Anda di halaman 1dari 11

1

STUDI PUSTAKA PEMANFAATAN PROSES BIOKONVERSI SAMPAH ORGANIK SEBAGAI ALTERNATIF MEMPEROLEH BIOGAS1 Oleh : Agung Nugroho Catur Saputro2, Budi Utami2, Lina Mahardiani2, Sri Yamtinah2 Abstrak
Dengan meningkatnya tumpukkan sampah di berbagai wilayah baik kota besar maupun daerah dan menjadi permasalahan yang sangat penting, maka perlu dipikirkan solusi cara penanganannya seperti dapat menjadikan sampah memiliki nilai tambah yang bermanfaat. Nilai tambah ini bukan hanya untuk memperlambat laju eksploitasi sumber daya alam, seperti lewat konsep Reuse, Recycle, and Recovery, namun juga pemanfaatan sampah dari produk proses pengolahan sampah itu sendiri. Pemanfaatan sampah antara lain sebagai sumber pupuk organik, misalnya kompos maupun bahan pembuat biogas dengan biokonversi oleh mikroorganisme. Penulisan makalah ini bertujuan untuk : 1). Mengetahui proses pembuatan Biogas dari sampah organik, 2). Memprediksi prospek penggunaan Biogas sebagai sumber energi alternatif, 3). Mengetahui desain teknologi pembuatan Biogas dari proses biokonversi sampah organik. Kesimpulan dari tulisan ini adalah : 1). Biogas dapat dibuat dari bahan-bahan organik yang dikonversi oleh mikroorganisme secara anaerob.,2). Biogas mempunyai prospek baik untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif.,3). Teknologi pembuatan Biogas sangat sederhana dan tidak memerlukan biaya yang tinggi.

A. PENDAHULUAN Sampah merupakan salah satu permasalahan utama dalam suatu wilayah. Jumlah sampah di kota-kota besar semakin banyak sedangkan metode pengolahannya belum cukup optimum dalam mengatasi laju pertambahan sampah. Di kota Surabaya sampah yang dihasilkan pada tahun 2002 rata-rata perhari mencapai 2.400 ton di mana 1.075,44 ton merupakan sampah organik. Kota Bandung menghasilkan sampah relatif setengah jumlah total sampah di kota Surabaya dan metode pengolahannya masih konvensional (Sulistyo P, 2003). Menurut berita di harian pagi Riau Pos, (3/1/2006),selama tahun 2005 volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar mencapai 1.171 meter kubik per hari. Sementara itu, dengan jumlah rumah tangga 150 ribu maka diasumsikan akan ada sebanyak 0,015 meter kubik volume sampah per hari untuk setiap keluarga. Namun dari 2.250 meter kubik sampah rumah tangga, yang terangkut hanya 39 persen sedangkan 61 persen masih menumpuk. Kepala Bappeda Kota Pekanbaru, Ir Dedi Gusriadi MT, mengatakan bahwa sampah tidak mungkin lagi dilakukan pembakaran karena akan menimbulkan polusi udara dan tidak akan memberikan manfaat apapun bagi masyarakat. Dari 1.372,5 meter kubik sampah kota yang belum terangkut, 70 persen adalah sampah organik, 20 persen lagi sampah plastik,
1 2

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Sumber Energi Hayati di FMIPA UNS, 8 April 2006 Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Kimia PMIPA FKIP UNS

