Anda di halaman 1dari 24

Makalah

MOTIVASI BELAJAR
Psikologi Pendidikan
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

Oleh KELOMPOK 6 M. ISNAINI MAARIF YOYON PUJIONO SYAHRIL FAZAL 1106103030031 1106103030045 1106103030074

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA


DARUSSALAM-BANDA ACEH 2013

KATA PENGANTAR Segala Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat, KaruniaNya, dan BimbinganNya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dan tak lupa salawat serta salam kepada Nabi besar Muhammad saw sebagai sosok panutan dan pemimpin kita semua. Makalah ini di buat agar pambaca dan penyusun dapat lebih memahami dan menerapkan konsep motivasi belajar. Yang diharapkan dari kajian materi ini kita selaku calon guru mampu untuk memberikan motivasi belajar yang membangun kepada siswa didik kita. Kami menyadari bahwa dalam pelaksanaan dan penyusunan Makalah ini banyak menghadapi kesulitan, namun berkat kemauan dan kerja keras serta bimbingan, maka makalah ini dapat terselesaikan. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada dosen pembimbing. Sebagaimana suatu kajian keilmuan dan teoritis ilmiah, maka dengan segala keterbukaan penulis dengan senang hati menerima masukan, kritik yang membangun, dan saran untuk perbaikan makalah ini. Akhirnya Penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan serta wawasan bagi segenap pembacanya.

Darussalam, 03 April 2013

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i DAFTAR ISI............................................................................................................................iii PANDANGAN TEORITIS ..................................................................................................... 1 1.1 Pendahuluan ............................................................................................................. 1 Pengertian Motivasi ......................................................................................... 1 Pembagian Motivasi Belajar ............................................................................ 2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi ................................................. 4

1.1.1 1.1.2 1.1.3

1.2 Teori-Teori Mendasar ................................................................................................... 6 1.3 Kajian Terdahulu .......................................................................................................... 8 KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK ................................................................................. 11 1. 2. 3. Karakteristik Jenjang Sekolah Dasar ......................................................................... 11 Karateristik Anak Usia SMP ...................................................................................... 13 Karakteristik Anak Sekolah Menengah Atas ............................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 21

iii

PANDANGAN TEORITIS 1.1 Pendahuluan 1.1.1 Pengertian Motivasi

Motivasi adalah suatu dorongan terhadap diri kita agar kita melakukan sesuatu hal. Dorongan yang kita dapat itu bisa bersumber dari mana saja, entah itu dari diri kita sendiri atu pun dari hal atau orang lain. Dorongan yang kita sebut motivasi itu juga yang menjadi suatu sumber tenaga dalam kita mengerjakan suatu hal agar kita mencapai suatu tujuan yang kita inginkan. Dalam hal ini kegiatan yang kita lakukan dapat berbentuk negatif ataupun positif meskipun motivasi kita semua awalnya baik. Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya,Motifasi tidak dapat diamati secara langsung akan tetapi dapat diinteprestasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku yang tertentu.Pada dasarnya motivasi itu hanya dua, yaitu untuk meraih kenikmatan atau menghindari dari rasa sakit atau kesulitan. Menurut Terry ( Moekjizat, 1984):Motivasi adalah keinginan didalam diri individu yang mendorong individu untuk bertindak.latihan atau kegiatan lainnya yang menimbulkan suatu perubahan secara kognitif,afektif dan psikomotorik pada individu yang bersangkutan. Menurut Chung dan Meggison(Metode belajar,1999):Motivasi merupakan prilaku yang ditujukan kepada sasaran, motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang

dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan. Motivasi berkaitan erat dengan kepuasan pekerja. Menurut Heidjrachman dan Suad Husnan(Belajar,1997) adalah:Motivasi merupakan proses untuk mencoba mempengaruhi seseorangagar mau melakukan sesuatu yang diinginkan. Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya defenisi diatas mempunyai pengertian yang sama, yaitu semuanya mengandung unsur dorongan dan keinginan.

