Anda di halaman 1dari 9

Kajian Effervescent Jahe Merah dan Temulawak di DKI Jakarta (2010) Oleh Syarifah, Tezar, Muflihani, Yosep Kamis,

10 November 2011 09:39 Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi olahan, jahe dan temulawak dapat diolah dalam berbagai bentuk untuk memudahkan konsumen mengkonsumsinya serta meningkatkan nilai jualnya. Salah satu diantaranya adalah bentuk efferfescent dari instan jahe merah dan temulawak. Effervescent merupakan bentuk sediaan yang menghasilkan gelembung sebagai hasil reaksi kimia dalam larutan. Bentuk sediaan ini mempunyai banyak keuntungan diantaranya, memudahkan untuk dikonsumsi, memudahkan penyimpanan, penyajiannya cepat serta dapat meningkatkan daya tarik konsumen. Kajian ini dilaksanakan di Jakarta pada bulan Februari sampai Desember 2010. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji teknologi produksi effervescent temulawak dan jahe merah. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 (tiga) ulangan. Kajian meliputi: 1) Kajian formulasi effervescent instan temulawak dan instan jahe merah, yang difokuskan pada perbandingan bubuk instan jahe merah/temulawak, asam sitrat, gula halus dan natrium bikarbonat (soda kue), 2) Kajianperbaikan proses produksi effervescent temulawak dan jahe merah. Formula terbaik akan ditentukan berdasarkan analisis fisik dan uji organoleptik dengan 7 skala hedonik. Formula terbaik akan dilanjutkan pada kajian proses produksi. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa formula terbaik untuk effervescent instan jahe merah adalah 75% instan jahe halus, 8% soda kue, 9% gula halus dan 8% asam sitrat dengan tingkat kelarutan sempurna di bawah atau sama dengan 2 menit. Sedangkan formula terpilih untuk effervescent instan temulawak adalah instan temulawak adalah 75% instan jahe halus, 8% soda kue, 14% gula halus dan 8% asam sitrat dengan tingkat kelarutan tablet yang sama yaitu, 2 menit. Disamping itu tingkat kesukaan konsumen terhadap formula tersebut masih cukup yang baik dan diterima oleh konsumen baik dari segi rasa, warna maupun penapilan secara keseluruhan. Hal ini diperlihatkan dengan tingkat kesukaan konsumen di atas nilai 4 (netral) sampai dengan lebih dari 5 (agak suka). Disamping kajian formulasi juga dilakukan perbaikan proses produksi mulai dari persiapan bahan baku sampai persiapan granulasi untuk proses pentabletan. Untuk mempermudah proses produksi semua bahan baku tablet harus dalam bentuk serbuk dan dihaluskan. Penggunaan saringan dari kain monil tidak memperlihatkan hasil yang berbeda dengan saringan tepung biasa. Oleh karena itu disarankan untuk menggunakan saringan tepung karena harganya jauh lebih terjangkau dan mudah diperoleh. Sebelum pentabletan semua bahan dipanaskan dengan suhu suhu pengeringan 60 0C selama 5 menit selanjutnya segera dilakukan pencetakan tablet agar tidak banyak uap air yang terserap ke dalam bahan. Setelah pentabletan segera dilakukan pengemasan dengan aluminium foil. Xanthorrhizol dalam temulawak mampu membasmi bakteri patogen penyebab karang gigi. Kami menemukan xanthorrizol yang diisolasi dari Curcuma xanthorrhiza memiliki aktivitas anti kariogenik dan anti inflammatory, kata Prof. Jae Kwan Hwang dari Departemen Bioteknologi Universitas Yonsei, Korea Selatan dalam acara Simposium Internasional Pertama Temulawak bertajuk Curcuma xanthorrhiza as an Essential Indonesian Herbal Medicine toward Healthy Life Selasa (27/5) yang digelar Pusat Studi Biofarmaka (PSB) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB di IPB International Convention Center (IICC). Kandungan xanthorrhizol dalam temulawak sebanyak 21 persen. Kelebihan senyawa xanthorrhizol antara lain tidak berwarna, tidak berbau, tidak volatil (menguap), tahan panas dan keasaman. Sayangnya senyawa ini rasanya sangat pahit. Prof. Jae Kwan menjelaskan hasil penelitian menunjukkan Xanthorrhizol memiliki aktivitas antibakeri tertinggi dalam melawan bakteri jenis Streptococcus. Khususnya Streptococcus mutans, penyebab karies gigi. Hanya dengan dua mikro gram per milliliter, Xanthorrhizol berhasil membasmi Streptococcus mutans dalam semenit. Xanthorrhizol juga membasmi Actinomyces viscosus dan Porphyromonas gingivalis penyebab penyakit periodontitis (gigi berdarah dan lepasnya gigi). Temulawak atau dalam Bahasa Inggris disebut java turmeric ini, secara tradisional digunakan untuk menyembuhkan penyakit perut, hati, konstipasi, pembuluh darah pecah, demam anak-anak, kulit kasar, disentri dan sebagainya. Dilaporkan curcuma xanthorrhizol juga memiliki kemampuan antitumor, anti kanker, anti diabetes, hipotriceriakademik, anti inflamantori, hepatoprotective, anti mikroba, dan anti lemak. Dengan teknologi modern, Korea Selatan telah memproduksi pasta gigi, minuman dan makanan fungsional, produk kosmetik, disinfektan, obat-obatan dan berbagai peralatan rumah tangga berbahan baku temulawak, jelas Prof. Jae Kwan. Di Korea Selatan temulawak dikenal dengan nama yellow curcuma. Tantangan pengembangan industri obatan-obatan berbahan dasar temulawak di Indonesia yang perlu diperhatikan, kata Prof. Jae Kwan, antara lain: budidaya dan standar temulawak yang sesuai industri, teknologi ekstraksi dan penghilang flavour yang kuat, formulasi yang tepat, serta keamanan dan uji klinis pada manusia. Prof. Jae Kwan menyarankan didirikannya Pusat Studi Temulawak Nasional.

