dapat mengetahui perbedaan pola aliran yang ditimbulkan oleh dua buah impeller (Propeller & turbin). Dapat mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan pola aliran yang berbeda, seperti padatan yang digunakan, viskositas cairan, kecepatan putaran impeller dan lain sebagainya. 4. 5. Dapat mengetahui besarnya daya hantar listrik yang ditimbulkan sebagai pengaruh dari kecepatan putaran. Dapat mengetahui perbedaan yang terjadi pada pencampuran liquid yang menggunakan baffle dan tidak menggunakan baffle (tidak terbentuk vortex dan terbentuk vortex). 6. Tekanan fluida dalam hal ini dapat dikurangi dengan memakai baffle.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada proses pembuatan produk industri kimia yang siap untuk diperdagangkan dan pada pengolahan produk setengah jadi, seringkali bahanbahan padat harus dicampurkan dengan sejumlah kecil cairan. Di sini dapat terbentuk bahan padat yang lembab atau campuran yang sangat viskos seperti pasta atau adonan. Seringkali cairan harus juga ditambahkan ke dalam pasta, adonan atau massa yang plastis tersebut. Contoh : a) Mencampur serbuk dengan cairan untuk membuat butiran-butiran (granulat). b) Mencampur pasta pada industri farmasi dan kosmetik dengan bahan-bahan aktif. c) Mencampur masa sintetik yang plastis dengan bahan-bahan penolong (misalnya bahan pelunak, stabilisator, bahan pewarna). Alat yang digunakan dapat berupa tangki atau bejana vertikal yang berbentuk silinder, bahan digilas dan diuli oleh satu atau dua perkakas campur yang mirip pengaduk. 2.1. Pencampuran Bahan Padat-Padat Pencampuran dua atau lebih dari bahan padat banyak dijumpai yang akan menghasilkan produk komersial industri kimia. Pencampuran bahan pewarna dengan bahan pewarna lainnya atau dengan bahan penolong untuk menghasilkan nuansa warna tertentu atau warna yang cemerlang. Alat yang digunakan untuk pencampuran bahan padat dengan padat dapat berupa bejana-bejana yang berputar, atau bejana-bejana berkedudukan tetap tapi mempunyai perlengkapan pencampur yang berputar, ataupun pneumatik. 2.2. Pencampuran Bahan Cair-Gas Untuk proses kimia dan fisika tertentu gas harus dimasukkan ke dalam cairan, artinya cairan dicampur secara sempurna dengan bahan-bahan berbentuk gas. Contoh : 1) Proses hidrogenasi, khorinasi dan fosfogensi.

2) Oksidasi cairan oleh udara (fermentasi, memasukkan udara kedalam lumpur dalam instalasi penjernih biologis).
3)

Meningkatkan kadar (melarutkan) gas dalam cairan (misalnya HCL dalam air, oksigen dalam cairan-cairan).

4) Membangkitkan basa (misalnya busa pemadam api). 2.3. Merawat Alat Pencampur Untuk mendapatkan kerja yang efisien, bukan hanya kebutuhan daya yang merupakan hal terpenting tetapi juga laju pencapaian derajat pencampuran yang diinginkan serta perawatan yang terjadwal. Telah dibuktikan bahwa sangat sukar untuk mendapatkan derajat pencampuran yang diingikan pada suatu waktu, dan keputusan untuk menentukan kapan material tersebut sudah tercampur masih tergantung kepada perkiraan, pengalaman dan keputusan operator serta kegiatan perawatan yang terus menereus dilakukan. Pencampuran atau mixing adalah suatu peristiwa menyebarnya bahanbahan secara acak dimana bahan yang satu menyebar ke dalam bahan yang lain dan sebaliknya, dimana bahan-bahan itu sebelumnya terpisah dalam dua fase atau lebih. Sedangkan pengadukan atau agitation adalah gerakan yang terinduksi menurut cara tertentu pada suatu bahan di dalam bejana, dimana gerakan itu biasanya mepunyai semacam pola aliran sirkulasi. Pengadukan zat cair biasanya dilakukan untuk berbagai maksud, tergantung dari tujuan langkah itu sendiri. Tujuan pengadukan antara lain adalah : 1) 2) air. 3) 4) 5) Untuk menyebarkan gas didalam zat cair dalam bentuk gelembung kecil. Untuk menyebarkan zat cair yang tidak dapat bercampur dengan zat cair lain, sehingga membentuk emulsi atau suspensi butiran-butiran halus. Untuk mempercepat perpindahan kalor antara zat cair dengan kumparan atau mantel kalor. Untuk memilih suspensi partikel zat padat. Untuk meramu zat cair yang mampu larut, misalnya metil alkohol dan

