Anda di halaman 1dari 4

JUDUL Tetanus Umum pada Anak Usia 3 Tahun Akibat Otitis Media Akut

ABSTRAK Tetanus merupakan penyakit yang sering ditemukan, dimana masih terjadi di masyarakat terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Di RSUP Dr. Sardjito sebagian besar pasien tetanus berusia > 3 tahun dan < 1 minggu. Angka kejadian tetanus tinggi di negara-negara berkembang, terutama disebabkan kontaminasi tali pusat, infeksi telinga kronik, luka tusuk pada anak usia sekolah, sirkumsisi pada laki-laki, kehamilan dengan abortus. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi, akan tetapi angka kejadiannya masih tetap tinggi dengan angka kematian yang tinggi pula. Di negara maju, kasus tetanus jarang ditemui. Karena penyakit ini terkait erat dengan masalah sanitasi dan kebersihan selama proses kelahiran. Kasus tetanus memang banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah.

ISI Seorang anak perempuan, berumur 3 tahun dirawat yang pertama kali di Bangsal Anak RSPS Bantul. Alloanamnesis dengan orang tua pasien didapatkan 7 hari sebelum dirawat pasien panas, sifat panas naik turun dan tidak terlalu tinggi. Setelah 3 hari penderita kejang, kejang di seluruh tubuh dengan durasi + 5 menit dan frekuensi + 10x perhari. Satu hari sebelum dirawat di RSPS Bantul pasien rewel, tidak bisa tidur telentang dan leher kaku, pasien tetap sadar. Riwayat terluka, sesak nafas, batuk, pilek, disangkal. Buang air besar, buang air kecil tidak ada keluhan. Saat masuk rumah sakit, pasien tampak sakit sedang, sadar (GCS 15), tidak sesak, tidak sianosis, berat badan 9 kg, suhu 370C, pernafasan 27 x/menit, nadi 80 x/menit, tekanan darah 90/60 mmHg. Didapat muka meringis dan spasmus (risus sardonicus), konjungtiva tidak pucat, pupil bulat, refleks pupil positif, isokor. Terdapat trismus, mulut tidak bisa dibuka lebar, gigi geligi baik, telinga kanan tidak ada kelainan, liang telinga kiri hiperemi dan terdapat sekret

berupa pus berwarna kuning kental, mengalir keluar liang telinga + 2 cc. Terdapat kaku kuduk, epistotonus, opistotonus, posisi miring ke kiri dengan badan kaku. Bunyi jantung I-II normal, bising dan irama derap tidak ada. Paru vesikuler, ronchi dan mengi tidak ada. Perut kaku, turgor cukup, hati dan limpa sulit dinilai. Bising usus normal, reflek patologis tidak dijumpai, reflek fisiologis (+). Ekstremitas kaku, kulit dan tulang belakang tidak ada kelainan.

DIAGNOSIS Observasi Tetanus Umum dengan Otitis Media Akut

TERAPI Pasien diterapi Inj. ATS 10.000 IU/hari/iv; Procain Penicillin 450.000 IU/12 jam/im; Inj. Diazepam 5 mg/8 jam, bila kejang 5 mg bolus setiap kejang; Paracetamol 1 cth/8 jam/oral; Infus D5% 0,225%; Diit cair 3 x 200 cc. OMA di telinga kiri diterapi dengan H2O2 3% dan dibersihkan. Tiga hari sesudah perawatan pasien masih lemah tapi berangsur-angsur membaik, kejang berkurang. Kemudian terapi dilanjutkan tetapi Diazepam diberikan peroral 3 x 5 mg. Lima hari sesudah perawatan pasien membaik, panas turun, kejang berkurang, badan kaku tidak dijumpai, terapi diberikan Procain Penicillin 450.000 IU/iv dan Diazepam 5 mg/8 jam/oral. Hari ke enam setelah perawatan; pasien sudah bisa jalan, kejang tidak ada, badan kaku tidak dijumpai terapi Diazepam 5 mg/3 jam/oral. Hari ke tujuh pasien boleh pulang.

DISKUSI Pada pasien ini infeksi tetanus terjadi akibat OMA di telinga kiri yang merupakan tempat masuk kuman (port d'entree). Diagnosis awal: observasi tetanus umum dan OMA di telinga kiri serta wajah meringis dan spasmus (risus sardonicus); dijumpai gejala trismus, epistotonus, opistotonus, perut papan dan kejang umum. Faktor risiko kasus ini ialah tidak diimunisasi lengkap dan aspek sosial dimana orang tuanya berpendidikan SD dan mempunyai penghasilan rendah sebagai buruh serta lingkungan sekitar banyak terpapar kotoran kuda karena transportasi

sehari-hari menggunakan cidomo, fasilitas kesehatan yang ada tidak dimanfaatkan karena ketidaktahuan manfaat imunisasi. Penyakit ini merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; sesuai dengan hasil yang diperoleh dari program imunisasi, saat ini cakupan imunisasi di seluruh Indonesia untuk DPT198,3%, DPT2 91,4%, DPT3 90,5%, dengan angka drop out 8% (data Sub Dit Imunisasi Dir Jen P2M PLP Depkes RI).

KESIMPULAN Tetanus umum merupakan bentuk tetanus yang paling banyak dijumpai, dapat timbul mendadak, trismus merupakan gejala awal yang paling sering dijumpai. Spasmus otot maseter dapat terjadi bersamaan dengan kekakuan otot leher dan kesukaran menelan, biasanya disertai kegelisahan dan iritabilitas. Trismus yang menetap menyebabkan ekspresi wajah yang karakteristik berupa risus sardonicus. Kontraksi otot meluas, pada otot-otot perut menyebabkan perut papan dan kontraksi otot punggung yang menetap menyebabkan opistotonus; dapat timbul kejang tetani bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bawah. Selama periode ini penderita berada dalam kesadaran penuh. Terapi dasar tetanus terdiri dari antibioyik yang diberikan selama 10 hari, imunisasi aktif-pasif tetanus, dan anti konvulsi untuk mengatasi kejang. Perawatan luka atau port dentree yang dicurigai, dilakukan sekaligus dengan pembuangan jaringan yang diduga mengandung kuman dan spora (debridemant), sebaiknya dilakukan setelah diberi antitoksin dan anti-konvulsi.

REFERENSI Ismoedijanto, and Darmowandowo, W., 2006. Tetanus. Available from : www.pediatrik.com. Lubis, U. N., 2004. Tetanus Lokal pada Anak. Available from :

www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15. Ningsih, S., and Witarti, N., 2007. Asuhan Keperawatan Dengan Tetanus. Available from : www.pediatrik.com/perawat_pediatrik/061031-joiq163.doc. Silalahi, L., 2004. Tetanus. Available from : www.tempointeraktif.com.

Suraatmaja, S., and Soetjiningsih, 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah. Fakultas Kedokteran Udayana. Denpasar. Tami, 2005. Tetanus, Infeksi yang Mematikan. Available from :

www.jilbab.or.id/content/view/456/36/.

PENULIS Wulan Suci Sakti Rony, Bagian Ilmu Saraf RS Panembahan Senopati Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta