Anda di halaman 1dari 20

MK.

Sumberdaya Perikanan (MSP 332)

Senin, 08Oktober 2012 Meilita Syarifah (C24090012)

Sumberdaya Ikan Air laut (Epinephelus fuscoguttatus, Epinephelus tauvina, Epinephelus corallicola, Plectropomus leopardus, Cromileptes altivelis, Epinephelus lanceolatus)

Kelompok 5 Anggota : Azhar Muttaqin Nyimas Siti Evi S Diwa Perkasa Novi Dwi I (C54100020) (C54100022) (C54100071) (C54100093)

Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor 2012

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia terdiri dari gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508 dengan luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km2 dan panjang garis pantai 95.181 km, keadaan yang demikian menyebabkan Indonesia banyak memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan, mulai dari prospek pasar baik dalam negeri maupun internasional. Subsektor perikanan merupakan salah satu subsektor pembangunan yang memiliki peranan yang cukup strategis dalam perekonomian nasional, bahkan subsektor ini merupakan salah satu subsektor penerimaan devisa negara yang penting. Pembangunan perikanan sebagai bagian dari pembangunan nasional, diarahkan untuk mendukung tercapainya tujuan dan cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Harapan untuk

menjadikan subsektor ini sebagai pendukung dalam pencapaian tujuan tersebut didasarkan pada potensi perikanan laut yang dimiliki.Kekayaan Indonesia berupa sumberdaya perikanan yang sangat luas menjadi modal dasar dalam pembangunan nasional sekaligus memiliki potensi yang sangat besar bagi pembangunan kelautan dan perikanan. Komoditas ikan laut jenis kerapu merupakan komoditas andalan dan permintaan dari pasar eksport (Singapura dan Hongkong) dari tahun ketahun terus meningkat. Salah satu jenis ikan yang memiliki prospek cerah untuk

dibudidayakan adalah ikan kerapu. Ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta memilih peluang pasar dalam dan luar negeri yang sangat baik. Ikan kerapu ini sudah menjadi menu istimewa di hotel dan restoran terkemuka, baik di Indonesia, Hongkong, Taiwan, Jepang maupun Singapura. Permintaan pasar internasional akan ikan kerapu yang cenderung terus meningkat, memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan hasil tangkapannya (Kordi, 2001).

Selain mendorong pertumbuhan ekspor, pengembangan budidaya kerapu juga menjadi elternatif solusi dalam permasalahan penurunan populasi di alam akibat penangkapan yang intensif dan kerusakan terumbu karang sebagai habitat ikan kerapu (Sudirman, 2008) Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui usaha budidaya. ikan kerapu (Epinephelus spp.) telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena keterbatasan benih. Dari informasi pasar diketahui permintaan kerapu baik ukuran kecil sebagai ikan hias maupun ukuran konsumsi terus meningkat. Kerapu tikus ukuran kecil (4 5 cm) laku dijual dengan harga Rp 7000/ekor, sedangkan ukuran konsumsi dengan berat 400 500 gram/ekor laku dijual di pasar lokal dengan harga tahun 2000 sekita Rp 250.000 Rp 300.000/Kg, bahkan untuk pasar ekspor seperti Hongkong, Taiwan dan Cina harga kerapu ukuran konsumsi sekitar US$ 55/Kg (Akbar dan Sudaryanto, 2002). Perdagangan ikan kerapu khususnya untuk tujuan ekspor sudah berjalan cukup lama, dengan mengandalkan pasokan dari hasil tangkapan. Hal ini telah mendorong intensitas eksploitasi penangkapan ikan kerapu dengan berbagai cara, sehingga seringkali berpotensi merusak terumbu karang yang merupakan habitat alami ikan kerapu. Menyadari fenomena meningkatnya kerusakan terumbu

karang yang dapat mengancam kelestarian stok ikan di alam serta untuk menjaga kontinyuitas pasokan ikan kerapu hidup khususnya untuk tujuan ekspor. Pemerintah telah membuat kebijakan untuk mengembangkan teknologi budidaya ikan kerapu yang meliputi perbenihan (hatchrey) di bak kontrol dan pembesaran pada Keramba Jaring Apung (KJA).

1.2

Tujuan Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut: 1) Mengetahui biologi dan fisiologi dari berbagai jenis ikan kerapu yang meliputi system reproduksi, sistem pencernaan, dan sistem ekskresi.

