Anda di halaman 1dari 12

PERCOBAAN III PERCOBAAN METHEMOGLOBIN

A. Tujuan Memperlihatkan bahwa ion besi (Fe2+) dalam molekul hemoglobin dioksidasi menjadi Fe3+ maka terbentuk metHb yang tidak dapat lagi mengikat oksigen (O2).

B. Dasar Teori Darah adalah kendaraan atau medium untuk transportasi massal jarak jauh berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal atau antara sel sel itu sendiri. Transportasi semacam itu penting untuk memelihara homoestasis. Darah terdiri dari cairan kompleks, yaitu plasma, dimana pada plasma ini terdapat eritrosit, leukosit dan trombosit yang terbenam di dalamnya. Eritrosit atau sel darah merah pada dasarnya adalah suatu kantung hemoglobin yang terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dan CO2 (dalam tingkat yang lebih rendah) di dalam darah. Leukosit (sel darah putih) merupakan unit unit pertahanan sistem imun yang mobil, diangkut dalam darah ke tempat tempat cedera atau invasi mikroorganisme penyebab penyakit. Oleh karena darah sangat penting maka harus terdapat mekanisme yang dapat memperkecil kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pembuluh darah yang cedera (Sherwood, 1996). Hal paling penting dari eritrosit yang memungkinkan mereka mengangkut O2 adalah hemoglobin yang mereka miliki. Molekul hemoglobin terdiri dari dua bagian globin yang merupakan suatu protein yang terbentuk dari empat rantai polipeptida yang sangat berlipat lipat, dan gugus nitrogenosa nonprotein mengandung besi yang dikenal sebagai gugus hem (heme) yang masing masing terikat ke satu polipeptida. Setiap atom besi dapat berikatan secara reversibel dengan satu molekul O2, dengan demikian setiap molekul hemoglobin dapat mengangkut empat penumpang O2. Oksigen kurang larut dalam plasma maka 95,8 % oksigen yang diangkut dalam darah terikat pada

hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu pigmen (yaitu secara alamiah berwarna). Kandungan besi pada hemoglobin menyebabkan hemoglobin tampak kemerahan apabila berikatan dengan O2 dan kebiruan apabila mengalami deoksigenasi. Dengan demikian, darah arteri yang mengalami oksigenasi secara sempurna tampak merah dan darah vena yang telah kehilangan sebagian oksigennya di jaringan memperlihatkan rona kebiruan (Guyton, 2006). Gambaran paling penting dari molekul hemoglobin adalah kemampuannya untuk dapat berikatan secara longgar dan reversibel dengan oksigen. Fungsi utama hemoglobin dalam tubuh adalah bergabung dengan oksigen dalam paru dan kemudian melepaskan oksigen ini di dalam perifer yang tekanan gas oksigennya jauh lebih rendah daripada di paru paru. Oksigen tidak bergabung dengan ikatan positif besi dalam molekul hemoglobin. Oleh karena itu, berikatan secara longgar dengan salah satu ikatan yang disebut ikatan koordinasi atom besi. Selanjutnya, oksigen diangkut ke jaringan bukan dalam bentuk ion melainkan dalam bentuk molekul yang karena longgarnya dan sangat reversibel. Oksigen dilepaskan ke dalam cairan jaringan dalam bentuk molekul dan bukan dalam bentuk ion (Guyton, 2006). Selain mengangkut O2, hemoglobin juga dapat berikatan dengan zat zat berikut : 1. Karbon dioksida. Dengan demikian, hemoglobin ikut berperan

mengangkut gas ini dari jaringan kembali ke paru. 2. Bagian ion hidrogen asam (H+) dari asam karbonat yang terionisasi, yang dibentuk dari CO2 pada tingkat jaringan. Hemoglobin dengan 3. demikian menyangga asam ini, sehingga pH tidak terlalu terpengaruh. 4. Karbon monoksida (CO). Gas ini dalam keadaan normal tidak dapat di dalam darah tetapi jika terhirup menempati tingkat pengikatan O2 di hemoglobin, sehingga terjadi keracunan karbon monoksida. Dengan demikian, hemoglobin berperan penting dalam pengangkutan O2 sekaligus ikut serta dalam pengangkutan CO2 dan menentukan kapasitas penyangga dari darah (Marks, 2000).

