Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN I PENGUJIAN OKSIHEMOGLOBIN DAN DEOKSIHEMOGLOBIN

A. Tujuan Percobaan Untuk membuktikan hemoglobin dapat mengikat oksigen membentuk oksihemoglobin (HbO2) dan dapat terurai kembali menjadi O2 dan deoksihemoglobin (Hb).

B. Dasar Teori Darah adalah medium untuk transportasi massal jarak jauh berbagai bahan antar sel dan lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks yaitu plasma tempat unsur-unsur sel eritrosit, leukosit dan trombosit (Guyton, 2006). Darah umumnya dipandang sebagai cairan tubuh yang kental, berwarna merah serta berada dalam suatu ruang tertutup yang dinamai sebagai pembuluh darah. Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transpor berbagai bahan serta fungsi homeostasis (Sadikin, 2001). Di dalam darah terdapat sel-sel darah merah yang berjuta-juta jumlahnya. Sel darah merah bentuknya bulat, pinggirnya cembung sedangkan bagian tengahnya cekung. Besarnya rata-rata bergaris tengah 0,007 milimeter, tebalnya 0,002 milimeter. Sel darah merah dibuat oleh sum-sum tulang, limpa dan hati juga membuat sel darah merah (Wirawan, 1976). Tugas pokok dari darah adalah membantu pernapasan. Darah mengambil zat asam yang dihisap oleh paru-paru waktu menarik napas. Kemudian membawa dan membagikannya ke seluruh jaringan tubuh. Warna merah pada sel darah merah ditimbulkan oleh zat yang berwarna merah. Zat inilah yang disebut hemoglobin. Selain itu darah juga berperan sebagai pembawa zat yang bernama hormon. Zat tersebut dibuat oleh kelenjar-kelenjar tubuh.

Hormon masuk ke pembuluh darah kemudian oleh darah dibagikan ke seluruh tubuh (Wirawan, 1976). Secara umum fungsi darah ialah sebagai berikut : 1. Alat transpor makanan, yang diserap dari saluran cerna dan diedarkan ke seluruh tubuh. 2. Alat transpor O2, yang diambil dari paru-paru atau insang untuk dibawa ke seluruh tubuh. 3. Alat transpor bahan buangan dari jaringan ke alat-alat ekskresi seperti paru-paru, ginjal, dan kulit. 4. Alat transpor antar jaringan dari bahan-bahan yang diperlukan oleh suatu jaringan dibuat oleh jaringan lain. 5. Mempertahankan keseimbangan dinamis dalam tubuh, termasuk

mempertahankan suhu tubuh, mempertahankan keseimbangan asam basa sehingga pH darah dan cairan tubuh tetap dalam keadaan seharusnya. 6. Mempertahankan tubuh dari agresi benda atau senyawa asing yang umumnya selalu dianggap punya potensi menimbulkan ancaman. Dengan demikian, secara garis besar dapat dikatakan, bahwa fungsi darah ialah sebagai sarana transpor, alat homeostasis dan alat pertahanan. (Sadikin, 2001) Sel darah merah merupakan sel terbanyak dalam darah. Karena mengandung senyawa yang berwarna merah yaitu hemoglobin. Fungsi utamanya adalah mengikat dan membawa oksigen dari paru-paru untuk diedarkan dan dibagikan ke seluruh sel di berbagai jaringan. Kelarutan oksigen secara fisik di dalam darah sangat dipengaruhi oleh tekanan parsial dari gas ini (PO2) serta oleh suhu. Kedua faktor ini merupakan faktor lingkungan yang mudah berubah-ubah (Sadikin, 2001). Eritrosit atau sel darah merah pada dasarnya adalah suatu kantong hemoglobin yang terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dan CO2 di dalam darah. Leukosit atau sel darah putih adalah unit-unit pertahanan sistem imun diangkut dalam darah ke tempat-tempat cedera atau

mikroorganisme

penyebab

penyakit.

Trombosit

adalah

penghentian

perdarahan dari suatu pembuluh yang cedera (Guyton, 2006). Darah membentuk sekitar 8% dari berat tubuh total dan memiliki volume rata-rata 5 liter pada wanita dan 5,5 liter pada pria. Darah terdiri dari 3 jenis unsur sel yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit yang berada di dalam cairan kompleks plasma (Sadikin, 2001). Hemoglobin merupakan hal yang paling penting pada eritrosit untuk mengangkut O2. Molekul hemoglobin terdiri dari dua bagian, yaitu: a. Bagian globin, suatu protein yang terbentuk dari empat rantai polipeptida yang sangat berlipat-lipat. b. Gugus nitrogenosa nonprotein mengandung besi yang dikenal sebagai gugus hem (heme) yang masing-masing terikat ke polipeptida. (Sherwood, 1996) Setiap atom besi dapat berikatan secara reversible dengan satu molekul oksigen. Karena, O2 kurang larut dalam plasma 98,5% O2 yang diangkut dalam darah terikat pada hemoglobin membentuk oksihemoglobin. Kandungan besi hemoglobin tampak kemerahan apabila berikatan dengan O2 dan kebiruan jika mengalami deoksigenasi (Sherwood, 1996). Selain mengangkut O2, hemoglobin juga dapat berikatan dengan zat-zat berikut : 1. Karbon dioksida, hemoglobin ikut berperan mengangkut gas ini dari jaringan kembali ke paru. 2. Bagian ion hidrogen asam (H+) dari asam karbonat yang terionisasi, yang dibentuk dari CO2 pada tingkat jaringan. Hemoglobin dengan demikian menyangga asam ini sehingga pH tidak terlalu berpengaruh. 3. Karbon monoksida (CO), dalam keadaan normal tidak terdapat dalam darah. Tetapi, jika terhirup menempati tempat pengikatan O2 di hemoglobin sehingga terjadi keracunan CO. (Sherwood, 1996) Dengan demikian, hemoglobin berperan penting dalam pengangkutan O2 sekaligus pengangkutan CO2 dan menentukan kapasitas penyangga darah.

