Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS KEBERHASILAN IBU-IBU BEKERJA DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NARAS KOTA PARIAMAN TAHUN

2012 Oleh : Nelda Amir ABSTRAK


Menurut profil kesehatan propinsi Sumatera Barat cakupan pemberian ASI Eksklusif Tahun 2010 adalah 54,61 %, untuk kota Pariaman berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kota Pariaman capaian ASI Eksklusif Tahun 2011 adalah 69,41 % dan capaian Puskesmas Naras Tahun 2011 yaitu 69 %, hal tersebut sudah mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 67 %. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman ibu-ibu bekerja yang berhasil dalam pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Naras kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman

tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, desain penelitiannya adalah deskriptif untuk melihat gambaran keberhasilan ibu-ibu bekerja dalam pemberian ASI Eksklusif, subjek dalam penelitian ini sebanyak 10 orang yaitu 5 orang adalah staf/pegawai di Puskesmas Naras, 5 orang lagi di luar staf/pegawai Puskesmas Naras dengan pekerjaan sebagai guru, jualan, tani, dan perangkat desa. Hasil penelitian adalah yang menjadi faktor pendorong keberhasilan pemberian ASI Eksklusif pada ibu-ibu bekerja salah satunya yaitu pengetahuan dan tingkat pendidikan yang tinggi tentang ASI Eksklusif dimana sebagian besar subjek ketika ditanya pengetahuan tentang ASI Eksklusif mereka mengetahui pengertian ASI Eksklusif, kolostrum, manfaat ASI bagi bayi dan ibu. Faktor pendorong keberhasilan pemberian ASI Eksklusif pada ibu-ibu bekerja adalah pengetahuan dan pendidikan yang tinggi tentang ASI Eksklusif, motivasi yang kuat, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan. Bagi tenaga kesehatan agar meningkatkan promosi dan penyuluhan kepada masyarakat agar ASI Eksklusif berhasil, dan bagi kantor tempat ibu bekerja agar menyediakan ruangan khusus laktasi. Daftar bacaan: 26 (1992-2012)

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bayi akan mendapat zat-zat gizi yang penting dan perlindungan dari berbagai penyakit dengan pemberian ASI pada satu jam pertama kelahirannya, untuk itu Inisiasi Dini menjadi tema Pekan ASI se-Dunia, sesuai dengan ketetapan yang dikeluarkan oleh Asosiasi ASI Dunia. (Sutjiningsih dalam Sumami. 2008)

Faktor menyusui

keberhasilan dengan

dalam menyusui

adalah

secara dini dengan posisi yang benar, teratur dan eksklusif, oleh karena itu salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana ibu yang bekerja dapat tetap memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusif sampai 6 (enam) bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun. Sehubungan dengan hal tersebut telah ditetapkan Kepmenkes RI No.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

450/MENKES/IV/2004

tentang

Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Naras seperti kegiatan konseling ASI, sedangkan dari dukungan keluarga

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi Indonesia. Program Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif mempunyai dampak yang luas terhadap status gizi ibu dan bayi. (Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI. 2011) Berdasarkan data Susenas

banyak yang tidak paham mengenai manfaat ASI Eksklusif sehingga

dukungan yang diberikan kepada ibu masih kurang. Sebenarnya bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI secara Eksklusif sampai 6 bulan,

(Survei Sosial Ekonomi Nasional) Tahun 2010, terdapat 33,6 persen bayi umur 0-6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dan data Riskesdas (2010) menunjukkan 15,3 persen bayi umur kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif. Menurut profil kesehatan propinsi

meskipun cuti hamil hanya 3 bulan (Roesli, 2007). Pada pekan ASI sedunia (1993) tema peringatannya adalah

Mother Friendly Workplace atau tempat kerja sayang bayi menunjukkan bahwa adanya perhatian dunia terhadap peran ganda ibu menyusui dan bekerja. Untuk itu diperlukan dukungan dari pihak manajemen, lingkungan kerja dan

Sumatera Barat cakupan pemberian ASI Eksklusif Tahun 2010 adalah 54,61 %, untuk kota Pariaman berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kota Pariaman capaian ASI Eksklusif Tahun 2011 adalah 69,41 % dan capaian Puskesmas Naras Tahun 2011 yaitu 69 %, hal tersebut sudah mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 67 %. (DinKes Kota Pariaman profil kes. 2011) Berdasarkan survey awal yang dilakukan terhadap subjek penelitian untuk melihat pengetahuan, motivasi, dukungan tenaga kesehatan dan

pemberdayaan pekerja wanita sendiri. (Depkes RI. 2007) Memberikan ASI Eksklusif tidak hanya menguntungkan bayi tetapi juga bagi tempat ibu bekerja, hal ini didukung oleh bukti ilmiah bahwa yang diberikan ASI Eksklusif akan lebih sehat, sehingga ibu jarang meninggalkan pekerjaanya. Hasil penelitian Cohen, dkk (1995) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ibu bayi dengan pemberian ASI Eksklusif lebih jarang absen bekerja (25%)

dukungan keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif melalui kuesioner, pada umumnya ibu-ibu bekerja mengetahui