Prof. Ikuo Saiki dari Bagian Pharmacognosy Departemen Natural Medicine, Universitas Toyama Jepang menyampaikan kemampuan kunyit dalam menghambat dan membunuh sel kanker. Hepatocellular carcinoma (HCC), salah satu tumor paling terkenal di dunia, dan penyakit kanker ketiga yang menyebabkan kematian kaum pria di Jepang. Kami mendemonstrasikan secara oral pada mencit yang terkena HCC. Hasilnya temulawak berhasil mendorong proses penghambatan metastatis dan sel tumor, kata Prof. Ikuo Saiki. Sedangkan dengan metode in vitro, temulawak menyebabkan perubahan formasi stress fiber (urat stress) dalam sel kanker. Ini berarti temulawak mungkin telah menghambat satu atau beberapa protein penghambat. Protein (protein binding) tersebut dikenal dengan Rho family Glucose Tri Phosphate. Protein ini menutup aktivasi protein kinase C (PKC). Namun demikian, menurut Prof. Ikuo, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengklarifikasi temuan ini. Sementara itu, Kepala Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB, Prof. Lathifah K. Darusman mengatakan simposium internasional pertama ini diikuti lebih dari 250 peserta dari berbagai negara, diantaranya; Cina, India, Singapura, Malaysia, Belanda, Korea, dan Jepang . Dalam simposium ini akan menampilkan sepuluh pembicara kunci dari berbagai negara tersebut. Selain itu menampilkan 28 presentasi penelitian dan 54 presentasi poster, ujar Prof. Latifah. Dalam sambutannnya, Rektor IPB, Dr. Herry Suhardiyanto menjelaskan masyarakat Indonesia terbiasa menggunakan bahan alami dari pengetahuan nenek moyangnya. Rektor mencontohkan penggunaan tanaman obat, hewan dan mikroba sebagai pencegah dan penyembuh alternatif, termasuk sebagai food suplement. IPB yang memiliki core competences di bidang pertanian tropis juga turut berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan penelitian biofarmaka di Indonesia. Salah satunya, menurut Rektor dengan mendirikan pusat studi yang fokus pada pengembangan biofarmaka. IPB bekerjasama dengan pemerintah berkontribusi dalam menetapkan kebijakan nasional biofarmaka di Indonesia. Sebagai bentuk nyata peran IPB tersebut pada hari Kebangkitan Jamu Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Mei ini, IPB menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan University of Chinese Medicine dari Cina, kata Rektor. Kerjasama ini mencakup investigasi seleksi obat-obatan herbal yang digunakan di Indonesia dan Cina, training obat-obatan herbal, dan pengembangan kurikulum pendidikan obat-obatan herbal di Indonesia. Dalam rangka kerjasama ini, IPB diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di istana negara hari itu juga. Simposium dan Ekspo yang terselenggaran berkat kerjasama dengan Departemen Kesehatan, Kementrian Koordinasi Ekonomi, Departemen Pertanian, Departemen Pendidikan, Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Badan POM), Kementrian Koordinasi Kesejahteraan, Asosiasi Obat-obatan Tradisional dan Herbal Indonesia, Universitas Yonsei Korea Selatan dan Universitas Pakuan ini berlangsung tiga hari. (ris) Kadar kolesterol LDL yang tinggi dan rendahnya kadar kolesterol HDL dalam darah dapat memicu terjadinya ateroma pada pembuluh darah. Aterosklerosis merupakan salah satu faktor terjadinya penyakit jantung koroner. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh campuran ekstrak etanolik rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) rendah minyak atsiri dan daun sambung nyawa (Gynura procumbens (Lour.) Merr) terhadap kadar kolesterol HDL dan LDL total tikus putih jantan yang hiperlipidemi serta mencari perbandingan efektif campuran ekstrak etanolik temulawak rendah minyak atsiri dan daun sambung nyawa untuk menurunkan kadar kolesterol LDL dan menaikkan kadar kolesterol HDL. Pembuatan ekstrak temulawak rendah minyak atsiri menggunakan metode destilasi uap air kemudian dilanjutkan dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 60%. Pembuatan ekstrak sambung nyawa menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70 % dan didapatkan rendemen sebesar 13,33 %. Uji farmakologi dilakukan dengan memberikan diet lemak kepada hewan uji menggunakan lemak babi sebesar 15 % dan kuning telur sebesar 5 % selama 30 hari. Uji farmakologi dilanjutkan dengan pemberian ekstrak temulawak rendah minyak atsiri dengan dosis 225 mg/kg, ekstrak sambung nyawa dosis 150 mg/kg, dan kombinasi keduanya dengan perbandingan temulawak:sambung nyawa 100:0, 0:100, 75:25, 50:50, dan 25:75 selama 30 hari. Hasil uji farmakologi menunjukkan bahwa sediaan uji kombinasi ekstrak etanolik temulawak rendah minyak atsiri dan sambung nyawa dengan perbandingan 75:25 merupakan kombinasi yang paling optimum yang mempunyai aktivitas paling tinggi dalam menurunkan kadar kolesterol LDL (63,6 + 2,68 %) dan menaikkan kadar kolesterol HDL (11,49 + 2,58 %). Indonesia sebagai negara tropis yang dikenal dengan the second mega biodiversity, dibanjiri oleh tanaman yang diketahui secara empiris atau penelitian berkhasiat obat. Salah satunya adalah temulawak yang termasuk dalam keluarga jahe (zingiberaceae). Temulawak (Curcuma xanthorhiza roxb) merupakan tanaman obat asli Indonesia. Meski demikian, penyebaran tanaman yang kondang dengan sebutan curcuma javanica ini, hanya terbatas di pulau Jawa, Maluku, dan Kalimantan. Temulawak tumbuh sebagai semak tak berbatang. Mulai dari pangkalnya sudah memunculkan tangkai daun yang panjang berdiri tegak. Tinggi tanaman antara 2 sampai 2,5 meter. Daunnya bundar panjang, mirip daun pisang. Pelepah daunnya saling menutupi membentuk batang. Tumbuhan yang patinya mudah dicerna ini dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Temulawak dapat dipanen setelah berusia 8-12 bulan, saat daunnya telah menguning dan