2) Menambah wawasan dan pengetahuan tentang berbagai jenis ikan


kerapu.

2. Sumberdaya Ikan
2.1 Ikan Kerapu Macan

2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi ilmiah : Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Kelas : Chondrichthyes Ordo : Percomorphi

Famili : Serranidae Genus : Epinephelus Gambar 1.Epinephelus fuscoguttatus

Spesies : Epinephelus fuscoguttatus Nama dagang : brown marble grouper, flowery cod, blotchy rock cod, carpet cod, akamadaharata, lo fu pan Nama lokal: garopa, kerapu macan, kerapu Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan ikan karang yang tergolong dalam famili Serranidae, tubuhnya dipenuhi sisik yang berukuran kecil yang berbentuk sikloid. Nama kerapu diberikan biasanya untuk empat genus Serranidae yaitu Epinephelus, Variola, Plectropampus dan Cromileptes. Di Indonesia Epinephelus sendiri mempunyai 38 species. Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai bentuk badan yang pipih memanjang dan agak membulat (Direktorat Jendral Sudirman Perikanan Deperteman Pertanian 1979). Mulut lebar dan di dalamnya terdapat gigi kecil yang runcing (Kordi 2001). Direktorat Jendral Perikanan Depertemen Pertanian (1979), menjelaskan bahwa rahan bawah dan atas dilengkapi dengan gigi yang berderet 2 baris lancip dan kuat. Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai jari-jari sirip yang keras pada sirip punggung 11 buah, sirip dubur 3 buah, sirip dada 1 buah dan sirip perut 1 buah. Jari-jari sirip yang lemah pada sirip puggung terdapat 15-16 buah, sirip dubur 8 buah, sirip dada 17 buah dan sirip perut 5 buah. Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) memiliki warna seperti

sawo matang dengan tubuh bagian verikal agak putih. Pada permukaan tubuh terdapat 4-6 pita vertical berwarna gelap serta terdapat noda berwarna merah seperti warna sawo (Kordi 2001). 2.1.2 Habitat dan Pola Distribusi Menurut Heamstra dan Ramdall (1993), ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan kelompok yang hidup di dasar perairan berbatu dengan kedalaman 60 meter dan daerah dangkal yang mengandung koral. Selama siklus hidupnya memiliki habitat yang berbeda- beda pada setiap fasenya, ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mampu hidup di daerah dengan kedalaman 0.5-3 meter pada area padang lamun, selanjutnya menginjak dewasa akan berpindah ke tempat yang lebih dalam lagi, dan perpindahan ikan berlangsung pada pagi hari atau menjalan senja. Menurut Tampu Bolon dan Mulyadi (1989) menjelaskanbahwa telur dan larva ikan kerapu macan bersifat pelagis sedangkan ikan kerapu muda hingga dewasa bersifat domersal. ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifatnoktur nal, dimana pada siang hari lebih banyak bersembunyi pada liang-liang karang dan akan beraktifitas pada malam hari unuk mencari makanan. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) tersebar merata dari laut pasifik hingga ke laut merah tetapi lebih dikenal berasal dari teluk persi, Hawai, atau Pholynesia. Ikan kerapu macan terdapat hampir semua perairan pulau tropis Hindia dan samudra pasifik barat dari pantai timur Afrika sampai dengan Mozambika, selain itu juga ditemukan di Madagakar dan lain-lain.

Gambar 2. Peta Distribusi Epinephelus fuscoguttatus 2.1.3 Alat Tangkap Sama halnya dengan ikan-ikan yang hidup di terumbu karang lainnya, Ikan Kerapu lumpur ini biasa ditangkap dengan menggunakan perangkap bubu yang tergolong alat tangkap ramah lingkungan. 2.1.4 Pemanfaatan Ekonomis dan Ekologis (Potensi , nilai produksi, posisi dalam rantai makanan) Ikan kerapu bernilai ekonomis tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga penangkapan dan budidayanya bisa berkembang. Ikan ini mempunyai nilai komersial yang tinggi karena rasa dagingnya yang enak. Namun saat ini untuk memenuhi permintaan pasar masih didominasi hasil tangkapan di alam (Anonim, 2001). Sedangkan hasil budidaya masih terbatas dan hanya berasal pada daerah-daerah tertentu saja terutama yang dekat dengan pusat pemasaran, seperti Bali, Tanjung Pinang, Batam, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara dan lain-lain (Langkosono, 2007). 2.1.5 Status IUCN dan CITES Status belum ditemukan. 2.2 Ikan Kerapu Lumpur

