Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Peristiwa konduksi merupakan suatu peristiwa perpindahan energi dengan interaksi dari molekul-molekul suatu substance dimana terjadinya perpindahan panas dalam bentuk liquid, gas, padat tanpa adanya perpindahan-partikel-partikel dalam bahan tersebut melalui medium tetap. Joseph Fourier adalah salah seorang yang telah mempelajari proses perpindahan panas secara konduksi. Pada tahun 1827 ia merumuskan hukumnya yang berkenaan dengan konduksi. Tinjauan terhadap peristiwa konduktif dapat diambil dengan berbagaimacam cara (yang pada prinsipnya berakar pada hukum Fourier), mulai dari subjek yang sederhana yaitu hanya sebatang logam (composite bar). Banyak faktor yang mempengaruhi peristiwa konduksi. Diantaranya pengaruh luas penampang yang berbeda, pengaruh geometri, pengaruh permukaan kontak, pengaruh adanya insulasi ataupun pengaruh-pengaruh lainnya. Kesulitan dalam membuktikan penerapan hukum Fourier untuk berbagai variasi kondisi percobaan. Oleh karena itu pada percobaan ini diatur sedemikian rupa, yakni dengan dilakukan dalam empat tipe percobaan yang tentunya dengan menggunakan rumus-rumus yang berbeda dan dengan asumsi-asumsi yang sesuai. 1.2 Tujuan Untuk mengetahui penerapan hukum Fourier untuk kondisi linier sepanjang logam. Untuk mengetahui panas konduksi sepanjang composite bar dan menghitung koefisien perpindahan panas overall. Untuk mengetahui pengaruh perubahan geometris (cross sectional area) pada profil temperatur sepanjang konduktor panas.

Menghitung panas konduksi untuk sistem radial dan membandingkannya dengan Q supply. 1.3 Permasalahan Bagaimanakah kesesuaian antar Q supply dengan Q hasil perhitungan dari rumus Fourier, mulai dari peristiwa konduksi untuk satu jenis logam sampai untuk komposisi logam. Bagaimanakah pengaruh perubahan cross sectional area pada frofil temperatur dan termasuk untuk menghitung koefisien perpindahan pans overall untuk masingmasing sistem konduksi. Bagaimanakah mekanisme konveksi sebagai perpindahan panas pada liquid atau gas melalui gerakan molekul-molekulnya dan pengaruh perbedaan temperatur. 1.4 Hipotesa Hukum Fourier berlaku untuk perpindahan panas sistem konduksi pada zat padat, zat cair dan gas. Zat yang memiliki daya hantar panas atau thermal conductivity tinggia akan mempunyai heat transfer rate yang tinggi pula. Panas yang didapat dari perhitungan tidak akan berbeda jauh dengan panas yang disupply dari sumber arus. 1.5 Manfaat Untuk mengetahui dan membuktikan aplikasi dari hukum Fourier pada sistem konduksi. Dapat memahami prinsip kerja alat heat conduction apparatus. Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perpindahan panas suatu bahan.

Dapat membaca temperatur untuk setiap supply panas pada sistem konduksi linear dan radial.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Rangkuman from Heat Transfer Frank & White, halaman 175 - 190. 4.43 Lingkaran/Bola Persamaan yang memenuhi untuk lingkaran adalah T T ...(4.45) persamaan :

= . (r2 ) t r2 r r

dan yang utama pada kondisi yang sama untuk silinder berlaku persamaan 4.40 dan 4.41. Penyelesaian ini dijabarkan sebagai berikut : T - To ro -Bi2t/ro2 .sin (ir/ro) ...(4.46)

= = Ci . e T r - To dimana : 4(sin I - I cos i) Ci = 2I - sin (2I)


i=1

ri

...(4.47)

Pada keadaan ini konstanta persamaan di atas menjadi :

1 - cot (I): i = horo/k 4.44 Grafik Heister

...(4.48)

