Anda di halaman 1dari 30

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Penyakit gastroenteritis hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150430 / seribu penduduk setahunnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kesakitan di RS dapat ditekan menjadi < dari 3 %. Penggunaan istilah diare sebenarnya lebih tepat dari pada gasteroentritis, karena istilah yang disebut terakhir ini memberikan kesan seolah-olah penyakit ini hanya disebabkan oleh infeksi dan walaupun disebabkan oleh infeksi, lambung jarang mengalami peradangan. Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Dibagian IKA FKUI / RSCM diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal / bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi BAB sudah lebih dari 4 kali. Sedangkan untuk bayi berumur > 1 bulan dan anak, bila frekuensi sudah > 3 kali. Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyebab umum kematian di dunia. Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah. Perkiraan terdahulu menempatkan diare sebagai penyebab kematian lima teratas di dunia yang sering terjadi pada anak-anak. Gastroenteritis disebabkan oleh banyak hal meliputi bakteri, virus, parasit, toksin, dan obat. Penyebab utama yang paling umum adalah virus dan bakteri. Virus dan bakteri sangat mudah menyebar melalui makanan dan air yang telah terkontaminasi. Dalam 50% kasus diare, tidak ditemukan penyebab yang spesifik. Virus menjadi penyebab kasus kematian denna persentasi yang signifikan pada semua umur. Faktor utama tingginya kejadian dan tingkat kematian karena gastroenteritis adalah karena penggunan air yang tidak bersih, sanitasi yang tidak memenuhi sehingga memungkinkan penyebaran agen penginfeksi, dan/ atau kondisi fisiologis seperti malnutrisi yang menebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga memudahkan proses infeksi oleh agen penginfeksi.

Gastroentritis

Page 1

Diseluruh dunia, pengobatan yang tidak memadai bagi penderita membunuh 5 sampai 8 juta orang per tahun dan menjadi penyebab utama kematian bayi dan anak dibawah umur. Setidaknya 50% kasis gastroenteritis yang penyebarannya melalui makanan disebabkan karena infeksi norovirus. Sedangkan 20% nya pada anak-anak disebabkan oleh rotavirus. Pada dasarnya pengobatan yang biasa digunakan masyarakat pada umunya menggunakan bahan oralit yaitu campuran air putih dengan garam, akan tetapi sekarang sudah banyak bahan pil atau kapsul untuk mengobati gastroentritis ini. 1.2 Rumusan masalah 1.2.1 Bagaimana anatomi fisiologi sistem pencernaan? 1.2.2 Apa definisi dari gastroentritis? 1.2.3 Apa etiologi dari gastroentritis? 1.2.4 Bagaimana patofisiologi gastroentritis? 1.2.5 Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada klien gastroentritis? 1.2.6 Apa manifestasi klinis pada klien gastroentritis? 1.2.7 Apa komplikasi dari gastroentritis? 1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan medis pada klien gastroentritis? 1.2.9 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien gastroentritis? 1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum 1.3.1.1 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien gastroentritis 1.3.2 Tujuan Khusus 1.3.2.1 Untuk mengetahui anatomi fisiologi sistem pencernaan 1.3.2.2 Untuk mengetahui definisi dari gastroentritis 1.3.2.3 Untuk mengetahui etiologi dari gastroentritis 1.3.2.4 Untuk mengetahui patofisiologi gastroentritis 1.3.2.5 Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik pada klien gastroentritis 1.3.2.6 Untuk mengetahui manifestasi klinis pada klien gastroentritis 1.3.2.7 Untuk mengetahui komplikasi dari gastroentritis 1.3.2.8 Untuk mengetahui penatalaksanaan medis pada klien gastroentritis 1.3.2.9 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien gastroentritis 1.4 Manfaat 1.4.1 Untuk mempelajari anatomi fisiologi sistem pencernaan Page 2

Gastroentritis

1.4.2 Untuk mempelajari definisi dari gastroentritis 1.4.3 Untuk mempelajari etiologi dari gastroentritis 1.4.4 Untuk mempelajari patofisiologi gastroentritis 1.4.5 Untuk mempelajari pemeriksaan diagnostik pada klien gastroentritis 1.4.6 Untuk mempelajari manifestasi klinis pada klien gastroentritis 1.4.7 Untuk mempelajari komplikasi dari gastroentritis 1.4.8 Untuk mempelajari penatalaksanaan medis pada klien gastroentritis 1.4.9 Untuk mempelajari asuhan keperawatan pada klien gastroentritis

