Anda di halaman 1dari 10

Modul 2

Metoda Perancangan
Dosen : Edy Muladi

TEORI DALAM MENINJAU KARYA DESAIN


Mahasiswa diharapkan dapat memahami dengan baik pentingnya meletakkan tujuan perancangan dan berbagai teori pendukungnya..

Keilmuan desain modern berkembang secara bertahap sejak awal abad ke-20, ketika lembaga pendidikan Bauhaus mulai menyelenggarakan pendidikan dan membagi bidang-bidang ilmu perancangan atas beberapa bagian, yaitu (1) arsitektur, (2) seni rupa, dan (3) sains. Sedangkan dalam wacana desain secara umum, akar dari keilmuan desain tidak terlepas dari tiga pokok keilmuan yang ada, yaitu Sains, Seni, dan Keterampilan (teknologi). Ketiga pokok keilmuan tersebut kemudian membangun paradigma sendiri yang saling mengikat untuk kemudian melahirkan ranting-ranting baru yang menjadi cabang keilmuan desain. Kedekatan Sains, Komunikasi, dan Seni rupa kemudian melahirkan Desain Grafis. Kedekatan Sains, Teknologi, dan Seni rupa kemudian melahirkan Desain Produk Industri. Kedekatan Sains, Arsitektur, dan Seni rupa kemudian melahirkan Desain Interior. Ken Friedman mencoba membuat sebuah model integratif yang menjadi dasar epistemologi bangun ilmu desain. Keenam pilar yang menjadi domain keilmuan desain tersebut adalah sains, humaniora, ilmu sosial, yang kemudian melandasi teori-teori desain, sedangkan teknologi, seni terapan dan dunia keprofesian membentuk domain praksis kegiatan desain. Perkembangan keprofesian yang kian kompleks tersebut akhirnya menumbuhkan berbagai keilmuan, baik ilmu yang tumbuh dari cabang ilmu desain sendiri atau rona yang berdekatan, seperti Metodologi Desain, Teknik Presentasi, Manajemen Desain,

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

Pemodelan Digital, Semantika Produk, Fotografi Desain, Desain Multimedia, dan sebagainya. Di lain pihak, sebagai bagian dari tradisi akademis di lingkungan perguruan tinggi, tumbuh pula ilmu-ilmu yang bersifat apresiatif dengan berbagai pendekatan teoretis, di antaranya Tinjauan Desain, Sejarah Desain, Sosiologi Desain, Semiotika Desain, dan sebagainya. Dalam konteks keilmuan yang lebih makro, kegiatan desain secara luas hakikatnya terbentuk sebagai paduan antara sains, seni, dan teknologi. Ketiga unsur pembentuk ini berlangsung sinergis dengan perkembangan zaman dan cabang disiplin keilmuan desain. Pada kegiatan yang bermuatan estetik cukup besar, maka nuansa keilmuan seninya tentu semakin kental, seperti desain perhiasan, pakaian, ilustrasi, desain kriya, dsb. Pada kegiatan desain yang bermuatan teknologi cukup besar, maka nuansa keilmuannya cenderung semakin kental dengan aspek-aspek sains dan teknologi, seperti desain otomotif, desain pesawat terbang, desain peralatan kedokteran, dan sebagainya. Sedangkan desain yang bermuatan keilmuannya besar, nuansa keilmuannya cenderung semakin kental dengan eskperimen dan penerapan prinsip sains baru, seperti desain dengan material baru, desain dengan kajian ergonomik tinggi, desain berwawasan lingkungan, desain untuk memecahkan masalah sosial, dan sebagainya. Perkembangan keilmuan desain dalam tiga dasawarsa terakhir di Indonesia sebagaimana terpaparkan dalam bagan di atas, masih terbatas pada terbentuknya teori-teori desain dan praksis desain dalam menyelenggarakan kegiatan profesionalnya. Kurang berkembangnya kegiatan penelitian dalam bidang desain menyebabkan tumbuhnya ilmu-ilmu desain tidak secepat bidang keilmuan yang lain. Demikian pula dengan atmosfir profesional yang kurang kondusif, menyebabkan kualitas

