Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup aktivitasnya guna mempertahankan kesehatannya ( A. Aziz, 2006) Imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004). Sebagai perawat harus mengetahui bahaya dari imobilisasi dan cara mengurangi bahaya tersebut agar tidak terjadi masalah kesehatan yang lebih lanjut atau terjadi komplikasi dari masalah imobilisasi tersebut. B. Manfaat Penulisan Sebagai seorang mahasiswa, tulisan ini akan memberikan beberapa manfaat : 1. Memberikan penjelasan tentang Mobilisasi dan imobilisasi 2. Memberikan penjelasan tentang gangguan mobilisasi 3. Memberikan penjelasan tentang macam-macam posisi ditempat tidur 4. Memberikan gambaran memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi 5. Memberikan gambaran memindahkan klien dari tempat tidur ke brankar 6. Mengetahui asuhan keperawatan untuk kasus Ny. D

C. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud mobilisasi dan imobilisasi? 2. Bagaimana cara memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi? 3. Apa saja macam-macam posisi di tempat tidur? 4. Apa posisi yang cocok untuk kasus Ny. D? 5. Bagaimana askep untuk kasus Ny. D?

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 1

D. Tujuan Penulisan Setelah membaca tulisan ini, diharapkan kepada para pembaca : 1. Dapat mengetahui pengertian mobilisasi dan imobilisasi. 2. Dapat mengetahui gangguan dari mobilisasi. 3. Dapat mengetahui macam-macam mobilisaasi 4. Dapat mengaplikasikan cara memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi. 5. Dapat mengetahui posisi yang cocok untuk Ny. D dan askepnya. E. Sistematika Penulisan Adapun sistematika pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bab I Pendahuluan terdiri dari sistematika penulisan 2. Bab II Pembahasan Pengertian, 3. Bab III Kasus Pengkajian, diagnosa, pendokumentasiaan 4. Bab IV Penutup 5. Lampiran : Kesimpulan, dan saran : Daftar pustaka. macam-macam memindahkan klien. : Ny. D intervensi, implementasi, evaluasi dan : Mobilisasi posisi, gangguan mobilisasi, cara : Latar belakang,manfaat penulisan,rumusan masalah,tujuan penulisan,dan

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 2

BAB II TINJAUAN TERORITIS

A. Pengertian Mobilisasi Mobilisasi merupakan latihan pergerakan atau usaha dalam memberikan latihan pada pasien secara fisik maupun psikologis atau penyegaran yang dilakukan secara rutin untuk dapat membantu memperkuat dan memelihara kesiagaan dan kesegaran otot, memberi rasa nyaman, mencegah komplikasi; spasmaotot, antropiotot, dan kontraktur. (barbara, 1998) Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup aktivitasnya guna mempertahankan kesehatannya ( A. Aziz, 2006)

B. Gangguan Mobilisasi Menurut Potter & Perry tahun 2006 dalm buku fundamental keperawatan volume 2: Mobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas, dan imobilisasi mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas. Mobilisasi dan imobilisasi berada pada satu rentang dengan banyak tingkatan imobilisasi parsial diantaranya. Beberapa klien mengalami kemunduran dan selanjutnya berada diantara rentang mobilisasi-imobilisasi, tetapi pada klien lain, berada pada kondisi imobilisasi mutlak dan berlanjut sampai jangka waktu tidak terbatas (perry and potter, 1994) 1. Tirah baring Tirah baring merupakan suatu intervensi dimana klien dibatasi untuk tetap berada di tempat tidur untuk tujuan teraupetik. Tirah baring mempunyai pengertian yang berbeda-beda di antara perawat, dokter, dan tim kesehatan lainnya. Klien dalam kondisi bervariasi dimasukkan kedalam kategori tirah baring. Lamanya tirah baring tergantung penyakit atau cedera dan status kesehatan klien sebelumnya. Tujuan umum tirah baring:
Kelompok 2 Mobilisasi Page 3

a. Mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen untuk tubuh b. Mengurangi nyeri, meliputi nyeri pasca operasi dan kebutuhan analgesik dengan dosis besar c. Memungkinkan klien sakit atau lemah untuk beristirahat dan mengembalikan kekuatan d. Memberi kesempatan kepada klien yang letih untuk beristirahat tanpa terganggu Pengaruh penurunan kondisi otot dikaitkan dengan penurunan aktivitas fisik akan terlihat jelas dalam beberapa hari. Pada individu normal dengan kondisi tirah baring akan mengalami kurangnya kekuatan otot dari tingkat dasarnya pada rata-rata 3% sehari. Tirah baring juga dikaitkan dengan perubahan pada kardiovaskuler, skelet, dan organ lainnya. 2. Imobilisasi Imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004). Gangguan mobilisasi fisik (imobilisasi) di definisikan oleh north American Nursing Diagnosis Association (NANDA) sebagai suatu keadaan ketika individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik (Kim et al, 1995) Perubahan dalam tingkat mobilisasi fisik dapat mengakibatkan instruksi pembatasan gerak dalam bentuk tirah baring, pembatasan gerak fisik selama penggunaan alat bantu, pembatasan gerakan volunter atau kehilangan fungsi motorik. Faktor yang mempengaruhi imobilisasi : a. Pengaruh fisiologis