serta 10 persen adalah sampah pilihan seperti kaca, plastik, kertas, dan logam. (www.riaupos.com). Dengan meningkatnya tumpukkan sampah di berbagai wilayah tersebut, maka perlu dipikirkan solusi cara penanganannya seperti dapat menjadikan sampah memiliki nilai tambah yang bermanfaat. Nilai tambah ini bukan hanya untuk memperlambat laju eksploitasi sumber daya alam, seperti lewat konsep Reuse, Recycle, and Recovery, namun juga pemanfaatan sampah dari produk proses pengolahan sampah itu sendiri. Sampah apa pun jenis dan sifatnya, mengandung senyawa kimia yang sangat diperlukan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun yang terpenting, bagaimana kita dapat menggunakan dan memanfaatkan sampah tersebut. Pemanfaatan sampah antara lain sebagai sumber pupuk organik, misalnya kompos yang sangat dibutuhkan oleh petani, selain itu juga berfungsi sebagai sumber humus. Manfaat lain yang bisa diambil dari sampah adalah bahan pembuat biogas. Penggunaan sampah untuk penyediaan energi telah lama dicoba, misalnya saja sebagai bahan bakar untuk penggerak mesin pembangkit listrik. Sampah juga dijadikan bahan baku untuk proses fermentasi non alkoholik dalam pembuatan biogas. Makalah ini merupakan studi pendahuluan tentang bagaimana memanfaatkan proses biokonversi sampah organik sebagai sumber biogas. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk : 1. Mengetahui proses pembuatan Biogas dari sampah organik 2. Memprediksi prospek penggunaan Biogas sebagai sumber energi alternatif 3. Mengetahui desain teknologi pembuatan Biogas dari proses biokonversi sampah organik B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Sampah Organik Sampah merupakan barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Pada kenyataannya sampah menjadi masalah yang selalu timbul baik di kota besar maupun di daerah-daerah. Beberapa alternatif bagaimana cara memanfaatkan sampah kota, sehingga mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi antara lain sampah dapat dimanfaatkan menjadi kompos, biogas (energi alternatif), papan komposit (komposit serbuk kayu plastik daur ulang), bahan baku dalam pembuatan bata (briket), pengisi

tanah, penanaman jamur, media produksi vitamin, media produksi Protein Sel Tunggal (PST), dan lain-lain. Sampah kota sebagian besar merupakan jenis sampah organik. Hal ini terlihat pada Tabel berikut. Komposisi (%) Bahan Organik Kertas Plastik Logam Kulit Kayu Tekstil Gelas Lain-lain Semarang 68,75 5,45 14,15 0,16 5,97 Bandung 73,25 9,70 8,58 0,50 0,40 3,60 0,90 0,43 2,64 Jakarta 73,92 10,18 7,86 2,04 0,55 0,98 1,57 1,75 1,22 (Sulistyo P, 2003)

Dari Tabel di atas tampah bahwa dengan mengolah bahan organik dari sampah kota, maka permasalahan sampah dapat direduksi lebih dari 60% total sampah yang dibuang tiap harinya. Berdasarkan beberapa data analisis yang telah dilakukan peneliti, kandungan kimia yang terdapat di dalam sampah sisa tanaman (Sulistyo P, 2003) adalah sebagai berikut : Kandungan Air Senyawa Organik Nitrogen Fosfor Kalium Kapur Karbon Prosentase 10 60 % 15 35 % 0,4 1,2 % 0,2 0,6 % 0,8 1,5 % 47% 12 17 %

Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos merupakan biokonversi yang sangat baik dimana sampah yang merupakan masalah dikonversi menjadi pupuk tanaman yang memiliki kandungan unsur hara yang tinggi dimana unsur hara ini merupakan komponen utama metabolisme pada tanaman.

2.

Biokonversi Sampah Organik oleh Mikroorganisme

Keberadaan mikroorganisme di alam mempunyai arti penting dan dampak positif terhadap pencemaran lingkungan. Kemampuan mikroorganisme untuk mendegradasi limbah dan polutan adalah sangat esensial untuk menjaga kualitas dan plingkungan. Keberadaan mikroorganisme tersebut menyebabkan bahan-bahan sisa di lingkungan dapat menghilang atau berubah bentuk. Berdasarkan kemampuan degradatif terhadap bahan organik, beberapa jenis bakteri telah dikomersialisasikan sebagai pupuk biologi atau konsorsia bakteri sebagai inokula penanganan limbah secara aerobik maupun anaerobik (Myrold & Nason dalam Sutariningsih,2002), antara lain Bacillus megaterium sebagai bakteri pelarut fosfat, Rhizobum melioti dan metanogen sebagai agensia penanganan limbah secara anaerobik dan pembuatan biogas. Penggunaan mikroorganisme untuk penanganan limbah memerlukan berbagai persyaratan yang perlu diperhatikan, antara lain komposisi limbah, teknik atau proses yang dikerjakan (dalam kondisi aerob atau anaerob) dan alat yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lokal. Optimasi aktivitas mikrobia pada dekomposisi sampah mempunyai implikasi ekonomi penting. Sebagai contoh, pemanfaatan gas metana dari lanfill dan digester anaerob dapat merupakan hasil aklhir yang dapat dipasarkan sebagai sumber tenaga. Di dalam pengomposan, hasil dekomposisi oleh mikroorganisme dapat mereduksi volume sampah, dan menghasilkan bahan yang mempunyai nilai ekonomi sebagai bahan pembenam tanah. Keuntungan lain yang dapat diperoleh dari perombakan sampah oleh mikrobia adalah timbul panas. Panas tersebut dapat menurunkan bahkan membunuh mikrobia patogen. 3. Pengertian Biogas Biogas atau gas bio merupakan salah satu jenis energi yang dapat dibuat dari banyak jenis bahan buangan dan bahan sisa, semacam sampah, kotoran ternak, jerami, eceng gondok serta banyak bahan-bahan lainnya lagi. Pendeknya, segala jenis bahan yang dalam istilah kimia termasuk senyawa organik, entah berasal dari sisa dan kotoran hewan ataupun sisa tanaman, dapat dijadikan bahan biogas. Biogas merupakan campuran beberapa gas dengan komposisi sekitar 40 - 75 % metana (CH4), 25 - 60 %