Untuk memaksimalkan kandungan hemoglobinnya sebuah eritrosit dipenuhi oleh ratusan juta molekul hemoglobin (Sherwood, 1996). Kemampuan hemoglobin untuk dapat berikatan secara longgar dan reversibel dengan oksigen. Karena fungsi utama hemoglobin dalam tubuh adalah bergabung dengan oksigen dalam paru dan kemudian melepaskan oksigen ini dalam kapiler jaringan perifer yang tekanan gas oksigennya jauh lebih rendah daripada paru-paru (Murray, 2006). Oksigen tidak bergabung dengan dua ikatan positif besi dalam molekul hemoglobin. Namun, berikatan secara longgar dengan salah satu ikatan yang disebut ikatan koordinasi atom besi. Ikatan ini begitu longgar. Sehingga gabungan tersebut bersifat sangat reversibel. Selanjutnya oksigen diangkut ke jaringan bukan dalam bentuk ion melainkan dalam bentuk molekul (yang terdiri dari dua atom oksigen). Yang karena longgarnya dan sangat reversibel. Oksigen dilepaskan kedalam cairan jaringan dalam bentuk molekul bukan dalam bentuk ion (Guyton, 2006).

C. Alat dan Bahan 1. Alat a. Bola hisap b. Pipet tetes c. Pipet volume d. Rak tabung reaksi e. Tabung reaksi 2. Bahan a. Alumunium foil b. Aquades c. Darah segar d. Etiket e. NH4OH 10 % f. Pereaksi stokes D. Prosedur Kerja 1. Oksihemoglobin a. Diencerkan 2 mL darah dengan 6 mL aquades didalam tabung reaksi. b. Dicampur dengan baik dan diperhatikan warna merah terang dari oksihemoglobin yang terbentuk. c. Dibagi 2 isi tabung tersebut sehingga masing-masing tabung berisi 4 mL, digunakan tabung 1 sebagai kontrol. 2. Pembentukan deoksihemoglobin a. Diisi tabung ke-3 dengan 2 mL pereaksi stokes dan ditambahkan NH4OH secukupnya untuk melarutkan endapan yang segera terbentuk. Campuran ini merupakan larutan pereduksi yang kuat. b. Dimasukkan beberapa tetes larutan stokes ke dalam tabung 2. Terlihat perubahan warna karena terbentuknya deoksiHb kemudian

dibandingkan dengan tabung 1. 3. Pembentukan kembali oksiHb dari deoksiHb a. Dikocok kuat-kuat tabung yang berisi deoksiHb, maka akan terjadi kembali oksigenasi dari udara. b. Diperhatikan dan catat warna HbO2 yang kembali terbentuk. c. Oksigenasi dan deoksigenasi kembali ini dilakukan berulang-ulang.

E. Hasil Pengamatan 1. Tabel Hasil Pengamatan Hasil (aspek) Warna yang terbentuk Tabung I oksiHb (kontrol) Merah terang Tabung II deoksi Hb Merah kecoklatan Tabung III reoksigenasideoksiHb Coklat