1.1.2 Pembagian Motivasi Belajar

A. Fungsi Motivasi Menurut M. Ngalim Purwanto(Pisikologi pendidikan,1981) ada tiga fungsi motivasi dalam belajar, yaitu:

Mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak. Motif itu berfungsi sebagai penggerak atau motor yang memberi energi (kekuatan) seseorang untuk melakukan suatu tugas.

Motif itu merupakan arah perbuatan, yakni kearah perwujutan cita-cita atau suatu tujuan.

Motiv itu menyeleksi suatu perbuatan kita, artinya menentukan perbuatanperbuatan yang mana harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan mengenyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu. B. Aspek-Aspek Motivasi Belajar Worrel dan Stillwel (Harliana,1998), mengemukakan beberapa aspek-aspek

yang membedakan motivasi belajar tinggi dan rendah, yaitu :


Tanggung jawab Tekun terhadap tugas, berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas dan tidak

mudah menyerah
2

Memiliki sejumlah usaha, bekerja keras dan menghabiskan waktu untuk

kegiatan belajar
Memperhatikan umpan balik Waktu penyelesaian tugas Menetapkan tujuan yang realistis

Menurut Sardiman (Pembelajaran, 2004) menerangkan bahwa motivasi yang ada pada dirisetiap orang memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut : Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai). Ulet menghadapi kesulitan (ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan, tidak lekas putus asa). Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidakcepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya). Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang dewasa (peka dan responsif terhadap berbagai masalah umum, misalnya masalah pembangunan, agama, politik, ekonomi, keadilan, pemberantasan korupsi, penentangan terhadap setiap tindak kriminal, amoral, dan sebagainya). Lebih senang bekerja mandiri. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat

mekanis,berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif). Dapat mempertahankan pendapat (kalau sudah yakin akan sesuatu dan dipandangnya cukup rasional). Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

C. Prinsip-prinsiop motivasi belajar Proses internal yang mengaktifkan, memadu dan mempertahankan prilaku dari waktu ke waktu. Dapat ditingkatkan dengan penekanan tujuan-tujuan belajar dan

pemberdayaan antribusi.
3

Dapat meningkat apabila guru membangkitkan minat siswa.Dapat meningkat pada diri siswa apabila guru memberikan ganjaran yang memiliki kontigen (keterkaitan), spesifik dan dapat dipercaya

D. Peran penting motivasi dalam belajar Menentukan hal-hal yang dijadikan penguat belajar. memperjelas tujuan yang hendak dicapai. menentukan ketekunan belajar. Peran motivasi dalam menentukan penguatan belajar, motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang anak yang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan dan hanya dapat dipecah berkat bantuan hal-hal yang pernah dia lalui.

1.1.3

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi

Motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : A. Faktor Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu 1. Persepsi individu mengenai diri sendiri seseorang termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi. Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak; 2. Harga diri dan prestasi. faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu (memotivasi) untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan memperoleh kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam lingkungan masyarakat; serta dapat mendorong individu untuk berprestasi 3. Harapan adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini merupakan informasi objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perasaan subjektif seseorang. Harapan merupakan tujuan dari perilaku.

4. Kebutuhan
4

manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya sendiri yang berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya secara total. Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang untuk mencari atau menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang dialaminya. 5. Kepuasan kerja lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul dalam diri individu untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan dari suatu perilaku. B. Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu 1. Jenis dan sifat pekerjaan dorongan untuk bekerja pada jenis dan sifat pekerjaan tertentu sesuai dengan objek pekerjaan yang tersedia akan mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau pilihan pekerjaan yang akan ditekuni. 2. Kelompok kerja dimana individu bergabung kelompok kerja atau organisasi tempat dimana individu bergabung dapat mendorong atau mengarahkan perilaku individu dalam mencapai suatu tujuan perilaku tertentu; peranan kelompok atau organisasi ini dapat membantu individu mendapatkan kebutuhan akan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan serta dapat memberikan arti bagi individu sehubungan dengan kiprahnya dalam kehidupan sosial. 3. Situasi lingkungan pada umumnya setiap individu terdorong untuk berhubungan dengan rasa mampunya dalam melakukan interaksi secara efektif dengan lingkungannya; 4. Sistem imbalan yang diterima Imbalan merupakan karakteristik atau kualitas dari objek pemuas yang dibutuhkan oleh seseorang yang dapat mempengaruhi motivasi atau dapat mengubah arah tingkah laku dari satu objek ke objek lain yang mempunyai nilai imbalan yang lebih besar. Sistem pemberian imbalan dapat mendorong individu untuk berperilaku dalam mencapai tujuan; perilaku dipandang sebagai tujuan, sehingga ketika tujuan tercapai maka akan timbul imbalan.

