Anda di halaman 1dari 19

BERCAK BIRU PADA LUTUT Blok Hematologi dan Sistem Limfatik Skenario 3

Kelompok Ketua Sekeretaris Anggota

: : : :

A-5 Anisa Rahmayati Caesaredo Derza Polasa Adlan Hendarji Radia Ayu Annisa Charantia Betari Dhira Paramita 1102010025 1102011062 1102011009 1102011055 1102011061

Dian Asri Gumilang Pratiwi 1102011079 Dira Sari Puji A Erina Imronikha Hafiz Arqusoy Intan Aprelia Prayusmi 1102011082 1102011089 1102011115 1102011127

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI 2012/2013

BERCAK BIRU PADA LUTUT

Seorang ibu membawa bayi laki-laki berumur 9 bulan ke rumah sakit dengan keluhan ditemukan bercak biru pada lutut. Keluhan ini sering muncul sejak bayinya mulai belajar merangkak. Paman bati dari pihak ibu juga sering mengalami keluhan serupa.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan bayi tidak tampak sakit, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, jantung dan paru tidak ada kelainan. Abdomen tidak ada kelainan. Pada lutut tampak bercak kebiruan 4x5 cm. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 11 g/dl, leukosit 9.500/ul, hitung jenis leukosit 0/1/1/59/28/11, trombosit 275.000/ul, LED 9 mm, BT 2 (n=1-3), PT 11.5 (n=11-14), APTT 86 (n=17-38), TT 14 (n=12-15).

SASARAN BELAJAR

LI. 1. Memahami dan menjelaskan hemostasis LO. 1.1. Definisi LO. 1.2. Hemostasis Cascade LO. 1.3. Pemeriksaan penyaring

LI. 2. Memahami dan menjelaskan hemophilia LO 2.1. Definisi LO 2.2. Etiologi LO 2.3. Klasifikasi LO 2.4. Epidemiologi LO 2.5. Patogenesis dan Patofisiologi LO 2.6. Manifestasi Klinis LO 2.7. Pemeriksaan Fisik dan Penunjang LO 2.8. Diagnosis dan Diagnosis Banding LO 2.9. Penatalaksanaan LO 2.10. Komplikasi LO 2.11. Prognosis

LI. 1. Memahami dan menjelaskan hemostasis

LO. 1.1. Definisi Sistem hemostasis merupakan mekanisme tubuh dalam mengontrol respon terhadap perdarahan atau terjadinya trombosis yang berlebihan sehingga proses trombogenesis dan proses fibrinolisis dalam keadaan seimbang. Proses hemostasis pada keadaan normal membantu menghentikan perdarahan dan bila berlebihan akan menimbulkan oklusi trombotik dan infark sistemik. Trombosis terjadi bila ada ketidakseimbangan antara faktor trombogenik dan mekanisme proteksi. Yang termasuk dalam faktor-faktor trombogenik adalah kerusakan dinding pembuluh darah, rangsangan agregasi trombosit, aktivasi koagulasi darah dan stasis, sedangkan keadaan-keadaan yang berpengaruh dalam mekanisme proteksi adalah endotel yang utuh, inhibitor protease dari sistem koagulasi, inaktivasi koagulasi oleh hati dan sistem fibrinolitik. LO. 1.2. Hemostasis Cascade

Proses hemostasis dibagi menjadi 3: 1. Primer - Spasme vaskular (vasokonstriksi) - Pembentukan sumbat trombosit 2. Sekunder - Kaskade koagulasi - Deposisi fibrin 3. Tersier - Dissolusi Spasme Vaskular Spasme vaskular (vasokonstriksi) merupakan mekanisme awal dari hemostasis, yaitu terjadinya penyempitan dari pembuluh darah yang rusak. Spasme vaskular disebabkan oleh: - Kontraksi hasil dari spasme myogenik lokal - Adanya autacoid factors dari jaringan dan trombosit - Rangsangan dari saraf simpatis Menyempitnya pembuluh darah akan menyebabkan dinding-dinding endotel saling menekan, sehingga permukaan endotel menjadi sticky. Pembentukan Sumbat Trombosit Saat pembuluh darah mengalami trauma (rusak) berbagai protein dari jaringan ikat akan mengalami kontak langsung dengan darah, salah satunya adalah kolagen. Kolagen akan menyebabkan trombosit disekitar pembuluh darah yang rusak menjadi aktif. Trombosit yang diaktifkan akan berubah karakteristik, berkontraksi, dan melepaskan granul-granul sitoplasma. Trombosit yang telah aktif ini akan bersifat sticky dan melekat pada kolagen di endotel pembuluh darah yang rusak. Setelah melekat, trombosit akan melepaskan bahan kimia, diantaranya ADP dan thromboxan A2. ADP akan menarik dan mengaktifkan trombosit lain yang berada disekitar perlekatan, sedangkan thromboxan A2 selanjutnya berperan dalam spasme vaskular (vasokonstriksi).

