Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN Trauma maksilofacial berhubungan dengan cedera apapun pada wajah atau rahang yang disebabkan oleh kekuatan

fisik, benda asing atau luka bakar. Trauma maksilofasial termasuk cedera pada salah satu struktur tulang ataupun kulit dan jaringan lunak pada wajah. Setiap bagian dari wajah mungkin dapat terpengaruh. Gigi dapat lepas atau goyang. Mata dengan otot-ototnya, saraf dan pembuluh darahnya mungkin mengalami cedera sehingga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, diplopia, pergeseran posisi dari bola mata dan juga seperti halnya rongga mata yang dapat retak oleh pukulan yang kuat. Kerusakan jaringan lunak seperti edema, kontusio, abrasi, laserasi dan avulsi. Rahang bawah (mandibula) dapat mengalami dislokasi. Meskipun dilengkapi oleh otot-otot yang kuat untuk mengunyah, rahang termasuk tidak stabil bila dibandingkan dengan tulang-tulang lainnya sehingga dengan mudah mengalami dislokasi dari sendi temporomandibular yang menempel ke tengkorak.

Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofacial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya. Trauma maksilofacial ini dibagi atas fraktur pada organ yang terjadi yaitu2 : 1. Fraktur tulang hidung 2. Fraktur tulang zigoma dan arkus zigoma 3. Fraktur tulang maksila (mid facial) 4. Fraktur tulang orbita 5. Fraktur tulang mandibula Trauma maksilofacial merupakan salah satu tantangan terbesar untuk pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena insidennya yang tinggi. Dari penelitian dilaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari trauma maksilofacial. Selain itu penyebab lainnya yang tersering ialah kekerasan fisik, konsumsi

alkohol yang dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan kecelakaan, serta trauma maksilofacial akibat olahraga. TINJAUAN PUSTAKA A. Fraktur Tulang Hidung Pada trauma muka paling sering terjadi fraktur hidung. Diagnosis fraktur hidung dapat dilakukan dengan inspeksi, palpasi dan pemeriksaan hidung bagian dalam dilakukan dengan rinoskopi anterior, biasanya ditandai oleh adanya pembengkakan mukosa hidung, terdapatnya bekuan dan kemungkinan adanya robekan pada mukosa septum, hematoma septum, dislokasi atau deviasi pada septum. Arah gaya cedera pada hidung menentukan pola fraktur. Bila arahnya dari depan akan menyebabkan fraktur sederhana pada tulang hidung yang kemudian dapat menyebabkan tulang hidung menjadi datar secara keseluruhan. Bila arahnya dari lateral dapat menekan hanya salah satu tulang hidung namun dengan kekuatan yang cukup, kedua tulang dapat berpindah tempat. Gaya lateral dapat menyebabkan perpindahan septum yang parah. Sedangkan gaya dari bawah yang diarahkan ke atas dapat menyebabkan fraktur septum parah dan dislokasi tulang rawan berbentuk segi empat. Gambaran klinis yang biasa ditemukan pada pasien dengan riwayat trauma pada hidung atau wajah, antara lain5 : - Epiktasis - Perubahan bentuk hidung - Obstruksi jalan nafas - Ekimosis infraorbital Pemeriksaan penunjang berupa foto os nasal, foto sinusparanasal posisi Water dan juga bila perlu dapat dilakukan pemeriksaan CT scan untuk melihat fraktur hidung atau kemungkinan fraktur penyerta lainnya.

Fraktur nasal dapat diklasifikasikan menjadi : 1. Fraktur hidung sederhana, merupakan fraktur pada tulang hidung saja sehingga dapat dilakukan reposisi fraktur tersebut dalam analgesi lokal. Akan tetapi pada anak-anak atau orang dewasa yang tidak kooperatif tindakan penanggulangan memerlukan anestesi umum. 2. Fraktur tulang hidung terbuka, menyebabkan perubahan tempat dari tulang hidung tersebut yang juga disertai laserasi pada kulit atau mukoperiosteum rongga hidung. 2Kerusakan atau kelainan pada kulit dari hidung diusahakan untuk diperbaiki atau direkonstruksi pada saat tindakan. 3. Fraktur tulang nasoorbitoetmoid kompleks Jika nasal piramid rusak karena tekanan atau pukulan dengan beban berat akan menimbulkan fraktur yang hebat pada tulang hidung, lakrimal, etmoid, maksila dan frontal. Tulang hidung bersambungan dengan prosesus frontalis os maksila dan prosesua nasalis os frontal. Bagian dari nasal piramid yang terletak antara dua bola mata akan terdorong ke belakang. Terjadilah fraktur nasoetmoid, fraktur nasomaksila dan fraktur nasoorbita. Untuk memperbaiki patah pada tulang hidung tersebut, tindakan yang dapat dilakukan ialah : 1. Reduksi tertutup, yang dilakukan dengan analgesia lokal atau analgesia lokal dengan sedasi ringan. Indikasi : - Fraktur sederhana tulang hidung - Fraktur sederhana septum hidung Reduksi tertutup paling baik dilakukan 1-2 jam sesudah trauma karena pada waktu tersebut edem yang terjadi mungkin sangat sedikit. 2. Reduksi terbuka, dilakukan dengan sedasi yang kuat atau analgesi umum. Indikasi :

