Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Malpresentasi adalah bagian terendah janin yangberada di SBR, bukan belakang kepala. Malposisi adalah penunjuk (presenting part) tidak berada di anterior. Secara epidemiologis, pada kehamilan tunggal didapatkan presentasi kepala sebesar 9,8%, bokong 2,7%, letak lintang 0,3%, majemuk 0,1 %, presentasi muka 0,05 % dan dahi 0,01%. Apabila janin dalam keadaan malpresentasi atau malposisi, maka dapat terjadi persalinan lama ata bahkan macet. Letak muka terjadi 1 dalam setiap 250-690 kelahiran hidup, rata-rata 0.2% atau 1 dalam 500 kelahiran hidup secara keseluruhan. Faktor-faktor penyebab letak muka sama dengan penyebab kelainan letak secara umum serta hal-hal yang menyebabkan fleksi kepala (menunduk). Meskipun persentasi persalinan letak muka relative kecil, sebagai tenaga kesehata maka bidan smestinya dapat memahami dengan baik tentang hal-hal presentasi letak muka.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan Letak Muka ? 2. Bagaimana cara mendiagnosa letak muka ? 3. Apa Penyebab terjadinya letak muka ? 4. Bagaimana mekanisme persalinan pada letak muka ? 5. Apa saja penanganan yang dapat dilakukan pada letak muka ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Untuk memahami definisi Letak Muka. 2. Untuk memahami cara mendiagnosa letak muka. 3. Untuk memahami penyebab terjadinya letak muka. 4. Untuk memahami mekanisme persalinan pada letak muka 5. Untuk memahami dan dapat melakukan penanganan pada letak muka.
1

1.4 METODE PENULISAN


Dalam Penulisan makalah ini, kami menggunakan metode kepustakaan dimana bahannya berasal dari buku-buku kebidanan dan gambar-gambar penunjang dari browsing di internet.

BAB II PEMBAHASAN

2. 1

DEFINISI LETAK MUKA

Letak atau presentasi muka adalah Letak kepala dengan ekstensi maksimal (hiperekstensi), sehingga occiput (ubun-ubun kecil) mengenai punggung dan muka terarah ke bawah (penunjuknya adalah dagu / mentum bayi). Janin dengan letak muka masih dapat dilahirkan vaginal apabila dagunya di anterior.

2.2

DIAGNOSA LETAK MUKA

Pada saat kehamilan : - Palpasi abdomen : os occipital menonjol jelas, kepala teraba lebih keras dan antara belakang kepala dengan punggung teraba sudut yang runcing - Bunyi DJJ terdengar pada titik bagian-bagian kecil - Hasil rontgen (radiologi) menunujukkan kepala hiperekstensi, tulang-tulan muka berada pada atau di bawah PAP

Pada saat persalinan - Dengan pemeriksaan dalam pada pembukaan yang cukup besar teraba : orbita, tulang pipi, hidung, mulut, mata (Perabaan lembut), tak teraba 2 fontanel/ fontanel anterior.

Mulut kadang teraba anus, tonjolan tulang pipi / prominensia zigomatikus teraba seperti tuber iskiadiika. Bedanya adalah anus dan tuber iskiadiika membentuk garis lurus dengan anus, sedangkan mulut dan prominensia zigomatikus membentuk sudut. Seringkali muka mengalami edema dan menjadi lunak, sehingga harus dibedakan daei bokong.

2.3

ETIOLOGI LETAK MUKA

Penyebab presentasi muka pada dasarnya merupakan penyebab terjadinya hiperekstensi. Sebab yang terpenting adalah panggul sempit dan anak besar. Secara lengkap, sebab-sebab letak muka dapat dibagi dalam 2 golongan : A. Letak muka primer yang disebabkan oleh kelainan anak (sejak kehamilan) dan tidak dapat diperbaiki seperti : - Struma kongenitalis - Kelainan tulang leher - Lilitan tali pusat yang banyak pada leher janin - Meningocele - Anenchepal B. Letak muka sekunder (Terjadi saat persalinan) dapat diperbaiki dan anak normal : - Panggul picak - Anak besar - Perut yang menggantung pada multipara. Keadaan ini mengakibatkan punggung janin menggantung ke depan atau ke arah lateral. Vertebra torakal dan servikal , menjadi ekstensi. - Terdapat bagian-bagian yang menumbung - Hydramnion Mungkin juga letak defleksi dapat terjadi karena tonus otot-otot ekstensor anak lebih kuat dari tonus otot-otot fleksor

2.4

MEKANISME PERSALINAN LETAK MUKA

Pada awal persalinan pada mulanya adalah presentasi dahi. Pada saat kepala sudah melewati pangggul, terjadi ekstensi dan menjadi presentasi muka. Mekanisme persalinan letak muka dipengaruhi oleh factor yang sama pada presentasi belakang kepala. Mekanisme persalinan pervaginam letak muka terdiri dari : a. Gerakan penurunan kepala
4

b.

c.

d.

e.