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 4

Apabila ada perubahan mobilisasi, maka setiap sistem tubuh beresiko terjadi gangguan. Tingkat keparahan dari gangguan tersebut tergantung pada umur klien, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat imobilisasi yang dialami. Misalnya, perkembangan pengaruh imobilisasi lansia berpenyakit kronik lebih cepat di bandingkan klien lebih muda(perry and potter, 1994). 1) Perubahan metabolik Sistem endrokrin, merupakan produksi hormon-sekresi

kelenjar, membantu mempertahankan dan mengatur fungsi vital seperti, respon terhadap stres dan cedera, pertumbuhan dan perkembangan, memicu reproduksi, serangkaian homeostasis respon yang ion, dan metabolisme energi. Ketika cedera atau stres terjadi, sistem endrokin bertujuan mempertahankan tekanan darah dan memelihara hidup. Imobilisasi mengganggu fungsi metabolik normal, antara lain laju metabolik : metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein ; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit ; ketidakseimbangan kalsium: gangguan pencernaan. Keberadaan proses infeksius pada klien imobilisasi mengalami peningkatan BMR diakibatkan karena demam atau penyembuhan luka. Demam dan penyembuhan luka meningkatkan kebutuhan oksigen selular ( McCance dan Heuther, 1994 ) 2) Perubahan sistem respiratori Klien imobilisasi beresiko tinggi mengalami komplikasi paruparu. Komplikasi paru-paru yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pada atelektasis, bronkiolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi dan kolaps alveolus distal karenaudara yang diabsrobsi, sehingga menghasilkan hipoventilasi. Luasnya atelektasis ditentukan oleh bagian yang tertutup. Pneumonia hipostatik adalah peradangan paru-paru akibat statisnya sekresi. Atelektasis dan
Kelompok 2 Mobilisasi Page 5

pneumonia hipostatik, keduanya sama-sama menurunkan oksigenasi, memperlama penyembuhan, dan menambah ketidaknyamanan klien ( long et al, 1993 )\ 3) Perubahan sistem kardiovaskuler Sistem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada 3 perubahan utama yaitu : hipotensi ortostatik, peningkatan kerja jantung, dan pembentukan trombus. Hipotensi ortostatik adalah penurunan tekana darah sitolik 25 mmHg dan diastolik 10 mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri. Pada klien imibilisasi, terjadi penurunan sirkulasi volume cairan, pengumpulan darah, pada ekstremitas bawah, dan penurunan respon otonom. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan penurunan aliran balik vena, diikuti oleh penurunan curah jantung yang terlihat pada penurunan tekanan darah ( mcCance and Huether, 1994 ). 4) Perubahan sistem muskuloskeletal Pengaruh imobilisasi pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan mobilitas permanen. Keterbatasan mobilisasi mempengaruhi otot klien melalui kehilangan daya tahan, penurunan masa otot, atrofi, dan penurunan stabilitas. Pengaruh lain dari keterbatasan mobilisasi yang mempengaruhi sistem skeletal adalah gangguan metabolisme kalsium dan gangguan mobilisasi sendi. Pengaruh otot adalah akibat pemecahan protein, klien mengalami kehilangan massa tubuh, yang membentuk sebagian otot. Oleh karena itu, penurunan masa otot tidak mampu mempertahankan aktifitas tanpa peningkatan kelelahan. Masa otot menurun akibat metabolisme dan tidak digunakan. Jika imobilisasi berlanjut dan otot tidak dilatih, maka akan terjadi penurunan masa yang berkelanjutan.
Kelompok 2 Mobilisasi Page 6

Penurunan

skelet

adalah

imobilisasi

menyababkan

perubahan terhadap skelet yaitu; gangguan metabolisme kalsium dan kelainan sendi. Karena imobilisasi berakibat pada resorpsi tulang, sehingga jaringan tulang menjadi kurang padat, dan terjadi osteoporosis ( holem, 1989 ) Kontraktur sendi adalah kondisi abnormal dan biasa permanen yang ditandai oleh sendi fleksi dan terfiksasi. Hal ini disebabkan tidak digunakannya, atropi, dan pemendekan serat otot. Jika terjadi kontraktur maka sendi tidak dapat mempertahankan rentang gerak dengan penuh. Sayangnya kontraktur sering menjadikan sendi pada posisi yang tidak berfungsi. ( lehmkuhl et al, 1990 ) 5) Perubahan eleminasi urin Eleminasi urin pada klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi tegak lurus, urin mengalir keluar melalui pelvis ginjal lalu masuk kedalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam posisi rekumben atau datar, ginjal dan ureter membentuk garis datar seperti pesawat. Ginjal yang membentuk urin harus masuk kedalam kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat kontraksi peristaltik ureter yang yang tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urine masuk ke dalam ureter. b. Pengaruh psikososial Imobilisasi menyebabkan respon emosional, intelektual, sensori, dan sosiokultural. Perubahan status emosional biasa terjadi bertahap. Bagaimanapun juga lansia lebih rentan terhadap perubahanperubahan tersebut, sehingga perawat harus mengobservasi lebih dini. Perubahan emosional paling umum adalah depresi, perubahan prilaku, perubahan siklus tidur-bangun, dan gangguan koping.