karbon dioksida (CO2), dan sekitar 2 % gas lain (hidrogen, hidrogen sulfida dan karbon monoksida). Pembuatan dan penggunaan biogas sebagai energi seperti layaknya energi dari kayu bakar, minyak tanah, gas, dan sebagainya sudah dikenal sejak lama, terutama di kalangan petani Inggris, Rusia dan Amerika Serikat. Sedangkan di Benua Asia, tercatat negara India sejak masih dijajah Inggris sebagai pelopor dan pengguna energi biogas yang sangat luas, bahkan sudah disatukan dengan WC biasa. Di Indonesia, pembuatan dan penggunaan biogas mulai digalakkan pada awal tahun 1970-an, terutama karena bertujuan memanfaatkan buangan atau sisa yang berlimpah dari benda yang tidak bermanfaat menjadi yang bermanfaat, serta mencari sumber energi lain di luar kayu bakar dan minyak tanah. Berdasarkan bahan-bahan untuk membuat biogas, cara dan lingkungan untuk menghasilkannya, sebenarnya biogas dapat dihasilkan di manapun. Pembuatan biogas bisa dalam bentuk yang sederhana (untuk kepentingan rumah-tangga terbatas) ataupun dalam bentuk yang sedang atau besar (untuk kepentingan bersama beberapa rumah atau lebih). Juga menyangkut tempat atau bejana untuk membuatnya. Secara sederhana dari drum bekas yang masih kuat atau sengaja dibuat dalam bentuk bejana dari tembok atau bahan-bahan lainnya.(http://www.pikiran-rakyat.com). C. PEMBAHASAN 1. Proses Pembuatan Biogas Biogas dibuat melalui fermentasi anaerobik. Selama proses ini, bahan-bahan organik didekomposisi oleh mikroorganisme. Pada awal proses dekomposisi, bahan organik dipecah menjadi molekul molekul lain seperti glukosa, asam amino, gliserin, dan asam lemak. Pada proses pembuatan biogas, mikroorganisme mengubah (konversi) bahanbahan organik menjadi gas hidrogen dan gas karbon dioksida yang kemudian lebih lanjut diubah menjadi gas metana dan air (http://www.fnr-

server.de/cms35/Biogas.399.0.html) menurut reaksi : CO2 + 4H2 CH4 + 2H2O

Akibat penguraian bahan organik yang dilakukan jasad renik tersebut, maka akan terbentuk zat atau senyawa lain yang lebih sederhana (kecil), serta salah satu di antaranya berbentuk CH4 atau gas metan. Gas metan yang bergabung dengan CO2 atau

