Anda di halaman 1dari 75

LAPORAN TUTORIAL BLOK KURATIF DAN REHABILITATIF II RESTORASI PLASTIS

Oleh : KELOMPOK TUTORIAL 1 Tutor : Drg. Hj. Ekiyantini Widyowati

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2013

ANGGOTA KELOMPOK TUTORIAL 1:

Ketua Scribber

: Devi Triya : 1. Papan : Dio Ariestanto 2. Tiara Chaeranee N

10-53

10-67 10-59

Anggota

: 1. Meirina Rosa 2. Wahyu Tri Utami 3. Alfy Nurlaily 4. Vievien Widya 5. Isnadia Nabaatin 6. Pinayungan Y. 7. Hendri Jaya 8. Alex Williyandre 9. Arini Tri K. 10. Galdhisia Devita 11. Afiena W. 10-01 10-03 10-08 10-39 10-55 10-71 10-84 10-86 10-91 10-93 10-94

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas rahmat, taufik serta hidayahnya sehingga penyusunan laporan tutorial RESTORASI PLASTIS dapat terselesaikan dengan baik. Laporan tutorial ini merupakan tugas yang diberikan pada Blok Kuratif dan Rehabilitatif II sebagai syarat untuk memenuhi tugas dari dosen yang bersangkutan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. drg. Hj. Ekiyantini Widyowati selaku tutor atas masukan dan bimbingan yang telah diberikan pada penulis selama ini. 2. Para dosen pemateri Blok Kuratif dan Rehabilitatif II yang telah memberikan ilmu. 3. Teman-teman kelompok tutorial 1 dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan tutorial ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diperlukan dalam penyusunan yang akan datang. Harapan penulis semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca.

Jember, februari 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Cover Daftar Anggota Kelompok Kata Pengantar Daftar Isi Bab I. Pendahuluan 1.1.Latar Belakang 1.2.Rumusan Masalah 1.3.Tujuan 1.4.Mapping Bab II. Tinjauan Pustaka Bab III. Pembahasan 3.1. Kalsifikasi Restorasi Plastis 3.2. Sifat Resin Komposit 3.3. Indikasi dan Kontra Indikasi Restorasi Plastis 3.4. Manipulasi Restorasi Plastis 3.5. Design Outline Kavitas 3.6. Keuntungan dan Kerugian Restorasi Plastis Kesimpulan Daftar Pustaka

1 2 3 4 5 5 5 6 7 8 18 18 32 45 47 59 69 72 74

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Seorang wanita usia 25 tahun datang ke Klinik Konservasi Gigi RSGM mengeluhkan gigi belakang berlubang. Pasien mengeluhkan sering kemasukan makanan, dan ngilu bila minum minuman dingin. Pasien menginginkan untuk dilakukan perawatan. Pada pemeriksaan klinis, gigi25 terdapat karies media kelas II Black. Tes vitalitas dengan vitalitester menunjukkan gigi masih vital, tes perkusi tidak ada keluhan. Diagnose klinis gigi25 adalah pulpitis reversible. Oleh dokter gigi A disarankan dilakukan penumpatan dengan tumpatan plastis resin komposit, olehkarena sifat dari resin yang sewarna gigi serta kerusakan gigi yang tidak besar.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa sajakah kontraindikasi klasifikasi tiap-tiap bahan restorasi plastis (amalgam, semen ionomer kaca, komposit) ? 2. Bagaimana sifat dari tiap-tiap restorasi plastis (amalgam,SIK, Komposit)? 3. Apa sajakah indikasi dan kontraindikasi dari penggunaan tiap-tiap bahan restorasi plastis (amalgam, SIK, komposit? 4. Bagaimana tahapan manipulasi dari beberapa contoh restorasi plastis? 5. Bagaimana design out line pada restorasi plastis? 6. Apa saja keuntungan dan kerugian dari tiap-tiap restorasi plastis (amalgam, SIK, komposit)?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui kontraindikasi klasifikasi tiap-tiap bahan restorasi plastis (amalgam, semen ionomer kaca, komposit) ? 2. Mengetahui sifat dari tiap-tiap restorasi plastis (amalgam,SIK, Komposit)? 3. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi dari penggunaan tiap-tiap bahan restorasi plastis (amalgam, SIK, komposit)? 4. Mengetahui tahapan manipulasi dari beberapa contoh restorasi plastis? 5. Mengetahui design out lined pada restorasi plastis? 6. Mengetahui keuntungan dan kerugian dari tiap-tiap restorasi plastis (amalgam, SIK, komposit)?

1.4. Mapping RESTORASI PLASTIS

AMALG AM

KOMPOSI T

GLASS IONOMER KLASIFIKASI

KEUNTUNGA N DAN KERUGIAN

SIFAT

INDIKASI DAN KONTRAINDI KASI

MANIPULA SI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN RESTORASI GIGI PLASTIS Tujuan restorasi gigi tidak hanya membuang penyakit dan mencegah timbulnya kembali karies, tetapi juga mengembalikan fungsinya. Bahan-bahan restorasi gigi yang ideal pada saat ini masih belum ada meskipun berkembang pesat. Untuk dapat diterima secara klinis, kita harus mengetahui sifat-sifat bahan yang akan kita pakai sehingga jika bahan-bahan baru keluar di pasaran, kita dapat segera mengenali kebaikan dan keburukan dibanding dengan bahan yang lama. Dua sifat yang sangat penting yang harus dimiliki oleh bahan restorasi adalah harus mudah digunakan dan tahan lama. Sedangkan sifat-sifat yang lainnya adalah: Kekuatan tensilnya cukup. Tidak larut dan tidak mengalami korosi dalam mulut. Sifat eksotermisnya rendah dan perubahan volume selama

pengerasannya dapat diabaikan. Tidak toksik dan tidak iritasi terhadapjaringan pulpa serta gingiva. Mudah dipotong dan dipoles. Derajat keausannya sama dengan email. Mampu melindungi jaringan gigi sekitar dari serangan karies sekunder. Koefisien muai termiknya sama dengan email dan dentin. Difusi termiknya sama dengan pada email dan dentin. Penyerapan airnya rendah. Adhesif terhadap jaringan gigi. Radiopaque. Warna translusensinya sama dengan email. Tahan lama dalam penyimpanan.

Murah. Beberapa bahan restorasi plastik yang selama ini banyak digunakan di

kedokteran gigi antara lain amalgam, silikat, komposite, dan semen glass ionomer. Bahan-bahan tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

RESTORASI GIGI Berikut ini paparan mengenai keunggulan dan keburukan berbagai jenis bahan yang umumnya digunakan untuk menambal lubang gigi. Keputusan mengenai bahan mana yang dipilih sebaiknya didiskusikan dulu dengan dokter gigi. Ada 2 macam restorasi gigi, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung artinya bahan tambalan diletakkan segera ke lubang gigi yang sudah dibersihkan dalam satu kunjungan. Termasuk di dalamnya adalah amalgam, ionomer kaca, resin ionomer, dan resin komposit. Secara tidak langsung artinya diperlukan dua atau lebih kunjungan. Pada kunjungan pertama, dokter gigi akan mempersiapkan gigi yang akan direstorasi dan membuat cetakan gigi yang akan direstorasi. Pada kunjungan berikutnya, restorasi yang sudah jadi akan direkatkan pada lubang yang sudah disiapkan.

1 RESTORASI GIGI SECARA LANGSUNG A. TAMBALAN AMALGAM Sampai saat ini amalgam merupakan bahan tambalan yang paling banyak dikembangkan dan diuji dibandingkan bahan tambalan lain. Bahan ini amat, mudah digunakan, tidak mudah pecah dan relatif murah. Karena itulah amalgam hingga saat ini masih digunakan.

Gambar restorasi dengan menggunakan bahan amalgam

Amalgam merupakan campuran beberapa logam, yaitu air raksa, perak, seng, tembaga dan beberapa logam lainnya. Banyak orang mencurigai amalgam sebagai bahan tambalan yang berbahaya karena kandungan air raksanya. Sesungguhnya, air raksa dalam amalgam terikat dalam ikatan yang stabil dengan logam lainnya sehingga aman untuk dipakai.

Hal ini diperkuat oleh pengakuan Perstauan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, bahwa amalgam adalah bahan tambalan yang aman dan baik. Di tingkat duniapun, bahan ini direkomendasikan oleh WHO. Di Amerika, Food and Drug Administration (FDA) juga

merekomendasikannya.

Amalgam sangat bermanfaat untuk merestorasi gigi geraham karena kemampuannya menahan beban kunyah yang besar. Amalgam mudah ditambalkan ke lubang yang sulit dikeringkan, seperti lubang di bawah tepi gusi. Selain itu, jarang muncul reaksi alergi terhadap bahan amalgam.

Segi buruk amalgam adalah warnanya yang keperakan sehingga secara estetik tidak menarik, apalagi kalau digunakan di gigi depan. Kadangkala juga

10

muncul sedikit rasa sensitif terhadap panas atau dingin setelah gigi ditambal amalgam. Selain 2 keburukan di atas, untuk menambalkan amalgam, dokter gigi harus mengambil struktur gigi lebih banyak dibandingkan untuk bahan tambalan lainnya. B. TAMBALAN KOMPOSIT Tambalan komposit merupakan campuran bahan kuarsa dengan resin yang menghasilkan tambalan yang berwarna seperti gigi, bahkan dapat meniru warna transparan email. Ada salah kaprah yang berkembang di masyarakat, bahwa tambalan komposit adalah tambalan LASER. Yang benar adalah sinar halogen yang berwarna biru digunakan untuk membantu proses pengerasan komposit. Tambalan komposit yang kecil ataud sedang dapat bertahan terhadap tekanan kunyah. Perlekatan tambalan komposit pada dinding lubang gigi sangat baik. Selain itu tidak banyak struktur gigi yang harus diambil untuk menambalkan komposit pada lubang gigi.

Gambar sebelah kiri gigi sebelum direstorasi dan sebelah kanan gigi yang sudah di restorasi dengan bahan komposit. Generasi resin komposit yang kini beredar mulai dikenal di akhir tahun enam puluhan. Sejak itu, bahan tersebut merupakan bahan restorasi anterior yang

11

banyak dipakai karena pemakaiannya gampang, warnanya baik, dan mempunyai sifat fisik yang lebih baik dibandingkan dengan bahan tumpatan lain. Sejak akhir tahun enam puluhan tersebut, perubahan komposisi dan pengembangan formulasi kimianya relatif sedikit. Bahan yang terlebih dulu diciptakan adalah bahan yang sifatnya autopolimerisasi (swapolimer), sedangkan bahan yang lebih baru adalah bahan yang polimerisasinya dibantu dengan sinar. Resin komposit mempunyai derajat translusensi yang tinggi. Warnanya tergantung pada macam serta ukuran pasi dan pewarna yang dipilih oleh pabrik pembuatnya, mengingat resin itu sendiri sebenarnya transparan. Dalam jangka panjang, warna restorasi resin komposit dapat bertahan cukup baik. Biokompabilitas resin komposit kurang baik jika dibandingkan dengan bahan restorasi semen glass ionomer, karena resin komposit merupakan bahan yang iritan terhadap pulpa jika pulpa tidak dilindungi oleh bahan pelapik. Agar pulpa terhindar dari kerusakan, dinding dentin harus dilapisi oleh semen pelapik yang sesuai, sedangkan teknik etsa untuk memperoleh bonding mekanis hanya dilakukan di email perifer. Tambalan komposit relatif berharga lebih mahal dibanding bahan amalgam, bergantung pada besar-kecilnya tambalan serta tingkat kesulitan dalam melakukan penambalan. Diperlukan waktu yang lebih lama untuk menambalkan komposit dibanding menambalkan amalgam. Untuk dapat menambalkan komposit, lubang harus bersih dan kering. Karena itu sulit untuk menambal lubang yang berada di bawah tepi gusi. Selain itu tambalan komposit akan berubah warna sejalan dengan waktu

C. TAMBALAN IONOMER KACA DAN IONOMER RESIN Sebelum ditemukan semen glass ionomer oleh Wilson dan Kent pada 1972, semen silikat merupakan bahan tumpatan plastis aterior yang paling banyak digunakan. Di samping itu, resin komposit juga telah berkembang dengan pesat sehingga menjadi tumpatan plastis anterior yang paling banyak dipakai. Walaupun

12

demikian, pemakaian glass ionomer tetap meningkat, khususnya karena bahan ini beradhesi ke dentin dan email. Sejak pertama kali diperkenalkan, bahan ini dapat diperoleh dalam tipe yang mengeras lebih cepat, tidak mudah larut, lebih translusens, dan estetikanya dapat diterima. Semen glass ionomer terbentuk karena reaksi antara bubuk kaca aluminosilikat yang khusus dibuat dengan asam poliakrilat. Setelah tercampur, pasta semen ini ditumpatkan ke kavitas pada saat bahan masih belum mengeras. Semen glass ionomer yang berisi logam perak dalam bubuknya telah dikembangkan serta dikenal dalam nama generiknya, yaitu cermet. Semen semacam ini mempunyai ketahanan terhadap abrasi dan keradiopakannya, sehingga dapat digunakan pada gigi posterior. Walaupun demikian, penggunaannya hanya pada kavitas yang masih terlindung, karena semen ini tidak sekuat amalgam. Keunikan lain dari bahan semen glass ionomer adalah kemampuannya untuk berikatan dengan dentin dan email secara kimia sehingga menghasilkan penutupan yang baik. Bahan ini juga mempunyai sifat khas melepaskan fluor sehingga bersifat antikaries. Dengan demikian, bahan ini direkomendasikan untuk digunakan secara luas pada abrasi serviks, tanpa harus melakukan preparasi kavitas. Keadaan ini, misalnya, terjadi pada situasi tidak adanya email untuk retensi resin komposit, atau kalaupun ada hanya sedikit sekali. Semen glass ionomer dapat digunakan sebagai restorasi tunggal atau dapat dipakai sebagai basis dan di atasnya dilapisi oleh resin komposit (teknik sandwich). Menurut Mujiono, cit Mc. Lean et al (1985) dan Tyas et al (1989), semen glass ionomer juga dapat meningkatkan perlekatan resin komposit, yaitu sebagai perantara untuk menambah retensi tumpatan komposit. Dengan cara memberikan etsa asam pada semen glass ionomer, akan terjadi erosi dan permukaan semen menjadi kasar. Kekasaran permukaan ini dapat memberi retensi mekanis terhadap resin komposit.