Pelepasan ADP dan bahan kimia lainnya juga merangsang pelepasan prostasiklin dan NO dari endotel yang normal (tidak rusak), kedua bahan ini akan menghambat perlekatan trombosit pada endotel sekitar yang normal. Hal ini menghindari terjadinya sumbatan trombosit yang tidak diperlukan.

Kaskade Koagulasi

Empat langkah utama koagulasi darah untuk menghasilkan fibrin adalah: 1. Langkah pertama: proses awal yang melibatkan jalur intrinsik dan ekstrinsik yang menghasilkan tenase kompleks yang mengaktivasi faktor X. 2. Langkah kedua: pembentukan prothrombin activator (kompleks protrombinase) yang akan memecah protrombin menjadi trombin. 3. Langkah ketiga: prothrombin activator merubah protrombin menjadi trombin. 4. Langkah keempat: trombin memecah fibrinogen menjadi fibrin serta mengaktifkan F.XIII sehingga timbul fibrin yang stabil

Dissolusi Fase terakhir dari mekanisme hemostasis merupakan fase pengembalian atau degradasi saat sumbatan trombosit, benang-benang fibrin, dan mekanisme-mekanisme sebelumnya (clot) dihancurkan. Hal ini diperlukan untuk mengembalikan dinding pembuluh darah ke keadaan normal (tanpa clot) setelah proses penyembuhan jaringan berlangsung. Penghancuran clot dikatalisir oleh plasmin, suatu enzim proteolitik, yang berasal dari plasminogen, suatu protein plasma, yang telah diaktifkan. Sebelumnya plasminogen telah terjebak di clot, tetapi belum diaktifkan menjadi plasmin. Beberapa hari setelah terjadinya kerusakan pembuluh darah, jaringan yang rusak dan endotel melepaskan t-PA (tissue plasminogen activator) yang akan mengaktifkan plasminogen menjadi plasmin. Plasmin selanjutnya akan mengkatalisir penghancuran clot, dan struktur pembuluh darah kembali normal.

LO. 1.3. Pemeriksaan penyaring a. Untuk menilai pembentukan hemostatic plug Hitung trombosit= -Metode langsung(Rees Ecker): darah diencerkan ke dalam larutan Brilliant Cresyl Blue sehingga trombosit tercat biru muda lalu dihitung dengan menggunakan kamar hitung. -Metode fase kontras: darah diencerkan ke dalam larutan amonium oksalat 1% sehingga semua eritrosit dihemolisis lalu dihitung dengan kamar hitung. -Metode tidak langsung: sediaan darah hapus diwarnai dengan Wright, Giemsa/ May Grunwald lalu trombosit dihitung lalu dibandingkan dengan jumlah eritrosit. -Otomatis: dibedakan Kecil:trombosit. berdasarkan ukuran. Jika besar:eritrosit.

Bleeding Time / waktu perdarahan= Untuk pemeriksaan fungsi trombosit abnormal, misalnya pada defisiensi faktor vW. Ada 2 cara: -Ivy (Normal: 1-6 menit) Pasang tensi dilengan atas-antisepsis-regangkan kulit-tusuk dengan lanset-darah keluar-hisap darah-stopwatch dimulai-hisap darah tiap 30detik dengan kertas saring-hentikan stopwatch saat darah berhenti.

Rumplee Leed= Untuk menguji proses hemostasis. Tekan antara sistole-diastole-tahan 5-10 menit-lepas bendungan-lihat ada titik merah atau tidak. Jika >10 petechie berarti +

b. Untuk menilai pembentukan trombin APTT Untuk menilai jalur intrinsik, mengukur faktor VIII, IX, XI, dan XII. Untuk mengukur lamanya terbentuk bekuan jika ke dalam plasma + tromboplastin partial (fosfolipid), aktivator, ion kalsium (37C), normal: 20-40 detik.

