Anda di halaman 1dari 5

Sumber 1 PROSES MIKTURISI , BERKEMIH , KENCING Mikturisi atau biasa disebut kencing.

Dalam mekanisme mikturisi sistem yang dilibatkan adalah organ ginjal dan saluran kemih, yang terdiri dari ginjal, ureter, vesica urinaria (kandung kemih) dan uretra. Masing-masing dari organ ini memiliki peran yang akan dibahas satu per satu. Peran Vesica Uriniaria Vesica urinaria atau kandung kemih dapat mengakomodir fluktuasi sejumlah besar dari volume urin. Dindingnya tersusun atas otot polos visera. Otot polosnya bersifat plastis, artinya meskipun teregang tidak akan terjadi peningkatan tekanan (berbeda dengan elastic). Permukaan epitelnya dapat meningkat dan berkurang dengan proses recycling dari penuh-kosongnya kandung kemih. Otot polos kandung kemih dipersarafi oleh serat parasimpatis, di mana rangsangnya akan menyebabkan kontraksi kandung kemih. Jika jalan dari uretra menuju keluar terbuka, kontraksi kandung kemih akan menyebabkan pengosongan kandung kemih. Keluarnya kandung kemih, sayangnya, dijaga oleh dua sfingter. Sfingter uretral internal dan external. Peran Sfingter Uretra Sfingter merupakan cincin otot yang ketika berkontraksi, menutup pembukaan. Sfinter uretra internal merupakan otot polos, berada di bawah Kontrol involunter. Ketika kandung kemih berelaksasi, susunan anatomi dari sfingter ini menutup kandung kemih. Di bawahnya lagi, uretra dikelilingi oleh otot rangka, sfingter ureter eksternal. Diperkuat oleh diafragma pelvis, suatu otot polos yang membentuk lantai pelvis. Neuron motor yang mempersarafi sfingter ini dan diafragma pelvis secara terus menerus memberikan rangsangan kecuali mereka dihambat, sehingga urin dapat keluar melewati uretra. Refleks Mikturisi Mikturisi, atau kencing (urinasi), adalah proses pengosongan kandung kemih. Dikontrol oleh dua mekanisme, reflex mikturisi dan kontrol volunteer. Refleks mikturisi dimulai ketika reseptor regang dari dinding kandung kemih terangsang. Kandung kemih pada orang dewasa dapat mengakomodir 250 sampai 400 ml urin sebelum tegangan (tension) dari dindingnya mulai naik untuk mengaktifkan reseptor regang. Semakin besar regangan di luar ini, semakin besar pula teraktifnya reseptor regang. Serat afferent dari reseptor regang membawa impuls ke medulla spinalis dan lewat interneuron menstimulasi saraf parasimpatis dan menghambat neuron yang mempersarafi sfingter enernal. Karena neuron motornya terhambat, sfingter eksternal akan berelaksasi, dan akhirnya urin dikeluarkan dari uretra. Selain reflex mikturisi, terisinya kandung kemih juga menaikkan keinginan untuk kencing. Persepsi bahwa kandung kemih terisi muncul sebelum sfingter eksternal berelaksasi, memperingatkan bahwa mikturisi akan terjadi. Terjadilah control volunteer dari mikturisi, yang didapat saat toilet training semasa kecil, hingga mengalahkan refleks mikturisi sehingga pengeluaran urin terjadi karena keinginan orang yang bersangkutan. Jadi, jika orang tersebut menilai belum pantas untuk kencing, bisa ditahan dengan menekan sfingter eksternal dan diafragma pelvis. Sayangnya, tidak selamanya urin bisa ditahan. Suatu saat, akan terjadi input reflex yang sangat besar dari reseptor regang sehingga akhirnya sangat kuat inhibisi sfingter eskternalnya sampai akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Mikturisi juga bisa ditimbulkan meski kandung kemih tidak menggembung, dengan relaksasi secara sadar dari sfingter eksternal dan diafragma pelvis. Mengebawahkan lantai pelvis menyebabkan kandung kemih untuk turun ke bawah, yang menyebabkan terbukanya sfingter uretra internal dan meregangkan dinding kandung kemih. Akhirnya menyebabkan reseptor regang aktif, dan keluarlah urin. Tekanan dinding abdomen dan diafragma nafas juga bisa meremas kandung kemih untuk mengeluarkan urin. Sumber: http://info-seputarkesehatan.blogspot.com/2013/03/proses-mikturisi-berkemihkencing.html

Sumber 2

Proses jalannya pengeluaran urine Urine dalam Tubulus kolektivus yang berada dalam ren diteruskan oleh ureter menuju vessica urinaria menuju urethra dalam alat kelamin. Dengan skema : Ren Ureter Vessica urinaria Urethra

