Anda di halaman 1dari 22

Konseling & VCT

Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi
Konseling & VCT Dr. Alix Muljani Budi

Dr. Alix Muljani Budi

Konseling merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk

merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup
merupakan proses interaksi antara konselor dan klien utk memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup

memberikan dukungan mental- emosinal kepada klien mencakup upaya-upaya yang spesifik, terjangkau dan realistik serta dapat dilaksanakan Konseling dilakukan oleh konselor terlatih yang memiliki keterampilan konseling dan pemahaman akan seluk beluk HIV / AIDS

Konselor adalah mereka yang dengan

tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan

tulus dan tujuan jelas, menyediakan

tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan

ruang dan waktunya, perhatian dan

ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan
tulus dan tujuan jelas, menyediakan ruang dan waktunya, perhatian dan

keahliannya bagi ODHA, mempunyai keterampilan konseling, untuk membantu

klien mempelajari keadaan dirinya, mengenali dan melakukan pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan (stigmatisasi & diskriminasi)

VCT (Voluntary Counseling and Testing) = Konseling dan Tes Sukarela (KTS), atau VCCT (voluntary and confidential counseling and testing) merupakan kegiatan konseling yang bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV

, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien
, yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV  Tes HIV dilakukan setelah klien

Tes HIV dilakukan setelah klien terlebih

dahulu memahami dan menandatangani

informed consent

Tujuan Umum VCT Untuk mempromosikan perubahan perilaku sehingga risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan

risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan
risiko infeksi dan penyebaran infeksi HIV dapat diturunkan  Tujuan Khusus VCT bagi ODHA 1. Meningkatkan

Tujuan Khusus VCT bagi ODHA

1. Meningkatkan jumlah ODHA yang

mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV (< 2,5% orang yg mengetahui bahwa dirinya

telah terinfeksi HIV)

2. Diagnosis dini HIV

VCT penting karena :

VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses
VCT penting karena :  Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh layanan HIV/ AIDS (akses

Merupakan pintu masuk (entry point) ke seluruh

layanan HIV/ AIDS (akses ke berbagai pelayanan)

Dukungan, baik yang hasil testnya positif/negatif, dengan berfokus pada dukungan atas kebutuhan klien : perubahan perilaku, dukungan mental,

pemahaman faktual dan terkini atas HIV/ AIDS,

dukungan terapi ARV & perawatan (CST)

Mengurangi stigma & diskriminasi di masyarakat

Pendekatan menyeluruh : kesehatan fisik dan mental

Pemberdayaan ODHA melalui training, KDS

(meningkatkan kualitas hidup ODHA)

Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT

Tahapan Pelayanan VCT

Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT
Tahapan Pelayanan VCT

Konseling Pra-testing :

Informasi Dasar HIV Alasan dilakukannya VCT Komunikasi Perubahan Perilaku Penilaian Risiko Testing HIV

Konseling Pasca-testing

Konseling Berkelanjutan

Perencanaan Rawatan Psikososial Lanjutan

Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT

Pendekatan VCT

Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT
Pendekatan VCT

Terfokus pada klien satu per satu (melalui tatap muka)

Melakukan penilaian risiko personal dan menurunkan risiko

Meneguhkan keputusan tes

Menggali kemampuan diri dan mengarahkan

rencana ke depan (Hak azasi manusia) Menindaklanjuti dukungan atas kebutuhan

Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling

Penerapan Konseling

Penerapan Konseling
Penerapan Konseling
Penerapan Konseling

Tak ada satu formula yang tepat bagi semua klien, sangat bersifat individu

Perlu belajar sambil menerapkan dan kemudian mengembangkannya

Perlu respon efektif dan inovatif akan kebutuhan psikososial klien

Pengembangan kemampuan konseling dari para petugas perlu terus ditingkatkan

Penguatan kemampuan kerja dapat dihimpun

melalui jejaring pelayanan, kebijakan tempat kerja,

kebijakan nasional serta dukungan para stake

holders

Keterampilan yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah :

yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.
yang diperlukan dalam memberikan konseling adalah : 1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian) 2.

1. Mendengarkan aktif & mengamati (penuh perhatian)

2.

Mengajukan pertanyaan & menghayati (empati)

3.