kelihatan hampir mati. Umbi akan muncul dari pangkal batang, warnanya kuning tua atau coklat muda, panjangnya sampai 15 sentimeter dan berdiameter 6 sentimeter. Baunya harum dan rasanya pahit agak pedas. Manfaat temulawak untuk kesehatan, sebenarnya telah lama diketahui secara empiris dan pengalaman turunmenurun dari nenek moyang. Sejak dulu temulawak digunakan sebagai obat penurun panas, merangsang nafsu makan, mengobati sakit kuning, diare, mag, perut kembung, dan pegal-pegal. Terakhir juga diketahui temulawak bisa menurunkan lemak darah, menghambat penggumpalan darah sebagai antioksidan, dan memelihara kesehatan dengan meningkatkan daya imun. Beberapa manfaat tersebut kemudian akhirnya terbukti secara klinis. Melihat manfaat temulawak yang se-abrek ini, tak ayal lagi pemerintah mencanangkan gerakan nasional minum temulawak sejak 2 tahun silam. Bantu Hati Hantam Toksin Daging buah (rimpang) temulawak mengandung beberapa senyawa kimia, antara lain minyak atsiri fellandrean dan turmerol, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol, dan kurkumin. Kurkumin diketahui sebagai kandungan yang banyak memberi manfaat, terutama sebagai anti hepototoksik dan antioksidan. Bagaimana mekanisme kurkumin sebenarnya dalam menyelamatkan lambang romantisme ini masih belum jelas. Namun sebuah studi pada hewan percobaan melaporkan, kurkumin secara kuat menghambat enzim cytochrome 4501A1/1A2 di hati. Enzim ini merupakan isoenzim yang terlibat dalam bioaktivasi beberapa toksin termasuk benzo[a]pyrene. Kurkumin ditemukan juga mencegah pembentukan ikatan kovalen antara cytochrome P450 dan DNA. Dan, peneliti menyimpulkan bahwa kurkumin bisa saja menghambat karsinogenesis oleh kimiawi dengan memodulasi fungsi P450. Selain itu, kurkumin ditemukan juga menawarkan proteksi hati terhadap toksisitas alkohol. Efek ini terbukti pada sebuah studi yang dilakukan pada tikus yang diinduksi dengan etanol 25%. Tikus yang memperoleh kurkumin 80 mg/kg BB mengalami penurunan kadar enzim hati dan produk reaktif asam tiobarbiturat. Di samping itu, sebuah studi lainnya juga menunjukkan, kurkumin menurunkan kerusakan hati melalui pengurangan peroksidasi lipid. Hal ini diamati pada tikus yang hatinya telah diinduksi dengan zat besi. Masih berdasarkan studi pra klinis, kurkumin dilaporkan juga meningkatkan aktifitas glutathione-S-transferase. Enzim ini sangat penting dalam proses detoksifikasi. Uji Klinis Kurkumin Sebuah uji klinis yang tidak begitu besar telah dilakukan di Tanah Air untuk melihat manfaat kurkumin dalam memperbaiki fungsi hati. Studi ini melibatkan sekitar 38 pasien gangguan hati atau memiliki nilai SGPT dan SGOT di atas normal dari 5 area (Bogor, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Palembang dan Jakarta). Pasien diberikan gabungan kurkumin 25 mg, essential phospholipid 100 mg, dan vitamin E 100 mg. Studi ini menggunakan metoda seeding trial atau tanpa pembanding. Pengamatan dilakukan oleh sekitar 20 peneliti dalam periode Juli-Desember 1998. Adapun parameter yang digunakan adalah nilai SGPT dan SGOT. SGPT merupakan enzim yang diproduksi oleh hepatocytes, jenis sel yang banyak terdapat di liver. Kadar SGPT dalam darah akan meningkat seiring dengan kerusakan pada sel hepatocytes yang bisa terjadi karena infeksi virus hepatitis, alkohol, obat-obat yang menginduksi terjadinya kerusakan hepatocytes, dan sebab lain seperti adanya shok atau keracunan obat. Nilai SGPT yang dianggap normal adalah 0 35 unit per liter (u/l). Peningkatan nilai SGPT 50 kali dari normal menandakan rendahnya aliran darah pada hati, hepatitis, atau kerusakan sel hati yang disebabkan oleh obat/senyawa kimia seperti CCl4. Peningkatan nilai SGPT ringan sampai sedang dapat disebabkan oleh adanya hepatitis, sirosis, kanker pada hati dan alkohol. Terkadang pada sirosis hanya terjadi peningkatan nilai SGPT 2-4 kali dari nilai normal. Sementara SGOT banyak dijumpai pada organ jantung, hati, otot rangka, pankreas, paru-paru, sel darah merah dan sel otak. Saat sel organ tersebut mengalami kerusakan, maka SGOT akan dilepaskan dalam darah. Alhasil saat pengukuran akan terlihat korelasi besarnya atau tingkat keparahan sel yang terjadi. Nilai normal SGOT berkisar dari 3 45 unit per liter (u/l). Peningkatan nilai SGOT ini dapat disebabkan oleh adanya hepatitis C. Pada hepatitis akut, peningkatan bisa terjadi hingga 20 kali nilai normalnya. Hasil studi menunjukkan, berdasarkan perhitungan statistik, terjadi penurunan nilai SGOT dan SGPT yang signifikan. Setelah 14 hari terapi, penurunan nilai SGOT dari total pasien mencapai hingga 2,89 kali, sedangkan untuk SGPT mencapai 3,28 kali dibandingkan sebelum pengobatan. Hasil yang tidak berbeda jauh juga ditemukan pada individu yang menderita hepatitis dan non hepatitis. Pasien hepatitis mengalami penurunan SGOT sebanyak 3,48 kali dan SGPT sebanyak 3,82 kali, dibandingkan sebelum pengobatan. Sedang pada individu non hepatitis, terjadi penurunan SGOT sekitar 1,91 kali dan SGPT sebanyak 2,15 kali. Menggali Manfaat Lain Hingga kini, telah banyak studi yang dilakukan untuk mencoba mereguk manfaat lain dari umbi berharga ini. Studi yang tengah gencar dilakukan adalah untuk melihat manfaat kurkumin sebagai antitumor guna mengobati penyakit kanker. Sejumlah laporan menunjukkan, kurkumoid termasuk kurkumin memiliki aktivitas kemopreventif dan kuratif melawan kanker. Studi tersebut umumnya dilakukan pada hewan percobaan dengan rute pemberian berbeda dan diuji dengan sistem in vitro. Namun sedikit studi juga telah mulai dilakukan belakangan ini pada manusia.