dibandingkan ibu dengan pemberian susu formula Penelitian kepada bayinya dkk (75%). (1984)

dan termotivasi untuk memberikan ASI Eksklusif, dari dukungan tenaga

Auerbach,

terhadap 567 ibu bekerja menunjukkan bahwa ibu yang memberikan ASI

kesehatan saat ini sudah cukup baik untuk peningkatan pencapaian ASI

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

Eksklusif mempunyai prestasi kerja. (Kristiyansari. 2009) Berdasarkan uraian di atas

bekerja dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Naras Kota Pariaman Tahun 2012. 1.4 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Utara Naras Kota Kecamatan Pariaman

penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang Analisis Keberhasilan Ibu-ibu Bekerja dalam Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Naras Kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman Tahun 2012. Semoga dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa menjadi dorongan dan semangat bagi semua ibu bekerja ASI untuk tetap kepada

Pariaman

Sumatera Barat. Penelitian dilakukan pada Bulan November - Desember 2012. 1.5 Populasi dan Subjek Penelitian Populasi penelitian adalah ibuibu yang bekerja di luar rumah dan meninggalkan anak lebih dari 6 jam, mempunyai anak umur 6-24 bulan yang berhasil ASI Eksklusif, berdomisili dan bekerja di wilayah kerja Puskesmas Naras Kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman pada Tahun 2012. Pengambilan menggunakan metode subjek purposive

memberikan

Ekslusif

bayinya dan tidak menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk tidak memberikan ASI Ekslusif. 1.2 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk menggali pengalaman ibu-ibu bekerja yang berhasil dalam pemberian ASI Eksklusif. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mengetahui faktor pendorong ibu-ibu bekerja yang berhasil dalam pemberian ASI

sampling, yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, yaitu berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya, yaitu sebanyak 10 orang subjek. Kriteria subjek penelitian adalah sebagai berikut: 1. Ibu-ibu yang bekerja di luar rumah lebih dari 6 jam. 2. Berdomisili dan bekerja di wilayah

Eksklusif, faktor penghambat ibu-ibu bekerja yang berhasil dalam pemberian ASI

Eksklusif, kiat mengatasi kesulitan oleh ibuibu bekerja dalam pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Naras Kota Pariaman Tahun 2012.

METODOLOGI PENELITIAN 1.3 Desain Penelitian Penelitian penelitian ini merupakan desain

kerja Puskesmas Naras. 3. Ibu yang mempunyai anak umur 624 bulan. 4. Bayi tidak memiliki kelainan atau cacat bawaan. 5. Bersedia diwawancarai.

kualitatif,

penelitiannya adalah deskriptif untuk melihat gambaran keberhasilan ibu-ibu

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

6. Mudah berkomunikasi. Sedangkan informan yang

ketika bayi diasuh oleh keluarga atau pengasuh. c. Dokumentasi Merupakan cara pengumpulan data dengan peristiwa pengumpulan yang telah catatan lalu, baik

diwawancarai sebagai crosscheck adalah orang-orang pengasuhan yang dan terlibat perawatan dalam bayi,

meliputi keluarga (suami, ibu, ibu mertua, kakak, adik) dan pengasuh. Adapun kriteria informan sebagai

berbentuk tulisan ataupun gambar. 1.7 Instrumen Penelitian Agar penelitian yang dilakukan tersimpan dan terekam dengan jelas, peneliti harus memiliki bukti bahwa telah melakukan penelitian kepada

crosscheck adalah sebagai berikut: 1. Bersedia diwawancarai. 2. Mudah berkomunikasi. Informan dari tenaga kesehatan adalah 3 orang bidan desa dan 1 orang pimpinan Puskesmas Naras. 1.6 Metode Pengumpulan Data 1.6.1 Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara Wawancara yang dilakukan adalah wawancara wawancara kategori semi ini terstruktur, dalam

sumber data, maka dalam penelitian ini diperlukan bantuan alat-alat pengumpul data sebagai berikut : a. Pedoman sekumpulan berhubungan penelitian. b. Buku catatan yaitu buku yang wawancara pertanyaan dengan yaitu yang objek

termasuk

indeep lebih dengan

interview. bebas wawancara

digunakan untuk mencatat semua percakapan dengan nara sumber

Pelaksanaannya dibandingkan

(informan) yang diringkas dalam suatu matriks. c. Tape recorder, berfungsi untuk

terstruktur. Pewawancara membawa panduan pertanyaan lengkap dan terperinci penelitian. b. Pengamatan (Observasi) Observasi yang digunakan adalah observasi partisipatif yang tergolong partisipasi partiil atau sebagian sesuai dengan objek

merekam semua percakapan atau pembicaraan dengan informan

sehubungan dengan objek penelitian. d. Kamera, berfungsi memotret objek penelitian sebagai bukti penelitian Pedoman pernyataan kondisi observasi yang yaitu daftar

dimana peneliti mengambil bagian pada kegiatan tertentu saja yang berkaitan dengan topik. Yaitu

menggambarkan yang diobservasi

objek

berupa tabel checklist. 1.8 Pengolahan dan Analisa Data Sesudah dilakukan wawancara mendalam, peneliti menyususn kembali