MIKTURISI (BERKEMIH)

Mikturisi adalah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama: Pertama, Kandung kemih terisi secara progresifhingga tegangan pada didndingnya meningkat melampaui nilai ambang batas; keadaan ini akan mencetuskan tahap kedua, yaiutu adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung kemih atau, jika gagal, setidaknya akan menyebabkan keinginan berkemih yang disadari. Meskipun refleks mikturisi adalah refleks medulla spinalis yang bersifat autonom, refleks ini dapat dihambat atau difasilitasi oleh pusat-pusat di korteks serebri atau batang otak. Refleks Mikturisi Seiring dengan pengisian kandung kemih, mulai tampak peningkatan kontraksi mikturisi, seperti yang ditunjukkan oleh bentuk runcing terputus-putus. Kontraksi ini dihasilkan dari refleks regang yang dipicu oleh reseptor regang sensorik di dalam dinding kandung kemih, terutama oleh reseptor di urethra posterior ketika area ini mulai terisi dengan urin pada tekanan kandung kemih yang lebih tinggi. Sinyal sensorik dari reseptor regang kandung kemih dikirimkan ke segmen sakralis dari medulla spinalis melalui saraf pelvis, dan kemudian dikembalikan secara refleks ke kandung kemih melalui serabut saraf parasimpatis dengan mengunakan persarafan yang sama. Bila kandung kemih hanya terisi sebagian, kontraksi mikturisi ini biasanya akan berelaksasi secara spontan dalam waktu kurang dari semenit, otot detrusor berhenti berkontraksi, dan tekanan turun kembali ke nilai dasar. Ketika kandung kemih terus terisi, refleks mikturisi menjadi semakin sering dan menyebabkan kontraksi otot detrusor yang lebih kuat. Sekali refleks mikturisi dimulai, refleks ini bersifat regenerasi sendiri. Yang artinya, kontraksi awal kandung kemih akan mengaktifkan reseptor regang yang menyebabkan peningkatan impuls sensorik yang lebih banyak ke kandung kemih dan uretra posterior, sehingga menyebabkan peningkatan refleks kontraksi kandung kemih selanjutnya; jadi, siklus ini akan berulang terus-menerus sampai kandung kemih mencapai derajat kontraksi yang cukup kuat. Kemudian, setelah beberapa detik sampai lebih dari semenit, refleks yang bergenerasi sendiri ini mulia kelelahan dan siklus regeneratif pada refleks mikturisi menjadi terhenti, memungkinkan kandung kemih berelaksasi. Jadi, refleks mikturisi merupakan sebuah siklus yang lengkap yang terdiri dari (1)kenaikan tekanan secara cepat dan progresif, (2)periode tekanan menetap, dan (3)kembalinya tekanan kandung kemih ke nilai tonus basal. Bila refleks mikturisi yang telah terjadi tidak mampu mengosongkan kandung kemih, elemen persarafan pada refleks ini biasanya akan tetap dalam keadaan terinhibisi selama beberapa menit hingga 1 jam atau lebih, sebelum terjadi refleks

mikturisi berikutnya. Bila kandung kemih terus-menurus diisi, akan terjadi refleks mikturisi yang semakin sering dan semakin kuat. Bila refleks mikturisi sudah cukup kuat, akan memicu refleks lain yang berjalan melalui saraf pudendus ke sfingter eksterna untuk menghambatnya. Jika inhibisi ini lebih kuat di dalam otak dari pada sinyal konstriktor volunterke sfingter eksterna, maka akan terjadi pengeluaran urin. Jika tidak, pengeluaran urin tidak akan terjadi hingga kandung kemih terus terisi dan refleks mikturisi menjadi lebih kuat lagi. Fasilitasi atau Inhibisi Proses Mikturisi oleh Otak Refleks mikturisi adalah refleks medulla spinalis yang bersifat otonom, tetapi dapat dihambat atau difasilitasi oleh pusat di otak. Pusat ini meliputi: (1)pusat fasilitasi dan inhibisi yang kuat di batang otak, terutama terletak di pons, dan (2) beberapa pusat yang terletak di korteks serebri yang terutama bersifat inhibisi tetapi dapat berubah menjadi eksitasi. Refleks mikturisi merupakan penyebab dasar berkemih, tetapi biasanya pusat yang lebih tinggi yang akan melakukan kendali akhir untuk proses mikturisi sebagai berikut: 1. Pusat yang lebih tinggi menjaga agar refleks mikturisi tetap terhambat sebagian, kecuali bila mikturisi diinginkan. 2. Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah mikturisi, bahkan jika terjadi refleks mikturisi, dengan cara sfingter kandung kemih eksterna terus-menerus melakukan kontraksi tonik hingga saat yang tepat datang dengan sendirinya. 3. Jika waktu berkemih tiba, pusat kortikal dapat memfasilitasi pusat mikturisi sacral untuk membantu memulai refleks mikturisi dan pada saat yang sama menghambat sfingter eksterna sehingga pengeluaran urin dapat terjadi. Pengeluaran urin secara volunteer biasanya dimulai dengan cara berikut: Mula-mula, orang tersebut secara volunter mengkontraksikan otot perutnya, yang akan meningkatkan tekanan di dalam kandung kemih dan memungkinkan urin tambahan memasuki leher kandung kemih dan uretra posterior dalam keadaan di bawah tekanan, sehingga meregangkan dindingnya. Hal ini memicu reseptor regang, yang mencetuskan refleks mikturisi dan secara bersamaan menghambat sfingter uretra eksterna. Biasanya seluruh urin akan dikeluarkan, dan menyisakan tidak lebih dari 5 sampai 10 mililiter urin didalam kandung kemih. Sumber: Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC. Murray, Robert K. Granner, Daryl K. Mayes, Peter A. Rodwell, Victor W. 2003. Harpers Illustrated Biochemistry, Twenty-Sixth Edition. New York: Mc. Graw Hill.
http://faridafitriana.wordpress.com/2010/07/05/1-mekanisme-buang-air-kecil-bak/

