Anda di halaman 1dari 28

BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

REFERAT MARET 2013

BRONKIEKTASIS

OLEH: Muhammad Nurul Asmi (10542 0032 08)

PEMBIMBING:

dr. Pangeran Indal Patra A.Sp.Rad. M.Kes


DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2013

HALAMAN PENGESAHAN Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa : Nama Stambuk Judul Refarat : MUHAMMAD NURUL ASMI : 10542 0032 08 : BRONKIEKTASIS

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraaan klinik pada bagian radiologi Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar Makassar, Maret 2013

Penguji,

Pembimbing,

(dr. Pangeran Indal Patra A.Sp.Rad M.kes) A.Sp.Rad. M.kes)

(dr. Pangeran Indal Patra

Mengetahui, Kepala Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar

(dr. Isqandar Masoud Sp.Rad)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................ iv A. PENDAHULUAN .................................................................................. 1 B. EPIDEMIOLOGI DAN INSIDENSI ...................................................... 3 C.ANATOMI DAN FISIOLOGI ................................................................. 4 D.ETIOLOGI ............................................................................................... 8 E. PATOFISIOLOGI ................................................................................... 9 F. KLASIFIKASI ......................................................................................... 10 G.DIAGNOSIS ............................................................................................ 11 1. GAMBARAN KLINIS ...................................................................... 11 2. PEMERIKSAAN UMUM ................................................................. 12 3. GAMBARAN RADIOLOGI ............................................................. 13 4. PEMERIKSAAN LABORATORIUM .............................................. 16 H. DIAGNOSA BANDING ........................................................................ 18 I. PENATALAKSANAAN.......................................................................... 20 J. KOMPLIKASI ......................................................................................... 22 K. PENCEGAHAN ...................................................................................... 23 L. PROGNOSIS ........................................................................................... 24 LAMPIRAN REFERENSI

A. PENDAHULUAN Bronkiektasis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi (ektasis) dan distorsi bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik, persisten atau irrevesibel. Kelainan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahanperubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen elastis, otot polos bronkus, tulang rawan dan pembuluh-pembuluh darah. Bronkus yang terkena umumnya adalah bronkus ukuran sedang (medium size), sedangkan bronkus besar umumnya jarang. Bronkiektasis pertama kali dijelaskan oleh Leannec pada 1819, adalah suatu keadaan dilatasi abnormal dari bronkus dan bronkiolus yang berkaitan dengan infeksi dan inflamasi saluran napas yang berulang.(1,2,3) Bronkiektasis bukan merupakan penyakit tunggal, dapat terjadi melalui berbagai cara dan merupakan akibat dari beberapa keadaan yang mengenai dinding bronchial, baik secara langsung maupun tidak, yang mengganggu sistem pertahanannya. Keadaan ini mungkin menyebar luas, atau mungkin muncul di satu atau dua tempat. Secara khusus, bronkiektasis menyebabkan pembesaran pada bronkus yang berukuran sedang, tetapi bronkus berukuran kecil yang berada dibawahnya sering membentuk jaringan parut dan menyempit. Kadang- kadang bronkiektasis terjadi pada bronkus yang lebih besar, seperti yang terjadi pada aspergilosis bronkopulmoner alergika (suatukeadaan yang disebabkan oleh adanya respon imunogis terhadap jamur Aspergillus).(1,2,) Dalam keadaan normal, dinding bronkus terbuat dari beberapa lapisan yang ketebalan dan komposisinya bervariasi pada setiap bagian dari saluran pernapasan. Lapisan dalam (mukosa) dan daerah dibawahnya (submukosa) mengandung sel sel

yang melindungi saluran pernafasan dan paru paru dari zat zat yang berbahaya. Sel sel terdiri dari :(1,2) Sel penghasil lendir Sel bersilia, yang memiliki rambut getar untuk membantu menyapu partikel partikel dan lender ke bagian atas atau keluar dari saluran pernafasan. Sel sel lainnya yang berperan dalam kekebalan dan sitem pertahanan tubuh Struktur saluran pernafasan dibentuk oleh serat elastik, otot dan lapisan kartilago (tulang rawan), yang memungkinkan bervariasinya diameter saluran pernafasan sesuai kebutuhan. Pembuluh darah dan jaringan limfoid berfungsi sebagai pemberi zat makanan dan sistem pertahanan untuk dinding bronkus.(1,2,3)melawan organisme dan zat zat yang berbahaya lainnya.

Gambar 1. Pada bronkiektasis, produksi mukus meningkat, silia mengalami kerusakan dan
daerah bronkus mengalami inflamasi kronik dan mengalami kerusakan. .