kegiatan memerah ASI oleh ibu di kantor dan observasi di rumah subjek

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

catatan-catatan atau membuat transkrip. Kemudian dengan data akan dikembangkan dengan

analisis data memungkinkan terwujudnya hasil penelitian yang lebih dalam dan lebih kaya. Transkrip adalah bahan dasar bagi pengolahan dan anlisis data. Analisis data dalam penelitian ini adalah dengan mengikuti langkah-

cara

melengkapinya

informasi yang diperoleh dari rekaman. Setelah itu dilakukan pengaturan data, melakukan koding atau pengkodean data, lalu meringkas data matriks dengan dan

langkah yang dilakukan sebagai berikut: a. Hasil catatan lapangan dari jawaban subjek b. Transkrip c. Mengatur diperoleh d. Koding e. Meringkas dengan matriks f. Kesimpulan data yang

menggunakan

menginterpretasikan data serta menarik kesimpulan. Analisa data dilakukan

dengan analisa isi (content analisys). Pengolahan dan analisis data pada studi kualitatif bersifat sinambung, simultan dan saling memperkaya hubungan

timbale balik antara pengolahan dan

HASIL PENELITIAN 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian Tabel 4.2 Karakteristik Informan Ibu Menyusui

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kriteria Staf/pegawai Puskesmas Naras

Nama LF OV LA BW ND

Kode R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10

Usia 27 tahun 28 tahun 29 tahun 29 tahun 30 tahun 26 tahun 35 tahun 30 tahun 38 tahun 38 tahun

Luar staf/pegawai Puskesmas Naras

NY ML DN DT NE

Pendidikan terakhir PNS (SKM) S1 PNS (Dokter) S1 PNS (S. S1 Keperawatan) PNS (SKM) S1 PNS (Rekam DIII Medik) Jualan SMA Tani Jualan Kaur desa kader PNS (Guru) SMP SMP + SMA S1

Pekerjaan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

4.2 Faktor

Pendorong

Keberhasilan

tinggi

immunoglobulin,

Pemberian ASI Eksklusif 4.3.1 Pengetahuan tentang ASI Eksklusif Hasil penelitian dengan 10 orang subjek menunjukkan 7 orang subjek mengetahui tentang

baik untuk daya tahan tubuh anak, zat pencahar, mekonium, memberikan

mengeluarkan untuk

mengandung protein (R5). kekebalan pada tubuh bayi (R9). Ketika ditanya manfaat ASI bagi bayi semua subjek mengetahui manfaatnya. Mereka menyebutkan manfaatnya sebagai makanan terbaik, untuk pertumbuhan bayi, untuk dan daya

pengertian ASI Eksklusif, sedangkan 3 diantaranya tidak tahu dan lupa tentang pengertian ASI Eksklusif. Mereka mengetahui dari membaca buku, internet dan diskusi dengan rekan-rekan kerja di puskesmas, sedangkan ibu-ibu lain tahu dari kegiatan kelas ibu dari bidan

perkembangan

tahan tubuh anak, dan bonding. Berikut hasil wawancaranya: untuk pertumbuhan bayi, mengandung zat gizi yang dibutuhkan, anti bodi (R3). sebagai makanan, pertumbuhan mengandung

puskesmas dan dari bidan desa. Pemberian ASI tanpa ada makanan yang lain, seperti air putih, air teh mulai dari lahir sampai umur 6 bulan (R5). Sedangkan ketika ditanya ibu-ibu pengertian lain ASI

dan perkembangan, sumber zat gizi, perekat kasih sayang ibu dan anak (R4). untuk mencegah segala penyakit, cerdas, aktif (R6). Dari 10 orang subjek

Eksklusif mereka menjawab lupa dan tidak tahu. Berikut jawabannya: ..Lupo pi.. (R8). Ketika ditanya tentang

kolostrum, dari 10 subjek penelitian yang diwawancarai pada umumnya mereka mengetahui apa itu

penelitian ketika ditanya manfaat ASI bagi ibu pada umumnya mereka mengetahui manfaatnya, hanya 1 orang subjek yang menjawab tidak tahu. Sebagian ibu (5 dari 10) menyebutkan manfaatnya untuk

kolostrum, hanya 2 orang subjek yang tidak tahu kolostrum, tapi setelah disebutkan susu jolong

mereka semua mengetahui, tahu warna dan manfaatnya. Berikut

menjarangkan kehamilan/KB alami, sedangkan sebagian ibu (5 dari 10) menyebutkan menghemat manfaatnya untuk

jawabannya: .kekuning-kuningan (R8).

biaya/pengeluaran

(ekonomis). Manfat lain disebutkan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

(3 dari 10) untuk mencegah penyakit kanker. Hal tersebut dapat dilihat dari jawaban subjek sebagai berikut: untuk membantu ibu KB alami, mengurangi berat

% karena 10 % lagi jika ada kendala seperti kutipannya: 90 %,..10 bisa % lagi?... menjadi seandainya pekerjaan. Berikut

mungkin

apa..mm..kalau ada kendala (R1). 4.2.3

badan setelah melahirkan, praktis untuk kapan mencegah saja, kanker ekonomis (R3).