Manfaat lain yang juga tengah diincar dari kurkumin adalah penghambatan replikasi human immunodeficiency virus (HIV). Sebuah studi menunjukkan, kurkumin menghambat tahap fusion sel virus pada siklus replikasi HIV. Berbagai studi terus dilakukan untuk mencari titik terang. Jika semua terbukti secara klinis, maka tanaman yang mengandung kurkumin akan semakin kaya manfaat. Dan Indonesia tentu akan turut berbahagia, karena tanaman itu adalah asli dari Bumi Pertiwi. Temulawak (Curcuma xanthorhiza rox) adalah tanaman obat asli Indonesia yang secara turun temurun, telah diketahui memiliki banyak khasiat obat. Tanamannya berupa semak tidak berbatang (berbatang semu). Temulawak secara empiris digunakan sebagai obat penurun panas, perangsang nafsu makan, pengobat penyakit kuning, diare, mag, perut kembung, dan pegal pegal. Kemudian, temulawak diketahui bisa menurunkan lemah darah, menghambat penggunpalan darah, antioksidan, dan meningkatkan daya imun. Itu menurut artikel di majalah farmacia. Menurut sumber yang lain, temulawak juga berguna untuk meningkatkan kerja ginjal, sebagai anti inflamasi, anti mikroba, pencegah kanker, dan obat jerawat. Yang dimanfaatkan dari tanaman temulawak adalah rimpang (daging buah)nya. Biasanya untuk dibuat jamu godog. Dalam rimpang temulawak, terdapat beberapa senyawa kimia antara lain minyak atsiri fellandrean dan turmerol, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol, dan kurkumin. Kurkumin dalam temulawak member manfaat sebagai anti hepototoksik dan anti oksidan. Menurut majalah Farmacia, pada sebuah studi dengan hewan percobaan, disimpulkan bahwa kurkumin menawar proteksi hati terhadap toksisitas alcohol. Pada percobaan tersebut, tikus diinduksi dengan etanol 25%. Tikus yang diberi kurkumin 80 mg/kg BB mengalami penurunan kadar enzim hati dan produk reaksi asam tiobarbiturat. Selain itu pada study yang lain kurkumin menurunkan kerusakan hati melalui pengurangan peroksidasi lipid. Berdasarkan study praklinis yang lain, kurkumin dilaporkan juga meningkatkan aktifitas enzim glutathione-S-transferase yang sangat penting dalam proses detoksifikasi. Kemudian, sebuah studi di Indonesia yang melibatkan 38 pasien gangguan hati di 6 kota (Bogor, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Palembang, dan Jakarta). Hasilnya, kurkumin bermanfaat dalam memperbaiki fungsi hati. Studi yang tengah gencar dilakukan adalah untuk melihat manfaat kurkumin sebagai antitumor guna mengobati penyakit kanker. Sejumlah laporan menunjukkan, kurkumoid termasuk kurkumin memiliki aktivitas kemopreventif dan kuratif melawan kanker. Studi tersebut umumnya dilakukan pada hewan percobaan dengan rute pemberian berbeda dan diuji dengan sistem in vitro. Namun sedikit studi juga telah mulai dilakukan belakangan ini pada manusia. Studi lain menunjukkan, kurkumin menghambat tahap fusion sel virus pada siklus replikasi HIV. Berbagai studi terus dilakukan untuk mencari titik terang. Jika suatu saat seluruh penggunaan empiris temulawak bisa terbukti secara klinis,, tentu akan sangat banyak manfaat dari temulawak terutama kandungan kurkuminnya. Dan kita patut bersyukur karena karena tanaman temulawak dijumpai banyak sekali di Indonesia. sumber: http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=367 Oleh : Atep Afia Hidayat - Temulawak (Curcuma xanthorriza) merupakan tanaman tahunan, dengan ciri utama rimpang berukuran besar, berwarna cokelat kemerahan atau kuning tua. Di Jawa Barat tanaman ini dikenal dengan nama keneng gede. Sekitar sepuluh tahun yang lalu temu lawak makin naik daun, harganya mencapai US$ 300/ton, dengan tingkat permintaan dunia mencapai 30.000 ton per tahun, sedangkan Indonesia baru bisa menyuplai 10 persen. Meningkatnya nilai ekonomi temulawak, terutama disebabkan informasi yang meluas menyangkut khasiatnya dalam meredakan penyakit seperti hepatitis B. selain itu, terjadi peningkatan minat masyarakat terhadap obat-obatan dari tumbuhan alami (fitofarmaka). Berdasarkan catatan Kontan (Desember 2000), tahun 2000 omzet obat alami secara nasional mencapai Rp. 1 triliun, dan tahun 2001 diperkirakan meningkat jadi Rp. 1,4 triliun. Sedangkan tahun 2008 melonjak jadi Rp. 7,8 triliun. Menurut data dari Asosiasi Gabungan Pengusaha dan Obat Tradisional (GP Jamu), omzet jamu Indonesia tahun 2009 mencapai Rp 8,5 triliun dan sampai akhir 2010 telah mencapai sekitar Rp 10 triliun. Bagaimana mekanisme atau cara kerja temulawak dalam memerangi penyakit hepatitis, belum ditemukan data yang akurat. Namun berdasarkan pengalaman masyarakat, khasiat temulawak dalam mengobati hepatitis menjadi sulit untuk diragukan. Sejak jaman baheula, temulawak sudah dikenal sebagai jamu yang ampuh untuk mengatasi sebab perut atau penyakit kuning (lever sakit kuning). Pengalaman dr. Melly Budhiman, seorang psikiater di Jakarta, sebagaimana diungkapkan dalam Intisari (September 1996), berawal dari gejala-gejala cepat lelah, nafsu makan menurun dratis, kadang-kadang sampai muntah, dan bola mata kekuningan. Dari hasil pemeriksaan, ternyata terserang virus hepatitis B, yang kemungkinan ditularkan melalui jarum suntik yang tercemar virus. Dalam perkembangannya, berdasarkan pemeriksaan lengkap melalui scanning dan biopsi dinyatakan menderita hepatitis kronis aktif, kemudian berkembang menjadi sirosis hepatis. Satu-satunya obat yang diberikan, kortikosteroid dengan dosis cukup tinggi 4 x 10 mg. namun ternyata menimbulkan efek samping berupa bengkak-bengkak pada tubuh, dan pemeriksaan fungsi hati menunjukkan hasil yang buruk. Setelah memperoleh