Berkembangnya pendidikan desain di lingkungan perguruan tinggi memicu pula pertumbuhan ilmuilmu desain. Ilmu-ilmu tersebut tadinya bukan merupakan hal utama dalam proses perancangan, tetapi kemudian berkembang menjadi ilmu yang spesifik mengkaji berbagai aspek yang berhubungan dengan desain. Demikian pula teori-teori untuk mengupas dan menganalisis objek desain berkembang dengan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

amat variatif, baik yang diadopsi dari teori ilmu lain, ataupun yang lahir dari penelitian desain sendiri. A. TEORI KRITIK SENI Dalam konteks yang luas, desain dapat diindikasikan sebagai wahana nilainilai, jiwa zaman, gaya hidup, citra peradaban, cita rasa, dan fenomena budaya yang dapat diterapkan pada segala aspek kehidupan yang diperbedakan dengan alam, permesinan, atau "sesuatu " yang bebas nilai.4 Runtuhnya paradigma terdapatnya seni tinggi (high art) dan seni rendah (kerajinan, desain, arsitektur), merupakan pertanda bahwa teori kritik seni mengalami perubahan yang mendasar. Peradaban manusia menunjukkan, bahwa seni (art) bukan hanya sekedar pelampiasan ekspresi rasa saja, tetapi juga merupakan bagian perwujudan karya-karya fisik fungsional. Dalam konteks antropologi budaya, dapat kita ambil contoh misalnya karya tembikar, karya arsitektur, karya kerajinan, karya rancangan hingga karya keterampilan-keterampilan praktis yang melibatkan unsur estetik di dalamnya. desain Beberapa kritikus konvensional kerap mengelompokkan sebagai Minor-Art, AppliedArt, Populer-Art,

Decorative-Art, Industrial-Art, dst. Pandangan yang sempit ini awalnya kurang menumbuhkan apresiasi dan penulisan tentang desain dari para kritikus seni, sebagaimana terjadi di Indonesia. Pandangan-pandangan ini tentu tidak salah, tetapi sudah tidak sesuai dengan zaman dan perkembangan ilmu desain yang telah berubah. Perubahan ini di masyarakat Barat mulai terlihat, ketika berbagai buku membahas tentang karya desain dan gagasan-gagasan perancangnya. Dalam konteks yang luas, kini desain memiliki indikasi kuat sebagai wahana yang bermuatan nilai-nilai, di samping menyuarakan jiwa zaman, gaya hidup, citra peradaban, cita rasa, dan fenomena budaya masyarakatnya. Hal itu diperbedakan dengan karya yang hanya mengutamakan segi fungsi atau karya yang terlalu mekanistis. Mengingat begitu luasnya nilai-nilai yang menyertai objek desain, maka karya-karya yang bermuatan nilai-nilai tersebut dapat dikritisi dan dianalisis dari berbagai sudut pandang. Dalam beberapa dekade terakhir ini telah berkembang teori-teori di lingkungan akademis yang dipakai untuk mengupas dan menganalisis Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

desain, terutama kajian-kajian budaya (studi budaya) dan kritik terhadap gaya-gaya desain yang diuraikan berdasar pendekatan deskriptif.

b.

TEORI BAHASA RUPA Nilai-nilai estetik yang menyertai budaya rupa dapat pula dicermati sebagai analogi ilmu linguistik. Unsur-unsur ungkapan yang hadir dalam satu artifak dapat dinilai sebagai `bahasa rupa' yang mengkomunikasikan satu narasi ataupun simbol. Dengan demikian, dalam konteks bahasa rupa, unsurunsur rupa dapat dianalogikan sebagai satu gramatika bentuk, warna, dan nilai yang mengungkapkan suatu komunikasi `verbal'. Ungkapan-ungkapan gambar, baik yang merupakan karya seniman besar, anak-anak, masyarakat primitif maupun karya seorang perancang dapat kita nilai misi dan sasaran komunikasinya. Sebuah relief pada dinding candi Borobudur misalnya, dapat dicermati sebagai sebuah narasi verbal tentang peristiwa yang terjadi dalam masyarakat pada waktu tertentu. Demikian pula sebuah pesawat `Concorde' dapat dicermati sebagai sebuah komunikasi masyarakat perancangnya dalam menguasai teknologi dan tingkat peradaban di masa modern. Unsur ungkapan itu, dapat disimak dari `gestalt' bahasa rupa secara keseluruhan, ataupun dad detil-detil rupa yang membangun keseluruhan desain secara utuh.