Praktik Pemberian ASI Eksklusif Ketika subjek ditanya mengenei praktik IMD (Inisiasi Menyusu Dini) setelah melahirkan sebagian kecil

payudara/serviks, menurunkan berat badan, bonding, pengeluaran, menghemat ekonomis,

subjek (3 dari 10) ada melakukan praktik IMD, yo lai Berikut kutipan ti

wawancaranya: ado,.siap

cepat penyajian (R5). 4.2.2 Motivasi Pemberian ASI Eksklusif Hasil dari penelitian ketika subjek ditanya tentang keinginan memberikan ASI Eksklusif, pada umumnya (9 dari 10) orang subjek menjawab keinginan ya mempunyai ASI Sedangkan

malahiaan anak dilatakan di ateh paruik, tu kiro-kiro 3-5 minik ndak lamo siap tu anak mancucuik (R4). ada 1 orang subjek putiang susu

memberikan

melakukan IMD tapi tidak berhasil, hal ini disebabkan karena persalinan ibu dilakukan dengan Caesar sehingga sulit untuk meletakkan bayi di atas perut si ibu. Satu orang subjek yang tidak berhasil menyebutkan: setelah bayi keluar dari perut ibu, bayi diletakkan di dada siibu.ndak sampai saminik.pas dilatakan ka dado tu langsuang se ca angkek...ya dilakukan IMD tapi alun berhasil lai (R1). Sedangkan kebiasaan menyusui ibu di rumah semua responden menjawab disusukan langsung, tapi kalau ibu

Eksklusif, hanya 1 orang subjek yang menjawab tidak tahu. Berikut kutipan wawancaranya: ya,pingin yang terbaik untuk anak, daya tahan tubuh, emosional, IQ (R5). .tidak tahu (R6). Ketika ditanya seberapa besar keinginan ibu untuk memberikan ASI Eksklusif, pada umumnya (8 dari 10) menjawab sebesar-besarnya dan 100 %. Hanya ada satu orang subjek yang menjawab 90 % dan satu orang subjek menjawab tidak tahu. Satu orang subjek yang menjawab 90

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

bekerja sebagian ibu (6 dari 10) menjawab dengan memerah ASI,

perlengkapannya berikut kutipannya:

tidak

memadai,

sedangkan 3 orang ibu pulang ke rumah menyusui anak dan 1 orang ibu membawa anaknya ke tempat kerja, hal ini dapat dilihat dari jawaban subjek sebagai berikut: kalau disuokan nkarajo, ASI pakai anak perah, sendok, ndiagiah

belum tapi kalo bisa ya ada,..di ruangan se nyo, tu tutuik pintu ..ruangan dan masih data.keamanan kenyamanannyo kurang (R4). dan saran ibu-ibu bekerja di kantor agar mereka dapat memerah ASI ketika bekerja adalah dengan adanya ruangan khusus memerah ASI, disediakan

kiro-kiro 300 cc lah nyo habisan salamo n karajo (R5). Kalau ediimbauan sawah, e manangih awak k

peralatan dan perlengkapan seperti: kulkas, wastafel, air panas. yo kalau bisa ado ruangan khusus laktasi, dilengkapi do kulkas, wastafel, air panas persiapan (R5). Sesuai dilakukan dengan peneliti observasi memang yang di

pulang

awak

manyusuan (R7). Kemudian untuk

menyusui, sebagian besar subjek (7 dari 10) menyatakan persiapan sebelum menyusui adalah dengan cuci tangan dan membersihkan putting susu, berikut hasil wawancaranya: cuci tangan, areola dan putting dibersihkan,disusukan.. (R3). Mengenai fasilitas di kantor tempat ibu-ibu bekerja ketika ditanya apakah di kantor tempat ibu bekerja sudah ada ruang untuk memerah ASI, sebagian ibu (3 dari 6 orang ibu bekerja di kantor) menjawab menggunakan belum, salah tapi satu mereka ruangan 4.2.4

Puskesmas Naras tidak ada ruangan khusus mereka untuk memerah menggunakan ASI, tapi

ruangan

data/POZI dibalik lemari komputer untuk memerah ASI, pintu ditutup, dan ibu-ibu tersebut membawa pompa dan cooler bag dari rumah. Ada juga ibu yang memerah ASI di ruangan staff meeting, yang tentu saja keamanan dan kenyamanannya kurang. Dukungan Keluarga Berdasarkan ketika keluarga ditanya tentang hasil tentang penelitian dukungan ASI

(ruangan data dan pojok gizi, ruangan meeting) untuk memerah ASI, dimana ruangan tersebut kurang nyaman dan

pemberian

Eksklusif semua ibu menjawab ya suami/keluarga mendukung terhadap

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

pemberian ASI Eksklusif, dukungan suami/keluarga tersebut dapat berupa support, menyediakan alat-alat untuk memerah, menyuruh banyak-banyak