1.2 Teori-Teori Mendasar A. Teori Mendasar 1. Teori Insentif Tteori yang mengatakan bahwa seseorang akan bergerak atau mengambil tindakan karena ada insentif yang akan dia dapatkan. Misalnya, Anda mau bekerja dari pada sampai sore karena Anda tahu bahwa Anda akan mendapatkan intensif berupa gaji. Jika Anda tahu akan mendapatkan penghargaan, maka Anda pun akan bekerja lebih giat lagi. Yang dimaksud insentif bisa tangible atau intangible. Seringkali sebuah pengakuan dan penghargaan, menjadi sebuah motivasi yang besar. 2. Dorongan Biologis Dalam hal ini yang dimaksud bukan hanya masalah seksual saja. Termasuk di dalamnya dorongan makan dan minum. Saat ada sebuah pemicu atau rangsangan, tubuh kita akan bereaksi. Sebagai contoh, saat kita sedang haus, kita akan lebih haus lagi saat melihat segelas sirup dingin kesukaan Anda. Perut kita akan menjadi lapar saat mencipum bau masakan favorit Anda. Bisa dikatakan ini adalah dorongan fitrah atau bawaan kita sejak lahir untuk mempertahankan hidup dan keberlangsungan hidup. 3. Teori Hirarki Kebutuhan Teori ini dikenalkan oleh Maslow sehingga kita mengenal hirarki kebutuhan Maslow. Teori ini menyajikan alasan lebih lengkap dan bertingkat. Mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kemanan, kebutuhan akan pengakuan sosial, kebutuhan penghargaan, sampai kebutuhan akan aktualisasi diri. 4. Takut Kehilangan atau Kepuasan Teori ini mengatakan bahwa apda dasarnya ada dua faktor yang memotivasi manusia, yaitu takut kehilangan dan demi kempuasan (terpenuhinya kebutuhan). Takut kehilangan adalah adalah ketakutan akan kehilangan yang sudah dimiliki. Misalnya seseorang yang termotivasi berangkat kerja karena takut kehilangan gaji. Ada juga orang yang giat bekerja demi menjawab sebuah tantangan, dan ini termasuk
6

faktor kepuasan. Konon, faktor takut kehilangan lebih kuat dibanding meraih kepuasan, meskipun pada sebagian orang terjadi sebaliknya. 5. Kejelasan Tujuan Teori ini mengatakan bahwa kita akan bergerak jika kita memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul bahwa seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi jika dia memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah apa yang disebut dengan Goal Setting (penetapan tujuan)

B. Teori Motivasi Menurut Ahli

Slavin (2009), konsep motivasi berkaitan erat denganprinsip bahwa perilaku yang telah diperkuat pada masa lalu mempunyai kemungkinan yang lebih besar diulangi daripada perilaku yang belum diperkuat atau yang telah dihukum. Sukmadinata (2003), Motivasi memiliki dua fungsi, yaitu: pertama mengarahkan atau directional function, dan kedua mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan atau activating and energizing function. Sukmadinata (2003), motif sosial merupakan perkembangann dari motif dasar, berkembang karena belajar dan pengalaman, baik belajar dan pengalaman yang disadari dan disengaja maupun yang dilakukan tana rencana dan sadar. Sukmadinata (2003), Motivasi mendasari semua perilaku individu, bedanya pada sesuatu perilaku mungkin dirasakan dan disadari pada perilakuu lain tidak, pada sesuatu perilaku sangat kuat dan pda perilaku lain kurang. Slavin (2009), Motivasi adalah proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Slavin (2009), Insentif adalah tindakan penguatan yang dapat diharapkan orang untuk diterima kalau mereka melakukan perilaku tertentu.

