Anda di halaman 1dari 23

Bab XI - 1

REKAYASA HIDROLOGI

MODUL 11

Perhitungan Debit Banjir Rencana Berdasarkan Curah Hujan

Bab XI - 1

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Mata Kuliah Modul No. 11

: Rekayasa Hidrologi : Perhitungan Debit Banjir Rencana Berdasarkan Curah Hujan

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Mahasiswa mengetahui maksud dan tujuan perhitungan debit banjir rencana berdasarkan curah hujan, mempelajari parameter-parameter yang mempengaruhi, pengaruh pemilihan probabilitas banjir rencana terhadap stabilitas bangunan sipil/bangunan air dan kegunaan hasil perhitungan debit banjir rencana.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Mahasiswa mampu menjelaskan dan mampu memberikan contoh-contoh arti dari debit banjir rencana, mampu mengolah data hujan sebagai bahan masukan perhitungan banjir rencana, mampu memberikan pilihan periode ulang banjir rencana dengan dasar pertimbangan yang diperlukan dan dapat menerapkan hasil perhitungan untuk bahan masukan kebutuhan perhitungan selanjutnya, seperti perhitungan stabilitas konstraksi, bangunan pengelah banjir dan bangunan pelimpah.

11. Perhitungan Debit Banjir Rencana Berdasarkan Curah Hujan

Perhitungan Debit Sungai

Banyak cara untuk memperoleh besaran aliran air sungai atau debit sungai diantaranya adalah besaran debit sungai berdasarkan pengukuran di lapangan, perhitungan rumus impiris dan perhitungan debit sungai berdasarkan besaran curah hujan yang jatuh di daerah tangkapan air sungai atau daerah aliran sungai (Catchment Area). Di dalam bab

ini akan diuraikan perhitungan debit aliran air sungai berdasarkan tinggi curah hujan

yang jatuh di daerah tangkapan air sungai dengan berbagai parameter yang mempengaruhi. Perhitungan besaran debit sungai pada suatu tempat secara umum bisa dirumuskan sebagai berikut :

Dimana :

Q =

t

t

R f

Q

= debit

= koefisien pengaliran (run of coefisien)

= koefisien reduksi

t

= intensitas relatif hujan untuk jangka waktu t

t

= jangka waktu t yang dipandang

f

= luas daerah pematusan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 2

Kalau dipakai satuan-satuan, untuk :

f ialah km 2 R ialah mm/24 jam

Perumusan berubah menjadi :

∂ t Q = x 10 6 x f t ∂ t = R 1000
t
Q
=
x 10 6
x
f
t
t
=
R 1000
f
m 3 / d
t

Kalau untuk R diambil R maksimum, maka :

t

 

R

maks .

1000 f

t

Tidak lain daripada banyaknya hujan maksimum yang jatuh dalam m 3 tiap detik-tiap km 2 , jadi bisa dinyatakan :

Dengan ini rumus berubah menjadi :

Q =

q f m 3 / d

rumus yang dipakai sebagai dasar perhitungan debit sungai berdasar atas curah hujan antara lain Melchior, der Weduwen dan Haspers.

t R 10 3 adalah tidak lain daripada intensitas hujan r selama-lamanya hujan

t

(duration) t dan dengan memakai harga t = 1 jam atau 3600 detik perumusan debit berubah menjadi :

Q =

r

3,6

f .

Ialah perumusan rasional Jepang. Kedua perumusan untuk menentukan debit Q dan pada umumnya dengan perumusan ini dihitung debit maksimum atau debit rencana, kelihatannya sederhana, akan tetapi unsur-unsur dari perumusan itu sendiri merupakan “persoalan”.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 3

Koefisien Pengaliran

Besarnya koefisien pengaliran dipengaruhi antara lain oleh :

a. Bentuk dan luas daerah pematusan

b. Miring daerah pematusan dan miring palung sungai

c. Keadaan daerah pematusan yang terpenting ialah besarnya kemampuan mengisap/menyerap dan daya menahan air

d. Keadaan flora daerah pematusan

e. Daya tampung penampang sungai

f. Tinggi suhu, besarnya angin disertai tingkat penguapannya

g. Jatuhnya hujan yang mendahului hujan maksimum dalam persoalan

Mengingat sukarnya unsur-unsur yang mempengaruhi ini dirumuskan dengan terperinci, maka oleh beberapa penyelidik dikemukakan :

Melchior – besarnya ditetapkan secara global berdasar atas penyelidikan/pengalaman.