4.2.5

Dukungan Tenaga Kesehatan Dari segi dukungan tenaga

kesehatan mengenai apakah petugas kesehatan pernah menjelaskan

makan sayur, membelikan susu untuk ibu, dan tidak membolehkan kerja berat. Berikut kutipannya: membelikan susu buat ibu,dalam segi makanan disuruah acok-acok buek sayua (R8). dia memfasilitasimembelikan alat untuk mompa, trus

tentang ASI Eksklusif atau tidak, sebagian kecil ibu-ibu (3 dari 10) menjawab tidak pernah, mereka ASI dan

mendapatkan Eksklusif internet mereka dari

pengetahuan buku-buku

ditambah yang

pengetahuan petugas

memang

kesehatan, berikut kutipannya: .tidak..taunya buku-buku, internet (R5). dan sebagian besar ibu-ibu (6 dari check 10) menjawab pernah mendapat dari

mengingatkan dah diperas susunya (R2). Sesuai hasil cross

wawancara dengan salah satu nenek bayi (yang mengasuh bayi ketika ibu bekerja) memang diketahui bahwa si nenek mempunyai pengetahuan tentang ASI Eksklusif yang didapat dari ibu, dan dukungan penuh sang nenek ketika ibu bekerja memang menjadi pendorong keberhasilan pemberian ASI Eksklusif. Ketika ibu bekerja dan ketika anak menangis sang nenek berusaha

penjelasan mengenei ASI Eksklusif dari dokter spesialis kandungan, bidan-bidan puskesmas dan bidan desa dalam kegiatan kelas ibu hamil, berikut kutipannya: lai,ibuk-ibuk bidan

puskesmas samo buk bidan desa ko mah di kelas ibu hamil (R9). Sesuai cross check dengan tenaga kesehatan (bidan desa) maka diketahui bahwa bidan mempunyai pengetahuan tentang ASI Eksklusif, jika menolong persalinan mereka menganjurkan IMD kecuali karena situasi tertentu IMD tidak dilakukan. Upaya yang ingin mereka lakukan agar pencapaian ASI Eksklusif

menenangkan dengan dibuai-buai dalam buaian, tanpa memberi apa-apa selain ASI perah yang ditinggalkan ibu, seperti hasil wawancara berikut: ya dibuai-buailah, habis tu tidur dia (IF 5).

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

meningkat

yaitu

dengan

suruah se nyo peras aia susunyo tu. (IF 3). Begitu juga hasil cross check dengan atasan ibu bekerja yang mendukung pemberian ASI Eksklusif dengan memfasilitasi adanya waktu ibu-ibu dispensasi ibu-ibu

meningkatkan promosi kesehatan, penyuluhan mendatangi dan rumah bides/kader ibu untuk

mengajak ASI Eksklusif. Berikut hasil wawancaranya: pasti dianjurkan IMD

menyusui, terhadap

tergantung badan bayinya, jika apgascorenya memungkinkan dilakukan IMD, seandainya bagus dan untuk maka

pulang

menyusui yaitu 2 jam lebih awal pulangnya dibanding staf yang lain, seperti kutipan berikut: ..ya,dengan memfasilitasi.adanya dispensasi terhadap waktu pulang ibu-ibu menyusui

dilakukan IMD.apgascore (tujuh penilaian yaitu

gerakannya menangisnyo

aktif/ndak, kuat/ndak,

kalau seandainyo napasnya tersendat manangihnyo ndak tersendat doh tu wak 4.3 Faktor

yaitu 2 jam lebih awal dibanding staf lain selama umur anak 1 tahun (IF 1). Penghambat Keberhasilan

mamaksoan untuak IMd tu ndak bisa do ndak, beko maningga bayi (IF 2).

Pemberian ASI Eksklusif Dari hasil yang penelitian menjadi ketika faktor ASI

Berikut solusi menurut bidan desa untuk mengatasi sesuai hambatan kutipan

ditanya

apa

penghambat Eksklusif

dalam pemberian pada umumnya

tersebut berikut:

adalah

subjek

menjawab pekerjaan, dimana ibu harus yo suruah se bidan desa turun ke ibu nifas kan, kasihnyo penjelasan bekerja di luar rumah dan

meninggalkan anak mereka. Ibu-ibu yang bekerja sebagai pada staf/pegawai umumnya

pengertian kalau menyusui tu tu lebih baik, lebih bagus dari(memberi penyuluhan).kalau seandainyo ibu nyo bekerja

Puskesmas

Naras

mereka memberikan ASI perah kepada bayi sewaktu ibu bekerja, dan ibu-ibu tersebut harus meluangkan waktu ketika di rumah untuk memerah ASI untuk stock besok ketika ibu bekerja, kadang ibu memerah ASI pada malam hari,

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

selain itu ketika pulang dari tempat kerja ibu harus mensterilkan alat-alat untuk menyimpan ASI perah. Berikut hasil wawancaranya: kurang istirahat, kurang waktu untuk mesterilkan alat-alat (R5). Salah seorang ibu yang bekerja sebagai petani menjawab yang menjadi penghambat Eksklusif pekerjaan, dalam pemberian kelelahan kurang ASI

hambatan

dalam

pemberian

ASI

Eksklusif adalah dengan memerah ASI di kantor, atau membawa anak ke tempat kerja. Ada juga subjek yang menjawab kiat mengatasi hambatan dalam pemberian ASI Eksklusif yaitu dengan pulang ke rumah untuk

menyusui bayi dan kembali lagi ke tempat kerja, namun ada juga subjek yang menjawab dengan dijalani saja tanpa itu dijadikan suatu hambatan. Berikut hasil wawancaranya: Tidak ada, bawa anak ke kantor, perah ASI di rumah, sekali-kali di kantor (R2).

adalah makan

karena teratur.

