Anda di halaman 1dari 3

TUGAS MATA KULIAH REVIEW LITERATUR LOKASI DAN POLA RUANG

Dosen Pengampu : Dra. Bitta Pigawati, MT

REVIEW MATERI TEORI LOKASI VON THUNEN (Materi 2 : Teori Von Thunen)

Disusun oleh : Utari Ardiyanti NIM. 21040111130082

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

a. Timbulnya Teori Pola Produksi Pertanian von Thunen Perkembangan teori lokasi klasik diawali oleh analisis areal produksi pertanian atau selama ini dikenal sebagai teori lokasi Von Thunen, ditulis oleh Johann Heinrich von Thunen, seorang ekonom Jerman, pada tahun 1826 dengan karya tulisnya berjudul Der isoliertee Staat (The isolated State atau Negara yang Terisolasi). Ia mengupas tentang perbedaan teori lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa tanah (pertimbangan ekonomi). b. Asumsi Model von Thunen sebagai berikut : 1. Wilayah analisis bersifat terisolir (isolated state) sehingga tidak terdapat pengaruh pasar dari kota lain. 2. Tipe pemukimam adalah padat di pusat wilayah (pusat pasar) dan makin kurang padat apabila menjauh dari pusat wilayah. 3. 4. Seluruh wilayah model memiliki iklim, tanah, dan topografi yang seragam. Fasilitas pengangkutan adalah primitif (sesuai pada zamannya) dan relatif seragam. Ongkos ditentukan oleh berat barrang yang dibawa. 5. Kecuali perbedaan jarak ke pasar, semua faktor alamiah yang mempengarruhi panggunaan tanah adalah seragam dan konstan. c. Pola Penggunaan Lahan dari von Thunen Di sekitar kota akan ditanam produk-produk yang kuat hubungannya dengan nilai (value), dan karenanya biaya transportasinya yang mahal, sehingga distrik di sekitarnya yang berlokasi lebih jauh tidak dapat menyuplainya. Ditemukan juga produk-produk yang mudah rusak, sehingga harus digunakan secara cepat. Semakin jauh dari kota, lahan akan secara progresif memproduksi barang dan biaya transportasi murah dibandingkan dengan nilainya. Dengan alasan tersebut, terbentuk lingkaran-lingkaran konsentrik disekeliling kota, dengan produk pertanian utama terteentu. Setiap lingkaran prodk

pertanian, system pertaniannya kan berubah, dan pada berrbagai lingkaran akan ditemukan sistem pertanian yang berbeda. Von Thunen menggambarkan suatu kecenderungan pola ruang dengan bentuk wilayah yang melingkar seputar kota. P = Pasar Cincin 1 = Pusat industri/kerajinan Cincin 2 = Pertanian intensif (produksi susu dan sayur-sayuran) Cincin 3 = Wilayah hutan (untuk menghasilkan kayu bakar) Cincin 4 = Pertanian ekstensif (dengan rotasi 6 atau 7 tahun) Cincin 5 = Wilayah peternakan Cincin 6 = Daerah pembuangan sampah Meskipun model von Thunen dibangun pada abad ke-19 dengan kondisi yang

disesuaikan pada zamannya (seperti jenis alat transportasi masih kereta kuda misalnya), tetapi pada abad ke-20 model tersebut masih digunakan/diterapkan pada beberapa daerah di dunia, termasuk untuk fenomena Kepulauan Fiji (dengan kota Suva sebagai sentral pusat pemasaran dan kota pelabuhan). Konsep von Thunen pada dasarnya menjelaskan bahwa penggunaan lahan sangat ditentukan oleh biaya angkut produk yang diusahakan yang pada akhirnya menentukan sewa ekonomi tanah (land rent). Namun kecenderungan saat ini adalah pusat kota umumnya didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa, sedikit ke arah luar diisi oleh kegiatan industry kejaninan (home industry) bercampur engan perumahan sedang/kumuh. Perumahan elite justru mengambil lokasi lebih kea rah luar lagi (mengutamakan kenyamanan). Industry besar umunya berada di luar kota karena banyak pemerintah kota yang melamar industry besar dan yang berpolusi mengambil lokasi dalam kota. Perkembangan dari teori von Thunen selain harga tanah yang tinggi di pusat kota dan makin menurun bila makin menjauh dari pust kota (akses keluar kota), juga adalah harga tanah tinggi pada jalan-jalan utama (akses ke luar kota) dan makin rendah bila menjauh dari jalan utama. Makij tinggi kelas jalan utama itu, makin mahal sewa tanah disekitarnya. Jadi, bentuk gambarnya adalah seperti kerucut (segitiga) jarring laba-laba, di mana puncak kerucut itu adalah pusat kota. Namun perlu dicatat bahwa aka nada kantong-kantong lokasi yang menyimpang dari ketentuan di atas karena adanya faktor khusus selain faktor keamanan, kenyamanan, dan telah adanyya konsentrasi tertentu di lokasi tersebut. Untuk lahan pertanian perlu diingat teori Ricardo yang mengatakan bahwa sewa tanah terkait dengan kesuburan tanah tersebut. Namun pandangan Ricardo ini pun tetap terikat pada jarak/akses lahan pertanian itu terhadap pusat kota (wilayah pemasarannya). Kesimpulan penting yang dapat diambil dari pengembangan teori von Thunen : 1. Kecenderungan semakin menurunnya keuntungan akibat makin jauhnya lokasi produksi dari pasar, namun terhadap perbedaan laju penurunan (gradien) antarkomoditas. 2. Jumlah pilihan-pilihan menguntungkan yang semakin menurun sengan

bertambahnya jarak ke pusat kota/pasar. Sumber : Rustiadi, Ernan., Sunsun Saefulhakim dan Dyah R Panuju. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta : Crestpent Press dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia Tarigan, Robinson. 2006. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta : Bumi Aksara