Anda di halaman 1dari 19

DEMOGRAFI TERAPAN KEBIJAKAN PENDUDUK DI KALIMANTAN TENGAH

Disusun oleh : KELOMPOK III

MEDINA JUNIAR FADILLA FITRIANA GALIH IKHSAN F FAISAL IGHFAR

150610100086 150610100094 150610100096 150610100105

Universitas Padjadjaran Fakultas Pertanian 2012


1

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanawataala karena berkat rahmat serta hidayah-Nyalah kami dapat memperbaiki dan menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kami curahkan kepada Nabi Muhammad

Sawlawlohualaihiwasalam beserta para sahabat-Nya.

Laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Demografi. Pada makalah ini penyusuhun membahas megenai kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai

kependudukan di Kalimantan Tengah.

Terimakasih kami ucapkan kepada bapa dosen mata kuliah demografi Bapak Dika dan semua pendukung dalam pembuatan makalah ini.

Kami menyadari banyak sekali kekurangan dalam laporan ini, maka dari itu kami senantiasa meminta kritik dan saran dengan senang hati yang sifatnya membangun guna perbaikan makalah ini.

Penyusun, Kelompok 3

Jatinangor, Mei 2012

BAB I PENDAHULUAN Sensus penduduk 2010 menunjukkan adanya tambahan jumlah penduduk yang cukup besar dibandingkan dengan hasil proyeksi penduduk. Peningkatan jumlah penduduk tersebut perlu disikapi dengan lebih serius menyangkut kualitas, persebaran dan permasalahan yang mungkin timbul. Pencapaian angka harapan hidup yang tinggi bukannya tidak menimbulkan permasalahan, bahkan perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas hidup manusia baik fisik maupun mental. Tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, proporsi penduduk berusia kerja yang tinggi, peluang kerja yang terbatas menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Belum lagi persoalan remaja, persoalan lansia dan pembangunan Keluarga Indonesia menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam pembangunan manusia. Jumlah penduduk yang terus bertambah mempengaruhi berbagai permasalahan yang terkait dengan penduduk antara lain ketersediaan pangan, ketersediaan lahan, ketersediaan energi dan sebagainya. Walaupun income per capita sekarang sudah mencapai $3000, namun Indonesia masih harus terus berjuang mengatasi bermacam-macam persoalan yang bersumber dari penduduknya yang besar itu. MASALAH KEPENDUDUKAN 1. Penyediaan Lapangan Kerja 2. Memberikan Kesempatan Pendidikan 3. Meningkatkan Kesehatan 4. Menambah Kesejahteraan Penduduk Masalah yang timbul oleh kependudukan, maka dari itu diperlukan kebijakan untuk menyelaraskannya.

BAB II PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN PENDUDUK DI KALIMANTAN TENGAH Untuk Provinsi Kalimantan Tengah yang merupakan provinsi luas wilayah 153.800 km dengan jumlah penduduk 2.212.089 dan dengan kepadatan penduduk 14 jiwa/ km2 merupakan masalah tersendiri dalam pengelolaan kependudukannya.

KEBIJAKAN Kebijakan di bidang kependudukan di Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk di daerah yang mempunyai kepadatan dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, serta mengarahkan persebaran penduduk yang lebih merata terutama ke daerah jarang penduduk, dengan memperhatikan kemampuan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan hidup.

Pertumbuhan penduduk dikendalikan antara lain dengan upaya peningkatan keluarga berencana mandiri. Bersamaan dengan itu, upaya peningkatan kualitas penduduk dilakukan dengan meningkatkan keluarga sejahtera, termasuk ibu dan anak, remaja, serta penduduk lanjut usia. Peranan wanita yang dalam pembangunan Propinsi Kalimantan Tengah telah meningkat diupayakan untuk dilanjutkan dan ditingkatkan pembinaannya.

