Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KETIDAK SEIMBANGAN CAIRAN PADA PENYAKIT DEMAM FEBRIS

DISUSUN OLEH: INDRA ASMARA 02 / 154433 / KU / 10189

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2006

DEMAM FEBRIS
A. PENGERTIAN Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara abnormal. Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain : 1. Demam septik Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik. 2. Demam remiten Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik. 3. Demam intermiten Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana. 4. Demam kontinyu Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia. 5. Demam siklik Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula. Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial.

B. ETIOLOGI Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adala cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lian yang menyertai demam. Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya. C. PEMERIKSAAN PENUNJANG Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi. D. PENATALAKSANAAN THERAPEUTIK 1. Antipiretik 2. Anti biotik sesuai program 3. Hindari kompres alkohol atau es B. BASIC PROMOTING PHYSIOLOGY OF HEALTH Keseimbangan Cairan 1. DEFINISI Cairan dan elektrolit sangat dibutuhkan oleh tubuh dan jumlahnya harus dipertahankan demi kesehatan tubuh manusia. Keseimbangan cairan dan elektrolit ini untuk menjaga hoemeostasis tubuh. Keseimbangan cairan ini untuk memelihara kesehatan tubuh dalam proses fisiologi tubuh. Banyak penyakit yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan cairan tubuh ini. Dalam keadaan normal suhu atau aktivitas yang berlebihan dapat menggaggu keseimbangan cairan jika tidak diimbangi pemasukan air

dan garam yang adekuat. Pada proses penyembuhan bagi pasien, pemberian diuretic juga dapat mengganggu homeostasis cairan dan elektrolit tubuh jika tidak diganti. Cairan dsalam tubuh dibagi dalam 2 jalur, intravascular dan ekstravaskular. Cairan intravascular (ICF) yang biasa disebut juga cairan seluler, ditemukan dalam sel-sel dalam tubuh. Terdapat 2/3 atau sampai dari total cairan dalam tubuh. Cairan ekstraveskuler (ECF) terdapat di luar sel, yang terbagi dalam 3 bagian: Cairan intravascular (plasma), Cairan interstisial, dan cairan antar sel (trancellular fluid). Plasma ditemukan diantara system vaskuler, cairan Interstisial mengelilingi sel dan termasuk dalam cairan getah beling (lymph). Cairan transeluler dikeluarkan oleh selsel epitel. Komposisi ionic dari cairan ini berbeda dengan plasma dan cairan interstisial. Contoh dari cairan transelular adalah cairan cerebrospinal, cairan sekat paru-paru, peritoneal, dan cairan synovial 2. NILAI - NILAI NORMAL Persentase cairan dalam tubuh manusia: Umur Bayi cukup umur, bayi baru lahir 1 tahun Usia puber 39 tahun 40 60 tahun Lebih dari 60 tahun Komposisi cairan tubuh : Komposisi cairan masing-masing orang berbeda, Persentase 70 - 80 % 64 % 52 60 % 47 55 % 46 52 % Ion yang ada pada cairan

ekstravascular adalah Sodium da Klorida. Pada intravaskuler ionnya adalah Potasium da Pospate. Cairan elektrolit diukur dengan miliequivalent / liter ( mEq/L) atau milligram/100 mili liler (mg/100mL ). Rata-rata cairan tubuh yang diperlukan per hari Umur 3 hari 1 tahun 2 tahun 6 tahun 10 tahun 14 tahun 18 tahun ( dewasa ) Estimasi berat badan 3,0 9,5 11,8 20 28,7 45 54 mL/24 jam 250 300 1150 3300 1350 1500 1800 2000 2000 2500 2200 2700 2200 2700

Rata-rata cairan yang keluar per hari Rute Urin Cairan yang tidak terasa Paru-paru Kulit Keringat Feces Total Devisit volume cairan 1 Faktor Resiko Cairan yang tidak terasa Vomit Diarea Suction (gastric) Pembuangan sekresi Keringat berlebih 2 Tanda klinis Weight loss 2% lost ringan 5% lost sedang 8% lost berat kerusakan tugor kulit lemah dan peningkatan nadi Interevensi Kaji perubahan tanda klinis Tambahkan cairan oral jika perlu Provide psr medication for nausea as required Monitor tanda vital dan berat badan Kaji tugor Kaji suara nafas Monitor intake dan output cairan tubuh Lakukan pengkajian terhadap inmtergitas kulit membrane Lakukan tes labolatorium dan monitor Jumlah (mL) 1400 1500 350 400 350 400 100 100 200 2300 - 2600