Tahanan dari panggul akan menyebabkan kepala lebih ekstensi sehingga terjadi perubahan menjadi letak muka . Ketika masuk PAP, dagu dalam posisi transversal atau oblik. Rotasi interna Pada pintu tengah panggul, rotasi interna terjadi. Tujuan rotasi ini adalah membuat kepala agar dapat semakin memasuki panggul dengan cara mengubah posisi dagu ke arah anterior. Dagu berada di bawah simpisis pubis, kemudian dagu dan mulut lahir . Pada janin cukup bulan, apabila dagu memutar ke arah posterior, maka kepala akan tertahan oleh sacrum sehingga kepala tidak mungkin turun lebih lanjut sehingga terjadilah persalinan macet. Tapi pada janin yang sangat kecil, bahu dan kepala dapat secara bersamaan masuk kedalam panggul, sehingga meskipun dagu di posterior kepala tetap dapat mengalami penurunan. Fleksi Sesuai dengan arah sumbu panggul, maka gerakan dilanjutkan dengan fleksi. Maka lahirlah hidung, mata, dahi, dan ubun-ubun kecil terletak di atas anus. Ekstensi Setelah kepala lahir, karena gaya beratnya akan terjadi ekstensi kepala sehingga oksiput menekan kearah anus. Rotasi Eksterna Kemudian dagu mengadakan rotasi eksterna atau putaran paksi luar. Kepala menyesuaikan kembali dengan arah punggung janin. Bahu dan badan dilahirkan dengan cara yang sama seperti pada presentasi belakang kepala.

2.5

PENANGANAN LETAK MUKA

a. Apabila tidak terdapat kesempitan panggul, maka persalinan akan dapat terjadi secara spontan dan tanpa terjadi asfiksia atau gawat janin, dan cukup lakukan observasi hingga pembukaan lengkap. Bila setelah pembukaan lengkap dan posisi dagu masih di anterior maka lakukan persalinan vaginal seperti persalinan presentasi belakang kepala. b. Sebaiknya memantau DJJ menggunakan Dopler sehingga kerusakan muka dan mata janin dapat dihindari c. Persalinan dengan seksio sesarea merupakan cara terbaik untuk persalinan presentasi muka pada janin aterm karena kemungkinan terdapat kesempitan pada PAP. Juga pada saat pembukaan lengkap posisi dagu masih posterior, didapatkan tanda-tanda disproporsi, atau indikasi lainnya. d. Stimulasi oksitoksin hanya diperkenankan pada posisi dagu anterior dan tidak ada tanda-tanda disproposie. e. Pada janin yang meninggal, kegagalan melahirkan vaginal secara spontan dapat diatasi dengan kraniotomi atau dengan bedah sesar. f. Usaha untuk merubah presentasi muka menjadi presentasi belakang kepala , pemutaran posisi dagu posterior menjadi dagu anterior secara manual atau dengan cunam, serta dengan versi ekstraksi tidak boleh dikerjakan pada masa obstetri modern.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Letak atau presentasi muka adalah Letak kepala dengan ekstensi maksimal (hiperekstensi), sehingga occiput (ubun-ubun kecil) mengenai punggung dan muka terarah ke bawah (penunjuknya adalah dagu / mentum bayi). Janin dengan letak muka masih dapat dilahirkan vaginal apabila dagunya di anterior. Diagnosa letak muka dapat dilakukan saat kehamilan yaitu dengan palpasi abdomen, auskultasi DJJ dan foto rontgen; dapat pula diperiksa ketika persalinan dengan VT (periksa dalam) pada pembukaan lengkap. Penyebab letak muka yang terpenting adalah panggul sempit dan anak besar. Ada 2 macam letak muka yaitu Letak muka primer (Letak muka sejak kehamilan) dan letak muka sekunder (letak muka saat persalinan). Mekanisme persalinan pervaginam letak muka terdiri dari : Gerakan penurunan kepala, Rotasi interna, Fleksi, Ekstensi, Rotasi Eksterna. Penanganan terbaik letak muka adalah sectio sesaria, tapi apabila tidak terdapat kesempitan panggul, maka persalinan akan dapat terjadi secara spontan pervaginam. Penanganan yang dilarang dalam persalinan letak muka yaitu melakukan pemutaran posisi dagu posterior menjadi dagu anterior secara manual atau dengan cunam, serta dengan versi, ekstraksi

3.2 Saran
Bagi pasien : - Hendaknya pasien tidak perlu cemas dan khawatir dengan kehamilannya jika mengalami gangguan yang tidak terlalu berbahaya karena hal ini masih bisa diatasi, asal ibu mau mengikuti asuhan yang diberikan. - Pasien hendaknya mau mendengarkan dan melakukan setiap informasi dan saran yang diberikan oleh bidan untuk mengatasi masalah pada kehamilannya. - Pasien hendaknya rajin memeriksa kehamilannya pada bidan sesuai waktunya segera bila ada keluhan. Bagi bidan : - Bidan dalam menentukan diagnosa dan pendeteksian dini harus tepat dan sesuai agar langkah selanjutnya dapat dilaksanakan dengan tepat. - Dalam memberikan KIE bidan hendaknya lebih ramah dan terbuka sehingga pasien dapat lebih kooperatif dan terjalin rasa saling percaya antara pasien dan petugas kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Sumarah, Yani Widyastusi dan Nining Wiyati.2008.Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin.Yogyakarta : Fitramaya Prawirohardjo,Sarwono.2010.ILMU KEBIDANAN.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Bagian Obstetri & Ginekologi FK UNPAD.1984.Obstetri Patologi. Bandung : Elstar Offset
http://obfkumj.blogspot.com/2009_07_01_archive.html