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 7

C. Macam-Macam Posisi di Tempat Tidur Menurut Potter & Perry tahun 2006 dalm buku fundamental keperawatan volume 2, macam-macam posisi adalah: 1. Posisi penyokong Fowler

Pada posisi penyokong Fowler, bagian kepala tempat tidur di tinggi kan 45 sampai 60 dan lutut klien sedikit ditinggikan tanpa tekanan untuk membatasi sirkulasi di tungkai bawah. Sudut ketinggian kepala dan lutut dan serta lamanya klien berada pada posisi fowler di prngaruhi oleh penyakit dan kondisi klien secara keseluruhan. Penyokong harus menjadikan pinggul atau lutut fleksi, dan tepatnya kesejajaran garis vertebraservikal, torakal, dan lumbal yang normal. Berikut ini masalah umum yang terjadi pada klien dengan posisi Flower : a. Meningkatnya fleksi servikal karena bantal di kepala terlalu tebal dan kepala terdorong ke depan b. Ekstensi lutut memungkinkan klien meluncur kebagian kaki tempat tidur c. Tekanan lutut bagian pesterior, menurunkan sirkulasi ke kaki d. Rotasi luar pada pinggul e. Lengan mengantung di sisi klien tanpa disokong f. Kaki tidak tersokong g. Titik penekanan disakrum maupun di tumit yang tidak terlindungi

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 8

2. Posisi telentang

Posisi terlentang dengan klien menyadarkan punggungnya di sebut posisi dorsal rekumben. Pada posisi terlentang hubungan antara-bagian tubuh pada dasarnya sama dengan kesejajaran berdiri yang baik kecuali tubuh berada pada potongan horizontal. bantal, trochanter roll dan gulungan tangan atau pembebat lengan digunakan untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi cedera sistem kulit maupun muskuluskaletal. Matras harus cukup kuat untuk menyokong vertebraservikal, torakal, dan lumbal. Bahu yang disokong dan siku sedikit fleksi mengontrol rotasi bahu. Penyokong kaki digunakan untuk mencegah footdrop dan mempertahankan kesejajaran tepat. Berikut ini beberapa masalah umum yang terjadi pada posisi terlentang : a. Bantal dikepala terlalu tebal dapat meningkatkan fleksi pada servikal b. Kepala datar pada matras c. Bahu tidak disokong dan berotasi dalam d. Siku melebar e. Ibu jari tidak berlawanan dengan jari-jari lain
Kelompok 2 Mobilisasi Page 9

f. Pinggul berotasi luar g. Tidak tersokongnya pinggul h. Titik penekanan dibagian oksiput kepala, vertebra lumbal, siku dan tumit yang tidak terlindungi

3. Posisi telengkup

Klien berada dalam posisi telengkup adalah berbaring dengan wajah yang menghadap kebawah. Bantal kepala harus cukup tipis mencegah fleksi maupun ekstensi servikal dan mempertahankan kesejajaran spinal lumbal. Penempatan bantal dibawah tu ngkai bagian bawah memungkinkan pergelangan kaki dorsifleksi dan lutut menjadi fleksi yang menjadi relaksasi. Jika bantal tidak di pakai maka pergelangan kaki menjadi dorsifleksi diatas ujung matras. Perawat harus mengkaji dan memperbaiki potensial masalah yang terjadi, berikut ini : a. Hiperekstensi leher b. Hiperekstensi spinal lumbal c. Plantarfleksi pergelangan kaki d. Titik penekanan di dagu, siku, pinggul, lutut dan jari-jari kaki tidak terlindungi

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 10

4. Posisi miring

Pada posisi miring (atau lateral) klien bersandar disamping, dengan sebagian besar berat tubuh berada pada pinggul dan bahu. Kesejajaran tubuh harus sama ketika berdiri. Contohnya, struktur tulang belakang harus dipertahankan, kepala harus disokong pada garis tengah tubuh, dan rotasi tulang belakang harus dihindari. Berikut ini masalah umum yang terjadi pada posisi miring : a. Fleksi lateral pada leher b. Lengkung tulang belakang keluar dari kesejajaran normal c. Persendian pinggul dan bahu berotasi dalam adduksi atau tidak di sokong d. Kurangnya sokongan kaki e. Titik penekanan ditelinga, tulang ilium, lutut dan pergelangan kaki kurang terlindungi