Dari persamaan 4.36, 4,42 dan 4,46 yang merupakan persamaan konduksi panas ditemukan pada tahun 1947 oleh M.P Heister. Heister menggambarkan 9 parameter grafik yang sekarang dikenal dengan grafik Heister. Geafik tersebut menggambarakan variasi terhadap , dengan x/L (atau r/ro), t/L2 (atau t/ro2). Pembacaan grafik ini jauh dari kebenaran, oleh karena itu kita menghubungkan grafik dengan appendiks 9 untuk menyelesaikan suatu persoalan. 4.45 Centerline Temperatur untuk t* > 0,2 Nilai Heister tidak akan terpenuhi jika dimensionless time t* = t/L2 (atau t/ro) lebih besar dari 0,2, bentuk tunggal persamaan yang series memenuhi kebenaran 1%. Dari nilai terbesar pada daerah center (x = 0 atau r = 0) dimana reaksi yang terjadi pada permukaan konveksi berlangsung secara lambat. Ini berarti bahwa perhitungan bulk pada daerah center untuk waktu yang lama, dimana persamaan Fourier menghasilkan : t* > 0,2 , centerpoint, r Cie - i2t ...(4.49)

dimana t* = t/L2 untuk lempengan dan t/ro2 untuk silinder dan lingkaran, sehingga perbedaan temperatur pada daerah center dinyatakan dalam exponential, analog dengan pendekatan yang berbeda konstan. Temperatur pada nilai yang beda saling berhubungan dengan temperatur daerah center dihubungkan dengan persamaan sederhana jika t* > 0,2 lempengan mass-Lumped (persamaan 4.12) tetapi dengan nilai konstanta

= C cos (i x/L) silinder = C JO (I r/rO) lingkaran = C rO/ri sin(i r/rO)

...(4.50a)

...(4.50b)

...(4.50c)

Nilai Ci dan i diperoleh dari persamaan (4.37 & 4.38),(4.43 & 4.44) atau (4.47 & 4.48) dan ditabelkan dalam tabel 4.3 versus Biot Number dalam tabel 4.1 dan tergambar pada gambar 4.7. Biot Number harganya sama dengan hOL/k untuk lempengan dimana L adalah half - thickness dan hOrO/k untuk silinder dan lingkaran.

Gambar 4.7 4.46 Total transient Heat Flux Penambahan temperatur lokal, banyak digunakan untuk menghitung tital heat loss selama terjadinya proses pemanasan dan pendinginan. Q(t) C (T-Ti)dv dv ...(4.51)

= = (1-) Qn C(Tr -TO)VO VO

dimana VO adalah total volume. Dengan mensubstitusikan dari persamaan (4.50) dan diintergralkan, nilai valid dengan keakuratan 1% untuk t* 0,2 lempengan Q = 1 - (C/i)sin I QO ...(5,52a)

silinder Q = 1 - (2 C/i) Ji(i) QO lingkaran Q = 1 - (3 C/i3)[sin(i) - i cos(i)] ...(4.52c) QO dimana C dihitung dengan persamaan (4.49) dan dengan nilai i konstan. Dan Ci diambil dari tabel 4.1 untuk menuju bentuk yang cocok. 4.5 Multidimensional dengan Metode Produk Penyelesaian klasik untuk semi infinite dan finite thickness dari bagian 4.3 dan 4.4 yang dapat juga digunakan untuk menurunkan persamaan untuk bentuk yang menarik. Ilustrasi dapat dilihat pada gambar 4.8 kita menggunakan sudden immersion untuk memecahkan problem untuk Silinder Finithlength pada kondisi konveksi (hO, TO) pada semua sisi dan temperatur mula-mula T i. Differential persamaan diselesaikan sebagai berikut : 1 2 1 ...(4.53) ...(4,52b)

(r ) + = r r r y2 t

dimana : = (T - TO)/(Ti - TO), kondisi mula-mula (x,r,)- 1. Kondisi batas untuk konveksi adalah : pada bagian atas & bawah -k = i hO ...(4.54)

x pada semua sisi -k = hO r Kenyataannya persamaan adalah produk yang diselesaikan dengan analisis yang mudah : (x,r,t) = P(x,t) (r,t) ...(4.56) ...(4.55)

Substitusikan persamaan (4.56) dalam persamaan (4.53, 4.54, 4.55) dan variabel terpisah. Untuk nilai bebas pada P dan c lempengan 2P 1 P

= . x2 t

P(x,) = 1 P -k rO = hO C (rO,t) x

silinder 1 C 1 C

(r ) = .