Persebaran penduduk dalam rangka menangani perambah hutan, diupayakan melalui transmigrasi lokal. Sebagai daerah penerima transmigran, upaya memeratakan persebaran penduduk dan tenaga kerja ke berbagai kawasan andalan dan pusat-pusat pertumbuhan wilayah di Propinsi Kalimantan Tengah ditingkatkan antara lain melalui transmigrasi umum, transmigrasi swakarsa berbantuan, dan transmigrasi swakarsa mandiri. KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN Kebijaksanaan Kependuduk berhubungan dengan dinamika kependudukan, yaitu perubahan pada tingkat Fertilitas, Mortalitas dan Migrasi. Dengan kebijakan ebijakan tersebut, dapat menstabilkan pertumbuhan penduduk di Kalimantan tengah :

1. Kebijakan Koalisi Salah satu kebijakannya adalah dengan Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan atau disingkat Koalisi Kependudukan, sebagai organisasi independen lumbung pikir, bersama dengan berbagai mitra kerja berperan aktif melakukan kajian atas berbagai persoalan kependudukan, untuk dapat digunakan sebagai masukan bagi penentu kebijakan dan perencana pembangunan kependudukan di Indonesia serta memberikan sumbangsih bagi pengembangan Grand Design Pembangunan Kependudukan di Indonesia. Di bentuknya Koalisi Kependudukan di latar belakangi oleh partisipasi aktif dalam pengembangan organisasi di provinsi Kalimantan tengah. Terdapat hubungan Koalisi Kependudukan dengan BKKBN yaitu, menurut salah satu dari amanat UU No 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Perkembangan Keluarga adalah pembentukan koalisi ini.

Koalisi

Kependudukan

adalah

tempat

berkumpulnya

pemikir-pemikir

kependudukan dan dalam kegiatan berusaha mengadvokasi dan memberikan masukan terkait dengan isu kependudukan dan perkembangan keluarga di Kalimantan Tengah.

Program strategis yang akan di lakukan Koalisi Kependudukan Kalteng dalam waktu dekat ini diantaranya terdapat tiga hal umum, yaitu: Pertama mengoptimalkan sosialisasi dan advokasi ke stake holder dan masyarakat luas mengenai UU No. 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Perkembangan Keluarga, kedua mem follow-Up pelaksanaan amanat UU tersebut, yakni pembentukan BKKBD (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah) ketiga konsern terhadap keprihatinan perkembangan penduduk,

ketersediaan pangan dan peduli terhadap kondisi sosial kemasyarakatan.

2. Kebijakan Keluarga Berencana

Pembangunan Keluarga Berencana di Kalimantan Tengah sejauh ini sudah berhasil di Kalimantan Tengah. Tetapi ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan masukan. Keberhasilan KB sangat didukung oleh tingkat pendidikan dan kondisi sosioekonomi masyarakat dan hal tersebut berhasil di Kalteng dalam tataran kelas menengah ke atas. Kedepannnya perlu diperhatikan masyarakat pra sejahtera. Masalah kependudukan dan KB saya kira terletak pada pengarapan kelas sosial tersebut.

Daerah dengan wilayahnya yang luas, namun jumlah penduduk masih relatif sedikit, Fakta tersebut memang benar. Namun dalam hal itu ada beberapa hal yang perlu diwaspadai. Pertambahan penduduk harus di kontrol. Jangan terjadi ledakan penduduk. Adalah konsensus internasional bahwa ledakan penduduk adalah salah

satu masalah sosial yang sangat pelik. Yang kita perlukan sekarang di Kalimantan Tengah adalah peningkatan kualitas kependudukan itu sendiri

Hal yang sudah dan akan di lakukan oleh Koalisi Kependudukan Kelimantan Tengah diantaranya : Sudah melakukan sosialisasi UU no 53 Tahun 2009 di 13 kabupaten dan 1 Kota. Dengan harapan amanat UU tersebut dapat dilaksanakan yaitu pembentukan BKKBD. Disamping itu juga kami sekarang dalam proses pendaftaran organisasi di Kesbang Linmas Provinsi. Dan rencananya akan menyelengarkan Rakerda. Koalisi Kependudukan tempat berkumpulnya berbagai elemen masyarakat dengan tujuan melakukan kajian kependudukan dan memberikan masukan kepada instansi yang memerlukan. Namun dalam praktiknya tentu akan menghadapi kesulitan , seperti maslah teknis. Sinkronisasi berbagai peraturan perundang-undangan dan menghindari tumpang tindih peraturan kependudukan. tidak akan ada masalah dalam organisasi apabila semua anggota nantinya aktif dalam memberikan masukan yang konstruktif dan turut berperan serta dalam tugas dan tanggung jawabnya dalam organisasi.