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 11

5. Posisi Sims

Posisi sims berbeda dengan posisi miring pada distribusi berat badan klien. Pada posisi sims berat badan berada pada tulang ilium anterior, humerus dan klavikula. Masalah umum pada posisi sims adalah sebagai berikut : a. Fleksi lateral pada leher b. Rotasi dalam, adduksi atau kurang sokongan di bahu dan pinggul c. Kurang sokongan di kaki d. Kurang perlindungan dari titikpenekanan di tulang ilium, humerus, klavikula, lutut dan pergelangan kaki

D. Cara Memindahkan Klien Menurut Potter & Perry tahun 2006 dalm buku fundamental keperawatan volume 2, cara memindahkan klien adalah:

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 12

Perawat biasa memberika perawatan pada klien imobilisasi yang harus di ubah posisi, di pindahkan di atas tempat tidur, dan harus di pindahkan dari tempat tidur kekursi ataupun ke brankar. Mekanika tubuh yang sesuai memungkinkan perawat untuk menggerakan, mengangkat atu memindahkan klien dengan aman dan juga melindungi perawat dari cedera sistem muskuloskeletal. Meskipun perawat menggunakan berbagai teknik memindahkan, berikut ini merupakan petunjuk umum yang harus di ikuti saat memindahkan pada setiap prosedur pemindahan: a. Naikkan sisi bergerak pada sisi tempat tidur pada posisi berlawanan dengan perawat untuk mencegah klien jatuh dari tempat tidur b. Tinggikan tempat tidur pada ketinggian yang nyaman c. Kaji mobilisasi dan kekuatan klien untuk menentukan bantuan klien yang dapat digunakan saat memindahkan d. Tentukan kebutuhan akan bantuan e. Jelaskan prosedur dan gambaran apa yang diharapkan dari klien f. Kaji kesejajaran tubuh yang benar dan area tekanan setelah setiap kali memindahkan

Perawat yang melakukan teknik memindahkan atau menggerakan untuk pertama kalinya harus meminta pertolongan untuk mengurangu resiko cedera pada klien dan perawat. Perawat juga harus mengetahui kekuatan dirinya dan keterbatasannya. Memindahkan klien imobilisasi sendirian merupakan hal yang sulit dan berbahaya. 1. Memindahkan Klien Klien membutuhkan tingkat bantuan yang bervariasi untuk

mengangkat dari tempat tidur, menggerakan keposisi miring, atau duduk di sisi tempat tidur. Contoh, wanita muda dan sehat membutuhkan sedikit dukungan untuk duduk pertama kali di sisi tempat tidur setelah melahirkan, sedangkan laki-laki tua mungkin membutuhkan bantuan bantuan satu atau lebih perawat untuk melakukan hal yang sama 1 hari setelah appendiktomi.

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 13

Untuk menentukan apakah klien mampu melakukan sendiri dan berapa banyak orang yang di butuhkan untuk membantu mengangkat klien di atas tempat tidur, perawat mengkaji klien untuk menentukan apakah penyakit klien ada kontraindikasi dalam pengerahan tenaga(seperti penyakit kardiovaskuler). Kemudian, perawat menentukan apakah klien memahami apa yang diharapkan. Contohnya klien yang baru saja mendapatkan pengobatan nyeri pascaoperasi mungkin terlalu lesu untuk mengerti intruksi, sehingga untuk menjamin keamanan, dibutuhkan dua perawat untuk menggerakan klien di atas tempat tidur perawat kemudian menentukan tingkat kenyamanan klien. Perawat juga mengevaluasi kekuatan pribadi dan pengetahuan prosedur. Pada akhirnya perawat menentukan apakah klien terlalu berat atau tidak bisa bergerak sehingga perawat menyelesaikan prosedur sendirian. Pada kasus yang meragukan, perawat harus selalu meminta bantuan orang lain.

2. Memindahkan Klien dari tempat tidur ke kursi TAMBAHKAN GAMBAR.... Memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi oleh perawat membutuhkan bantuan klien dan tidak dilakukan pada klien yang tidak dapat di bantu. Perawat menjelaskan prosedur pada klien sebelum pemindahan. Lingkungan juga di persiapkan dengan memindahkan penghalang jalan. Kursi ditempatkan dekat tempat tidur dengan punggung kursi sejajar dengan bagian kepala tempat tidur. Penempatan kursi memungkinkan perawat berputar dengan klien dan memindahkan berat badan klien dengan cepat. Pemindahan yang aman adalah prioritas pertama. Perawat yang ragu-ragu akan kekuatannya ataupun kemampuan klien untuk membantu, harus meminta bantuan. Klien harus duduk dan menjuntaikan kakinya disisi tempat tidur sebentar sebelum berdiri. Kemudian klien harus berdiri di sisi tempat tidur untuk beberapa menit sehingga klien dapat dengan cepat menurunkan punggungnya ketempat pada kasus pingsan atau pusing.