2. Reaksi a. Reaksi oksihemoglobin Hb + O2 HbO2 b. Reaksi reduksi O2 (deoksihemoglobin) HbO2 Hb + O2

F. Pembahasan Dalam percobaan yang berjudul pengujian oksihemoglobin dan

deoksihemoglobin memiliki tujuan untuk membuktikan hemoglobin dapat mengikat oksigen membentuk oksihemoglobin (HbO2) dan dapat terurai kembali menjadi O2 deoksihemoglobin. Prinsip dasar dari percobaan ini adalah dalam keadaan tereduksi Fe dalam molekul Hb dapat mengikat dan melepaskan oksigen tergantung pada tekanan O2 atau CO2. Darah adalah medium untuk transportasi massal jarak jauh berbagai bahan antar sel dan lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks yaitu plasma tempat unsur-unsur sel eritrosit, leukosit dan trombosit. Di dalam darah terdapat sel-sel darah merah yang berjuta-juta jumlahnya. Sel darah merah bentuknya bulat, pinggirnya cembung sedangkan bagian tengahnya cekung. Besarnya rata-rata bergaris tengah 0,007 milimeter, tebalnya 0,002 milimeter. Sel darah merah dibuat oleh sum-sum tulang, limpa dan hati juga membuat sel darah merah. Tugas utama dari darah adalah membantu pernapasan. Sel darah merah berfungsi mengikat dan membawa O2 dari paru-paru ke seluruh tubuh. Untuk itu, sel darah merah dilengkapi dengan molekul khusus yang melaksanakan fungsi tersebut dan sekaligus membawa warna merah pada darah, yaitu hemoglobin (Hb). Hemoglobin merupakan protein tetramer kompak yang setiap monomernya terikat pada gugus prostetik hem. Hemoglobin dapat mengikat empat atom oksigen pada tiap tetramer (satu pada tiap subunit hem). Atom oksigen terikat pada atom Fe2+ yang terdapat pada hem pada ikatan koordinasi kelima, dimana atom besi tersebut dalam keadaan tereduksi (Fe2+). Hemoglobin yang mengikat O2 disebut hemoglobin teroksigenasi atau oksihemoglobin (HbO2), sedangkan hemoglobin yang sudah melepaskan oksigen disebut hemoglobin tereduksi atau deoksihemoglobin (deoksiHb). Oksigen atau zat asam adalah unsur kimia dalam sistem tabel periodik yang mempunyai lambang O dan nomor atom 8. Ia merupakan unsur golongan kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya (utamanya menjadi oksida). Pada temperatur dan tekanan standar, dua

atom unsur ini berikatan menjadi dioksigen, yaitu senyawa gas diatomik dengan rumus O2 yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Oksigen lebih larut dalam air daripada nitrogen. Di alam, oksigen bebas dihasilkan dari fotolisis air selama fotosintesis oksigenik. Pada percobaan prosedur pertama, oksihemoglobin terbentuk dari pengikatan oksigen dalam air yang ditambahkan ke dalam darah segar. Warna darah yang mulanya merah pekat berubah menjadi merah terang. Oksigen, seperti yang telah disebutkan di atas, diikat oleh hemoglobin. Dengan bantuan ion Fe2+ dalam kandungan hemoglobin oksigen akan terikat karena sifat reduksi Fe2+. Pada prosedur selanjutnya dibuat larutan stokes yang merupakan campuran pereaksi stokes dengan larutan NH4OH 10%. Fungsi NH4OH adalah untuk mencegah pengendapan karena sifat basa yang dimilikinya mampu mencegah protonasi oleh asam sehingga tidak terbentuk endapan pada pembuatan pereaksi stokes. Pereaksi stokes dapat dibuat dari 3 gram Fe2SO4 ditambah 2 gram asam tartrat yang dilarutkan dalam 100 cm3 air suling. NH4OH 10% dapat dibuat dengan melarutkan NH4OH 10 gram dalam 100 mL aquades. Larutan stokes dibuat dari 40 tetes pereaksi stokes dan 5 tetes NH4OH 10%. Larutan stokes yang terbentuk kemudian ditambahkan ke dalam tabung oksihemoglobin yang sudah dibagi dua sebelumnya sebanyak 10 tetes. Pereaksi stokes berfungsi sebagai pereduksi kuat. Sedangkan tabung oksihemoglobin yang pertama sebagai kontrol. Tabung oksihemoglobin yang ditambah larutan stokes langsung dikocok kuat-kuat dan diamati perubahan warna yang terjadi. Pada awalnya, penambahan larutan stokes menyebabkan darah (oksiHb) berubah menjadi merah kecoklatan. Hal ini dikarenakan Fe2+ tereduksi melepaskan O2, dalam hal ini disebut reaksi pembentukan deoksihemoglobin. Setelah dikocok kuat-kuat warna larutan menjadi lebih pekat, yakni merah kecoklatan dan timbul buih. Hal ini disebabkan O2 dalam oksiHb tereduksi keluar karena longgarnya ikatan koordinasi O2 dengan atom besi dalam

hemoglobin, ditambah dengan adanya tekanan CO2 yang besar dari pengocokan kuat-kuat sehingga terbentuklah deoksihemoglobin.

G. Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan; 1. Hemoglobin dalam darah mengandung ion Fe2+ dalam keadaan tereduksi sehingga pada penambahan air menyebabkan O2 terikat ke dalam Hb membentuk oksihemoglobin. 2. Oksihemoglobin dapat tereduksi oleh larutan stokes menjadi

deoksihemoglobin dan O2.

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C., 2006, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi II, Buku Kedokteran EGC; Jakarta.

Lauralee, Sherwood., 1996, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, edisi VIII, Buku Kedokteran EGC; Jakarta.

Murray, Robert K., 2000, Biokimia Kedokteran Dasar, Buku Kedokteran EGC; Jakarta.

Sadikin, Muhammad., 2001, Biokimia Darah, Widya Medika; Jakarta.

Wirawan., 1976, Darah, CV. Akadoma; Jakarta.