C(r,) = 1 C -k rO = hO C (rO,t) r

Gambar 4.8

Tabel 4.2 menunjukkan 9 contoh penggunaan metode untuk penyelesaian dari bentuk yang bervariasi. Semua produk didasarkan pada 3 penyelesaian dasar : 1. Semi-infinite-solid T(x,t) - TO S(x,t) = T i - TO 2. Finite-width plate T(v,t) - TO P(v,t) = T i - TO 3. Infinite silinder T(r,t) - TO C(r,t) = T i - TO dari pers(4.42) dari pers(4.36) dari pers (4.30)

catatan dalam tabel 4.2 koordinat x sebagai fungsi S berasal dari lapisan Inward, x sebagai lempengan dan r sebagai silinder. Dan fungsi S didefinisikan sebagai perbedaan dari persamaan semi-infinite (4.30). S = (T - TO)/(Ti - TO) = 1 - selama = (T - Ti)/(TO - Ti) Penjelasan lebih jauh dan pembuktian digunakan pada metode produk pada area 5.2. 4.5.1 Perpindahan Total Panas pada Gabungan Body/Lempengan Satu dimensi total heat flux Q/Q0 untuk lempengan dan untuk silinder dapat dihitung dengan persamaan (4.52a) dan (4.52b). Ambil R = Q/Q0 untuk persaman yang cocok jika gabungan lempeng dibentuk dari intersection body 1 dan body 2, total heat flux adalah : R = R1 + R2(1 - R1) Dalam gambar 4.8 sebagai contoh body 1 adalah lempeng dan body 2 adalah infinite silinder. Jika gabungan terdiri dari 3 body, maka : R = R1 + R2(1 - R1) + R3(1 - R1)(1 - R2) dimana : Ri = Qi/Q0 dapat dihitung dari persamaan (4.52) untuk bentuk yang diberikan

BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan

Alat : - Power Supply - Stavolt - Heat conduction apparatus - Linier module & radial module - pompa - Ember

Bahan : - Air pendingin - Material sample (Kuningan besar [A], kuningan kecil [B] dan stainless stell[c])

3.2 Prosedur Percobaan 1. Rangkailah alat 2. Hidupkan power supply 3. Atur watt meter sesuai yang dikehendaki (untuk sistem linier dan radial) 4. Catat temperatur masuk air pendingin seketika setelah power supply dihidupkan. 5. Catatlah harga-harga temperatur yang terbaca untuk T 1, T2, sampai dengan T9 untuk sistem linier dan T1, T2, T3, T7, T8 dan T9 untuk sistem radial, apabila harga watt meter stabil seperti yang dikehendaki. Catatan : Pembacaan temperatut T1 samapi T9 dilakukan dengan memutar temperatur selector switch. 1. Lakukan langkah 1 sampai 5 terhadap masing-masing jenis logam A, B dan C untuk setiap variasi sistem.

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Hasil Pengamatan Sistem linier Material Tin Q T1 T2 T3 T


4

T5

T6

T7

T8

T9

kuningan besar kuningan kecil stainless

30

20 30

73,3 80,2 86,2 87,7 98,4 99,7

76,4 85,2 87,6 90,5 101,1 102,5

73,3 81,3 83,0 86,5 92,2 93,4

60,5 61,4 -

59,4 60,2 -

30,2 30,3 31,1 31,2 30,5 30,6

30,0 30,1 30,1 30,2 30,1 30,1

29,9 29,9 30,0 30,0 29,9 30,0

30

20 30

30

20 30

Sistem Radial Ti
n

T
1

T2

T3

T
4

T5

T6

T7

T8

T9

3 0

2 0 3 0

4 2, 6 4 3, 2

39, 6 40, 3

36, 6 37, 3

33, 1 33, 4

31, 7 32, 0

30, 5 30, 7

Data ukuran material Sisten Linier : - Kuningan besar d = 25 mm - Kuningan kecil d = 13 mm

- stainless

d = 25 mm

x = 10 mm Sistem Radial : - R0 - RL - x -L = 10 mm = 50 mm = 10 mm = 3 cm

4.2 Pengolahan data Sistem Linier x = 10 mm = 1.10-2 m Q = -K A dT/dx = -K A T/x

(1) Material kuningan besar


Y 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

Q = 20 Q = 30 X 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

D = 25 mm = 25.10-3 m A = konstan = /4 D2 = 3,14/4 (25.10-3) = 4,91.10-4 m - Untuk Q = 20 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T5 = 60,5oC ; K1 = 119,68 W/m.K

