Anda di halaman 1dari 7

PENERAPAN STATIC VAR COMPENSATION UNTUK PERBAIKAN FAKTOR DAYA DAN DISTORSI HARMONISA PADA JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA

LISTRIK DI PT.KRAKATAU STEEL COLD ROLLING MILL Nofri Ardella Jurusan Teknik Elektro Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jl. Jendral Sudirman KM.3 Kota Cilegon nofri_pegasus@yahoo.co.id
Abstrak Gangguan sistem kelistrikan yang timbul akibat penggunaan beban yang memerlukan daya relatif besar berupa harmonisa dan jatuh tegangan dapat mengakibatkan kinerja peralatan berkurang untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan peralatan berupa Static Var Compensator (SVC). Penggunaan SVC diperlukan untuk memperbaiki faktor daya dan pengurangan arus harmonisa, SVC terdiri dari dua peralatan utama yaitu TCR (Thyristor Controlled Reactor)dan Filter circuit. SVC memiliki kemampuan untuk mengkompensasi harmonisa arus jala-jala. THD arus jala-jala sebelum terpasang SVC adalah 2.8 % dan setelah terpasang SVC turun menjadi 0.48 % dengan kenaikan faktor daya dari 0,71 menjadi 1, faktor daya yang kurang baik pun akan mengakibatkan biaya listrik meningkat, dengan pemasangan sistem ini biaya penghematan sebesar 27,7 %. Kata kunci : SVC, THD, Faktor daya, TCR, Filter circuit Sistem Daya Listrik I. PENDAHULUAN 1. Daya Aktif Daya aktif adalah jumlah daya yang Proses industri untuk pembuatan baja terpakai untuk melakukan energi yang dingin di PT.Krakatau Steel Cold Rolling Mill sebenarnya. Daya yang diserap oleh beban sama menggunakan peralatan yang relatif memerlukan dengan jatuh tegangan (voltage drop) pada daya yang besar, dengan penggunaan peralatan beban tersebut dikalikan dengan arus yang yang besar timbul gangguan-gangguan akibat mengalir melewati beban. Rumus daya listrik adanya ketidakstabilan dalam penggunaan secara umum dinyatakan dalam persamaan 2.1. listrik. P = V . I . cos (2.1) Gangguan sistem kelistrikan yang dimana, P = daya listrik (watt) timbul dapat berupa frekuensi harmonisa, V = tegangan kerja rangkaian (volt) fluktuasi tegangan, jatuh tegangan, dan kedip I = arus yang mengalir (ampere) tegangan (flicker). Cara mengatasi atau = beda fasa antara tegangan dan memperkecil hal tersebut maka sangat arus (dalam derajat) diperlukan suatu alat atau sistem yang dinamakan Static Var Compensator (SVC). Daya aktif inilah yang biasanya dikonversikan Komponen utama dari SVC (static var dalam bentuk kerja. Daya aktif sangat compensator) ini terdiri dari TCR (thyristor dibutuhkan oleh beban untuk dapat bekerja controlled reactor) dan Filter circuit. dengan baik. Dalam energi listrik, daya Terpasangnya SVC (static var compensator) dikatakan baik apabila nilai dari arus adalah yang terdiri dari TCR (thyristor controlled sefasa dengan tegangan. reactor) dan rangkaian kapasitor diharapkan 2. Daya Reaktif suplai energi listrik tetap terjaga dan kualitas Daya reaktif adalah suatu daya yang daya listrik yang disalurkan memiliki kualitas biasanya digunakan elemen reaktif seperti yang baik. induktor dan kapasitor. Daya ini merupakan daya yang dibutuhkan untuk pembentukkan medan magnet. Umumnya daya reaktif II. DASAR TEORI