= 0,42 – 0,62, angka ini adalah berdasarkan atas keadaan sebelum perang dunia kedua, harga-harga ini untuk keadaan yang telah diubah harus diperbesar.

4,1

Der Weduwen -

daripada koefisien reduksi dan q m 3 /km 2 /d

= 1 –

q + 7

, menurut perumusan ini adalah tergantung

Haspers -

=

1 + 0,012 . f . 0,7

1 + 0,075 . f . 0,7

Perumusan ini didasarkan atas data-data debit sungai Kumisik, Waluh, Pekalen, Cianten, Cimanuk, Citarum, Cibuni, Citatik.

Rational Jepang – harga didasarkan atas penyelidikan mengenai keadaan daerah pematusannya sebagai berikut :

Tabel No. 11.1 Koefisien Limpasan (Dr. Mononobe) / Koeff. Pengaliran

Keadaan daerah pematusan

Bergunung dan curam Pegunungan Tanah datar yang ditanami Sungai dengan tanah dan hutan di bagian atas dan

0,75 – 0,90 0,70 – 0,80 0,45 – 0,65 0,50 – 0,75

bawahnya Sawah waktu diairi Sungai bergunung Sungai dataran

0,70 – 0,85 0,75 – 0,85 0,45 – 0,75

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 4

Contoh :

Tabel No. 11.2

Keadaan daerah

Luas km 2

Luas relatif %

Pegunungan

20

20

0,15

Tanah ditanami

30

30

0,165

Sawah diairi

50

50

0,325

 

100

100%

0,640

Koefisien Reduksi

1970 Melchior : F = – 3960 + 1720 – 0,12 Der Weduwen : t
1970
Melchior : F =
– 3960 + 1720
– 0,12
Der Weduwen :
t
+ 1
120 +
f
t
+ 9
=

120 + f

Perumusan ini didasarkan atas pengamatan di Jakarta dan sekitarnya pada tanggal 1 Maret sampai 1 Januari 1925.

Haspers mengajukan :

1 1 + 3,7 x 10 -4t

F 3/4

=

1 +

x

t 2 + 15

12

Hujan rata-rata maksimum

q =

t R 1000

t

m 3 / km 2 / d

Dan kalau t dinyatakan dalam jam perumusan menjadi :

 

t R t

q

=

m 3 / km 2 / d

 

3,6 t

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 5

Hujan Rencana

t

Besarnya q tergantung pada R dan , untuk R ini bisa dipakai R maksimum selama

t

waktu pengamatan atau R rencana; misalnya R 25 ialah tinggi hujan rencana dengan tahun ulang 25 tahun atau bisa pula dikatakan tinggi hujan yang mungkin bisa terjadi sekali dalam 25 tahun.

Dari pengamatan tinggi hujan di Jakarta telah pernah dihasilkan angka-angka perbandingan besarnya hujan dengan besarnya hujan sekali dalam satu tahun, sebagai berikut :

Tabel No. 11.3.

R – rencana

R x

R

1

R dalam

mm / 24 jam

5

kali per-tahun

R

0,2

0,58

57

4

kali per-tahun

R

0,25

0,64

68

3

kali per-tahun

R

1/3

0,71

70

2

kali per-tahun

R

0,5

0,82

81

1

kali per-tahun

R

1

1,00

98

Sekali dalam 2 tahun Sekali dalam 3 tahun Sekali dalam 4 tahun Sekali dalam 5 tahun Sekali dalam 10 tahun Sekali dalam 15 tahun Sekali dalam 20 tahun Sekali dalam 25 tahun Sekali dalam 30 tahun Sekali dalam 40 tahun Sekali dalam 50 tahun Sekali dalam 60 tahun Sekali dalam 70 tahun Sekali dalam 80 tahun Sekali dalam 90 tahun Sekali dalam 100 tahun Sekali dalam 125 tahun