Pada bronkiektasis, daerah dinding bronkus rusak dan mengalami peradangan kronis, dimana sel bersilia rusak dan pembentukan lendir meningkat. Ketegangan dinding bronkus yang normal juga hilang. Arzea yang terkena menjadi lebar dan lemas dan membentuk kantung yang menyerupai balon kecil. Penambahan lendir menyebabkan kuman berkembang biak, yang sering menyumbat bronkus dan memicu

penumpukan sekresi yang terinfksi dan kemudian merusak dinding bronkus. Peradangan dan peningkatan pembuluh darah pada dinding bronkus juga dapat menyebabkan batuk darah. Penyumbatan pada saluran pernafasan yang rusak dapat menyebabkan rendahnya kadar oksigen dalam darah.(1,4) Diagnosis penyakit didasarkan pada riwayat klinis dari gejala respirasi yang bersifat kronik, seperti batuk setiap hari, produksi sputum yang kental dan penemuan radiografi seperti penebalan dinding bronkus dan dilatasi lumen yang terlihat pada CT Scan.(1) Penatalaksanaan pasien bronkiektasis terdiri atas dua kelompok, yakni pengobatan konservatif dan pengobatan pembedahan.(1)

B. EPIDEMIOLOGI DAN INSIDENSI Angka kejadian yang sebenarnya dari bronktiekasis tidak diketahui pasti. Di negara negara Barat, insidens bronkiektasis diperkiraan sebanyak 1,3% diantara populasi. Insidens bronkiektais cenderung menurun dengan adanya kemajuan pengobatan antibiotika. Akan tetapi perlu diingat bahwa insidens ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan merokok, polusi udara dan kelainan kongenital.(1) Bronkiektasis merupakan penyebab utama kematian pada negara yang kurang berkembang. Terutama pada negara yang sarana medis dan terapi antibiotika terbatas. Sedangkan di negara- negara maju seperti AS, bronkiektasis mengalami penurunan seiring dengan kemajuan pengobatan. Bronkiektasis umumnya terjadi pada penderita dengan umur rata- rata 39 tahun, terbanyak pada usia 60 80 tahun. Sebab kematian yang terbanyak pada bronkiektasis adalah karena gagal napas. Lebih sering terjadi pada perempuan daripada laki laki. Prevalensi bronkiektasis lebih tinggi pada penduduk dengan golongan sosioekonomi yang rendah.(1) Ada laporan tentang prevalensi tinggi didapatkan pada populasi yang relatif terisolasi dengan akses yang sulit ke perawatan kesehatan dan tingginya tingkat infeksi pernapasan pada anak, seperti Alaska Pribumi di Delta Yukon Kuskokwim.

(Barker AF, 2002) Penelitian baru- baru ini didapatkan sekitar 110.000 pasien dengan bronkiektasis di Amerika serikat. Yang dimana penyakit ini sering terjadi pada usia tua dengan duapertiga adalah wanita. Weycker et al melaporkan prevalensi bronkiektasis di Amerika Serikat 4,2 per 100.000 orang dengan usia 18-34 tahun dan 272 per 100.000 orang dengan usia 75 tahun. Tsang dan Tipoe, melaporkan prevelensi bronkiektasis 1 per 6.000 orang di Auckland, New Zealand. Didapatkan peningkatan frekuensi bronkiektasis dikarenakan penggunaan CT-Scan resolusi tinggi. (1,2) Di Indonesia belum ada laporan tentang angka angka yang pasti mengenai penyakit ini. Penyakit ini dapat diderita mulai sejak anak, bahkan dapat merupakan kelainan kongenital. Namun berdasarkan data yang diperoleh dari RSUD Dr. Soetomo pada tahun 1990 menempatkan bronkiektasis pada urutan ke-7 terbanyak. Dengan kata lain didapatkan 221 penderita dari 11.018 (1,01%) pasien rawat inap.(1)

C.