Merangkum & menyimpulkan

4.

Membaca & merefleksikan perasaan

5.

Membangun relasi & persetujuan pelayanan

6.

Menggali dan memahami masalah, penyebab & kebutuhan

7.

Mengenal alternatif penyelesaian masalah

8.

Penyelesaian masalah, dapat memberikan solusi &

penguatan 9.Penyelesaian masalah, konsekuensi logis dan mengakhiri

Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :
Konselor :

Konselor :

Konselor :
Konselor :
Konselor :

Ramah

Berempati

Sopan

Mampu berkomunikasi dg baik

Dapat mengenali gangguan umum kejiwaan (depresi berat, cemas, ingin bunuh diri) & gangguan otak organik

Selama konseling usahakan :

Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak
Selama konseling usahakan :  Suasana nyaman, Rilex  Terjaga kerahasiaannya  Saling percaya  Tidak

Suasana nyaman, Rilex

Terjaga kerahasiaannya Saling percaya

Tidak terburu-buru (jangan dipaksakan) Konseling berkelanjutan, tergantung kebutuhan klien

Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :

Mereka yang memerlukan konseling :

Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :
Mereka yang memerlukan konseling :

Mereka yg sudah terinfeksi HIV/AIDS,& keluarganya

Mereka yang ingin mengetahui status HIVnya (merasa telah melakukan tindakan berisiko)

Utk kepentingan dinas/pekerjaan Kelompok berisiko tinggi

Isi Konseling

Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan
Isi Konseling  Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan

Informasi faktual tentang infeksi HIV dan penyakit yang terkait, cara penularan,dampak, cara pencegahan

Penilaian tingkat risiko infeksi HIV

Mengkaji kemungkinan sumber infeksi klien

Informasi untuk menurunkan risiko (harm reduction) dgn perubahan perilaku berisiko

FORMULIR PERSETUJUAN UNTUK TESTING HIV (INFORMED CONSENT)

Sebelum menanda tangani formulir persetujuan ini, harap mengetahui bahwa :

Anda mempunyai hak utk berpartisipasi didalam pemeriksaan dg dasar kerahasiaan

Anda mempunyai hak utk menarik persetujuan testing sebelum pemeriksaan tersebut.

Saya telah menerima informasi dan konseling menyangkut hal-hal berikut ini:

Keberadaan dan kegunaan dari tesing HIV

Tujuan dan kegunaan dari testing HIV

Apa yang dapat dan tidak dapat diberitahukan dari testing HIV

Keuntungan serta resiko dari testing HIV dan dari mengetahui hasil testing saya

Pemahaman dari positif, negatif, false negatif, false positif, intermediate dan dampak dari masa jendela

Pengukuran untuk pencegahan dari pemaparan dan penularan HIV

Saya dg sukarela menyetujui utk menjalani testing HIV dg ketentuan bahwa hasil test tsb akan tetap rahasia

dan terbuka hanya kepada saya.

Saya menyetujui untuk menerima pelayanan konseling setelah menjalani testing pemeriksaan untuk

mendiskusikan hasil testing HIV saya dan cara-cara untuk mengurangi resiko untuk terkena HIV atau

menyebarluaskan HIV kepada orang lain untuk waktu kedepannya.

Saya mengerti bahwa pelayanan kesehatan saya pada klinik ini tidak akan mempengaruhi keputusan saya

secara negatif terhadap testing atau tidak menjalani testing atau hasil dari testing HIV saya.

Saya telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan pertanyaan saya ini telah diberikan jawaban yang

memuaskan saya.

Saya, dg ini mengizinkan testing/pemeriksaan HIV utk dilaksanakan pada tanggal:

Tanda tangan atau Cap Jempol Klien

Tanda tangan Konselor

FORM VCT PRA TESTING HIV

Nomer Rekam Medis Klien  - FIE - 

1. Data Demografi

     

a)

Jenis klien

I

b)

Status hubungan

 

c) Jumlah anak

1 = laki-laki,

1

= tidak pernah kawin,

 

1

= 1,

2 = perempuan,

2

= kawin,

2

= 2,

 

3

= cerai/pisah,

3

= 3,

4= janda,

4

= 4,

 