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 14

Ketika memindahkan klien imobilisasi dari tempat tidur ke kursi roda perawat harus menggunakan mekanika tubuh yang tepat dan apabila memungkinkan kerjasama diperoleh sebanyak mungkin dari klien

3. Memindahkan Klien dari tempat tidur ke Brankar TAMBAHKAN GAMBAR..... Klien imobilisasi yang dipindahkan dari tempat tidur ke brankar atau dari tempat tidur ke tempat tidur harus membutuhkan tiga orang pengangkat. Teknik ini bagus dilakukan jika orang-orang yang memindahkan mempunyai kesamaan tinggi. Jika pusat gravitasi mereka sama, mereka mengangkat sebagai satu tim. Cara lain memindahkan klien adalah dengan menggunakan kain pengangkat yang di tempatkan dibawah klien. Kain pengangkat berguna sebagai ayunan ketika klien dipindahkan ke brankar. Pada teknik ini, perawat perlu berada di sisi berlawanan dari tempat tidur dan berpegang pada kain pengangkat ketika memindahkan klien ke brankar. Brankar dan tempat tidur di tempatkan berdampingan sehingga klien dapat dipindahkan dengan cepat dan mudah dengan menggunakan kain pengankat. Hati-hati saat menggunakannya pada klien yang mengalami trauma medula spinalis. Jika klien harus dipindahkan maka papan pemindah harus ditempatkan dibawah klien untuk mempertahankan kesejajaran spinal sebelum memindahkan ke brankar. Klien harus dipersiapkan untuk pemindahan dan minta bantuan jika memungkinkan; contoh, dengan melipat lengan diatas dada. Lingkungan harus bebas dari penghalang dan alat-alat yang tidak dibutuhkan harus dipindahkan dari tempat tidur. Brankar harus ditempatkan sudut kanan tempat tidur sehingga pengangkat dapat berputar kedepan brankar dan memindahkan klien dengan cepat. Pada semua prosedur, keamanan merupakan prioritas. Keamanan dapat ditingkatkan pada tiga orang pengangkat apabila bekerja sama. Oleh karena itu salah seorang harus memimpin.
Kelompok 2 Mobilisasi Page 15

E. Posisi Yang Cocok Untuk Kasus Ny. D Pilihan Posisi menurut kelompok: Posisi Fowler dan semi fowler Alasan: Yang dapat mengurangi dan memperberat penyakitnya adalah meningkatkan atau mempertahankan ventilasi atau oksigenasi adekuat dan mencegah penyebaran infeksi. Yang dapat dilakukan saat gejala mulai dirasakan adalah berikan pasien posisi fowler dan semi fowler, bantu pasien untuk batuk dan latihan nafas dalam, bersihkan sekret dari mulut dan trakea. Keluhan psikologi yang dirasakan adalah pasien berfikiran dia adalah penyebar penyakit di keluarganya .

F. Cara Mengurangi Bahaya Mobilisasi Menurut perry & potter dalam buku fundamental keperawatan volume 2 adalah: Intervensi keperawatan klien imobilisasi harus berfokus mencegah dan meminimalkan bahaya imobilisassi. Intervensi harus diarahkan untuk mempertahankan fungsi optimal pada seluruh sistem tubuh. 1. Sistem metabolik Klien imobilisasi memerlukan diet tinggi protein, tinggi kalori dan tambahan vitamin B dan C. Protein diperlukan untuk mengganti jaringan yang rusak dan membangun kembali cadangan protein yang berkurang. Asupan tinggi kalori memberikan cukup energi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme dan menggantikan jaringan subkutan. Tambahan vitamin C diperlukan untuk keutuhan kulit dan penyembuhan luka. 2. Sistem pernapasan Intervensi keperawatan pada sistem pernapasan bertujuan mendukung ekspansi adekuat. a. Menigkatkan ekspansi dada dan paru Perawat mendukung ekspansi dada dengan beberapa intervensi. Mengubah posisi klien minimal setiap 2 jam memungkinkan area paru
Kelompok 2 Mobilisasi Page 16

dada

dan

paru-paru,

mencegah

statisekret

pulmonal,

mempertahankan kepatenan jalan nafas, dan mendukung pertukaran gas yang

untuk kembali mengembang. Pengembangan kembali mempertahankan elastisitas rekoil paru dan kebersihan area paru dari sekresi pulmunal. b. Mencegah statis sekret pulmonal Sekret yang menetap menumpuk di bronkus dan paru menyebabkan pertumbuhan bakteri yang selanjutnya berkembang menjadi pneumonial. Infeksi pulmonal tetap berkembang meskipun dilakukan intervensi untuk pencegahannya. Sekret yang stagnasi dapat di kurangi dengan mengubah posisi klien setiap 2 jam. Perubahan mereposisikan paru yang menggantung dan memobilisasikan sekret. c. Mempertahankan kepatenan jalan nafas Klien imobilisasi dan tirah baring umumnya mengalami kelemahan. Jika kelemahan berlanjut maka reflek batuk bertahap akan menjadi tidak efektif. Jika klien terlalu lemah dan tidak dapat membatukkan sekretnya maka perawat harus mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan menggunakan teknik suksion.sekret yang statis di paru mengancam berkembang kehidupan klien imobilisasi karena akan mudah menjadi bronkopneumonia hipostatik. Pada klien