R

2

1,20

118

R

3

1,32

130

R

4

1,41

139

R

5

1,47

145

R

10

1,72

169

R

15

1,87

184

R

20

1,98

195

R

25

2,06

203

R

30

2,13

210

R

40

2,23

219

R

50

2,31

227

R

60

2,38

234

R

70

2,44

240

R

80

2,49

245

R

90

2,53

249

R

100

2,57

253

R

125

2,64

260

Contoh Dengan ini :

diketahui R 40 = 219 mm/24 jam

R

R

100

100

2,57

=

2,23

=

1

2,57

x 219 = 253 mm / 24 jam

x 253 = 98 mm / 24 jam

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 6

Intensitas Relatif Berjangka Waktu

Untuk mengintensikan besarnya hujan berjangka waktu kurang dari t < 24 jam, dipakai pengamatan yang dikerjakan di Jakarta (dari tahun 1866 – 1894) yang hasilnya adalah :

Tabel No. 11.4

T

R

t

Intensitas relatif %

t

R

1

Intensitas relatif %

Jam

mm

R 1 /R 24 jam

Jam

Jam

R jam/R 24 jam

¼

38

18

14

197

98,5

½

60

30

15

197

98,5

1

90

45

16

197

98,5

2

120

60

17

197

98,5

3

158

78

18

197

98,5

4

180

90

19

197

98,5

5

185

92,5

20

197

98,5

6

186

93

21

197

98,5

7

187

93,5

22

197

98,5

8

187

93,5

23

197

98,5

9

187

93,5

24

200

100

10

187

93,5

11

192

96

12

192

96

13

197

96

Hasil ini dilukiskan dengan kurva menjadi Gambar No. 11.1, gambar dilengkapi dengan hujan maksimum untuk berbagai luas daerah tertentu.

dengan hujan maksimum untuk berbagai luas daerah tertentu. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 7

Contoh :

F

= km 2

R

24 = 240 mm

Ditanyakan :

R 30 menit Untuk F = 50 km 2 dan t = 30 menit = 18% Hingga :

R 30 = menit =

18

100

x 240 = 43,2 mm

Atau kalau dihitung lebih lanjut q, maka dengan memakai perumusan :

q

q

=

=

t

R t

3,6 t

43,2

3,6 x 1 / 2

= 24 m 3 / km 2 / d

Haspers membagi intensitas menjadi tiga :

a. Untuk t < 2 jam

R t =

t R 24

t + 1 – 0,0008 (260 – R 24 ) (2 – t) 2

t = waktu dalam jam

R t dan R 24 dalam mm

b. Untuk : 2 jam <

t

<

19 jam

 

t

R 24

R

t =

 

t

+ 1

c. Untuk : 19 jam <

t

<

30 hari

R t = 0,707 R 24 ÷ 1 + t

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 8

Dengan memakai pernyataan intensitas relatif, harga dari Harpers :

a. t =

t

t + 1 – 0,0008 (260 – R 24 )

(2 – t) 2

b.

t =

t

t = 1

c. t = 0,707 ÷ 1 + t

Penentuan Waktu t

Dikemukakan disini adanya dua waktu :

t

=

ialah lamanya hujan (duration)

T

= ialah lamanya hujan memusat (time of concentration), ialah waktu yang diperlukan air, hujan, yang terjauh bisa mencapai sungai

Mengenai harga t dan T ini dapat dikemukakan :

a. Buat t kecil berlaku, hujan rata-rata yang besar, hingga q m 3 /km+2/d adalah besar, contoh:

t = 30 menit – R 24 = 240 mm – q = 24 m 3 /km 2 /d t = 1 jam – R jam = 0,28 x 240 = 66,2 mm

q =

66,2

3,6 x 1

= 18 m 3 /km 2 /d q < q 1/2

b. Tiap bagian dari daerah pematusan akan turut serta dalam menentukan besarnya debit pada ujung daerah pematusan, kalau lamanya hujan t sama atau lebih besar daripada lamanya hujan memusat (duration sama atau lebih bear dari time or concentration).

c. Kalau t < T, maka ini berarti bahwa hujan telah berhenti sebelum air hujan yang terjauh mencapai ujung daerah pematusan.

d. Debit yang maksimum dicapai kalau t > T.