Pigmen merah membawa oksigen dalam sel darah merah adalah hemoglobin, suatu protein yang mempunyai berat molekul 64.450. Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat terdiri dari 4 subunit yang masing masingnya mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi. Polipeptida polipeptida itu secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin. Ada 2 pasang polipeptida dan 2 lainnya mengandung polipeptida lain. Pada hemoglobin manusia dewasa normal (hemoglobin A), 2 jenis polipeptida tersebut disebut sebagai , dan masing masing mengandung 141 residu asam amino, dan rantai , yang masing masing mengandung 146 residu asam amino. Jadi, hemoglobin A diberi kode 22. Tidak semua hemoglobin di dalam darah orang dewasa normal adalah hemoglobin A. sekitar 2,5% hemoglobin adalah hemoglobin A2, yang rantai -nya digantikan oleh rantai (22). Rantai jugan mengandung 146 residu asam amino, tetapi 10 macam residu asam aminonya berbeda dari yang terdapat pada rantai (Ganong, 1998). Ada 3 derivat hemoglobin A dalam jumlah kecil yang erat dengan hemoglobin A dan mungkin merupakan hemoglobin glikosilat. Salah satunya, hemoglobin A1C (HbA1C), mempunyai satu glukosa yang menempel pada valin terminal di setiap rantai . Hemoglobin ini sangat menarik karena jumlahnya dalam darah mneingkat pada diabetes militus yang kurang terkontrol (Ganong, 1998). Hemoglobin mengikat O2 untuk membbentuk oksihemoglobin (HbO2), O2 menempel pada Fe2+dalam heme. Afinitas hemoglobin terhadap O2 dipengaruhi oleh pH, suhu, dari konsentrasi 2,3-difosfogliserat (2,3-DPG) dalam sel darah merah. 2,3-DPG dan H+ berkompetisi dengan O2 untuk berikatan dengan hemoglobin tanpa oiksigen, sehingga menurunkan afinitas hemoglobin terhadap oksigen dengan menggeser posisi 4 rantai peptida (Murray, 2006). Kalau darah digabungkan terhadap aneka macam obat dan agen agen pengoksidasi lainnya in vitro atau invivo, besi ferro (Fe2+) dalam molekul

tersebut di konversi menjadi besi ferri (Fe3+), dengan membentuk methemoglobin. Methemoglobin berwarna tua dan kalau dalam jumlah banyak dalam sirkulasi, methemoglobin menyebabkan perubahan warna kehitam hitaman pada kulit, mneyerupai sianosis. Sedikit oksidasi hemoglobin menjadi methemoglobin terjadi secara normal, tetapi suatu enzim di dalam sel darah merah, sistem NADH-methemoglobin reduktase, mengkonversi

methemoglobin kembali menjadi hemoglobin. Tidak adanya sistem ini secara congenital merupakan satu penyebab methemoglobin herediter (Ganong, 1998). Meskipun hemoglobin diperlukan untuk pengangkutan oksigen ke dalam jaringan, hemoglobin mempunyai fungsi utama lainnya untyuk kehidupan. Fungsi ini adalah fungsi hemoglobin sebagai sistem dapar oksigen jaringan. Dengan ini, hemoglobin dalam darah bertanggung jawab terutama untuk stabilisasi tekanan oksigen dalam jaringan. Pada keadaan normal, jaringan membutuhkan kira kira 5 mL oksigen dari setiap 100 mL darah yang melalui kapiler jaringan. Setiap milliliter oksigen yang dilepaskan oleh setiap 100 mL aliran darah , PO2 harus turun kira - kira 400 mmHg, karena itu PO2 jaringan normalnya tidak dapat mengikat diatas 40 mmHg. Seandainya terjadi demikian, oksigen yang diperlukan jaringan tidak dapat dilepaskan dari hemoglobin. Dengan cara ini, dalam keadaan normal hemoglobin mengatur batas atas tekanan oksigen dalam jaringan, yaitu sekitar 40 mmHg. Sebaliknya selama kerja berat, sejumlah besar oksigen (sebanyak 20 kali lipat dari normal) harus dilepaskan dari hemoglobin ke jaringan. Tetapi ini dapat dicapai dengan penurunan PO2 jaringan yang sangat sedikit karena kemiringan kurva disosiasi yang curam dan peningkatan aliran darah jaringan yang disebabkan oleh penurunan PO2 yang sedikit menyebabkan sejumlah besar oksigen dilepaskan dari hemoglobin. Selanjutnya dapat dilihat bahwa hemoglobin dalam darah secara otomatis melepaskan oksigen ke jaringan pada tekanan yang dipertahankan dengan agak ketat antara 15 mmHg dan 40 mmHg.