C.

TEORI SEMIOTIKA Memahami tanda-tanda peradaban desain secara struktural merupakan wahana kajian semiotik yang tidak ada habis-habisnya. Kajian semiotik lebih menekankan aspek-aspek struktur dari bahasa rupa, sedangkan kajian semantik cenderung merupakan kajian yang bersifat hermeneutik yang lebih menekankan kepada makna nilai-nilai dan budaya. Namun dalam memahami bahasa rupa, kajian semiotik menjadi tren di kalangan para periset muda. Kajian semiotik juga dapat memaparkan bahasa rupa apa adanya tanpa harus adanya keterlibatan dari apresiator untuk menafsirkan. Pengamat dapat memahami `struktur' bahasa rupa, baik yang berkaitan dengan ikon, indeks, tanda, simbol ataupun kode budaya yang terdapat di dalamnya.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

Demikian pula dengan makna konotatif maupun denotatif sebuah teks budaya rupa yang dijadikan objek kajian.

D.

TEORI TRANSFORMASI BUDAYA Teori transformasi budaya yang berkembang di tahun 1970-an merupakan sebuah pendekatan untuk , memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada sejarah kebudayaan manusia, termasuk juga karya budaya bendanya. Teori ini pada hakikatnya merupakan bagian dari pendekatan sejarah dalam mengamati sejarah peradaban manusia dari zaman ke zaman yang dicermati dari unsur-unsur artifak yang dihasilkannya. Teori transformasi budaya secara garis besar merupakan pengamatan perubahan dan pergeseran fenomena desain dalam satu rentang waktu tertentu. Dalam rentang waktu tersebut dicatat dan diamati faktor-faktor desain yang menjadi ciri utama perubahan, serta proses akulturasi dan inkulturasi yang terjadi. Secara umum transformasi budaya diawali oleh adanya unsur keterbukaan, baik yang dipaksakan ataupun karena karakter khas kebudayaan tertentu yang mudah menerima kehadiran kebudayaan asing. Teori ini mengamati satu peta perkembangan desain yang terjadi dalam saw kurun waktu yang panjang dan memerlukan dukungan data-data yang runtut dan bersinambungan. Dengan mengamati proses transformasi budaya dalam satu atau beberapa jenis karya desain, secara tidak langsung kita dapat pula menyusun sebuah strategi budaya di masa yang akan datang.

E.

TEORI STRATEGI PERADABAN Desain, sebagai karya budaya fisik, lahir dari berbagai pertimbangan pikiran, gagasan, rasa, dan jiwa penciptanya, yang didukung oleh faktor luar menyangkut penemuan di bidang ilmu dan teknologi, lingkungan sosial, tata nilai, budaya, kaidah estetika, kondisi ekonomi dan politik, hingga proyeksi terhadap perkembangan yang mungkin terjadi di masa depan. Sementara itu, di masyarakat Indonesia, desain masih merupakan hal yang `tak disadari' (unconscious activity).

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

Desain dengan segala permasalahannya, terutama dari segi keilmuan, diyakini memiliki makna tersendiri, terutama dilihat dari unsur kesejarahannya. Di negara-negara maju, desain telah dianggap sebagai sesuatu "yang mewakili" peradaban bangsa, yang mewahanai perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, seni, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Hal itu terbukti dari banyaknya buku-buku dan karya tulis mengenai desain, di samping menjamurnya perguruan tinggi desain, penghargaan profesi yang tinggi, kegiatan pameran, seminar, dan pusat-pusat riset desain. Singapura misalnya, yang pada tahun 1980-an belum dikenal sebagai "negara desain", atas inisiatif Kepala Negara dan Kementrian Luar Negerinya, melakukan terobosan untuk menyelenggarakan International Design Forum dan usaha-usaha memajukan pendidikan tinggi desain di dalam negeri. Maka pada dekade 1990-an, negara ini menjadi negara yang diperhitungkan dikarenakan dalam khasanah tangan karyakarya desainnya. dalam Hal tersebut strategi campur pemerintah menentukan