3. Kebijakan Program Transmigrasi Pemprov Kalteng mengambil tindakan tegas menyikapi banyaknya masalah dalam program transimigrasi, dan dalam perkembangannya beberapa lokasi transmigrasi di Kalteng telah berhasil dan berkembang baik. Namun demikian, ada pula yang belum berkembang dan mengalami kegagalan akibat berbagai masalah yang timbul. Ada masalah pertanahan, seperti tumpang tindih peruntukan lahan, okupasi penduduk setempat terhadap lahan transmigrasi, sertifikasi lahan dan adanya kecemburuan sosial bagi penduduk desa sekitar

Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan perbaikan dan pembenahan terhadap lokasi atau eks lokasi yang bermasalah tadi secara intensif, termasuk lokasi baru agar tidak timbul masalah. Karena itu, diputuskan untuk menunda sementara (moratorium) program pembangunan Pemukiman Transmigrasi Baru (PTB) dan penempatannya di beberapa kabupaten di wilayah Kalteng, sejak tahun 2013 sampai dengan terselesaikannya beberapa permasalahan tersebut. Sepanjang calon lokasi benar-benar clear and clean, layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan. Selain itu, usulan tersebut merupakan program prioritas kabupaten dan telah dibahas serta dinyatakan layak program oleh Kemenakertrans RI. Catatan Tabengan, berdasar data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi

(Disnakertrans) Kalteng, penerimaan transmigran di wilayah itu pada 2011 lalu berjumlah 810 kepala keluarga (KK). Sedangkan pada 2012 meningkat cukup tajam menjadi 1.370 KK dan merupakan terbesar dalam sejarah program transmigrasi di Kalteng. Ke-1370 KK itu akan ditempatkan di 6 kabupaten, Sukamara, Lamandau, Gumas, Kapuas, Katingan, dan Seruyan. Hingga saat ini transmigran yang masih di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bina berjumlah 2.225 KK. Mereka berada di Kabupaten Seruyan dan Kotawaringin Barat, ditambah 810 KK pada 2011. Sedangkan transmigran lainnya sudah menjadi desa definitif di kabupaten/kota. 4. Kebijakan Mortalitas

Perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dan kesakitan dalam masyarakat dari waktu kewaktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan

berbagai survei dan penelitian.

Semakin baik tingkat kesehatan masyarakat maka semakin panjang angka harapan hidup di suatu daerah. Maka dari itu diadakan kebijakan mengenai peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS I. PERMASALAHAN A. Penyediaan infrastruktur B. Pengembangan Ekonomi lokal C. Kualitas Pendidikan D. Kesejahteraan Sosial E. Pengembangan Birokrasi F. Masalah pengelolaan sumberdaya alam Kapasitas dan keterjangkauan II. ISU STRATEGIS A. Kebijakan internasional B. Kebijakan Nasional C. Kebijakan regional D. Komitmen terhadap Internasional Adaptasi dan Iklim

Mitigasi Perubahan Global

A. Masalah penyediaan Infrastruktur 1. Belum terwujudnya sistem dan jaringan transportasi, komunikasi, dan informatika yang mendukung aktifitas ekonomi kerakyatan. 2. Masih terbatasnya infrastruktur pengairan yang mendukung ketahanan pangan 3. Belum optimalnya pemanfaatan sumber energi untuk masyarakat. 4. Masih rendahnya kualitas infrastruktur terutama prasarana jalan dan jembatan, serta prasarana lalu lintas air antarkabupaten/kota.

5. Luasnya wilayah Kalimantan Tengah yang dihuni oleh penduduk relatif sedikit dan terpencar-pencar menyebabkan pelayanannya menjadi sulit. B. Pengembangan Ekonomi lokal a. Pengelolaan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, serta kehutanan belum dikelola secara profesional dan sebagian besar masih dikelola secara tradisional. b. Masih rendahnya produktifitas pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, serta kehutanan. c. Belum terselenggaranya sistem perekonomian kerakyatan yang terpadu. d. Masih rendahnya kualitas pengembangan pemasaran pariwisata dan pengelolaan destinasi wisata. e. Masih rendahnya kualitas kelembagaan dalam pelayanan

penanaman modal. f. Masih rendahnya kualitas iklim usaha, promosi dan kerjasama investasi. g. Terbatasnya akses koperasi dan UMKM kepada sumberdaya produktif (bahan baku, permodalan, teknologi, sarana pemasaran serta informasi pasar). h. Masih rendahnya produktifitas dan daya saing produk koperasi dan UMKM. i. Belum optimalnya penyelenggaraan kemitraan usaha antara ekonomi kerakyatan dengan ekonomi skala besar. j. Pengelolaan Sumber Daya Alam yang tidak memenuhi kaidahkaidah teknis menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap sektor-sektor lain

