Anda di halaman 1dari 14

SIKLUS BELANJA PEGAWAI Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja Anggaran Kementerian

Negara/Lembaga, Belanja Pegawai adalah kompensasi baik dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah, baik yang bertugas di dalam maupun diluar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan, kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Termasuk dalam kelompok belanja pegawai ini adalah pengeluaran-pengeluaran untuk gaji dan tunjangan-tunjangan, uang makan, lembur, honorarium dan vakasi. Gaji dan tunjangan adalah pengeluaran untuk kompensasi yang harus dibayarkan kepada pegawai pemerintah berupa gaji pokok dan berbagai tunjangan yang diterima berkaitan dengan jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan GAJI POKOK DAN TUNJANGAN Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian disebutkan pada Pasal 7 bahwa setiap pegawai negeri berhak memperoleh gaji yang layak sesuai dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Selanjutnya dalam penjelasannya ditegaskan bahwa pada dasarnya setiap pegawai negeri beserta keluarganya harus dapat hidup layak dari gajinya sehingga dengan demikian ia dapat memusatkan perhatian untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam menentukan besarnya gaji memperhatikan kemampuan keuangan negara, selain daripada itu harus pula memperhatikan keadaan tempat dimana pegawai negeri itu dipekerjakan. Ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1974 tersebut diatas merupakan suatu landasan penggajian Pegawai Negeri Sipil menuju terwujudnya tingkat kehidupan yang layak bagi kehidupan Pegawai Negeri Sipil beserta keluarganya. Gaji pegawai dan tunjangan yang melekat pada gaji adalah penghasilan yang diterima oleh PNS yang telah diangkat oleh pejabat yang berwenang dengan surat keputusan sesuai ketentuan yang berlaku. Pembayaran gaji pegawai tersebut diberikan kepada pegawai setiap awal bulan sebelum yang bersangkutan melaksanakan tugasnya. Rincian pembayaran gaji dimuat dalam sebuah daftar yang disebut dengan Daftar Gaji Induk/bulanan. 1. GAJI POKOK Gaji pokok adalah landasan dasar dalam menghitung besarnya gaji seseorang pegawai negeri sipil. Hal ini disebabkan sebagian komponen perhitungan gaji seperti tunjangan isteri,

tunjangan anak, dan tunjangan perbaikan penghasilan dihitung atas dasar persentase tertentu atau terkait dengan gaji pokok. Besarnya gaji pokok seseorang pegawai negeri sipil tergantung atas golongan ruang penggajian yang ditetapkan untuk pangkat yang dimilikinya. Karena itu pangkat berfungsi pula sebagai dasar penggajian. Besaran gaji pokok diberikan kepada pegawai sesuai dengan besaran yang tercantum dalam surat keputusan pengangkatan, surat keputusan kenaikan pangkat, surat pemberitahuan kenaikan gaji berkala, atau surat penetapan lainnya. Besaran gaji pokok terakhir diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2009 untuk PNS, Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 2007 untuk Hakim Peradilan Umum Peradilan Tata Usahaan Negara dan Peradilan Agama. Kepada seseorang yang diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) diberikan gaji pokok sebesar 80% (delapan puluh persen) dari gaji pokok yang ditentukan untuk golongan/ruang gaji menurut pangkat yang didudukinya. 2. TUNJANGAN-TUNJANGAN Tunjangan-tunjangan yang melekat pada gaji terdiri atas tunjangan istri/suami, tunjangan anak, tunjangan jabatan struktural/fungsional, tunjangan yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan, tunjangan kompensasi kerja, tunjangan beras, tunjangan khusus PPh, tunjangan irian jaya/papua, tunjangan pengabdian wilayah terpencil, tunjangan umum dan tunjangan perbaikan penghasilan. HONORARIUM (Honor Operasional Satuan Kerja), yaitu honor tidak tetap yang digunakan untuk kegiatan yang terkait dengan operasional kegiatan satker. Pembayaran honornya dilakukan secara terus-menerus dari awal sampai dengan akhir tahun anggaran. Termasuk dalam klasifikasi honorarium ini adalah honor pejabat Kuasa Pengguna Anggaran KPA, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat Penguji/Penanda Tangan SPM, Bendahara Pengeluaran, Bendahara Pemegang Uang Muka (PUM), Staf Pengelola Keuangan, Pejabat Pengadaan Barang/Jasa, Pengelola PNBP, (Honor Output Kegiatan), yaitu honor tidak tetap yang dibayarkan kepada pegawai yang melaksanakan kegiatan dan terkait dengan output, atau honor yang dibayarkan atas pelaksanaan kegiatan yang insidentil dan dapat dibayarkan tidak terus-menerus dalam satu tahun. Termasuk ke dalam honor output kegiatan adalah honor yang timbul sehubungan dengan atau dalam rangka penyerahan barang kepada masyarakat