Sumber 3

MEKANISME BUANG AIR KECIL


Mekanisme proses Miksi ( Mikturisi ) Miksi ( proses berkemih ) ialah proses di mana kandung kencing akan mengosongkan dirinya waktu sudah penuh dgn urine. Mikturisi ialah proses pengeluaran urine sebagai gerak refleks yang dapat dikendalikan (dirangsang/dihambat) oleh sistim persarafan dimana gerakannya dilakukan oleh kontraksi otot perut yg menambah tekanan intra abdominalis, dan organ organ lain yang menekan kandung kencing sehigga membantu mengosongkan urine ( Virgiawan, 2008 ). Reflex mikturisi adalah reflex medulla spinalis yang bersifat otonom, yg dikendalikan oleh suatu pusat di otak dan korteks cerebri. Reflex mikturisi merupakan penyebab dasar berkemih, tetapi biasanya pusat yang lebih tinggi yang akan melakukan kendali akhir untuk proses mikturisi sebagai berikut : 1. Pusat yang lebih tinggi menjaga agar reflex mikturisi tetap terhambat sebagian, kecuali bila mikturisi diinginkan 2. Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah mikturisi, bahkan jika terjadi reflex mikturisi, dengan cara sfingter kandung kemih eksterna terus-menerus melakukan kontraksi tonik hingga saat yang tepat datang dengan sendirinya 3. Jika waktu berkemih tiba, pusat kortikal dapat memfasilitasi pusat mikturisi sacral untuk membantu memulai reflex mikturisi dan pada saat yang sama menghambat sfingter eksterna sehingga pengeluaran urin dapat terjadi. MEKANISME Pengeluaran urin secara volunteer biasanya dimulai dengan cara berikut : Mula-mula, orang tersebut secara volunter mengkontraksikan otot perutnya, yang akan meningkatkan tekanan di dalam kandung kemih dan memunkinkan urin tambahan memasuki leher kandung kemih dan uretra posterior dalam keadaan di bawah tekanan, sehingga meregangkan dindingnya. Hal ini memicu reseptor regang, yang mencetuskan reflex mikturisi dan secara bersamaan menghambat sfingter uretra eksterna. Biasanya, seluruh urin akan dikeluarkan, dan menyisakan tidak lebih dari 5-10 milimeter urin di dalam kandung kemih. Atau dapat dijelaskan melalui skema berikut : Pertambahan vol urine tek intra vesicalis keregangan dinding vesicalis (m.detrusor) sinyal-sinyal miksi ke pusat saraf lebih tinggi (pusat kencing) untuk diteruskan kembali ke saraf saraf spinal timbul refleks spinal melalui n. Pelvicus timbul perasaan tegang pada vesica urinaria shg akibatnya menimbulkan permulaan perasaan ingin berkemih ( Virgiawan, 2008 ). SUMBER :

1. Guyton.A.C.2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC 2. http://id.wikipedia.org/wiki/Buang_air_besar Di Akses pada tanggal 29 Mei 2010 pukul 15.17 WIB 3. http://eni.web.ugm.ac.id/wordpress/?p=38 Di Akses pada tanggal 29 Mei 2010 pukul 15.24 WIB

4. http://eni.web.ugm.ac.id/wordpress/?p=35 Di Akses pada tanggal 29 Mei 2010 pukul 15.25 WIB