10

C. Masalah kualitas & keterjangkauan pendidikan 1. Kondisi geografis Kalimantan Tengah yang begitu luas dan sulit dijangkau diperlukan strategi khusus dalam mewujudkan

pelayanan pendidikan yang prima. 2. Tingkat pelayanan pendidikan kepada publik masih perlu ditingkatkan terutama pelayanan pendidikan pada masyarakat di daerah pedalaman/ terpencil/terpinggir. 3. Kompetensi dan relevansi serta daya saing lulusan satuan pendidikan perlu ditingkatkan. 4. Masih rendahnya kualitas dan kuantitas tenaga kependidikan. D. Kesejahteraan sosial 1. Tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu melahirkan serta tingginya proporsi balita kurang gizi. 2. Tingginya kesenjangan status kesehatan dan akses terhadap pelayanan kesehatan antar wilayah, gender dan kelompok pendapatan. 3. Terjadinya beban ganda penyakit yaitu pola penyakit yang diderita masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular. 4. Masih perlunya ditingkatkan kualitas kependudukan dan ketenagakerjaan, keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olah raga di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. tenaga pendidik dan

E. Masalah pengembangan kapasitas birokrasi 1. Pelaksanaan otonomi daerah yang masih setengah-setengah, antara lain dengan masih banyaknya instansi Pemerintah di daerah (kanwil-kanwil) menyebabkan proses koordinasi masih lemah.

11

2. Kurangnya peran Gubernur selaku wakil Pemerintah di daerah. 3. Masih adanya kebijakan pembangunan oleh Pemerintah yang kurang berpihak ke Wilayah Indonesia Bagian Timur. 4. Masih diperlukan pemeliharaan dan peningkatan kerukunan hidup antar suku, ras dan agama yang berkelanjutan serta masih

rendahnya pemahaman masyarakat tentang Wawasan Kebangsaan. 5. Belum optimalnya kinerja kelembagaan masyarakat dalam

menciptakan ketertiban dan ketentraman umum. 6. Ketentraman dan ketertiban masih perlu diciptakan secara lebih efektif untuk menjaga ketentraman dan ketertiban lingkungan. 7. Kurang efektifnya mekanisme pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan, serta masih lemahnya peran serta masyarakat dalam pengambilan keputusan khususnya di bidang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. 8. Pembangunan di sektor lingkungan hidup belum menjadi isu sentral pembangunan. 9. Masih belum optimalnya produktivitas pemanfaatan dan

pengendalian ruang sesuai aturan hukum yang berlaku

F. Masalah pengelolaan sumberdaya alam 1. Potensi sumberdaya alam Kalimantan Tengah yang berlimpah berupa wilayah yang luas, sumber daya hutan, pertanian, perikanan, kelautan, perkebunan, pertambangan, kawasan gambut dan lain sebagainya belum sepenuhnya dapat dikelola secara optimal. 2. Masih banyak ijin-ijin pengelolaan sumberdaya alam yang telah dikeluarkan pemerintah namun belum sepenuhnya didayagunakan

12

3. Pendayagunaan

sumberdaya

alam

umumnya

masih

pada

tahap

menghasilkan bahan mentah atau komoditas primer yang mempunyai nilai tambah yang rendah 4. Pola pendayagunaan sumberdaya alam yang cenderung tidak terkendali berakibat pada berbagai kawasan, seperti kawasan lahan gambut dan kawasan HoB serta kawasan strategis yang mempunyai fungsi daya dukung lingkungan lainnya yang merupakan sumberdaya alam yang tak ternilai akan terancam, serta terdegradasi semakin meluas dan pada akhirnya akan memberikan dampak negatif terhadap perubahan iklim global.

ISU STRATEGIS Isu strategis Kebijakan Internasional 1. Meningkatnya kerjasama ekonomi yang ditandai dengan lahirnya Forum Kerjasama Regional dalam bidang ekonomi seperti APEC, EEC, ASEAN, AFTA, G-8 dan lain sebagainya. 2. Penghormatan terhadap hak-hak individu terlalu ditonjolkan sehingga dapat mengorbankan hak-hak masyarakat secara keseluruhan 3. Adanya kesadaran masyarakat dunia untuk menjaga dan memelihara planet bumi karena ada indikasi telah terjadinya degradasi lingkungan yang mengglobal 4. Komitmen MDGs yang ditetapkan pada UN Summit tahun 1990 oleh PBB Isu strategis Kebijakan Nasional 1. Isu demokratisasi yang cenderung melebihi porsinya, dimana

masyarakat menuntut peran yang lebih besar dalam berbagai aspek pembangunan 2. Keterbatasan Sumber Daya Energi Listrik Dalam Mendukung