PPT (Plasma Prothrombin Time) Untuk menilai jalur ekstrinsik

c. Untuk menilai reaksi trombin-fibrinogen Thrombin Time (TT) Untuk menilai defisiensi fibrinogen atau adanya hambatan terhadap thrombin, dipengaruhi oleh kadar dan fungsi fibrinogen. Normal: 1620 detik Stabilitas bekuan dalam salin fisiologik dan 5 M urea

LI. 2. Memahami dan menjelaskan hemophilia LO 2.1. Definisi Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah dan diturunkan oleh melalui kromoson X. Penyakit ini ditandai dengan perdarahan spontan yang berat dan kelainan seni yang nyeri dan menahun. Hemofilia lebih banyak terjadi pada laki-laki, karena mereka hanya mempunyai satu kromosom X. Sedang perempuan umumnya menjadi pembawa sifat (carrier). Namun perempuan bisa juga menderita hemofilia jika pria hemofilia menikah dengan wanita carrier hemofilia. LO 2.2. Etiologi Kelainan herediter yang bersifat sex linked recessive, diturunkan hanya pada anak laki laki. Sedangkan wanita bertindak sebagai karier. Penyakit Hemofilia merupakan penyakit yang bersifat herediter.Pada penyakit ini terjadi gangguan pada gen yang mengeksplesikan factor pembekuan darah,sehingga terjadi luka,luka tersebut sukar menutup. Pada orang normal, proses pembekuan darah dapat melalui 4 cara yaitu: 1)Spasme pembuluh darah 2)Pembentukan sumbat dari trombosit atau pratelet

3)Pembekuan darah 4)Terjadi pertumbuhan jaringan ikat kedalam bekuan darah untuk menutup lubang pada pembuluh darah secara permanen. Hemofilia merupakan penyakit kongenital yang diturunkan oleh gen resesif x-linked dari pihak ibu. Faktor VIII (Hemofilia A) dan faktor IX (Hemofilia B) adalah protein plasma yang merupakan komponen yang diperlukan untuk pembekuan darah, faktor-faktor tersebut diperlukan untuk pembentukan bekuan fibrin pada tempat pembuluh cidera.

LO 2.3. Klasifikasi Klasifikasi hemophilia dibedakan atas 3 macam : a. Hemofilia A Ditandai karena penderita tidak memiliki zat anti hemofili globulin (factor VIII).Kira-kira 80 % dari kasus hemophilia adalah tipe ini.Seseorang mampu membentuk antihemofilia globulin (AHG) dalam serum darahnya karena ia memiliki gen dominan H sedang alelnya resesif tidak dapat membentuk zat tersebut.Oleh karena gennya terangkai X maka perempuan normal dapat mempunyai genotif H_.Perempuan hemophilia mempunyai genotif hh,sedangkan lakilaki hemophilia h b. Hemofilia B atau penyakit Christmas Penderita tidak memiliki komponen plasma tromboplastin (KPT;faktorIX).Kira-kira 20% dari hemophilia adalah tipe ini c. Hemofilia C Penyakit hemophilia C tidak disebabkan oleh gen resesif kromosom X melainkan oleh gen resesif yang jarang dijumpai dan terdapatnya pada auotosom.Tidak ada 1% dari kasus

hemophilia adalah tipe ini.Penderita tidak mampu membentuk zat plasma,tromboplastin anteseden (PTA). LO 2.4. Epidemiologi Penyakit ini bermanifestasi klinis pada laki-laki. Angka kejadian hemofilia A sekitar 1 : 10.000 orang dan hemofilia B sekitar 1 : 25.000 30.000 orang. Belum adat data mengenai angka kejadian di Indonesia, namun diperkirakan sekitar 20.000 kasus dari 200 juta penduduk Indonesia saat ini. Kasus hemofilia A lebih sering dijumpai diobandingkan kasus hemofilia B, yaitu berturut-turut mencapai 80 85%dan 10 15% tanpa memandang ras, geografi, dan keadaan sosial ekonomi. Mutasi gen secara spontan diperkirakan mencapai 20 30% yang terjadi pada pasien tanpa riwayat keluarga.

