Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HEPATITIS DI RUANG C3 ( Penyakit Dalam) RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

Disusun oleh :

Umar Akhsani
NIM. 1.1.10529

POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SEMARANG

2007

HEPATITIS
A. DEFINISI Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999). Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001). Adapun berdasarkan pada virus yang menyebabkan, hepatitis dibagi sebagai berikut: 1. Virus Hepatitis A (HAV) 2. Virus Hepatitis B (HBV) 3. Virus Hepatitis C (HCV) 4. Virus Hepatitis D (HDV) 5. Virus Hepatitis E (HEV) Hepatitis menduduki peringkat ke- 3 menurut Center of Disease Control USA setelah PHS dan cacar air. Karena meskipun mortalitas akibat penyakit ini rendah namun dampak morbiditas dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat besar. B. ETIOLOGI 1. Virus Metode transmisi Type A Fekal-oral melalui orang lain Type B Parenteral seksual, perinatal Type C Parenteral jarang seksual, orang ke orang, perinatal Menyebar luas, dapat berkem-bang sampai kronis Terutama melalui darah Type D Parenteral perinatal, memerlukan koinfeksi dengan type B Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut Melalui darah Type E Fekaloral

Keparahan

Sumber virus

Tak ikterik dan asimtomatik Darah, feces,

Parah

Sama dengan D

Darah, saliva, semen,

Darah, feces, 3

saliva 2. Alkohol

sekresi vagina

saliva

Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis. 3. Obat-obatan Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut. C. KLASIFIKASI 1. Hepatitis A HAV merupakan virus RNA berdiameter 27 nm yang dapat dideteksi dalam feses pada akhir inkubasi dan fase preikterik. Masa inkubasi ratarata 28 hari masa efektif tertinggi pada minggu ke-2 sebelum ikterik. Mula-mula kadar antibodi Ig M antu HAV meningkat dengan tajam sehingga memudahkan mendiagnosa adanya HAV. Pasca masa akut, antibodi Ig G anti HAV jadi dominan dan bertahan seterusnya. Keadaan ini menunjukkan bahwa penderita pernah menderita infeksi HAV dimasa lalu dan saat ini telah kebal. HAV terutama ditularkan melalui oral dan makanan. Kasus dapat timbul secara sporadis, sedangkan epidemi dapat timbul pada daerah dengan sanitasi yang buruk dan kontak sex. 2. Hepatitis B HBV merupakan virus DNA ukuran 42 nm dengan ciri memiliki cincin DNA sirkulasi yang tak lengkap dalam partikel pusat (HBcAg) yang dikelilingi lapisan protein permukaan (HBsAg). Virus ini juga mengandung antigen "e" (HBeAg). Sekitar 1-2 % hepatitis kronik HBsAg yang menetap lebih 6 bulan disebut sebagai carier HBV. Carier HBV adalah individu yang pemeriksaan HBsAg nya (+) sekurang-kurangnya 2x pemeriksaan yang berjarak 6 bulan atau hasil tes HBsAg nya positif tetapi IgM anti HBc negatif 1 spesimen tunggal. Antigen "e" merupakan bagian HBV yang larut dan timbul bersamaan atau segera setelah HBsAg dan menghilang beberapa minggu sebelum HBsAg menghilang. HBeAg yang 4

ditemukan pada infeksi akut menunjukkan adanya replikasi virus dan pasien dalam keadaan sangat menular. Penularan HBV melalui parenteral dan menembus membran mukosa terutama melalui hubungan seksual. Masa inkubasi rata-rata 120 hari. HBsAg ditemukan pada hampir semua cairan tubuh dari orang yang terinfeksi (darah, semen, saliva, air mata, ascites ASI, urine dan feses). 3. Hepatitis non A non B Terdapat 2 bentuk virus dari hepatitis tipe ini, yang satu dibawa oleh darah dan yang lain ditularkan secara ikterik yaitu Hepatitis C (HCV) dan hepatitis E (HEV). HCV merupakan virus RNA kecil terbungkus lemak, diameter 30-60 nm. HCV diduga ditularkan melalui enteral dan mungkin seksual. Masa inkuibasi dari virus ini 15-160 hari, 90-95 % diakibatkan oleh transfusi darah. 50% penderitanya akan menjadi kronis dan 20%nya akan menjadi sirosis hepatis. 4. Hepatitis D HDV merupakan virus RNA ukuran 35 nm. Virus ini membutuhkan HBsAG sebagai lapisan luar partikel yang menular, sehingga penderita yang positif terhadap HBsAg saja yang dapat tertular oleh HDV. Penularan melalui serum dan menyerang orang yang punya kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan penderita hemofilia. Masa inkubasi sekitar 2 bulan. HDV timbul dengan 3 keadaan klinis yaitu: Koinfeksi dengan HBV Supra infeksi carier HBV Hepatitis fulminan