Mechior :

Dalam perhitungannya Melchior memakai T dan olehnya dipergunakan perumusan

1000 L

T =

3600 V

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 9

T

= lamanya hujan memusat dalam jam

L

= panjang palung sungai dalam km

V

= kecepatan rata-rata air dalam m/d

Untuk V dipakai rumus :

Untuk I diambil :

I =

V = 1,31

H

0,9 L

5 ÷

q

f I 2

Jadi tidak diambil panjang palung sungai seluruhnya, tetapi bagian paling atas sepanjang 0,1 L diabaikan (miring tidak seimbang), H adalah perbedaan tinggi mulut daerah pengaliran sampai titik 0,1 L dari permukaan sungai.

Rumus berubah menjadi :

Dengan Q =

q t

Q

Dengan = 0,52

T =

q f = Q 2 V = 1,31 5 x I 0,52 2 V =
q
f =
Q
2
V
= 1,31
5
x I
0,52
2
V
= 1,493
5
Q I
1000 L
1/ 5
2 / 5
3600 1,493
x
Q
I

T = 0,186 Q -0,2 I 10,40

Der Weduwen, memakai Haspers, memakai rumus :

t

T = 0,1 x 0,8 I -0,3

= 2 T

L

Rational Jepang, memakai : T = T = 0,0138 L I -0,6 72 I 0,6
Rational Jepang, memakai :
T
=
T = 0,0138 L I -0,6
72 I 0,6
Menentukan q m 3 / km 2 /d
Dengan telah ditentukan perumusan harga -t ,
harga-harga q.
,
t
dan R, maka bisa ditentukan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 10

Sebagai contoh diulangi lagi :

F

= 50 km 2

R

24 = 240 mm/24 jam

t = 1 jam

Dari kurva Gambar No. 11.1 terdapat :

t = 28%

q

t R

=

3,6

t

0,28 x 240

q =

3,6

x

1

=

18 m 3 / km 2 / d

Der Wedumen berdasar atas t = 2 T, untuk t < 24 jam dengan mempergunakan hasil pengamatan di observatorium Jakarta dari tahun 1866 – 1985, seperti daftar di Tabel No. 11.5 sebagai berikut :

Tabel No. 11.5

t

R

t

R t dlm %

t

R

t

R t dlm %

Jam

mm

Jam

mm

 

R 24

R 24

1

-

-

13

173

89,5

2

-

-

14

174

90

3

-

-

15

174

90

4

147

76

16

174

90

5

159

82,5

17

174

90

6

161

83,5

18

174

90

7

165

85,5

19

180

93,5

8

167

86,5

20

185

96

9

169

87,5

21

187

97

10

170

88

22

189

98

11

171

88,5

23

191

99

12

172

89

24

193

100

Dari adanya data-data ini Der Weduwen menentukan rumus :

q =

67,65

t + 1,45

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 11

Perhitungan :

Perhitungan banjir maksimum/banjir rencana, yang sampai sekarang belum ditinggalkan oleh dinas pengairan, ialah dengan memakai cara Melchior untuk luas pematusan sampai tak terhingga luasnya dan cara Der Weduwen untuk daerah pematusan paling besar 100 km 2 .

Cara Melchior :

Dasar perhitungan menurut cara Melchior ialah perumusan :

a.

b. (F + 3960 – 1720 ) (

Q =

q f

- 0,12) = 1970

F adalah luas bidang elips yang mengelilingi daerah pematusan dengan sumbu pendek > 2/3 b sumbu panjang elips.

c. Kurva intensitas hujan relatip 1000 L

d.

T =

e.

f.