2.2.1

Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi ilmiah : Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Pisces : Percomorphi : Serranidae : Epinephelus : Epinephelustauvina Gambar 3. Epinephelustauvina

Ikan kerapu lumpurmemiliki tubuh memanjang. Kepala dan tubuh ikan kerapu lumpurberwarna kecoklatan, coklat kemerahan atau abu-abu keunguan, yang ditutupi dengan sejumlah bintik-bintik orange kemerahan, keemasan atau bintik kuning (kecuali bagian ventral). Sirip dorsal ikan kerapu Epinephelus tauvina terdiri dari 16 18 duri lunak dan 11 duri-duri keras. Sirip anal dengan 3 buah duri keras dan 8 atau 9 duri lunak. Sirip pectoral terdiri dari 17 19 duri lunak. Sirip ekor berbentuk agak cembung. Angka Romawi menunjukan jumlah jarijari sirip keras, sedangkan angka arab menunjukan jumlah jari-jari lemah. Angka arab yang terletak pada sebelah depan mengisyaratkan jumlah jari-jari lemah mengeras. Jari-jari keras tidak berbuku-buku, keras dan tidak dapat dibengkokan, sedangkan jari-jari lemah bentuknya seperti tulang rawan, beruasruas dan elastis (Heemstra dan Randall 1993). 2.2.2 Habitat dan Pola Distribusi Ikan kerapu hidup secara alamiah di antara terumbu karang. Ikan kerapu hidup pada kedalaman 40 50 meter, dengan temperatur 27 32 C. Ikan kerapu termasuk ikan laut yang dapat hidup pada kisaran salinitas 15 45 ppt dan tahan dalam kondisi air tawar selama 15 menit. Ikan kerapu umumnya hidup menyendiri (soliter), menyenangi naungan (shelter) sebagai tempat persembunyian dan menghindar dari serangan sinar matahari secara langsung (Sianipar 1988).

Gambar 4. Peta Distribusi Epinephelustauvina 2.2.3 Alat Tangkap Sama halnya dengan ikan-ikan yang hidup di terumbu karang lainnya, Ikan Kerapu lumpur ini biasa ditangkap dengan menggunakan perangkap bubu yang tergolong alat tangkap ramah lingkungan. 2.2.4 Pemanfaatan Ekonomis dan Ekologis (Potensi , nilai produksi, posisi dalam rantai makanan) Ikan kerapu merupakan jenis ikan yang hidup di perairan terumbu karang, yang dalam dunia international dikenaldengan nama grouper atau coral reef fish. Jenis ikan-ikan inimemiliki nilai ekonomis tinggi dan sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Kerapu bebek atau tikus(Cromileptes altivelis), kerapu sunu (Plectropomus leopardus),kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), dan kerapu lumpur(Epinephelus tauvina) adalah jenis-jenis kerapu yang banyakterdapat di Indonesia. Diantara jenis-jenis kerapu ini, kerapu bebek mempunyai harga yang paling tinggi di Hongkong. 2.2.5 Status IUCN dan CITES Status belum ditemukan. 2.3 Ikan Kerapu Sunu

2.3.1

Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi ilmiah : Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Kelas : Pisces Famili : Serranidae Genus : Plectropomus Gambar 5. Plectropomus leopardus

Spesies : Plectropomus leopardus Nama asing: spotted coral trout, leopard coral trout Nama lokal: sunuk,lodi Ikan kerapu sunu biasanya disebut sebagai ikan sunuk atau ikan lodi. Ada dua jenis kerapu sunu yang dikenal sebagai ikan laut komersial, yaitu jenis Plectropoma maculatus atau populer dengan sebutan spotted coral trout dan jenis Plectropoma leopardus atau populer dengan sebutan leopard coral trout. Ikan kerapu sunu memiliki tubuh agak bulat memanjang, dengan jari-jari keras pada sirip punggungnya. Warna tubuh sering mengalami perubahan tergantung pada kondisi lingkungan. Perubahan warna tubuh terjadi terutama jika ikan dalam keadaan stres. Tubuh sering berwarna merah atau kecokelatan, sehingga kadang juga disebut kerapu merah atau kasai makot. Pada tubuhnya terdapat bintik-bintik berwarna biru, dengan tepi gelap dan ada enam pita berwarna gelap, kadang-kadang tidak nampak. Kerapu sunu jenis P.maculatus, mempunyai bintik yang tidak seragam, sedangkan jenis

P.Leopardus, mempunyai bintik-bintik yang seragam. 2.3.2 Habitat dan Pola Distribusi Ikan kerapu Sunu pada umumnya hidup di perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun. Lokasi atau lahan yang cocok untuk kerapu sunu, di antaranya salinitas airnya 30-35 ppt dan bersuhu 2732 derajat celcius. Ikan kerapu sunu juga hidup di terumbu karang pada kedalaman 5-50 M.

