Anda di halaman 1dari 3

1.

Dalam teori-teori komunikasi massa dikenal beberapa model dan teori antara lain: uses and gratification yang dimunculkan Blumler, Gurevitch dan Katz, cultural imprialism theory yang dimunculkan Herb Schiller, spiral of silence theory diperkenalkan Elizabeth NoelleNeumann dan tentu saja agenda setting di mana tulisan Bernard Cohen yang dinilai menjadi dasar dari apa yang disebut teori agenda setting media massa.Sebelumnya memang ada peneliti yaitu McCombs dan Shaw yang dinilai mempunyai gagasan yang sangat mirip dengan teori ini. Agenda Setting Theory adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa. Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang penentuan agenda adalah: (1) masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu; (2) konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain; Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan agenda adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal Agenda setting merupakan pemikiran yang menyatakan bahwa media tidak mengatakan apaapa yang orang pikirkan tetapi apa yang harus dipikirkan. Sejarah agenda setting sebenarnya sudah ada sejak lama tanpa ada yang memperkenalkan terlebih dahulu, namun sudah dipraktikkan oleh media massa khususnya media cetak koran atau majalah di era Penny Press. Dalam buku Agenda Setting Media Massa, Apriadi Tamburaka menjelaskan lebih detail bagaimana sejarah praktik agenda setting tersebut dengan mengungkapkan beberapa contohcontoh yang ada. Mulai dari penelitian Chape Hill, Charlotte serta Shanto Iyengar. Dari beberapa penelitian tersebut tampaknya memang berhasil menemukan bukti akan adanya keterkaitan media dalam "mengolah" pemberitaan menjadi sebuah agenda yang mempunyai tujuan. Karena itulah media dinilai memiliki kekuatan besar dalam melakukan setting di tengah-tengah masyarakat. Buku ini tidak hanya bicara kasus luar negeri, tetapi juga kasus-kasus dalam negeri yang memang dinilai memiliki agenda yang awalnya hanya berupa isu namun karena dikemas dengan cukup baik dan apik sehingga memberi pengaruh baik positif dan negatif kepada masyarakat. Isu yang dikemas bisa jadi persoalan politik, kebijakan, penampilan, dan sebagainya.

Ada sembilan bab yang mengisi buku ini. Mulai dari pemahaman akan kerangka teoretis mengenai agenda setting, komunikasi massa, hingga ke persoalan agenda setting dalam konstruksi berita jurnalistik. Diharapkan dengan memahami agenda setting media massa ini, masyarakat tahu hendak dibawa ke mana mereka. Sehingga ada penyaringan-penyaringan yang selektif yang dilakukan masyarakat dalam melihat agenda setting yang dilakukan media. Tentu saja, buku ini sangat penting untuk dibaca terutama para mahasiswa komunikasi, jurnalis, politisi, kritikus media massa dan juga masyarakat, karena sangat membantu memahami apa itu agenda setting.

2. Banyak faktor yang mempengaruhi agenda setting itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi agenda media antara lain kebijakan-kebijakan dalam perusahaan media itu sendiri, pengaruh dan gejolak sosial, kebijakan pemerintah, serta yang tidak kalah penting adalah lembaga atau badan yang mensponsori media tersebut. Agenda setting diperlukan untuk mempengaruhi atau untuk menyamakan agenda publik dengan agenda media. Dengan kata lain, mengkoordinasi pendapat-pendapat yang muncul atas suatu permasalahan. Ini bertujuan untuk menghindari kesimpang siuran dalam masyarakat. Agenda atau pemikiran publik memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi agenda pembuat kebijakan (pemerintah). Karena itu, media berusaha untuk mengelola agenda publik melalui agenda media. Secara tidak langsung, agenda setting menjadi media kontrol sosial terhadap masyarakat, kembali kepada fungsi media itu sendiri. Agenda media dianggap mewakili agenda publik (representatif), yang memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan-perubahan sosial. Agenda setting bekerja melaui apa yang dimuat dalam pemberitaan, baik cetak maupun elektronik. Untuk menjalankan sebuah agenda media, media tersebut harus selektif dalam memilih isu-isu yang akan disampaikan kepada publik, juga memanajemen cara dan waktu penyampaiannya. Agenda media dapat berjalan dengan baik atau diterima sebagai agenda publik jika media itu memiliki kredibilitas dimata masyarakat, dapat dipercaya, apa yang diberitakan tepat dan akurat serta dapat dipertanggung jawabkan. Faktor lain yang mempengaruhi apakah agenda itu dapat dterima publik adalah kebutuhan masyarakat terhadap informasi atau isu yang aktual dan faktual. Agenda media yang baik

adalah agenda yang mengangkat isu-isu yang sedang hangat di masyarakat atau sedang menjadi bahan perdebatan atau pembicaraan publik. Jadi, agenda setting hanya dapat bekerja jika publik menerimanya seperti apa yang menjadi agenda publik. Media massa, terutama media cetak (surat kabar) dianggap sebagai kekuasaan keempat dalam pemerintahan, yaitu sebagai pengontrol 3 kekuasaan lainnya (legistatif, eksekutif dan yudikatif). Kesalahan pemberitaan dalam media dapat menimbulkan konflik sosial dan perpecahan. Meskipun media tidak lagi memiliki kekuatan yang sangat absolut untuk mempengaruhi pemikiran masyarakat, media memiliki peranan untuk mengelola isu yang ada dalam masyarakat, menjadi lembaga kontrol sosial melalui pemberitaan-pemberitaannya. Ini berkaitan dengan pola konsumsi informasi mandiri dari masyarakat. Masyarakat saai ini adalah aktif dalam mencari berita, tidak lagi pasif dan hanya menerima apa yang disampaikn media diawal-awal pemunculan teori ini, tepat seperti teori peluru (bullet theory) yang menganggap media sangat berkuasa atas sumber-sumber informasi.