ANATOMI DAN FISIOLOGI Sistem pernafasan terdiri dari komponen berupa saluran pernafasan yang

dimulai dari hidung, pharing, laring, trachea, bronchus, broncheolus dan alveolus. Saluran pernafasan bagian atas dimulai dari hidung sampai trachea dan bagian bawah dari bronchus sampai alveolus. Fungsi utama sistem pernafasanadalah menyediakan oksigen untuk metabolisme jaringan tubuh dan mengeluarkan karbondioksida sebagai sisa metabolisme jaringan. (1,2,6) Adalah organ pernapasan yang penting karena udara yang masuk dapat berhubungan secara erat dengan darah kapiler didalam paru-paru. Tiap paru-paru melekat pada jantung dan trachea melalui radixs pulmonalis dan ligamentum pulmonal. Paru-paru sehat selalu berisi udara dan akan mengapung bila dimasukkan ke dalam air.(1,6)

Paru-paru dari fetus atau bayi baru lahir berwarna agak kemerahan dan lunak. Bila bayi belum pernah bernapas maka paru-paru tidak akan mengapung didalam air tetapi akan tenggelam.(1,6) Paru-paru orang dewasa mempunyai permukaan yang berwarna lebih gelap dan sering ada bercak-bercak yang disebabkan oleh penimbunan partikel debu yang terisap. Dibandingkan dengan paru-paru kiri, maka paru-paru kanan lebih besar dan lebih berat, tetapi lebih pendek karena kubah diafragma kanan letaknya lebih tinggi. Juga lebih besar karena adanya jantung yang letaknya lebih kekiri dalam rongga thorax.(2,3)

Gambar 2. Anatomi Bronkus. Dari gambar dapat kita lihat bahwa cabang utama bronkus kanan dan kiri akan bercabang menjadi bronkus lobaris dan bronkus segmentalis. Percabangan ini

berjalan terus-menerus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu bronkiolus yang tidak mengandung alveoli. Bronkiolus terminalis mempunyai diameter kurang lebih 1 mm. bronkiolus tidak diperkuat oleh kartilago tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara sampai pada tingkat ini disebut saluran penghantar udara karena fungsinya menghantarkan udara ke tempat pertukaran gas terjadi.(1,4,6) Setelah bronkiolus terdapat asinus yang merupakan unit fungsional dari paru paru. Asinus terdiri atas bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan sakkus alveolaris terminalis. Asinus atau kadang disebut lobulus primer memiliki diameter 0,5 sampai 1 cm. terdapat sekitar 23 percabangan mulai dari trakea sampai sakkus alveolaris terminalis. Alveolus dipisahkan dari alveolus di dekatnya oleh septum. Lubang pada dinding ini dinamakan pori pori Kohn yang memungkinkan komunikasi antara sakkus. Alveolus hanya selapis sel saja, namun jika seluruh alveolus yang berjumlah sekitar 300 juta itu dibentangkan akan seluas satu lapangan tennis.(1,5,6) Alveolus pada hakikatnya merupakan gelembung yang dikelilingi oleh kapiler kapiler darah. Batas antara cairan dengan gas akan membentuk suatu tegangan permukaan yang cenderung mencegah ekspansi pada saat inspirasi dan cenderung kolaps saat ekspirasi. Di sinilah letak peranan surfaktan sebagai lipoprotein yang mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi saat inspirasi sekaligus mencegah kolaps saat ekspirasi.(3-6) Pembentukan surfaktan oleh sel pembatas alveolus dipengaruhi oleh kematangan sel sel alveolus, enzim biosintetik utamanya alfa anti tripsin, kecepatan regenerasi, ventilasi yang adekuat serta perfusi ke dinding alveolus. Defisiensi surfaktan, enzim biosintesis serta mekanisme inflamasi yang berujung pada pelepasan produk yang mempengaruhi elastisitas paru menjadi dasar patogenesis emphysema, dan penyakit lainnya.(3,4,6)

Bronkus merupakan percabangan dari trakea. Terdiri dari bronkus dextra dan bronkus sinistra. Bronkus Dextra, mempunyai bentuk yang lebih besar, lebih pendek dan letaknya lebih vertikal daripada bronkus sinistra. Hal ini disebabkan oleh desakan dari arcus aortae pada ujung caudal trachea ke arah kanan, sehingga benda benda asing mudah masuk ke dalam bronkus dextra.(3,6) Panjangnya kira kira 2,5 cm dan masuk ke dalam hilus pulmonalis setinggi vertebra thoracalis VI. Vena Azygos melengkung disebelah cranialnya. Arteri pulmonais pada mulanya berada di sebelah inferior, kemudian berada di sebelah ventralnya. Membentuk tiga cabang (bronkus sekunder), masing masing ke lobus superior, lobus medius dan lobus inferior.Bronkus sekunder yang menuju ke lobus superior letaknya di sebelah cranial A.Pulmonalis dan disebut bronkus eparerialis. Cabang bronkus yang menuju ke lobus medius dan lobus inferior berada di sebelah caudal A. Pulmonalis disebut bronkus hyparterialis. Selanjutnya bronkus sekunder tersebut mempercabangkan bronkus tertier yang menuju ke segmen pulmo.(3,6) Bronkus Sinistra, mempunyai diameter yang lebih kecil, tetapi bentuknya lebih panjang daripada bronkus dextra. Berada di sebelah caudal arcus aortae, menyilang di sebelah ventral oesophagus ductus thoracicus, dan aorta thoracalis. Pada mulanya berada di sebelah superior arteri pulmonalis, lalu di sebelah dorsalnya dan akhirnya berada di sebelah inferiornya sebelum bronkus bercabang menuju ke lobus superior dan lobus inferior, disebut letak bronkus hyparterialis.(6) Pada tepi lateral batas trachea dan bronkus terdapat lymphonodus tracheobronchialis superior dan pada bifurcatio trachea (di sebelah caudal) terdapat lymphonodus tracheobronchialis inferior.(3,6) Bronkus memperoleh vaskularisasi dari A. thyroidea Inferior. Dan innervasinya berasal dari N.Vagus, N.Recurrens, dan Truncus Sympathicus.(6)