13

Di samping itu, semen glass ionomer juga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan perlekatan amalgam dengan jaringan dentin gigi, terutama pada karies di bagian interproksimal. Di bagian ini pengangkatan jaringan keras sebagai retensi kurang memungkinkan, karena dapat menyebabkan melemahnya struktur gigi akibat jaringan sehat tinggal sedikit. Semen glass ionomer dapat ditumpatkan di kavitas yang dalam tanpa mengiritasi pulpa, sekalipun tanpa diberi pelapik. Namun, agar tidak timbul reaksi yang tidak diinginkan pada kavitas dengan dentin, sebaiknya tetap digunakan pelapik. Biokompabilitas dari bahan ini sangat tinggi walaupun semennya bersifat sangat asam. Hal ini mungkin disebabkan oleh besarnya molekul polyanion sehingga asam tidak dapat memasuki tubulus. Namun, peradangan tetap timbul jika semen langsung diletakkan di atas pulpa yang terbuka. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari bahan tumpatan ini, harus dijaga kontaminasi antara bahan ini dengan saliva selama penumpatan dan sebelum semen mengeras sempurna. Kontaminasi dengan saliva akan sangat berbahaya karena semen akan mudah larut dan daya adhesinya akan menyusut. Untuk itu, kavitas harus dijaga agar tetap kering dengan mengusahakan isolasi yang efektif. Setelah selesai penumpatan, tumpatan sebaiknya ditutup dengan lapisan pernis yang kedap air selama beberapa jam setelah penumpatan dilakukan. Hal ini untuk mencegah desikasi karena hilangnya cairan atau semen melarut karena menyerap air. Karena adanya beberapa keunggulan dari bagian tersebut itulah maka semen glass ionomer saat ini secara luas digunakan oleh dokter gigi, terutama pada kavitas servikal yang sering terjadi pada manula dan orang yang menyikat gigi dengan cara yang kurang baik dan benar, serta pada karies yang pengambilan jaringan gigi yang sehat sebagai retensi kurang memungkinkan. Semen glass ionomer merupakan bahan tumpatan baru di bidang ilmu konservasi gigi yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir ini. Semen glass

14

ionomer digunakan sebagai bahan restorasi tetap di kedokteran gigi sejak 1972, serta disempurnakan dari tahun ke tahun sehingga menjadi bahan restorasi yang memenuhi persyaratan baik estetik maupun kekuatan serta keawetan. Ionomer kaca merupakan bahan tambalan yang berwarna seperti gigi, terbuat dari campuran bubuk kaca dan asam akrilik. Bahan ini dapat digunakan untuk menambal lubang, khususnya pada permukaan gigi. Ionomer kaca melepaskan sejumlah kecil fluoride yang bermanfaat bagi pasien yang berisiko tinggi terhadap karies. Sedikit struktur gigi yang diambil untuk menyiapkan gigi yang akan ditambal ionomer kaca. Karena mudah pecah, bahan ini tidak dapat digunakan untuk menambal gigi belakang yang digunakan untuk mengunyah. Ionomer resin terbuat dari bubuk kaca dan asam akrilik dan resin akrilik. Digunakan untuk menambal lubang yang sangat kecil pada bagian gigi yang tidak menanggung beban kunyah, karena mudah patah. Ionomer kaca dan ionomer resin berwarna seperti warna gigi tapi tidak dapat menyerupai warna email yang transparan. Kedua bahan ini jarang menimbulkan reaksi alergi.

BAHAN RESTORASI TIDAK LANGSUNG Dalam beberapa kasus, untuk mendapatkan hasil restorasi gigi yang terbaik, digunakan bahan logam tuang yang dikerjakan di laboratorium. Bahan restorasi seperti ini memerlukan 2 atau lebih kunjungan, bentuknya bisa berupa crown (mahkota tiruan), jembatan, inlay atau onlay. Crown meliputi seluruh permukaan gigi yang tampak di rongga mulut, sedangkan inlay bentuknya lebih kecil dan melekat mengikuti bentuk gigi. Onlay mirip dengan inlay, tapi lebih besar, meliputi sebagian atau seluruh permukaan kunyah gigi. Sedangkan yang di maksud dengan jembatan di sini adalah restorasi yang menggantikan satu atau lebih gigi yang sudah hilang, serta meliputi gigi-gigi di sebelahnya yang digunakan sebagai penyangga. Gambar di samping menjelaskan pengertian jembatan. Restorasi terdiri

15

dari 3 unit, yaitu 2 unit crown di kedua ujung untuk meliputi gigi penyanggah dan unit yang ditengah menggantikan gigi yang sudah hilang. Harga yang harus dibayar untuk restorasi jenis ini umumnya lebih mahal, disebabkan jumlah dan lama kunjungan yang diperlukan serta biaya tambahan untuk mengerjakan restorasi di laboratorium gigi. Bahan yang digunakan untuk restorasi ini selain logam adalah porselen, logam berlapis porselen, alloy emas dan alloy logam lainnya.Berikut ini merupakan ulasan tetntang bahan-bahan tersebut :

A. PORSELEN Porselen digunakan sebagai inlay, onlay, crown atau veneer, Veneer adalah lapisan porselan sangat tipis yang ditempatkan pada gigi menggantikan email. Biasanya digunakan untuk memperbaiki penampilan gigi yang berwarna kurang baik. Bahan porselen sangat baik secara estetika karena warnanya yang sangat mirip dengan warna gigi. Pemasangan restorasi porselen beresiko pecah bila diletakkan dengan tekanan atau bila terbentur. Kekuatannya tergantung pada ketebalan porselen dan kemampuannya melekat pada gigi. Setelah melekat pada gigi, porselen sangat kuat, tapi akan mengikis gigi antagonisnya bila permukaannya kasar.

B. LOGAM BERLAPIS PORSELEN Dibandingkan dengan porselen, restorasi ini sangat kuat karena kombinasinya dengan kekuatan logam, karena itu sering digunakan untuk membuat crown atau jembatan.

Banyak struktur gigi yang harus diambil untuk memberi tempat bagi restorasi jenis ini. Kadang-kadang muncul rasa tidak nyaman bila terkena rangsang panas atau dingin di awal penggunaan dan beberapa orang menunjukkan reaksi alergi terhadap beberapa jenis logam yang digunakan dalam restorasi.

16

C. ALLOY EMAS Alloy emas terdiri dari emas, tembaga dan logam lain, terutama digunakan untuk crown, inlay, onlay dan jembatan. Alloy ini tahan karat. Kekuatannya yang besar sehingga sulit pecah maupun terkikis, memungkinkan dokter gigi untuk mengambil sesedikit mungkin struktur gigi yang akan direstorasi. Alloy ini tidak merusak gigi antagonis dan tidak pernah memunculkan reaksi alergi. Namun, warnanya tidak bagus karena tidak seperti warna gigi.

D. ALLOY LOGAM Alloy logam tampak seperti perak, digunakan sebagai crown, jembatan atau rangka gigi palsu. Bahan ini tahan karat, sangat kuat dan tidak mudah patah atau terkikis. Beberapa orang menunjukkan reaksi alergi terhadap bahan ini, dan merasa tidak nyaman terhadap panas dan dingin di awal penggunaan. Warnanya pun tidak baik seperti warna gigi

E. CROWN, INLAY ATAU ONLAY DARI KOMPOSIT Restorasi yang terbuat dari komposit ini dibuat di laboratorium gigi. Bahan yang digunakan sama dengan yang digunakan sebagai bahan tambalan.

Keunggulannya dibanding porselen adalah tidak menyebabkan terkikisnya gigi lawan. Selain itu restorasi ini mudah pecah dan berubah warna.

17

BAB III PEMBAHASAN

3.1 klasifikasi restorasi plastis A. Klasifikasi Amalgam Alloy untuk pembuatan dental amalgam dalam garis besarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua tipe: pertama, alloy konvensional, mengandung kurang dari 6% kuprum, formula kimia bahan ini mengalami hanya sedikit perubahan sejak bertahun-tahun; kedua, alloy kaya kuprum, yang mulai banyak dipergunakan sejak beberapa tahun terakhir ini (kadang-kadang disebut sebagai high copper alloy). Dengan semakin majunya penelitian di bidang Ilmu Bahan Kedokretan Gigi, Untuk meningkatkan mutu amalgam terhadap terjadinya karies sekunder, telah

dikembangkan dengan menambahkan senyawa fluorida dengan maksud menambah efek anti kariogenik Amalgam+Fluoride.

1. Amalgam Konvensional Perbedaan utama antara berbagai aloy konvensional terletak pada bentuk dan ukuran partikelnya. Alloy yang dipotong dengan mesin bubut/ lathesin bubut bisa berbentuk coarse atau grain halus; dari keduanya yang lebih disenangi adalah partikel grain halus. Alternative lain untuk menghasilkan partikel alloy selain memotong dengan lathe adalah pembuatan partikel spheris. Perbedaaan antara lathe cut dan spheris adalah bentuk partikelnya, lathe cut cenderung berbentuk batang atau jarum tidak seragam, sedangkan spheris berbentuk bulat-bulat seragam dan kecil. Perbedaan tersebut dikarenakan proses pembuatannya yang juga berbeda. Beberapa alloy

mengandung campuran partikel yang dipotong dengan lathe dan partikel spheris.

18

Lathe Cut (batang, tidak seragam)

Spheris (bulat,seragam)

Alloy konvensional mengandung konstitusi dasar sebagai berikut : Ag Sn Cu Zn = 67-74 % = 25-27 % = 0-6 % = 0-2 %

Selain itu juga mengandung beberapa persen logam Hg sebagai bahan untuk proses amalgamisasi. Amalgamasi terjadi ketika merkuri berkontak dengan permukaan partikel logam campur Ag-Sn. Jika bubuk di triturasi, dibagian luar partikel akan larut menjadi merkuri. Pada saat bersamaan, merkuri berdifusi ke partikel logam campur. Merkuri mempunyai daya larut yang terbatas untuk perak (0,035%wt) dan timah (0,6%wt). Jika daya larut ini terlampaui, Kristal-kristal dari dua senyawa logam biner akan berpresipitasi menjadi merkuri. Kedua senyawa ini adalah senyawa Ag2Hg3 berbentuk kubik dengan pusat dibagian tengah (fase gamma) dan senyawa Sn7-8Hg heksagonal yang tersusun rapat (fase gamma 2). Karena kelarutan perak dalam merkuri lebih rendah daripada timah, fase gamma 1 berpresipitasi terlebih dahulu sementara fase gamma 2 berpresipitasi kemudian. 19

Segera sesudah triturasi, bubuk logam campur bercampur dengan cairan merkuri, menghasilkan adonan yang mempunyai konsistensi plastis. Sewaktu merkuri yang tersisa melarutkan partikel logam campur, Kristal-kristal gamma 1 dan gamma 2 akan bertumbuh. Saat merkuri menghilang amalgam sudah menjadi mengeras. Sementara saat partikel tertutup dengan kristal yang baru terbentuk, sebagian besar gamma 1, kecepatan reaksi menurun. Logam campur biasanya dicampur dengan merkuri pada rasio 1:1. Dengan rasio ini jumlah merkuri tidak mencukupi untuk bereaksi dengan seluruh partikel logam campur asli; akibatnya, partikel yang tidak bereaksi akan tetap ada pada amalgam yang mengeras. Partikel logam campur (sekarang lebih kecil, karena permukaannnya sudah dilarutkan oleh merkuri), dikelilingi dan diikat bersama-sama dengan Kristal-kristal gamma 1 dan gamma 2 yang padat. Jadi, amalgam rendah kandungan tembaga yang tipikal adalah suatu gabungan dimana partikel-partikel yang tidak dikonsumsi tertanam dalam fase gamma 1 dan gamma 2. Sifat fisik dari amalgam yang sudah mengeras tergantung pada persentase relative dari masing-masing fase struktur mikro. Partikel Ag-Sn yang tidak dikonsumsi mempunyai efek yang kuat.. makin banyak fase ini yang teetinggal dalam sruktur akhir, makin kuat amalgamnya. Komponen paling lemah adalah fase gamma 2. Kekerasan fasse gamma 2 kira-kira 10% dari kekerasan gamma 1, sementara kekerasan gamma sedikit lebih tinggi daripada gamma 1. Fase gamma 2 juga merupakan fase yang paling kurang stabil dalam lingkungan yang korosif dan dapat mengalami erosi, terutama pada leher restorasi. Secara umum, fase gamma (Ag3Sn) dan gamma 1 murni (Ag2Hg3) adalah stabil dalam lingkungan rongga mulut. Meskipun demikian gamma 1 dalam rongga dalam amalgam mengandung sejumlah kecil timah, yang dapat hilang dalam lingkungan yang korosif.

