Anda di halaman 1dari 9

5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.1.1 Letak Sungsang Definisi

Letak sungsang adalah letak membujur atau memanjang dari janin dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri, sebelum atau sesudah masuk kedalam pintu atas panggul (Cunningham et al, 2005) 2.1.2 Insidensi

Menurut Hofmeyr (2000) dalam Shutter (2006), penelitian pada 25% bayi yang mengalami posisi sungsang sekali waktu dalam kehamilan, namun 3-4% yang tetap dalam posisi sungsang. Dengan insidensi 3-4% dari seluruh kehamilan primigravida pada kehamilan cukup bulan ( 37 minggu), presentasi bokong merupakan malpresentasi yang paling sering dijumpai. Sebelum umur kehamilan 28 minggu, kejadian letak sungsang berkisar antara 25-30 % dan sebagian besar akan berubah menjadi persentasi kepala setelah umur kehamilan 34 minggu (Prawirohardjo, 2008).

2.1.3

Etiologi

Menurut Mochtar (1998) banyak etiologi pada letak sungsang, antara lain: 1. Fiksasi kepala pada pintu atas panggul tidak baik atau tidak ada, misalnya pada panggul sempit, hidrosefalus, anensefali, plasenta previa, tumor pelvis dan lainnya. 2. Janin mudah bergerak, seperti pada hidramnion, multipara, janin kecil (premature) 3. Gemeli (kehamilan ganda) 4. Kelainan uterus, seperti uterus arkuatus, bikornis, mioma uteri.

5. Janin sudah lama mati. 2.1.4 Faktor Predisposisi Faktor predisposisi lain untuk presentasi bokong adalah : (Cunningham et al, 2005) 1. Bayi premature 2. Tali pusat pendek 3. Bayi besar 4. Ekstensi kepala 5. Implantasi plasenta abnormal : Frekuensi presentasi bokong juga meningkat pada plasenta previa walaupun hanya sedikit kasus presentasi bokong yang berhubungan dengan plasenta previa. Vanu dan vaclavinkova (1978) membuktikan dengan USG bahwa terdapat prevalensi yang sangat tinggi pada implantasi plasenta didaerah kornu fundus uteri dengan presentasi bokong 73% dibandingkan dengan presentasi puncak kepala 5%. 6. Kelainan uterus : a. Kelainan bawaan dari uterus, misalnya uterus bikornus, septal uterus. b. Tumor uterus atau tumor abdomen yang mendorong uterus. 7. Polyhidramnion, menyebabkan gerakan anak bebas sehingga kepala tidak terfiksasi ; oligohidramnion, menyebabkan gerak anak terbatas sehingga versi spontan terganggu. 8. Relaksasi uterus yang disebabkan oleh multiparitas, bayi multiple, hidramnion, oligohidramnion, hidrosefalus, anensefali, presentasi bokong sebelumnya, anomaly uterus dan berbagai tumor dalam panggul.

2.1.5

Klasifikasi Letak Sungsang Letak sungsang dapat dibagi atas beberapa jenis menurut Mochtar (1998): 1. Letak bokong (frank Breech), letak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas. 2. Letak sungsang sempurna (Complete Breech), letak bokong di mana kedua kaki ada di samping bokong. 3. Letak sungsang tidak sempurna (Incomplete Breech), letak sungsang di mana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut, terdiri dari: a. Kedua kaki = letak kaki sempurna b. Satu kaki = letak kaki tidak sempurna c. Kedua lutut = letak lutut sempurna d. Satu lutut = letak lutut tidak sempurna.

2.1.6

Diagnosis

Hubungan yang bervariasi antara ekstremitas bawah dan bokong pada bayi dengan presentasi bokong membentuk kategori presentasi bokong murni, sempurna dan tidak sempurna. Menegakkan diagnosa letak sungsang sebenarnya tidak sulit kecuali pada kehamilan dengan dinding perut tebal, uterus mudah berkontraksi atau banyaknya air ketuban (Cunningham et al, 2005) Cara menegakkan diagnosa letak sungsang : 1. Pemeriksaan Abdominal : a. Palpasi: Pemeriksaan Leopold-I, teraba kepala janin yang keras, bulat, dapat diraba dan ballottement menempati bagian fundus uteri. Pada pemeriksaan Leopold-II, menunjukkan punggung sudah