- Fraktur dislokasi ekstensif tulang dan septum hidung - Fraktur septum terbuka - Fraktur dislokasi septum kaudal - Persisten deformitas setelah reduksi tertutup B. Fraktur Tulang Zigoma dan Arkus Zigoma 1. Fraktur Zigoma Fraktur tulang zigoma atau tulang malar selalu disebabkan oleh kekerasan langsung. Tulang ini biasanya ke belakang atau ke medial menuju antrum maksila sehingga berdampak disana. Fraktur sering berupa communited fracture dan mungkin memiliki ekstensi sepanjang dasar dari rongga orbita atau rima orbita. Tulang zigoma ini dibentuk oleh bagian-bagian yang berasal dari tulang temporal, tulang frontal, tulang sfenoid dan tulang maksia. Bagian-bagian dari tulang yang 3membentuk zigoma ini memberikan sebuah penonjolam pada pipi di bawah mata sedikit ke arah lateral. Fraktur tulang zigoma ini agak berbeda dengan fraktur tripod atau trimalar. Gejala dari fraktur zigoma antara lain adalah 1. Pipi menjadi lebih rata (jika dibandingkan dengan sisi kontralateral atau sebelum trauma) 2. Diplopia dan terbatasnya gerakan bola mata 3. Edem periorbita dan ekinosis 4. Perdarahan subkonjungtiva 5. Enoftalmus 6. Ptosis 7. Karena kerusakan saraf infra-orbita 8. Terbatasnya gerakan mandibula 9. Emfisema subkutis 10. Epistaksis karena perdarahan yang terjadi pada antrum

Penanggulangan fraktur tulang zigoma2 : - Reduksi tidak langsung dari fraktur zigoma (oleh Keen dan Goldthwaite) : Pada cara ini reduksi fraktur dilakukan melalui sulkus gingivobukalis. Dibuat sayatan kecil pada mukosa bukal di belakang tuberositas maksila. Elevator melengkung dimasukkan di belakang tuberositas tersebut dan dengan sedikit tekanan tulang zygoma yang fraktur dikembalikan pada tempatnya. Cara reduksi fraktur ini mudah dikerjakan dan memberi hasil yang baik. - Reduksi terbuka dari tulang zigoma : Tulang zigoma yang patah harus ditanggulangi dengan reduksi terbuka dengan menggunakan kawat atau mini plate. Laserasi yang timbul di atas zigoma dapat dipakai sebagai marka untuk melakukan inisis permulaan pada reduksi terbuka tersebut. Adanya fraktur pada rima orbita inferior, dasar orbita, dapat direkonstruksi dengan melakukan insisi di bawah palpebra inferior untuk mencapai fraktur di sekitar tulang orbita tersebut. Tindakan ini harus dilakukan hati-hati karena dapat merusak bola mata. 2. Fraktur arkus zigoma Arkus zigoma merupakan bagian dari subunit wajah yang dikenal sebagai zygomaticomaxillary complex (ZMC), yang memiliki 4 fusi tulang dengan 4tengkorak.Fraktur arkus zigoma tidak sulit untuk dikenal sebab pada tempat ini timbul rasa nyeri waktu bicaraatau mengunyah. Kadang-kadang timbul trismus. Gejala ini timbul karena terdapatnya perubahan letak dari arkus zigoma terhadap prosesus koroid dan otot temporal. Fraktur arkus zigoma yang tertekan atau terdepresi dapat dengan mudah dikenal dengan palpasi. Terdapatnya fraktur arkus zigoma yang ditandai dengan perubahan tempat dari arkus dapat ditanggulangi dengan melakukan elevasi arkus zigoma tersebut. Pada tindakan reduksi ini kadang-kadang diperlukan reduksi terbuka, selanjutnya dipasang