20

2. Amalgam Kaya Kuprum Sifat mekanisnya yang baik, juga ketahanan terhadap korosi dan integritas bagian tepi serta kinerjanya dalam perobaan klinis yang lebih baik, bila dibandingkan dengan logam campur konevensional yang rendah kandungan tembaga. Ada 2 macam komposisi logam campurkandunagn tembaga tinggi, yang pertama adalah bubuk logam campur gabungan, dan ynag kedua adalah bubuk logam campur berkomposisi tunggal.

a.

Logam Campur Gabungan. Merupakan campuran dari setidaknya dua jenis partikel. Bubuk gabungan

menunjukan partikel lathe-cut rendah kandungan tembaga dan partikel logam capur Ag-Cu sferis. Bahan ini lebih kuat dariapda amalgam yang dibuat dari bubuk lathecut yang kandungan tembaga nya rendah, karena dengan adanya kandungan Ag-Cu bekerja sebagai bahan pengisi yang membuat lebih kuat. Bubuk logam campur gabungan biasanya mengandung bubuk tinggi tembaga berbentuk sferis sebanyak 30%wt samapai 55%wt. Total kandungan lopam campur gabungan berkisar antara 9%wt sampai 20%wt. Reaksi bubuk logam campur gabungan dengan merkuri adalah sebagai berikut : Partrikel logam campur(+)+ Ag-Cu eutetik+Hg campur dari kedua tipe yang tidak digunakan. 1 + + partikel logam

b.

Logam Campur Komposisi Tunggal Berbeda dengan logam campur gabungan,setiap partikel pada bubuk ini

mempunyai komposisi kimia yang sama. Komponen utama dari partikel-partikel ini adalah perak, tembaga , dan timah. Logam campur ini mengandung perak 60%wt, timah 27%wt, tembaga 13%wt. Kandungan tembaga dalam berbagai logam campur komposisi tunggal berkisar 13wt-30%wt.

21

Reaksi bubuk logam campur dengan komposisi tunggal terhadap merkuri adalah sebagai berikut : Partikel logam campur Ag-Sn-Cu+ Hg terkonsumsi. Fase 2 yang tidak diinginkan dapat juga terbentuk pada amlagam komposisi 1 + + Partikel logam campur yang tidak

tunggal. Ini berlaku jika bubuk yang diatomisasi masih belum menjalni pemanasan atau jika bubuk dipanaskan terlalu lama pada temperatur terlalu tinggi. Jika tidak, pada sebagian besar amalgam komposisi tunggal, fase 2 hanya sedikit atau bahkan tidak terbentuk sama sekali.

3. Amalgam Plus Fluoride Dengan semakin pesatnya perkembangan di bidang ilmu bahan kedokteran gigi, untuk meningkatkan mutu amalgam terhadap terjadinya karies sekunder telah dikembangkan dengan menambahkan senyawa fluorida dengan maksud menambah efek anti kariogenik. Bahan restorasi amalgam yang mengandung fluorida yang dalam bubuknya merupakan amalgam konvensional tipe lathe-cut dengan komposisi (brosur Dentoria -France) : Stanus Fluorida (SnF) 1%, Perak (Ag) 68% Timah (Sn) 27% Tembaga (Cu) 4,5% Seng (Zn) 1,5%. Fluorida pada bahan restorasi amalgam dalam bentuk senyawa SnF2. Senyawa ini terbukti dapat mengurangi kelarutan enamel terhadap asam dan dapat meningkatkan konsentrasi fluorida di dalam struktur gigi yang berdekatan dengan bahan restorasi ini. Menurut Phillips, fluorida dalam amalgam cukup dapat mengurangi kelarutan permukaan enamel dari pengaruh asam, meskipun fluorida

22

yang terlepas terjadi dalam waktu yang singkat, tetapi cukup efektif untuk mencegah terjadinya karies. Mekanisme fluorida yang utama adalah meningkatkan daya tahan enamel karena adanya remineralisasi, bersifat bakterisid dan menurunkan kemampuan bakteri memproduksi asam. Karena amalgam yang mengandung fluoride ini mempunyai daya untuk mencegah karies sekunder maka dapat digunakan juga pada anak-anak dan dapat digunakan pada orang dewasa. Selain amalgam yang berflouride ini pada gigi decidui juga dipergunakan restorasi kuprum amalgam karena sifat kuprum amalgam ini antibakteri dari kuprum itu sendiri. Bahan ini tersedia dalam bentuk pil mengandung 60 - 70% mercury dan 30% kuprum. Dalam penggunaannya bahan dipanaskan sampai tetesan mercury muncul lalu ditrituasi seperti pada bahan amalgam lain dan kemudian dikondensasi didalam kavitas. Karena itulah bahan ini tidak dianjurkan untuk tambalan tetap karena terjadi mercury hygiene yang buruk. Jadi dapat disimpulkan bahwa amalgam tipe ini tidak cocok digunakan oleh orang dewasa, tetapi tipe amalgam konvensional biasanya yang dipakai untuk orang dewasa.

B. Klasifikasi komposit Lutz dan Phillips (1983) mengklasifikasikan resin komposit berdasarkan ukuran partikel filler, yaitu
A. Komposit berbahan pengisi mikro

Dalam mengatasi masalah kasarnya permukaan pada komposit tradisional, dikembangkan suatu bahan yang menggunkan partikel silika koloidal sebagai bahan pengisi anorganik. Partikelnya berukuran 0,04 m; jadi partikel tersebut lebih kecil 200-300 kali di bandingkan rata-rata partikel quartz pada komposit tradisional. Komposit ini memiliki permukaan yang halus serupa dengan

23

tambalan resin akrilik tanpa bahan pengisi. Dari segi estetis resin komposit mikro filler lebih unggul, tetapi sangat mudah aus karena partikel silika koloidal cenderung menggumpal dengan ukuran 0,04 sampai 0,4 m. Selama pengadukan sebagian gumpalan pecah, manyebabkan bahan pengisi terdorong. Menunjukan buruknya ikatan antara partikel pengisi dengan matriks sekitarnya. Kekuatan konfresif dan kekuatan tensil menunjukkan nilai sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan resin komposit konvensionl. Kelemahan dari bahan ini adalah ikatan antara partikel komposit dan matriks yang dapat mengeras adalah lemah mempermudah pecahnya suatu restorasi.

B. Resin komposit berbahan pengisi partikel kecil

Komposit ini dikembangkan dalam usaha memperoleh kehalusan dari permukaan komposit berbahan pengisi mikro dengan tetap mempertahankan atau bahkan meningkatkan sifat mekanis dan fisik komposit tradisional. Untuk mencapai tujuan ini, bahan pengisi anorganik ditumbuk menjadi ukuran lebih kecil dibandingkan dengan yang biasa digunakan dalam komposit tradisional. Rata-rata ukuran bahan pengisi untuk komposit berkisar 1-5 m tetapi penyebaran ukuran amat besar. Distribusi ukuran partikel yang luas ini memungkinkan tingginya muatan bahan pengisi, dan komposit berbahan pengisi partikel kecil umumnya mengandung bahan pengisi anorganik yang lebih banyak (80 % berat dan 60-65 % volume). Beberapa bahan pengisi partikel kecil menggunakan quartz sebagai bahan pengisi, tetapi kebanyakan memakai kaca yang mengandung logam berat.

C. Komposit hibrit

Kategori bahan komposit ini dikembangkan dalam rangka memperoleh kehalusan permukaan yang lebih baik dari pada partikel yang lebih kecil, sementara mempertahankan sifat partikel kecil tersebut. Ukuran partikel kacanya kira-kira 0,6- 1,0 mm, berat bahan pengisi antara 75-80% berat. 24

Sesuai namanya ada 2 macam partikel bahan pengisi pada komposit hybrid. Sebagian besar hibrid yang paling baru pasinya mengandung silica koloidal dan partikel kaca yang mengandung logam berat. Silica koloidal jumlahnya 10-20% dari seluruh kandungan pasinya. Sifat fisik dan mekanis dari sitem ini terletak diantara komposit konvensional dan komposit partikel kecil, bahan ini lebih baik dibandingkan bahan pengisi pasi-mikro. Karena permukaannya halus dan kekuatannya baik, komposit ini banyak digunakan untuk tambalan gigi depan, termasuk kelas IV. Walaupun sifat mekanis umumnya lebih rendah dari komposit partikel kecil, komposit hibrid ini juga sering digunakan untuk tambalan gigi belakang.

Resin komposit berdasarkan mekanisme polimerisasi atau aktivasinya dapat dibagi menjadi dua, yaitu: resin komposit diaktivasi kimia dan resin komposit diaktivasi sinar. a. Resin komposit diaktivasi kimia

Resin ini dipasarkan dalam bentuk dua pasta. Salah satu pasta berisi inisiator benzoyl peroxide dan pasta yang lainnya berisi aktivator tertiary amine. Jika kedua bahan dicampur, amine akan beraksi dengan benzoyl peroxide dan membentuk radikal bebas sehingga mekanisme pengerasan dimulai b. Resin komposit diaktivasi oleh sinar Bahan resin komposit yang dipolimerisasi dengan sinar dipasarkan dalam bentuk satu pasta dan dimasukkan dalam sebuah tube. Sistem pembentuk radikal bebas yang terdiri atas molekul-molekul fotoinisiator dan aktivator amine terdapat dalam pasta tersebut. Bila tidak disinari, maka kedua komponen tersebut tidak akan bereaksi. Sebaliknya, sinar dengan panjang gelombang yang tepat (460-485 nm) dapat merangsang fotoinisiator bereaksi dengan amine dan membentuk radikal bebas yang memulai proses polimerisasi. 25

Resin komposit juga diklasifikasikan berdasarkan persentase muatan filler nya, yaitu:

a. Resin komposit packable

Pada akhir tahun 1996 diperkenalkan resin komposit packable. Resin komposit packable dikenal juga sebagai resin komposit condensable. Resin komposit packable mempunyai muatan filler berkisar antara 66-70% volume Komposisi filler yang tinggi dapat menyebabkan kekentalan atau viskositas menjadi meningkat sehingga sulit untuk mengisi celah kavitas yang kecil. Akan tetapi, dengan semakin besarnya komposisi filler juga menyebabkan bahan ini dapat mengurangi pengerutan selama polimerisasi dan adanya perbaikan sifat fisik terhadap adaptasi marginal. Resin komposit packable diindikasikan untuk restorasi klas I, klas II dan klas VI (MOD).

b. Resin komposit flowable

Resin komposit flowable pertama kali diperkenalkan pada pertengahan tahun 1990.10,33 Dan pada akhir tahun 1996, resin komposit flowable digunakan sebagai bahan restorasi alternatif untuk restorasi klas V.34 Resin komposit flowable mempunyai muatan filler berkisar antara 42-53% volume.31 Komposisi filler yang rendah dan kemampuan flow yang lebih tinggi menyebabkan resin komposit tipe ini memiliki viskositas yang lebih rendah sehingga dapat dengan mudah untuk mengisi atau menutupi celah kavitas yang kecil.31,34 Selain itu, bahan restorasi ini dapat membentuk suatu lapisan elastis yang dapat mengimbangi tekanan pengerutan polimerisasi. Indikasi resin komposit flowable ditujukan untuk restorasi kavitas klas V, restorasi kavitas klas I dan klas II dengan tekanan oklusal yang minimal, kavitas enamel, dan juga dapat digunakan sebagai pit dan fisur sealant serta sebagai liner

26

C. Klasifikasi semen ionomer kaca GIC pada umumnya diklasifikasikan menjadi empat tipe dasar: A. Semen Ionomer Kaca Konvensional. Semen ionomer kaca secara luas digunakan untuk kavitas Klas V, hasil klinis dari prosedur ini baik meskipun penelitian in vitro berpendapat bahwa semen ionomer kaca modifikasi resin dengan ketahanan fraktur yang lebih tinggi dan peningkatan kekuatan perlekatan memberikan hasil yang jauh lebih baik. Beberapa penelitian berpendapat bahwa versi capsulated lebih menguntungkan karena pencampuran oleh mesin sehingga memberikan sifat merekatkan yang lebih baik. Penggunaan semen ionomer kaca telah meluas antara lain sebagai bahan perekat, pelapik dan bahan restoratif untuk restorasi konservatif Klas I dan Klas II karena sifatnya yang berikatan secara kimia pada struktur gigi dan melepaskan fluorida. Selain itu respon pasien juga baik karena teknik penempatan bahan yang konservatif dimana hanya memerlukan sedikit pengeboran sehingga pasien tidak merasakan sakit dan tidak memerlukan anastesi lokal. Meskipun demikian SIK tidak dianjurkan untuk restorasi Klas II dan klas IV karena sampai saat ini formulanya masih kurang kuat dan lebih peka terhadap keausan penggunaan jika dibandingkan dengan komposit GIC konvensional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 oleh Wilsondan Kent. Berasal dari asam polyalkenoat cair seperti asam polyacrilic dan komponen kaca yang biasanya adalah fluoroaluminosilikat. Saat bubuk dan cairan di campur terjadi reaksi asam basa kemudian asam polyalkenoat mengalami percepatan hingga terjadi pengentalan sampai semen mengeras. Ini dapat dijadikan sebagai bubuk kaca yang melepaskan ion dan larut dengan campuran yang mengandung asam polyacrilic cair dengan dikeringkan melalui pembekuan untuk dicampur dengan air murni. Pabrik juga dapat menanbahkan sedikit asam tartaric pada air yang dapat memperkirakan reaksi pengerasan yang lebih tepat.