Gastroentritis

Page 3

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Anatomi Fisiologi Secara umum, pencernaan makanan pada manusia akan melalui dua proses, yaitu pencernaan fisik (mekanis) dan pencernaan kimiawi. Pencernaan mekanis merupakan proses pengubahan molekul kompleks menjadi molekul sederhana secara mekanis, misalnya penghancuran makanan dengan gigi atau oleh otot lambung. Pencernaan kimiawi adalah proses pengubahan senyawa organik yang ada dalam bahan makanan dari bentuk yang kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana dengan bantuan enzim. Sistem pencernaan berfungsi untuk mengolah bahan makanan menjadi sari makananyang siap diserap oleh tubuh. Proses-proses dalam sistem pencernaan meliputi : Ingesti adalah masuknya makanan ke dalam mulut. 1. Pemotongan dan penggilingan makanan. 2. Peristalsis adalah gelombang kontraksi otot polos involunter yang menggerakkan makanan tertelan melalui saluran pencernaan. 3. Digesti adalah hidrolisis kimia (penguraian) molekul besar menjadi molekul kecil sehingga absorpsi dapat berlangsung. 4. Absorpsi adalah pergerakan produk akhir pencernaan dari lumen saluran pencernaan kedalam sirkulasi darah dan limfatik sehingga dapat digunakan oleh sel tubuh. 5. Egesti (defekasi) adalah proses eliminasi zat-zat sisa yang tidak tercerna, juga bakteri, dalam bentuk feses dari saluran pencernaan.

2.1.1 Mulut Mulut adalah jalan masuk menuju sistem pencernaan dan berisi organ aksesori yang berfungsi dalam proses awal pencernaan. Rongga mulut dilapisi

Gastroentritis

Page 4

oleh sel-sel epitel pipih. Pada rongga mulut terdapat bibir, pipi, lidah, kelenjar ludah dan gigi. 1. Bibir tersusun dari otot rangka (orbikularis mulut) dan jaringan ikat. Organ ini berfungsi untuk menerima makanan dan produksi wicara. a. Permukaan luar bibir dilapisi kulit yang mengandung folikel rambut, kelenjar keringat serta kelenjar sebasea. b. Area transisional memiliki epidermis transparan. Bagian ini tampak merah karena dilewati banyak kapiler yang dapat terlihat. c. Permukaan dalam bibir adalah membran mukosa. Bagian frenulum labia melekatkan membran mukosa pada gusi di garis tengah.

2. Pipi mengandung otot buksinator mastikasi. Lapisan lapisan epitelial pipi merupakan subjek abrasi dan sel secara konstan terlepas untuk kemudian diganti dengan sel-sel baru yang membelah dengan cepat.

3. Lidah

Lidah berfungsi menggerakkan makanan saat dikunyah atau ditelan, untuk pengecapan, dan dalam produksi wicara. Lidah tersusun oleh otot lurik yang
Gastroentritis

Page 5

diselubungi oleh selaput mukosa. Tonjolan yang terdapat pada permukaan lidah disebut papila yang berfungsi sebagai indera pengecap.

4. Kelenjar saliva

Kelenjar saliva berfungsi untuk mensekresi cairan saliva ke dalam rongga oral yang produksinya dapat mencapai setengah liter hingga satu liter per hari. Ada tiga pasang kelenjar saliva yaitu : 1) Kelenjar parotis 2) Kelenjar submaksilar (submandibular) 3) Kelenjar sublingualis Cairan saliva mengandung enzim ptialin (amilase) yang bekerja pda suasana netral Enzim ini berfungsi untuk mengubah amilum menjadi maltosa. Fungsi saliva adalah sebagai berikut: 1) Melarutkan makanan secara kimia. 2) Melembabkan dan melumasi makanan. 3) Mengurai zat tepung menjadi polisakarida dan maltosa. 4) Zat antibakteri dan antibodi.

5. Gigi Pada mulut juga terjadi pencernaan secara mekanis yang dilakukan oleh gigi.Secara umum, gigi manusia terdiri dari tiga
Gastroentritis

Page 6

bagian, yaitu: Mahkota gigi (korona), leher gigi (kolum), dan akar gigi (radiks). Gigi tumbuh mulai usia 6 bulan. Gigi pertama ini disebut gigi susu (deciduous teeth) yang jumlahnya adalah 20 gigi kemudian berturut-turut diikuti dengan tumbuhnya gigi sulung (permanent teeth) yang terdiri atas gigi seri, taring, dan graham yang jumlahnya 32 buah. Gigi seri (insisor) berfungsi untuk memotong makanan, gigi taring (caninus) berfungsi untuk menyobek makanan, sedangkan gigi graham berfungsi untuk mengunyah.

Secara umum gigi berfungsi dalam proses mastikasi (pengunyahan). Makanan yang masuk dalam mulut dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan bercampur dengan saliva untuk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan.

2.1.2 Faring

Faring digunakan sebagai saluran alat pernafasan. Pada manusia faring juga digunakan sebagai alat artikulasi bunyi. Pada Faring juga terdapat organ seksual sekunder pada pria atau lebih dikenal sebagai jakun. Bolus makanan dalam faring merangsang reseptor orofaring yang mengirim impuls ke pusat menelan dalam medula dan batang otak bagian bawah. Refleks yang terjadi adalah penutupan semua lubang kecuali esofagus sehingga makanan bisa masuk.