gas karbondioksida yang kemudian disebut biogas dengan perbandingan 65 : 35. Seperti sampah atau jerami yang diproses menjadi kompos memerlukan persyaratan dasar tertentu, demikian pula dalam proses pengubahan sampah atau buangan menjadi biogas, memerlukan persyaratan tertentu yang menyangkut: 1. Kandungan atau isi yang terkandung dalam bahan. Hal ini menyangkut nilai atau bandingan antara unsur C (karbon) dengan unsur N (nitrogen) yang secara umum dikenal dengan nama rasio C/N. Perubahan senyawa organik dari sampah atau kotoran kandang menjadi CH4 (gas metan) dan CO2 (gas karbon dioksida) memerlukan persyaratan rasio C/N antara 20 - 25. Sehingga kalau menggunakan bahan hanya berbentuk jerami dengan rasio-C/N di atas 65, maka walaupun CH4 dan CO2 akan terbentuk, perbandingan CH4 : CO2 = 65 : 35 tidak akan tercapai. Mungkin perbandingan tersebut bernilai 45 : 55 atau 50 : 50 atau 40 : 60 serta angka-angka lain yang kurang dari yang sudah ditentukan, maka hasil biogasnya akan mempunyai nilai bakar rendah atau kurang memenuhi syarat sebagai bahan energi. Juga sebaliknya kalau bahan yang digunakan berbentuk kotoran kandang, semisal dari kotoran kambing dengan rasio C/N sekira 8, maka produksi biogas akan mempunyai bandingan antara CH4 dan CO2 seperti 90 : 10 atau nilai lainnya yang terlalu tinggi. Dengan nilai ini maka hasil biogasnya juga terlalu tinggi nilai bakarnya, sehingga mungkin akan rnembahayakan pengguna. Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu rasio C/N terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi proses terbentuknya biogas, karena ini merupakan proses biologis yang memerlukan persyaratan hidup tertentu, seperti juga manusia. 2. Kadar air bahan yang terkandung dalam bahan yang digunakan, juga seperti rasio C/N harus tepat. Jika hasil biogas diharapkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku, maka bahan yang digunakan berbentuk kotoran kambing kering dicampur dengan sisa-sisa rumput bekas makanan atau dengan bahan lainnya yang juga kering, maka diperlukan penambahan air. Tapi berbeda kalau bahan yang akan digunakan berbentuk lumpur selokan yang sudah mengandung bahan organik tinggi, semisal dari bekas dan sisa pemotongan

hewan yang dicampur dengan sampah. Dalam bahannya sudah terkandung air, sehingga penambahan air tidak akan sebanyak pada bahan yang kering. Air berperan sangat penting di dalam proses biologis pembuatan biogas. Artinya jangan terlalu banyak (berlebihan) juga jangan terlalu sedikit (kekurangan). 3. Temperatur selama proses berlangsung, karena ini menyangkut "kesenangan" hidup bakteri pemroses biogas antara 27 - 28C. Dengan temperatur itu proses pembuatan biogas akan berjalan sesuai dengan waktunya. Tetapi berbeda kalau nilai temperatur terlalu rendah (dingin), maka waktu untuk menjadi biogas akan lebih lama. 4. Kehadiran jasad pemroses, atau jasad yang mempunyai kemampuan untuk menguraikan bahan-bahan yang akhirnya membentuk CH4 dan CO2. Dalam kotoran kandang, lumpur selokan ataupun sampah dan jerami, serta bahan-bahan buangan lainnya, banyak jasad renik, baik bakteri ataupun jamur pengurai bahan-bahan tersebut didapatkan. Tapi yang menjadi masalah adalah hasil uraiannya belum tentu menjadi CH4 yang diharapkan serta mempunyai kemampuan sebagai bahan bakar. Maka untuk menjamin agar kehadiran jasad renik atau mikroba pembuat biogas (umumnya disebut bakteri metan), sebaiknya digunakan starter, yaitu bahan atau substrat yang di dalamnya sudah dapat dipastikan mengandung mikroba metan sesuai yang dibutuhkan. 5. Aerasi atau kehadiran udara (oksigen) selama proses. Dalam hal pembuatan biogas maka udara sama sekali tidak diperlukan dalam bejana pembuat. Keberadaan udara menyebabkan gas CH4 tidak akan terbentuk. Untuk itu maka bejana pembuat biogas harus dalam keadaan tertutup rapat. Masih ada beberapa persyaratan lain yang diperlukan agar hasil biogas sesuai dengan persyaratan. Tetapi kelima syarat tersebut sudah merupakan syarat dasar agar proses pembuatan biogas berjalan sebagaimana mestinya. (http://www.pikiranrakyat.com). Syarat dasar dalam proses pembuatan biogas adalah C/N rasio antara 20-25, sedangkan pada sampah di atas 40. Karena itu, untuk menurunkan kelebihan tersebut diperlukan sumber N baru, baik berbentuk kotoran maupun pupuk (urea). Sebagai gambaran dalam skala kecil, sampah rumah menghasilkan 1.000 liter sampah atau 300