27

Baru-baru ini semen ionomer kaca konvensional yang mengeras lebih cepat dan memiliki kekentalan yang tinggi telah tersedia. Bahan itu disebut segai semen ionomer kaca yang kental atau mudah dipadatkan contoh bahan dsini adalah Fuji IX GP bahan ini lebih cepat mengeras dan memiliki kekentalan yang libih tinggi karena partikel kaca yang lebih kecil dan rasio pencampuran bubuk terhadap cairan tinggi.

B. Semen Ionomer Hybrid (juga disebut sebagai semen ionomer kaca yang dimodifikasi resin yang dicured secara kimia atau sinar atau Ionomer kaca dual-cured). Komponen bubuk terdiri dari partikel kaca ion-leachable

fluoroaluminosilicate dan inisiator untuk light curing atau chemical curing. Komponen cairan biasanya terdiri dari air dan asam polyacrylic atau asam polyacrilyc yang dimodifikasi dengan monomer methacrylate hydroxyethyl methacrylate. Komponen yang dua terakhir bertanggung jawab untuk

polimerisasi. Reaksi pengerasan awal dari bahan ini terjadi melalui polimerisasi dari gugus methacrylate. Reaksi asam basa yang lambat pada akhirnya akan bertanggung jawab pada proses pematangan yang unik dan kekuatan akhir. Kandungan air secara keseluruhan lebih sedikit untuk tipe ini untuk menampung bahan yang berpolimerisasi. Perbedaan yang paling nyata adalah berkurangnya translusensi dari bahan ini karena adanya perbedaan yang besar pada indeks pembiasan antara bubuk dengan matrix resin yang mengeras. Tes in vitro dari semen ionomer hibrid melepaskan florida dalam jumlah yang sebanding dengan yang di lepaskan semen ionomer kaca konvensional. Kekuatan tarik dari ionomer kaca hibrid lebih tinggi dari ionomer kaca konvensional. Peningkatan ini di akibatkan oleh modulus elastisitasnya yang lebih rendah dan deformasi plastis yang lebih banyak yang dapat di tahan sebelum terjadinya fraktur. Sifat-sifat yang lain sulit untuk dibandingkan karena formulasi bahan dan cara pengetesan. 28

Mekanisme pengikatan terhadap struktur gigi dari semen ini sama dengan ionomer kaca konvensional. Aktifitas ionik yang lebih sedikit diharapkan karena adanya pengurangan dari asam karboksilat dari cairan ionomer kaca dengan modifikasi resin; namun bagaimanapun kekuatan ikat pada struktur gigi bisa lebih tinggi dari semen ionomer kaca konvensional. Bila dibandingkan dengan ionomer kaca konvensional maka ionomer kaca dengan modifikasi resin memperlihatkan kekuatan ikat yang lebih tinggi kepada komposit berbasis resin. Ini sepertinya di kontrol oleh gugus fungsi non polimerisasi residu didalam semen ionomer kaca konvensional. Akibat polimerisasi, bahan ini seharusnya memilki derajat penyusutan yang lebih besar ketika mengeras. Lebih sedikitnya kandungan air dan asam karboksilat juga mengurangi kemampuan semen untuk membasahi substrat gigi, yang dimana akan meningkatkan kebocoran micro dibandingkan semen ionomer kaca konvensional. Biokompatibilitas dari ionomer kaca hibrid dapat dibandingkan dengan ionomer kaca konvensional. Tindakan pencegahan yang sama harus dilakukan, seperti penggunaan kalsium hoidroksida untuk preparasi yang dalam. Peningkatan suhu sementarayang berhubungan dengan proses polimerisasi juga menjadi pertimbangan. Karakteristik dari penanganan ionomer kaca hibrid telah diatur sehingga mereka bisa digunakan sebagai liners atau bases. Kekuatan tekan dan tarik dari liners lebih rendah dari pada seme restorasi yang lain. Kegunaan yang paling utama dari liners ionomer kaca adalah untuk bertindak sebagai bahan pengikat lanjut antara gigi dan restorasi komposit. Karena adanya adhesi pada dentin, maka kemungkinan dari formasi celah pada tepi ginggival yang terletak pada dentin, sementum atau keduanya disebabkan oleh penyusutan polimerisasi dari resin.

C. Semen Ionomer Tri-Cure. Terdiri dari partikel kaca silicate, sodium florida dan monomer yang di modifikasi polyacid tanpa air.bahan ini sangat sensitif terhadap cairan, sehingga 29

biasanya disimpan didalam kantong anti air. Pengerasan di awali oleh fotopolimerisasi dari monomer asam yang menghasil bahan yang kaku. Selama restorasi digunakan bahan yang telah di pasang menyerap air di dalam saliva dan menambah reaksi asam basa antara gugus fungsi asam dengan matrix dan partikel kaca silicate. Reaksi asam basa yang di induce memungkinkan pelepasan florida karena tidak adanya air dalam formulasi, pengadukan semen tidak self-adhesive seperti semen ionomer kaca konvensional dan hibrid. Sehingga dentin-bonding agent yang terpisah di perlukan untuk kompomer yang digunakan sebagai bahan restorasi. Akhir2 ini, beberapa bahan dengan 2 komponen, yang terdiri dari bubuk dan cairan atu yang terdiri dari 2 pasta telah dipasarkan sebagai kompomer untuk penerapan luting(luting application). Bubuknya memiliki komposisi srontium aluminum fluorosilicate, metalik oksida, inisitor dengan aktivasi kimia atau cahaya. Cairanya terdiri dari monomer asam karboksilat atau methacrylate yang bisa berpolimerisasi, monomer multifungsional acrylate, dan air. Sedangkan yang berbentuk pasta memilki bahan yang sama disesuaikan dengan bubuk dan cairan. Karena adanya air di dalam cairan , maka bahan ini bersifat self-adhesive dan reaksi asam basa dimulai pada saat pengadukan. Kekuatan ikat dari kompomer terhadap struktur gigi memiliki rentang yang sama dengan semen ionomer kaca karena penggunaan dentin-bonding agent. Meskipun kompomer satu pasta terutama di terapkan untuk restorasi pada area dengan tegangan rendah, data klinis saat ini dibatasi mengingat penggunaan kompomer untuk restorasi kavitas kelas 3 dan 5 sebagai alternative ionomer kaca atau komposit resin.

D. Semen Ionomer Yang Diperkuat Dengan Metal. Semen glass ionomer kurang kuat, dikarenakan tidak dapat menahan gaya mastikasi yang besar. Semen ini juga tidak tahan terhadap keausan penggunaan dibandingkan bahan restorasi estetik lainnya, seperti komposit dan keramik. Ada 2 metode modifikasi yang telah dilakukan, metode I adalah mencampur bubuk 30

logam campur amalgam yang berpartikel sferis dengan bubuk glass ionomer tipe II. Semen ini disebut gabungan logam campur perak. Metode II adalah mencampur bubuk kaca dengan partikel perak dengan menggunakan pemenasan yang tinggi. Semen ini disebut sebagai cermet. Mikrograf skening electron dari bubuk cermet menunjukan partikel-partikel bubuk perak melekat ke permukaan dari partikel-partikel bubuk semen. Jumlah dari fluoride yang dilepaskan dari kedua sistem modifikasi logam ini cukup besar. Namun, fluoride yang dilepaskan dari semen cermet lebih sedikit daripada yang dilepaskan dari semen ionomer kaca tipe II. Hal ini dikarenakan sebagian partikel kaca, yang mengandung fluoride telah dilapisi logam. Pada awalnya semen gabungan melepas lebih banyak fluoride daripada semen tipe II. Tetapi besarnya pelepasan ini menurun dengan berjalannya waktu. Karena partikel-partikel logam pengisi tidak terikat pada matriks semen, sehingga permukaan antar semen menjadi berjalan untuk pertukaran cairan. Ini sangat meningkatkan daerah permukaan yang tersedia untuk pelepasan fluoride. Dengan meningkatnya daya tahan terhadap keausan dan potensi antikariesnya, semen-semen dengan modifikasi logam ini telah dianjurkan untuk penggunaan yang terbatas sebagai alternative dari amalgam atau komposit untuk restorasi gigi posterior. Meskipun demikian, bahan-bahan ini masih

diklasifikasikan sebagai bahan yang rapuh. Karena alas an inilah penggunaan bahan tersebut umumnya terbatas pada restorasi konservatif dan umumnya kelas I. Semen-semen ini mengeras dengan cepat sehingga dapat menerima tindakan penyelesaian dalam waktu yang relative singkat. Dibarengi dengan potensi adhesi dan daya tahannya terhadap karies, sifat-sifat menjadikan semen tersebut digunakan untuk membangun badan inti untuk gigi yang akan diperbaiki dengan mahkota cor penuh. Namun, karena rendahnya kekuatan terhadap fraktur dan sifatnya yang rapuh, sebaiknya dilakukan pendekatan yang konservatif. Bahan ini sebaiknya tidak digunakan jika bagian yang akan menggunakan semen adalah 31

lebih besar 40% dari keseluruhan. Untuk kasus seperti ini sebaiknya digunakan pasak atau retensi bentuk lainnya. 3.2 sifat-sifat resin komposit A. Sifat Amalgam 1. Sifat Fisik Amalgam a. Creep Creep adalah sifat viskoelastik yang menjelaskan perubahan dimensi secara bertahap yang terjadi ketika material diberi tekanan atau beban. Untuk tumpatan amalgam, tekanan mengunyah yang berulang dapat menyebabkan creep. ANSI ADA specification no.1 menganjurkan agar creep kurang dari 3%. Amalgam yang rendah tembaga lebih rentan mengalami kerusakan di bagian tepi, dibandingkan dengan amalgam yang tinggi kandungan tembaga. (Craig, 2000) Amalgam dengan kandungan tembaga yang tinggi mempunyai nilai creep yang jauh lebih rendah, beberapa bahkan kurang dari 0,1%. Tidak ada data yang menunjukkan bahwa mengurangi nilai creep 1% akan dapat mempengaruhi kerusakan tepi. (Marek, 1992) Secara umum besarnya creep yang terjadi adalah sebagai berikut : creep alloy konvensional > creep blonded alloy > creep alloy komposisi tunggal.(Combe, 1992) Kekurangan : amalgam yang memiliki tingkat creep tinggi akan mengalami kerusakan marginal dan mengakibatkan menurunnya nilai estetik. (Williams, 1979) Solusi : meminimalkan fase gamma 2 saat setting, menambahan palladium dan indium (McCabe, 2008)

b. Stabilitas Dimensional

32

Idealnya amalgam harus mengeras tanpa terjadi perubahan pada dimensinya dan kemudian tetap stabil. Meskipun demikian ada beberapa faktor yang mempengaruhi dimensi awal pada saat pengerasan dan stabilitas dimensional jangka panjang. Amalgam dapat memuai dan menyusut tergantung pada cara manipulasinya idealnya perubahan dimensi kecil saja. Kontraksi nya yang hebat dapat menyebabkan terbentuknya kebocoran mikro dan karies sekunder. Ekspansi yang berlebihan dapat menimbulkan tekanan pada pulpa dan kepekaan paska operasi. Protrusi dari restorasi juga dapat diakibatkan oleh ekspansi yang berlebihan. Perubahan dimensional dari amalgam tergantung pada seberapa banyak amalgam tertekan pada saat pengerasan dan kapan pengukuran dimulai. Spesifikasi ADA No.1 menyebutkan bahwa amlgam dapa berkontraksi atau berekspansi lebih dari 20 m/cm, diukur pada 30c , 5 menit dan 24 jam sesudah dimulainya trituasi dengan alat yang keakuratannya tidak sampai 0,5m. (Anusavice, 2004) Amalgam dapat meregang dan berkontraksi tergantung saat manipulasinya. Idealnya perubahan dimensi amalgam terjadi pada skala kecil. Beberapa kontraksi dapat mengakibatkan kebocoran mikro dan sekunder karies. (Phillips, 1981) Beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi perubahan dimensi adalah : o komposisi alloy : semakin banyak jumlah silver dalam amalgam, maka akan lebih besar pula expansi yang terjadi. Semakin besar jumlah tin, maka kontraksi akan lebih besar. o o rasio mercuri/alloy : makin banyak mercury, akan semakin besar tingkat expansinya. ukuran partikel alloy : dengan berat yang sama, jika ukuran partikel menyusut, maka total area permukaan alloy akan meningkat. Area 33

permukaan yang lebih besar akan menghasilkan mercury dengan kecepatan difusi ke partikel yang lebih tinggi, saat triturasi. Hal ini akan mengakibatkan kemungkinan kontraksi lebih tinggi saat tahap pertengahan. o o waktu triturasi : merupakan faktor paling penting. Secara umum, semakin lama waktu triturasi, maka expansi akan lebih kecil. tekanan kondensasi : jika amalgam tidak mengalami kondensasi setelah triturasi, akan terjadi kontraksi dalam skala besar karena tidak terganggunya difusi mercury ke alloy. (Williams, 1979) Kekurangan : dapat menyebabkan kebocoran mikro dan karies sekunder. Solusi : Menggunakan cavity varnish yang mengandung larutan resin alami atau sintetis dalam pelarut yang menguap misalkan eter dan harus tahan air ( McCabe, 2008)

c.