2 dilambangkan dengan notasi Q dan dinyatakan dengan persamaan : Q = V . I . sin (2.2) dimana, Q = daya reaktif (VAR) 3. Daya Nyata Daya nyata (apparent power) adalah daya yang diproduksi oleh perusahaan sumber listrik untuk didistribusikan ke konsumen, yaitu hasil perkalian antara harga rms (root mean square) dari tegangan dan arus dalam suatu jaringan. Nilai rms merupakan nilai efektif dalam suatu pengukuran. Daya nyata (S) dinyatakan melalui persamaan 2.3. S=V.I (2.3) dimana, S = daya nyata (VA) Jika nilai tegangan dan arus sudah diketahui, maka perhitungan untuk daya nyata P dan daya reaktif Q dapat dilakukan. Kuantitas yang dibentuk ini disebut juga sebagai daya kompleks. Dalam bentuk kompleks, daya nyata dinyatakan lewat persamaan 2.4. S = P + jQ (2.4) Hubungan antara daya aktif, daya reaktif dan daya nyata dapat dinyatakan dalam hubungan segitiga daya, yang ditunjukkan Gambar 2.1 100 %. Jika rangkaian beban mempunyai faktor daya mendekati 1, maka besar arus yang mengalir akan mencapai nilai minimumnya, dan sebaliknya. 5. Harmonisa Tegangan Harmonisa merupakan suatu permasalahan yang terjadi akibat dioperasikannya beban non-linear. Beban nonlinear mengganggu gelombang tegangan yang sinusoidal, yang mengakibatkan bentuk gelombang keluarannya menjadi tidak sama dengan gelombang masukannya (mengalami distorsi). Distorsi gelombang ini timbul karena adanya pembentukan gelombang-gelombang dengan frekuensi yang berbeda dari frekuensi dasarnya, yaitu dikenal sebagai frekuensi harmonisa. Gelombang-gelombang ini menumpang pada gelombang aslinya, sehingga terbentuklah gelombang cacat. Terdapat beberapa komponen harmonisa dalam suatu periode gelombang sinus yang terdistorsi, misalnya harmonisa ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya. Besarnya frekuensi harmonisa sesuai dengan persamaan 2.5. Gambar 2.2 menujukkan gelombang tegangan fundamental, harmonisa kedua, dan harmonisa ketiga. fn = n x f1 (2.5) dimana, n = bilangan bulat positif f1 = frekuensi fundamental Fundamental V1 sin t 1 siklus Harmonisa ke2 V2 sin 2t Harmonisa ke3 V3 sin 3t 1 siklus

Gambar 2.1 Segitiga Daya 4. Faktor Daya Faktor daya (power factor, PF), biasanya disebut cos , merupakan harga perbandingan antara daya aktif (P) dengan daya nyata (S), sesuai persamaan 2.10. Jika beban listrik bersifat induktif, maka fasa arus akan tertinggal dari fasa tegangan sebesar . Keadaan ini disebut lagging (tertinggal). Tetapi jika beban listrik bersifat kapasitif, maka fasa arus akan mendahului fasa tegangan dan kondisi ini disebut leading (mendahului). ( ) PF = cos = ( ) Faktor daya yang baik adalah faktor daya yang bernilai besar. Secara teori, faktor daya dapat mencapai 100 % (atau bernilai 1). Namun dalam kenyataannya faktor daya tidak dapat mencapai

V
1

V
2

1 siklus V3

Gambar 2.2 Tegangan Fundamental, Harmonisa (2.10) Kedua, dan Harmonisa Ketiga 6. Static Var Compensator

3 Static VAR Compensator (atau disebut SVC) adalah peralatan listrik untuk menyediakan kompensasi fast-acting reactive power pada jaringan transmisi listrik tegangan tinggi. SVC adalah bagian dari sistem peralatan AC transmisi yang fleksibel, pengatur tegangan dan menstabilkan sistem. Istilah static berdasarkan pada kenyataannya bahwa pada saat beroperasi atau melakukan perubahan kompensasi tidak ada bagian (part) SVC yang bergerak, karena proses komensasi sepenuhnya dikontrol oleh sistem elektronika daya. Jika power sistem beban reaktif kapasitif (leading), SVC akan menaikkan daya reaktor untuk mengurangikan VAR dari sistem sehingga tegangan sistem turun. Pada kondisi reaktif induktif (lagging), SVC akan mengurangi daya reaktor untuk menaikkan VAR dari sistem sehingga tegangan sistem akan naik. Pada SVC pengaturan besarnya VAR dan tegangan dilakukan dengan mengatur besarnya kompensasi daya reaktif induktif pada reaktor, sedangkan kapasitor bank bersifat statis. 2. 3. 4. 5. 6. Kontrol tegangan. Pengontrol daya reaktif Mereduksi harmonisa Memperbaiki stabilitas jaringan AC. Mencegah terjadinya ketidakstabilan tegangan

BAB III PEMBAHASAN

Gambar 3.1 single line diagram PT.KS CRM Komponen static var compensator (SVC) Komponen utama dari static var compensator antara lain: 1. TCR (Thyristor Controlled Reactor) Komponen dasar dari static var compensator jenis TCR terdiri dari suatu reactor atau induktansi L dan thyristor tipe SCR dengan gate anti paralel (bidirectional) yang dihubungkan secara seri. Rangkaian ini digunakan untuk mengatur daya reaktif induktif yang dihasilkan oleh reactor dengan mengatur tegangan pada reactor. Thyristor dapat menghantarkan arus apabila diberikan pulsa penyalaan pada gate thyristor, kemudian secara otomatis akan segera memutuskan hantarannya saat arus AC melewati nol, kecuali jika sinyal penyalaan digunakan kembali.