D. ETIOLOGI Etiologi bronkiektasis sampai sekarang masih belum jelas. Namun diduga bronkiektasis dapat timbul secara kongenital maupun didapat. (1) 1. Kelainan Kongenital Dalamhal ini bronkiektasis terjadi sejak individu masih dalam kandungan. Faktor genetik atau faktor pertumbuhan dan perkembangan fetus memegang peranan penting. Bronkiektasis yang timbul kongenital mempunyai ciri mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru. Selain itu, bronkiektasis kongenital biasanya menyertai penyakit penyakit kongenital seperti Fibrosis Kistik, Sindroma Kertagener, William Campbell syndrome, Penyakit Jantung Bawaan, dll.(1,6,7,8) 2. Kelainan didapat Bronkiektasis sering merupakan kelainan didapat dan kebanyakan merupakan akibat proses :(1,3,6,9) a. Infeksi Bronkiektasis sering terjadi sesudah seseorang anak menderita pneumonia yang sering kambuh dan berlangsung lama. Pneumonia ini umumnya merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak, tuberkulosis paru, dan sebagainya b. Obstruksi bronkus Obstruksi`bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab, seperti korpus alineum, karsinoma bronkus atau tekanan dari luar lainnya terhadap bronkus. c. Cedera Penghirupan : Cedera karena asap, gas atau partikel beracun.

d. Kelainan Imunologik : Sindroma kekurangan imunoglobulin, defisiensi komplemen, disfungsi sel darah putih, infeksi HIV,kelainan autoimun atau hiperimun seperti artritis reumatoid. e. Keadaan lain : penyalahgunaanobat (misalnya : heroin) E. PATOFISIOLOGI Belum diketahui secara sempurna, tetapi nampaknya yang menjadi penyebab utama adalah peradangan dengan destruksi otot, jaringan elastik dan tulang rawan dinding bronkus, oleh mukopus yang terinfeksi yang kontak lama dan erat dengan dinding bronkus.

Gambar 3. Gambaran bronkus pada bronkiektasis. Mukopus mengandung produk produk neutrofil yang bisa merusak jaringan paru (protease serin, elastase, kolagenase), oksida nitrit, sitokin inflamasi (IL8) dan substansi yang menghambat gerakan silia dan mucociliary clearance. Terjadi mukokel yang terinfeksi setelah dilatasi mekanik bronkus yang telah lunak oleh pengaruh proteolitik. Inflammatory insult yang pertama akan diikuti oleh kolonisasi bakteri yang akan menyebabkan kerusakan bronkus lebih lanjut dan predisposisi untuk kolonisasi lagi dan ini merupakan lingkaran yang tidak terputus. Pada akhirnya terjadi fibrosis dinding bronkus dan jaringan paru sekitarnya menyebabkan penarikan dinding bronkus yang sudah lemah sehingga terjadi distorsi. Distensi juga bisa

diperberat oleh atelektasis paru sekitar bronkus yang menyebabkan bronkus mendapatkan tekanan intratorakal yang lebih besar.(1,3,6) Berdasarkan perubahan patologi di bronkus, bronkiektasis dibagi menjadi : 1. Bronkiektasis fokal, meliputi satu lobus, segmen, atau subsgmen dari paru. 2. Bronkiektasis difus, meliputi kedua paru

F. KLASIFIKASI Klasifikasi menurut Reid (atas dasar hubungan patologi dan bronkografi):(1,3,10) 1. Bronkiektasis Silindris, meliputi edema mukosa yang difus, bronkus tampak seperti bentukan pipa berdilatasi, jalan nafas yang lebih kecil dipenuhi oleh mukus.
Gambar 4. Bronkiektasis silindris (dikutip dari keustakaan 1 )

2. Bronkiektasis

varicose,

merupakan

bentukan

intermediate,

bronkus

mempunyai gambaran yang irregular atau bentukan manik manik yang berdilatasi menyerupai varises vena.

