Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN PROSEDURAL PENGUJIAN EFEK ANALGETIKA Pada praktikum kali ini yang berjudul Pengujian Efek Analgetika telah

dilakukan beberapa prosedur percobaan. Percobaan tersebut dilakukan untuk mengenal cara evaluasi secara eksperimental efek analgetik suatu obat, dasardasar perbedaan daya analegetik obat analgetika, dan akhirnya mampu untuk memberikan pandangan mengenai kesesuaian khasiat yang dianjurkan untuk sediaan farmasi analgetika. Untuk menunjang tujuan praktikum maka pengujian efek analgetika dilakukan pada hewan percobaan, dalam kasus ini menggunakan mencit. Analgetika adalah obat yang digunakan untuk menekan atau mengurangi rasa nyeri terhadap rangsang nyeri mekanik, termik, listrik atau kimiawi di sistem syaraf pusat dan perifer. Mekanisme umum kerja obat ini adalah penghambatan pembentukan prostaglandin yang merupakan mediator rasa nyeri. Obat-obat analgesik dibagi menjadi dua golongan, yaitu analgesik narkotika yang berkhasiat kuat serta bekerja sentral terhadap susunan sistem syaraf pusat dan analgesik non narkotika yang berkhasiat lemah serta bekerja secara perifer. Mekanisme kerja obat ini dapat diterangkan dengan mengikuti alur biosintesis prostaglandin. Prostaglandin merupakan kelompok senyawa turunan asam lemak prostanoat (C20) yang rantai atom karbonnya pada nomor 8-12 membentuk cincin siklopentan. Saat ini dikenal prostaglandin A sampai I yang dibedakan oleh substituen yang terikat pada cincin siklopentan. Pada manusia, asam arasidonoat (asam 5,8,11,14-Eikosatetraenoat) merupakan prazat terpenting untuk mensintesis prostaglandin. Terdapat dua jalur utama reaksi-reaksi yang dialami oleh asam arasidonoat pada metabolismenya, yaitu jalur siklooksigenase yang bermuara pada prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan serta jalur lipoksigenase yang menghasilkan asam-asam hidroperoksieikosatetraenoat (HPETE). Reaksi tahap pertama jalur siklooksigenase dikatalisis oleh dua jenis enzim, yaitu siklooksigenase dan hidroperoksidase. Obat antiradang bukan steroid menghambat biosintesis prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan melalui penghambatan aktivitas enzim siklooksigenase (Kartasasmita, 2002). Terdapat 2 metode yang bisa digunakan untuk menguji efek analgesik yaitu metode induksi mekanik (termik) dan metode induksi kimia. Metode induksi mekanik/termik biasanya digunakan untuk menguji obat analgesik narkotik yang mempunyai efek yang lebih kuat dengan menggunakan plat panas. Metode induksi kimia digunakan terutama untuk menguji obat analgesik non narkotik dengan menggunakan senyawa kimia. Namun, pada percobaan kali ini hanya dilakukan uji obat analgesik non narkotika dengan menggunakan metode induksi kimia. Pengujian dilakukan pada 12 ekor mencit yang terbagi dalam 4 kelompok pemberian. Obat analgesik yang diuji adalah Asam Mefenamat dan Parasetamol, untuk obat standar digunakan Aspirin, sedangkan untuk kontrol negatif digunakan suspensi Gom Arab. Pertama-tama dilakukan penimbangan hewan percobaan terlebih dahulu serta perhitungan dosis pemberian zat uji terlebih dahulu. Hewan percobaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah mencit dengan berat berkisar 18 sampai 33 gram. Mencit dijadikan hewan percobaan karena mudah diamati dan dapat menunjukkan efek analgesik yang diberikan dengan hanya memperhatikan jumlah geliatnya. Selanjutnya, hewan percobaan dibagi dalam empat kelompok, yaitu