Gambar 2.3. One-line Diagram dari konfigurasi SVC a. Fungsi SVC dapat dengan cepat memberikan supply daya reaktif yang diperlukan dari sistem sehingga besarnya tegangan pada gardu induk dapat dipertahankan sesuai dengan standar yang diizinkan. Kestabilan tegangan pada gardu induk akan meningkatkan kualitas tegangan yang sampai kekonsumen, mengurangi losses dan juga dapat meningkatkan kemampuan penghantar untuk mengalirkan arus. Secara lebih rinci fungsi SVC adalah : 1. Meningkatkan kapasitas system transmisi.

Gambar 3.2. Rangkaian Thyristor Controlled Reactor (TCR) Fasa Tunggal TCR - FC Pada kompensator var statik (static var compensator/SVC) jenis konfigurasi TCR-FC, kapasitor fixed dihubungkan paralel dengan

4 TCR. Dengan demikian reaktansi atau arus dari kompensator var statik dapat diubah terus menerus diantara nilai minimum dan maksimumnya sebagai fungsi dari sudut hantaran (konduktansi). Kompensator gabungan ini dapat bekerja dalam keseluruhan faktor daya leading dan lagging. Rangkaian filter CRM ada 3 unit yang masingmasing 150Hz, 250Hz, dan 350Hz. Filter yang terpasang menyuplai daya kompensasi total adalah Qfilter = 50 MVAr Fungsi dari filter circuits adalah : Untuk filter arus harmonik pada jaringan Mengimbangi daya reaktif induktif, mengurangi tekanan pada Transformer dan jaringan akibat beban reaktif, sehingga meningkatkan faktor daya system. 1. Gambar 3.3. Rangkaian Kompensator Var Statik Jenis TCR-FC Fasa Tunggal Sistem Pendinginan TCR Sistem pendingin digunakan untuk menjaga temperatur thyristor agar tidak terjadi over heating ketika beroperasi. Pendinginan thyristor kompensasi CRM menggunakan sistem pendinginan dengan media air secara close loop circuit. Air untuk mendinginkan thyristor menggunakan air dionat (air yang mempunyai konduktivity kecil). Air dionat setelah mendinginkan thyristor didinginkan lagi oleh service water dari WTP PT. Krakatau Steel CRM. Reactor Reaktor shunt digunakan untuk mengkompensasi efek kapasitansi saluran, terutama untuk membatasi kenaikan tegangan pada rangkaian terbuka dan beban. Reaktor shunt dipasang secara permanen pada saluran untuk membatasi frekuensi pada saat terjadi tegangan berlebih.

Gambar 3.4. Reactor Reaktor tambahan juga diperlukan untuk menjaga nilai tegangan pada saat kondisi beban rendah. Reaktor tambahan tersebut dapat dipasangkan pada bus EHV atau pada bagian lilitan tersier transformator. Pada saat kondisi beban berlebih reaktor harus dilepas dengan memutus circuit breaker. 2. Capacitor Shunt (bank kapasitor) Bank kapasitor digunakan secara luas pada sistem distribusi untuk perbaikan faktor daya dan pengaturan tegangan feeder. Pada saluran transmisi, kapasitor bank berguna untuk mengkompensasi rugi-rugi XI2 dan memastikan tegangan terjaga pada level-nya pada saat beban penuh. Beban yang bersifat induktif akan menyerap daya buta, yang kemudian akan dapat

2. Filter Circuit Didalam sistem konversi daya penyearah tegangan tinggi, arus harmonik dibangkitkan yang kemudian mempengaruhi sistem jaringan bolak-baliknya dan akan menghasilkan tegangan-tegangan harmonic pada impedansi jaringan. Frekuensi harmonic tersebut akan mempengaruhi frekuensi dasarnya, pengaruh lain dari pada frekuensi harmonic tersebut terhadap frekuensi dasarnya adalah merubah bentuk gelombang sinusoida. Pengaruh lain dari pada arus harmonic adalah overheat pada trafo, putaran motor DC, dengan adanya frekuensi harmonic tersebut pada jaringan bolak-balik dan pengaruhnya seperti tersebut di atas, maka diperlukan suatu pembatasan dengan jalan memasang rangkaian filter. Rangkaian filter adalah rangkaian yang terdiri dari reactor dan capacitor shunt.