imobilisasi, obstruksi jalan nafas merupakan hasil penyumbatan mukosa. Perawat harus melakukan terapi untuk mengurangi sumbatan mukosa dan mempertahankan kepatenan jalan nafas. 3. Sistem kardiovaskuler Efek tirah baring atau imobilisasi pada sistem kardiovaskuler meliputi hipotensi ortostatik, peningkatan beban jantung, dan pembentukan trombos. a. Mengurangi hipotensi ortostatik Klien yang tirah baring atau imobilisasi untuk waktu lama beresiko terjadi hipotensi ortostatik. Hipotensi ortostatik (postura) adalah suatu kondisi ketidakmampuan berat dengan karakteristik tekanan darah yang menurun ketika klien berdiri. Di tandai dengan sakit kepala ringan, pusing, kelemahan, kelelahan, kehilangan energi, gangguan visual, dispnea, ketidak nyamanan kepala atau leher, dan hampir pingsan atau pun pingsan ( gilde, 1993).
Kelompok 2 Mobilisasi Page 17

b. Mengurangi kerja beban jantung Perawat mengatur intervensi untuk mengurangi beban jantung, yang meningkat akibat imobilisasi. Intervensi primer perawat adalah untuk tidak menggunakan manuver valsavah. Ketika menggunakan manuver ini, klien menahan nafasnya, yang meningkatkan tekanan intratorakar. Penurunan aliran balik vena dan curah jantung, selanjutnya meningkatkan kerja beban jantung. c. Mencegah pembentukan trompus Cara paling efektif biaya untuk mengatasi masalah trombosis vena profunda adalah melalui program pemberian profilaksis yang tepat. Hal ini di mulai dengan identifikasi klien yang beresiko, di lanjutkan pada klien imobilisasi atau beresiko lainnya. 4. Sistem muskuloskeletal Klien imobilisasi harus mendapatkan beberapa latihan untuk mencegah otot yang tidak digunakan secara berlebihan, atrofi, dan kontraktur sendi. Jika klien tidak mampu menggerakan sebagian ataupun seluruh bagian tubuhnya maka perawat harus melakukan latihan gerak rentang gerak pasif untuk semua sendi yang imobilisasi ketika memandikan klien dan minimal 2 atau 3 kali sehari. 5. Sistem eliminasi Intervensi keperawatan untuk mempertahankan fungsi optimal pada perkemihan adalah menjaga hidrasi klien dengan baik tanpa menyebabkan distensi kandung kemih dan mencegah statis urin, terbentuk batu dan infeksi. Hidrasi yang adekuat ( mis. 2000-3000 ml cairan/ hari ) mencegah pembentukan batu ginjal dan infeksi saluran kemih. Klien dengan baik harus berkemih sejumlah urin. Apabila klien juga mengalami

inkontinensia maka perawat harus memodifikasi rencana keperawatan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan eleminasi urin.

6. Sistem integumen Resiko utama pada kulit akibat keterbatasan mobilisasi adalah dekubitus. Oleh karena itu intervensi keperawatan berfokus pada pencegahan penatalaksanaan.
Kelompok 2 Mobilisasi Page 18

a. Perubahan psikososial Pengkajian mengidentifikasi efek imobilisasi yang lama pada dimensi psikososial klien. Orang yang cenderung depresi atau suasana hati yang tidak menentu beresiko tinggi mengalami efek psikososial selama tirah baring atau imobilisasi. Perawat harus mengantisipasi perubahan status psikososial klien. Perawat bisa bersosialisasi secara informal sehari-hari. Aktifitas keperawatan dapat direncanakan sehingga klien dapat berbicara dan berinteraksi dengan perawat. b. Perubahan perkembangan Asuhan keperawatn harus mendukung stimulasi mental dan fisik, khususnya pada anak yang muda. Aktifitas bermain dapat dimasukan kedalam rencana keperawatan.

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 19

BAB III PEMBAHASAN KASUS A. Kasus Ny. D 50 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan demam, sesak nafas, batuk-batuk sudah satu minggu. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital suhu= 38oC, TD= 110/70 mmHg, Nadi= 86 x/m, RR= 24 x/m, bunyi nafas ronchi pda kedua paru saat batuk, klien mengeluarkan sputum berwarna kuning kehijauaan. Klien mengatakan sangat lemas dan tidak kuat melakukan aktivitas sehari-hari. B. Pengkajian 1. Anamnesa a. Keluhan Utama Saat masuk rumah sakit: Demam, sesak nafas, batuk-batuk sudah 1 minggu. Sangat lemas dan tidak kuat melakukan aktivitas sehari-hari. Saat pengkajian: Suhu= 38oC, TD= 110/70 mmHg, Nadi= 86 x/m, RR= 24 x/m, bunyi nafas ronchi pda kedua paru saat batuk, klien mengeluarkan sputum berwarna kuning kehijauaan.