kawat baja atau mini plate pada arkus zigoma yang patah tersebut. Insisi pada reduksi terbuka dilakukan di atas arkus zigoma, diteruskan ke bawah sampai ke bagian zigoma preaurikuler. C. Fraktur Tulang Maksila (Mid Facial) Maksila (rahang atas) menggambarkan jembatan antara superior dasar tengkorak dengan bidang oklusal gigi inferior. Hubungan intim dengan rongga mulut, rongga hidung dan orbita serta banyak struktur yang terkandung di dalam dan bersebelahan dengannya membuat maksila merupakan struktur yang penting secara fungsional dan kosmetik. Fraktur dari tulang maksila ini berpotensi mengancam nyawa karena dapat menimbulkan gangguan jalan nafas serta perdarahan hebat yang berasal dari arteri maksilaris interna atau arteri ethmoidalis sering terjadi pada fraktur maksila. Menstabilkan pasien dengan menangani penyulit yang serius seperti pada jalan nafas, sistem neurologis, tulang belakang leher dan perut harus dilakukan segera sebelum pengobatan definitif pada maksila. Jika kondisi pasien cukup baik sesudah trauma tersebut, reduksi fraktur maksila biasanya tidak sulit dikerjakan kecuali kerusakan tulang yang sangat hebat dan disertai infeksi. Mathog menggunakan pembagian klasifikasi fraktur maksila menjadi 3 kategori: 1. Fraktur Maksila Le Fort I Fraktur Le Fort I (fraktur Guerin) meliputi fraktur horizontal bagian bawah antara maksila dan palatum atau arkus alveolar kompleks. Garis fraktur berjalan ke belakang melalui lamina pterigoid. Fraktur ini bisa unilateral atau bilateral. Kerusakan pada fraktur Le Fort akibat arah trauma dari anteroposterior bawah dapat mengenai nasomaksila dan zigomatikomaksila vertikal buttress, bagian bawah lamina pterigoid, anterolateral maksila, palatum durum, dasar hidung, septum dan apertura piriformis. 2. Fraktur Maksila Le Fort II Garis fraktur Le Fort II (fraktur piramid) berjalan melalui tulang hidung dan

diteruskan ke tulang lakrimalis, dasar orbita, pinggir infraorbita dan menyebarang ke bagian atas dari sinus maksila juga ke arah lamin pterigoid samapi ke fossa pterigopalatina. Fraktur pada lamina kirimbiformis dan atap sel etmoid dapat merusak sistem lakrimalis. 3. Fraktur Maksila Le Fort III Fraktur Le Fort III (craniofacial dysjunction) adalah suatu fraktur yang memisahkan secara lengkap antara tulang dan tulang kranial. Garis fraktur berjalan melalui sutura nasofrontal diteruskan sepanjang taut etmoid melalui fisura orbitalis superior melintang ke arah dinding lateral ke orbita, sutura zigomatiko frontal dan 6sutura temporo-zigomatik. Fraktur Le Fort III ini biasanya bersifat kominutif yang disebut kelainan dishface. Fraktur maksila Le Fort III ini sering menimbulkan komplikasi intrakranial seperti timbulnya pengeluaran cairan otak melalui atap sel etmoid dan lamina kribriformis. Fiksasi dari segmen fraktur yang tidak stabil menjadi strutur yang stabil adalah tujuan pengobatan bedah definitif pada fraktur maksila. Prinsip ini tampak sederhana namun menjadi lebih kompleks pada pasien dengan fraktur luas. Fiksasi yang dipakai pada fraktur maksila ini dapat berupa2 : 1. Fiksasi inter maksilar menggunakan kawat baja untuk mengikat gigi. 2. Fiksasi inter maksilar menggunakan kombinasi dari reduksi terbuka dan pemasangan kawat baja atau mini plate. 3. Fiksasi dengan pin. Penanggulangan fraktur maksila sangat ditekankan agar rahang atas dan rahang bawah dapat menutup. Dilakukan fiksasi inter maksilar sehingga oklusi gigi menjadi sempurna. D. Fraktur Tulang Orbita Fraktur maksila sangat erat hubungannya dengan timbulnya fraktur orbita terutama pada penderita yang menaiki kendaraan bermotor.