5 menimbulkan jatuh tegangan di sisi penerima. dengan melakukan pemasangan bank kapasitor, beban akan mendapatkan suplai daya buta. Kompensasi yang dilakukan oleh bank kapasitor, akan dapat mengurangi penyerapan daya buta sistem oleh beban. dengan demikian jatuh tegangan yang terjadi dapat dikurangi. Pengaturan tegangan dengan menggunakan bank kapasitor, selain dapat memperbaiki nilai tegangan juga dapat meningkatkan nilai faktor daya. Sebab dengan memasang bank kapasitor, akan dapat mengurangi penyerapan daya buta oleh beban. Dengan berkurangnya nilai daya buta yang diserap oleh beban, akan dapat meningkatkan nilai faktor daya. Perbaikan Faktor Daya Besar Daya aktif dan daya reaktif pada beban di CRM dapat dilihat pada table di bawah ini Tabel 3.1 Data beban Load P (MW) Q ( MVAr) Existing Tandem 9,56 8,25 Mill Main Drives Tandem Mill 13,6 13,18 Auxiliaries Loop car 0,4 1,2 Tandem bridle 1,3 2,1 Subtotal Tandem 24,9 24,7 Mill Temper Mill Main 0,24 0,984 Drives Temper Mill 11,07 9,92 Auxiliaries Uncoiler 1,07 1 Entry bridle 1,8 1,7 Stand 1 2,66 2,62 Stand 2 2,66 2,62 Exit bridle 0,89 0,88 Tension reel 2,4 2,38 Subtotal Temper 11,3 10,9 Mill Total CRM 47,7 46,85 Total daya aktif (P) pada CRM sebesar 47.7 MW dengan daya reaktif beban 46.85 MVAr, sehingga untuk besar daya reaktif yang terkompensasi oleh TCR sebesar : Qfilter = 50 MVAr Qload = 46.85 MVAr QTCR = Qfilter Qload = 50 46.85 MVAr = 3,15 MVAr Maka, QAF19+AF21 = Qload + QTCR + Qfilter = 46.85 + 3.15 50 = 0 MVAr Sehinga;

Gambar 3.5. Capacitor Shunt Proses stabilitas tegangan, kapasitor bank berguna untuk mendorong generator terdekat beroperasi dengan faktor daya mendekati satu. Bank kapasitor dengan ukuran yang tepat dapat dihubungkan langsung dengan bus tegangan tinggi atau dengan bagian lilitan tersier transformator. Pemasangan bank kapasitor, agar nilai arus induktif yang mengalir ke beban akan berkurang. Sebab beban mendapatkan suplai daya buta dari komponen bank kapasitor. 3. Damping resistor Damping resistor terpasang pada rangkaian filter 150 Hz 4. Sistem Pendinginan FC Sistem pendinginan pada Filter Circuit menggunakan air cooling system (pendinginan dengan udara) yaitu suatu sistem pendinginan suatu peralatan dengan media pendingan berupa udara.

Arc sin = 0o Maka, cos = 1 Dengan dipasangnya SVC maka perbaikan kualitas daya berupa naiknya nilai faktor daya

= 0o

6 dan turunnya THD sehingga rugi-rugi daya berkurang, efisiensi meningkat dan penghematan biaya operasional yang signifikan. Tabel 3.3 menunjukkan perbaikan kualitas daya akibat terpasangnya static var compensation. Perhitungan Total Harmonik Distorsi (THD) Tabel 3.2 Nilai arus harmonisa terpasang SVC Harmonic IHD Harmonic no no 2 0,24 8 3 0,15 9 4 0,07 10 5 0,46 11 6 0,09 12 7 0,37 13 sebelum IHD 0,1 0,23 0,08 0,66 0,03 0,29 Induktansi Kapasitansi Quality Factor ( Q ) Arus Fundamental ( I1 ) Arus Hamonic I4 I7 I11 I13 I17 I23 = 2,98 mH = 69,24 uF = 130 = 404 A = 61 A = 196 A = 37 A = 29 A = 11 A =8A

Kemudian dihitung pula nilai THD arus (ITHD) dari masing-masing filter dengan menggunakan persamaan 2.16: Filter 150 Hz
IHD