Gambar

5.Bronkiektases Varicose (dikutip dari kepustakaan 1)

3. Bronkiektasis sakuler atau kistik, bronkus mengalami ulserasi dengan neovaskularisasi bronkus sehingga bronkus tampak seperti gambaran balon, yang kadang kadang ada gambaran udara.

Gambar 6. Broonkiektasis sakuler (dikutip dari kepustakaan 1)

G. DIAGNOSIS 1. GAMBARAN KLINIS Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronkiektasis tergantung pada luas dan beratnya penyakit, lokasi kelainannya dan ada atau tidak adanya komplikasi lanjut. Ciri khas penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya hemoptisis dan pneumonia berulang, gejala dan tanda klinis tersebut dapat demikian hebat pada penyakit yang berat, dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan.(1,3,6) Bronkiektasis yang mengenai bronkus pada lobus atas sering dan memberikan gejala :(1,3,6) Batuk Batuk pada bronkiektasis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronkitis kronik (bronchitic- like symptoms), jumlah sputum bervariasi, umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. Kalau tidak ada infeksi sekunder sputumnya mukoid, sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputum purulen, dapat memberikan bau mulut yang tidak sedap (fetor ex ore). Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob, akan menimbulkan sputum sangat berbau busuk. Pada kasus yang ringan, pasien dapat tanpa batuk atau hanya timbul batuk apabila ada infeksi sekunder. Hemoptisis Hemoptisis atau hemoptoeterjadi kira- kira pada 50% kasus bronkiektasis. Kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah (pecah) dan timbuk perdarahan. Perdarahan yang terjadi bervariasi, mulai yang paling ringan (streaks of blood) sampai perdarahan yang

cukup banyak (masif) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri bronkialis (daerah berasal dari peredaran darah sistematik). Pada dry bronchiectasis (bronkiektasis kering), hemoptisis justru merupakan gejala satu satunya, karena bronkiektasis jenis ini letaknya di lobus atas paru, drainasenya baik, sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan refleks batuk. Pasien tanpa batuk atau batuknya minimal. Sesak napas (Dispnea) Pada sebagian besar pasien (50%) ditemukan keluhan sesak napas. Timbul dan beratnya sesak napas tergantung pada seberapa luasnya bronkitis kronik yang terjadi serta seberapa jauh timbulnya kolap paru dan detruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang (ISPA), yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak napas tadi. Kadang kadang ditemukan pula suara mengi (wheezing) dapat lokal atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. Demam berulang Bronkiektasis merupakan penyakit yang berjalan kronik, sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru, sehingga sering timbul demam (demam berulang). Ditemukan jari jari tabuh (clubbing finger).

2. PEMERIKSAAN UMUM Pada pemeriksaan keadaan umum, seringkali akan dapat dilihat adanya jari tabuh (clubbing finger) serta kuku gelas arloji (hour-glass-nails), yang menunjukkan sudah ada hipoksemia kronis sejak lama.(1,3,6) Pada Palpasi Toraks, terutama bila kumpulan dahak masih belum sempat dibatukkan keluar, akan dapat terasa suatu gerakan pada dinding toraks di dekat hilus setiap kali gumpalan dahak ini melintasi cincin tulang rawan dinding bronkus.(5,6,9,10)

Pada Auskultasi, didaerah para-hiler dan atau para-kardial (tergantung lokalisasi bronkus yang terserang) akan dapat didengarkan ronkhi basah sedang sampai kasar.(1,3,6) 3. GAMBARAN RADIOLOGI a. Foto Thorax

Gambar 7. Gambaran radiologis bronkiektasis

Dengan pemeriksaan foto thoraks, akan dijumpai gambaran cincin cincin kecil di daerah para-hiler atau para - kardial diatas dasar yang agak suram (infiltrat).cincin ini tak lain adalah penampang melintang bronkus yang mengalami dilatasi patologis tersebut yang terproyeksi pada film.(6,) 1. Ring shadow Terdapat bayangan seperti cincin dengan berbagai ukuran (dapat mencapai diameter 1 cm). dengan jumlah satu atau lebih bayangan cincin sehingga membentuk gambaran honeycomb appearance atau bounches of grapes. Bayangan cincin tersebut menunjukkan kelainan yang terjadi pada bronkus.(6)
Gambar 8. Tampak Ring Shadow yang menandakan adanya dilatasi bonkus