Kadang-kadang suatu proses pengadukan digunakan untuk beberapa tujuan sekaligus, misalnya dalam hidrogenasi katalitik dan zat cair. Dalam bejana hidrogenasi didispersikan melalui zat cair dimana terdapat partikel-partikel katalis padat dalam keadaan suspensi, sementara kalor reaksi diangkut keluar melalui kumparan atau mantel. Suatu proses pengadukan menunjukkan gerakan yang terinduksi menurut cara tertentu pada suatu bahan di dalam bejana, dimana gerakan itu biasanya mempunyai semacam sirkulasi. Pada percobaan kali ini digunakan alat Fluid Mixing Apparatus dengan impellernya. Impeller inilah yang akan membangkitkan pola aliran di dalam sistem, yang menyebabkan zat cair bersikulasi di dalam bejana untuk akhirnya kembali ke impeller. Ada dua macam impeller pengaduk, yaitu impeller aliran-aksial (axialflow impeller) dan impeller aliran-radial (radial-flow impeller). Impeller jenis pertama membangkitkan arus sejajar dengan sumbu poros impeller, dan yang kedua membangkitkan arus pada arah tengensial atau radial. Dari segi bentuknya, ada tiga jenis impeller: propeller (baling-baling), dayung (padle), dan turbin (turbine). Masing-masing jenis terdiri lagi atas berbagai variasi dan sub-jenis. Ada lagi jenis-jenis impeller lain yang dimaksudkan untuk situasi-situasi tertentu, namun ketiga jenis itu agaknya dapat digunakan untuk menyelesaikan 95 persen dari semua masalah agitasi zat cair. Jenis-jenis impeller : a) c) e) f) The marine type propeller, The disk flat blade turbine, The pitched blade turbine, The shrouded turbine. Propeller merupakan impeller aliran aksial berkecepatan tinggi untuk zat cair berviskositas rendah. Propeller kecil biasanya berputar pada kecepatan motor penuh, yaitu 1.150 atau 1.750 rpm, sedang propeller besar berputar pada 400 sampai 800 rpm. Arus yang meninggalkan propeller mengalir melalui zat cair b) Flat blade turbine, d) The curved blade turbine,

menurut arah tertentu samapi dibelokkan oleh lantai atau dinding bejana. Kolom zat cair yang berputar dengan sangat turbulennya itu meninggalkan impeller dengan membawa ikut zat cair stagnan yang dijumpainya dalam perjalanannya itu, dan zat cair stagnan yang terbawa ikut itu mungkin lebih banyak dari yang dibawa kolom arus sebesar itu kalau berasal dari nosel stasioner. Daun-daun propeller merobekkan menyeret zat cair itu. Oleh karena arus aliran ini sangat gigih, agitator propeller sangat efektif dalam bejana besar. Propeller yang berputar membuat pola heliks di dalam zat cair, dan jika tidak tergelincir antara zat cair dan propeller itu, satu putaran penuh propeller akan memindahkan zat cair secara longitudinal pada jarak tertentu, bergantung dari sudut kemiringan daun propeller.Rasio jarak ini terhadap diameter dinamakan jarak-bagi (pitch) propeller itu. Propeller yang mempunyai jarak bagi 1,0 disebut mempunyai jarak-bagi bujur-sangkar (square pitch). Untuk tugas-tugas sederhana, agitator yang terdiri dari satu dayung datar yang berputar pada poros vertikal merupakan pegaduk yang cukup efektif. Kadang-kadang daun-daunnya dibuat miring, tetapi biasanya vertikal saja. Dayung (padle) ini berputar di tengah bejana dengan kecepatan rendah sampai sedang, dan mendorong zat cair secara radial dan tangensial, hampir tanpa adanya gerakan vertikal pada impeller, kecuali bila daunnya agak miring. Arus yang terjadi bergerak ke luar ke arah dinding, lalu membelok ke atas atau ke bawah. Dalam tangki-tangki yang dalam, kadang-kadang dipasang beberapa dayung pada satu poros, dayung yang satu di atas yang lain. Dalam beberapa rancang, daunnya disesuaikan dengan bentuk dasar bejana, yang mungkin bulat atau cekung, piring, sehingga dapat mengikis atau menyapu permukaan pada jarak sangat dekat. Dayung (padle) jenis tersebut dinamakan agitator jangkar (anchor agitator). Jangkar ini sangat efektif untuk mencegah terbentuknya endapan atau kerak pada permukaan penukar kalor, seperti umpamanya, dalam bejana proses bermantel, tetapi tidak terlalu efektif sebagai alat pencampur. Jangkar ini biasanya dioperasikan bersama dengan dayung berkecepatan tinggi atau agitator lain, yang biasanya berputar menurut arah yang berlawanan.