informasi menyangkut khasiat temulawak, dr. Melly lantas mengkonsumsi sari temulawak (rebusan temulawak) selama empat bulan berturut-turut. Hasil biopsi oleh Dr.Sadikin Darmawan, seorang patolog senior, menyatakan bahwa kondisi hati dr.Melly sehat. Pengalaman serupa juga diungkapkan oleh seorang ibu di Bandung, setelah menempuh pengobatan alternatif di Garut selama lebih dari setahun (menggunakan ramuan tradisional, dengan bahan utama temulawak), penyakit hepatitisnya dinyatakan sembuh. Penyakit hepatitis merupakan infeksi oleh virus (penyakit peradangan pada hati). Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A, hepatitis B disebabkan oleh virus Hepatitis B, Hepatitis C disebabkan oleh virus Hepatitis C. masih ada jenis lainnya yaitu Hepatitis Delta dan Hepatitis E yang kurang dikenal di Indonesia. Menurut Dr.Efendi Oswari, DPH (1995), Hepatitis A umumnya ditularkan melalui mulut, misalnya melalui gelas atau sendok bekas yang dipakai penderita Hepatitis A. bisa juga melalui keringat penderita atau melalui jarum suntik bekas. Virus Hepatitis B dapat ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui ibu hamil. Bayi yang terserang virus, sistem kekebalannya belum berkembang dengan sempurna, sehingga akan menjadi pengidap kronis (sakit bertahun-tahun). Bila bayi penginap itu wanita, kemungkinan besar akan menularkannya pada anak-anaknya di kemudian hari. Bila tidak ditangani, dalam jangka waktu 20-40 tahun kemudian, bayi pengidap virus berpeluang menjadi orang dewasa yang mengalami sirosis hati (hati membatu), yang akhirnya berubah menjadi kanker hati. Sementara Prof.dr.Suwandhi Widjaja SpPD, PhD (2001), pakar hepatologi, menyatakan bahwa infeksi virus hepatitis B pada anak berusia di bawah lima tahun (balita), ternyata bukan hanya terjadi karena transmisi vertikal dari ibu ke bayinya dan dari infeksi perinatal. Namun infeksi itu lebih banyak terjadi karena transmisi horizontal lewat kontak keluarga, seperti penggunaan alat makan, sikat gigi, dan gunting kuku bersama. Penularan Hepatitis C pada orang dewasa bisa terjadi melalui kontak seksual, makanan dan minuman, suntikan, atau transfusi darah. Penyakit Hepatitis C berbahaya karena dapat berkembang menjadi kronis, menahun, dan menjadi sumber infeksi bagi orang sekitarnya. Dari data epidemologik, penyakit hati menahun dan karsinoma (kanker) hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B dan virus Hepatitis C, merupakan penyakit peringkat lima yang tersering di Indonesia. Menurut Prof.dr.Suwandhi Widjaja,SpPD, PhD (2001), saat ini di Indonesia. Menurut Prof.dr. Suwandhi Widjaja SpPD, PhD. (2001), saat ini di Indonesia diperkirakan ada 7 juta pengidap virus Hepatitis B, dan 5 juta penderita Hepatitis C, dengan perkiraan angka kematian sebanyak 40.000 - 80.000 penderita setiap tahunnya. Usia penderita terbanyak antara 30-55 tahun (usia paling produktif). Virus Hepatitis B tergolong virus DNA, saat ini telah dapat dibuat vaksinnya. Sedangkan virus Hepatitis C, tergolong virus RNA (seperti HIV yang menyebabkan AIDS) belum berhasil dibuat vaksinnya. Ancaman hepatitis ternyata cukup dahsyat, menimbulkan angka kematian yang cukup tinggi, dan menurunkan produktivitas jutaan orang. Menurut dr.Drs.Hadipratomo (2000), sampai saat ini belum ada pengobatan khusus untuk hepatitis B. bisanya penderita disarankan untuk istirahat dan diberi makanan yang sesuai. Obat-obatan yang diberikan lebih banyak dimaksudkan untuk memperkecil komplikasi yang timbul. Adanya informasi menyangkut khasiat temulawak, merupakan perkembangan yang sangat berarti dalam upaya memerangi Hepatitis B. selain karbohidrat, lemak, protein, vitamin C, zat besi, fosfor dan kalsium, kandungan temulawak juga meliputi minyak asiri yang terdiri dari kurkumin, kamfer, glukosida, phellandrene, turmerol, myrcene, xanthorrhizol, isofuranogermacreene, dan p-tolyletycarbinol. Senyawa kurkumin atau Hidrosi-metoksifenil-heptadenadion telah diketahui sebagai antibakteri. Menurut Prof. Dr.Iwan Darmansjah (1996), kepada Pusat Uji Klinik Obat (PUKO) di FKUI, untuk penyakit lever (Hepatitis) belum ada obatnya, kecuali interferon yang harganya sampai jutaan rupiah, dan ada efek sampingnya. Sehingga jika zat kurkumin pada temulawak secara uji klinis terbukti bisa mengobati hepatitis, akan merupakan anugrah.. berdasarkan beberapa penelitian, senyawa kurkumin memiliki efek hepatoprotektif (mencegah kerusakan lever/hati) pada hewan percobaan. Hal itu menjadi referensi yang memperkuat fakta, bahwa temulawak dapat menyembuhkan hepatitis B. Sebenarnya masih banyak khasiat temulawak lainnya, seperti memberantas sembelit, menambah nafsu makan, mengobati wasir, melancarkan keluarnya ASI, mengatasi batu