Difusi termal Difusi termal amalgam adalah empat puluh kali lebih besar dari dentin sedangkan koefisien ekspansi termal amalgam 3 kali lebih besar dari dentin yang mengakibatkan mikroleakage dan sekunder karies. Solusi : mengisolasi dan menyekat dasar cavitas dengan semen amalgam (Koudi, 2007)

d.

Abrasi Proses abrasi yang terjadi saat mastikasi makanan, berefek pada hilangnya sebuah substansi / zat, biasa disebutwear. Mastikasi melibatkan pemberian tekanan pada tumpatan, yang mengakibatkan kerusakan dan terbentuknya pecahan/puing amalgam. (Marke, 1992)

34

2. Sifat Mekanik Amalgam a. Kekuatan Dental amalgam mempunyai berbagai macam struktur, dan kekuatan struktur tersebut tergantung dari sifat individu dan hubungannya antara satu struktur dengan struktur yang lainnya. Dental amalgam adalah material yang brittle/rapuh. Kekuatan tensile amalgam lebih rendah dibanding kekuatan kompresif. Kekuatan kompresif ini cukup baik untuk mempertahankan kekuatan amalgam, tetapi rendahnya kekuatan tensile yang memperbesar kemungkinan terjadinya fraktur/retakan. Beberapa faktor yang mengontrol/mempengaruhi kekuatan amalgam : o rasio mercury/alloy : jika mercury yang digunakan terlalu sedikit, maka partikel alloy tidak akan terbasahi secara sempurna sehingga bagian restorasi alloy tidak akan bereaksi dengan mercury, menyisakan peningkatan lokal porositas dan membuat amalgam menjadi lebih rapuh. o komposisi alloy : komposisi tidak terlalu berpengaruh terhadap kekuatan amalgam. Beberapa sumber mengatakan amalgam yang tinggi copper dengan tipe dispersi lebih kuat dibanding alloy dengan komposisi konvensional. o ukuran dan bentuk partikel : kekuatan amalgam diperoleh dengan ukuran partikel yang kecil, mendukung kecenderungan fine atau microfine particles. o porositas : sejumlah kecil porositas pada amalgam akan mempengaruhi kekuatan. Porositas dapat dikurangi dengan triturasi yang tepat, dan yang lebih penting adalah teknik triturasi yang baik. (Williams, 1979)

35

Faktor-faktor berikut ini dapat mendorong terbentuknya suatu restorasi amalgam yang tidak kuat : o o o o o Triturasi yang tidak sempurna (under-trituration) Kandungan mercury yang terlalu besar Terlalu kecil tekanan yang diberi sewaktu kondensasi Kecepatan pengisian kavitet yang lamban Korosi (Combe, 1992) Kekuatan tarik dari amalgam dengan kandungan tembaga yang tinggi tidak jauh berbeda dengan amalgam yang memiliki kandungan tembaga yang rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan diantaranya : o Efek Triturasi. Efek triturasi terhadap kekuatan tergantung pada jenis logam campur amalgam, waktu triturasi, dan kecepatan amalgamator. Baik triturasi yang kurang maupun yang berlebih akan dapat menurunkuan kekuatan dari amalgam tradisional dan amalgam dengan tembaga yang tinggi. o Efek Kandungan Merkuri. Faktor penting dalam mengontrol kekuatan adalah kandungan merkuri dari restorasi tersebut. Merkuri dalam jumlah yang cukup harus dicampur dengan logam campur untuk menutupi partikel-partikel logam campur dan memungkinkan terjadinya amalgamasi yang menyeluruh. Masing-masing partikel logam campur harus dibasahi oleh merkuri: bila tidak, akan terbentuk adonan yang kering dan berbutir-butir. Adonan semacam itu menghasilkan permukaan yang kasardan berlubang-lubang yang dapat menimbulkan korosi. Setiap kelebihan merkuri yang tertinggal o pada restorasi dapat menyebabkan berkurangnya

kekuatan dalam jumlah yang cukup besar. Efek kondensasi. Tekanan kondensasi, dan bentuk partikel logam campur, semuanya mempengaruhi sifat amalgam. Jika digunakan 36

teknik kondensasi tipikal dan logam campurlathe- cut, makin besar tekanan kondensasi, makin tinggi kekuatan kompresinya, terutama kekuatan awal (misalnya pada 1 jam). Teknik kondensasi yang baik akan memeras keluar merkuri dan menghasilkan fraksi volume dari fase matriks yang lebih kecil. Tekanan kondensasi yang tinggi diperlukan untuk mengurangi porositas dan mengeluarkan merkuri dari amalgamlathe- cut. Sebaliknya, amalgam sferis yang

dimampatkan dengan tekanan ringan akan mempunyai kekuatan yang baik. o Efek Porositas. Ruang kosong dan porus adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan kompresi dari amalgam yang sudah mengeras. o Efek Laju Pengerasan Amalgam. Laju pengerasan amalgam penting diperhatikan oleh dokter gigi. Karena pasien pada umumnya diperbolehkan pulang dari praktik gigi dalam waktu 20 menit setelah triturasi amalgam,pertanyaan yang penting diperhatikan di sini adalah apakah amalgam sudah mempunyai kekuatan yang cukup untuk menjalankan fungsinya. Ada kemungkinan bahwa persentase patahnya restorasi amalgam yang tinggi. Amalgam tidak memperoleh kekuatan secepat yang kita inginkan. Spesifikasi ADA menyebutkan kekuatan kompresi minimal adalah 80 MPa pada 1 jam. Kekuatan kompresi 1 jam dari amalgam komposisi tunggal yang kandungan tembaganya tinggi sangatlah besar. (Anusavice, 2004) Kelebihan : ketahanan terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada umumnya lama kelamaan akan mengalami aus karena faktor-faktor dalam mulut yang saling berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut.

37

3. Sifat Kimia Amalgam a. Reaksi Elektrokimia Sel Galvanik Korosi galvanic atau bimetalik terjadi ketika dua atau lebih logam berbeda atau alloy berkontak dalam larutan elektrolit , dalam hal ini adalah air ludah . Besarnya arus galvanis dipengaruhi oleh lama / usia restorasi , perbedaan potensial korosi sebelum berkontak dan daerah permukaan. Jarak yang cukup lebar / besar dihasilkan dan kontak elektrik dari beberapa restorasi secara in vivo . Untuk restorasi amalgam amalgam , perbedaan potensial korosi sebelum berkontak mungkin akan berguna dalam memprediksi besarnya arus galvanis, yang mana paling tidak perbedaan keluarnya adalah 24 mV. Hubungan lama restorasi dengan besar arus galvanic berbanding terbalik .artinya semakin lama usia restorasi amalgam dengan tumpatan lainnya , semakin kecil arus galvanic yang dihasilkan. (Sutouw, 2004) Kekurangan : mengakibatkan rasa nyeri bila menimbulkan arus galvanis bersama dengan tumpatan logam lain. Solusi : melepas tumpatan logam lain sebelum memakai tumpatan amalgam.

b.

Korosi Korosi adalah reaksi elektrokimiawi yang akan menghasilkan

degradasi struktur dan properti mekanis. Banyak korosi amalgam terjadi pada bagian pits dan cervical. Korosi dapat mengurangi kekuatan tumpatan sekitar 50%, serta memperpendek keawetan penggunaan. (Marke, 1992) Solusi : memoles tumpatan amalgam, meminimalkan timbulnya arus galvanis, tidak memakan makanan mengandung asam secara terus menerus.

38

c.

Tarnish Reaksi elektrokimia yang tidak larut, adherent, serta permukaan film

yang terlihat dapat menyebabkan tarnish. Penyebab discoloration yang paling terkenal adalah campuran silver dan copper sulfida karena reaksi dengan sulfur dalam makanan dan minuman. (Marke, 1992) Kekurangan : gigi terlihat lebih hitam. Solusi: tidak memakan makanan mengandung sulfur berlebih.

4. Sifat Biologi Amalgam a. Alergi Secara khas respon alergi mewakili antigen dengan reaksi antibodi yang ditandai dengan rasa gatal, ruam, bersin, kesulitn bernafas,

pembengkakan, dan gejala lain. Dermaititis kontak atau reaksi hipersensitif tipe 4 dari Commbs mewakili efek samping fisiologis yang paling mungkin terjadi pada amalgam gigi, tetapi reaksi ini terjadi oleh kurang dari 1 % dari populasi yang di rawat. (Anusavice, 2004) Solusi : tidak menggunakan tumpatan amalgam (tumpatan jenis lain yang dipakai). b. Toksisitas Sejak awal penggunaannya kemungkinan efek samping dari air raksa sudah mulai dipertanyakan. Kadang-kadang masih ada dugaan bahwa keracunan air raksa dari tambalan gigi adalah penyebab dari penyakit-penyakit tertentu yang diagnosisnya tidak jelas dan ada bahaya bagi dokter gigi atau asistennya. Ketika uap air raksa terhirup selama pengadukan penempatan dan pembuangan. Tidak diragukan bahwa air raksa merembes ke dalam struktur gigi. Suatu analisis pada dentin dibawah tambalan amalgam mengungkapkan adanya air raksa yang turut berperan dalam perubahan warna gigi.

39

Sejumlah air raksa dilepaskan pada saat pengunyahan tetepi kemungkinan keracunan dari air raksa yang menembus gigi atau sensititasi terhadap garam-garam air raksa yang larut dari permukaan amalgam sangat jarang terjadi . kemungkinan pyang paling menonjol bagi asimilasi air raksa dari amalgam gigi adalah melalui tahap uapnya. (Anusavice, 2004) Kekurangan : merkuri adalah elemen yang beracun, baik sebagai logam bebas maupun unsur dari senyawa kimia. Raksa larut dalam lemak dan sewaktu-waktu dapat terhirup oleh paru-paru yang mana akan teroksidasi menjasi Hg2+. Kemudian ia akan ditransportasikan dari paru- paru oleh sel darah merah ke jaringan lain termasuk sistem saraf pusat. Merkuri dengan mudah menjadi senyawa metil merkuri, melewati barrier darah-otak dan juga plasenta kepada janin. Konsekuensinya, metilmerkuri dapat nerakumulasi di otak dan berefek kepada bayi yang akan dilahirkan. (Nicholson, 2002) Debu merkuri bisa dikeluarkan ke udara selama triturasi, kondensasi atau pembuangan tunpatan amalgam yang telah lama. Tumpatan merkuri dalam proses pembedahan dapat mengakibatkan kontaminasi udara dalam jangka panjang (McCabe, 2008) Solusi : material yang mengandung raksa harus disimpan jauh dari sumber panas, menjamin adanya ventilasi yang baik pada pembedahan, pemilihan tipe lantai yang cocok, penyimpanan amalgam di bawah air atau larutan fiksatif kimia, jangan disentuh denga tangan, menggunakan masker, memakai teknik hand condenser, ruang tidak berkarpet.

B. Sifat Komposit Sama halnya dengan bahan restorasi kedokteran gigi yang lain, resin komposit juga memiliki sifat. Ada beberapa sifat sifat yang terdapat pada resin komposit, antara lain:

40

a. Sifat fisik Secara fisik resin komposit memiliki nilai estetik yang baik sehingga nyaman digunakan pada gigi anterior. Selain itu juga kekuatan, waktu pengerasa dan karakteristik permukaan juga menjadi pertimbangan dalam penggunaan bahan ini. Sifat-sifat fisik tersebut diantaranya: 1. Warna Resin komposit resisten terhadap perubahan warna yang disebabkan oleh oksidasi tetapi sensitive pada penodaan. Stabilitas warna resin komposit dipengaruhi oleh pencelupan berbagai noda seperti kopi, teh, jus anggur, arak dan minyak wijen. Perubahan warna bisa juga terjadi dengan oksidasi dan akibat dari penggantian air dalam polimer matriks. Untuk mencocokan dengan warna gigi, komposit kedokteran gigi harus memiliki warna visual (shading) dan translusensi yang dapat menyerupai struktur gigi. Translusensi atau opasitas dibuat untuk menyesuaikan dengan warna email dan dentin. 1. Strength Tensile dan compressive strength resin komposit ini lebih rendah dari amalgam, hal ini memungkinkan bahan ini digunakan untuk pembuatan restorasi pada pembuatan insisal. Nilai kekuatan dari masing-masing jenis bahan resin komposit berbeda. 1. Setting Dari aspek klinis setting komposit ini terjadi selama 20-60 detik sedikitnya waktu yang diperlukan setelah penyinaran. Pencampuran dan setting bahan dengan light cured dalam beberapa detik setelah aplikasi sinar. Sedangkan pada bahan yang diaktifkan secara kimia memerlukan setting time 30 detik selama pengadukan.

41

Apabila resin komposit telah mengeras tidak dapat dicarving dengan instrument yang tajam tetapi dengan menggunakan abrasive rotary. b. Sifat mekanis Sifat mekanis pada bahan restorasi resin komposit merupakan faktor yang penting terhadap kemampuan bahan ini bertahan pada kavitas. Sifat ini juga harus menjamin bahan tambalan berfungsi secara efektif, aman dan tahan untuk jangka waktu tertentu. Sifat-sifat yang mendukung bahan resin komposit diantaranya yaitu : a. Adhesi Adhesi terjadi apabila dua subtansi yang berbeda melekat sewaktu berkontak disebabkan adanya gaya tarik menarik yang timbul antara kedua benda tersebut. Resin komposit tidak berikatan secara kimia dengan email. Adhesi diperoleh dengan dua cara. Pertama dengan menciptakan ikatan fisik antara resin dengan jaringan gigi melalui etsa. Pengetsaan pada email menyebabkan terbentuknya porositas tersebut sehingga tercipta retensi mekanis yang cukup baik. Kedua dengan penggunaan lapisan yang diaplikasikan antara dentin dan resin komposit dengan maksud menciptakan ikatan antara dentin dengan resin komposit tersebut (dentin bonding agent). b. Kekuatan dan keausan Kekuatan kompresif dan kekuatan tensil resin komposit lebih unggul dibandingkan resin akrilik. Kekuatan tensil komposit dan daya tahan terhadap fraktur memungkinkannya digunakan bahan restorasi ini untuk penumpatan sudut insisal. Akan tetapi memiliki derajat keausan yang sangat tinggi, karena resin matriks yang lunak lebih cepat hilang sehingga akhirnya filler lepas.