Gastroentritis

Page 7

2.1.3 Esofagus (Kerongkongan)

Dari mulut, makanan menuju ke kerongkongan (esofagus). Kerongkongan berbentuk tabung otot yang panjangnya sekitar 9 sampai 10 inci (25 cm) dan berdiameter 1 inci (2,54 cm). Esofagus berawal pada area laringofaring, melewati diafragma dan hiatus esofagus (lubang) pada area sekitar vertebra toraks kesepuluh, dan membuka kearah lambung. Kerongkongan terdiri atas sepertiga otot lurik dan dua per tiga otot polos. Otot kerongkongan tersusun secara memanjang dan melingkar sehingga bila terjadi kontraksi secara bergantian akan terjadi gerak peristaltik membentuk bulatan makanan yang disebut bolus. Esofagus menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalui gerak peristalsis. Mukosa esofagus memproduksi sejumlah besar mukus untuk melumasi dan melindungi esofagus. Esofagus tidak memproduksi enzim pencernaan.

Gastroentritis

Page 8

2.1.4 Lambung

Lambung: 1. Esofagus 2. Kardia 3. Fundus 4. Selaput lender 5. Otot lapisan 6. Lambung mukosa 7. Tubuh perut 8. Pilorik antrum 9. Pilorus 10. Usus dua belas jari (duodenum) Lambung adalah organ berbentuk J, terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen dibawah diafragma. Semua bagian, kecuali bagian kecil terletak pada bagian kiri garis tengah. Dinding lambung tersusun menjadi empat lapisan, yakni mucosa, submucosa, muscularis, dan serosa. Mucosa ialah lapisan dimana sel-sel mengeluarkan berbagai jenis cairan, seperti enzim, asam lambung, dan hormon. Lapisan ini berbentuk seperti palung untuk memperbesar perbandingan antara luas dan volume sehingga memperbanyak volume getah lambung yang dapat dikeluarkan. Submucosa ialah lapisan dimana pembuluh darah arteri dan vena dapat ditemukan untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke sel-sel perut sekaligus untuk membawa nutrisi yang diserap, urea, dan karbon dioksida dari sel-sel tersebut. Muscularis adalah lapisan otot yang membantu perut dalam pencernaan mekanis. Lapisan ini dibagi menjadi 3 lapisan otot, yakni otot melingkar, memanjang, dan menyerong. Kontraksi dan ketiga macam lapisan otot tersebut mengakibatkan gerak peristaltik (gerak menggelombang). Gerak peristaltik menyebabkan makanan di dalam lambung diaduk-aduk. Lapisan terluar yaitu serosa berfungsi sebagai lapisan pelindung perut. Sel-sel di lapisan

Gastroentritis

Page 9

ini mengeluarkan sejenis cairan untuk mengurangi gaya gesekan yang terjadi antara perut dengan anggota tubuh lainnya. Bagian-bagian lambung Bagian jantung lambumg (kardia) adalah area di sekitar pertemuan esofagus dan lambung (pertemuan gastroesofagus), yamg terletak disebelah atas dekat hati. Fundus adalah bagian yang menonjol ke sisi kiri atas mulut esofagus (di tengah). Badan lambung adalah bagian yang terdilatasi di bawah fundus, yang membentuk dua pertiga bagian lambung. Tepi medial badan lambung yang konkaf disebut kurvatur kecil, tepi lateral badan lambung yang konveks disebut kurvatur besar. Bagian pilorus lambung menyempit di ujung bawah lambung dan membuka ke duodenum. Antrum pilorus mengarah ke mulut pilorus yang dikelilingi sfingter pilorus muskular tebal (dekat usus). Pada daerah diantara kerongkongan dan lambung terdapat otot melingkar yang disebut spinkter kardia. Spinkter kardia akan terbuka secara refleks apabila ada makanan yang menuju lambung. Pada bagian pilorus terdapat spinkter pilorus yang merupakan jalan masuk kim dari lambung ke usus halus. Gerakan peristaltik menyebabkan spinkter pilorus mengendur dalam waktu yang sangat singkat sehingga kim dapat masuk ke usus halus secara sedikit demi sedikit. Ada tiga lapisan jaringan dasar (mukosa,submukosa,dan jaringan

muskularis) beserta modifikasinya. a) Muskularis eksterna pada pada bagian fundus dan badan lambung mengandung lapisan otot melintang(oblik) tambahan. Lapisan otot tambahan ini membantu keefektifan pencampuran dan penghancuran isi lambung. b) Mukosa membentuk lipatan-lipatan (ruga) longitudinal yang menonjol
Gastroentritis