Berikut hasil wawancaranya: kalatiahan dek karajo, makan kurang taratur (R6). 4.4 Kiat Mengatasi Hambatan dalam Pemberian ASI Eksklusif Dari penelitian dapat diketahui kiat ibu-ibu bekerja dalam mengatasi Tabel 4.3 Hasil Penelitian yang Didapat Jenis Pekerjaan Ibu-ibu bekerja sebagai staf/pegawai di Puskesmas Naras Pendidikan Pendidikan ibu cukup baik, minimal D III Pengetahuan Mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang ASI Eksklusif Motivasi Internal Mempunyai motivasi yang kuat dari dalam diri sendiri untuk memberikan ASI Eksklusif Mempunyai motivasi dari diri sendiri dan dari petugas kesehatan untuk memberikan ASI Eksklusif

..dijalani aja (R5).

Dukungan Keluarga Mendukung sepenuhnya

Dukungan Tenaga Kesehatan Ada yang merasakan dukungan nakes dan ada yang tidak

Ibu-ibu bekerja di luar staf/pegawai Puskesmas Naras (guru, jualan, tani, perangkat desa)

Pengetahuan ibu ada yang tinggi (S1) dan ada yang rendah (SMP)

Ada yang mempunyai pengetahuan dan ada yang kurang mepunyai pengetahuan tentang ASI Eksklusif

Mendukung sepenuhnya

Ada yang merasakan dukungan nakes dan ada yang tidak

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

PEMBAHASAN 5.1 Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitian ini

5.2.2 Jenis Pekerjaan Dari penelitian yang dilakukan ternyata jenis pekerjaan ibu bisa mempengaruhi praktik pemberian ASI Eksklusif, hal ini dibuktikan dengan ibu yang bekerja di kantor lebih tinggi tingkat pengetahuan dalam

adalah dalam pelaksanaan wawancara dengan subjek berupa adanya berbagai gangguan berlangsung ketika seperti wawancara dari teman

memberikan ASI Eksklusif kepada anaknya dibanding ibu-ibu yang

seruangan atau nenek si anak yang ikut menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti, namun peneliti bisa

bekerja di luar kantor. Bagi ibu yang bekerja di kantor mereka bisa memerah ASI mereka di kantor dan pekerjaan mereka tidak terlalu berat secara fisik dibanding pekerjaan ibu yang bertani dan

memisahkan jawaban dari subjek dan hanya menganalisis jawaban dari

subjek. Gangguan lain yaitu dari anak balita ibu yang menangis-nangis ketika wawancara berlangsung, karena si balita hanya mau digendong ibunya. 5.2 Faktor Pendorong Ibu-ibu Bekerja dalam Pemberian ASI Eksklusif 5.2.1 Pengetahuan dan Tingkat Pendidikan Dari hasil penelitian yang

berjualan, tapi ibu yang bertani, jualan, dan kaur desa mereka bisa pulang sewaktu-waktu ketika ingin menyusui bayi atau mereka bisa membawa ke tempat kerja mereka. 5.2.3 Motivasi Ibu-ibu pengetahuan yang dan mempunyai yang

dilakukan terhadap ibu-ibu bekerja tersebut ternyata tingkat pengetahuan dan pendidikan sangat membantu

dalam praktik ASI Eksklusif, dapat dilihat ibu-ibu yang mempunyai ditanya Eksklusif,

pendidikan

tinggi pada umumnya mempunyai motivasi yang kuat untuk memberikan ASI Eksklusif, hal ini dapat dilihat dari praktik ASI Eksklusif ketika mereka bekerja mereka bisa meluangkan waktu untuk memerah ASI di kantor dan membawanya dengan cooler bag.

pendidikan tentang

sarjana

ketika ASI

pengertian

manfaat ASI bagi bayi dan ibu, jadwal pemberian ASI, cara meningkatkan produksi ASI, penyakit yang dapat dicegah dengan ASI, dan pengertian IMD pada umumnya ibu-ibu dapat menjawabnya.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

5.2.4 Dukungan Keluarga Dari dilakukan hasil sudah penelitian semua yang subjek

pengetahuan yang tinggi tentang ASI Eksklusif dari tenaga kesehatan dalam hal ini bidan desa dan bagaimana tenaga kesehatan tersebut melakukan promosi, penyuluhan, dan konseling kepada masyarakat akan pentingnya ASI Eksklusif. Jika tenaga kesehatan kurang dalam penyuluhan, maka

mendapat dukungan yang besar dari suami/keluarga untuk memberikan ASI Eksklusif. Hal ini menjadi faktor pendorong untuk keberhasilan ASI Eksklusif. Terbukti cross check dengan nenek yang mengasuh bayi ketika ibu bekerja diketahui bahwa terdapat