2. Tramline shadow Gambaran ini dapat terlihat pada bagian perifer paru-paru. Bayangan ini terlihat terdiri atas dua garis parallel yang putih dan tebal yang dipisahkan oleh daerah berwarna hitam. Gambaran seperti ini sebenarnya normal ditemukan pada daerah parahilus. Tramline shadow yang sebenarnya terlihat lebih tebal dan bukan pada daerah parahilus.(6)
Gambar 9.Tramline shadow terlihat diantara bayangan jantung

3. Tubular shadow Ini merupakan bayangan yang putih dan tebal. Lebarnya dapat mencapai 8 mm. gambaran ini

sebenarnya menunjukkan bronkus yang penuh dengan sekret. gambaran ini jarang ditemukan, namun gambaran ini khas untuk bronkiektasis.(6)
Gambar10. tubular shadow

4. Glove finger shadow Gambaran ini menunjukkan bayangan sekelompok tubulus yang terlihat seperti jari jari pada sarung tangan.(6)
Gambar 11. Glove finggger shadow

b. Bronkografi Bronkografi merupakan pemeriksaan foto dengan pengisian media kontras ke dalam sistem saluran bronkus pada berbagai posisi (AP, lateral dan Oblik). Pemeriksaan ini selain dapat menentukan adanya bronkiektasis, juga dapat menentukan bentuk bentuk bronkiektasis yang dibedakan dalam bentuk silindris (tubulus, fusiformis), sakuler (kistik) dan varikosis.(6)

Gambar. 12. Pada gambar di samping menjelaskan bahwa pada pemeriksaan bronkografi, jelas terlihat pelebaran bronkus serta obliterasi percabangan bagian distalnya. (6,)

Pemeriksaan bronkografi juga dilakukan pada penderita bronkiektasis yang akan di lakukan pembedahan pengangkatan untuk menentukan luasnya paru yang mengalami bronkiektasis yang akan diangkat.(6)

Pemeriksaan bronkografi saat ini mulai jarang dilakukan oleh karena prosedurnya yang kurang menyenangkan terutama bagi pasien dengan gangguan ventilasi, alergi dan reaksi tubuh terhadap kontras media.(6) c. CT- Scan Thorax CT- Scan dengan resolusi tinggi menjadi pemeriksaan penunjang terbaik untuk mendiagnosis bronkiektasis, mengklarifikasi temuan dari foto thorax dan melihat letak kelainan jalan nafas yang tidak dapat terlihat pada foto polos thorax. CT-Scan resolusi tinggi mempunyai sensitivitas sebesar 97% dan spesivitas sebesar 93%.(6) CT- Scan resolusi tinggi akan memperlihatkan dilatasi bronkus dan penebalan dinding bronkus. Modalitas ini juga mampu mengetahui lobus mana yang terkena, terutama penting untuk menentukan apakah diperlukan pembedahan.(6)

3. PEMERIKSAAN LABORATORIUM a. Pemeriksaan Sputum Meliputi volume sputum, warna sputum, sel sel dan bakteri dalam sputum. Bila terdapat infeksi, volume sputum akan meningkat dan menjadi purulen serta mengandung lebih banyak leukosit dan bakteri. Biakan sputum dapat menghasilkan flora normal dari nasofaring, Streptokokus Pneumonia, haemophilus influenza, Staphilokokus Aeureus, Klebsiella, Aerobakter, Proteus, dan Pseudomonas Aeroginosa.Apabila ditemukan sputum berbau busuk menunjukkan adanya infeksi kuman anaerob.(1,3,6) b. Pemeriksaan Darah Pemeriksaan darah rutin hanya dapat memperkuat dugaan saja, yaitu leukositosis ringan dengan shift to the right (pergeseran ke kanan), yang sebenarnya tak berbeda dengan keadaan keadaan dengan infeksi kronis lain. Kultur darah seringkali tak menunjukkan adanya bakteriemi, tetapi kadang kadang dapat memberikan hasil positif, sehingga kemungkinan timbulnya metastasis pernanahan (terutama diotak) perlu diwaspadai. Analisa gas darah hanya akan menunjukkan hipoksemia ringan karena adanya pengurangan jaringan paru sehat, yaitu pada keadaan keadaan setengah parah. Semakin parah keadaan penderita, dan semakin berat kekurangan jaringan yang masih sehat, tentunya hipoksemia akan semakin nyata.(1,3,6) c. Pemeriksaan Urine Ditemukan dalam batas normal, kadang ditemukan adanya proteinuria yang bermakna yang disebabkan oleh amiloidosis, Namun Imunoglobulin serum biasanya dalam batas normal Kadang bisa meningkat atau menurun.(1,6) d.Pemeriksaan Faal Paru