(Guyton, 2007) Hemoglobin adalah bagian dari eritrosit (sel darah merah) yang bertanggung jawab atas pengangkutan oksigen dalam aliran darah, merupakan contoh yang tepat dari protein globular. Satu satuan hemoglobin, yang mempunyai bobot molekul sekitar 65.000, mengandung empat molekul protein yang disebiut globin. Tiap globin terlipat sedemikian rupa sehingga cocok secara sempurna dengan ketiga globin lain untuk mempertahankan keseluruhan hemoglobin itu, dan membentuk suatu celah molekular yang bentuk dan ukurannya tepat untuk ditempati oleh suatu satuan heme bersama molekul O2-nya. Heme adalah suatu gugus prostetik, suatu molekul organik non-protein. Heme terdiri dari suatu protein cincin porfirin dengan suatu ion besi (II) yang dipusatkan. Tiap satuan heme terikat pada globinnya oleh suatu ikatan koordinasi dari ion besi (II) ke nitrogen dalam suatu cincin imidazola dari histidina, salah satu asam asam amino yang membentuk globin itu. Ion besi (II) itu juga dapat membentuk suatu ikatan koordinasi dengan suatu molekul O2. Agar heme berfungsi sebagai pengangkut oksigen ke sel sel, ion Fe2+ harus mudah melepaskan oksigen. Pelepasan semacam itu tidak dapat terjadi jika Fe2+ dioksidasi menjadi Fe3+ dan oksigen direduksi. Suasana hidrofobik non-polar dari protein di sekitar letak terikatnya O2 menjamin bahwa transfer elektron dari Fe2+ ke O2 tidak terjadi (ingat bahwa pelarut nonpolar tidak dapt mendukung ion ion dalam larutan). Suatu gejala yang serupa dijumpai di laboratorium bila ion ion Fe2+ melekat dalam polistirena. Oksigen ditarik, tetapi tidak ada reaksi oksidasi reduksi yang terjadi seperti dalam medium ion (Fessenden, 1982).

C. Alat dan bahan 1. Alat a. Penangas air b. Penjepit tabung c. Pipet tetes d. Pipet volume 10 mL e. Propipet f. Rak tabung g. Stopwatch h. Tabung reaksi 2. Bahan a. Aluminium foil b. Aquades c. Darah segar d. Etiket e. Pereaksi K3Fe(CN)6 33% f. Pereaksi Stokes

D. Prosedur kerja 1. Diencerkan 1 mL darah dengan 4 mL aquades dalam tabung reaksi 2. Ditambahkan 5 tetes K3Fe(CN)6 33% ke dalam tabung. Kemudian digojog kuat kuat, diperhatikan dan dicatat perubahan warna yang terjadi. 3. Ditambahkan pereaksi stokes sebanyak 5 tetes pada tabung dan di kocok kuat kuat. Dicatat perubahan waarna yang tejadi. 4. Selanjutnya diencerkan 3 mL darah dnegan 3 mL aquades di tabung reaksi lain dan dipanaskan 1 menit dalam penangas air, kemudian ditambahkan 6 tetes K3Fe(CN)6 33%. Dicampur dengan membolak balik tabung. Diperhatikan gelembung gelembung oksigen yang terbentuk.