V

V = 1,31 5 ÷

q

f

I 2

H

I =

0,9 L

Dalam perhitungan yang diketahui dan bisa dihitung ialah :

1. f = luas daerah pematusan, diukur dari peta topografi

2. F = luas elips (1/4 ab), diukur untuk daerah pematusan yang panjang dipakai dua elips yang mengelilingi daerah pematusan yang panjang dipakai dua elips yang mengelilingi daerah pematusan.

3. R hujan maksimum

4. L panjang sungai

5. H perbedaan tinggi permukaan dasar sungai hulu sampai titik bersangkutan.

Dari ketentuan-ketentuan ini bisa ditentukan : I,

Perhitungan dijalankan dengan cara pendekatan dan untuk ini dimisalkan harga q adalah q 0 , pendekatan dijalankan sebagai berikut :

1. Dengan q 0 , I yang telah dihitung f yang telah diukur dan yang telah dihitung- hitung V dengan rumus :

V = 1,31 5 ÷

q

f

I 2

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 12

2. Dengan pendapatan V, ditentukan harga T dengan rumus :

1000 L

T =

V

3. Dengan harga T ini dengan memakai kurva intensitas hujan relatif ditentukan

harga t , hingga dengan harga ini bisa ditentukan harga :

 

t

Q

=

R mak 10 3 m 3 / d / km 2

 

t

Kalau q q 0 , maka anggapan q 0 adalah tepat, tetapi kalau :

q i π q 0

Maka perhitungan harus diulangi hingga akhirnya :

q 1 = q i-1

4. Dengan maksud korelasi , maka debit menjadi :

Q =

q i-1 f (1 + ) m 3 / d

Untuk korelasi ini Melchior memberikan angka-angkanya seperti pada Tabel No. 11.6 dan untuk keperluan penafsiran harga q pertama bisa dipakai Tabel No. 11.7.

Catatan :

Sebaiknya untuk pendekatan pertama dipakai angka bulat, setidak-tidaknya hanya satu angka dibelakang koma.

Tabel No. 11.6.

T menit

Kenaikan

T menit

Kenaikan

T menit

Kenaikan

 

%

 

%

 

%

 

- 40

 

2

895 – 980

 

13

1860

– 1950

 

24

40 – 115

3

980 – 1070

14

1950

– 2035

25

115

– 190

4

1070

– 1155

15

2035 –2120

26

190

– 270

5

1155

– 1240

16

2120

– 2295

27

270

– 360

6

1240

– 1330

17

2295

– 2295

28

360

– 450

7

1330

– 1420

18

2295

– 2380

29

450

– 540

8

1420 –1510

19

2380

– 2465

30

540

– 630

9

1510

– 1595

20

2465

– 2550

31

630

– 720

10

1595

– 1680

21

2550

– 2640

32

720

– 810

11

1680

– 1770

22

 

33

810

– 895

12

1770

– 1890

23

 

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 13

Tabel No. 11.7.

F km 2

q

F km 2

q

F km 2

q

Keterangan

0,14

29,6

144

4,75

720

2,30

F = luar elips

0,72

22,45

216

4,00

1080

1,85

1,4

19,90

288

3,60

1440

1,55

7,2

14,15

360

3,30

2160

1,20

14

11,85

432

3,06

2880

1,00

29

9,00

504

2,85

4320

0,70

72

6,25

576

2,65

5760

0,54

108

5,25

648

2,45

7200

0,49

Cara Melchior dengan memakai nomogram

Untuk keperluan ini diambil harga 200 mm/24 jam. Penyusunannya dikerjakan sebagai berikut :

1. Untuk luas elips tertentu dengan harga R = 200 mm/24 jam dan harga T tertentu dihitung harga q, cara perhitungan ini diulangi untuk berbagai harga T dan terdapat pula berbagai harga T dan terdapat pula berbagai harga q untuk luas elips sama, kalau harga T dan q ini dalam salib sumbu, mendatar harga T dan tegak

harga q dan kemudian titik-titik ini dihubungkan maka terdapat lengkung hubungan antara T dan q buat F tertentu.

terdapat lengkung hubungan antara T dan q buat F tertentu. Perhitungan ini diulangi buat berbagai harga

Perhitungan ini diulangi buat berbagai harga F dan terdapat nomogram A.