T6 = 59,4oC ; K2 = 119,504 W/m.K T7 = 30,2oC ; K3 = 114,832 W/m.K K1 + K2 + K3 119,68 + 119,504 + 114,832 Krata-rata= = 3 = 118,005 W/m.K T 3 + T4 73,3 + 67,3 Tin = = = 70,3oC 2 2 T 6 + T7 59,4 + 30,2 Tin = = = 44,8oC 2 qxH 2 20 x 3,5.10 -2 3

KH = = = 475,22 A(T1 - Tin) 4,91.10-4 (73,3 - 70,3) q x XS 20 x 4.10-2 K3 = = = 644,00 A(Tin - Tout) 4,91.10-4 (70,3 - 44,8) q x XC 20 x 4.10-2 KC = = = 95,63 A(Tout - T9) 4,91.10-4 (44,8 - 29,9) 1 H XS XC 3.5.10-2 4.10-2 3,5.10-2

= + + = + + u KH K3 KC 475,22 64,00 95,63

= 0,00106 u = 943,396

maka : (44,8 - 70,3) Q = - x 4,91.10-4 x 118,005 = 147,74 1.10-2 20 - 147,74 % Kesalahan = x 100% = 638,7% 20

sistem radial - Untuk Q = 30 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T1 = 43,2oC ; K1 = 116,912 W/m.K T2 = 40,3oC ; K2 = 116,448 W/m.K T3 = 37,3oC ; K3 = 115,968 W/m.K T7 = 33,4oC ; K3 = 115,344 W/m.K T8 = 32,0oC ; K3 = 115,120 W/m.K T9 = 30,7oC ; K3 = 114,912 W/m.K K1 + K2 + K3 + K3 + K8 + K9 Krata-rata = 3 116,912 + 116,448 + 115,968 + 115,344 + 115,120 + 114,912 =

3 = 115,784 W/m.K (43,2 - 30,7) Q = 2 x 3,14 x 115,784 x x 3.10-2 ln 5.10 -2/10-2 = 170,41 W 30 - 170,41 % Kesalahan = x 100% = 468,03% 30

BAB V PEMBAHASAN Pada percobaan heat conduktion ini kita mempelajari tentang perpindahan panas dari suatu material lain secara konduksi. Percobaan heat conduction ini dilakukan dengan dua cara yaitu cara linier dab radial. Pada percobaan secara linier yang dihitung adalah laju perpindahan panas secara linier sepanjang batang logam. Material logam yang digunakan terdiri dari kuningan besara, kuningan kecil dan stainless steel. Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya laju perpindahan panas yaitu antara lain luas penampang, panjang penampang dan juga jenis bahan. Pada percobaan secara radial kita mengetahui profil temperatur secara radial sehingga kita bisa menghitung laju perpindahan panas. Harga T1 lebih besar dari harga T2 dan seterusnya sampai T 9, begitu juga bentuk radial hal logam (T4, T5, T6). Untuk harga Q dihitung pada tiap beda temperatur dari percobaan. Ternyata harga Q yang didapatkan dari perhitungan jauh lebih besar dari harga Q yang disupply. ini disebabkan oleh adanya aliran panas dari heater (T 1, T2, T3) ke arah cooler (T7, T8, T9) melalui material

Hal ini mungkin disebabkan oleh pembacaan temperatur pada saat harga Q pada watt meter belum cukup stabil dan juga laju panas selalu bahan yang dipakai. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari perubahan luas penampang, tebal penampang dan jenis bahan terhadap profil temperatur sepanjang konduktor panas. Ternyata semua hal tersebut memberi pengaruh yang cukup besar dari perhitungan laju perpindahan panas, dimana pada teori luas penampang tidaklah mempengaruhi hasil perhitungan laju perpindahan panas. Terjadinya perbedaan ini disebabkan oleh laju alir Q supply yang selalu berubah-ubah sehingga pembacaan temperatur menjadi sulit. tak menentu atau selalu berubah-ubah. Atau mungkin juga karena adanya pengaruh jenis bahan dan ketebalan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Faktor-faktor yang mempengaruhi laju perpindahan panas yaitu luas penampang, penjang penampang dan jenis bahan. Semakin besar luas penampangnya maka semakin besar pula laju perpindahan panas. semakin panjang penampang maka semakin lambat/kecil laju perpindahan panas. Perbedaan temperatur pada setiap bahan menunjukkan konduktivitas masingmasing bahan tersebut. Panas konduksi yang dihasilkan dari perhitungan pada berbagai sistem seharusnya sebanding dengan Q yang disupply. 5.2 saran