Agitator dayung yang digunakan di industri biasanya berputar dengan kecepatan antara 20 dan 150 rpm. Panjang total impeller dayung biasanya antara 50 sampai 80 persen dari diameter-dalam bejana. Lebar daunnya seperenam sampai sepersepuluh panjangnya. Pada kecepatan yang sangat rendah, dayung dapat memberikan pengadukan sedang di dalam bejana tanpa-sekat, pada kecepatan yang lebih tinggi diperlukan pemakaian sekat, sebab jika tidak, zat cair itu akan berputar-putar saja mengelilingi bejana itu dengan kecepatan tinggi, tetapi tanpa adanya pencampuran. Beberapa di antara berbagai ragam bentuk rancang turbin adalah turbin daun-lurus terbuka, turbin piring berdaun dan turbin piring lengkung vertikal. Kebanyakan turbin itu menyerupai agitator-dayung berdaun banyak dengan daundaunnya yang agak pendek, dan berputar pada kecepatan tinggi pada suatu poros yang dipasang di pusat bejana. Daun-daunnya boleh lurus dan boleh pula lengkung, boleh bersudut, dan boleh pula vertikal. Impeller nya mungkin terbuka, setengah terbuka, atau terselubung. Diameter impeller biasanya lebih kecil dari diameter dayung, yaitu berkisar antara 30 sampai 50 persen dari diameter bejana. Turbin biasanya efektif untuk jangkau viskositas yang cukup luas. Pada cair berviskositas rendah, turbin itu menimbulkan arus yang sangat deras yang berlangsung di keseluruhan bejana, menabrak kantong-kantong yang stagnan dan merusaknya. Di dekat impeller itu terdapat zone arus deras yang sangat turbulen dengan geseran yang kuat. Arus utamanya bersifat radial dan tangensial. Komponen tangensialnya menimbulkan vorteks dan arus putar, yang harus dihentikan dengan menggunakan sekat (baffle) atau difuser agar impeller itu menjadi sangat efektif. Jenis aliran di dalam bejana yang sedang diaduk bergantung pada jenis impeller, karakteristik fluida, dan ukuran serta perbandingan (proporsi) tangki, sekat, dan agitator. Kecepatan fluida dalam setiap titik dalam tangki mempunyai tiga komponen, dan pola aliran keseluruhan di dalam tangki itu bergantung pada variasi dari ketiga komponen itu dari satu lokasi ke lokasi lain. Komponen kecepatan yang pertama ialah komponen radial yang bekerja pada arah tegak lurus terhadap poros impeller. Komponen kedua ialah komponen longitudinal, yang