Defisiensi Faktor Insiden dalam Kromosom Koagulasi Populasi Umum Terkait Fibrinogen 1:1.000.000 4 Prothrombin Faktor V Faktor VII Faktor VIII Faktor IX Faktor X Faktor XI Faktor XIII 1:2.000.000 1:1.000.000 1:500.000 1:10.000 1:60.000 1:1.000.000 1:1.000.000 1:1.000.000 11 1 13 X X 13 4 6 (Subunit A) 1 (Subunit B)

yang Bentuk Penurunan Resesif Autosomal Resesif Autosomal Resesif Autosomal Resesif Autosomal Resesif Terpaut X Resesif Terpaut X Resesif Autosomal Resesif Autosomal Resesif Autosomal

LO 2.5. Patogenesisda Patofisiologi

Gangguan itu dapat terjadi karena jumlah pembeku darah jenis tertentu (F.VIII dan F.IX) kurang dari jumlah normal, bahkan hampir tidak ada. Perbedaan proses pembekuan darah yang terjadi antara orang normal (Gambar 1) dengan penderita hemofilia (Gambar 2).

a. Ketika mengalami perdarahan berarti terjadi luka pada pembuluh darah (yaitu saluran tempat darah mengalir keseluruh tubuh), lalu darah keluar dari pembuluh. b. Pembuluh darah mengerut/ mengecil. c. Keping darah (trombosit) akan menutup luka pada pembuluh. d. Faktor-faktor pembeku darah bekerja membuat anyaman (benang benang fibrin) yang akan menutup luka sehingga darah berhenti mengalir keluar pembuluh. Gambar 1 a. Ketika mengalami perdarahan berarti terjadi luka pada pembuluh darah (yaitu saluran tempat darah mengalir keseluruh tubuh), lalu darah keluar dari pembuluh. b. Pembuluh darah mengerut/ mengecil. c. Keping darah (trombosit) akan menutup luka pada pembuluh. d. Kekurangan jumlah factor pembeku darah tertentu, mengakibatkan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna, sehingga darah tidak berhenti mengalir keluar pembuluh. Gambar 2 LO 2.6. Manifestasi Klinis

Apabila terjadi benturan pada tubuh akan mengakibatkan kebiru-biruan (pendarahan dibawah kulit) Apabila terjadi pendarahan di kulit luar maka pendarahan tidak dapat berhenti. Pendarahan dalam kulit sering terjadi pada persendian seperti siku tangan maupun lutut kaki sehingga mengakibatkan rasa nyeri yang hebat. Perdarahan di kepala. Tanda-tandanya: sakit kepala hebat, muntah berulang kali, mengantuk terus, bingung, tak dapat mengenali orang atau benda di sekitarnya, penglihatannya kabur atau ganda, keluar cairan dari hidung atau telinga, terasa lemah pada tangan, kaki, dan wajah.

Perdarahan di tenggorokan. Tanda-tanda: sulit bernapas atau menelan, bengkak. Perdarahan di perut. Tanda-tanda: muntah darah, terdapat darah pada feses, sakit perut tak kunjung sembuh, penderita tampak pucat dan lemah. Perdarahan di paha. Tanda-tanda: nyeri di daerah paha atau agak ke bawahnya, mati rasa di daerah paha atau tidak mampu mengangkat kaki.

LO 2.7. Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Pemeriksaan Fisik 1. Pengkajian sistem neurologik a. Pemeriksaan kepala b. Reaksi pupil c. Tingkat kesadaran d. Reflek tendo e. Fungsi sensoris 2. Hematologi a. Tampilan umum b. Kulit : (warna pucat, petekie, memar, perdarahan membran mukosa atau dari luka suntikan atau pungsi vena) c. Abdomen (pembesaran hati, limpa) 3. Kaji anak terhadap perilaku verbal dan nonverbal yang mengindikasikan nyeri 4. Kaji tempat terkait untuk menilai luasnya tempat perdarahan dan meluasnya kerusakan sensoris, saraf dan motoris. 5. Kaji kemampuan anak untuk melakukan aktivitas perawatan diri (misal : menyikat gigi) 6. Kaji tingkat perkembangan anak

7. Kaji Kesiapan anak dan keluarga untuk pemulangan dan kemampuan menatalaksanakan program pengobatan di rumah 8. Kaji tanda-tanda vital (TD, N, S, Rr).