Pada pemeriksaan faal paru, dengan spirometer sederhana dapat dibuktikan adanya pengurangan kapasitas vital lebih besar dari 20% dari yang diantisipasi. Demikian pula, Kecepatan Arus Puncak Ekspirasi Maksimal (Peak Flow Rate) akan menurun.(1,6)

H. DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau berhadapan dengan bronkiektasis :(1,3,6) Bronkitis kronis.

Gambar 14. Gambaran radiologis bronkitis kronis(dikutip dari kepustakaan 1)

Tuberkulosis paru.

gambar 15. Gambaran radiologis TB paru (dikutip dari kepustakaan 1)

Penyakit paru penyebab hemoptisis, misalnya : karsinoma paru, adenoma paru,dan sebagainya.

Gambar 16. Radiologis karsinoma bronkus (dikutip dari kepustakaan 1)

Abses Paru

Gambar17. Radiologis abses paru (dikutip dari kepustakaan 1)

I. PENATALAKSANAAN Pengelolaan pasien bronkiektasis terdiri atas dua kelompok, yakni pengobatan konservatif dan pengobatan pembedahan. Pengobatan konservatif terdiri atas : pengelolaan umum, pengelolaan khusus, pengobatan simptomatik.(1,5,6) 1. Pengobatan Konservatif Dimaksudkan untuk meningkatkan higiene paru pada umumnya dan bagian paru yang bronkusnya sakit tersebut secara khusus. a. Pengelolaan umum Hal ini dapat dicapai dengan menganjurkan penderita untuk mengeluarkan dahaknya setuntas mungkin. Pengeluaran dahak dapat dibantu dengan berbagai cara misalnya : ekspektoransia (ammonium kloridda, guaifenesin), mukolitik (ambroksol) dan kalau perlu dengan inhalasi uap air sebagai pengencer dahak yang kental sekalian agar terlepas dari mukosa bronkus tempat tadinya melekat. Juga memilih posisi tubuh yang tepat akan dapat menolong evakuasi sputum (postural drainage). Selain hal tersebut, ada hal yang tak kalah penting untuk dilakukan yakni untuk mengupayakan semaksimal mungkin agar udara yang dihirup semurni mungkin, yaitu meliputi pencegahan secara absolut berbagai polutan, baik itu obat nyamuk, pewangi, maupun asap (secara khusus perlu disebut asap rokok, baik secara aktif maupun pasif), uap bahan bahan kimia, debu, abu, dan sebagainya. Sebaiknya temperatur udara juga jangan terlalu dingin. b. Pengelolaan khusus o Kemoterapi pada bronkiektasis Kemoterapi pada bronkiektasis dapat digunakan : 1). Secara kontinyu untuk mengontrol infeksi bronkus (ISPA), 2).Untuk pengobatan eksaserbasi infeksi akut pada bronkus/ paru, atau 3). Keduanya

Kemoterapi di sini menggunakan obat antibiotik tertentu (terpilih). Pemilihan antibiotik berdasarkan hasil uji sensitivitas kuman terhadap antibiotik atau menggunakan pengobatan antibiotik secara empirik. Walaupun kemoterapi jelas kegunaanya pada pengelolaan

bronkiektasis, tidak setiap pasien harus diberikan antibiotik. Antibiotik hanya diberikan apabila terdapat eksaserbasi infeksi akut. Antibiotik diberikan selama 7 10 hari, terapi tunggal atau kombinasi beberapa antibiotik. o Drainase sekret dengan bronkoskop Cara ini penting dikerjakan terutama pada permulaan perawatan pasien. Keperluannya antara lain adalah untuk 1). Menentukan dari mana asal sekret (sputum) 2) Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus, dan 3) menghilangkan obstruksi bronkus suction drainage pada daerah obstruksi. o Pengobatan simptomatik 2. Pengobatan Pembedahan Tujuan pembedahan : mengangkat (reseksi) segmen / lobus paru yang terkena (terdapat bronkiektasis). Indikasi pembedahan : o Pasien bronkiektasis yang terbatas dan resektabel yang tidak berespons terhadap tindakan tindakan konservatif yang adekuat. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi. o Pasien bronkiektasis yang terbatas, tetapi sering mengalami infeksi berulang atau hemoptisis yang berasal dari daerah tersebut. Pasien dengan hemoptisis masif seperti ini mutlak perlu tindakan operatif. Kontraindikasi o Pasien bronkiektasis dengan PPOK. o Pasien bronkiektasis berat.

o Pasien

bronkiektasis

dengan

komplikasi

korpulmonal

kronik

dekompensata.

J. KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi bronkiektasis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain ;(1,3,6) Bronkitis kronik Pneumonia dengan atau tanpa atelektasis. Bronkiektasis sering mengalami infeksi berulang, biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran napas bagian atas. Hal ini sering terjadi pada mereka yang drainage sputumnya kurang baik. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya merupakan pleuritis sicca pada daerah yang terkena. Efusi pleura atau empisema (jarang). Abses metastasis di otak. Mungkin akibat septikemia oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian. Hemoptisis. Terjadi karena pecahnya pembuluh darah cabang vena (arteri pulmonalis), cabang arteri (arteri bronkialis) atau anastomosis pembulug darah. Komplikasi hemoptisis hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan bedah gawat darurat (indikasi pembedahan).sering pula hemoptisis masif yang sulit diatasi ini merupakan penyebab kematian utama pasien bronkiektasis. Sinusitis. Keadaaan ini sering ditemukan dan merupakan bagian dari komplikasi bronkiektasis pada saluran napas.

Kor pulmonal kronik (KPK). Komplikasi ini sering terjadi pada pasien bronkiektasis yang berat dan lanjut atau mengenai beberapa bagian paru. Pada kasus ini bila terjadi anastomosis cabang cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus (bronkiektasis), akan terjadi arterio venous shunt, terjadi gangguan oksigenase darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmonal kronik. Selanjutnya dapat terjadi gagal jantung kanan.

Kegagalan pernapasan. Merupakan komplikasi paling akhir yang timbul pada pasien bronkiektasis yang berat dan luas. Amiloidosis. Keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi amiloidosis sering ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinuria.

K. PENCEGAHAN Timbulnya bronkiektasis sebenarnya dapat dicegah, kecuali pada bentuk kongenital tidak dapat dicegah. Tercatat beberapa usaha untuk pencegahan terjadinya bronkiektasis, antara lain :(1,3,6) Pengobatan dengan antibiotik atau cara cara lain secara tepat terhadap semua bentuk pneumonia yang timbul pada anak, akan dapat mencegah (mengurangi) timbulnya bronkiektasis. Tindakan vaksinasi terhadap pertusis dan lain lain (influenza, pneumonia) pada anak dapat pula diartikan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya bronkiektasis. Higiene saluran napas : udara pernapasan bebas polusi termasuk rokok.

L. PROGNOSIS Prognosis pasien bronkiektasis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. Pemilihan pengobatan secara tepat (konservatif ataupun pembedahan) dapat memperbaiki prognosis penyakit.(1) Pada kasus kasus yang berat dan tidak diobati prognosisnya jelek, survivalnya tidak akan lebih dari 5-15 tahun. Kematian pasien tersebut biasanya karena pneumonia, empiema, payah jantung kanan, hemoptisis dan lain lain. Pada kasus kasus tanpa komplikasi bronkitis kronik berat dan difus biasanya disabilitasnya yang ringan.(1,3,6)

DAFTAR PUSTAKA

1) Sudoyo A.W,dkk.Bronkiektasis.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III edisi kelima. Balai Penerbit FKUI.Jakarta.2009. Hal 2297-2304. 2) Sutton D. Textbook of Radiology and Imaging volume 1. Churchill livingstone. Tottenham. 2003. hal 45, 163, 164 & 168. 3) Price S.A, Wilson L.M. Patofisiologi (Konsep Klinis Proses Proses Penyakit) edisi 6 volume 2. Penerbit Buku Kedokteran:EGC. Jakarta . 2006. 736-792. 4) Paul and Juhls.Essensial of Rontgen interpretation . Fourth Edition. Hagerstown. 2009 .Hal 861-873. 5) Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Jakarta. Fakultas Kedokteran UI. Hal 482-484 6) Siampa V,N.Bronkiektasis.2010. Available from :http://www.scribd.com/doc/87984647/29781333-bronkiektasis.diakses pada tanggal 19 juli 2012. 7) Kusumawidjaja K. Rasiologi Diagnostik, Ed.II . Jakarta. 2005. Fakultas Kedokteran UI. Hal : 108-115. 8) Planner A. A-Z of Chest Radiology. Cambridge University Press .006.Hal : 48 51. 9) Weissleder R. dkk.Primer of Diagnostic Imaging. Ed IV. Washington. 2007Mosby. Hal :53-58 10) Ahuja A.T . Case Studies in Medical Imaging. Washington. 2007. Hal : 40-41