PROSEDUR PENCAIRAN DANA Dalam pelaksanaan belanja terdapat beberapa prosedur dalam pencairan dana yang harus ditaati oleh setiap pengguna APBN/D sebagaimana diatur dalam PMK 170 tahun 2010 tentang Penyelesaian Tagihan atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada Satuan Kerja dan aturan pelaksanaannya yaitu Perdirjen Perbendaharaan Nomor 66 tahun 2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai mana direvisi dengan Perdirjen perbendaharaan Nomor 11 Tahun 2011. Dari peraturan tentang penyelesaian tagihan atas beban APBN dapat diambil beberap hal pokok berkaitan dengan prosedur pencairan dana APBN/D, antara lain 1. Pada setiap awal tahun anggaran, menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran (PA) menunjuk pejabat kuasa PA untuk satker/ SKS di lingkungan instansi PA bersangkutan dengan surat keputusan. Menteri/pimpinan lembaga dapat mendelegasikan kewenangan kepada kuasa PA untuk menunjuk: a. Pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/penanggung jawab kegiatan/ pembuat komitmen; b. Pejabat yang diberi kewenangan untuk menguji tagihan kepada negara dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM); c. Bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja.

2. PA/Kuasa PA kemudian menyelenggarakan kegiatan - kegiatan sesuai rencana kerja dan anggaran. Kemudian Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dibuat dengan menggunakan format yang ada disertai kelengkapan-kelengkapan yang dipersyaratkan SPP terdiri dariSPP-UP (Uang Persediaan), SPP-TUP (Tambahan Uang Persediaan), SPPGUP (Penggantian Uang Persediaan), SPP untuk Pengadaan Tanah, SPPLS, SPP-LS non belanja pegawai, SPP untuk PNBP. Setelah menerima SPP, pejabat penerbit SPM menerbitkan SPM dengan mekanisme :

a) Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP, mengisi cek-list kelengkapan berkas SPP, mencatat dalam buku pengawasan penerimaan SPP, membuat/menandatangani tanda terima SPP, dan menyampaikan SPP dimaksud kepada pejabat penerbit SPM. b) Pejabat penerbit SPM kemudian melakukan pengujian dengan memeriksa dokumen pendukung SPP, memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA, memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran, memeriksa kebenaran atas hak tagih menyangkut pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran, nilai tagihan, dan jadwal pembayaran, memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan. c) Setelah pengujian, pejabat penguji SPP dan penandatangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap 3 (tiga). d) SPM kemudian disampaikan oleh PA/Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (bilamana ada) melalui loket penerimaan SPM pada KPPN atau melalui kantor pos. Setelah diterima, petugas KPPN akan memeriksa kelengkapan, membuat check-list, mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM dan meneruskannya ke Seksi Perbendaharan untukdiproses lebih lanjut. SPM yang telah diterima ini, kemudian diuji secara substansif dan formal. Pengujian substansif dilakukan untuk menguji kebenaran perhitungan tagihan dalam SPM, menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA, menguji dokumen dasar penagihan, menguji surat pernyataan tanggung jawab dari kepala kantor/satker, serta menguji faktur pajak beserta SSP-nya. Pengujian formal dilakukan untuk mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen, memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf, serta memeriksa kebenaran dalam penulisan termasuk tidak boleh terdapat cacat penulisan. Apabila seluruh syarat telah terpenuhi maka dilakukan penerbitan SP2D dan apabila tidakan memenuhi syarat-syarat maka SPM dikembalikan.