Pemeriksaan Penunjang Uji Laboratorium dan Diagnostik 1. Uji Laboratorium (uji skrining untuk koagulasi darah) a. Jumlah trombosit (normal) b. Masa protrombin (normal) c. Masa trompoplastin parsial (meningkat, mengukur keadekuatan faktor koagulasi intrinsik) d. Masa perdarahan (normal, mengkaji pembentukan sumbatan trombosit dalam kapiler) e. Assays fungsional terhadap faktor VIII dan IX (memastikan diagnostik) f. Masa pembekuan trompin

2. Biapsi hati (kadang-kadang) digunakan untuk memperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi dan kultur 3. Uji fungsi hati (SGPT, SGOT, Fosfatase alkali, bilirubin) LO 2.8. Diagnosis dan Diagnosis Banding Diagnosis 1. Anamnesis Keluhan penyakit ini dapat timbul saat : Lahir : perdarahan lewat tali pusat. Anak yang lebih besar : perdarahan sendi sebagai akibat jatuh pada saat belajar berjalan. Ada riwayat timbulnya biru-biru bila terbentur (perdarahan abnormal). 2. Pemeriksaan fisik Adanya perdarahan yang dapat berupa : Hematom di kepala atau tungkai atas/bawah

Hemarthrosis Sering dijumpai perdarahan interstitial yang akan menyebabkan atrofi dari otot, pergerakan terganggu dan terjadi kontraktur sendi. Sendi yang sering terkena adalah siku, lutut, pergelangan kaki, paha dan sendi bahu. 3. Pemeriksaan penunjang APTT/masa pembekuan memanjang PPT (Plasma Prothrombin Time) normal SPT (Serum Prothrombin Time) pendek Kadar fibrinogen normal Retraksi bekuan baik

Kelainan laboratorium ditemukan pada gangguan hemostatis, seperti pemanjangan masa pembekuan (CT) dan masa tromboplastin partial teraktivasi (aPTT), abnormalitas uji tromboplastin generation, dan masa pendarahan dan masa protrombin (PT) dalam masa normal. Diagnosis definitif ditegakkan dengan berkurangnya aktivitas F VIII/F IX , dan jika sarana pemeriksaan sitogenetik tersedia dapat dilakukan pemeriksaan petanda gen F VIII/F IX. Aktivitas F VIII/F IX dinyatakan dalam U/ml dengan arti aktivitas faktor pembekuan dalam 1 ml plasma normal adalah 100 %. Nilai normal aktivitas F VIII/F IX adalah 0,5-1,5 U/ml atau 50150 %. Diagnosis antenatal sebenarnya dapat dilakukan pada ibu hamil dengan risiko. Pemeriksaan aktivitas F VIII dan kadar antigen F VIII dalam darah janin pada trimester kedua dapat membantu menentukan status janin terhadap kerentanan hemofilia A. indentifikasi gen F VIII dan petanda gen tersebut lebih baik dan lebih dianjurkan. Diagnosis Banding Hemofilia A dengan penyakit von willebrand (khususnya varian normandy), inhibitor F VIII dan V kongenital. Hemofilia B dengan penyakit hati, pemakaian warfarin, defisiensi vitamin K, sangat jarang inhibitor F IX yang di dapat. Gambaran klinis dan laboratorium pada hemofilia A, Hemofilia Willebrand Hemofilia A Hemofilia B Pewarisan X-linked X-linked Recessive Recessive Lokasi perdarahan Sendi,otot, Sendi,otot,post utama pascatrauma/operasi trauma/operasi Jumlah trombosit Normal Normal Waktu pendarahan Normal Normal PPT Normal Normal aPPT Memanjang Memanjang B dan penyakit Von Von Willebrand Autosomal dominant Mukosa, kulit post Trauma operasi Normal Memanjang Normal Memanjang/normal

F VIII C F VIIIAG F IX Tes ristosetin

Rendah Normal Normal Normal

Normal Normal Rendah Normal

Rendah Rendah Normal terganggu

Activated partial tromboplastin time (aPTT) APTT memanjang dijumpai pada : 1. Defisiensi bawaan Jika PPT normal kemungkinan kekurangan : 1. Faktor VIII 2. Faktor IX 3. Faktor XI 4. Faktor XII

Jika faktor-faktor koagulasi tersebut normal, kemungkinan kekurangan HMW kininogen (Fitzgerald factor) Defisiensi vitamin K, defisiensi protrombin, hipofibrinogenemia.