rendah keberhasilan ASI Eksklusif, kecuali ibu-ibu yang tinggi

pengetahuannya, maka mereka yang aktif bertanya dan mencari tahu lewat buku atau internet. Begitu juga jika tenaga kesehatan rajin melakukan

dukungan dan motivasi yang besar dari sang nenek agar cucu ASI Eksklusif yaitu sang nenek berusaha

menenangkan bayi yang menangis ketika ditinggal ibu bekerja tanpa memberi makanan lain selain ASI perah yang ditinggalkan oleh ibu. Begitu juga dengan ibu-ibu yang lain mendapat dukungan yang penuh dari suami agar ASI Eksklusif dengan ikut membelikan peralatan memerah ASI, mengingatkan agar ibu banyak makan buah dan sayur, dan mengingatkan agar anak sering disusui. 5.2.5 Dukungan Tenaga Kesehatan Sejalan dengan penelitian

promosi, penyuluhan, dan konseling maka tinggi keberhasilan ASI

Eksklusif. 5.3 Faktor Penghambat Ibu-ibu Bekerja dalam Pemberian ASI Eksklusif 5.3.1 Pengetahuan dan Tingkat Pendidikan Dari penelitian juga dapat dilihat bahwa ibu-ibu dengan pengetahuan dan tingkat pendidikan yang rendah kurang memahami tentang pengertian ASI Eksklusif, penyakit yang dapat dicegah dengan ASI, dan pengertian IMD, hanya saja mereka tahu dari bidan desa yang menjelaskan tentang pentingnya ASI Eksklusif bagi anak, namun mereka tidak begitu memahaminya, jadi mereka melakukannya karena bagus kata bidan, bukan pengetahuan yang dalam dari diri mereka sendiri.

tersebut, ketika coss check dengan informan tenaga kesehatan dalam hal ini bidan desa, maka tingkat

pengetahuan bidan desa tentang ASI Eksklusif cukup tinggi dan lama mereka bekerja sebagai bidan desa kira-kira 5-6 tahun. Jadi faktor

pendorong dari segi dukungan tenaga kesehatan adalah bagaimana

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

5.3.2 Jenis Pekerjaan Faktor yang menjadi penghambat adalah pekerjaan tersebut, bagi ibu yang bekerja di kantor ketika mereka bekerja mereka tidak bisa menyusui anaknya langsung dan harus diberi ASI perah, mereka harus membawa cooler bag pulang pergi, harus memerah ASI ketika di rumah (kadang malammalam) untuk stock besok ketika ibu bekerja, kurang istirahat, kurang waktu untuk mesterilkan alat-alat. Ditambah stress secara pemikiran karena

ditemukan bahwa sebagian kecil ibuibu ketika hamil tidak mendapatkan penjelasan tentang ASI Eksklusif dari petugas kesehatan dan tidak mendapat anjuran dari tenaga kesehatan untuk tidak memberikan susu formula, tapi mereka mempelajari dan mencari tahu sendiri dari buku-buku, internet, dan sharing dengan rekan kerja. Hal ini tentu saja menjadi faktor penghambat dalam keberhasilan pemberian ASI Eksklusif. 5.4 Kiat Mengatasi Hambatan Kiat ibu bekerja untuk mengatasi

pekerjaan yang deadline. 5.3.3 Motivasi Dari hasil penelitian, ibu-ibu yang rendah pengetahuan dan tingkat pendidikannya, ibu-ibu tersebut lebih repot bolak-balik pulang menyusui anaknya atau membawa anak ke tempat bekerja karena mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang ASI perah, jadi ibu-ibu yang mempunyai motivasi internal yang kuat dari dalam diri sendiri lebih bisa mengatasi Dari hasil penelitian, yang menjadi kunci keberhasilan pemberian ASI hambatan tersebut adalah bagi ibu di kantor dengan memerah ASI di kantor dan di rumah, tapi mereka dengan senang hati menjalaninya karena motivasi yang kuat untuk memberikan anak yang terbaik dan tahu akan manfaat ASI, bagi ibu-ibu lain kiat mereka dengan makan banyak-banyak, kurangi stress, tapi

hambatan tersebut tidak begitu berarti karena niat yang tulus ingin memberikan anak yang terbaik.

hambatan dalam praktik ASI Eksklusif dibanding ibu-ibu yang mempunyai pengetahuan dan tingkat pendidikan yang rendah. 5.3.4 Tenaga Kesehatan Dukungan mempunyai tenaga yang kesehatan penting

Eksklusif pada ibu-ibu bekerja adalah pengetahuan yang tinggi tentang ASI Eksklusif, motivasi yang kuat untuk memberikan ASI Eksklusif, dukungan dari keluarga (suami, ibu, mertua) untuk memberikan ASI Eksklusif, dan

peranan

dalam keberhasilan pemberian ASI Eksklusif. Dari hasil penelitian

dukungan dari tenaga kesehatan (dokter kandungan, bidan puskesmas, bidan desa,

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

TPG) tentang penjelasan ASI eksklusif, penjelasan tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD), perawatan payudara ketika hamil, KB yang bisa menghambat pengeluaran ASI, bagaimana meningkatkan produksi ASI, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar. Begitu juga dukungan dari atasan ibu bekerja untuk memberikan dispensasi kepada ibu menyusui agar bisa pulang lebih awal dibanding