bekerja pada arah paralel dengan poros. Komponen ketiga ialah komponen tangensial, atau rotasional, yang bekerja pada arah singgung terhadap lintasan lingkar di sekeliling poros. Dalam keadaan biasa, di mana poros itu vertikal, komponen radial dan tangensial berada dalam satu bidang horizontal, dan komponen longitudinal nya vertikal. Komponen radial dan komponen longitudinal sangat aktif dalam memberikan aliran yang diperlukan untuk melakukan pencampuran. Bila poros itu vertikal dan terletak persis di pusat tangki, komponen tangensial biasanya kurang menguntungkan. Arus tangensial itu mengikuti suatu lintasan berbentuk lingkaran di sekitar poros, dan menimbulkan vorteks pada permukaan zat cair, dan karena adanya sirkulasi aliran laminar, cenderung membentuk stratifikasi pada berbagai lapisan tanpa adanya aliran longitudinal antara lapisan-lapisan itu. Jika di dalam sistem itu terdapat pula partikel zat padat, arus sirkulasi itu cenderung melemparkan partikel-partikel itu, dengan gaya sentrifugal, ke arah luar, dan dari situ bergerak ke bawah, dan sesampai di dasar tangki, lalu ke pusat. Karena itu, bukannya pencampuran yang berlangung di sini, tetapi sebaliknya pengumpulanlah yang terjadi. Jadi, karena dalam aliran sirkulasi zat cair begerak menurut arah gerakan daun impeller, kecepatan relatif antara daun dan zat cair itu berkurang, dan daya yang dapat diserap zat cair itu menjadi terbatas. Dalam bejana yang tak bersekat, alir putaran itu dapat dibangkitkan oleh segala jenis impeller, baik aliran aksial maupun yang radial. Jadi, jika putaran zat cair itu cukup kuat, pola aliran di dalam tangki itu dapat dikatakan tetap, bagaimanapun bentuk rancangan impeller. Pada kecepatan impeller tinggi vorteks yang terbentuk mungkin sedemikian dalamnya, sehingga mencapai impeller dan gas dari atas permukaan zat cair akan tersedot ke dalam zat cair itu. Makanya hal demikian tidaklah dikehendaki. Aliran tingkat (circulatory flow) dan arus putar (swirling) dapat dicegah dengan menggunakan salah satu dari tiga cara di bawah ini. Dalam tangki-tangki kecil impeller dipasang di luar sumbu tangki (eksentrik). Porosnya digeser sedikit dari garis pusat tangki, lalu dimiringkan dalam suatu bidang yang tegak lurus terhadap pergeseran itu. Dalam tangki-tangki yang lebih besar, agitatornya

dipasang di sisi tangki, dengan porosnya pada bidang horisontal, tetapi membuat sudut dengan jari-jari tangki. 2.4. Mechanically Agitated Vessel 1. Vessel Vessel biasanya berbentuk tanki silinder vertikal dimana di dalamnya akan diisikan fluida dengan kedalaman yang sama dengan diameter tangki. Tetapi pada beberapa sistem pengontakan gas atau cairan dengan kedalaman cairan sekitar 3 kali diameter tangki maka akan digunakan banyak impeller. Diameter vessel berkisar antara 0,1 meter untuk unit yang kecil hingga 10 meter ataupun lebih untuk instalasi industri besar. Bagian dasar tangki dapat berbentuk datar, lengkungan atau lancip (kerucut) tergantung pada faktor kemudahan pada saat pengurasan atau pada zat padat yang terlarut. Bentuk yang sering digunakan adalah bentuk lengkungan karena sudut yang ada sangat minimalis sehingga zat padat tidak ada yang terselip dan akan rata tercampur. Sedangkan jika bentuk kerucut (cone) yang digunakan makan harus dipastikan bahwa pencampuran dapat dilakukan dengan sempurna dengan cara menurunkan posisi impeller, Tetapi hal ini akan sangat berbahaya jika immpeller terlalu dekat dengan permukaan dinding vessel terutama jika sampai bersentuhan akan mengakibatkan alat menjadi rusak. 2. Baffle Untuk mencegah terjadinya pembentukan ruang udara (vortex) pada saat cairan-cairan dengan viskositas rendah diaduk dalam tanki silinder vertikal dengan impeller yang berada pada pusatnya, maka digunakanlah baffle yang dipasang pada dinding vessel kebetulan. Baffle umumnya tidak digunakan pada cairan dengan viskositas tinggi dimana pembentukan vortex bukanlah menjadi masalah yang penting. Baffle dipasang pada mixing vessel untuk menambah turbulensi. Walaupun penggunaan baffle menaikkan jumlah tenaga atau energi, tetapi di sisi lain memilki keuntungan yaitu terjadinya perpindahan panas secara terus menerus dan waktu yang dibutuhkan untuk mencampur lebih cepat. Proses Tenaga yang digunakan (HP/1000 gal)