MEKANISME PENCAIRAN DANA 1. Mekanisme Uang Persediaan (UP)

Uang Persediaan yang selanjutnya disebut UP adalah uang muka kerjadengan jumlah tertentu yang bersifat daur ulang (revolving), diberikankepada bendahara pengeluaran hanya untuk membiayai kegiatanoperasional kantor sehari-hari yang tidak dapat dilakukan denganpembayaran langsung. Dalam mekanisme UP berkaitan dengan Surat perintah membayar (SPM) terdiri dari SPM UP, SPM TUP (tambahan uang persediaan), SPM GUP(penggantian uang persediaan), SPM UP nihil. Beberapa persyaratan dan ketentuan yang diperlukan dalam pengajuan perintah membayar dalam mekanisme UP antara lain : Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yangditunjuk, menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untukmembiayai pengeluaranpengeluaran yang menurut ketentuan harusdengan LS. Untuk penerbitan UP. Rincian rencana penggunaan dana Tambahan Uang Persediaan dariKuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yangditunjuk bahwa: 1) Dana Tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluanmendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulanterhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D; 2) Apabila terdapat sisa dana TUP, harus disetorkan ke RekeningKas Negara; 3) Tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnyadibayarkan secara langsung. Rekening Koran yang menunjukkan saldo terakhir. SPP-GUP (Penggantian Uang Persediaan) o Kuitansi/tanda bukti pembayaran; o SPTB o Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh KuasaPengguna Anggaran. 2. Mekanisme LS Mekanisme pembayaran Langsung (LS) dilakukan melalui penerbitan SPM LS. Menurut Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER- 66 /PB/2005Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disebut SPM-LS adalah surat perintah membayar langsung kepada pihak ketiga yangditerbitkan oleh Pengguna

Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atasdasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja lainnya.

SPM LS Gaji, lembur, dan honor/vakasi : Pembayaran Gaji Induk/ Gaji Susulan/ Kekurangan Gaji/ GajiTerusan/ Uang Duka Wafat/ Tewas, dilengkapi dengan Daftar GajiInduk/ Gaji Susulan/ Kekurangan Gaji/ Uang Duka Wafat/Tewas, SKCPNS, SK PNS, SK Kenaikan Pangkat, SK Jabatan, Kenaikan GajiBerkala, Surat Pernyataan Pelantikan, Surat Pernyataan MasihMenduduki Jabatan, Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas, DaftarKeluarga (KP4), Fotokopi Surat Nikah, Fotokopi Akte Kelahiran,SKPP, Daftar Potongan Sewa Rumah Dinas, Surat KeteranganMasih Sekolah/Kuliah, Surat Pindah, Surat Kematian, SSP PPhPasal 21. Kelengkapan tersebut di atas digunakan sesuaiperuntukannya. Pembayaran Lembur dilengkapi dengan daftar pembayaranperhitungan lembur yang ditandatangani oleh Kuasa PA/ Pejabatyang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran satker/ SKS yangbersangkutan, surat perintah kerja lembur, daftar hadir kerja, daftarhadir lembur dan SSP PPh Pasal 21. Pembayaran Honor/ Vakasi dilengkapi dengan surat keputusantentang pemberian honor vakasi, daftar pembayaran perhitunganhonor/ vakasi yang ditandatangani oleh Kuasa PA/ Pejabat yangditunjuk dan Bendahara Pengeluaran yang bersangkutan, dan SSPPPh Pasal 21.