Orbita dibentuk oleh 7 tulang wajah, yaitu tulang frontal, tulang zigoma,tulang maksila, tulang lakrimal, tulang etmoid, tualang sphenoid dan tulang palatina. Di dalam orbita, selain bola mata, juga terdapat otot-otot ekstraokuler, syaraf, pembuluh darah, jaringan ikat, dan jaringan lemak, yang kesemuanya ini berguna untuk menyokong fungsi mata. Orbita merupakan pelindung bola mata terhadap pengaruh dari dalam dan belakang, sedangkan dari depan bola mata dilindungi oleh palpebra. Dasar orbita yang tipis mudah rusak oleh trauma langsung terhadap bola mata, berakibat timbulnya fraktur blow out dengan herniasi isi orbita ke dalam antrum maksilaris. Infeksi dalam sinus sphenoidalis dan ethmoidalis dapat mengikis dinding medialnya yang setipis kertas (lamina papyracea) dan mengenai isi orbita. Fraktur orbita ini menimbulkan gejala-gejala berupa2: 1. Enoftalmus 2. Eksoftalmus 3. Diplopia 4. Asimetris pada muka Kelainan ini tidak lazim terdapat pada blow out fracture dari dasar orbita. Kelainan ini sangat spesifik terdapat pada fraktur yang meliputi pinggir orbita inferior atau fraktur yang menyebabkan dislokasi zigoma. 5. Gangguan saraf sensoris 8Hipestesia dan anestesia dari saraf sensoris nervus infra orbitalis berhubungan erat dengan fraktur yang terdapat pada dasar orbita. Bila pada fraktur timbul kelainan ini, sangat mungkin sudah mengenai kanalis infra orbitalis. Selanjutnya gangguan fungsi nervus infra orbita sangat mungkin disebabkan oleh timbulnya kerusakan pada rima orbita. E. Fraktur Tulang Mandibula ini disebabkan oleh kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. Penanganan fraktur

mandibula ini sangat penting terutama untuk mendapatkan efek kosmetik yang memuaskan, oklusi gigi yang sempurna, proses mengunyah dan menelan yang sempurna. Diagnosis fraktur mandibula tidak sulit, ditegakkan berdasarkan adanya riwayat kerusakan rahang bawah dengan memperhatikan gejala sebagai berikut: 1. Pembengkakan, ekimosis ataupun laserasi pada kulit yang meliputi mandibula. 2. Rasa nyeri yang disebabkan kerusakan pada nervus alveolaris inferior. 3. Anestesia dapat terjadi pada satu bibir bawah, pada gusi atau pada gigi dimana nervus alveolaris inferior menjadi rusak. 4. Maloklusi, adanya fraktur mandibula sangat sering menimbulkan maloklusi. 5. Gangguan morbilitas atau adanya krepitasi. 6. Rasa nyeri saat mengunyah. 7. Gangguan jalan nafas, kerusakan hebat pada mandibula menyebabkan perubahan posisi, trismus, hematoma, serta edema pada jaringan lunak. Dingman mengklasifikasi fraktur mandibula secara simpel dan praktis. Mandibula dibagi menjadi 7 : 1. Badan atau korpus mandibula 2. Simfisis mandibula 3. Angulus mandibula 4. Ramus mandibula 5. Prosesus koronoid 6. Prosesus kondilus 7. Prosesus alveolaris Fraktur yang terjadi dapat pada satu, dua atau lebih pada regio mandibula ini. Frekuensi tersering terjadinya fraktur ialah prosesus kondilus kemudian diikuti oleh korpus 9mandibula, angulus mandibula, simfisis mandibula, prosesus alveolaris, ramus mandibula dan prosesus koronoid.

Perbaikan fraktur mandibula menerapkan prinsip-prinsip umum pembidaian mandibula dengan geligi utuh terhadap maksila. Lengkung geligi atas biasanya diikatkan pada lengkung gigi bawah memakai batang-batang lengkung ligasi dengan kawat. Batang-batang lengkung ini memiliki kait kecil yang dapat menerima simpai kawat atau elastis guna mengikatkan lengkung gigi atas ke lengkung kiki bawah. Fraktur mandibula yang lebih kompleks mungkin memerlukan reduksi terbuka dan pemasangan kawat ataupun pelat secara langsung pada fragmen-fragmen guna mencapai stabilitas, disamping melakukan fiksasi intermaksilaris dengan batang-batang lengkung.

DAFTAR PUSTAKA 1. http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/maxillofacial+trauma . Maxillofacial Trauma. 2. Soepardi AE., Iskandar N., Bashiruddin J., Restuti RD. Trauma Muka dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Ed 6. 2007. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 103. http://www.patient.co.uk/doctor/Maxillofacial-Injuries.htm . Maxillofacial Injuries. 4. LELES Jose Luiz Rodrigues, SANTOS Enio Jose dos, JORGE Fabrcio David, SILVA Erica Tatiane da, LELES Cludio Rodrigues. Risk factors for maxillofacial injuries in a Brazilian emergency hospital sample. 2009, August 11st. 5. http://emedicine.medscape.com/article/878595-overview#a05 . Nasal and Septal Fractures. 6. Nesbitt B. Elizabeth, Leeds C. R. Duncan. Fractures of The Zygoma Bone. British Medical Journal. 1945, April 14th. 7. Higles Adams BOIES. Trauma Rahang-Wajah dalam Buku Ajar Penyakit THT. Ed.6. 1997. Jakarta : EGC.