Gambar No. 11.2

Nomogram B Nomogram B ini memberikan hubungan antara f q dengan I buat berbagai harga dari V, dengan memakai perumusan :

V = 1,31 5 ÷

q

f

I 2

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 14

Misalkan diambil harga V = V 0 , maka :

V 0 = 1,31 5 ÷

q 0 f I 0 2

V 0 = 1,31 5 ÷

q

1

f

I 1 2

V 0 = 1,31 5 ÷

q 2 f

I 2

2

÷ q 1 f I 1 2 V 0 = 1,31 5 ÷ q 2 f

Cara Der Weduwen

Kalau harga-harga q dan I disusun dalam salib sumbu tegak lurus, I sumbu tegak dan f q sumbu mendatar dan kalau titik-titik ini dihubungkan maka terdapat (kalau V – juga untuk berbagai harga) nomogram B.

Dengan memakai cara ini hanya bisa dihitung besarnya debit dari daerah pematusan tidak lebih dari 100 km 2 dan dengan cara ini tidaklah dihitung Q yang tertinggi, tetapi Q maksimum yang secara ekonomis masih bisa dipertanggungjawabkan.

Dasar dari perhitungan ialah :

Q =

q

=

q

f

67,65

t + 1,45

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 15

(harga ini berlaku untuk Jakarta dimana R = 240 mm/d tinggi hujan yang sekali dalam 70 tahun dilampaui R 70 = 240 mm/d).

 

t

+ 1

 

120 +

 

f

=

t

+ 9

120 + f

 

4,1

= 1 –

q + 7

t =

0,476 f 3/8

(

q ) 1/8

I 1/4

Perhitungan dari Q maksimum ini diselesaikan dengan cara mencoba dan yang sederhana ialah dengan memisalkan harga t untuk menghitung harga q, dan dan harga-harga ini dimasukkan dalam rumus :

t =

0,476 f 3/8

(

q ) 1/8 I 1/4

dan

dari sini misalnya terdapat t 1 , maka seharusnya t = t 1 ; kalau ini belum tercapai maka diusahakan dengan t 1 , harga q, dan dan dihitung, t 2 dan hitungan ini berlangsung terus hingga akhirnya : t i = t i 1. Perhitungan dijalankan untuk I yang sama, tetapi F berlainan dan kemudian perhitungan dijalankan pula untuk I yang lain dengan berbagai harga F. Untuk I der Weduwen mengambil 14 buah harga antara I = 0,1 dan I = 0,0001.

Hasil dilukiskan menjadi nomogram der Weduwen, mendatar harga F dalam km 2 dan tegak harga q .

Nomogram didasarkan atas R 70 = 240 mm/24 jam. Kalau misalnya jangka waktu pengamatan jangka waktu pengamatan 20 tahun dan harga maksimum adalah 250 mm/24 jam, maka menurut Tabel No. 11.8 :

R 20 =

250

0,811

= 308 mm / 24 jam

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 16

Sebagai contoh diambil :

R

25 = 212 mm/24 jam

F

= 61,2 km 2

I

= 0,1

Dinyatakan Q maksimum yang sekali dalam 20 tahun tercapai/dilampaui.

Penyelesaian :

Dari nomogram dengan I = 0,1 dan F = 61,2 km 2 terdapat

q

= 9,16 m 3 / d/ km 2

R

25 = 211 mm/24 jam

R

70 = 250 mm / 24 jam, hingga untuk R 20 terdapat m = 0,845

Q

20 = 61,2 x 9,16 x 0,845 =

m 3 / d

Untuk R 100 terdapat m = 1,094

Q

100 = 61,2 x 9,16 x 1,0,94 =

m 3 / d

Tabel No. 11.8. Hasil pencatatan hujan di Jakarta

Untuk R70 = 240 mm/24 jam

 

m 1

m

Curah hujan

 

mm/24 jam

5

x tiap tahun

0,58

0,238

57

4

x tiap tahun

0,64

0,262

68

3

x tiap tahun

0,71

0,291

70

2

x tiap tahun

0,82

0,336

81

1

x tiap tahun

1,00

0,410

98

Sekali dalam 2 tahun Sekali dalam 3 tahun Sekali dalam 4 tahun Sekali dalam 5 tahun Sekali dalam 10 tahun Sekali dalam 15 tahun Sekali dalam 20 tahun Sekali dalam 25 tahun Sekali dalam 30 tahun Sekali dalam 40 tahun Sekali dalam 50 tahun Sekali dalam 60 tahun