empedu, obat disentri, malaria, gangguan ginjal, radang lambung, eksim, dan pembersih darah. Sudah sejak lama beragam khasiat tersebut diyakini sebagian masyarakat, namun tampaknya hal itu kurang diimbangi dengan kegiatan uji klinis. Dalam hal ini Departemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran PTN dan PTS, serta Industri Farmasi perlu bekerjasama secara pro-aktif dalam melakukan penelitian dan pengembangan tanaman berkhasiat obat. (Atep Afia). Temulawak merupakan obat mujarab dan dikenal sebagai bahan baku dasar dari kebanyakan racikan jamu di Indonesia. Terbukti hampir 70% jamu di Indonesia menggunakan temulawak sebagai bahan baku. Hasil riset badan kesehatan dunia WHO menyatakan bahwa penderita kolesterol diatas usia 40 tahun beresiko 52% terserang penyakit jantung dan stroke saat berusia di atas 50 tahun. Namun, penyakit ini dapat dijinakkan dengan rutin mengkonsumsi temulawak. Seberapa besar temulawak bermanfaat bagi kesehatan kita, sungguh suatu pertanyaan dari kurangnya pengetahuan kita terhadap manfaat yang begitu besar dari rimpang yang merupakan keluarga dari

"Zingiberaceae" ini. Seorang penderita dengan keluhan kolesterol tinggi dapat diturunkan menjadi normal dengan rajin mengkonsumsi segelas temulawak hasil perasan rimpang yang telah diparut atau diblender, yang kemudian air perasannya diminum secara teratur setiap hari selama dua minggu. Kadar kurkumin dalam temulawaklah yang bermanfaat untuk membantu menurunkan kolesterol dalam tubuh. "Menurut Prof. Dr. Suwijiyo Pramono,Apt dari fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada temulawak ampuh mengatasi kolesterol. Pada uji klinis yang melibatkan 80 pasien kolesterol tinggi hiperlipidemia, pemberian 2 kapsul ekstrak temulawak selama 2 kali sehari dalam 4 minggu dapat menurunkan kadar kolesterol 18,25%. Doktor Fitokimia dari Universitas Toulouse Perancis itu juga mendapati kadar LDL (low density lipoprotein) dikenal sebagai kolesterol jahat turun 25,98%." (disarikan dari majalah trubus,edisi agustus no.465) Khasiat lain dari temulawak selain sebagai antikolesterol juga khasiatnya mulai dari meringankan penyakit berat seperti lever hingga jerawat, bahkan temulawak pun bisa berfungsi sebagi antistroke. Kandunga zat aktif Xanthorizol dalam temulawak bisa mencegah penyumbatan darah ke otak. Bahkan temulawak kini sudah menjadi fitofarmaka, artinya keamanan konsumen terjamin karena temulawak sudah teruji secara klinis dan khasiat temulawak sudah bisa dipertanggung jawabkan. Temulawak juga berfungsi untuk detoksifikasi di hati, melindungi lever, dan sekresi cairan empedu, hal ini diperkuat dengan penelitian zat kurkumin yang berwarna kuning pada temulawak merangsang produksi cairan empedu, efeknya proses pencernaan lebih lancar, penelitian yang dilakukan oleh Dr. Yaya Rukayadi dan Prof Dr JK Hwang dari Yonsei University di Seoul Korea Selatan dapat membuktikan hal tersebut. Fungsi lain adalah sebagai antibakteri dan antiradang untuk memperbaiki organ hati yang rusak. Untuk lebih mempopulerkan khasiat temulawak telah dilaksanakan simposium international temulawak bertempat di Institut Pertanian Bogor. Prof. Dr. Latifah K. Darusman, selaku ketua pelaksana, menyatakan "Ini untuk membuka wawasan bagi kalangan industri dan peneliti betapa temulawak memiliki prospek yang cukup besar". PT. Biofarmaka Indonesia, dalam hal ini juga telah meluncurkan minuman kesehatan dengan bahan baku ekstrak temulawak "CURMA" yang merupakan minuman kesehatan bagi segala usia yang bisa dikonsumsi setiap hari untuk menjaga kesehatan tubuh kita, selain itu juga produk ekstrak dikemas dalam bentuk kapsul -Temulawak- untuk konsumsi dewasa. Dengan respons dari konsumen sangat bagus!!! A. Sinonim,Familia dan Morfologi 1. Sinonim: Curcuma javanica 2. Familia: Zingiberaceae 3. Morfologi Tanaman: Tanaman semak, tinggi tanaman 1,5 m. Batang semu, lunak, membentuk rimpang warna kuning muda. Daun tunggal, bentuk bulat telur, ujung meruncing, tepi rata, pangkal runcing, permukaan licin, panjang 40-60 cm, lebar 15-20 cm, pertulangan menyirip, warna hijau. Perbungaan majemuk, bentuk bulir, dengan daun pelindung bentuk corong, kelopak berambut warna putih, mahkota bentuk tabung warna putih benang sari kuning muda, kepala sari putih, putik kuning keputihan berbulu, buah berbulu, kotak warna putih kekuningan. B.Bagian tanaman yang digunakan dan Nama Simplisia Bagian Tanaman yang digunakan: Rimpang Nama Simplisia: Curcumae Rhizoma, Curcumae javanicae Rhizoma (Rimpang Temulawak), C. Kandungan Kimia 1. Zat warna kuning : Curcumin (diferuloymethane), mono-& bisdesmethoxycurcumin (mengandung antioksidan) 2. Zat yang mudah menguap: phelladren, turmerol 3. Zat yang diperoleh saat destilasi : p-tolylmethylkarbinol, 4. Minyak atsiri: sesquiterpene, curcumene, arcurcumene dan xanthorrhizol 5. kamfer