E. Hasil Pengamatan 1. Tabel Pengamatan Tabung 1 Ditambah K3Fe(CN)6 33% Merah coklat Ditambah Pengocokan kuat Merah dengan gelembung udara Ditambah pereaksi stokes Pengocokan kuat Hitam Hitam, dengan gelembung udara jumlahnya tetap yang Merah kecoklatan Gelembung udara dengan sedikit gelembung coklat K3Fe(CN)6 33% Merah kecoklatan Hasil Tabung 2 Hasil

2. Reaksi Hb(Fe2+) + K3Fe(CN)6


Hb oksidator

Hb(Fe3+) + K4Fe(CN)6
metHb

Hb(Fe3+) + Stokes

F. Pembahasan Darah merupakan suspensi berwarna merah yang terdapat dalam pembuluh darah. Warna merah ini dapat berubah ubah, kadang kadang berwarna merah tua dan kadang kadang berwarna merah muda. Hal ini tergantung pada kadar oksigen dan karbon dioksida yang tergantung di dalamnya. Darah terdiri dari dua komponen, yaitu sel sel darah dan plasma darah atau cairan darah. Sel darah meliputi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit darah. Methemoglobin adalah keadaan dimana ion besi di

dalam hem yang terkandung dalam hemoglobin teroksidasi oleh superoksida (oksidator kuat) atau agen pengoksida lainnya sehingga hemoglobin kehilangan fungsinya sebagai pengikat oksigen di dalam darah. Hemoglobin merupakan suatu molekul protein ynag mnegandung besi, memilki kemampuan untuk membentuk ikatan longgar reversibel dengan O2. Apabila tidak berikatan dengan O2, Hb disebut sebagai hemoglobin tereduksi, apabila berikatan dengan O2, Hb disebut sebagai oksihemoglobin (HbO2). Dalam menjalankan fungsinya sebagai pengangkut oksigen ke seluruh tubuh, hemoglobin dalam sel darah merah mengikat oksigen melalui suatu ikatan kimia khusus. Ikatan kimia ini berlangsung dalam dua arah yang berupa reaksi penggabungan yang terjadi di paru paru dan penguraian yang terjadi di dalam jaringan. Percobaan kali ini adalah pengujian methemoglobin. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk membuktikan jika ion besi (Fe2+) dalam molekul hemoglobin dioksidasi menjadi Fe3+, maka akan terbentuk methemoglobin yang tidak dapat lagi mengikat. Pengujian ini menggunakan darah sebagai sampel dan pereaksi yang digunakan pada percobaan ini adalah pereaksi K3Fe(CN)6 33% yang bertindak sebagai agen pengoksidan, dan juga pereaksi stokes sebagai pereduksi. K3Fe(CN)6 33% terdiri dari campuran 33 gram K3Fe(CN)6 dalam 100 mL aquades. K3Fe(CN)6 33% adalah oksidator yang akan mengoksidasi Fe2+ pada hemoglobin menjadi Fe3+. Pereaksi stokes merupakan pereaksi khusus yang digunkan sebagai pereduksi. Pereaksi stokes terdiri dari FeSO, asam tartrat,