Sebaiknya pembacaan temperatur pada alat haruslah hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.

benar-benar tepat agar

- Untuk Q = 30 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T5 = 61,4oC ; K1 = 119,824 W/m.K T6 = 60,2oC ; K2 = 119,632 W/m.K T7 = 30,3oC ; K3 = 114,848 W/m.K K1 + K2 + K3 119,824 + 119,632 + 114,848 Krata-rata 3 = = 3 = 118,101 W/m.K T3 + T4 81,3 + 70,0 Tin 2 Tin 2 = = = 75,65oC 2 = = = 45,25oC 2 T6 + T7 60,2 + 30,3

qxH

30 x 3,5.10 -2

KH = = = 470,85 A(T1 - Tin) 4,91.10-4 (80,2 - 75,65) q x XS 30 x 4.10-2 K3 = = = 80,537 A(Tin - Tout) 4,91.10-4 (75,65 - 45,25) q x XC 30 x 4.10-2 KC = = = 140,00 A(Tout - T9) 4,91.10-4 (45,25 - 29,9) 1 H XS XC 3.5.10-2 4.10-2 3,5.10-2

= + + = + + u u KH K3 KC 470,85 80,537 140,00 = 8,21.10-4 = 1218,027

maka : (45,25 - 75,65 Q = - x 4,91.10-4 x 118,005 = 176,28 1.10-2 30 - 176,28 % Kesalahan = x 100% = 487,6% 30

(2) Material kuningan kecil

Y 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 X Q = 30 Q = 20

D = 13 mm = 13.10-3 m A = konstan = /4 D2 = 3,14/4 (13.10-3) = 1.32.10-4 m - Untuk Q = 20 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T5 = 58,3oC ; K1 = 119,328 W/m.K T6 = 45,0oC ; K2 = 117,2 W/m.K T7 = 31,1oC ; K3 = 114,976 W/m.K K1 + K2 + K3 119,328 + 117,2 + 114,976 Krata-rata 3 = = 3 = 117,168 W/m.K

T3 + T4 83,0 + 71,2 Tin 2 Tin 2 qxH = = = 77,1oC 2 = = = 38,05oC 2 20 x 3,5.10 -2 T6 + T7 45,0 + 31,1

KH = = = 5,83.102 A(T1 - Tin) 1.32.10-4 (36,2 - 77,1) q x XS 20 x 4.10-2 K3 = = = 1,55.102 A(Tin - Tout) 1,32.10-4 (77,1 - 38,05) q x XC 20 x 4.10-2 KC = = = 6,58.102 A(Tout - T9) 1,32.10-4 (38,05 - 30,0) 1 H XS XC 3.5.10-2 4.10-2 3,5.10-2

= + + = + + u u KH K3 KC 5,83.102 6,54.102 6,58.102 = 4,77.10-4 = 2096,43

maka : (38,05 - 77,1) Q = - x 1,32.10-4 x 117,168 = 60,39 1.10-2

20 - 60,39 % Kesalahan = x 100% = 201,95% 20 - Untuk Q = 30 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T5 = 60,01oC ; K1 = 119,616 W/m.K T6 = 73,05oC ; K2 = 121,688 W/m.K T7 = 31,2oC ; K3 = 114,992 W/m.K K1 + K2 + K3 119,616 + 121,688 + 114,992 Krata-rata 3 = = 3 = 118,765 W/m.K T3 + T4 86,5 + 73,1 Tin 2 Tin 2 qxH = = = 79,8oC 2 = = = 52,125oC 2 30 x 3,5.10 -2 T6 + T7 73,05 + 31,2

KH = = = 10,07.102 A(T1 - Tin) 1.32.10-4 (87,7 - 79,8) q x XS 30 x 4.10-2 K3 = = = 3,28.102 A(Tin - Tout) 1,32.10-4 (79,8 - 52,125)

q x XC

30 x 4.10-2

KC = = = 3,59.102 A(Tout - T9) 1,32.10-4 (52,125 - 30,0) 1 H XS XC 3.5.10-2 4.10-2 3,5.10-2