Kurangnya cairan yang turunnya tekanan darah masuk, akibat: postural hypotensi Anoreksia Nausea, vomit Sukar menelan Depresi/ confution Unavailability of fluid menurunnya volume cairan tidak ada suara nafas Intake cairan lebih sedikit dari yang keluar Menurunnya volume urin Keringnya mukosa Waktu

Data labolatorium : Naiknya hematokrit Naiknya Hb Naiknya BUN Turunnya CVP

Urat leher mendatar pengisian kapiler lambat ( 5 detik ) Adanya kelemahan dan haus

C. Pengkajian : Pengkajian klien dengan gangguan keseimbangan cairan ini meliputi : riwayat kesehatan, clinical measurement Riwayat kesehatan klien:

Intake makanan dan cairan: jumlah dan macam minuman yang biasa dikonsumsi jumlah dan macam minuman yang biasa dikonsumsi Program klien yang merubah pola makan dan minum saat ini Riwayat nausea, muntah, nyeri atau sakit lain yang disebabkan oleh makanan dan minuman Output cairan : Perubahan jumlah dan frekwensi pengeluaran urin Ketidak seimbangan cairan Kehilangan cairan lewat oral maupun anal yang berlebih Pengalaman akan tanda-tanda dehidrasi ( haus yang berlebih, kulit kering, membrane mukosa kering, urin sedikit ). Pengalaman tentang tanda-tanda kelebihan cairan ( kesulitan bernafas, naiknya berat badan ) Ketidakseimbangan elektrolit tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit : Gangguan status mental, disorientasi, pingsan, kejang, kelelahan, nyeri, sesnsasi abnormal ( seperti terbakar, seperti ditusuktusuk, tingling, kejang perut atau distensi, palpitasi ). Proses Penyakit : Riwayat penyakit gagal ginjal, penyakit jantung, hipertensi, diabeters insipidus, gangguan tyroid dan paratiroid, trauma yang parah, penyakit kronis ( kanker, colitis, ileitis, dll ). Perngobatan : Tentang riwayat pengobatan yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit : diuretic, steroid, Suplemen natrium, penambah garam, antacid, aldosteron, serta obat inhibitor agen lainnya.

Pengobatan: Riwayat pengobatan : dialysis, nutrisi parenteral total, tube drainage (NGT, suction usus), atau makan lewat selang. Clinical Measurement: Tiga pengukuran simple yang dapat perawat kaji tanpa order medis, yaitu Berat badan, vital sign, dan itake serta output cairan. Berat badan harian.

Kehilangan 5 8 % cairan dari total berat badan mengindikasikan kehilangan cairan sedang- berat. Untuk mendapatkan pengukuran yang akurat, perawat harus menyeimbangakan skala sebelum melakuakan pengukuran Waktu yang sama ( sebelum makan atau setelah makan ) Memakai baju yang sama atau sejenis

Skala pengukuran yang sama ( dengan posisi berdiri, dalam tempat tidur, di kursi, dll), harus didokumentasikan Tanda-tanda vital. Tingginya temperature dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh. Takikardi merupakan tanda pertama hypovolemia yang berhubungan dengan deficit volume cairan. Penurunan nadi jika terjadi deficit volume cairan Kenaikan Nadi jika volume cairan berlebih. Ketidakseimbangan denyut jantung adalah akibat dari ketidak seimbangan Potasium (K+). Perubahan pola dan kedalaman nafasdapat terjadi akibat ketidakseimbangan asam-basa. Tekanan darah turun secara drastic jika volume cairan berkurang dan hipovolemia Tekanan darah akan naik jila volume cairan berlebih. Orthostatic hypotensi dapat terjadi akibat Volime cairan deficit atau hipovolemia. Intek dan keluaran cairan Pengukuran ini penting untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit. Anamnese penyakit anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul demam, gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah, nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah anak menggigil, gelisah atau lehetargi, upaya yang harus dilakukan. Melakukan pemeriksaan fisik. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal serta keadaan umum klien Melakukan pemeriksaan penunjang lain

seperti: pemeriksaan laboratotium, foto rontgent ataupun USG. D. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi. 2. Pengaturan suhu tidak efektif b.d. penyakit klien 3. Cemas b.d. Proses penyakit (demam ) 4. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaporsis. 5. Intoleransi aktivitas b.d. tirah baring / imobilisasi 6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.b. Ketidakmampuan mencerna makanan karena factor biologi E. PERNCANAAN
No.
1