kg sampah, sudah bisa menghasilkan sekitar 50-60 persen gas CH4, metan, dan sisanya karbon dioksida. Dalam satu bulan sudah bisa menghasilkan biogas. Jelas kalau sudah dimanfaatkan untuk kompor gas sudah bisa menghemat bahan bakar yang harganya cukup mahal. Sementara sampah dari bioreaktor yang tidak bisa dikonversi dan berupa limbah dapat dimanfaatkan untuk kompos. Limbah kompos itu dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman (www.riaupos.com/web/content/view/5793/7/ -) 2. Prospek Penggunaan Biogas sebagai Alternatif Energi Masa Depan Biogas seperti pula gas lain yang sudah umum digunakan sebagai energi, dapat digunakan untuk banyak kepentingan, terutama untuk kepentingan penerangan dan memasak. Masalahnya sekarang karena lampu atau kompor yang sudah umum dan biasa dipergunakan untuk gas lain selain biogas tidak cocok untuk pemakaian biogas, sebelumnya memerlukan perubahan atau penyesuaian tertentu terlebih dahulu. Hal ini berkaitan karena bentuk dan sifat biogas berbeda dengan bentuk dan sifat gas lain yang sudah umum. Pusat Teknologi Pembangunan (PTP) ITB misalnya, telah sejak lama membuat lampu atau kompor yang dapat menggunakan biogas, yang asalnya dari lampu petromak atau kompor yang sudah ada. Perubahan dan penyesuaian dari lampu petromak atau kompor gas biasa yang dapat menggunakan biogas didasarkan kepada pertimbangan keselamatan dan penggunaan. Seperti misalnya sifat biogas yang tidak berwarna, tidak berbau dan sangat cepat menyala. Karenanya kalau lampu atau kompor mempunyai kebocoran, akan sulit diketahui secepatnya. Berbeda dengan sifat gas lainnya, sepeti gas-kota atau elpiji, maka karena berbau akan cepat dapat diketahui kalau terjadi kebocoran pada alat yang digunakan. Sifat cepat menyala biogas, juga merupakan masalah tersendiri. Artinya dari segi keselamatan pengguna. Sehingga tempat pembuatan atau penampungan biogas harus selalu berada jauh dari sumber api yang kemungkinan dapat menyebabkan ledakan kalau tekanannya besar. Kompor biogas yang telah disusun dan diujicoba PTP ITB tersusun dari rangka, pembakar, spuyer, cincin penjepit spuyer dan cincin pengatur udara, yang kalau sudah diatur akan mempunyai spesifikasi temperatur nyala api dapat mencapai 560C dengan warna nyala biru muda pada malam hari, dan laju pemakaian biogas 350

liter/jam, serta harganya diperkirakan antara Rp 2.500,00 sampai Rp. 3.000,00 saja (catatan tahun 1978). Sedang lampu biogas yang juga telah diubah dan diujicoba dari lampu petromak yang terdiri dari tiang pipa dan katup pengatur jarum spuyer, tiang pipa dan nosel spuyer, pipa pencampur gas dan udara, mur penjepit reflektor, ruang pembakar, kaus, semprong (kaca pelindung berbentuk silinder) dan reflektor, ternyata mempunyai harga antara Rp 4.500,00 sampai Rp 6.000,00 saja (tahun 1973). 3. Teknologi Sederhana Pembuatan Biogas dari Proses Biokonversi Sampah Organik Sampah-sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan biogas melalui proses biokonversi energi, seperti yang telah dilakukan beberapa peternak sapi perah. Proses pembuatan biogas ini dengan bantuan mikroorganisme bakteri pembusuk Clostridium butyrinum, Bacteroides, atau bakteri perut Escherechia coli, serta bakteri penghasil gas metan yaitu Methanobacter dan Methanobacilus. Mikroorganisme pengurai sampah pada umumnya merupakan kelompok bakteri heterotrof. Bakteri jenis ini memanfaatkan sampah-sampah organik atau sisa makhluk hidup sebagai sumber energinya. Bakteri yang sering dijumpai dalam sampah antara lain bakteri nitrit (Nitrosococcus), bakteri nitrat (Nitrobacter), Clostridium, dan sebagainya. Bakteri Clostridium merupakan mikroorganisme pembusuk utama, berperan dalam menguraikan asam amino dalam protein makhluk hidup, baik dari sampah tumbuhan maupun sampah hewan menjadi suatu senyawa amoniak. (http://www.pikiranrakyat.com). Seperti sudah diuraikan sebelumnya, biogas dapat dibuat dari sisa, buangan ataupun kotoran. Yang penting sisa dan buangan tersebut berbentuk senyawa organik, seperti yang berasal dari tanaman ataupun hewan. Bahan yang dapat digunakan untuk membuat bak, alat atau bejana pembuat dan penampung biogas, juga tidak perlu dari bahan yang mahal atau sukar untuk didapatkannya. Drum bekas asal masih kuat, merupakan bahan yang paling umum dipergunakan.

