Anda di halaman 1dari 20

MINERALOGI OPTIK

WARNA INTERFERENSI
=>Merupakan warna sebagai akibat dari cahaya yang diteruskan melalui analisator kepada mata si pengamat.

=>Rangkaian warna interferensi dibagi manjadi beberapa orde, mulai dari orde pertama, kedua dan ketiga. =>Makin tinggi ordenya, makin cerah (kuat) warnanya (ex:olivin = hijau orde III).

CARA MENDAPATKAN WARNA INTERFERENSI


Merupakan warna pada saat mineral
menunjukkan terang maksimun, saat meja obyek diputar 90o

Terang maksimum berselisih 90o


dengan gelap maksimun.

Jadi untuk mendapatkan terang

maksimun, dapat dibantu dengan mencari gelap maksimum terlebih dahulu.

Kemudian diputar 90 derajat.

Warna interferensi
BIREFRINGENCE
(bias rangkap)

=>Cahaya yang masuk dalam media optis anisotrop akan dibiaskan menjadi 2 sinar, yang bergetar dalam dua bidang yang saling tegak lurus.

=>Bias Rangkap Merupakan selisih maksimum kedua indeks bias sinar yang bergetar dalam media (mineral). CARA MENENTUKAN HARGA BIAS RANGKAP: 1. Menentukan warna interferensi maks. Serta orde (pada tabel Michel Levy). 2. Potongkan dengan harga ketebalan sayatan (0,03 mm), dan tentukan titik potongnya.

3. Melalui titik tersebut, tarik garis miring hingga memotong garis paling atas/kanan, kemudian baca harga selisih indeks biasnya.

ORIENTASI OPTIK
=>Merupakan hubungan antara sumbu panjang kristalografi mineral (Umumnya sumbu C ) dengan sumbu indikatrik mineral (arah getar sinar).

=>Sb. indikatrik mineral merupakan sumbu khayal. Untuk menentukan kedudukan sumbu tersebut dipakai komparator / kompensator (mis:keping gips atau keping mika) yang sudah diketahui kedudukan sumbu indikatriknya, yaitu :
sinar

cepat (x) berkedudukan NW SE dan lambat (z) berkedudukan NE SW.

sinar

Addisi:

Gejala

yang terjadi apabila sb. Indikatrik sinar z mineral sejajar dengan sumbu indikatrik sinar z komparator. Gejala ini terlihat dengan adanya penambahan warna interferensi (karena bertambahnya retrardasi).

Subtraksi:

Gejala

yang terjadi apabila sb. Indikatrik sinar z mineral tegak lurus dengan sumbu indikatrik sinar z komparator. Gejala ini terlihat dengan adanya pengurangan warna interferensi (karena berkurangnya retrardasi).

CARA MENENTUKAN ORIENTASI OPTIK : 1. Menentukan kedudukan sb. panjang mineral. 2. Menentukan kedudukan sb. indikatrik mineral pada posisi diagional.

3.

Lihat apakah pada terang maks. kedudukan sb. Panjang kristalografi ada disebelah kiri / kanan dari kedudukan diagonal.

4. Masukkan komparator.

5. Bila ADDISI, langsung gambar ked. sb. indikatrik mineral(sinar z sejajar sumbu indikatrik sinar komparator). 6. Lihat posisi sumbu indikatrik mineral terhadap sumbu indikatrik kristalografi mineral

7. Orientasi Optik Length Slow (LS) : sb.C sejajar / berhimpit sumbu indikatrik sinar lambat. Orientasi Optik Length Fast (LF) : sb.C sejajar / berhimpit sumbu indikatrik sinar cepat

SUDUT PEMADAMAN :
=>Dibentuk oleh sumbu panjang krstalografi (sb. C) dengan sumbu indikatrik mineral (baik sinar cepat / lambat). Atau Sudut Pemadaman (SP) = c ^ x atau c ^ z.

3 MACAM SUDUT PEMADAMAN : a.) Paralel : c ^ x ,z = 0 atau c ^ x ,z = 90 b.) Miring : c ^ x ,z =1 - 44 c.) Simetri : c ^ x ,z =45 CARA MENENTUKAN SUDUT PEMADAMAN :
1. Menentukan ked. sb. panjang mineral. 2. Menentukan ked. Mineral pada saat warna interferensi maks.

3. Krn ked. sb. indikatrik diagonal maka kita hrs mengetahui apakah sb. Panjang kristalografi mineral pada saat interferensi maks kedudukan kurang dari 45, agar bisa ditetntukan harga sudut pemadamannya positif / negatif. 4. Masukkan keping komparator => apakah terjadi gejala addisi / subtraksi (digambar pada posisi ini). 5. Xo adalah sudut pemadaman c ^ z diukur dengan meletakkan kedua garis yang membatasinya pada salah satu benang silang.

6. Putar meja objek kekiri hingga sb. C berhimpit dengan benang silang tegak, catat skala noniusnya.

KEMBARAN
=>Terjadi akibat perbedaan orientasi kristal (struktur atom) sehingga menghasilkan sifat yang berbeda, baik dari kenampakan warna interferensi maupun pemadaman.
Berdasarkan

genesa, kembaran pada mineral dapar dibedakan menajdi 2 (dua) yaitu :

A. Growth twinning>bid.batas lurus B. Deformation twinning>bid.batas melengkung

Identifikasi Plagioklas
Mineral plagioklas terdiri

dari Anortit/An, Bitownit, Labradorit, Andesin, Oligoklas dan Albit.

Sangat penting dalam

penentuan komposisi batuan beku dengan cara mengetahui jenis plagioklas.

Metode Michael Levy


Menggunakan plagioklas yang terpotong tegak lurus bidang atau sejajar sumbu b yang dicirikan oleh

Garis-garis perpotongan antara bidang komposisi dengan bidang sayatan (garis-garis kembaran) nampak jelas

Bila garis kembaran diletakan sejajar dengan benang silang tegak maka semua lembar kembaran memberikan warna interferensi yang sama dan merata.

Besarnya

sudut pemadaman untuk lembar kembaran yang menjadi gelap pada pemutaran meja objek searah putaran jarum jam ( I Xo X1I) = P ) adalah sama dengan harga sudut pemadaman untuk lembaran yang menjadi gelap bila meja objek di putar berlawanan arah jarum jam ( I Xo X2 I ) = Q

Selisih

antara kedua susdut pemadaman tersebut tidak boleh lebih dari 60 ( I P Q I 60

Jika syarat-syarat tersebut terpenuhi maka harga sudut pemedamannya = (P+Q)/2 = Z0

Metoda Michael Levy

Jika harga harga sudut

pemadaman kurang dari 200 , maka diukur indeks biasnya.

Jika Nm < Nkb , maka

gunakan kurva bagian kiri. Dan jika Nm > Nkb maka digunakan kurva bagian kanan.

Metode karlsbad - albit


Cara mencari sudut pada kembaran karlsbat albit (sama seperti pada metode michel levy pada kembaran karlsbat dengan cara :

Pada kembaran albit pada karlsbat dengan cara :

Selisih antara kedua susdut pemadaman tersebut tidak boleh lebih dari 60 ( I P Q I 60

Metode karlsbad - albit


Jika harga harga sudut

pemadaman kurang dari 200 , maka diukur indeks biasnya.

Jika Nm < Nkb , maka

gunakan nilai ordinat negativ dalam pengeplotan dan jika Nm > Nkb maka digunakan ordinat positif.

THANKS FOR YOU ATTENTION..!