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 20

2. Data Subjektif dan Data Objektif Data Subjek Mengeluh sesak nafas, batuk-batuk 1 minggu Sangat lemas dan tidak mampu melakukan aktivitas Data Objektif 1. Suhu : 38oC Normal: 36-37oC 2. TD : 110/70mmHg Normal: 120/80 mmHg 3. Nadi : 86 x/menit Normal: 60-100 x/m 4. Bunyi Ronki di kedua paru 5. Sputum warna kuning kehijauan 6. RR= 24 x/m Normal: 16-24x/m

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 21

3. Analisis Data No 1 Tanggal Ditemukan 15 Maret 2013 Data fokus Data Subjektif: Mengeluh sesak nafas, batuk-batuk 1 minggu. Data Objektif: 1. RR= 24 x/m 2. Bunyi Ronki di kedua paru 3. Sputum warna kuning kehijauan 2 15 Maret 2013 Data Subjektif: Mengatakan sangat lemas dan tidak mampu melakukan aktivitas Data Objektif: 1. TD : 110/70mmHg 2. Nadi : 86 x/menit 3 15 Maret 2013 Data Subjektif: Mengatakan sangat lemas Hipertermi Penyakit yang mempengaruhi Intoleran Aktifitas Kelemahan umum Masalah keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif Etiologi Penumpukkan sekret pada jalan nafas

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 22

dan tidak mampu melakukan aktivitas Data Objektif: 1. Suhu : 38C 2. TD : 110/70mmHg 3. Nadi : 86 x/menit C. Diagnosa Keperawatan No 1 Diagnosa keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d Penumpukkan sekret pada jalan nafas d.d sesak nafas, batuk-batuk 1 minggu, RR= 24 x/m, Bunyi Ronki di kedua paru, Sputum warna kuning kehijauan 2 Hipertermia b.d Penyakit yang mempengaruhi regulasi suhu d.d 2 suhu 38oC Intoleran Aktifitas b.d Kelemahan umum d.d Mengatakan sangat lemas dan tidak mampu melakukan aktivitas, TD : 110/70mmHg, Nadi : 86 x/menit 15 maret 2013 15 maret 2013 15 maret 2013 Tgl di temukan

regulasi suhu

Tgl tercapai

Paraf

17 maret 2013

Ns. Stevani

17 maret 2013

Ns. Stevani

17 maret 2013

Ns. Stevani

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 23

D. Intervensi Keperawatan No 1 No. Dx 1 Tujuan dan Keriteria Hasil Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 7x24 jam diharapkan masalah pembersihan jalan nafas tidak efektif teratasi. Kriteria hasil: 1. Klien dapat mempertahankan jalan nafas 2. Klien mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Intervensi 1. Anjurkan klien minum 8 gelas air/2 liter air perhari / susu. 2. Anjurkan klien untuk batuk efektif dan nafas dalam. 3. Anjurkan klien untuk istirahat antara interval batuk dan untuk merubah posisi setiap 12 jam bila memungkinkan. 4. Observasi karakteristik sputum yang keluar, perubahan warna, bau konsistensi/jumlah. 5. Laporkan segera kalau ada perubahan Rasional 1. air untuk pengenceran sekresi sedangkan susu dapat meningkatkan sekresi. 2. Teknik batuk yang tepat menjadi cara untuk mengeluarkan sputum. 3. Istirahat dan berganti posisi membantu untuk mengurangi kelelahan menyeluruh dan pengeluaran sputum. 4. Sputum normal adalah encer dan
Kelompok 2 Mobilisasi Page 24

Paraf Ns. Stevani

berwarna putih bening bila bercampur darah, purulen dapat menunjukkan 2 2 Tujuan: Setelah asuhan 3x24 jam dilakukan keperawatan masalah suhu Mandiri: 1. Kaji TTV 2. Anjurkan minum banyak 3. Berikan kompres hangat 4. Ajarkan keluarga KH: 1. Suhu= 37oC 2. Nadi= 60-100 x/m komprs dengan cara yang benar 5. Jelaskan pentingnya cairan untuk mempertahankan suhu tubuh Kolaborasi: 1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antipiretik 3 3 Tujuan: Setelah dilakukan pengkajian selama 7x24 jam gangguan mobilitas fifik klien teratasi Mandiri: 1. Mempertahankan posisi yang nyaman 2. Lakukan latihan aktif maupun pasif 3. Tingkatkan aktivitas sesuai batas toleransi
Kelompok 2 Mobilisasi Page 25

komplikasi. Mandiri: 1. Mengetahui perkembangan klien 2. Agar terjadi dehidrasi 3. Menurunnya suhu tubuh 4. Meningkatnya pengetahuan keluarga klien 5. Meningkatnya pengetahuan Kolaborasi: 1. Mengetahui keadaan umum klien Mandiri: 1. Mencegah iritasi dan komplikasi 2. meningkatkan sirkulasi dan mencegah tidak

Ns. Stevani

peningkatan

tubuh dapat teratasi

Ns. Stevani

KH: 1. TD= 140/80 mmHg 2. Nadi= 84 x/m 3. RR= 20 x/m 4. Klien bisa mengangkat ektremitas

4. Kolaborasi fisioterapi dalam program latihan 5. Beri posisi tidur yang nyaman (semi fowler).

kontraktur 3. mempertahank an tonus otot 4. kerjasama dalam perawatan holistik 5. Meningkatkan ekspansi paru.