sehingga

memungkinkan

peregangan

dinding Page 10

lambung.ruga terlihat saat lambung kosong dan akan menghalus saat lambung merenggang terisi makanan. c) Ada kurang lebih 3 juta pit lambung di antara ruga-ruga yang bermuara pada sekitar 15 juta kelenjar lambung. Kelenjar lambung yang dinamakan sesuai letaknya,menghasilkan 2 L sampai 3 L cairan lambung.cairan lambung mengandung enzim-enzim

pencernaan,asam klorida,mukus,garam-garam, dan air. Fungsi lambung 1. Penyimpanan makanan. Kapasitas lambung normal memungkinkan adanya interval waktu yang panjang antara saat makanan dan kemampuan menyimpan makanan dalam jumlah besar sampai makanan ini dapat terakomodasi di bagian bawah saluran. Lambung tidak memiliki peran mendasar dalam kehidupan dan dapat di angkat,asalkan makanan yang dinamakan sedikit sering. 2. Produksi kimus.Aktivitas lambung mengakibatkan terbentiknya kimus (massa homogen setengah cairan,berkadar asam tinggi yang berasal dari bolus) dan mendorongnya kedalam duodenom. 3. Digesti protein.Lambung memulai digesti protein melalui sekresi tripsin dan asam klorida. 4. Produksi mukus.Mukusyang dihasilkan dari kelenjar membentuk barier setebal 1mm untuk melindungi lambung terhadap aksi pencernaan dari sekresinya sendiri. 5. Produksi faktor intrinsik a. Faktor intrinsik adalah glikoprotein yang disekresi sel parietal. b. Vitamin B12 didapat dari makanan yang dicerna dilambung,terikat pada faktor intrinsik. Kompleks faktor intrinsik vitamin B12 dibawa ke ileum usus halus, tempat vitamin B12 diabsorbsi. 6. Absorbsi.Absorbsinutrien yang berlangsung dalam lambung hanya sedikit. Beberapa obat larut lemak (aspirin) dan alkohol diabsorbsi pada dinding lambung. Zat terlarut dalam air terabsorbsi dalam jumlah yang tidak jelas. SEKRESI LAMBUNG Jenis kelenjar lambung
Gastroentritis

Page 11

A.kelenjar jantung ditemukan di regia mulut jantung.kelenjar ini hanya mensekresi mukus. B.kelenjar fundus (lambbung) terdiri dari 3 jenis sel. 1) Sel chief (zimogenik) mensekresi pepsinogen,prekursor enzim

pepsin.kelenjar ini mensekresi lipase dan renin lambung,yang kurang penting. 2) Sel parietal mensekresi asam klorida (HCL) dan faktor intrinsik. a. Dalampembuatan HCL,CO2 bergerak kedalam sel untuk berikatan dengan air dan membentuk asam karbonat (H2CO3) dalam reaksib yang dikatalis oleh anhidrase karbonit. b.H2CO3 terionisasi untuk membentuk H+ dan HCO3-. Ion dikarbonat keluar dari sel untukb digantikan ion klorida (CL-) dan memasuki sirkulasi sistemik. c. Ion hidrogen,bersama ion klorida,secara aktiv terpompa kedalam lambung. 3).Sel leher mukosa ditemukan pada bagian leher semua kelenjar lambung.sel ini mensekresi barier mukus setebal 1 mm dan melindungi lapisan ;lambung terhadap kerusakan oleh HCL atau aotodigesti. C. kelenjar pilorus terletak pada regina antrum pilorus. Kelenjar ini mansekresi mukus dan gastrin, suatu hormon peptida yang berpengaruh besar dalam proses sekresi lambung. Tiga tahap sekresi lambung 1. Tahap sefalik terjadi sebelum makanan mencapai lambung. Masuknya makanan ke dalam mulut atau tampilan, bau, atau pikiran tentang makanan dapat merangsang sekresi lambung. 2. Tahap lambung terjadi saat makanan mencapai lambung dan berlangsung selama makanan masih ada. 3. Tahap usus terjadi setelah kimus meninggalkan lambung dan memasuki usus.

Gastroentritis

Page 12

2.1.5Intesnium (Usus halus) Usus halus berupa tabung yang panjangnya sekitar 6-8 meter, terdiri atas 3 bagian yaitu: 1. Duodenum (usus 12 jari) adalah bagian yang terpendek (25-s30 cm). 2. Yeyunum usus kosong adalah bagian selanjutnya. Panjangnya kurang lebih 1 1,5 m. 3. Ileum adalah bagian yang merentang sampai menyatu dengan usus besar yang panjangnya sekitar 2 - 2,5 m

Fungsi usus halus adalah mencerna dan mengabsorbsi kim dari lambung. Isinya yang cair dijalankan serangkaian gerakan peristaltik yang cepat. Setiap gerakan lamanya satu sekon dan antara dua gerakan ada istirahat beberapa sekon. Terdpat juga dua jenis gerakan lain seperti berikut : 1. Gerakan segmental. 2. Gerakan pendulum atau ayunan. Gerakan usus halus mencampur isinya dengan enzim untuk pencernaan, memungkinkan produk akhir pencernaan mengadakan kontak dengan sel absorptif, dan mendorong zat sisa memasuki usus besar, pergerakan ini dipicu oleh peregangan dan secara refleks dikendalikan oleh SSO. a. Segmentasi irama adalah gerakan pencampuran utama. Segmentasi mencampur kimus dengan cairan pencernaan dan memaparkannya ke permukaan absorptif.