PROSEDUR AUDIT A. Batasan dan ruang lingkup Berdasarkan PP nomor 54 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan belanja operasi terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial. Untuk keperluan pembahasan tentang pemeriksaan siklus belanja pegawai maka akan dibatasi pada kelompok belanja pegawai pada APBN.

B. Resiko Belanja Pegawai

Belanja pegawai merupakan belanja yang ditujukan untuk membiayai pelaksanaan kegiatan rutin suatu instansi pemrintah, sebagaimana ditentukan dalam tujuan pokok dan fungsinya. Kelompok belanja ini memiliki porsi terbesar dalam struktur belanja yang anggarannya bersumber dari APBN pada sebuah instansi/satuan kerja. Besar anggaran antara satu satuan kerja/instansi berbeda-beda dengan keragaman jenis belanja yang juga berbeda.Beberapa permasalahan dan resiko yang timbul dalam pelaksanaan belanja pegawai: 1. Kemungkinan adanya data pegawai fiktif. Kewenangan pengelolaan belanja pada satker selain dalam hal kemudahan pengelolaan dan pencapaian sasaran program, hal ini dilain sisi juga dapat menimbulkan adanya kegiatan-kegiatan ataupun belanja fiktif yang dapat dimintakan pencairan dananya selama seluruh persyaratan telah dipenuhi. 2. Ketidakjelasan jumlah pegawai honorer. Peningkatan jumlah pegawai honorer tidak disertai dengan kejelasan mengenai jumlah pasti dari pegawai honorer, dan juga banyak terdapat pegawai bayangan yang terdapat didaerah. 3. Tidak efisien dalam pembentukan satker. Dalam pembentukan satker seringkali jumlah anggota melebihi dari jumlah anggota yang seharusnya. Hal ini menyebabkan kegiatan yang dilakukan satker menjadi tidak efisien. 4. Pemborosan anggaran. Pengelolaan belanja operasi ditujukan untuk pencapaian program satuan kerja.Namun dalam prakteknya efektifitas penggunaan anggaran tidak dijalankan dengan baik, sehingga sering terjadi pelaksanaan kegiatan yang tidak menunjang atau berpengaruh pada pencapaian program yang telah ditetapkan. 5. Pelaksanaan kegiatan yang tidak terlaksana. Perencanaan anggaran dilakukan satu tahun sebelum anggaran suatu

kementrian/lembaga disetujui. Dalam perencanaan itu setiap satuan kerja melalui

kementriannya mengajukan usulan kegiatan dan anggaran yang akan dijalankan selama satu tahun kedepan. Namun dalam pelaksanaanya sering terjadi permasalahan yang timbul yang pada akhirnya menyebabkan tidak terlaksananya suatu kegiata yang telah direncanakan.

C. Pengujian Belanja Pegawai Adalah pembayaran atas jasa yang diberikan pada suatu kegiatan tertentu. Honorarium dapat diberikan melalui mekanisme belanja pegawai dan belanja nonpegawai. Dalam konteks belanja pegawai, honorarium adalah uang yang diberikan kepada guru/dosen tidak tetap atau pegawai honorer yang akan diangkat menjadi pegawai negeri. Bagi Guru/Dosen Tidak Tetap, adalah honorarium adalah tunjangan jasa yang diberikan kepada Pengajar/Guru/Dosen yang memberikan pelajaran pada suatu Sekolah/Perguruan/Fakultas di luar tugas pokoknya di mana dalam memberikan pelajaran tersebut diangkat dan ditunjuk dengan surat keputusan oleh instansi bersangkutan menurut ketentuan yang berlaku dan dalam waktu tertentu. Honorarium bagi pegawai honorer yang akan diangkat menjadi pegawai diberikan dalam rangka mendukung tugas pokok dan fungsi organisasi bersangkutan.