berada pada satu sisi abdomen dan bagian-bagian kecil berada pada sisi yang lain. Pada pemeriksaan Leopold-III, bila bokong belum turun, dimana diameter introtrochanterika dari pelvis fetus belum melewati pintu atas panggul, bentuk tidak teratur,agak lembek, maka bokong mudah digerakkan diatas pintu atas panggul. Pada pemeriksaan Leopold-IV, dimana posisi bokong mapan dibawah simfisis. b. Auskultasi: Denyut jantung janin biasanya terdengar paling keras pada daerah sedikit di atas umbilicus, sedangkan bila kepala telah masuk pintu atas panggul maka denyut jantung janin paling keras terdengar di bawah umbilicus.

2.

Pemeriksaan Dalam (Vaginal Toucher): Apabila diagnosa letak sungsang dengan pemeriksaa luar tidak dapat dibuat karena dinding perut tebal, uterus mudah berkontraksi atau banyak air ketuban maka diagnose ditegakkan berdasarkan pemeriksaan dalam. Pada presentasi bokong murni, kedua tuberositas iskiadika, sacrum maupun anus biasanya teraba, dan setelah terjadi penurunan lebih lanjut, genital eksterna dapat dikenali. Terutama pada partus lama, bokong dapat sangat membengkaksehingga menyebabkan kesulitan untuk membedakan bokong dengan muka; anus dapat teraba seperti mulut dan tuberositas iskhiadika dapat teraba seperti tulang pipi. Dengan pemeriksaan yang cermat dapat menghindari kesalahn itu, telunjuk yang masuk ke anus terasa tahanan otot sfingter ani, dan kadang-kadang ketika jari tangan dikeluarkan dari anus disertai mekonium. Mulut dan rahang membentuk sudut segitiga, sedangkan

tuberositas iskhiadika dan anus membentuk garis lurus, akan tetapi petunjuk yang lebih tepat bias diperoleh berdasarkan lokasi sacrum dan prosessus spinosus yang dapat menegakkan tentang posisi dan macamnya. Pada presentasi bokong sempurna, kaki dapat di raba di sebelah bokong, sedangkan pada presentasi kaki, letak salah satu atau kedua kaki lebih rendah dari pada bokong. Pada presentasi kaki, kaki kanan atau kaki kiri dapat ditentukan berdasarkan hubungannya dengan ibu jari kaki. Ketika bokong turun lebih jauh kedalam rongga panggul, genitalia dapat teraba. 3. Pemeriksaan penunjang: a. Ultrasonografi (USG): Ultrasonografi idealnya untuk mengetahui letak bokong yang dicurigai secara klinis dan bila memungkinkan mengidentifikasikan kelainan janin dan secara ultrasonografi dapat diketahui ukuran dan letak plasenta serta ukuran kepala. Sayangnya ultrasonografi tidak dapat digunakan untuk

mengidentifikasi hubungan antara ekstremitas bawahterhadap panggul janin. Informasi ini penting untuk merencanakan jalannya persalinan.

b. Radiografi: Untuk menegakkan diagnosa letak sungsang, jarang diperlukan pemeriksaan radiologi pada perawatan sebelum persalinan. Pemeriksaan ini bermanfaat bila dilakukan pada saatsaat permulaan inpartu untuk melihat ada tidaknya faktor yang dapat mengganggu jalannya partus pervagina, seperti : kelainan bawaan, ukuran panggul, dan kelainan yang lain.

10

Apabila persalinan direncanakan dengan seksio sesarea, pemeriksaan sinar x tidak diindikasikan. Namun, bila

dipertimbangkan untuk melahirkan pervagina, tipe presentasi bokong merupakan hal yang penting diperhatikan. Dengan menggunakan pelvimetri CT Scan, paparan radiasi bias sangat dikurangi yang dapat member informasi tentang tipe presentasi bokong, ada tidaknya fleksi kepala bayi, dan pengukuran panggul secara akurat. 2.1.7 Mekanisme persalinan secara fisiologis Bokong memasuki pintu atas panggul dapat melintang atau miring mengikuti jalan lahir dan melakukan putaran paksi dalam, sehingga trochanter depan berada di bawah simfisis. Dengan trochanter depan sebagai hipomoklion, akan lahir trochanter belakang, selanjutnya seluruh bokong lahir. Sementara itu bahu memasuki jalan lahir dan mengikuti jalan lahir, lalu melakukan putaran paksi dalam sehingga bahu bahu depan berada di simfisis. Dengan bahu depan sebagai hipomoklion maka akan lahir bahu belakang bersamaan dengan tangan belakang diikuti kelahiran bahu depan dan tangan depan.