Gastroentritis

Page 13

Gerakan ini adalah gerakan konstraksi dan gerakan relaksasi yang bergantian dari cincin-cincin otot dinding usus. b. Peristalsis adalah konstraksi otot polos longitudinal dan sirkular. Konstraksi ini adalah daya dorong utama yang menggerakkan kimus ke arah bawahdi sepanjang saluran. Ada tiga spesialisasi struktural yang memperluas permukaan absorptif usus halus yaitu : 1. Plicae circulares 2. Vili 3. Mikrovili Kelenjar-kelenjar yang terdapat di usus halus yaitu : 1. Kelenjar-kelenjar usus (kripta lieberkuhn). Kelenjar ini mensekresikan hormon dan enzim. 2. Kelenjar penghasil mukus yang terdiri dari : a. Sel goblet yang terletak dalam epitelium di sepanjang usus halus. Sel ini memproduksi mukus pelindung. b. Kelenjar brunnerterletak dalam submukosa duodenum. Kelenjar ini memproduksi mukus untuk melindungi mukosa duodenumterhadap kimus asam dan cairan lambung yang masuk ke pilorus melalui lambung. Fungsi usus halus : a. Usus halus mengakhiri proses pencernaan makanan yang dimulai di mulut dan di lambung. Proses ini ini diselesaikan oleh enzim usus dan enzim pankreas serta dibantu empedu dalam hati. b. Usus halus secara selektif mengabsorpsi produk digesti.

Gastroentritis

Page 14

2.1.6 Usus besar

Begitu materi dalam saluran pencernaan masuk ke usus besar, sebagian besar nutrien telah dicerna dan di absorpsikan dan hanya menyisakan zat-zat yang tidak tercerna. Makanan biasa memerlukan 2-5 hari untuk menempuh ujung saluran pencernaan yang satu ke ujung lainnya. 2-6 jam di lambung, 6-8 jam di usus halus, dan sisa waktunya berada di usus besar. Usus besar tidak memiliki vili, tidak memiliki plicae circulares (lipatan-lipatan sirkular), dan daya regangnya lebih besar dibandingkan usus halus. Katup ileosekal adalah mulut sfringter antara usus halus dan usus besar. Normalnya katup ini tertutup, dan akan terbuka untuk merespon gelombang peristaltik. Di dalam usus besar terdapat berbagai macam mikroorganisme, diantaranya adalah Escherichia coli yang hidup pada makanan yang mengandung selulosa. Selain itu, E.Coli diketrahui juga mampu mensintesis vitamin K dan biotin yang kemidian diserap masuk ke dalam tubuh melalui dinding kolon. Dengan demikian, di dalam kolon tidak terjadi pencernaan mekanis maupun kimiawi, yang terjdi adalah penyerapan air dan pembentukan fesesyang dapat tersimpan selama kurang lebih 24 jam. Bagian-bagian Usus Besar Sekum Sekum adalah kantong tertutup yang menggantung di bawah area katup ileosekal.
Gastroentritis

Page 15

Kolon Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai rektum. Kolon memiliki tiga divisi. 1. Kolon asenden (mrngarah ke atas) 2. Kolon transversum (mendatar) 3. Kolon desenden (mengarah ke bawah) Rektum Rektum adalah bagian saluran pencernaan selanjutnya dengan panjang 12 sampai 13 cm. Rektum berakhir pada saluran anal dan membuka di saluran eksterior di anus. Feses yang terbentuk terdorong kje rektum secara peistaltik dan dikeluarkan melalui anus. Fungsi usus besar : 1. Mengabsorpsi 80% sampai 90% air dan elektrolit. 2. Usus besar hanya memproduksi mukus. Sekresinya tidak mengandung enzim atau hormon pencernaan. 3. Sejumlah bakteri dalam kolon mampu mencerna sejumlah kecil selulosa. 4. Mampu mengekskresi zat sisa dalam bentuk feses. 2.2 Definisi Gastroenteritis adalah radang dari lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah ( muntah berak).Yang dimaksud dengan diare ialah defekasi yang tidak normal, baik frekuensi maupun konsistensinya Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999). Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari ( WHO, 1980), Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).
Gastroentritis