honorarium belanja nonpegawai, antara lain adalah: Honor Operasional Satuan Kerja, yaitu honor tidak tetap yang digunakan untuk kegiatan yang terkait dengan operasionalkegiatansatker. Pembayaran honornya dilakukan secara terus-menerus dari awal sampai dengan akhir tahun anggaran. Termasuk dalam klasifikasi honorarium ini adalah honor pejabat Kuasa Pengguna Anggaran KPA, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat Penguji/Penanda Tangan SPM, Bendahara Pengeluaran, Bendahara Pemegang Uang Muka (PUM), Staf Pengelola Keuangan, Pejabat Pengadaan Barang/Jasa, Pengelola PNBP, petugas SAI dan SIMAK-BMN.

Honor Output Kegiatan yaitu honor tidak tetap yang dibayarkan kepada pegawai yang melaksanakan kegiatan dan terkait dengan output, atau honor yang dibayarkan atas pelaksanaan kegiatan yang insidentil dan dapat dibayarkan tidak terus-menerus dalam

satu tahun. Termasuk ke dalam honor output kegiatan adalah honor yang timbul sehubungan dengan atau dalam rangka penyerahan barang kepada masyarakat. Persyaratan pengajuan SPM dalam rangka pembayaran honorarium : a) Surat Keputusan pelaksanaan kegiatan. b) Surat keputusan pemberian honor/vakasi c) Surat keputusan pengangkatan menjadi pejabat/pengelola/petugas dalam rangka pengelolaan keuangan Negara. d) Daftar pembayaran perhitungan honor/vakasi yang telah diotorisasi pejabat berwenang. e) Kontrak kerja bagi pegawai honorer. f) Surat setoran pajak (SSP) PPh yang telah dipungut. g) Surat pertanggung jawaban belanja. PROGRAM PEMERIKSAAN ATAS BELANJA PEGAWAI Melakukan pengujian pengendalian Internal: a) Melakukan penilaian pemisahan tugas. melakukan penilaian pembagian tugas pejabat dan apakah terdapat pejabat yang melakukan rangkap jabatan yang tidak diperbolehkan oleh peraturan perundang undangan. b) Melakukan pengujian otorisasi melakukan pemeriksaan terhadap dokumen (baik Surat kontrak, SPTB, SPK,SPM dll) apakah telah dilakukan otorisasi pejabat yang berwenang. melakukan pemeriksaan apakah setiap tahapan penyusunan pengajuan belanja telah diperiksa oleh pejabat yang berwenang, baik melalui paraf maupun tanda tangan. c) Melakukan pengujian kecukupan dokumen dan catatan.

memeriksa kelengkapan dokumen-dokumen beserta lampirannya dari SPM yang diajukan. melakukan pemeriksaan pemengutan pajak dan adanya bukti pungut, baik SSP, maupun daftar pungutan pajak. Melakukan penilaian biaya manfaat Melalui penilaian efisiensi, efektifitas, ekonomis dan ketaatan peraturan kegiatan yang dilakukan, dan menilai apakah telah sesuai dengan target yang ditetapkan sebelumnya. Dapat dilakukan melalui penilaian penyerapan anggaran satker, dan memeriksa dokumen perencanaan anggaran. Menilai tingkat pencapaian outcome kegiatan yang dilaksankan. Setelah melakukan pengujian pengendalian internal, kemudian dilakukan pengujian pada detil transaksi. Pengujian detil transaksi ditujukan untuk memperoleh bukti mengenai masing masing pernyataan signifikansi yang berkatian dengan transaksi dan saldo siklus belanja pegawai dan merupakan tujuan audit.