6. glucosida 7. Isofuranogermacreene 8. Myrcene 9. Zat pati D. Efek Farmakologi Antihepatotoxic/hepatoprotektor, antiinflammasi, antipiretik, kolagogum, kholeretik, antihiperlipidemik. E. Khasiat dan Manfaat Temulawak: 1. Memperbaiki segala macam gangguan perut; mengobati radang lambung, mengobati sakit perut karena masuk angin, memperbaiki pencernaan, mengobati buang air besar berdarah, disentri dan peradangan usus besar, sembelit/ambeien. 2. Mengobati gangguan kerja liver dan penyakit yang berhubungan dengan liver (penyakit kuning, hepatitis, batu empedu dan meningkatkan aliran cairan empedu) serta mengobati batu ginjal dan batu empedu. 3. Aktivitas hepatoprotektor rimpang Temulawak berkaitan dengan aktivitas kholagogum dalam bentuk kolekinetik dan koleretik yang berpengaruh pada hati, kandung empedu dan pancreas. Uji aktivitas hepatoprotektor curcumin telah dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan untuk diinduksi parasetamol dosis tinggi (2500 mg/kg BB) sebagai hepatotoksik. Histopatologi mengenai aktivitas hepatoprotektor dilakukan terhadap ekstrak temulawak yang mengandung 5% curcumin. Dosis yang digunakan terdiri dari dosis rendah 50 mg/kg BB dan dosis tinggi (250 dan 1000 mg/kg BB) Dengan menggunakan n-asetil sistein sebagai pembanding disimpulkan bahwa ekstrak Temulawak dosis rendah tidak menunjukkan aktivitas hepatoprotektor tetapi pada dosis tinggi dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT serta menunjukkan gambaran histologi yang sama baik dengan n-asetilsistein. 4. Mengobati luka infeksi, eksim, menghilangkan flek-flek hitam dan jerawat serta dapat berfungsi sebagai pembersih darah. 5. Mengobati nyeri sendi dan antiinflamasi Penelitian terhadap curcumin sebagai antiinflamasi dilakukan pada mencit dan tikus dengan membandingkan dengan fenilbutazon dan kortison sebagai pembanding aktivitas. Dinyatakan bahwa curcumin mempunyai aktivitas antiinflamasi yang sama dengan fenilbutazon dan kortison, yaitu mencegah timbulnya oedema pada peradangan akut dan kronik. Selain itu dilaporkan bahwa toksisitas curcumin lebih rendah dibanding toksisitas fenilbutazon karena curcumin tidak bersifat ulserogenik dan non toksik terhadap sel-sel darah merah. Curcumin juga mempunyai sifat menghambat agregasi thrombosit. Hal ini telah diuji secara in vitro dan in vivo pada tikus dan mencit. Menurut penelitian ini, curcumin dapat mensintesis thromboksan A-2 melalui penghambatan sikloksigenase pada jaringan-jaringan vaskuler. Hal tersebut menunjukkan bahwa curcumin mempunyai kemampuan antiartritis dengan prinsip kerja mirip salisilat. Efek anti inflamasi dari minyak atsiri Temulawak juga telah diuji pada tikus putih. Penelitian ini menyimpulkan bahwa daya antiinflamasi minyak atsiri sedikit lebih rendah dari diklorfenak tetapi mempunyai masa kerja yang lebih panjang. 6. Memperlancar ASI Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh infus rimpang Temulawak terhadap pengeluaran air susu mencit. Ternyata pemberian infus rimpang Temulawak 20% dan 40% dapat menambah produksi air susu mencit jika dibandingkan control. Ada perbedaan pengaruh antara pemberian infus 20% dan 40%. 7. Menurunkan kolesterol

Penelitian pengaruh curcuminoid Temulawak terhadap kolesterol total, trigliserida dan HDL kolesterol darah dilakukan pada kelinci dalam keadaan hiperlipidemia. Hasilnya, pemberian curcuminoid 10 mg, 15 mg dan 20 mg dalam tween 80 dan air menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah, sedangkan dosis 20 mg curcuminoid menaikkan HDL kolesterol. 8. Menambah nafsu makan Penelitian pengaruh infuse rimpang temulawak terhadap nafsu makan tikus putih juga telah dilakukan. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata pemberian infuse rimpang Temulawak 4%, 8% dam 12% dapat menambah nafsu makan. Penambahan nafsu makan tampak jelas mulai minggu kedua. 01. Kurkuminoid Temulawak Kurkuminoid adalah senyawa yang berasal dari bahan alaimah dari tanaman obat tradisional golongan curcuma ang bermanfaat bagi kesehatan. Adapun jenis tananan curcuma yang menjadi sumber kurkuminoid atanra lain Crucuma xanthrorriza Roxb (Temulawak), Curcuma Javanica Val (Koneng bodang), Cucuma Aeruginosa Val (Koneng hideng) Taksonomi tanaman Curcuma menurut Van stennis (1988) diklasifikasikan sebagai berikut : Devisio : Spermatophyta Sub devisio : Angiosspermae Kelas : Monocotyledone Bangsa : Zingeberalis Suku : Zingeralis Marga : Curcuma Menurut Moelyono (1985), temulawak digolongkan sebagai tanaman obat disebabkan oleh kandunganminyak atsiri dan kukuminoid sebagai senyawa aktifnya. Sedangkan kandaungan temualwak yang memberi arti pada penggunaan sebagai sumber bahan obat dan bahan pangan dan minuman dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu fraksi kumkuminoid, fraksi minyak atsiri dan fraksi pati. Fraksi kumkuminoid pada temulawak berkisar 3% dan ini dapat digunakan sebagai zat warna dalam amakanan, minuman dak kosmetik. Kurkuminoid pada temualwak merupakan pigmen kuning dan hanaya terdiri kurkumin dan desmetoksikurkumin yang masing-masing kadarnya rata-rata 62% dan 38% dari total pigmen. Tidak seperti kunyit, temulawak tidak mengandung bidesmetoksikurkumin yang terbukti mempunyai sifat menghambat sekersi empedu. Kesetabilan kurkuminoid sebgai bahan obat sangat tergantung dari susunan kimia dan fisik yang terkandung ddalamnya, disamping factor luar seperti suhu, kelembaban udara dan cahaya, dan