Anda di halaman 1dari 3

Nama: Andre Wowor NIM: 090415025 Matakuliah: Konservasi Satwa Liar dan Endemik Penyakit Zoonosis Pada Satwa

Liar 1. Rabies Rabies adalah encephalomyelitis (penyakit yang menyerang otak) akut yang disebabkan oleh virus bergenus Lyssavirus dalam family Rhabdovirus. Rabies adalah penyakit menular tertua yang dikenal dan mempunyai konstribusi besar di dunia kecuali Antartika. Genus Lyssavirus mengandung setidaknya 7 antigenik virus yang berbeda dari satu sama lain dalam inang. Semua mamalia bisa menjadi tersangka dalam rabies; namun, kebanyakan adalah hewan pemakan daging yang menjadi sumber dari rabies. Di Amerika Utara, spesies yang terbanyak menularkan rabies adalah rakun (Procyon lotor), rubah (Vulpes vulpes, Urocyon cinereoargenteus, dan Alopex lagopus), dan koyote (Canis lantrans). Di Indonesia, inang yang menjadi sumber rabies adalah Anjing (Canis lupus), Kelelawar (Chiroptera sp.), dan Kera (Macaca sp.) Virus rabies terdapat dalam kelenjar saliva yang biasanya penularannya melalui gigitan. Kasus langka pada penularan rabies melalu cakaran, kontak dengan membran mukosa, aerosol, kecelakaan laboratorium atau transplantasi organ. Masa inkubasinya bervariasi, tetapi kurang dari 3 bulan. Proses klinis dari rabies tergolong singkat, ketika diketahui tanda-tanda klinis dari rabies telah nampak, selalu fatal. Hewan dengan tanda-tanda rabies memiliki kelakuan yang abnormal, yang di bagi menjadi dua bentuk. Dumb rabies yang berkarakteristik seperti tidak ada tujuan, energi yang berlebihan (Lethargy), kehilangan kontrol dari tubuh (Ataxia), lemah kaki, lumpuh, kurang lincah. Beberapa tanda-tanda lain seperti gatal-gatal pada kulit (pruritis), kulit sensitive (hyperesthesia), sangat peka terhadap cahaya (photophobia), saliva berlebihan (hypersalivation), susah menelan (dysphagia), perubahan suara, dan pupil menjadi lebar (mydriasis) terjadi pada Furious Rabies. Pada rakun, bisa mengakibatkan perubahan perilaku yang dapat menyerang objek apapun dan mutilasi diri sendiri. Kedua bentuk rabies ini mengakibatkan koma hingga kematian. Rabies menular melalui gigitan, luka yang terbuka yang terkena kelenjar mukosa dari saliva atau material-material seperti sel-sel syaraf. Jika seseorang digigit hewan, maka hewan yang menggigit harus diawasi. Satu-satunya uji yang menghasilkan keakuratan 100% terhadap adanya virus rabies adalah dengan uji antibodi fluoresensi langsung (direct fluorescent antibody test/ dFAT) pada jaringan otak hewan yang terinfeksi. Uji ini telah digunakan lebih dari 40 tahun dan dijadikan standar dalam diagnosis rabies. Prinsipnya adalah ikatan antara antigen rabies dan antibodi spesifik yang telah dilabel dengan senyawa fluoresens yang akan berpendar sehingga memudahkan deteksi Namun, kelemahannya adalah subjek uji harus disuntik mati terlebih dahulu (eutanasia) sehingga tidak dapat digunakan terhadap manusia. Akan tetapi, uji serupa tetap dapat dilakukan menggunakan serum, cairan sumsum tulang belakang, atau air liur penderita walaupun tidak memberikan keakuratan 100%. Selain itu, diagnosis dapat juga dilakukan dengan biopsi kulit leher atau sel epitel kornea

mata walaupun hasilnya tidak terlalu tepat sehingga nantinya akan dilakukan kembali diagnosis post mortem setelah hewan atau manusia yang terinfeksi meninggal. Bila terinfeksi rabies, segera cari pertolongan medis. [14] Rabies dapat diobati, namun harus dilakukan sedini mungkin sebelum menginfeksi otak dan menimbulkan gejala. Bila gejala mulai terlihat, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini. Kematian biasanya terjadi beberapa hari setelah terjadinya gejala pertama. Jika terjadi kasus gigitan oleh hewan yang diduga terinfeksi rabies atau berpotensi rabies (anjing, sigung, rakun, rubah, kelelawar) segera cuci luka dengan sabun atau pelarut lemak lain di bawah air mengalir selama 10-15 menit lalu beri antiseptik alkohol 70% atau betadin. Orang-orang yang belum diimunisasi selama 10 tahun terakhir akan diberikan suntikan tetanus. Orang-orang yang belum pernah mendapat vaksin rabies akan diberikan suntikan globulin imun rabies yang dikombinasikan dengan vaksin. Separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan dan separuhnya disuntikan ke otot, biasanya di daerah pinggang. Dalam periode 28 hari diberikan 5 kali suntikan. Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus rabies akibat bekas gigitan. Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28. Kadang-kadang terjadi rasa sakit, kemerahan, bengkak, atau gatal pada tempat penyuntikan vaksin. Pencegahan rabies pada manusia harus dilakukan sesegera mungkin setelah terjadi gigitan oleh hewan yang berpotensi rabies, karena bila tidak dapat mematikan (letal) Langkah-langkah untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau segera setelah terkena gigitan. Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu: Dokter hewan. Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi. Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah yang rabies pada anjing banyak ditemukan Para penjelajah gua kelelawar. Vaksinasi idealnya dapat memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi seiring berjalannya waktu kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap rabies harus mendapatkan dosis booster vaksinasi setiap 3 tahun. Pentingnya vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan seperti anjing juga merupakan salah satu cara pencegahan yang harus diperhatikan.

Anjing Rabies

Penderita rabies

2. Psittacosis Psittacosis, yang juga dikenal sebagai avian chlamydiosis atau ornithosis, yang penularannya melalui bakteri intraseluler Chlamydophilia psittaci. Biasanya menyerang bangau, merpati dan burung liar lainnya. Organismenya di ekskresi melalu feses dan dapat menginfeksi lingkungan selama beberapa bulan. Ini bisa menjadi permasalahan yang serius bagi manusia, biasanya menyebabkan pneumonia. Infeksi manusia dari burung sangat langka,meskipun beberapa orang yang bekerja dengan burung memiliki rasio terkena penyakit ini lebih tinggi. Setiap orang harus menghindari bangunan dan bebatuan yang banyak disinggahi oleh burung-burung. Masker dapat mengurangi kemungkinan terhirupnya material-material feses yang dapat terhirup. Kotoran burung yang kering dapat di cairkan menggunakan 5% desinfektan. Selanjutnya, berkerja bersama burung ditempat yang berabu sebaiknya dihindari.

Bakteri C. psittaci dalam feses burung Yang terinfeksi.

Burung yang terkena bakteri C. psittaci

Sumber: 1. Wildlife Zoonoses for The Veterinary Practitioner oleh Jonathan Sleeman. Link: http://www.dgif.state.va.us/wildlife/diseases/wildlifezoonoses.pdf 2. Wikipedia.org untuk gambar.