42

c. Sifat khemis Resin gigi menjadi padat bila berpolimerisasi. Polimerisasi adalah serangkaian reaksi kimia dimana molekul makro, atau polimer dibentuk dari sejumlah molekul molekul yang disebut monomer. Inti molekul yang terbentuk dalam sistem ini dapat berbentuk apapun, tetapi gugus metrakilat ditemukan pada ujung ujung rantai atau pada ujung ujung rantai percabangan. Salah satu metakrilat multifungsional yang pertama kali digunakan dalam kedokteran gigi adalah resin Bowen (Bis-GMA) . Resin ini dapat digambarkan sebagai suatu ester aromatik dari metakrilat, yang tersintesa dari resin epoksi (etilen glikol dari Bis-fenol A) dan metal metakrilat. Karena Bis-GMA mempunyai struktur sentral yang kaku (2 cincin) dan dua gugus OH, Bis-GMA murni menjadi amat kental. Untuk mengurangi kekentalannya, suatu dimetakrilat berviskositas rendah seperti trietilen glikol dimetakrilat (TEDGMA) ditambahkan C. Sifat Semen Ionomer Kaca 1. Ketebalan Ketebalan semen glass ionomer kurang lebih sama dengan semen zinc fosfat dan cocok untuk sementasi. (JM Powers, 2002, p. 615)

2. Kekuatan Kekuatan kompresif 24 jam semen glass ionomer berkisar antara 90 hingga 230 MPA, hal ini lebih besar daripada semen zinc fosfat. Tidak seperti semen zinc poliakrilat, semen glass ionomer mengalami kegagalan yaitu mengalami kerapuhan dalam tes kompresi diameter. Rigidity (Kekerasan atau kekakuan) semen glass ionomer ditingkatkan oleh partikel kaca dan sifat ionik ikatan antara rantai polimer. Kekuatan kompresi semen glass ionomer meningkat antara 24 jam hingga 1 tahun.

43

Semen glass ionomer diformulasi sebagai bahan pengisi mengalami peningkatan 160280 MPa selama periode ini. Kekuatan semen glass ionomer akan meningkat lebih cepat apabila semen diisolasi dari kelembapan (basah) selama proses restorasi. (JM Powers, 2002, p. 615)

3. Kekuatan ikatan Semen glass ionomer yang berikatan dengan dentin memiliki nilai-nilai kekuatan untuk saling mengikatantara1 sampai 3 MPa. Kekuatan ikatan semen glass ionomer tidak terlalu kuat, mungkin karena sensitivitas semen glass ionomer pada kelembapan selama proses setting. Kekuatan ikatan ditingkatkan dengan

memperlakukan dentin dengan kondisioner asam diikuti oleh sebuah aplikasi dari larutan berair encer FeC1. Semen glass ionomer berikatan dengan baik dengan enamel, stainless steel, tin oxide-plated platinum dan gold alloy. (JM Powers, 2002, p. 615)

4. Kelarutan Nilai kelautan pada semen glass ionomer yang diukur dalam air menunjukkan jauh lebih tinggi daripada yang diukur pada semen lainnya. ANSVADA Specification No. 96 menentukan laju erosi asam maksimum sebesar 0.0 j mm/hr. Spesifikasi ini juga mengatur batas-batas kandungan larutan arsenik dan kandungan timbal. (JM Powers, 2002, p. 616)

5. Sifat-sifat biological Semen luting glass ionomer dapat menyebabkan hipersensitivitas luting berkepanjangan, bervariasi dari ringan sampai parah. Isolasi yang baik muncul ketika semen glass ionomer digunakan. Penggunaan bubuk yang tepat / rasio cair dan penerapan basis kalsium hidroksida di area terdekat dengan pulpa direkomendasikan. (JM Powers, 2002, p. 616).

44

3.3. Indikasi dan Kontraindikasi Restorasi Plastis A.Restorasi Amalgam Indikasi : 1. Kavitas klas I, II, dan V 2. Pada daerah yang memiliki beban kunyah yang besar 3. Tidak mempertimbangkan estetis Kontraindikasi: 1. Jumlah karies dalam rongga mulut yang kompleks 2. 3. 4. Karies yang luas dan melibatkan cusp Adanya kebutuhan estetik Gigi antagonis direstorasi dengan menggunakan logam yang tidak sejenis, karena akan menyebabkan terjadinya arus galvanish yang bisa

menimbulkan rasa ngilu dan nyeri pada gigi. Karena pada kasus ini saliva berperan sebagai mediator. B. Restorasi Komposit Indikasi: 1. Aman untuk restorasi lesi kecil dan memiliki nilai estetik yang sangat bagus 2. Cukup untuk menerima tekanan oklusal yang sedang tapi lebih cepat 3. Lesi interproksimal (klas III) pada gigi anterior 4. Lesi pada permukaan fasial gigi anterior (klas V) 5. Lesi pada permukaan gigi premolar 6. Hilangnya sudut incisal gigi 7. Fraktur gigi anterior 8. Membentuk kembali gigi untuk mendukung restorasi tuang 9. Lesi oklusal dan interproksimal gigi posterior ( klas I & II) 10. Ikatan jangka panjang dengan dentin diragukan, untuk mengembangkan adhesi dentin digunakan penghubung yaitu GIC

45

Kontra Indikasi : 1. lebih mahal dan kemampuan restorasi terbatas hanya pada kavitas extensif 2. Lesi distal dari premolar 3. Tambalan rutin untuk posterior 4. Pasien dengan insidensi karies tinggi serta kebersihan mulut tidak terjaga 5. Kemampuan untuk restorasi kavitas terbatas 6. Shrinkage relatif besar 7. Tidak resisten terhadap invasi bakteri 8. Berbahan dasar methil metacrylate yang merupakan alergen dan mengandung material seperti HEMA yang merupakan reaksi alergi C. Restorasi Semen Ionomer Kaca Indikasi : 1. Sederhana untuk ditangani secara klinik dan tidak mahal 2. Penyatuan kimia dengan enamel dan dentin dalam proses adhesi sehingga tidak bocor (mikroleakage) 3. Secara bekelanjutan ,ion bertukar dengan struktur gigi sehingga membantu proses demineralisasi 4. Sangat estetik dan bisa digabung dengan composite resin jika dibutuhkan 5. Ideal untuk digunakan dalam karies tingkat tinggi karena adanya adhesi kimia dan melepaskan fluoride secara berkelanjutan 6. Tahan dalam jangka waktu yang lama 7. Restorasi pada lesi erosi/abrasi tanpa preparasi kavitas 8. Penutupan/penumpatan pit dan fisura oklusal 9. Restorasi gigi sulung 10. Restorasi lesi karies klas V

46

11. Restorasi lesi karies klas III, diutamakan yang pembukaannya dari lingual/palatinal belum melibatkan bagian labial Kontraindikasi : 1. Telah mampu menahan tekanan oklusal yang kuat 2. Kavitas - kavitas ketebalannya kurang 3. Kavitas - kavitas yang terletak pada daerah yang menerima tekanan tinggi 4. Lesi karies klas IV atau fraktur insisial 5. Lesi yang melibatkan area luas pada email labial yang mengutamakan faktor estetika 6. Water based, tidak dapat bertahan pada pasien yang xerostomia

3.4 Manipulasi dari Restorasi Plastis

a. Contoh pada Tumpatan Amalgam Kelas 1 Tahap preparasi kavitas: 1. Sebelum melakukan preparasi kavitas, dibuat suatu desain outline form

sesuai bentuk fissure gigi pada daearah oklusal gigi posterior yang akan dipreparasi. 2. Outline formn dibuat dengan memperhatikan resistence form, tetention form, extention for prevention, dan convenience form. Extention for prevention kini dianggap sebagai penghancuran jaringan sehat yang sia-sia dan tidak lagi dipraktikkan secara rutin (Pickard, 2002). 3. Preparasi dilakukan dengan contra angle hand piece dengan kecepatan tinggi. 4. Akses atau jalan masuk dibuat menggunakan bur bulat kecil sedalam 2 mm. Semua karies lunak dan stain pada pertautan email-dentin dibuang. Selama kavitas akses mungkin perlu dilebarkan untuk menghilangkan email dentin

47

yang menggaung, email yang tidak terdukung dentin, dan memperoleh medan penglihatan yang bebas ke daerah pertautan email dentin (Pickard, 2002). 5. Setelah akses didapatkan, kemudian dilanjutkan pemakaian bur fissure silindris kecil untuk membentuk dinding tegak lurus alas kavitas sesuai dengan outline form nya. 6. Untuk menghaluskan dinding pulpa atau dasar kavitas digunakan bur inverted. Kedalaman kavitas kurang lebih 2 mm dengan dinding tegak lurus bersudut 90 terhadap kavitas, membentuk bentukan box menurut teori Black. 7. Menurut teori lain bentukan resistensi (resistence form) pada tumpatan amalgam ini dapat didapatkan pula dari bentukan konvergen atau mengerucut ke arah oklusal. Perlu diperhatikan bahwa bentukan konvergen tersebut tidak boleh lebih dari 5, atau kurang lebih 3-5 agar tidak terdapat enamel-enamel rods yang tidak terdukung dentin (enamel menggaung) sehingga tumpatan amalgam yang regas nantinya tidak mudah pecah / fraktur ketika menerima beban kunyah. 8. Pada tumpatan plastis ini, sudut internal kavitas dibuat agak tumpul (tidak tajam) untuk memudahkan kondensasi amalgam dan permukaan dindingdinding kavitas dibuat halus karena amalgam berikatan dengan dentin secara fisiko-mekanik. Tahap basis

1. Sebelum memeulai memberi basis, kavitas dibersihkan dengan air (akuades). Sebaiknya pembersihan kavitas tidak dilakukan dengan alcohol atau H2O2 adar tidak terjadi dehidrasi pada dentin. 2. Kavitas kemudian dikeringkan dengan semprotan udara. 3. Jika pembuangan karies mengakibatkan lantai kavitas dekat sekali dengan pulpa, diperlukan pemberian pelapik hidroksida kalsium. Pada kavitas yang sangat dalam, lapisan pelapik kedua mungkin diperlukan. Semen ionomer

48

kaca atau OSE merupakan bahan yang cocok untuk maksud ini. Pelapisan diaplikasikan sedemikian rupa sehingga msih terdapat cukup ruangan 2-2,5 mm amalgam di atasnya (Pickard, 2002). 4. Pemberian basis dapat pula diberikan dengan semen seng phospat (ZnPO4) yang terdiri dari bubuk dan cairan. 5. Ambil bubuk semen satu sendok yang disediakan dan tetaskan cairan satu atau dua tetes. 6. Arahkan bubuk ke cairan dengan spatula sediki demi sedikit, kemudian aduk bubuk dan cairan ini dengan gerakan memutar sampai didapatkan konsistensi dempul yang cukup kental. 7. Semen dimasukkan ke dalam kavitas dengan sonde, kemudian dan dimampatkan dengan semen stopper. 8. Kelebihan semen bila belum mengeras diambildengan excavator dan bila sudah mengeras diambil dengan bur inverted yang juga sekaligus untuk meratakan dasar kavitas. 9. Bagian tepi enamel harus bersih dari semen agar daerah retensi amalgam tidak tertutup. Tahap penumpatan

1. Bubuk dan Hg ditimbang sesuai anjuran pabrik, kemudian dimasukkan ke dalam mortal kemudian diaduk dengan pastle kurang lebih 60 kali putaran. Bubuk dan cairan yang telah ditimbang dengan perbandingan yang sesuai sengan anjuran pabrik dapat pula dicampur dengan alat amalgamator selama 5 detik. 2. Campuran yang telah homogen kelihatan mengkilat, diambil dengan spatula semen, kemudian kelebihan Hg nya diperas, dibuang pada tempat yang disediakan dengan kain putih ukuran 10 x 10 cm.