Pengembangan Ekonomi Lokal

13

3. Isu Hak Asasi Manusia (HAM) yang ditandai dengan beberapa lembaga yang menangani HAM

dibentuknya

4. Isu Lingkungan hidup, dengan meningkatnya pencemaran dan kerusakan Lingkungan Hidup 5. Isu Otonomi Daerah, dengan ditetapkanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Isu strategis Kebijakan Regional A. Tantangan untuk meningkatkan derajat ekonomi kawasan dengan tetap menjaga isu tentang kelestarian lingkungan alam : 1. Optimalisasi pengembangan sektor dan komoditas unggulan berbasis sumber daya alam lokal 2. Adanya kesenjangan pembangunan antarwilayah 3. Degradasi sumber daya alam dan lingkungan hidup dan mitigasi bencana 4. Masih rendahnya perkembangan jumlah dan usaha koperasi dan UKM sebagai dasar penguatan struktur dan fundamental

perekonomian di daerah. 5. Masih tingginya kebutuhan investasi di sektor strategis di wilayah pusat-pusat pertumbuhan 6. Masih belum optimalnya perkembangan produktivitas dan

pendapatan masyarakat di sektor pertanian dalam arti luas

B. Kendala infrastruktur dan keterjangkauan berbagai kawasan: 1. Terbatasnya kuantitas dan kualitas prasarana perhubungan 2. Lemahnya integrasi jaringan infrastruktur multimoda 3. Lemahnya aksesibilitas wilayah-wilayah pedalaman 4. Masih banyaknya infrastruktur strategis yang harus dibangun dan dikembangkan untuk membuka keterisolasian dan percepatan pembangunan wilayah. C. Rendahnya mutu layanan umum:

14

1)

Masih belum meratanya jangkauan pelayanan dasar pendidikan dan rendahnya mutu pelayanan pendidikan di daerah perdesaan dan pedalaman di Kalimantan Tengah

2)

Masih belum optimalnya cakupan layanan kesehatan dasar dan kualitas pelayanan kesehatan di pusat-pusat yankesmas di daerah

3)

Masih belum optimalnya cakupan layanan kesejahteraan sosial dan kinerja pelayanan sosial di pusat-pusat pelayanannya

4)

Masih belum optimalnya cakupan layanan pendidikan dan kualitas pembelajaran di pusat-pusat pendidikan di daerah

5)

Masih belum meratanya jangkauan pelayanan kesehatan dasar dan rendahnya mutu pelayanan kesehatan di daerah perdesaan dan pedalaman di Kalimantan Tengah.

D. Masih banyaknya desa tertinggal serta lemahnya daya dukung dan kualitas SDM pedesaan: 1) 2) Rendahnya kualitas dan produktifitas tenaga kerja Masih tingginya Jumlah desa tertinggal (895 desa) atau 61,81% dengan kondisi terbatas bidang infrastruktur, akses pendidikan, akses kesehatan, perekonomian rakyat yang belum berkembang serta kelembagaan desa dan kelembagaan masyarakat yang masih rendah. Isu strategis Komitmen Internasional Terhadap Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Global 1. Pemerintah Indonesia telah menentukan target penurunan emisi karbonnya sebesar 26 persen pada tahun 2020 dan meningkat menjadi 41 persen apabila ada dukungan nyata negara-negara maju 2. Sebagai bagian dari upaya penurunan emisi karbon tersebut, Pemerintah Indonesia telah menandatangani Letter of Intens Kerjasama IndonesiaNorwegia di bidang Kehutanan dan Perubahan iklim. Kerjasama ini akan membantu Indonesia dalam mengelola sumberdaya hutan secara lestari sekaligus mengurangi gas rumah kaca yang keluar dari kegiatan