Di Indonesia daerah penyebaran meliputi perairan Kepulauan Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Lampung Selatan, Kepulauan Riau, Bangka Selatan dan perairan terumbu karang.

Gambar 6. Peta Distribusi Plectropomus leopardus

2.3.3

Alat Tangkap Alat tangkap yang sering digunakan oleh paras nelayan untuk menangkap

ikan Kerapu Sunu adalah pancing, pukat dan kompresor. Penggunaan alat tangkap tersebut digunakan sesuai tempat atau daerah penangkapan. Alat-alat tersebut memang digunkan para nelayan untuk didaerah karang, karena ikan Kerapu merupakan ikan yang hidup di daerah karang. 2.3.4 Pemanfaatan Ekonomis dan Ekologis (Potensi , nilai produksi, posisi dalam rantai makanan) Kerapu Sunu dalam perdagangan internasional sangat populer dengan nama coral trout. Ikan ini terasuk kedalam kategori ekonomis penting, karena banyak dikonxumxi oleh orang sehingga banyak ditangkap oleh para nelayan. Harga ikan kerapu Sunu dewasa di daerah Taka Bonerate mencapai Rp 90.000/ekor untuk tingkat produksi dalam negeri, namun untuk harga ekspor mencapai Rp 150.000/ekor. Produk olahan yang bisa diolah dari ikan ini bisa berupa ikan asin dan lainnya.Biasanya ikan asin bisa diolah dari ikan yang masih hidup maupun masih segar.

2.3.5

Status IUCN dan CITES Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, status IUCN untuk

ikan Kerapu Sunu ini termasuk kedalam kategori Near Threatened atau cukup terancam. Status CITES pada ikan kerapu Sunu ini belum dapat ditemukan. 2.4 2.4.1 Ikan Kerapu Pasir Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi ilmiah : Kingdom Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Actinopterygii : Perciformes : Serranidae : Epinephelus Gambar 7. Epinephelus corallicola : Epinephelus corallicola

Nama lokal: kerapu pasir Morfologi pada ikan seluang yaitu diantaranya memiliki duri pada bagian dorsal dan anal. Bentuk kepala yang panjang dan datar serta titik-titik pada tubuhnya yang berjauhan satu sama lain pada ukuran tertentu. 2.4.2 Habitat dan Pola Distribusi Epinephelus corallicola merupakan ikan kerapu pasir yang hidup di daerah terumbu karang, umumnya di perairan terumbu karang yang dangkal yang berlumpur, erkadang dapat pula ditemukan di daerah muara dan daerah luar karang. Penyebaran ikan ini diantaramya di daerah Pasifik Barat: Thailand, Hong Kong, dan Taiwan ke Australia (Western Australia, Northern Territory, Queensland dan New South Wales) dan ke timur ke Solomon dan Kepulauan Mariana, termasuk Indonesia, Singapura, Filipina, Papua Nugini, dan Palau.

Gambar 8. Peta Distribusi Epinephelus corallicola 2.4.3 Alat Tangkap Sama halnya dengan ikan-ikan yang hidup di terumbu karang lainnya, Ikan Kerapu Pasir ini biasa ditangkap dengan menggunakan perangkap bubu yang tergolong alat tangkap ramah lingkungan. 2.4.4 Pemanfaatan Ekonomis dan Ekologis (Potensi , nilai produksi, posisi dalam rantai makanan) Ikan Kerapu Pasir ini dikategorikan sebagai ikan ekonomis yang artinya diburu orag untuk dikonsumsi atau dijual kembali. Beberapa ancaman yang dirasakanoleh Ikan Kerapu Pasir ini adalah adanya overfishig oleh nelayan dan juga pemanasan global yang saat ini terjadi. 2.4.5 Status IUCN dan CITES Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, status IUCN untuk ikan Kerapu Pasir ini masih belum bisa ditentukan karena masih kurangnya data untuk menetapkan statusnya. Status CITES pada ikan kerapu pasir ini belum dapat ditemukan. 2.5 2.5.1 Ikan Kerapu Tikus Klasifikasi dan Morfologi