2. Defisiensi didapat dan kondisi abnormal seperti :


Penyakit hati (sirosis hati) Leukemia (mielositik, monositik) Penyakit von Willebrand (hemophilia vaskular) Malaria Koagulopati konsumtif, seperti pada disseminated intravascular coagulation (DIC) Circulating anticoagulant (antiprothrombinase anticoagulant terhadap suatu faktor koagulasi) Selama terapi antikoagulan oral atau heparin atau circulating

LO 2.9. Penatalaksanaan Terapi Suportif Melakukan pencegahan kegiatan yang dapat menyebabkan luka/benturan Mempertahankan kadar aktivitas faktor pembekuan 30-50% pada perencanaan operasi

Pemberian kortikosteroid membantu untuk menghilangkan proses inflamasi pada sinovitis akut yang terjadi setelah serangan akut hemartrosis. Prednison 0.5-1mg/kgBB/hari selama 5-7 hari dapat mencegah terjadinya gejala sisa berupa kaku sendi (artrosis) yang mengganggu aktivitas harian serta menurunkan kualitas hidup pasien hemophilia Analgesik diberikan pada pasien dengan nyeri hebat, dan sebaiknya dipilih analgesic yang tidak mengganggu agregasi trombosit (hindari pemakaian aspirin dan antikoagulan) Rehabilitasi medic dilakukan sedini mungkin secara komprehensif dan holistic dalam sebuah tim, karena keterlambatan pengelolaan akan menyebabkan kecacatan dan ketidakmampuan baik fisikm okupasi, maupun psikososial dan edukasi. Diantaranya adalah latihan pasif/aktif, terapi dingin dan panas (hati-hati), penggunaan ortosis, terapi psikososial, dan terapi rekreasi serta edukasi

Terapi Pengganti Faktor Pembekuan Dilakukan 3x seminggu untuk menghindari kecacatan fisik (terutama sendi) sehingga pasien hemophilia dapat melakukan aktivitas normal, namun membutuhkan Anti Hemofilia (AHF) dalam jumlah banyak dan membutuhkan biaya tinggi Pemberian faktor VIII atau faktor IX (rekombinan, konsentrat, maupu komponen darah yang mengandung cukup banyak faktor-faktor pembekuan tersebut) Diberikan hingga pembekuan membaik, serta khususnya selama fisioterapi

Konsentrat F VIII/F IX F VIII : o Konsentrat o Memperbaiki faktor pembekuan darah o Waktu paruh 8-12 jam o Mampu meningkatkan aktivitasnya di dalam plasma 0.02 U/ml selama 12 jam F IX : o Protrhrombin Complex Concentrates

F II, F VII, F IX, dan F X Dapat menyebabkan thrombosis paradoksial dan koagulasi intravena yang tersebar yang disebabkan oleh sejumlah konsentrat faktor pembekuan yang lainnya (meningkat pada pemberian berulang)

o Purified F IX Concentrates Rumus : o Volum plasma (VP) = (40 ml/kgBB) x BB (kg) F VIII/F IX yang diinginkan (U) = VP x (kadar yang diinginkan (%) kadar sekarang (%)) 100 o F VII yang diinginkan (U) = BB(kg) x kadar yang diinginkan (%) 2 o F IX yang diinginkan (U) = BB(kg) x kadar yang diinginkan (%) F IX tanpa faktor yang lain Waktu paruh 24 jam Volum distribusi 2x Volum distribusi F VIII

LO 2.10. Komplikasi Komplikasi yang dapat timbul diantaranya :

1. Akibat dari perdarahan atau transfusi darah. Komplikasi akibat perdarahan adalah anemia, ambulasis atau deformitas sendi, atrofi otot atau neuritis. 2. Kerusakan sendi dan otot 3. Hematuria, bila gumpalan darah terjadi di uretra, dapat menyebabkan nyeri yang tajam. 4. Perdarahan sistem pencernaan, kelainan yang timbul dapat berupa adanya darah pada feses dan muntah. kehilangan darah secara kronis akibat ini dapat menyebabkan anemia pada pasien. 5. Perdarahan intrakranial 6. Sindroma kompartmen.

LO 2.11. Prognosis Prognosis baik bila diterapi dengan benar, dan pasien dapat hidup secara normal. Pasien harus secara rutin berkonsultasi dengan dokter spesialisnya.

Anda mungkin juga menyukai