Bersamaan dengan kelahiran bahu, kepala bayi memasuki jalan lahir, dan melakukan putaran paksi dalam sehingga suboksiput di bawah simfisis. Suboksiput menjadi hipomoklion, berturut-turut akan lahir dagu, mulut, hidung, muka dan kepala seleruhnya.

Persalinan kepala mempunyai waktu terbatas sekitar 8 menit setelah bokong lahir. Melampaui 8 menit dapat menimbulkan kesakitan atau kematian bayi (Manuaba, 1998).

11

2.1.8

Jenis Pimpinan Persalinan (Wiknjosastro, 2000) 1. Persalinan pervaginam Berdasarkan tenaga yang dipakai dalam melahirkan janin pervaginam, persalinan pervaginam dibagi menjadi 3, yaitu : a. Persalinan spontan (spontaneous breech), adalah janin yang dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara ini lazim disebut cara Bracht. b. Manual aid (partial breech extraction; assited breech delivery), adalah janin yang dilahirkan sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi dengan tenaga penolong. c. Ekstraksi sungsang (total breech extraction), adalah janin yang dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong. Beberapa hal yang menjadi indikasi dilakukannya persalinan pervaginam pada letak sungsang menurut Rayburn et al: a) Janin dengan letak bokong sempurna b) Perkiraan berat badan janin 2500-3800 gram c) Usia kehamilan 36 minggu atau lebih d) Tidak adanya malformasi yang mengambil ruang atau kembar e) Personalia medik yang memadai f) Pemeriksaan penunjang normal

2. Persalinan per abdominam (seksio sesarea): Persalinan letak sungsang dengan seksio sesarea sudah tentu merupakan cara yang terbaik ditinjau dari janin. Banyak ahli melaporkan bahwa persalinan letak sungsang pervaginam, memberi trauma yang sangat berarti bagi janin, yang gejala-gejalanya akan tampak baik pada waktu persalinan maupun baru di kemudian hari.

12

Namun hal ini tidak berarti bahwa semua letak sungsang harus dilahirkan per abdominam. Untuk melakukan penilaian apakah letak sungsang dapat melahirkan pervaginam atau harus perabdominam kadang-kadang sukar. Beberapa hal yang menjadi indikasi untuk dilakukannya seksio sesaria menurut Rayburn et al, 2001:

a) Bayi dengan letak kaki dan letak bokong kaki sempurna dengan perkiraan berat badan janin 750 gram atau lebih atau usia kehamilan 26 minggu atau lebih. b) Letak bokong sempurna dengan perkiraan berat badan janin kurang dari 2000 gram atau lebih dari 3800 gram, atau usia kehamilan kurang dari 36 minggu. c) Kepala janin dalam sikap hiperekstensi d) Diabetes mellitus yang tergantung kepada insulin. e) Bagian terbawah masih melayang f) Kesempitan panggul g) Kematian perinatal

2.1.9

Indeks Prognosis Persalinan Letak Sungsang

Untuk menilai lebih tepat apakah persalinan dapat dilahirkan pervaginam atau per abdominam dapat dilihat pada tabel 2.1 yang dibuat oleh Zatuchi dan Andros (Wiknjosastro, 2000)

13

Tabel 2.1

Indeks Prognosis Persalinan Letak Sungsang 0 1 Multi 38 mg 3629-3176 g 1 kali < 37 mg < 3176 g >2 kali 2

Paritas Umur kehamilan Taksiran berat janin Pernah letak sungsang (2500 gram) Pembukaan serviks Station Arti nilai : 3 4 : :

Primi >39 mg >3630 g Tidak

< 2cm < -3

3 cm -2

>4 cm -1 atau lebih rendah

persalinan per abdominal evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin, bila nilai tetap, dapat dilahirkan pervaginam

>5

dilahirkan per vaginam