10

Biogas merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan sangat tinggi dan cepat daya nyalanya. Karenanya sejak biogas berada pada bejana pembuatnya sampai digunakan untuk penerangan ataupun memasak, harus selalu dihindari kehadirannya dari api yang dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan. Hal ini berhubungan dengan kemungkinan terjadinya kebocoran pada peralatan yang tidak diketahui. Membuat biogas bukan semata-mata tergantung kepada bahan yang dipergunakan, kepada alat atau bejana yang digunakan, tetapi juga masih ada faktor-faktor lain yang menyertainya, yang langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil. Misalnya kita sudah memasukkan bahan-bahan yang diperlukan dalam bejana pembuat yang disertai dengan starter yang dibutuhkan. Tetapi ternyata beberapa hari kemudian, bejana penampung hasil tidak naik-naik. Kalau hal ini terjadi ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama bejana penampung hasil bocor, hingga secepatnya harus dicari dan ditambal atau proses pembuatan biogas tidak berjalan. Bahan pembuat biogas merupakan bahan organik berkandungan nitrogen tinggi. Selama proses pembuatan kompos yang akan keluar dan tergunakan adalah unsur-unsur C, H, dan 0 dalam bentuk CH4 dan CO2. Karenanya nitrogen yang ada akan tetap bertahan dalam sisa bahan, kelak menjadi sumber pupuk organik (http://www.pikiranrakyat.com). D. SIMPULAN Berdasarkan uraian pembahasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Biogas dibuat dari berbagai jenis bahan buangan dan bahan sisa, semacam sampah, kotoran ternak, jerami, eceng gondok serta banyak bahan-bahan lainnya lagi yang masih termasuk senyawa organik, entah berasal dari sisa dan kotoran hewan ataupun sisa tanaman, melalui fermentasi anaerobik oleh mikroorganisme yang mengubah (konversi) bahan-bahan organik menjadi gas hidrogen dan gas karbon dioksida yang kemudian lebih lanjut diubah menjadi gas metana dan air menurut reaksi :
CO2 + 4H2 CH4 + 2H2O

Biogas merupakan campuran beberapa gas dengan komposisi sekitar 40 - 75 % metana (CH4), 25 - 60 % karbon dioksida (CO2), dan sekitar 2 % gas lain (hidrogen, hidrogen sulfida dan karbon monoksida).

11

2. Biogas mempunyai prospek bagus untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif karena banyak kegunaannya, seperti sebagai bahan bakar kompor mauoun lampu biogas sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Pusat Teknologi Pembangunan ITB. 3. Teknologi pembuatan Biogas sangat sederhana dan tidak memerlukan biaya yang tinggi sehingga bisa dilakukan oleh setiap orang, khususnya petani dan peternak.

DAFTAR PUSTAKA Alternatif Pengolahan Sampah di Pekanbaru. www.riaupos.com/web/content/view/

5793/7/ diakses 20 maret 2006 Biogas .http://www.fnr-server.de/cms35/Biogas.399.0.html. diakses 20 maret 2006 Briket Limbah Menghilangkan Sampah. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005 /0405/07/cakrawala/penelitian03.htm diakses 20 maret 2006 Menuai Biogas dari Limbah. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0405/07/ cakrawala/penelitian03.htm diakses 20 maret 2006 Sulistyo Putro,H. 2003. Studi Biokonversi Sampah Organik oleh Mikroba Probiotik Menggunakan Model Sampah Organik dalam Reaktor Sederhana. Proseding Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia II. LIPI Jakarta Sutariningsih Soetarto,E. 2002. Penggunaan Mikroorganisme sebagai Agensia Bioremedasi, Sanitasi dan Perombak Limbah. Makalah seminar sosialisasi Fakultas Biologi UGM ke beberapa SMU di Surakarta. Surakarta, 3 Agustus 2002