5

= 5,

 

6=6,

 

7=>4,

8

= 0

d)

Umur klien

e)

Pendidikan

f) Pekerjaan sekarang

1 = <15,

1

= tidak ada ,

0

= tak bekerja

= bekerja ,

= pelajar/mahasiswa,

2 = 15 -24,

2

= SD,

1

2

3 = 25-34,

3

= SLTP/sederajat,

4 = 35 44,

5 = > 45 d)

4

= SLTA/sederajat

3

= petani

 

5

= Akademi/PT

4

= profesional ,

 

5

= polisi/ABRI/Satpam

6

= pekerja tambang,

7

= transportasi,

8

= lain-lain (sebutkan)

2. Penilaian risiko individu

   

Klien punya pasangan tetap

Status pasangan tetap

 

Tanggal Tes Terakhir

1 = ya, 2 = tidak Jika Ya, isi kolom b)

 

1 = - H IV (+)

 

2 = HIV

 
 

3 = tidak diketahui

Tulislah kode clan tanggal potensi pajanan yang paling akhir

Pajanan

Tanggal paling berisiko

Masa Jendela (Window Periode)

1 = Ya, 2 = Tidak

1 = Ya, 2 Tidak

   

Pajanan okupasional Tato, goresan Produk darah

Hubungan seks vaginal

 

Oral seks

Anal seks

Riwayat kekerasan seksual

Bergantian peralatan suntik

F1

Klien membutuhkan tes ulang HIV karena masa jendela YA / TIDAK (harap dilingkari) jika Ya,

tanggal tes ulang

Klien berisiko dengan orang HIV positif yang

 

dikenal

 

Jika YA, masa kehamilan : Trimester

Klien hamil

1/2/3

Klien menggunakan KB secara teratur

 

Klien mempunyai riwayat infeksi menular

Diperlukan rujukan untuk pengobatan (1 = Ya, 2 =

seksual

Tidak)

 

Klien melaporkan gejala TB

 

Klien sangat terindikasi bunuh diri jika hasil tes HIV

Klien mempunyai riwayat melukai diri atau usaha bunuh diri

 

Klien sangat terindikasi mencederai orang lain jika hasil tes HIV (+)

 

Klien mempunyai potensi risiko melakukan kekerasan jika hasilnya

diberitahu kepada pasangan

Klien mempunyai dukungan personal yang cukup

Hasil Pemeriksaan : ( beri tanda)

antibody HIV negatif

antibody HIV positif

indeterminate

Nama konselor

Tanda tangan konselor

Tanggal

FORM VCT PASCA TESTING HIV

Jika hasil HIV positif :

Memeriksa hasil untuk kepentingan klien

Menilai kesiapan klien terhadap hasil tes

Menjelaskan hasil kepada klien

Menyediakan informasi singkat mengenai bentuk dukungan dan

tindak lanjut

Penilaian terhadap resiko kecenderungan bunuh diri

Mendiskusikan strategi pemberitaan kepada pasangan (open status)

Pemberitaan kepada (siapa, kapan, bagaimana, mengapa)

Meninggalkan klinik - pastikan apakah klien tiba dengan selamat

Mendiskusikan strategi untuk merencanakan bagaimana cara terbaik

untuk masa depan

Mendiskusikan strategi untuk pencegahan penularan kepada orang

lain

Formulir Rujukan

Jika Ya, persetujuan atau izin untuk memberikan informasi dari klien

Ya/Tidak (tolong dilingkari)

Keterangan dari rujukan :

NOTES:

Nama Konselor

Tanda tangan Konselor

Tanggal

Stigma dan Diskriminasi

Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga
Stigma dan Diskriminasi  Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga

Stigma atau cap buruk adalah tindakan memvonis seseorang buruk moral /perilakunya sehingga mendapatkan

infeksi HIV, dan sebagai akibatnya

mereka mengalami Diskriminasi ; ditolak, dikucilkan, dihindari, dijauhi, didiskreditkan ( ingat penularannya !)

Stigma & Diskriminasi melawan HAM

Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS

Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab
Prinsip Etika dalam menangani HIV/AIDS  Empati  Solidaritas  Tanggung Jawab

Empati

Solidaritas

Tanggung Jawab