5. Hepatitis E HEV adalah virus RNA kecil diameter 32-34 nm. Ditularkan melalui fekal-oral dan menjadi epidemi di negara berkembang. Paling sering 5

menyerang orang dewasa muda. Pada wanita hamil didapatkan angka mortalitas tinggi, masa inkubasi sekitar 6 minggu. D. TANDA DAN GEJALA 1. Masa tunas HAV HBV HCV (Virus non A dan non B) HDV HEV 2. Fase Prodromal Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B. 3. Fase Ikterik Berlangsung 4-6 minggu. Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan cepat lelah, Nyeri kwadran kanan atas, Hepatomegali, splenomegali, SGOT, SGPT meningkat, ikterik (bilirubin 5-20 mg %). 4. Fase Konvalensi Dimulai 1-2 minggu saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, berlangsung 2-6 minggu, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine : 15-45 hari (rata-rata 28 hari) : 40-180 hari (rata-rata 120 hari) : 15-160 hari (rata-rata 50 hari) : 60 hari : 42 hari

tampak normal, HBsAg negatif, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan cepat lelah. E. PATOFISIOLOGI Patways terlampir Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal. Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati. Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.

Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus. F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. a. Laboratorium Pemeriksaan pigmen Urobilirubin b. c. d. 2. direk, Bilirubun serum total, Bilirubin urine, Urobilinogen urine,Urobilinogen feses. Pemeriksaan protein Protein totel serum, Albumin serum, Globulin serum, HBsAg Waktu protombin Respon waktu protombin terhadap vitamin K Pemeriksaan serum transferase dan transaminase AST atau SGOT, ALT atau SGPT, LDH, Amonia serum. Radiologi Foto rontgen abdomen; Pemindahan hati dengan preparat technetium, emas atau rose bengal yang berlabel radioaktif; Kolestogram dan kalangiogram; Arteriografi pembuluh darah seliaka. 3. Pemeriksaan tambahan Laparoskopi, Biopsi hati. G. KOMPLIKASI Ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik toksik merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik. 8

PATHWAYS

Pengaruh alkohol, virus hepatitis, toksin

Hipertermi Perubahan kenyamanan Gangguan metabolisme karbohidrat lemak dan protein

Inflamasi pada hepar Gangguan suplay darah normal pada sel-sel hepar Kerusakan sel parenkim, sel hati dan duktulii empedu intrahepatik Nyeri

Peregangan kapsula hati Hepatomegali Perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas

Gglikogenesis menurun

Glukoneogenesis menurun Glikogen dalam hepar berkurang Glikogenolisis menurun Glukosa dalam darah berkurang Cepat lelah Keletihan Kerusakan sel parenkim, sel hati dan duktuli empedu intrahepatik Obstruksi Gangguan eksresi empedu Kerusakan sel eksresi Retensi bilirubin Regurgitasi pada duktuli empedu intra hepatik Bilirubin direk meningkat Peningkatan garam empedu dalam darah Pruritus

Anoreksia

Perubahan Nutrisi : Kurang Dari Kebutuhan

Kerusakan konjugasi Bilirubin tidak sempura dikeluarkan melalui duktus hepatikus Bilirubin direk meningkat Ikterus

Ikterus Perubaha kenyamanan

Larut dalam air Eksresi ke dalam kemih Billirubinuria dan kemih berwarna gelap

ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati 1. 2. Aktivitas Kelemahan, Kelelahan, Malaise Sirkulasi Bradikardi ( hiperbilirubin berat ); Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa. 3. 4. Asites. 5. 6. Neurosensori Peka terhadap rangsang, Cenderung tidur, Letargi, Asteriksis. Nyeri / Kenyamanan Kram abdomen, Nyeri tekan pada kuadran kanan, Mialgia, Atralgia, Sakit kepala, Gatal ( pruritus ) 7. Keamanan Demam, 8. Urtikaria, Lesi makulopopuler, Eritema, Splenomegali, Pembesaran nodus servikal posterior. Seksualitas Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan. B. DIAGNOSA KEPERAWATAN Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada penderita hepatitis : 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan Eliminasi Urine gelap, Diare feses warna tanah liat. Makanan dan Cairan Anoreksia, Berat badan menurun, Mual dan muntah, Peningkatan oedema,

10

metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah. 2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta. 3. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar 4. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis 5. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu 6. Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus C. INTERVENSI 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah. Hasil yang diharapkan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi. a. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan R/ keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan b. Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering R/ adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya. c. Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan

11

R/ akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan. d. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak R/ menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan e. Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak R/ glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolisme sehingga akan membebani hepar. 2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta. Hasil yang diharapkan : Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya) a. Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri R/ nyeri yang berhubungan dengan hepatitis sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat peregangan secara kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang mengalami perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri. b. Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri Akui adanya nyeri Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya R/ klienlah yang harus mencoba meyakinkan pemberi pelayanan kesehatan bahwa ia mengalami nyeri c. Berikan informasi akurat dan Jelaskan penyebab nyeri Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui

12

R/ klien yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih tenang dibanding klien yang penjelasan kurang/tidak terdapat penjelasan) d. Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi R/ kemungkinan nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri. 3. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar. Hasil yang diharapkan : Tidak terjadi peningkatan suhu a. Monitor tanda vital : suhu badan R/ sebagai indikator untuk mengetahui status hypertermi b. Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari) untuk mencegah dehidrasi, misalnya sari buah 2,5-3 liter/hari. R/ dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya dehidrasi c. Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan femur R/ menghambat pusat simpatis di hipotalamus sehingga terjadi vasodilatasi kulit dengan merangsang kelenjar keringat untuk mengurangi panas tubuh melalui penguapan d. Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat R/ kondisi kulit yang mengalami lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur. Juga akan mengurangi kenyamanan klien, mencegah timbulnya ruam kulit. 4. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis a. Jelaskan sebab-sebab keletihan individu 13

R/ dengan penjelasan sebab-sebab keletihan maka keadaan klien cenderung lebih tenang b. Sarankan klien untuk tirah baring R/ tirah baring akan meminimalkan energi yang dikeluarkan sehingga metabolisme dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit. c. Bantu individu untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, kemampuan-kemampuan dan minat-minat R/ memungkinkan klien dapat memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan meminimalkan pengeluaran energi untuk kegiatan yang kurang penting d. Analisa bersama-sama tingkat keletihan selama 24 jam meliputi waktu puncak energi, waktu kelelahan, aktivitas yang berhubungan dengan keletihan R/ keletihan dapat segera diminimalkan dengan mengurangi kegiatan yang dapat menimbulkan keletihan. e. Bantu untuk belajar tentang keterampilan koping yang efektif (bersikap asertif, teknik relaksasi) R/ untuk mengurangi keletihan baik fisik maupun psikologis 5. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu Hasil yang diharapkan : Jaringan kulit utuh, penurunan pruritus. a. Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering Sering mandi dengan menggunakan air dingin dan sabun ringan (kadtril, lanolin) Keringkan kulit, jaringan digosok ujung syaraf 14 R/ kekeringan meningkatkan sensitifitas kulit dengan merangsang

b. Cegah penghangatan yang berlebihan dengan pertahankan suhu ruangan dingin dan kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu tebal R/ penghangatan yang berlebih menambah pruritus dengan meningkatkan sensitivitas melalui vasodilatasi c. Anjurkan tidak menggaruk, instruksikan klien untuk memberikan tekanan kuat pada area pruritus untuk tujuan menggaruk R/ penggantian merangsang pelepasan hidtamin, menghasilkan lebih banyak pruritus d. Pertahankan kelembaban ruangan pada 30%-40% dan dingin R/ pendinginan akan menurunkan vasodilatasi dan kelembaban kekeringan 6. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi sekret. Hasil yang diharapkan : Pola nafas adekuat Intervensi : a. Awasi frekuensi , kedalaman dan upaya pernafasan R/ pernafasan dangkal/cepat kemungkinan terdapat hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen b. c. Auskultasi bunyi nafas tambahan R/ kemungkinan menunjukkan adanya akumulasi cairan Berikan posisi semi fowler R/ memudahkan pernafasan denagn menurunkan tekanan pada diafragma dan meminimalkan ukuran sekret d. e. Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif R/ membantu ekspansi paru dalam memobilisasi lemak Berikan oksigen sesuai kebutuhan R/ mungkin perlu untuk mencegah hipoksia

15

7. Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus Hasil yang diharapkan : Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. a. Gunakan kewaspadaan umum terhadap substansi tubuh yang tepat untuk menangani semua cairan tubuh Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan semua klien atau spesimen Gunakan sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh Tempatkan spuit yang telah digunakan dengan segera pada wadah yang tepat, jangan menutup kembali atau memanipulasi jarum dengan cara apapun R/ pencegahan tersebut dapat memutuskan metode transmisi virus hepatitis b. Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius, linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk membersihkan peralatan-peralatan dan permukaan yang terkontaminasi R/ teknik ini membantu melindungi orang lain dari kontak dengan materi infeksius dan mencegah transmisi penyakit c. Jelaskan pentingnya mencuci tangan dengan sering pada klien, keluarga dan pengunjung lain dan petugas pelayanan kesehatan. R/ mencuci tangan menghilangkan organisme yang merusak rantai transmisi infeksi d. Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk evaluasi departemen kesehatan yang tepat R/ rujukan tersebut perlu untuk mengidentifikasikan sumber pemajanan dan kemungkinan orang lain terinfeksi

16

DAFTAR PUSTAKA Carpenito Lynda Jual, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta. Gallo, Hudak, 1995, Keperawatan Kritis, EGC, Jakarta. Hadim Sujono, 1999, Gastroenterologi, Alumni Bandung. Moectyi, Sjahmien, 1997, Pengaturan Makanan dan Diit untuk Pertumbuhan Penyakit, Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, EGC, Jakarta. Smeltzer, suzanna C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart. Alih bahasa Agung Waluyo, Edisi 8, jakarta, EGC, 2001. Susan, Martyn Tucker et al, Standar Perawatan Pasien, jakarta, EGC, 1998. Reeves, Charlene, et al,Keperawatan Medikal Bedah, Alih bahasa Joko Setiyono, Edisi I, jakarta, Salemba Medika. Sjaifoellah Noer,H.M, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, Balai Penerbit FKUI, jakarta.

17