Pengadukan yang sangat tinggi Emulsifikasi Disolving padatan Disolving gas yang sedikit larut Pengadukan yang tinggi Perpindahan panas yang cepat Pengontakan Pengadukan yang sedang Disolving gas yang larut (sedang) Padatan yang tersuspensi Pencucian Perpindahan panas yang menengah Pengadukan yang rendah Ekstraksi cairan Kristalisasi Stirring Pencampuran 0,7 - 1,0 0,8 - 1,2 0,5 - 0,9 0,5 - 0,8 1,0 - 2,0 1,0 - 1,6 1,0 - 1,5 0,9 - 1,3 1,5 - 2,5 1,5 - 2,0 15 - 25 10 - 12 3 - 10

Disolving gas yang dapat larut 0,5 - 0,8 Tabel 1. Kebutuhan tenaga pada mechanically agitated system 3. Impeller Beberapa tipe impeller yang telah dijelaskan diatas, yaitu : propeller, turbin, paddle, anchor, helical ribbbon, helical screw, penggunaannya tergantung pada geometri vessel (tangki), visikositas cairan. 1) Untuk viskositas yang lebih kecil dari 2000 cP, maka digunakan impeller dengan tipe propeller. 2) Untuk viskositas antara 2000 cP - 50000 cP, maka digunakan impeller dengan tipe turbin. 3) Untuk viskositas antara 10000 cP - 1000000 cP, maka digunakan impeller tipe anchor, helical ribon dan paddle 4) Untuk viskositas diatas 1 juta cP, digunakan pencampuran khusus, seperti banburg mixer, kneaders, extrudes, sigma mixer dan beberapa tipe lainya.

Kecepatan impeller standar yang digunakan untuk kepentingan komersil (industri) adalah 34, 45, 56, 68, 84, 100, 125, 155, 190, dan 320 rpm. Tenaga yang dibutuhkan biasanya tidak cukup untuk digunakan secara continue untuk mengatur gerakan steam turbin. Dua kecepatan driver mungkin dibutuhkan pada saat torques awal sangat tinggi. 4. Jet Mixer PencamPuran dalam sebuah vessel; dilakukan untuk viskositas rendah dengan menggunakan jet nozzle yang dimasukkan dalam vessel dimana cairan dengan viskositas tinggi dialirkan kedalam jet nozzle. Pompa digunakan untuk mengeluarkan sebagian liquid dari vessel dan dikembalaikan melalui nozzle melalui vessel. Transfer momentum dari jet viskositas tinggi menuju liquid dalam vessel menyebabkan aksi pencmpuran sirkulasi dalam tanki. 5. In-line Static Mixer In-line static mixers digunakan untuk operasi pencampuran dan pelarutan dalam jumlah yang besar. Sebuah unit tetap diletakkan dalam sebuah pipa dan pencampur dimasukkan oleh sistem pemompaan. Proses pencampuran ini memberikan peningkatan dalam produk campuran sebagai jumlah dari elemen pencampuran yang diulang meningkat. Dalam kasus pelarutan liquid/liquid dan gas liquid seperti mekanisme diatas tidak berpengaruh dan biasanya operasi terjadi secara turbulen. 6. In-Line Dynamic Mixer Untuk operasi pencampuran dimana membutuhkan produksi continue dari solid yang dilarutkan dan emulsi, In-Line Dynamic Mixers adalah salah satu bentuk mixer yang dapat digunakan. Beberapa kegiatan kimia termasuk pelarutan solid dan pengemulsian tidak dapat dilakukan di dalam vessel yang dicampur secara mekanik karena tidak mungkin dapat menurunkan tegangan tinggi untuk memecah partikel agregat dalam memperoleh kualitas pelarutan atau menciptakan emulsi yang stabil. Mills dapat digunakan dalam operasi pelarutan dimana pelarutan partikel dilakukan dengan crushing atau shearing membawa ikut zat cair lain dan mengalir disepanjang dinding, terjadi juga pencampuran radial sedang