peradaban bangsa Singapura di masa yang akan datang. Demikian pula dengan Malaysia dan Thailand, yang telah mengalami kemajuan pesat dalam program pengembangan desainnya. Dan jauh sebelumnya, Philipina, atas insiatif IN Negara pada waktu itu, Ny. Imelda Marcos, mendirikan sentra-sentra desain kriya, negara ini kemudian menjadi kekuatan tersendiri dalam bidang desain di belahan timur. Demikian pula negara Indonesia semasa pemerintahan Orde Baru. Peranan Ibu Tien Soeharto tidaklah kecil dalam membangun Dekranas dan objek-objek desain kolosal, seperti Taman Mini Indonesia Indah. Hal itu menunjukkan telah adanya strategi peradaban yang digagas oleh tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah. Namun berbeda dengan Indonesia, strategi desain pemerintah Singapura sudah berlanjut pada pendayagunaan competitive edge, menempatkan "desain" sebagai salah satu titik perhatian utamanya. Tidak mengherankan kalau saat ini, Singapura menempuh berbagai cara mengatasi masalah keterbatasan lahan industri dan tenaga kerja dengan menawarkan konsep segitiga pertumbuhan Singapura-MalaysiaIndonesia (SIJORI: SingapuraJohor-Riau), yang dalam kerjasama ini Singapura menjadi motornya. Hasilnya sudah dapat dilihat di Indonesia, saat negara Singapura ini sudah Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

melakukan ekstensifikasi industri ke propinsi Riau di pulau Bintan (untuk industri ringan), di pulau Batam (untuk industri menengah), dan di pulau Karimun (untuk industri berat). Dan kini Singapura dengan percepatannya telah berhasil menjadi negara `desain' yang diperhitungkan secara internasional, terutama setelah berhasil menyelenggarakan beberapa forum desain internasional. Di pihak lain, peran desain dinilai semakin penting dalam peradaban manusia, terutama guna menunjang pertumbuhan industri dan peningkatan kualitas hidup manusia. Namun demikian, sejarah menunjukkan bahwa dampak sosial yang ditimbulkannya juga tidak kecil. Kenyataan mencatat, bahwa karya desain dan desainer tak dapat mengelak dari tanggung jawab sosial dan moral masyarakat, di samping juga sebagai "tanda-tanda" positif kemajuan bangsa yang beradab. F. TEORI SEJARAH SOSIAL DESAIN Dalam rentang waktu perjalanan sejarah peradaban manusia, desain merupakan wujud kebudayaan teraga yang dapat diinterpretasikan keberadaannya sebagai sebuah teks sosial yang bermakna. Melalui desain, pengamat dapat mencermati konsep berpikir setiap peradaban, bahkan kebijakan politik, budaya, tingkat teknologi, dan juga konsep ekonomi yang menyertainya. Teori ini mengandung kemiripan dengan teori transformasi budaya, hanya penekanannya saja yang berbeda. Dalam sejarah sosial, yang menjadi objek utama adalah pemikiran-pemikiran desain dan pengaruh desain dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, dapat dicermati: mengapa suatu objek desain An hadir, menghilang, atau memicu perubahan. Beberapa kajian sejarah sosial desain di antaranya dapat memaparkan halhal sebagai berikut: Latar belakang terjadinya perubahan-perubahan masyarakat modern di negara Barat, khususnya yang berhubungan dengan nilai-nilai masyarakatnya;

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

Menelusuri "jejak" sejarah desain, ditinjau dari aspek sosial, pola pikir, dan peristiwa penting yang berhubungan; Mengkaji kemajuan gagasan desain dan teknologi di berbagai negara beserta dampak sosialnya; Memahami sejumlah perubahan dan pergeseran gagasan desain, serta pengaruhnya pada kelahiran sejumlah paham estetika, gaya hidup, dan dinamika pembangunan;

Menilai dan menyimpulkan pola perkembangan desain di negara maju, Sebagai studi perbandingan, tentang bagaimana interelasi antara perkembangan desain dan pertumbuhan masyarakat Barat.