6.1.3 Walaupun bekerja menjadi hambatan untuk memberikan ASI Eksklusif tapi ibu-ibu dapat mengatasi hambatan tersebut karena pengetahuan yang tinggi tentang ASI Eksklusif, motivasi yang kuat untuk memberikan anak ASI Eksklusif, ditambah dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan. 6.2 Saran 6.2.1 Bagi tenaga kesehatan agar lebih meningkatkan promosi, penyuluhan, dan konseling kepada ibu-ibu hamil, ibu-ibu menyusui, dan keluarga ibu agar pemberian ASI Eksklusif

pegawai lain, bisa membawa anak ke tempat kerja, tapi yang paling penting adalah menyediakan fasilitas untuk

memerah ASI di kantor, yaitu ruangan khusus untuk memerah ASI dan segala perlengkapannya (kulkas, dispenser,

berhasil. 6.2.2 Bagi puskesmas/instansi lain agar menyediakan ruangan khusus laktasi dan segala perlengkapannya seperti kulkas, dispenser, washtafel, waslap untuk memerah ASI ketika ibu

washtafel, waslap, tisu). Jadi jika semua faktor tersebut dalam mendukung pemberian maka ASI

hambatan

Eksklusif bisa diatasi dan ASI Eksklusif akan berhasil. PENUTUP 6.1 Kesimpulan 6.1.1 Faktor pendorong keberhasilan

bekerja di kantor. 6.2.3 Dalam penelitian ini masih kurang jumlah sampel, jenis pekerjaan ibu dan penelitian dengan kuantitatif, untuk itu perlu dilakukan penelitian lanjutan agar praktik pemberian ASI Eksklusif pada ibu bekerja bisa

pemberian ASI Eksklusif pada ibu-ibu bekerja adalah pengetahuan dan

pendidikan yang tinggi tentang ASI Eksklusif, motivasi yang kuat,

tercapai dengan sempurna. DAFTAR PUSTAKA

dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan. 6.1.2 Faktor penghambat dalam pemberian ASI Eksklusif adalah ibu yang harus bekerja dan meninggalkan anak di rumah. Afifah, Diana Nur. 2007. Faktor yang Berperan dalam Kegagalan Praktik Pemberian Program ASI Eksklusif. Tesis Gizi

Pascasarjana

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR

Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang 2007 Depkes RI, 1997. Petunjuk Pelaksanaan Pemberian ASI Eksklusif. Jakarta Depkes RI, 2005. Manajemen Laktasi. Jakarta Depkes RI, 2007. Pelatihan Konseling Menyusui Panduan Peserta. Jakarta Depkes RI, 2008. Profil Kesehatan Kemenkes RI. 2004. Rekomendasi

Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi di Indonesia. Jakarta Kemenkes RI. 2011. Profil Kesehatan

Indonesia 2010. Jakarta Kristiyansari, W. 2009. ASI, Menyusui dan Sadari. Nuha Medika. Yogyakarta Moleong, L. J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya, Bandung Notoatmodjo, S. 2003. Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Sistem Kesehatan Kesehatan Masyarakat.

Indonesia. Jakarta Depkes RI, 2009. Petunjuk Pelaksanaan Kelas Baduta. Jakarta Depkes RI, 2009.

Penerbit Rineka Cipta. Jakarta

Nasional. Jakarta Dinas Kesehatan Kota Pariaman. 2011. Profil Kesehatan Kota Pariaman. Pariaman Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. 2010. Profil Kesehatan Sumatera Barat. Padang ENN, IBFAN-GIFA, Foundation Terre des Hommes, Action Contre la Faim, Case USA, Lingakes, UNICEF, Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta Novianti, R. 2009. Menyusui itu Indah, Cara Dahyat Memberikan ASI untuk Bayi Sehat dan Cerdas. Oktopus.

Yogyakarta Puskesmas Naras. 2012. Profil Kesehatan Puskesmas Naras Tahun 2011. Pariaman Purwanti, H.S. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif. EGC. Jakarta Roesli. 2000. Mengenal ASI Eksklusif.

UNHCR, WHO and WFP. 2007. Pemberian Makanan Bayi pada

Keadaan Darurat Handayani Heni. 2012. Ruang ASI ASI Kendala dalam di

Trubus Agriwidya. Jakarta Soetjningsh, 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga Ksehatan. EGC. Jakarta Rosita, Syarifah. 2008. ASI untuk

Pemanfaatan Penerapan Kementerian

Eksklusif

Pemberdayaan

Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2011. Skrispsi Fakultas Program Reproduksi

Kecerdasan Bayi. Ayyana. Yogyakarta Suhardjo. 1992. Pemberian Makanan pad Bayi dan Anak. Kanisius. Yogyakarta Weni, K. 2012. Direktorat Bina Kesehatan Anak Wujudkan ASI Eksklusif dengan Pojok ASI

Kesehatan Studi

Masyarakat Kesehatan

Universitas Indonesia. Depok Http://WWW. Jurnas. Com/news/1784/ASI Berperan Capai MDGs

2015/9/Sosial Budaya/perempuan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis SUMBAR