49

3. Campuran amalgam kemudian dimasukkan ke dalam pistol amalgam dan dimasukkan pada dasara kavitas dengan tekanan. Lapisan amalgam yang pertama sangat penting dan membutuhkan perhatian yang lebih dari lapisan berikutnya. Kemudian dilakukan kondensasi (pemampatan) dengan amalgam pluuger atau amalgam stopper. 4. Kelebihan bahan dibersihkan dengan kapas kecil (cotton pellet) dan permukan oklusal dibentuk anatominya dengan carver. Penekanan dengan carver dilakukan sejajar pada permukaan gigi (email) untuk mencegah alat terperosok ke dalam bahan. 5. Kemudian dihaluskan dengan burnisher pada keadaan amalgam yang sudah mengalami proses setting awal. Tahap pemolesan

1. Pemolesan dapat dilakukan 24 jam setelah penumpatan. 2. Permukaan yang kasar diasah dan dibentuk anatominya dengan finishing stone. 3. Dengan rubber cups merah dengan pasta poles (seng oksida dan alcohol) permukaan malgam dipoles sampai tampak mengkilap kemudian dibersihkan dengan brush dalam keadaan asah. 4. Pemolesan harus dalam keadaan basah untuk mencegah panas yang timbul diteruskan ke dentin, dengan tekanan ringan dan merata. c. Contoh pada Tumpatan Resin Komposit kelas II Tahap Manipulasi Resin Komposit Teraktivasi Kimia Menyiapkan kertas pad dan spatula pengaduk. Bahan juga dapat dicampur pada lempengan kaca (glass lab). Untuk jenis komposit yang dipasarkan dalam 2 pasta (komposit swa-polimerisasi) kedua pasta tidak boleh

terkontaminasi silang, jadi harus menggunakan ujung spatula yang berbeda. Spatula logam yang konvensional tidak digunakan karena sifat

50

bahan abrasif dari resin akan menimbulkan kontaminasi logam pada campuran, sehingga menghasilkan variasi warna. Katalis dan basis dalam jumlah yang sama ditempatkan pada kertas pad. Adonan harus dicampur menggunakan spatula sampai homogen dan siap diletakkan di kavitas dalam waktu 30 detik. Alat berujung plastis digunakan untuk membawa bahan tersebut dari pad tempat pengaduk ke kavitas. Tambahan seperlunya ditempatkan ke dalam kavitas dan tindakan ini diulang hingga kavitas terisi sedikit berlebih, untuk membantu membentuk restorasi. Tahap Manipulasi Resin Komposit Teraktivasi Sinar Resin teraktivasi sinar umumnya tersedia sebagai satu pasta di dalam ampul atau compule. Bahan ini berpolimerisasi hanya bila bahan-bahan kimia yang menimbulkan polimerisasi diaktifkan dengan sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu. Jika ketebalan restorasi melebihi 2,5 mm harus dibentuk selapis demi selapis, karena penetrasi sinar terbatas. Ujung sumber sinar ditempatkan cukup dekat tetapi menyentuh permukaan restorasi yang diaktifkan. Waktu penyinaran yang dibutuhkan untuk memacu polimerisasi bervariasi pada berbagai tingkatan, tergantung jenis resin yang digunakan. 40 detik penyinaran tiap tempat cukup baik untuk mengeraskan ketebalan yang rasional dan menjamin dasar restorasi terpolimerisasi dengan sempurna.

Tahapan Penumpatan Bahan resin sekarang dimasukkan sebagian-sebagian. Bahan yang dipilih haruslah hibrid atau komposisi partikel kecil dan mempunyai sifat radiopak.

51

Penempatan pertama dilakukan pada dinding gingiva dan ketebalanya tidak boleh lebih 2 mm. Bagian ini kemudian di sinari selama 40 detik. Sangat penting untuk memperhatikan datangnya arah sinar terhadap tambalan, karena pengerasan berlangsung ke arah sumber dan dapat mempengaruhi sifat fisiknya akibat pengerutan sewaktu mengeras. Misalnya, bila resin di atas disinari dari arah oklusal, akan mendorong pengerutan menjauhi servikal.

Lapisan kedua yang ditempatkan pada dinding fasial atau lingual dengan maksud mencegah kontak dengan dinding lawannya. Sinar kemudian diarahkan melalui dinding tempat dinding ditempatkan.

Lapisan ketiga ditempatkan untuk mengisi box proksimal. Sinar diarahkan dari box proksimal . bila preparasi terdiri atas lebih dari satu box proksimal, maka prosedur tersebut harus diulangi.

Bagian oklusal ditambahkan dan kontur anatomi. Oklusal dibentuk dengan menggunakan pemampat kecil dan instrument burnisher lain.

Tahapan Pemolesan Membuang kelebihan dengan bur intan Mengkontur dengan stone dan atau bur pengahir Menyelesaikan bagian proksimal dengan strip Mempoles bagian fasial dan permukaan lingual dengan disk atau instrumen intan. Resin dipoles dengan bubuk pemoles. Olesi dengan penutup resin.

Secara umum pada tahapan manipulasi resin komposit juga terdapat bahan adhesif yaitu Bahan adhesif secara garis besar terdiri dari tiga komponen utama yaitu :

52

Bahan etsa adalah bahan yang berupa asam lemah (contoh : asam maleat), asam inorganik kuat dengan konsentrasi yang rendah (contoh : asam fosfor atau asam nitrat) atau bahan kelat (cth : Ethylene diamine tetra acetic acid). Fungsinya : Memodifikasi atau menyingkirkan smear layer. - Melakukan demineralisasi dentin peritubular dan intertubular, sehingga kolagen dentin dapat terpapar dan kedalaman demineralisasi yang terjadi dapat mencapai 7,5m tergantung pada jenis asam, konsentrasi, dan lama pengetsaan .
3

2. Bahan Primer. Bahan primer yang digunakan berupa bahan monomer bifungsional yang tercampur pada bahan pelarut yang mudah menguap seperti aseton atau alkohol, bahan ini memiliki sifat hidrofobik dan hidrofilik sekaligus, contoh bahan bifungsional monomer yang biasa digunakan adalah ; HEMA (Hydroxyethyl methacrylate), NMSA NMSA (N-methacryloyl-5-aminosalicylic acid), NPG (N-phenylglycine), PMDM (Pyromellitic diethylmethacrylate), dan 4-META (4methacryloxyethyl trimellitate anhydride). Fungsinya : - Menghubungkan dentin yang bersifat hidrofilik dengan bahan adhesif resin yang hidrofobik. - Menginfiltrasi dentin peritubular dan intertubular yang telah mengalami demineralisasi. - Meningkatkan ikatan terhadap resin dengan membentuk lapisan pada permukaan dentin yang basah 3. Bahan bonding. Bahan bonding yang digunakan merupakan bahan resin tanpa filler yang juga terdiri dari beberapa komponen bahan primer seperti HEMA untuk meningkatkan kekuatan ikatan bahan adhesif. Fungsinya : - Membentuk zona interdifusi resin-dentin melalui ikatan dengan monomer-monomer yang terdapat pada bahan primer, lapisan ini sering juga disebut sebagai lapisan hibrid, ketebalannya mulai dari 1 - 5m. Membentuk resin tag yang menutupi tubulus-tubulus dentin. - Menyediakan lapisan methacrylate yang nantinya akan berikatan dengan resin komposit 4. Bahan lainnya :

53

- Bahan inisiator dan akselerator. Bahan bonding biasanya juga mengandung bahan aktivator berupa camphorquinone dan bahan organic amine sehingga sistem adhesif perlu disinari dengan menggunakan ligth cure agar dapat mengalami polimerisasi. Pada sistem adhesif yang dual cured selain terdapat bahan aktivator juga terdapat bahan inisiator berupa bahan katalis yang dapat mencetuskan terjadinya self curing. Bahan filler. Meskipun kebanyakan bahan adhesif tidak memiliki filler tetapi ada juga produk bahan adhesif yang mengandung bahan inorganic filler 0,5%-40% w/v. Partikel filler yang digunakan adalah microfiller atau nanofiller dan partikel glass submicron. Pemberian partikel filler pada bahan adhesif pada penelitian in vitro terlihat dapat meningkatkan kekutan ikatan bahan adhesif. - Bahan pelarut (solvent) Bahan pelarut yang digunakan pada bahan primer dapat berupa acetone, bahan ini mudah menguap dan cepat mengering dan sangat berpengaruh terhadap kelembaban pada dentin, menyebabkan dentin menjadi lebih kering. Bahan ethanol, bahan ini tidak cepat menguap seperti acetone. Dan air, bahan primer yang memiliki pelarut air tidak mudah menguap, dan memerlukan waktu pengeringan yang lebih lama. - Bahan tambahan. Bahan lainnya dapat berupa fluoride atau bahan antimikroba. Ada juga bahan bonding yang mengandung glutaraldehyde sebagai bahan desensitisasi .
16

Perkembangan Bahan Adhesif Saat ini, pemakaian bahan adhesif pada dentin telah meluas ke seluruh dunia dan perkembangannya pun bervariasi didasarkan pada tahun pembuatan, jumlah kemasan dan sistem etsa. Berdasarkan tahun pembuatan, bahan adhesif dibagi mulai dari generasi I sampai pada generasi VII.

Generasi I dan II mulai diperkenalkan pada tahun 1960-an dan 1970-an yang tanpa melakukan pengetsaan pada enamel, bahan bonding yang dipakai berikatan dengan smear layer yang ada. Ikatan bahan adhesif yang dihasilkan

54

sangat lemah (2 MPa-6MPa) dan smear layer yang ada dapat menyebabkan celah yang dapat terlihat dengan pewarnaan pada tepi restorasi.5,8 Generasi III mulai diperkenalkan pada tahun 1980-an, mulai diperkenalkan pengetsaan pada dentin dan mulai dipakai bahan primer yang dibuat untuk dapat mempenetrasi ke dalam tubulus dentin dengan demikian diharapkan kekuatan ikatan bahan adhesif tersebut menjadi lebih baik. Generasi III ini dapat meningkatkan ikatan terhadap dentin 12MPa15MPa dan dapat menurunkan kemungkinan terjadinya kegagalan batas tepi bahan adhesif dan dentin (marginal failure). Tetapi seiring waktu tetap terjadi juga kegagalan tersebut. Generasi IV mulai diperkenalkan awal tahun 1990-an. Mulai dipakai bahan yang dapat mempenetrasi baik itu tubulus dentin yang terbuka dengan pengetsaan maupun yang telah mengalami dekalsifikasi dan juga berikatan dengan substrat dentin, membentuk lapisan hybrid. Fusayama dan Nakabayashi menyatakan bahwa adanya penetrasi resin akan memberikan kekuatan ikatan yang lebih tinggi dan juga dapat membentuk lapisan pada permukaan dentin. Kekuatan ikatan bahan adhesif ini rendah sampai dengan sedang sampai dengan 20 MPa dan secara signifikan dapat menurunkan kemungkinan terjadinya celah marginal yang lebih baik daripada sistem adhesif sebelumnya. Sistem ini memerlukan teknik pemakaian yang sensitif dan memerlukan keahlian untuk dapat mengontrol pengetsaan pada enamel dan dentin. Cara pemakaiannya cukup rumit dengan beberapa botol sediaan bahan dan beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan.
5,8

Generasi V mulai berkembang pada tahun 1990-an. Pada generasi ini bahan primer dan bonding telah dikombinasikan dalam satu kemasan. Pada generasi ini juga mulai diperkenalkan pemakaian bahan adhesif sekali pakai.5,8

55

Generasi VI mulai berkembang pada akhir tahun 1990-an awal tahun 2000, pada generasi ini mulai dikenal pemakaian self etching yang merupakan suatu terobosan baru pada sistem adhesif. Pada generasi VI ini tahap pengetsaan tidak lagi memerlukan pembilasan karena pada generasi ini telah dipakai acidic primer, yaiu bahan etsa dan primer yang dikombinasikan dalam satu kemasan.
5,8

Generasi VII mulai berkembang sekitar tahun 2002, generasi ini juga dikenal sebagai generasi all in one adhesif, dikatakan demikian karena pada generasi VII ini bahan etsa, primer dan bonding telah dikombinasikan dalam satu kemasan saja, sehingga waktu pemakaian bahan adhesif generasi VII ini menjadi lebih singkat.

Bonding

generasi

VIII

(Dyad

Flow

produksi

Kerr

Corp)

Bonding ini merupakan composite dengan sistem self-adhesive, light-cured dimana aplikasi resin sekali tanpa aplikasi etsa manual ataupun bonding artinya dengan produk ini resin komposit tinggal aplikasi kemudian sinar. Indikasi pemakaiannya untuk kavitas kecil klas I, sebagai base/ linier untuk klas sealant, porcelain. Dyad Flow merupakan resin flowable. Aplikasi Dyad Flow Composite untuk kavitas 1. Preparasi kavitas, kavitas dibersihkan dengan water spray dan dikeringkan selama 5 detik (semua margin preparasi harus dibevel) 2. Seleksi warna gigi 3. Aplikasi Dyad Flow dengan kedalaman kurang dari 0,5 mm (hilangkan kelebihan komposit dengan brush bila diperlukan) I atau klas II, dapat digunakan sebagai fissure restorasi

memperbaiki

incisal

abrasi,

memperbaiki

56

4. Sinar light cure selama 20 detik (untuk warna diatas A3 sinar selama 40 detik) 5. Finishing dan polishing

Berdasarkan jumlah kemasan atau tempat penyimpanan, bahan adhesif dibagi menjadi tiga yakni sistem tiga botol, dua botol dan satu botol. Pada sistem tiga botol, bahan adhesif terdiri dari tiga botol bahan yang terpisah yakni etsa, primer dan bonding. Sistem ini diperkenalkan pertama kali tahun 1990-an. Sistem ini menghasilkan kekuatan ikatan yang baik dan efektif. Namun, kekurangan sistem ini adalah banyaknya kemasan yang ada di meja unit dan waktu pemakaian yang lama dikarenakan sistem ini yang terdiri dari tiga botol dan tidak praktis.2 Sistem bahan adhesif lainnya yakni sistem dua botol yang terdiri dari dua botol bahan yang terpisah yakni satu botol bahan etsa dan satu botol yang merupakan gabungan antara primer dan bonding. Saat ini, sistem in merupakan bahan adhesif yang paling banyak digunakan di praktek dokter gigi. Hal ini dikarenakan sistem ini lebih simpel dan waktu pemakaiannya lebih cepat. Disamping itu, ikatan yang dihasilkan cukup kuat.2,8 Sistem bahan adhesif terakhir yakni sistem satu botol yang hanya terdiri satu botol yang merupakan gabungan etsa, primer dan bonding. Sistem ini merupakan sistem bahan adhesif yang terakhir kali keluar. Kelebihan sistem ini adalah waktu pemakaian yang lebih cepat dan mudah pengaplikasiannya dibandingkan dengan sistem bahan adhesif lainnya. Namun, kekurangan sistem ini adalah kekuatan ikatan
2 yang dihasilkan lebih rendah. ,8 Berdasarkan sistem etsa, bahan adhesif dibagi

menjadi dua yakni sistem total etching dan self etching. Perbedaan antara kedua sistem ini adalah pada proses etsa dan irigasi. Pada sistem total etching, dilakukan prosedur irigasi etsa. Sedangkan pada sistem self etching, tidak dilakukan irigasi