Diagnosa Keperawatan
Hipertermi b/d proses penyakit edekuat ketika panas Berkeringat

Rencana Keperawatan NOC


Termoregulasi Suhu pasien turun normal (36,5 37,5) Status hidrasi Fever Treatment Hct cairan elektrolit yang banyak Ber cairan lewat IV lakukan water tapid sponge Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforsis Anjurkan pemberian cairan Monitor ketidakseimbangan Monitor intake dan output Monitor nilai WBC, Hgb, dan

NIC
Temperature regulation Monitor suhu tiap 2 jam Monitor tanda-tanda vital Ajurkan dan pertahankan keadekuatan nutrisi dan cairan klien Kolaborasi dengan medis untuk pemberian obat yang sesuai (antipiretik)

Resiko kurang volume cairan

- tidak ada tanda-tanda dehidrasi - status cairan klien adekuat

Manajemen cairan monitor monitor tanda dehidrasi Atur intake dan output pasien berat badan dan

secara cermat tubuh dan sesuai Ukur/catat haluaran urine dan berat jenis. Catat ketidak seimbangan masukan dan haluran kumulatif Ht/jumlah 3 Cemas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit Cemas hilang dengan kriteria: - klien dapat mengidentifikasi haldan menurunkan suhu tubuh setiap tidakan yang dilakukan - klien penurunan proses penyakit 4 Pengaturan suhu tidak efektif b.d. proses penyakit Thermoregulation mengungkapkan cemas Kaji membran mukosa kering, tugor kulit yang kurang baik dan rasa halus Pantau sel darah nilai laboratorium, BUN,cre, merah, gejala Monitor Vital Sign Berikan cairan paenteran (IV) Monitor status nutrisi klien Jelaskan pada keluarhga tanda dehidrasi, serta cara penanganannya. Kolaborasi dengan ahli gizi dan medis untuk memberikan nutrisi dan obat yang Monitor status hidrasi klien Monitor hasil labolatorium untuk mencegah penumpukan cairan dalam

Elek,LED, GDS 1. Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang dimiliki klien mengenai hipertermi informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi bahwa kecemasam merupakan respon yang normal berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit Temperature regulation Monitor suhu tiap 2 jam Monitor tanda-tanda vital Ajurkan dan pertahankan keadekuatan nutrisi dan cairan klien Kolaborasi dengan medis untuk pemberian obat yang sesuai (antipiretik) Selimbuti klien jika peril Kompres dengan air hangat

hal yang dapat meningkatkan 2. Berikan

- klien mau berpartisipasi dalam 3. Validasi perasaan klien dan yakinkan klien

yang 4. Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan

berhubungan dengan hipertermi,

jika perlu Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai 5 Intoleransi aktivitas b.d. tirah baring / imobilisasi Activity tolerance - Stamina pasien terjaga sendiri 6 Ketidakseimban gan nutrisi kurang dari kebutuhan b.b. Ketidakmampua n mencerna makanan karena factor biologi Nutritional status: - Adekuatnya peroral intake indikasi Energi management Tentukan batasan gerak klien Kolaborasi dengan ahli gizi tentang makanan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh klien Monitor fisik serta emosi klien Monitor pola tidur klien Kurangi ketidaknyamanan Anjurkan klien untuk bed rest Monitor tanda-tanda vital klien Monitor status energi klien Monitor intake dan output

- Pasien dapat melakukan ADL -

cairan klien Managemen nutrisi makanan Catat intake dan output makana Kaji adanya tanda anoreksia, letargi, dan diare Beri makanan yang dapat menunjang daya tubuh klien Anjurjan keluarga untuk selalu memotivasi anak untuk makan yang banyak