Page 16

Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965). Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wongs,1995). Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ). Jadi dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen. 2.3 Etiologi A. Faktor infeksi a. Infeksi internal : infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, meliputi infeksi internal sebagai berikut: 1. Infeksi bakteri : vibrio, ecoly, salmonella shigella, capylabactor, yersinia aoromonas dan sebagainya. 2. Infeksi virus : entero virus (v.echo, coxsacria, poliomyelitis). 3. Infeksi parasit : cacing (ascaris, tricuris, oxyuris, srongyloidis, protozoa, jamur). b. Infeksi parenteral : infeksi diluar alat pencernaan, seperti : OMA, tonsillitis, bronkopnemonia, easefalitis, dan lainnya. B. Faktor malabsorbsi : a. Malabsorbsi karbohidrat. b. Malabsorbsi lemak. c. Malabsorbsi protein. C. Faktor makanan, makanan basi atau beracun. D. Faktor psikologis rasa takut dan cemas (Mansjoer arief, 2000). 1. Faktor Lingkungan : Kebersihan lingkungan tidak dapat diabaikan. Pada musim penghujan, dimana air membawa sampah dan kotoran lainnya, dan juga pada
Gastroentritis

Page 17

waktu kemarau dimana lalat tidak dapat dihindari apalagi disertai tiupan angin yang cukup besar, sehingga penularan lebih mudah terjadi. Persediaan air bersih kurang sehingga terpaksa menggunakan air seadanya, dan terkadang lupa cuci tangan sebelum dan sesudah makan. 2. Perubahan udara : Perubahan udara sering menyebabkan seseorang merasakan tidak enak dibagian perut, kembung, diare dan mengakibatkan rasa lemas, oleh karena cairan tubuh yang terkuras habis. 2.4 Patofisiologi Gastroenteritis bisa disebabkan oleh 4 hal, yaitu faktor infeksi (bakteri, virus, parasit), faktor malabsorbsi dan faktor makanan dan faktor psikologis. Diare karena infeksi seperti bakteri, berawal dari makanan atau minuman yang masuk kedalam tubuh manusia. Bakteri tertelan masuk sampai lambung, yang kemudian bakteri dibunuh oleh asan lambung. Namun jumlah bakteri terlalu banyak maka, ada yang beberapa lolos sampai keduodenum dan berkembang biak. Pada kebanyakan kasus gastroenteritis, orga tubuh yang diserang adalah usus. Didalam usus tersebut bakteri akan memproduksi enzim yang akan mencairkan lapisan lendir yang menutupi permukaan usus, sehingga bakteri dapat masuk kedalam membran epitel, dimembran ini bakteri mengeluarkan toksik yang merangsang sekresi cairancairan usus dibagian cripta villi dan menghambat absorbsi cairan. Sebagian akibat dari keadaan ini volume cairan didalam lumen usus meningkat yang mengakibatkan dinding usus menggembung dan tegang sebagian dinding usus akan mengadakan kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas untuk mengalirkan cairan diusus besar. Apabila jumlah cairan tersebut melebihi kapasitas absorbsi usus maka akan terjadi diare. Diare yang diakibatkan malabsorbsi makanan akan menyebabkan makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Tertelannya makanan yang beracun juga dapat menyebabkan diare karena akan mengganggu motilitas usus. Iritasi mukosa usus mengakibatkan hiperperistaltik sehingga terjadi berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehinggan

Gastroentritis

Page 18

timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula. Adanya iritasi mukosa usus dan peningkatan volume cairan dirongga usus menyebabkan klien mengeluh abdomen terasa sakit. Selain karena 2 hal itu, nyeri abdomen atau kram timbul karena metabolisme karbohidrat oleh bakteri diusus yang menghasilkan gas H2 dan C02 yang menimbulkan kembung dan flatus berlebihan. Biasanya pada keadaan ini klien akan merasas mual bahkan muntah serta nafsu makannya menurun. Karena terjadi ketidakseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila keadaan ini terus berlanjut dan klien tidak mau makan maka, akan menimbulkan gangguan nutrisi sehingga klien lemas. Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan akan menyebabkan klien terjatuh dalam keadaan dehidrasi. Yang ditandai dengan berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubunubun bisa jadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Tubuh yang kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan membuat cairan ekstraseluler dan intraseluler menurun. Dimana selain air, tubuh juga kehilangan Na, K dan Ion Karbonat. Bila keadaan ini berlanjut terus, maka volume darah juga berkurang. Tubuh mengalami gangguan sirkulasi, perfusi jaringan terganggu dan akhirnya dapat menyebabkan syok hipovolemik dengan gejala denyut jantung meningkat, nadi cepat tapi kecil, tekanan darah menurun klien sangat lemah kesadaran menurun. Akibat lain dari kehilangan cairan ekstrasel dan intrasel yang berlebihan, tubuh akan mengalami asidosis metabolik dimana klien akan tampak pucat dengan pernapasan yang cepat dan dalam (pernapasan kussamul). Faktor psikologis juga dapat menyebabkan diare. Karena faktor psikologis (stres, marah, takut) dapat merangsang kelenjar adrenalin dibawah pengendalian siste, pernapasan simpatis untuk merangsang pengeluaran hormon yang kerjanya mengatur metabolisme tubuh. Sehingga bila terjadi stres maka, metabolisme akan terjadi peningkatan dalam bentuk peningkatan mortalitas usus. (Ngastiah, 2005 ; Syaifuddin, 1999 ; Barbara C Long, 1999) Patogenesis diare Patogenesis diare akut 1. Mikroorganisme/ makanan dimasukkan ke dalam pencernaan.