1,20

118

1,32

130

1,41

139

1,47

145

1,72

169

1,87

184

1,98

195

2,06

203

2,13

210

2,23

219

2,31

227

2,38

234

Sekali dalam 70 tahun

2,44

1,00

240

Sekali dalam 80 tahun Sekali dalam 90 tahun Sekali dalam 100 tahun Sekali dalam 125 tahun

2,49

1,02

245

2,53

1,03

249

2,57

1,05

253

2,64

1,08

260

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 17

Catatan :

Kalau R 70 adalah 140 mm/24 jam, maka :

 

140

5 x tiap tahun – m =

x 0,238 = 0,139

 

240

140

1 x tiap tahun – m =

x 0,40 = 0,239

 

240

140

1 x tiap tahun – m =

x 0,602 = 0,351

 

240

Kalau R 70 adalah 140 mm/24 jam, maka :

 

140

1

x dalam 20 tahun – m =

x 0,811 = 0,608

 

240

Disamping cara Melchior dan der Weduwen, perhitungan dapat pula dengan memakai

perumusan-perumusan :

a.

b.

c.

d.

Q =

r

f

3,6

(m 3 / dt)

dihitung menurut daftar

R t dihitung menurut Iwai Kadoya

r =

R

24

rumus Dr. Monobe (mm/jam)

e.

t =

L

V

(jam)

f. V = 72

f = luas daerah pengaliran

rumus Dr. Rzikan (km/jam)

Dimana :

r = intensitas hujan selama waktu pemusatan (time of concentration, dalam mm/jam)

R

= hujan per etmal dalam mm

T

= lamanya hujan / waktu pemusatan dalam jam

L

= panjang sungai dalam km

V

= kecepatan perambatan banjir dalam km/jam

H

= beda tinggi antara titik terjauh dari mulut daerah pematusan dalam km

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 18

Sebagai contoh diambil kutipan data-data hujan seperti termuat dalam majalah Pekerjaan Umum no. 3 tahun XIII April 1976.

Tabel No. 11.9.

Tabun

Hujan maks. (R;)

Tabun

Hujan maks. (R;)

1951

20

1956

46

1952

32

1957

70

1953

60

1958

92

1954

25

1959

48

1955

52

1960

24

Penyelesaian : I. Menghitung hujan rencana max : cara Gumbel / Iwai Kadeya

1. Data-data diurutkan menurut besarnya :

Tabel No.

11.10.

Urutan

Hujan

Urutan

terbesar

maksimum

terkecil

1

92

10

2

70

9

2

60

8

4

52

7

5

48

6

6

46

5

7

32

4

8

25

3

9

24

2

10

20

1

Jadi untuk :

Rb = 90— = 20

R b =70—Rc=24

R b =70—R,=20

2. Perumusan : log R =

1

N

n = 10

i = 1

log R i

(5)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 19

Tabel No. 11.11.

No

Hujan R 1

 

Log R i

1

92

 

1,9638

2

70

1,8451

Log R =

 

1

(16,2)

 

3

60

1,7782

10

4

52

1,7160

5

48

1,6812

= 1,62313

 

6

46

1,6628

7

32

1,5051

Log R

= 1,6232

 

8

25

1,3979

9

24

1,3802

R

= 42

10

20

1,3010

 

n

10 =

 

3.

m

= 10

 

; m =

 

1

(3)

 

10

 

m

=, jadi untuk R b dan R c hanya diambil 1 kali.

 
 

2

 

R

.

