Anda di halaman 1dari 6

TUGAS INDIVIDU BLOK 11 UNIT PEMBELAJARAN 3 DIARE PADA PEDET

ANABELLA PURNAMA FIRDAUSYIA 10/296818/KH/6476 KELOMPOK 6

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

DIARE PADA PEDET

I.

LEARNING OBJECTIVE 1) Jelaskan tentang virus penyebab diare, meliputi ciri-ciri, patogenesis, dan gejala klinik yang ditimbulkan! 2) Jelaskan tentang bakteri gram negatif penyebab diare, meliputi ciri-ciri, patogenesis, dan gejala klinik yang ditimbulkan!

II.

PEMBAHASAN 1) VIRUS PENYEBAB DIARE a. Coronaviridae Merupakan tipe virus dengan RNA single strande, beramplop dan pleomorfik. Bereplikasi di sitoplasma sel dan labil terhadap lingkungan. Terdapat 2 genera, yaitu Coronavirus yang memiliki nukleocapsid berbentuk heliks dan Torovirus dengan nucleocapsid berbentuk tubular (Quinn, 2002). Pathogenesis:

Virus tertelan dan masuk usus halus virus resisten terhadap pH asam dan trypsin sehingga dapat masuk perut tanpa melalui proses inaktivasi 6-12 jam kemudian virus bereplikasi di jejunum dan ileum sel epitel dan vili hancur atrophy usus menyebabkan kurang diproduksinya enzim-enzim untuk pencernaan, defisiensi ion Na dan K, serta adanya immature laktosa dalam usus yang menyebabkan diare (Hirsh, 1999). b. Rotavirus Termasuk dalam famili Reoviridae, menyebabkan diare ringan-berat pada ternak muda di seluruh dunia. Setelah diisolasi, virus ini dapat dibagi menjadi 7 serogroup (A-G) berdasarkan reaksi terhadap kapsid protein mayor. Virus ini tidak beramplop, RNA double-stranded bersegmen dengan struktur ikosahedral (Quinn, 2002). Virus yang tertelan akan merusak epitel kolumner usus, merusak vili usus halus bahkan sampai ke colon, merusak penyerapan makanan sehingga menimbulkan diare (Hirsh, 1999). Masa inkubasi virus ini hanya kurang dari 24 jam. Hewan yang terinfeksi virus ini memperlihatkan gejala anoreksia, depresi, feses berwarna terang dan encer. Pada kasus ringan, penyakit dapat sembuh sendiri selama 4 hari tanpa treatment. Apabila terjadi komplikasi dengan bakteri enterokokus patogen seperti E. coli dan Salmonella sp., dapat menimbulkan kematian (Quinn, 2002). c. Bovine Viral Diarrhea (BVD) BVD disebabkan oleh virus dari family Flaviviridae genus Pestivirus. Virus ini beramplop dan memiliki RNA rantai tunggal. Virus ini memiliki 4 golongan, tetapi yang terpenting ialah BVDV 1 dan BVDV 2. Pestivirus memiliki 3 kandungan utama dalam amplopnya yaitu E-rns, E1, dan E2 yang menetralisir antibodi (Quinn, 2002). Hewan yang terinfeksi mengeluarkan (mengekskresikan) virus dalam berbagai sekresi cairan. Yang paling penting adalah penyebaran penyakit peroral serta leleran hidung. Penyebaran lewan fese relatif tidak penting dalam pathogenesis BVD. Virus BVD dapat juga ditularkan lewat semen dan transfer. Infeksi oleh strain non cytopatic pada uterus selama 30-120 hari kebuntingan menyebabkan anak sapi yang dilahirkan mengalami infeksi virus secara persisten, pedet akan mengalami imunotoleran. Jika terjadi infeksi oleh strain cytopatic BVD dapat menyebabkan peningkatan penyakit mucosal disease. Hewan yang mengalami

infeksi persisten akan menyebarkan virus selama hidupnya. Infeksi persisten pada sapi dapat ditularkan secara vertical melalui infeksi secara transplacental dari induk ke pedetnya. Infeksi pada trisemester kebuntingan akhir tidak mengakibatkan imunotoleran pada induk, tetapi dapat menyebabkan gangguan imunitas pada pedet yang dilahirkan. Infeksi pada hewan dewasa tidak akan menyebabkan imunotoleran, gejala klinis yang menciri adalah adanya periode demam yang disertai leucopenia viremia yang berlangsung selama lebih dari 15 hari. Pada sekelompok hewan yang peka, akan ditemukan gejala diare dengan morbiditas yang tinggi tetapi rata-rata mortalitasnya rendah, leleran dari mata dan hidung dan ulcer di mulut. Pada sapi perah yang terinfeksi akan mengalami penurunan produksi (Subronto, 2003). 2) BAKTERI GRAM () PENYEBAB DIARE a. Escherichia coli Merupakan bagian dari family Enterobacter, bakteri gram negatif, oksidase negatif, fakultatif anaerobik, kebanyakan motil dengan flagella peritrik, tumbuh di EMB (Eosin Methylene Blue) Agar, memfermentasi laktosa pada MacConkey Agar (Quinn, 2002). 4 jenis MR ditemukan dalam E.coli yang bersifat enterotoxigenic, yaitu K88 dan 987P yang menginfeksi babi, K99 yang menginfeksi sapi, domba, dan babi, F41 menginfeksi sapi (Hirsh, 1999). Bakteri termakan hewan bakteri enterotoksigenik mengadhesi sel usus, bereplikasi, dan mensekresi enterotoksin cairan dan elektrolit terakumulasi di lumen diare (Hirsh, 1999).

(Quinn, 2002) b. Salmonella sp. Menyerang lapisan lendir dalam usus kecil, menyebabkan peradangan dan pengikisan pada lapisan usus. Bakteri ini dapat menyerang aliran darah, persendian, otak, paru paru dan hati. Lebih jauh, ternak yang terinfeksi dapat menyebarkan bakteri ini dalam kotoran/faeces, urine, saliva dan cairan hidung. Bakteri yang tinggal dalam media media tersebut dapat hidup sampai bilangan bulan. Sumber infeksi Salmonella pada pedet dapat berasal dari sesama ternak sapi, burung, binatang pengerat, air, manusia dan air susu yang berasal dari sapi terinfeksi. Infeksi yang paling umum adalah berasal dari bakteri Salmonella typhimurium. Diare yang timbul biasanya cukup parah, ternak tidak mau minum susu atau CMR, dehidrasi berat dan demam tinggi. Kotoran berair dan seringkali terdapat bercak darah (Subronto, 2003).

c. Campylobacter sp. Merupakan bakteri gram negatif berbentuk spiral/bergelombang, berflagella polar, motil, mikroaerofilik, dapat tumbuh di MacConkey Agar, oksidase negatif, dan pathogen terhadap saluran pencernaan (Quinn, 2002).

(Quinn,2002)

III. DAFTAR PUSTAKA Hirsh, C. Dwight. 1999. Veterinary Microbiology. England: Blackwell Science. Quinn, P.J. 2002. Veterinary Microbiologi and Microbial Disease. England: Blackwell Science Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.