pusaran-pusaran besar pecah menjadi kecil, tetapi tidak banyak terjadi pencampuran pada arah aliran. 2.5. Pencampuran Solid-Liquid Bila zat padat disuspensikan dalam tanki yang diaduk, ada beberapa cara untuk mendifinisikan kondisi suspensi itu. Proses yang berbeda akan memerlukan derajat suspensi yang berlainan pula, dan karena itu kita perlu menggunakan definisi yang tepat dan korelasi yang semestinya didalam merancang atau dalam penerapan ke skala besar. 1. Mendekati suspensi penuh yaitu suspensi dimana masih terdapat sebagian kecil kelompok-kelompok zat padat yang terkumpul didasar tanki agak kepinggir atau ditempat lain. 2. Partikel bergerak penuh yaitu seluru partikel berada dalam suspensi atau bergerak disepanjang dasar tanki 3. Suspensi penuh atau Suspensi diluar dasar yaitu seluruh partikel berada dalam keadaan suspensi dan tidak ada didasar tanki atau tidak berada didasar tanki selama lebih dari 1 atau 2 detik. 2.6. Pencampuran Liquid-Liquid Pencampuran zat cair-cair (misible) didalam tanki merupakan proses yang berlangsung cepat dalam daerah turbulen. Impeller akan menghasilkan arus kecepatan tinggi, dan fluida itu mungkin dapat bercampur baik disekitar impeller karena adanya keterbulenan yang hebat. Pada waktu arus itu melambat karena membawa ikut zat cair lain dan mengalir disepanjang dinding, terjadi juga pencampuran radial sedang pusaran-pusaran besar pecah menjadi kecil, tetapi tidak banyak terjadi pencampuran pada arah aliran. 2.7. Pencampuran Gas-Liquid Dalam proses pencampuran gas dengan liquid, gas akan tersuspensi dalam bentuk gelembung-gelembung kecil dengan tekanan tertentu. Jenis aliran di dalam bejana yang sedang diaduk bergantung pada jenis impeller, karakteristik fluida, dan ukuran serta perbandingan (proporsi) tangki, sekat, dan agitator. Kecepatan

fluida dalam setiap titik dalam tangki mempunyai tiga komponen, dan pola aliran keseluruhan di dalam tangki itu bergantung pada variasi dari ketiga komponen itu dari satu lokasi ke lokasi lain. Komponen kecepatan yang pertama ialah komponen radial yang bekerja pada arah tegak lurus terhadap poros impeller. Komponen kedua ialah komponen longitudinal, yang bekerja pada arah paralel dengan poros. Komponen ketiga ialah komponen tangensial, atau rotasional, yang bekerja pada arah singgung terhadap lintasan lingkar di sekeliling poros. Dalam keadaan biasa, di mana poros itu vertikal, komponen radial dan tangensial berada dalam satu bidang horisontal, dan komponen longitudinalnya vertikal. Komponen radial dan komponen longitudinal sangat aktif dalam memberikan aliran yang diperlukan untuk melakukan pencampuran. Bila poros itu vertikal dan terletak persis di pusat tangki, komponen tangensial biasanya kurang menguntungkan. Arus tangensial itu mengikuti suatu lintasan berbentuk lingkaran di sekitar poros, dan permukaan zat cair, dan karena adanya sirkulasi aliran laminar, cenderung membentuk stratifikasi pada berbagai lapisan tanpa adanya aliran longitudinal antara lapisan-lapisan itu. Jika di dalam sistem itu terdapat pula partikel zat padat, arus sirkulasi itu cenderung melemparkan partikel-partikel itu, dengan gaya sentrifugal, ke arah luar, dan dari situ bergerak ke bawah, dan sesampai di dasar tangki, lalu ke pusat

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3.1. Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah : 1) 2) 3) Fluid Mixing Appartus Impeller berbentuk Propeller dan Turbin Baffle

3.2. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : 1) Air ledeng 2) Pasir 3) Garam 3.3. Prosedur Percobaan Pada percobaan ini digunakan alat Fluid Mixing Appartus, impellernya berbentuk propeller dan turbin. Dilakukan percobaan 2 kali dengan baffle dan tanpa baffle. 1) Siapkan alat fluid mixing apparatus tanpa baffle sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. 2) Masukkan air, pasir dan garam ke dalam fluid mixing apparatus kemudian pasang impeller yang dikehendaki. 3) Hidupkan fluid mixing apparatus dan aturlah kecepatan putaran impeller sesuai petunjuk. 4) Amati dan gambarkan pola aliran yang terjadi setiap kenaikan kecepatan putaran impeller. 5) Ukur konduktivitas air dengan ohmmeter setiap 2 menit dan ulangi sampai 6 kali. 6) Ulangi percobaan di atas untuk impeller yang berbeda dan fluid mixing apparatus yang menggunakan baffle.

Anda mungkin juga menyukai