dan aquades. Sebelum pereaksi ini digunakan, ditambahkan dulu dengan NH4OH pekat agar endapan pada komposisi stokes melarut. Pada percobaan ini tahap yang dilakukan adalah membentuk oksihemoglobin pada darah dengan cara menambahkan darah dengan aquades dalam tabung reaksi. Penambahan aquades ini mengakibatkan darah mengikat atom oksigen pada air sehingga terbentuk oksihemoglobin. Selanjutnya ke dalam tabung tersebut ditambahkan 5 tetes K3Fe(CN)6 33%. Penambahan K3Fe(CN)6 33% berfungsi untuk mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. Penambahan K3Fe(CN)6 33% disertai dengan pengocokan yang kuat agar keseluruhan larutan bercampur dengan K3Fe(CN)6 33% dan dimaksudkan agar hemoglobin teroksidasi secara menyeluruh. Setelah dilakukan pengocokan kuat, dalam larutan terdapat gelembung udara dan darah berubah warna menjadi merah kecoklatan. Perubahan warna ini diakibatkan terjadinya reaksi oksidasi dari ion Fe2+ pada darah menjadi ion Fe3+. Sedangkan gelembung udara yang dihasilkan merupakan oksigen yang tidak dapat berikatan dengan darah yang mengalami methemoglobin. Setelah diamati perubahan yang terjadi, darah yang mengalami methemoglobin ditambahkan pereaksi stokes. Pereaksi stokes ini berfungsi mereduksi methemoglobin. Darah yang ditambhakan pereaksi stokes tidak dapat kembali menjadi merah terang seperti warna darah sebelum ditambahkan K3Fe(CN)6 33%. Saat ditambahkan stokes, darah berwarna hitam pekat dengan jumlah gelembung udara yang sama seperti sebelumnya (sebelum ditambahkan stokes). Hal ini menandakan tidak terjadi reaksi dengan stokes. Pada tabung 2, 3mL darah dicampurkan dengan 3 mL aquades. Sebelumnya darah harus diencerkan dengan penambahan aquades.

Penambahan aquades menyebabkan darah mengalami oksihemoglobin (HbO2) karena pada molekul aquades terdapat oksigen yang diikat oleh hemoglobin darah. Penambahan aquades ini menyebabkan darah berwarna merah terang. Kemudian tabung yang berisi oksihemoglobin (HbO2) dipanaskan. Tujuan pemanasan ini adalah mempercepat pelepasan O2 sehingga diperoleh Hemoglobin yang berwarna merah gelap. Selanjutnya darah yang sudah

dipanaskan selama 1 menit ditambahkan 6 tetes K3Fe(CN)6 33%. Penambahan K3Fe(CN)6 ini difungsikan sebagai pengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. Peristiwa oksidasi ini diikuti dengan perubahan warna menjadi merah kecoklatan. Saat penambahan K3Fe(CN)6 33%, tabung tersebut yang berisi darah digojog perlahan karena sebelum ditambahkan K3Fe(CN)6, darah sudah dipanaskan sehingga tidak diperlukan banyak energi untuk mereaksikannya dengan K3Fe(CN)6. Setelah digojog perlahan, terlihat gelembung udara yang dihasilkan lebih sedikit, hal ini dikarenakan O2 yang terikat pada darah, sebelumnya sudah banyak yang dilepaskan saat pemanasan sehingga dengan oksidasi menggunakan K3Fe(CN)6, O2 yang terlepas hanya sedikit. O2 yang terlihat sudah tidak dapat berikatan dengan Hb karena Fe2+ pada Hb berubah menjadi Fe3+. Dari hasil pengamatan yang diperoleh ditemukan beberapa kesalahan, yaitu warna darah setelah ditambahkan stokes berubah menjadi hitam. Seharusnya warna merah kecoklatan setelah penambahan stokes tetap berwarna merah kecoklatan karena tidak dapat berubah menjadi Fe2+. Penyebab dari kesalahan ini adalah darah yang digunakan sudah mengalami penggumpalan sebelum dijadikan sampel sehingga darah sudah bukan darah segar yang diinginkan sesuai prosedur.

G. Kesimpulan Dari data hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan mengenai pengujian methemoglobin, maka dapat disimpulkan bahwa 1. Ion besi (Fe2+) dalam molekul hemoglobin dapat dioksidasi menjadi Fe3+ membentuk methemoglobin 2. methemoglobin tidak dapat mengikat oksigen (O2)

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden, R.J dan J.S Fessenden. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 2. Erlangga : Jakarta.

Ganong, W.F. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Guyton, A.C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Murray, R.K, dkk. 2006. Biokimia Harper. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Schumm, D.E. 1993. Intisari Biokimia. Binarupa Aksara : Jakarta.