Gastroentritis

Page 19

2. Mikroorganisme tersebut berkembang biak setelah berhasil melewati abar asam lambung. 3. Mikroorganisme membentuk toksin ( endotoksin ) 4. Terjadinya rangsangan pada mukosa usus sehingga terjadi hiperperistaltik dan sekresi cairan untuk membuang mikroorganisme tersebut, sehingga akibatnya diare. Patogenesis diare kronik 1. Infeksi bakteri misalnya di E.coli patogen yang sudah resisten terhadap obat obat yang ada Indonesia pada waktu ini. Tumbuh secara berlebihan dari

bakteri non patogen seperti pseudomonas, proteus, stafilokokus dan sebagainya. 2. Investasi parasit : terutama Entamoeba histolytica, kandida dan trikukis. 3. PCM : Pada penderita PCM didapatkan atrofi pada semua organ, termasuk atrofi mukosa usus halus, mukosa lambung dan pankreas. Akibatnya akan tarjadi defisiensi enzim-enzim yang dikeluarakan organ tersebut ( laktase, maltase, lipase dan sebagainya ) yang menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan sempurna. Makanan tersebut akan menyebabkan tekanan koloid osmotik dalam lumen usus meninggi dan menyebabkan diare osmotik. Selain itu juga akan menyebabkan tumbuh berlebihan bakteri yang juga akan menambah beratnya malabsorbsi dan infeksi. Gangguan imunologik : defisiensi secretery IgA ( SigA ) akan menyebabkan tubuh tidak mampu mengatasi infeksi dan investasi parasit dalam usus. 2.5 Pemeriksaan Penunjang A. Pemeriksaan laboratorium. 1. Pemeriksaan tinja. a. Makroskopis dan mikroskopis. b. pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula. c. Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi. 2. Pemeriksaan Darah a. pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium dan Fosfor) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa. b. Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.
Gastroentritis

Page 20

2.

Doudenal Intubation Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

3.

Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan.

4.

Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal.

B. pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik. 2.6 Manifestasi Klinis 1. Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu badan meninggi, nafsu makan berkurang atau tidak ada. Tinja cair dan mungkin mengadung darah atau lendir. 2. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. 3. Bila penderita sudah banyak kehilangan cairan dan elektrolit maka timbul dehidrasi. 4. Diare yang berlangsung lama (berhari-hari atau berminggu-minggu) baik secara menetap atau berulang ? panderita akan mengalami penurunan berat badan. 5. Berak kadang bercampur dengan darah. 6. Tinja yang berbuih. 7. Konsistensi tinja tampak berlendir. 8. Tinja dengan konsistensi encer bercampur dengan lemak. 9. Penderita merasakan sekit perut. 10. Rasa kembung. 11. Kadang-kadang demam 2.7 Komplikasi a. Dehidrasi b. Renjatan hipovolemik c. Kejang d. Bakterimia e. Mal nutrisi f. Hipoglikemia g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus. 2.8 Penatalaksanaan Medis Page 21

Gastroentritis

a. Pemberian cairan. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan jenis diare akut dapat diberikan oralit. Diberikan cairan ringer laktat, bila tak tersedia dapat diberikan cairan NaCl isotonic ditambah 1 ampul Na Bikarbonat 7,5% 50ml b. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan yaitu : memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih. c. Obat-obatan antidiare 1. Obat anti motilitas dan sekresi usus Loperamid (Imodium) : 4mg peroral (dosis awal), lalu tiap tinja cair diberikan 2mg dengan dosis maksimal 16 mg perhari 2. 3. Difenoksilat (lomotif) : 4x5mgv(2 tablet) Kodein fosfat 15 60 mgtiap jam

Okteroid Obat antidiare yang mengeraskan tinja dan absorbs zat toksik, yaitu campuran kaolin dan morfin

Gastroentritis

Page 22

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA GASTROENTRITIS

3.1 Pengkajian Keperawatan Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, pemeriksaan fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah : a. Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh

meningkat,anoreksia kemudian timbul diare. b. Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubunubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer. c. Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi. Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah. d. Pemeriksaan fisik persistem B1 (Breath) B2 (Blood) B3 (Brain) B4 (Bladder) B5 (Bowel) : Normal : Normal : Ansietas,nyeri : BAK sedikit atau jarang : BAB lebih dari 4 kali sehari, feses cair, kadang berdarah dan berbuih. mual, muntah, anopreksia, distensi abdomen B6 (Bone) : tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen. e. Pemerikasaan fisik.
Gastroentritis

Page 23

1. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.