= + + = + + u u KH K3 KC 10,07.102 3,28.102 3,59.102 = 2,54.10-4 = 3937,01

maka : (52,125 - 79,8) Q = - x 1,32.10-4 x 118,765 = 43,38 1.10-2 30 - 43,38 % Kesalahan = x 100% = 44,6% 20

(3) Material stainless steel

Y 120

100

80

Q = 30 Q = 20

60

40

20

0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

D = 25 mm = 25.10-3 m A = konstan = /4 D2 = 3,14/4 (25.10-3) = 4,91.10-4 m - Untuk Q = 20 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T5 = 59,9oC ; K1 = 15,198 W/m.K T6 = 43,0oC ; K2 = 14,86 W/m.K T7 = 30,5oC ; K3 = 14,61 W/m.K K1 + K2 + K3 15,198 + 14,86 + 14,61 Krata-rata 3 = = 3 = 14,88 W/m.K

T3 + T4 92,2 + 74,01 Tin 2 Tin 2 qxH = = = 83,105oC 2 = = = 36,75oC 2 20 x 3,5.10 -2 T6 + T7 43,0 + 30,5

KH = = = 0,93.102 A(T1 - Tin) 4.91.10-4 (98,4 - 83,105) q x XS 20 x 4.10-2 K3 = = = 0,35.102 A(Tin - Tout) 4,91.10-4 (83,105 - 36,75) q x XC 20 x 4.10-2 KC = = = 2,08.102 A(Tout - T9) 4,91.10-4 (36,75 - 29,9) 1 H XS XC 3.5.10-2 4.10-2 3,5.10-2

= + + = + + u u KH K3 KC 0,93.102 0,35.102 2,08.102 = 16,87.10-4 = 592,76

maka : (36,75 - 83,105) Q = - x 4,91.10-4 x 14,88 = 33,86 1.10-2

20 - 33,86 % Kesalahan = x 100% = 69,3% 20 - Untuk Q = 30 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T5 = 62,05oC ; K1 = 15,241 W/m.K T6 = 44,9oC ; K2 = 14,898 W/m.K T7 = 30,6oC ; K3 = 14,612 W/m.K K1 + K2 + K3 15,241 + 14,898 + 14,612 Krata-rata 3 = = 3 = 14,917 W/m.K T3 + T4 93,4 + 76,9 Tin 2 Tin 2 qxH = = = 85,15oC 2 = = = 37,75oC 2 30 x 3,5.10 -2 T6 + T7 44,9 + 30,6

KH = = = 1,46.102 A(T1 - Tin) 4.91.10-4 (99,7 - 85,15) q x XS 30 x 4.10-2 K3 = = = 0,51.102 A(Tin - Tout) 4,91.10-4 (85,15 - 37,75)

q x XC

30 x 4.10-2

KC = = = 2,76.102 A(Tout - T9) 4,91.10-4 (37,75 - 30,0) 1 H XS XC 3.5.10-2 4.10-2 3,5.10-2

= + + = + + u u KH K3 KC 1,46.102 0,51.102 2,76.102 = 11,5.10-4 = 869,56

maka : (37,75 - 85,15) Q = - x 4,91.10-4 x 14,917 = 34,71 1.10-2 30 - 34,71 % Kesalahan = x 100% = 15,7% 20

Sistem Radial

Y 45 40 Q = 20 35 30 25 20 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 X Q = 30

R0 RL x L

= 10 mm = 10-2 m = 50 mm = 5.10-2 m = 10 mm = 10-2 m = 3 cm = 3.10-2 m (T 0 - TL)

Q = 2L Krata-rata . , dimana T0 = T1 ; TL = T9 ln RL/R0 - Untuk Q = 20 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T1 = 42,6oC ; K1 = 116,816 W/m.K T2 = 39,6oC ; K2 = 116,336 W/m.K T3 = 36,6oC ; K3 = 115,856 W/m.K

T7 = 33,1oC ; K3 = 115,296 W/m.K T8 = 31,7oC ; K3 = 115,072 W/m.K T9 = 30,5oC ; K3 = 114,88 W/m.K