57

c. Contoh pada Tumpatan Semen Ionomer Kaca Kelas III

Tahap Preparasi Klas III Glass Ionomer Desain preparasi sama dengan desain untuk Tumpatan komposit Klas III tetapi tidak menggunakan bevelpada cavo surface enamel Margine\ Dimulai dengan Fisure Bur untuk membuat Outline form Retention form didapatkan dengan membuat undercut pada 3 bagian yaiyu labial, palatal dan Insical point angle kemudian dengan Round bur no atau no 1 sebagai retensi utama Idealnya enamel margine didukung oleh dentin yang sehat, namun apabila terdapat perubahan warna karena karies di dinding labial maka bagian ini harus diambil terlebih dahulu Semua dinding Kavitas dihaluskan Bila memungkinkan, preparasi harus didesain dari bagian Lingual

Tahap Penumpatan Semen Glas Ionomer Setelah gigi dipreparasi dan diber Basis dan Liner lalu disiapkan Matriks Insical dan pemasangan Wedge Disiapkan bubu dan cairan glass Ionomer tipe II/IX pada paper pad dengan perbandingan sesuai dengan petunjuk pabrik Cara mencampur dengan gerakan melipat dan memakai Agate Spatle. Setelah didapatkan konsistensi cukup (kental mengkilap), campuran dimasukkan ke dalam kavitas dengan sonde atau eskavator dan ditekan dengan stopper semen yang kecil ( dari bahan logam atau plastik) dibentuk dengan plastis filling instrumen mulai pencmpuran sampai setting kurang lebih 4 menit Setelah mengeras tumpatan diulasi varnish dan vaseline, bila ada kelebihan tumpatan dimabil dngan menggunakan hand cutting instrumen scalpel blade kemudian diulas dengan menggunakan varnish dan vaseline lagi 58

Pemolesan dilakukan pada kunjungan berikutnya

Tahap Pemolesan Pemolesan dilakukan dengan Arkansas yang diolesi dengan Vaseline Kemudian dengan Fine Finishing yaitu menggunakan Long Shank halus bentuk mengerucut untuk menghilangkan kelebihan komposit Kemudian bisa menggunakan Sogo tetapi ini hanya satu kali pakai

3.5 Design Outline Kavitas

Kavitas Klas I

Pit & fissur permukaan oklusal molar; pit permukaan bukal & lingual semua gigi

Preparasi Kavitas Klas I

59

Outline Outline mengikuti pola fissure untuk mencegah karies sekunder pada tepi restorasi. Outline yang smooth dan mengikuti alur fissure menurunkan tekanan dan packing amalgam dapat lebih baik.

60

Outline kavitas klas I pada molar sulung pertama RB. Bila perlu melintasi central ridge

Kavitas Klas II

Semua permukaan proximal gigi molar dgn akses dari permukaan oklusal

61

Preparasi Kavitas Klas II

62

1. Proksimal Box Anatomi servikal gigi sulung yang menyempit meningkatkan resiko rusaknya gingiva di bagian interproksimal. Juga bila gingival wall terlalu dalam dapat membahayakan pulpa

2. Gingival wall Lebar gingival wall sekitar 1 mm. Pastikan dinding enamel didukung oleh dentin yang sehat 3. Axial wall Pada restorasi kecil, axial wall harus flat. Tetapi untuk restorasi yang luas axial wall dibentuk pararel dengan kontur gigi aslinya. Kegagalan preparasi axial wall menyebabkan pulpa terbuka 4. Konvergen Dinding dan proximal box line angles dibentuk konvergen ke arah oklusal, mengikuti permukaan bukal dan lingual gigi. Sudut cavosurface angle tetap dipertahankan 90

63

5. Line angle Bucco-gingival dan linguo-gingival line angle dibuat sedikit membulat

Internal angles Semua internal angles harus membulat untuk mengurangi tekanan dan supaya amalgam dapat di-pack dengan mudah pada regio ini

64

6. Cavosurface Bukal dan lingual cavosurface angle jangan terlalu melebar. Preparasi cukup untuk akses hand instrumen, tidak terlalu divergen untuk menghindari daerah yang rapuh

7. Cervical enamel rod Tidak perlu membentuk bevel pada tiap dinding kavitas untuk menghindari terbentuknya enamel rod yang unsupported. Inklinasi cervical enamel rod sedikit mengarah ke oklusal 8. Retensi Grove tambahan diletakkan pada bucco-axial dan lingual-axial line angle, tanpa mengurangi enamel wall 9. Lebar isthmus Lebar isthmus sekitar sepertiga lebar cusp bukal dan lingual. Fraktur isthmus sering terjadi karena kontak prematur amalgam di daerah marginal ridge dengan gigi antagonis. Cek kontak marginal ridge dengan articulating paper sebelum restorasi untuk menghindari fraktur 10. Axio-pulpal line angle Dibulatkan dengan bur atau ekskavator yang tajam

65

11. Pulpal wall Sebaiknya flat atau sedikit membulat, 0.5mm dibawah dentin. Hindari perluasan berlebihan di daerah mesial

12. Occlusal wall Preparasi dibuat sedikit konvergen ke arah oklusal 13. Dovetail Diperluas hingga daerah yang terkena karies atau fissure yang dalam. Bentuknya membulat, halus dengan retensi yang baik pada oklusal Kavitas Klas III

Semua permukaan proximal gigi anterior dgn kemungkinan perluasan ke arah labial atau lingua.

66

http://www.dentportfolio.com/sample.html#class3prep

http://www.dentportfolio.com/sample.html#class3prep

67

Kavitas Klas IV

Restorasi proximal gigi anterior yang melibatkan incisal angle Kavitas Klas V Restorasi pada sepertiga servikal semua gigi, termasuk permukaan proximal marginal ridge tidak termasuk

68

3.6 Keuntungan dan Kerugian Restorasi Plastis a. Tumpatan Amalgam Kelebihan a. Dapat dikatakan sejauh ini amalgam adalah bahan tambal yang paling kuat dibandingkan dengan bahan tambal lain dalam melawan tekanan kunyah, sehingga amalgam dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama di dalam mulut (pada beberapa penelitian dilaporkan amalgam bertahan hingga lebih dari 15 tahun dengan kondisi yang baik) asalkan tahap-tahap penambalan sesuai dengan prosedur. b. Ketahanan terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada umumnya lama kelamaan akan mengalami aus karena faktorfaktor dalam mulut yang saling berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut. c. Penambalan dengan amalgam relatif lebih simpel dan mudah dan tidak terlalu technique sensitive bila dibandingkan dengan resin komposit, di mana sedikit kesalahan dalam salah satu tahapannya akan sangat mempengaruhi ketahanan dan kekuatan bahan tambal resin komposit. d. Biayanya relatif lebih rendah dan dapat disimpan lebih lama jika dibandingkan dengan bahan restorasi lainnya.

Kekurangan a. Secara estetis kurang baik karena warnanya yang kontras dengan warna gigi dan juga mudah mengalami perubahan warna (tarnish) sehingga tidak dapat diindikasikan untuk gigi depan atau di mana pertimbangan estetis sangat diutamakan. b. Dalam jangka waktu lama ada beberapa kasus di mana tepi-tepi tambalan yang berbatasan langsung dengan gigi dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi sehingga tampak membayang kehitaman.

69

c.

Pada beberapa kasus ada sejumlah pasien yang ternyata alergi dengan logam yang terkandung dalam bahan tambal amalgam. Selain itu, beberapa waktu setelah penambalan pasien terkadang sering

mengeluhkan adanya rasa sensitif terhadap rangsang panas atau dingin. Namun umumnya keluhan tersebut tidak berlangsung lama dan berangsur hilang setelah pasien dapat beradaptasi. d. Hingga kini issue tentang toksisitas amalgam yang dikaitkan dengan merkuri yang dikandungnya masih hangat dibicarakan. Pada negaranegara tertentu ada yang sudah memberlakukan larangan bagi penggunaan amalgam sebagai bahan tambal. e. Adanya korosi berlebihan dapat menyebabkan peningkatan porositas, penurunan integral marginal, berkurangnya kekuatan, dan pelepasan produk-produk metal dalam lingkungan rongga mulut. Galvanic korosi jiga bisa dapat terjadi yaitu korosi yang terjadi apabila amalgam berkontak dengan bahan restorasi lainnya, misalnya emas, amalgam konvensional, alloy prostodonti, dan lainnya. b. Tumpatan Resin Komposit Kelebihan Komposit - Warna dan tekstur material bisa disamakan dengan gigi pasien dengan menambah material pengisi. - Bisa digunakan untuk merubah warna, ukuran dan bentuk gigi untuk memperbaiki senyuman. - Tidak mengandung merkuri.

70

- Sangat bermanfaat untuk gigi anterior dan kavitas kecil pada gigi posterior dengan beban gigitan yang tidak terlalu besar dan mementingkan estetis. - Hanya sedikit gigi yang perlu dipreparasi untuk pengisian bahan tambalan berbanding amalgam (Anusavice, 2003). Kekurangan Komposit - Kurang daya tahan berbanding amalgam serta tidak begitu kuat dalam menahan tekanan gigitan pada bagian posterior. - Bisa terjadi shrinkage apabila material di set, sehingga menyebabkan pembentukan ruang kecil antara gigi dan bahan tambalan. - Tidak bisa digunakan untuk tambalan yang besar. - Lebih cepat aus dibanding amalgam. - Tehnik etsa asam bisa melemahkan material polimer komposit. - Kontras bahan tambalan komposit dan karies yang kurang menyebabkan sukar untuk mendeteksi karies baru. - Memerlukan ketrampilan serta biaya tinggi.

71

BAB IV KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Klasifikasi dalam resin komposit terdiri dari komposit berbahan mikro fille komposit berbahan pengisi partikel kecil komposit hibrit

2. Sifat-sifat dari tumpatan resin komposit Sifat fisik Sifat mekanis Sifat khemis

3. Indikasi dan kontraindikasi tumpatan resin komposit Indikasi: Aman untuk restorasi lesi kecil dan memiliki nilai estetik yang sangat bagus Cukup untuk menerima tekanan oklusal yang sedang tapi lebih cepat Lesi interproksimal (klas III) pada gigi anterior Lesi pada permukaan fasial gigi anterior (klas V) Lesi pada permukaan gigi premolar

Kontraindikasi: lebih mahal dan kemampuan restorasi terbatas hanya pada kavitas extensif Lesi distal dari premolar Tambalan rutin untuk posterior

72

Pasien dengan insidensi karies tinggi serta kebersihan mulut tidak terjaga Kemampuan untuk restorasi kavitas terbatas

4. Tahap preparasi, penumpatan, dan pemolesan berbeda-beda tergantung pada klasifikasi kavitas dan bahan tumpat yang digunakan 5. Keuntungan dan kerugian tumpatan resin komposit Keuntungan : Warna dan tekstur material bisa disamakan dengan gigi pasien dengan menambah material pengisi. Kerugian : Kurang daya tahan berbanding amalgam serta tidak begitu kuat dalam menahan tekanan gigitan pada bagian posterior.

73

DAFTAR PUSTAKA

Ford, T.R. Pitt. 1993. Restorasi Gigi. Alih bahasa, Narlan Sumawinata; editor, Narlan Sumawinata dan LIlian Yuwono. Ed.2. Jakarta: EGC

Buku Petunjuk Praktikum Tumpatan FKG UNEJ, 2009

Pickard, H.M., Kidd, E.A.M., Smith, B.G.N 2002. Manual Konservasi Restoratif Menurut Pickard. Edisi 6. Alih bahasa: Narlan Sumawinata. Jakarta : Widya Medika.

Combe,EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah: Slamat Tarigan. Jakarta : Balai Pustaka. Anusavice, Kenneth J. 2004. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC. McCabe, John F., Walls, Angus W., 2008, Applied Dental Materials 9th Edition. Blackwell Publishing, Oxford Powers, JM., Wataha, JC. Dental Materials: Properties and Manipulation 9th edition. 2008. Missouri: Mosby. Mc Cabe. applied dental material 9th edition.

http://www.juniordentist.com/outline-form-cavity-preparation.html

http://www.scribd.com/doc/35130814/Sifat-Sifat-Dental-Amalgam

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1154/1/10E00020.pdf

74

http://galinggih.wordpress.com/2010/04/03/semen-ionomer-kaca/

http://dentistrymolar.wordpress.com

http://www.tpub.com/content/medical/14275/css/14275_123.htm

http://intl.kerrdental.com/kerrdental-composites-

75

Anda mungkin juga menyukai