2. Pemeriksaan sistematik : a. Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan. b. Perkusi : adanya distensi abdomen. c. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis d. Auskultasi : terdengarnya bising usus. 3. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang. 4. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun. 5. Pemeriksaan penunjang. 6. Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif. 3.2 Diagnosa Keperawatan GE a. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan. b. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah. c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen. d. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi oleh bakteri atau virus. e. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan. f. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan. 3.3 Intervensi Keperawatan a. Diagnosa 1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubunga dengan output cairan yang berlebihan.

Gastroentritis

Page 24

1. Kriteria hasil: Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang
Tujuan Intervensi Devisit cairan dan elektrolit Mandiri : teratasi Awasi masukan dan haluaran, karakter, dan jumlah feses

Health Education : Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 2500 cc per hari. Kolaborasi: - Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. - Kolaborasi dengan tim gizi dalam

pemberian cairan rendah sodium Observasi : - Observasi tanda-tanda vital - Observasi tanda-tanda dehidrasi .

b. Diagnosa 2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah. 1. Kriteria hasil : Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual, muntah tidak ada.
Tujuan Intervensi Gangguan pemenuhan kebutuhan Mandiri : nutrisi teratasi Timbang berat badan klien. Dorong tirah baring atau

pembatasan aktivitas selama fase sakit akut Health Education :

Gastroentritis

Page 25

Lakukan oral hygiene

Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien Observasi : Kaji pola nutrisi klien dan

perubahan yang terjadi Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.

c. Diagnosa 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan. 1. Kriteria hasil : Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tandatanda infeksi tidak ada
Tujuan Gangguan teratasi integritas Intervensi kulit Mandiri : Health Education : Anjurkan ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong secara perlahan

menggunakan sabun non alcohol Beri salep seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi antifungi sesuai indikasi. Observasi : Observasi bokong dan perineum dari infeksi

d. Diagnosa 4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen. 1. Kriteria hasil : Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang Page 26

Gastroentritis

Tujuan Nyeri dapat teratasi -

Intervensi Mandiri : Atur posisi yang nyaman bagi klien Health Education : Beri kompres hangat pada daerah abdomen -

Ajarkan tekhnik relaksasi nafas dalam


Kolaborasi:

Kolaborasi

dengan

dokter

dalam

pemberian therapi analgetik sesuai indikasi Observasi : Observasi tanda-tanda vital Kaji tingkat rasa nyeri

e. Diagnosa 5 Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan. 1. Criteria Hasil : Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan
Tujuan Klien akan Intervensi memperlihatkan Mandiri : Health Education : Anjurkan pada keluarga untuk selalu mendampingi klien Berikan mainan sesuai kesukaan klien Kolaborasi: Libatkan tindakan Observasi : Kaji tingkat kecemasan klien keluarga dalam setiap

penurunan tingkat kecemasan

Gastroentritis

Page 27

Kaji faktor pencetus cemas Kaji hal yang disukai klien

3.4 Evaluasi a. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan. b. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh. c. Integritas kulit kembali normal. d. Rasa nyaman terpenuhi. e. Cemas pada klien teratasi.

Gastroentritis

Page 28

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999). Penyebab gastroenteritis diantaranya yaitu: a. Makanan dan Minuman b. Bakteri c. Virus d. Jamur e. Perubahan udara f. Factor lingkungan 4.2 Saran a. Saran kepada masyarakat umum: 1. Jagalah kesehatan, karena sehat itu indah dan mahal 2. Ilmu itu penting, jadi jangan pernah jenuh untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. b. Saran untuk mahasiswa PSIK: 1. Belajarlah dengan giat untuk mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan untuk mencapai cita-citamu. 2. Jadilah calon perawat yang professional, berwawasan dan berpengetahuan luas, serta mempunyai keterampilan yang baik. Page 29

Gastroentritis

3. Berikanlah pelayanan yang baik bagi klien dalam bidang kesehatan, untuk mencapai tujuan kesehatan bersama.

Daftar Pustaka Caine, Randy Marion, 1987, Nursing Care Planning Guides For Adult, USA Baltimore: William & Wilkins. Junadi, Purnawan, 1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Price, Sylvia Anderson, 1985, Pathofisiologi Konsep klinik Proses-Proses Penyakit, Jakarta: EGC. Soeparman, 1990, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Gastroentritis

Page 30