pada bahan padat perubahnnya sangat lambat. Usaha penstabilan terhadap suhu dapat dilakuakn dengan penyimpanan pada suhu rendah, sedangkan pengaturan terhadap kelembaban adalah dengan merubah menjadi serbuk. Penstabilan terhadap cahaya dapat dilakukan dengan penyimpanan pada botol porcelain atau gelas coklat lengkap dengan tutupnya. Beberapa sifat kimiawi dari kurkuminoid antara lain adalah mudah berubah oleh pengaruh cahaya lebih bersifat hirofilik, ikatan rangkapnya mudah mengalami oksidasi maupun reduksi, bersifat penghambat reaksi peroksida, lipid lipoksigenasi dan siklooksigenasis. Yang termasuk ke dalam snyawa kurkumin itu sendiri terdiri dari 3 yaitu kurkuminoid (C6H20O6) dengan berat molekul 368, desmetoksikurkumin (C20H18O5) dengan berat molekul 338 dan bisdemetoksikurkumin (C19H16O4) dengan berat molekul 308. Kurkuminoid memiliki efek spasmolitik pada bermacam-macam spasmogen dari jaringan yang terioliasi. Kurkuminoid bersifat bakteriotatik terhadap kebanyakan mikroorganisme yang terdapat pada kolesistiti. Kurkumin secara aktif telah mampu menignkatkan produksi empedu oleh sel-sel hait dan pancreas samapi dua kali lipat. Mempunyai dayaantihepatotoksik, anti inflamasi, menignkatkan sekresi empedu dan pancreas menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan sel-sel hati dan mampu menurunkan tekanan darah dan bersifat anti bakteri dan mencegah timbuhnya perlemakandalam sel hati. Kurkuminoid yang terkandung dalam temulawak dapat diduga sebagai bahan yang dapat membantu prosies pencernaan dengan menginkatakan proses enzimatis, melalui mekanisme pengikatan fungsi alat tubuh yang ada kaitannya dengan fungsi saluran pwncernaan. Adanya kenaikan sekresi empedu dan pancreas nyata dengan terjadinya penurunan kadar bilirubin. Kolesterin, dan lipase. Temulawak juga mampu memperbaiki sel-sel parenkim pdar hati. 02. Kunyit ( Curcuma domestica) Kunyit (Curcuma domestica / curcuma longa) dengan nama daerah kunyet (Aceh), kunyir (Lampung), Koneng (Jawa Barat), konyet (Madura) uni (Toraja) hunik (Timor), nikwai (Irian Jaya), lawahu (Gorontalo) dan henda (Kalimantan). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara dan Asia Selatan dan sekaran banayk dijumpai didaerah-daerah seperti India, Cina Himalaya dan sebagainya. Tanaman kunyit dapat tumbuh di daerah tropic dan subrtopik. Di

Indonesia dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah dataran rendah smapi dataran tinggi yaitu sekitar 2000 meter di atas pada kondisi iklim udara 19 o C 30o C, curah hujan antara 1.500 -4.000 per tahun. Sifat Kimia Rimpang kunyit kering mengandung beberapa komponen kimia seperti pati, protein, lemak, abu, kurkumin, minyak atsiri, serat kasar dan sebgainya. Komponen utama adalah pati yang berkisar antara 40% 50% berat kering. Kandungan minyak tersebut berbeda-beda tergantung dari daerah petumbuhan kulivar serta kondisi pra panen maupun pasca panen. Warna kunign jingga dari kunyit disebabkan oelh adanya turunan dari diferuloil metana yang tidak menguap oelh pemanasan dimana kurkumin merupakan senyawa dominan. Aroma dan citarasanya ditentukan oelh kandungan minyak atsiri yang menguap oeleh pemanasan. Ekstrak pigmen kuntui terdiri dari campuran analoganalog dimana kurkumin merupakan pigmen terbanyak. Dan pigmen yang menyerupai kurkumion adalah desmetoksikukumin dan bedesmetolsikurkumin. Berdasarkan dari hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa kandungan kurkumin kunyit dari jawa adalah 0,63% 0,76% (w/w) dengan menggunakan analisis spektrofotometri terhadap esktrak kunyit terdiri dari 10,69% kurkuminoid dan 3,16% minyak atsiri. Substansi murni kurkumin adalah bubuk kristal kunign jingga yang tidak larut dalam air, sangat laru dalam eter, larut dalam alcohol, asam asetat glacial dan juga larut dlam alkali yang memberi warna coklat kemerahmerahan. Minyak atsiri adalah cairan yang diperoleh dengan ekstraksi tumbuh-tumbuhan, cairan ini bersifat tidak larut dalam air, mempunyai titik didih rendah atau suhu sublimasi yang rendah pada tekanan normal. Kandungan minyak atsiri pada kunyit berkisar antara 5,5% 2,7%. Komponen utama minyak atsiri adalah suatu alcohol dengan rumus C14H20O yang kemudian disebtu Turmerol. Turmerol merupakan campuransesquitepen keton dan merupakananalog keomponen aromatic yang terdiri dari turmeron dan ar-turmeron. Turmeron dan aru-turmeron merupakan komponen dominant dalam minyak atsiri kunyit yaitu sekitar 50%-80%, sedangkan perbandingan turmeron dan ar-turmiron juga brvariasi antara 5 : 4 dan 5 : 6. Zat kurkuminoid mempunyai kahsiat anti bakteri dan dapat merangsang diding katong empedu hingga dapat memperlancar metabolisme lemak. Empedu mengandung sejumlah garam dari hasil percampuran antara natrium dan kalium dengan aasam-asam empedu. Garam-garam ini bercampur dengan leak di dalam usus halus untuk membentuk micelles, jika micelles ini sudah terbentuk maka lemak dapat dicerna. Minyak atsiri yang terkandung dalam kunyit berkhasiat untuk mangatur keluarnya asam lambung agar tidak berlebihan dan mengurangi peristaltic usu yang terlalu kuat, sehingga pencernaan ransom menjadi sempurna.