Arus harmonic pada orde ganjil akan menuju ke Filter circuit 150 Hz, 250 Hz dan 350 Hz dengan data masing-masing filter dan arus harmonic yang masuk dapat dilihat Data Filter dan Arus Harmonic masing-masing ialah : 1. Filter 150 Hz Q kompensasi = 10 MVAr Induktansi = 34,88 mH Kapasitansi = 32,28 uF Quality Factor ( Q ) = 130 Arus Fundamental ( I1 ) = 202 A Arus Hamonic I2,6 = 44 A I3 = 21 A I3,4 = 18 A 2. Filter 250 Hz Q kompensasi = 20 MVAr Induktansi = 5,97 mH Kapasitansi = 68,07 uF Quality Factor ( Q ) = 130 Arus Fundamental ( I1 ) = 404 A Arus Hamonic I4 = 110 A I5 = 247 A I6 = 32A I11 = 14 A I13 = 11 A I17 =4A 3. Filter 350 Hz Q kompensasi = 20 MVAr

h 1

In Ii

44 2 212 18 2 0.25 % 202

Filter 250 Hz
IHD

h 1

In Ii

110 2 247 2 32 2 14 2 11 2 4 2 0.675 % 404

Filter 350 Hz
IHD

h 1

In Ii

61 2 196 2 37 2 29 2 11 2 8 2 0.522 % 404

Sehingga Total Harmonic tersebut adalah

% Tabel 3.3 perbandingan sebelum terpasang dan sesudah terpasang SVC Data S P Q Cos Harmonic Effisiensi biaya penghematan Sebelum di pasang SVC 66 MVA 47.7 MW 46.85 MVAr 0,71 2.8 % 100 % ( 27.7 % Setelah di pasang SVC 47.7 MVA 47.7 MW 0 MVAr 1 0,48 % )=

7 BAB IV. Kesimpulan 4.1 Kesimpulan 1. SVC (Static Var Compensator) adalah komponen FACTS (Flexible AC Transmission Systems) dengan hubungan paralel, yang fungsi utamanya untuk mengatur tegangan pada bus tertentu dengan cara mengatur besaran reaktansi ekivalen. Dalam penggunaannya untuk pembangkitan dan penyerapan daya reaktif dengan rentang kendali dari kapasitif maksimum ke induktif maksimum dan sebaliknya, sistem ini terdiri dari TCR-FC (Thyristor Controlled Reactor with Fixed Capacitor), dan Filter circuit. 2. SVC (Static Var Compensator) memiliki fungsi sebagai berikut: Memperbaiki stabilitas jaringan AC. Memperbaiki faktor daya Mengurangi arus harmonisa Mencegah terjadinya ketidakstabilan tegangan 3. SVC memiliki kemampuan untuk mengkompensasi harmonisa arus jalajala. THD arus jala-jala sebelum terpasang SVC adalah 2.8 % dan setelah terpasang SVC turun menjadi 0.5 % dengan kenaikan faktor daya dari 0,71 menjadi 1. 4. Meningkatkan faktor daya. Untuk industri besar seperti industri baja sangat penting sekali untuk menjaga atau meningkatkan faktor daya, karena dengan faktor daya yang kurang baik akan mengakibatkan biaya listrik meningkat, dengan pemasangan sistem ini biaya penghematan sebesar 27,7 %. 4.2 Saran Untuk menentukan besar nilai kompensasi yang harus diberikan oleh sistem kompensasi ini diperlukan pengukuran dan penelitian sistem secara langsung terhadap arus harmonisa yang ditimbulkan beban serta perubahan faktor daya yang tidak memenuhi standar. DAFTAR PUSTAKA [1]Siemens. 1997. Power Transmission and Distribution Manual SVC. PT.KS : Siemens. [2]Power Distribution PT 1997.Instruksi Kerja SVC.Cilegon : PT KS KS CRM. Pemeliharaan

[3]Yahya Chusna Arif, Indhana Sudiarto, Hendik Eko HS, 2007. Teknik Pengurangan Arus Inrush Pada Kapasitor Bank Untuk Beban Nonlinier. Surabaya : Jurnal EEPIS [4]J. Arrillaga, D. A. Bradley, P. S. Bodger, 1985. Power Systems Harmonics, England: John Wiley & Sons Ltd [5]Jos Arrillaga, Bruce C Smith Neville R Watson, Alan R Wood.1997. Power Systems Harmonics Analysis. England: John Wiley & Sons Ltd [6]Fikri M, Ahmad. 2010. Estimasi Distorsi Harmonik Pada Sistem Tenaga Berbasis Jaringan Syaraf Tiruan.Cilegon : FT.Untirta