Uji Pengendalian 1. Dapatkan dan uji validitasnya data pegawai dari Bagian Kepegawaian. Lakukan pengujian asersi apakah daftar pegawai telah benar-benar sesuai dengan keadaan pegawai aktif sekarang, misalnya ada pegawai yang meninggal, atau pensiun hal tersebut harus dilakukan pengecekan supaya tidak ada data karyawan fiktif 2. Teliti apakah belanja pegawai telah dianggarkan sesuai kebutuhan menganalisis dasar perhitungannya apakah sudah sesuai dan data jumlah pegawai apa sudah benar dengan keadaan yang sebenarnya, dalam honorarium harus dicek bagaimana proposal pelaksanaan kegiatan yang insidentil apakah anggarannya sesuai dengan kebutuhan acara tersebut

3. Teliti kemungkinan adanya penganggaran belanja pegawai pada pos belanja selain pegawai. Misalnya penganggaran untuk pembelian peralatan untuk pegawai, hal tersebut tidak masuk dalam belanja pegawai 4. Teliti pemisahan fungsi berkaitan dengan proses otorisasi, pengeluaran kas dan akuntansi untuk belanja pegawai baik desain maupun implementasinya. 5. Teliti apakah realisasi belanja pegawai telah diotorisasi oleh pejabat yang berwenang dan telah diverifikasi keakuratannya. 6. Teliti realisasi belanja pegawai dengan dokumen penganggarannya. Uji Kepatuhan 1. Identifikasi peraturan perundangan terkait dengan belanja pegawai Misalnya
Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Surat Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan nomor S-3775/PB/2012 tanggal 27 April 2012 mengenai pembayaran honor-honor berkaitan dengan pelaksanaan anggaran

2. Pastikan bahwa peraturan-peraturan tersebut telah dipatuhi.

Prosedur Analitis 1. Buat lead schedule belanja pegawai


Untuk meringkas informasi yg dicatat dalam skedul pendukung untuk akun-akun yg berhubungan dengan belanja pegawai dalam laporan realisasi anggaran

2. Buat supporting shedule berisi rincian belanja pegawai per eselon I dan satuan kerja. 3. Bandingkan realisasi jumlah pegawai dengan perubahan jumlah pegawai.

Disini akan dapat dilihat apabila terjadi penyimpangan misalnya ada pembayaran untuk pegawai fiktif.

Uji Substantif 1. Dapatkan data pegawai untuk setiap satker, dan data adanya pegawai baru, pegawai yang keluar/pensiun, atau mutasi pegawai. Hal ini ditujukan agar data pegawai yang kita dapat sesuai dengan jumlah pegawai saat ini, sehingga meminimalisir adanya kesalahan alokasi misalnya ada pegawai yang sudah pensiun/ dimutasi tetap masuk dalam daftar pegawai 2. Dapatkan data pengeluaran belanja pegawai selama tahun berjalan pada satker yang bersangkutan. Teliti data belanja pegawai tiap-tiap pegawai dan bandingkan dengan data pegawai baru, pegawai yang keluar/pensiun, atau mutasi pegawai, pastikan bahwa belanja pegawai hanya diberikan pada pegawai yang masih aktif saja. Dimaksudkan untuk menghindari ada pegawai yang mendapat gaji 2x, misalnya ada pegawai yang sudah dimutasi namun dalam data belanja pegawai dia masih masuk, hal ini mengindikasikan bisa saja pegawai tersebut menerima gaji 2x dari satker lama dan satker baru 3. Pastikan bahwa setiap pembayaran belanja pegawai dapat dipertanggungjawabkan (telah dilengkapi dengan bukti pengeluaran yang sah, Telusuri ke bukti pendukung, SP2D, kuitansi, SPK, Kontrak, SK kepangkatan. telah dipungut pajak sesuai dengan ketentuan, telah berdasarkan pada surat otorisasi tahun anggaran berjalan 4. Pastikan bahwa belanja pegawai telah diungkapkan secara memadai dalam catatan laporan keuangan.

AUDIT SIKLUS BELANJA PEGAWAI

Oleh : Agus Effendi Yustiandika Halid Christian Danang Yuro Bimo Kusumo Ongky Ansharullah

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012