15

deforestasi dan kerusakan lahan gambut. 3. Presiden RI telah menunjuk Provinsi Kalimantan Tengah sebagai provinsi percontohan untuk melaksanakan tahapan awal pengurangan emisi karbon dari kegiatan deforestasi dan degredasi atau lebih dikenal dengan istilah REDD + (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation ), pada Sidang Kabinet tanggal 23 Desember 2010. 4. Terpilihnya Kalimantan Tengah didasarkan pada kombinasi hasil evaluasi kualitatif dan kuantitatif dimana terlihat bahwa Kalimantan Tengah merupakan provinsi ketiga terluas dalam hal penutupan hutan serta kawasan gambutnya dan sedang menghadapi tantangan nyata deforestasi dan kerusakan gambut 5. Penunjukkan Kalimantan Tengah sebagai provinsi percontohan pelaksanaan REDD+ akan membawa implikasi yang luas. Kalimantan Tengah harus mampu mengelola kompleksitas dari implementasi tersebut yang antara lain mencakup reformasi birokrasi untuk menjamin terwujudnya transparansi dan anti korupsi, penegakan hukum dalam memberantas pembalakan liar, penataan batas kawasan hutan, integrasi data bidang kehutanan, perkebunan, pertambangan dan pertanian pada tingkat Kabupaten/Kota. 6. Melalui kerjasama Indonesia-Norwegia, Pemerintah Norwegia akan mendukung dalam hal transformasi kelembagaan dan penguatan kapasitas Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut.

SASARAN
VISI 1. Sinergi dan harmonisasi Pembangunan Kewilayahan Kalimantan Tengah melalui pemantapan Rencana Penataan Ruang Provinsi (RTRWP) secara berkelanjutan dengan memerhatikan kesejahteraan SASARAN 1. Teridentifikasinya cluster-cluster ekonomi unggulan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. 2. Tumbuhnyaclustercluster ekonomi unggulan daerah yang
16

rakyat dan lingkungan hidup.

2. Menciptakan pendidikan berkualitas dan terakses serta merata

belum berkembang. 3. Terwujudnya rencana tata ruang yang selaras dengan arah pengembangan ekonomi unggulan daerah dan mengarusutamakan lingkungan 4. Diperolehnya persetujuan dari pemerintah pusat yang mendukung kota Palangka Raya sebagai pusat pemerintahan NKRI. 5. Terpeliharanya kelestarian lingkungan hidup 1. Meningkatnya kesejahteraan dan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. 2. Penataan sistem pendidikan yang efektif dan efisien. 3. Tersedianya sarana dan prasarana bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan 4. Tersedianya akses infrastruktur menuju pusat-pusat pendidikan.

3. Menjamin dan meningkatkan kesehatan masyarakat yang merata dan mudah dijangkau

1. Tersedianya standar pelayanan kesehatan 2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas layanan tenaga kesehatan 3. Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan 4. Tersedianya akses infrastruktur kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat

17

4. Pembangunan dan peningkatan infrastruktur yang menjangkau kantongkantong pemukiman penduduk dan memfasilitasi pembangunan ekonomi rakyat

1. Terwujudnya jaringan transportasi serta komunikasi dan Informatika 2. Terwujudnya peningkatan kelas bandara Tjilik Riwut dan Bandara Penunjang di Kalimantan Tengah 3. Terpeliharanya dan terbangunnya infrastruktur pengairan makro dan mikro, serta pencetakan sawah. 4. Tersedianya sumber daya energi yang terjangkau. 1. Tersedianya regulasi dan fasilitasi yang mendorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan. 2. Meningkatkan kemampuan managerial pelaku ekonomi kerakyatan 3. Terlaksananya program pembangunan daerah berbasis kemitraan usaha 1. Peningkatan ketrampilan masyarakat yang menunjang kegiatan ekonomi 2. Peningkatan kapasitas dan kinerja aparatur secara terencana dan sistematis. 1. Terwujudnya kehidupan bermasyarakat yang rukun, damai dan sejahtera di bumi Tambun Bungai 2. Meningkatnya pemahaman dan penghargaan terhadap adat istiadat lokal.

5. Pengembangan dan penguatan ekonomi kerakyatan yang saling bersinergi dan berkelanjutan

6. Pelembagaan sistem penguatan kapasitas SDM masyarakat dan Pemerintah

7. Terciptanya kerukunan dan kedamaian serta sinergitas dan harmonisasi kehidupan bermasyarakat di Kalimantan Tengah

18

DAFTAR PUSTAKA

http://kalteng.bkkbn.go.id/berita/328/ http://kalteng.bkkbn.go.id/berita/307/ http://pulpiskab.bps.go.id/index.php/component/content/frontpage http://www.kaltengpos.web.id/?menu=detail_atas&idm=7809


[DOC] BAB 47 www.bappenas.go.id/get-file-server/node/6026/

http://www.atn-center.org/index.asp

Sosialisasi Perda Nomor 1 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2010-2015

19