Harapan yang ingin dicapai, adalah memberikan gambaran secukupnya bagi kerangka tinjauan sejarah sosial desain secara luas, dan masukan bagi kajian desain dari sudut lain. Di samping itu, aspek yang utama dari tulisan ini adalah munculnya apresiasi dan kesadaran, bahwa negara-negara maju memiliki identitas kuat pada karya-karya desainnya. F. TEORI POSKOLONIAL Dalam perkembangan ilmu-ilmu kemanusiaan, berkembang wacana kajian di sejumlah negara yang mengarah pada terapan teori-teori tentang posstrukturalis, filsafat dekonstruksi, dan teori mengenai gender. Aura teori alternatif tersebut kemudian membuka peluang alternatif lain bagi para pemikir di negara-negara yang mengalami proses kolonialisasi, yaitu teori tentang Poskolonialisme. Beberapa pengamat menilai bahwa teori poskolonial berpijak atas dialektika antara Marxisme dan Pos-strukturalisme/Posmodernisme. Marxisme yang dinilai sebagai suatu ideologi yang mampu menyadarkan kaum kapitalis akan pentingnya keberpihakan kepada masyarakat bawah, dan Posmodern yang dinilai sebagai suatu alternatif kritis untuk menyerang Modernisme karena telah menciptakan masyarakat dekaden dan berkembangnya dehumanisasi, maka teori Poskolonial dianggap sebagai teori kritis yang `non-Barat' serta berusaha membangun eksistensi kebudayaan masyarakat `nonBarat' itu di tengah-tengah percaturan akademik.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

Gayatri Spivak di tahun 1985 secara kritis mengecam tindakan pemarjinalan ras dan kelas sosial di lingkungan masyarakat akademik Barat. Pemikiran kritis Spivak tersebut menyadarkan sekelompok akademisi untuk mengkaji peluang masyarakat bangsa yang pernah mengalami kolonialisasi dan dampak kolonialisasi tersebut selama beberapa generasi. Fenomena ini tumbuh akibat banyaknya buku-buku yang terbit di masyarakat Barat yang menutupi kekejian pemerintahan kolonial, dengan memaparkan keberhasilan pembangunan flsik di negara-negara jajahan. Bahkan sejumlah buku dengan edisi mewah berhasil menampilkan keterjagaan budaya etnik selatna proses kolonialisasi dibandingkan kondisi masa kini setelah bangsa-bangsa tersebut merdeka. Kegagalan negara-negara berkembang, terutama di Afrika, menunjukkan bahwa bahwa proses kolonialisasi jauh lebih bermakna dibandingkan kondisi yang sekarang dengan berbagai kerusuhan rasial, hancurnya sejumlah kebudayaan etnik dan semakin tidak berdayanya si lemah menghadapi era global yang semakin kompetitif. Kondisi tersebut kemudian memunculkan keterjajahan baru, negaranegara miskin hanyalah merdeka secara geografis, tetapi tetap terjajah dari segi budaya, ekonomi, dan informasi. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, fenomena keterjajahan itu semakin nampak melalui ketergantungan ekonomi, politik, dan budaya pada negaranegara besar. Edward Said menyatakan bahwa penjajahan merupakan takdir abadi, dan hal tersebut merupakan situasi absurd dan amat tidak adil. Kebangkitan ekonomi dan penguatan ideologi religiusitas di sejumlah negara yang pernah terjajah, oleh masyarakat Barat dikebiri melalui ketergantungan hutang luar negeri dan permainan mata uang. Bahkan beberapa bangsa dan etnis tertentu yang mengalami pemantapan terhadap ideologi dan nilainilai keagamaan mereka, diberi marka sebagai negara teroris. Ketidakberimbangan kondisi di atas membuka peluang bagi tumbuhnya teori Poskolonial di negara-negara berkembang dalam memandang masyarakat Barat dan karya-karyanya secara kritis pula.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN

Meskipun masih dalam bentuk wacana dan perdebatan, kajian Poskolonial dalam bidang desain dan budaya rupa pada umumnya dapat memaparkan fenomena: Bentuk kekuasaan `Barat' atas negara-negara terbelakang dan negara berkembang. Pengaruh pada Nasionalisme dan politik kebangsaan pada setiap negara berkembang. Pemaparan secara kritis melalui kecurigaan adanya tekstualitas masyarakat Barat terhadap kebudayaan benda yang dihasilkan negara-negara bekas jajahan. Penularan gaya hidup masyarakat Barat di negara-negara berkembang. Hegemonisasi ideologi kebudayaan pada pemikir dan karya-karya desain di negara berkembang. Tumbuhnya perusakan pada nilai-nilai kemanusiaan, dampak globalisasi, berkembangnya kebudayaan hibrid, bergesernya nilai-nilai moral, dan runtuhnya etika.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ir. Edi Muladi METODE PERANCANGAN