E. Implementasi Keperawatan No 1 No. Dx 1 Implementasi 1. Menganjurkan klien minum 8 gelas air/2 liter air perhari / susu. 2. Menganjurkan klien untuk batuk efektif dan nafas dalam. 3. Menganjurkan klien untuk istirahat antara interval batuk dan untuk merubah posisi setiap 12 jam bila memungkinkan. 4. Mengobservasi karakteristik sputum yang keluar, perubahan 2 2 warna, bau konsistensi/jumlah. 1. Kaji TTV 2. Berikan kompres hangat dan Mengajarkan keluarga komprs dengan cara yang benar 3. Menjelaskan pentingnya cairan untuk mempertahankan suhu tubuh 1. Suhu : 36,5oC TD : 120/80mmHg Nadi : 85 x/menit RR= 19 x/m 2. Keluarga klien terlihat memberikan kompres dengan benar dan rutin 3. Klien dan keluarga mengerti
Kelompok 2 Mobilisasi Page 26

Hasil 1. Klien minum 6 gelas air perhari dan minum 2 gelas susu perhari 2. Klien merasa lega karena batuk sudah mulai berkurang 3. Klien merasa nyaman dan tidak sesak lagi 4. Sputum berwarna putih kental

paraf Ns. Stevani

Ns. Stevani

1. Melakukan latihan aktif maupun pasif 2. Tingkatkan aktivitas sesuai batas toleransi 3. Kolaborasi fisioterapi dalam program latihan 4. Memberi posisi tidur yang nyaman (semi fowler).

pentingnnya cairan 1. Pasien sudah tidak lemah lagi dan mampu menggerakan ekstremitas 2. Pasien tidak sesak lagi 3. Pasien terasa nyaman dalam bernafas

Ns. Stevani

F. Evaluasi No Tanggal 1 Diagnosa Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d Penumpukkan sekret pada jalan nafas d.d 17 maret 2013 sesak nafas, batuk-batuk 1 minggu, RR= 24 x/m, Bunyi Ronki di kedua paru, Sputum warna kuning kehijauan A: masalah teratasi 2 Hipertermia b.d Penyakit yang mempengaruhi regulasi suhu d.d suhu 38oC 17 maret 2013 O: Suhu : 36,5oC, TD: 120/80mmHg, Nadi : 85 x/menit, RR= 19 x/m, Keluarga klien terlihat memberikan kompres dengan benar dan rutin A: masalah teratasi 3 17 Intoleran Aktifitas b.d
Page 27

Evaluasi S: Klien merasa lega karena batuk sudah mulai berkurang, Klien merasa nyaman dan tidak sesak lagi O: Sputum berwarna putih kental, Klien minum 6 gelas air perhari dan minum 2 gelas susu perhari

Paraf Ns. Stevani

P: intervensi di hentikan S: Klien dan keluarga mengatakan mengerti pentingnnya cairan

Ns. Stevani

P: intervensi dihentikan S: Pasien terasa nyaman dalam

Ns.

Kelompok 2 Mobilisasi

Kelemahan umum d.d Mengatakan sangat lemas maret 2013 TD dan tidak mampu melakukan aktivitas, : 110/70mmHg, Nadi : 86 x/menit

bernafas O: Pasien sudah tidak lemah lagi dan mampu menggerakan ekstremitas, Pasien tidak sesak lagi A: masalah teratasi P: intervensi dihentikan

Stevani

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 28

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam masalah bersihan jalan nafas dapat teratasi, masalah hipertermi berhubungan dengan regulasi penyakit klien dapat teratasi, masalah intoleransi aktifitas berubungan dengan kelemahan umum dapat teratasi. Sehingga tidak ada intervensi berlanjut untuk klien Ny. D. B. Saran 1. Mahasiswa lebih memahami masalah mobilisasi karena sangat dibutuhkan agar tidak terjadi komplikasi 2. Mahasiswa lebih memhami macam-macam posisi untuk mempermudah dalam melakukan tindakan keperawatan 3. Mahasiswa menerapkan proses keperawatan dalam melakukan tindakan keperawatan
Kelompok 2 Mobilisasi Page 29

DAFTAR PUSTAKA

Nanda. 2011. Diagnosa keperawatan. Jakarta: buku kedokteran EGC

Perry and Potter. 2006. Fundamental of nursing. Volome 2 edisi 4. Jakarta: buku kedokteran EGC.

Perry and Potter. 2005. Buku saku keterampilan dan dasar prosedur dasar . Edisi 5. Jakarta: buku kedokteran EGC

Doengoes, Marlyn. Moorhouse, Mary frances. Geissler, Alice. 2000. Rencana asuhan keperawatan. Edisi 3. Jakarta: buku kedokteran EGC
Kelompok 2 Mobilisasi Page 30

OKEHHHHHH... LANJUTKAN.....

Kelompok 2 Mobilisasi

Page 31