Klasifikasi ilmiah : Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Actinopterygii : Perciformes : Serranidae : Chromileptes Gambar 9. Kerapu Tikus

: Chromileptes altivelis

Diskripsi yang dilakukan Swanson dalam Randall (1987) kerapu tikus mempunyai sirip dorsal X, 1719; sirip anal III, 10; sirip pectoral 1718; sirip garis lateral 5355; sisik berbentuk sikloid; bagian dorsal meninggi berbentuk concave (cembung); tebal tubuh 2,63,0 inchi SL; tidak mempunyai gigi canine; lobang hidung besar berbentuk bulan sabit vertical; sirip caudal membulat. Warna kulit terang abu abu kehijauan dengan bintik bintik hitam diseluruh kepala, badan dan sirip. Kerapu tikus muda bintik hitamnya lebih besar dan lebih sedikit.

Menurut Valenciennes dalam Randall (1987), kerapu tikus mempunyai panjang maksimum 70 cm. 2.5.2 Habitat dan Pola Distribusi Daerah penyebaran kerapu tikus mulai dari Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya (Valencennes dalam Randall, 1987). Menurut Weber dan Beaufort (1931), di Indonesia ikan kerapu banyak ditemukan diperairan Pulau Sumatera, Jawa, Selawesi, Pulau Buru dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang. Indonesia memilki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapu sangat besar (Tampubolon dan Mulyadi, 1989).

Gambar 10. Peta sebaran kerapu tikus. 2.5.3 Alat Tangkap Sama halnya dengan ikan-ikan yang hidup di terumbu karang lainnya, Ikan Kerapu tikus ini biasa ditangkap dengan menggunakan perangkap bubu yang tergolong alat tangkap ramah lingkungan. 2.5.4 Pemanfaatan Ekonomis dan Ekologis (Potensi , nilai produksi, posisi dalam rantai makanan) Kerapu tikus memang tergolong ikan konsumsi paling prestisius dan termahal. Di pasar Hongkong harganya saat ini berkisar USD40USD50 per kg hidup dan USD10USD15 per kg segar. Eksportir dalam negeri berani membeli Rp200.000 per kg hidup. 2.5.5 Status IUCN dan CITES Tingginya nilai kerapu di perdagangna internasional meningkatkan meningkatknya pula permintaan ikan jenis ini. Konsekuensinya ikan kerapu ini mengalami tekanan yang cukup berat di beberapa wilayah. Oleh karena itu IUCN menempatkan ikan kerapu ini sebagai spesies yang terancam.

2.6 2.6.1

Ikan Kerapu Kertang Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi ilmiah : Kingdom Phylum Klass Order Family Genus Spesies : Animalia : Chordata : Actinopterygii : Perciformes : Serinadae : Epinephelus : Ephinepelus Lanceolatus Gambar 11. Kerapu kertang

Badan di tutupi sirip kecil yang bersisik stenoid. Ikan kerapu genus Ephinephelus tubuh di tutupi oleh bintik-bintikberwarna coklat atau kuning,

merah atau putih, tinggi badan pada sirippunggung pertama biasanya lebih tinggi dari pada sirip dubur. Sirip ekorberbentuk bundar ( Darwisito, 2002 ). 2.6.2 Habitat dan Pola Distribusi Habitat ikan ini berada di sekitar karang seperti ikan kerapu pada umumya. Di indonesia kertang tersebar di perairan Padang,Bengkulu, Kepulauan Seribu, Karimun Jawa, Flores, KalimantanTimur, dan Sulawesi Selatan (Kurniawan, 2009).

Gambar 12. Peta sebaran kerapu kertang

2.6.3

Alat Tangkap Seperti halnya dengan ikan-ikan yang hidup di terumbu karang lainnya,