R

.

R

 

4.

b b

=

c

1 )

2

R

(

R

b

+

R

c

Tabel No. 11.12

 

R

R b

R c

R b . R c

R 2

 

R b + R c

b 1

42

92

20

1840

1764

 

1122

-2,6

5.

b =

1

m

b

m

i = 1

i

6.

1
1

y =

n

= 10

log (

R

i

+

b

)

 

n

i

= 1

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 20

Tabel No. 11.13

No

R i

R i + b

Y = log (R i + b)

y 2

1

92

89,4

1,9513

3,8076

2

70

67,4

1,8287

3,3441

3

60

57,4

1,7589

3,0937

4

52

49,4

1,6937

2,8686

5

48

45,4

1,6571

2,7459

6

46

43,4

1,6375

2,6814

7

32

29,4

1,4783

2,1559

8

25

22,4

1,3502

1,8230

9

24

21,4

1,3304

1,7699

10

20

17,4

1,2405

1,5388

Jumlah :

15,9166

25,8289

1
1

y =

x

15,9166

=

1,59166

1,5917

 

10

(

y

)

2

=

(1,59166)

2

=

2,5334

2 25,8289

y =

10

= 2,58289 2,5829

7.

1

a
a

2 n

10

1

{

2,5829

2,5334

}

8.

= 0,332

Kalau diambil R 100 ; maka z = 1,6450

Hingga :

 

log (R t + b) =

1
1

y +

z

 

a

Menjadi :

1 = 0,11
1
=
0,11

a

log (R 100 + 2,6) = 1,5917 + 0,332 x 1,6450

log (R 100 + 2,6) = 2,1378

R 100 – 2,6 = 137,3

R 100 = 139,9

140

Perhitungan Q 100 ; kalau :

F = 100 km 2

L = 10 km

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 21

H = 10 m = 0,010 km

R maks = R 100 = 140 mm/etmal

1.

=

0,75

+

0,85 =

2

0,80

2. V = 72

0,6

0,01

10

= 1,141km / 1 jam

3. t

t

L

= V

10

= 1,141

= 8,8 jam

4.

r =

R

24

24

t

2 / 3

r =

140 24

24

8,8

2 / 3

r = 11 mm/jam

Q =

r f

3,6

Istilah-istilah

----------------------Q 100 =

0,8x11x100

3,6

= 244 m 3 /d

Koefisien pengaliran Time duration Debit banjir rencana 100 tahun

Koefisien reduksi Time concentration Kecepatan rata-rata aliran sungai

Soal Latihan

1. Jelaskan pengertian dan kegunaan dari hasil perhitungan banjir rencana

2. Jelaskan parameter yang mempengaruhi perhitungan debit banjir rencana berdasarkan tinggi cerah hujan.

3. Diketahui data hujan maksimum seperti pada Tabel No. 11.14, luas catchment area 120 km2, panjang sungai 10 km, beda tinggi sungai dari mata air sampai bangunan yang ditinjau adalah 10 m. Hitung tinggi hujan rencana untuk periode ulang 100 tahun( R 100).

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Bab XI - 22

Tabel No. 11.14

Tahun

Hujan maks (R i )

Tahun

Hujan maks (R i )

1981

20

1986

46

1982

32

1987

70

1983

60

1988

92

1984

25

1989

48

1985

52

1990

24

Referensi

1. Hidrologi Untuk Pengairan, Ir. Suyono Sosrodarsono, Kensaku Takeda, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1976.

2. Hydrologi for Engineers, Ray K. Linsley Ir. Max. A. Kohler, Joseph L.H. Apaulhus. Mc. Grawhill, 1986.

3. Mengenal dasar-dasar hidrologi, Ir. Joice Martha, Ir. Wanny Adidarma Dipl. H. Nova, Bandung.

4. Hidrologi & Pemakaiannya, jilid I, Prof. Ir. Soemadyo, diktat kuliah ITS, 1976.

5. Hidrologi Teknik Ir. CD. Soemarto, Dipl. HE.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Hadi Susilo MM REKAYASA HIDROLOGI