kelompok kontrol negatif, kelompok obat standar, kelompok obat uji I, dan kelompok obat uji II. Pada t = 0 hewan percobaan pada kelompok kontrol negatif diberikan suspensi PGA 2 % secara per oral, pada hewan percobaan kelompok obat standar diberikan aspirin secara peroral, begitu juga pada kelompok obat uji I diberikan asam mefenamat, dan pada kelompok obat uji II diberikan parasetamol secara per oral. Selanjutnya diberikan penginduksi asam asetat 0,7 % pada t = 30 berikutnya secara intra peritonial. Pemberian obat dan penginduksi dilakukan sesuai dengan perhitungan dosis yang telah dihitung sebelumnya. Geliat diamati setiap 5 menit selama 60 menit jangka waktu pengamatan. Pada kelompok kontrol negatif hewan percobaan hanya diberikan suspensi PGA pada awal percobaan dan penginduksi asam asetat pada menit berikutnya tanpa pemberian sedian analgesik. Uji ini dilakukan untuk melihat adanya perbedaan yang signifikan dengan kelompok uji yang diberikan sediaan analgetik. PGA digunakan karena efeknya tidak ada sama sekali dalam tubuh (plasebo). Asam asetat digunakan sebagai penginduksi karena tidak terkonjugasi dalam tubuh, selain itu pemberian sediaan asam asetat terhadap hewan percobaan akan merangsang prostaglandin untuk menimbulkan rasa nyeri akibat adanya kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin meyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi sehingga prostaglandin dapat menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamine merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata. Asam juga menyebabkan tubuh mengalami asidosis sehingga pH darah menurun dan tubuh akan memberikan respon nyeri. Akibat dari adanya rasa nyeri inilah hewan percobaan akan menggeliatkan kaki belakangnya saat efek dari penginduksi ini bekerja. Pemberian sediaan asam asetat secara intraperitonial membuat sediaan lebih mudah diabsorbsi oleh tubuh dan cepat memberikan efek. Pada kelompok obat standar diberikan aspirin pada menit pertama percobaan. Aspirin merupakan sediaan yang efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya pada sakit kepala, mialgia, atralgia dan nyeri lain yang berasal dari inegumen, sediaan ini juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. Efek analgetikanya jauh lebih lemah daripada efek analgetika opiat tetapi sediaan ini tidak menimbulkan ketagihan efek samping sentral yang merugikan. Aspirin bekerja dengan mengubah persepsi modalitas sensorik nyeri, tanpa mempengaruhi sensorik lain. Pemberian aspirin dalam kelompok pembanding ini juga akan menunjukkan efek analgesik setelah diberi penginduksi asam asetat. Kelompok obat uji I yang diberikan adalah asam mefenamat secara peroral, sehingga untuk mendapatkan efek analgesik dari sediaan tersebut kita harus menunggu selama sekitar 30 menit sebagai waktu absorbsi dalam tubuh hewan percobaan. Asam mefenamat merupakan salah satu obat analgesik yang bekerja dengan menekan rasa sakit yang timbul, sehingga induksi dari asam asetat setelah pemberian asam mefenamat akan membuat efek analgesiknya terlihat. Penginduksi diberikan belakangan secara peritonial agar diharapkan dapat menunjukkan besarnya rasa sakit atau nyeri yang dapat ditekan oleh sediaan ini. Sementara itu kelompok obat uji II yang diberikan adalah parasetamol. Parasetamol adalah obat pereda demam dan nyeri yang paling banyak dipergunakan. Senyawa ini dikenal dengan nama lain asetaminofen, merupakan senyawa metabolit aktif fenasetin, namun tidak memiliki sifat karsinogenik

(menyebabkan kanker) seperti halnya fenasetin. Senyawa berkhasiat obat ini, tidak seperti obat pereda nyeri lainnya (aspirin dan ibuprofen), tidak digolongkan ke dalam obat anti inflamasi non steroid (NSAID) karena memiliki khasiat anti inflamasi yang relatif kecil. Parasetamol umumnya digunakan untuk mengobati demam, sakit kepala, dan rasa nyeri ringan. Senyawa ini bila dikombinasikan dengan obat anti inflamasi non steroid (NSAID) atau obat pereda nyeri opioid, dapat digunakan untuk mengobati nyeri yang lebih parah. Setelah diberikan obat uji II lalu diberikan penginduksi asam dan diamati geliat. Setelah pengamatan geliat selesai dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah pembuatan analisis variansi dan kebermaknaaan perbedaan jumlah geliat antara kelompok kontrol dengan kelompok uji dianalisis dengan student t test. Berikutnya dihitung persentase proteksi dan persentase analgesik. Data-data tersebut kemudian digambarkan dalam bentuk tabel atau grafik. Daftar Pustaka Kartasasmita,R.E., 2002, Perkembangan Obat Antiradang Bukan Steroid, Available online at : http://acta.fa.itb.ac.id/pdf_dir/issue_27_4_7.pdf [diakses 31 Maret 2013]