K1 + K2 + K3 + K3 + K8 + K9 Krata-rata = 3 116,816 + 116,336 + 115,856 + 115,296 + 115,072 + 114,88 = 3 = 115,70 W/m.K (42,6 - 30,5) Q = 2 x 3,14 x 115,760 x x 3.10-2 ln 5.10-2/10-2 = 164,84 W 20 - 164,84 % Kesalahan = x 100% = 724,2% 20

- Untuk Q = 30 W Koefisien perpindahan panas untuk : (app C. Frank & White) T1 = 43,2oC ; K1 = 116,912 W/m.K T2 = 40,3oC ; K2 = 116,448 W/m.K T3 = 37,3oC ; K3 = 115,968 W/m.K T7 = 33,4oC ; K3 = 115,344 W/m.K

T8 = 32,0oC ; K3 = 115,120 W/m.K T9 = 30,7oC ; K3 = 114,912 W/m.K K1 + K2 + K3 + K3 + K8 + K9 Krata-rata = 3 116,912 + 116,448 + 115,968 + 115,344 + 115,120 + 114,912 = 3 = 115,784 W/m.K (43,2 - 30,7) Q = 2 x 3,14 x 115,784 x x 3.10-2 ln 5.10-2/10-2 = 170,41 W 30 - 170,41 % Kesalahan = x 100% = 468,03% 30

BAB V PEMBAHASAN

Pada percobaan heat conduktion ini kita mempelajari tentang perpindahan panas dari suatu material lain secara konduksi. Percobaan heat conduction ini dilakukan dengan dua cara yaitu cara linier dab radial. Pada percobaan secara linier yang dihitung adalah laju perpindahan panas secara linier sepanjang batang logam. Material logam yang digunakan terdiri dari kuningan besara, kuningan kecil dan stainless steel. Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya laju perpindahan panas yaitu antara lain luas penampang, panjang penampang dan juga jenis bahan. Pada percobaan secara radial kita mengetahui profil temperatur secara radial sehingga kita bisa menghitung laju perpindahan panas. Harga T1 lebih besar dari harga T2 dan seterusnya sampai T 9, begitu juga bentuk radial hal logam (T4, T5, T6). ini disebabkan oleh adanya aliran panas dari heater (T 1, T2, T3) ke arah cooler (T7, T8, T9) melalui material

Untuk harga Q dihitung pada tiap beda temperatur dari percobaan. Ternyata harga Q yang didapatkan dari perhitungan jauh lebih besar dari harga Q yang disupply. Hal ini mungkin disebabkan oleh pembacaan temperatur pada saat harga Q pada watt meter belum cukup stabil dan juga laju panas selalu bahan yang dipakai. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari perubahan luas penampang, tebal penampang dan jenis bahan terhadap profil temperatur sepanjang konduktor panas. Ternyata semua hal tersebut memberi pengaruh yang cukup besar dari perhitungan laju perpindahan panas, dimana pada teori luas penampang tidaklah mempengaruhi hasil perhitungan laju perpindahan panas. Terjadinya perbedaan ini disebabkan oleh laju alir Q supply yang selalu berubah-ubah sehingga pembacaan temperatur menjadi sulit. tak menentu atau selalu berubah-ubah. Atau mungkin juga karena adanya pengaruh jenis bahan dan ketebalan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Faktor-faktor yang mempengaruhi laju perpindahan panas yaitu luas penampang, penjang penampang dan jenis bahan. Semakin besar luas penampangnya maka semakin besar pula laju perpindahan panas. semakin panjang penampang maka semakin lambat/kecil laju perpindahan panas. Perbedaan temperatur pada setiap bahan menunjukkan konduktivitas masingmasing bahan tersebut. Panas konduksi yang dihasilkan dari perhitungan pada berbagai sistem seharusnya sebanding dengan Q yang disupply.

5.2 saran

Sebaiknya pembacaan temperatur pada alat haruslah hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.

benar-benar tepat agar

DAFTAR PUSTAKA

Treyyball, R.E,1987, Mass Transfer Operation, 3rd edition, Mc Graw Hill Book Company, New York. White, F.M, 1988, Heat and Mass Transfer, Addison Wesley Publishing Company, Inc , Canada. Welty, J.R,dkk, 1984, Fundamental of Momentum, Heat and Mass Transfer, 3rd edition, John Wiley & Sons Inc, New York.

BAB VII GAMBAR ALAT