Ikan Kerapu Kertang ini biasa ditangkap dengan menggunakan perangkap bubu yang tergolong alat tangkap ramah lingkungan. 2.6.4 Pemanfaatan Ekonomis dan Ekologis (Potensi , nilai produksi, posisi dalam rantai makanan) Kerapu Kertang (Epinephelus lanceolatus) adalah jenis ikan yang potensial untuk dibudidayakan karena dapat dipelihara dalam ruang terbatas, pertumbuhan yang cepat, toleran terhadap perubahan lingkungan dan mempunyai nilai ekonomis yang tinnggi di pasar China, Hongkong, Singapura, Jepang dan Taiwan. Keluarga Serranidae ini mempunyai lebih dari 400 spesies, dengan perbedaan ciriciri yang sangat mencolok baik dalam ukuran, habitat serta penyebarannya (WAED, 2000). Jenis kerapu kertang mempunyai pasar sangat fanatik, terutama di Hongkong China, Taiwan, Singapore dan Jepang. Di China hidangan kerapu kertang merupakan sajian yang sangat istimewa dan mahal harganya. Dalam pengobatan tradisional China, empedu kerapu kertang digunakan sebagai ramuan obat sakit perut (Hoo, 1999). 2.6.5 Status IUCN dan CITES Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, status IUCN untuk ikan Kerapu Pasir ini masih belum bisa ditentukan karena masih kurangnya data untuk menetapkan statusnya. Status CITES pada ikan kerapu pasir ini belum dapat ditemukan.

3. Penutup
3.1 Kesimpulan Ikan Kerapu termasuk kedalam ekonomis penting, yang diman ikan ini menjadi target dari para nelayan dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Harga ikan ini cukup mahal dikarenakan populasinya yang mulai menurun. Pemasaran ikan ini sangat terbuka, karena dapat dipasarkan dalam bentuk segar, beku maupun dalam bentuk pengalengan yang semuanya merupakan komoditi ekspor, sedangkan dalam olahan (kering) dipasarkan secara lokal ataupun antar pulau. 3.2 Saran Adanya penurunan populasi dari ikan Kerapu ini,maka perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap pemasaran maupun pendistribusian dalam perdagangannya. Karena hidupnya yang berada di daerah karang, untuk penangkapan ikan kerapu ini juga memerlukan alat yang ramah lingkungan sehingga pada saat penangkapan tidak merusak lingkungan sekitar.

Daftar Pustaka
Akbar, S. dan Sudaryanto, 2001. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis). Penebar Swadaya. Jakarta. Anonimous. 1996. Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus). Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan,

Departemen Pertanian. Jakarta. Anonimous. 1999. Pembenihan Ikan Kerapu Tikus ( Chromileptes altivelis ). Departemen Pertanian, Direktorat Jendral Perikanan, Balai Budidaya Laut. Lampung. Anonimous. 2001. Petunjuk Teknis Produksi Benih Ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis). Pusat riset dan pengembangan Eksplorasi laut dan Perikanan Departemen kelautan dan perikanan dan Japan International Cooperation Agency, balai riset budidaya laut. Gondol. Cornish, A. & Kiwi, L.K. (Grouper & Wrasse Specialist Group) 2004. Plectropomus leopardus. In: IUCN 2012. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.1. <www.iucnredlist.org>. (03 Oktober 2012). Froese, R. and D. Pauly. Editors. 2011.FishBase. World Wide Web electronic publication. <www.fishbase.org>. (03 Oktober 2012). Heamstra and randall. 1993. FAO Species Catalogoe. Grouper of the World (Family Ephemephelinae, An Annoted and Illustrated Catalogoe of the Grouper, Roccod, Luid, Coral Grouper, And Lyretail Species Known tu Date). Food and Agriculture Organization of the United Nations: Rome. M. Gufron H. Kordi K. 2001. Pembesaran Kerapu Bebek di Keramba Jaring Apung. Kanisius. Yogyakarta. Rhodes, K., Russell, B., Pollard, D., Kulbicki, M., Heemstra, P.C. & Samoilys, M. 2008. Epinephelus corallicola. In: IUCN 2012. IUCN Red List of

Threatened Species. Version 2012.1. <www.iucnredlist.org>. ( 04 Oktober 2012). Riyadi D.M.M. 2004. Kebijakan Pembangunan Sumber Daya Pesisir Sebagai Alternatif Pembangunan Indonesia Masa Depan ; Disampaikan pada Sosialisasi Nasional Program Marginal Fishing Community

Development Pilot (MFCDP), 22 September. Sianipar, P. 1988. Budidaya Ikan kerapu (Epinephelus spp) di Goba Besar Pulau Pari. Dalam: Teluk Jakarta. Biologi, Budidaya, Oseanografi, Geologi dan kondisi Perairan. Proyek PSDL, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI. Jakarta. Tampubolon, G. H. dm E. Mulyadi. 1989. Synopsis ikan kerapu di perairan. Indonesia.Balitbangkan. Semarang.