Menurut Carole (2008), Motivasi mengacu pada proses mengambil kesimpulan yang terjadi pada diri seseorang atau pada seekor hewan yang dapat menggerakkan organisme tersebut ke arah pencapaian suatu sasaran memuaskan kebutuhan biologis atau mencapai suatu ambisi psikologis atau menjauh dari suatu situasi yang tidak menyenangkan. Menurut Sartain, Motivasi adalah suatu pertanyaan yang komplek dimana dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal ) atau perangsang. Menurut Chifford T. Morgan, motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari pada motivasi. Ketiga hal tersebut adalah keadaan yang mendorong tingkah laku (Motiving states), yaitu tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut (Motiving Behavior), dan tujuan dari tingkah laku tersebut (Goal or Endsof Such Behavior). Menurut Fredrick J. Mc Donal, memberikan sebuah pernyataan yaitu motivasi adalah perubahan energi pada diri dari seseorang yang ditantai dengan perasaan dan juga reaksi untuk mencapai sebuah tujuan.

1.3 Kajian Terdahulu Suyatno (2011), melakukan penelitian dengan judul, Pengaruh Pornografi Terhadap Perilaku Belajar Siswa (Studi Kasus : Sekolah Menengah X), Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan

bertahan lama. Ada beberapa perspektif psikologis yang menjelaskan motivasi siswa secara berbeda, yaitu perspektif behavioral yang menekankan pada imbalan dan hukuman sebagai kunci dalam menentukan motivasi siswa, perspektif humanistis yang menekankan pada kebebasan untuk memilih nasib dan kapasitas siswa untuk mengembangkan kepribadian mereka, perspektif kognitif, yaitu

pemikiran murid akan memandu motivasi merekadan perspektif sosial, yaitu motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman.
8

Karafir dkk (2005), melakukan penelitian dengan judul, Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Manokwari, Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum motivasi untuk belajar siswa Sekolah Dasar di rumah masih relative rendah. Sebagian besar siswa hanya belajar jika disuruh oleh orang tua atau karena ada pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan pada hari berikutnya. Ini menunjukkan bahwa siswa SD masih perlu didorong lagi untuk memahami bahwa belajar merupakan ha penting yang harus dilakukan dengan senang hati tanpa harus dipaksa atau disuruh oleh orang tua. Selain itu, guru bertanggung jawab pula untuk lebih aktif dalam hal memacu motivasi siswa untuk belajar. Subekti (2012), melakukan penelitian dengan judul, Pengaruh Sumber

Belajar Dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Fisika Di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Babat Supat, Dari Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap motivasi berprestasi dimana secara teoritis sumber belajar yang dapat mendinamiskan proses pembelajaran sehingga dapat menciptakan motivasu yang baik di dalam proses belajar mengajar, selain itusecara teoritis fasilitas belajar merupakan kelengkapan saranan dalam proses pembelajaran , semakin lengkap sumber belajar maka semakin besar motivasi yang akan di capai dalam hasil belajar. Dengan kata lain bahwa sumber belajar dapat memacu semangat siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Aritonang (2007), melakukan penelitin dengang judul, Minat dan Motivasi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa, Ada hubungan yang signifikan antara minat dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran olahraga dan kesenian berdasarkan hasil rapot dengan hasil survey. Hal ini menunjukkan bahwa minat dan motivasi belajar besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar. Rohim (2009), Melakukan penelitian dengan judul, Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Dengan Pendekatan Integrasi Matematika Islam Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Studi Kasus di Kelas XI IPA MA Nahdhatul Muslim Undaan Kudus), Penerapan pendekatan integrasi matematika-Islam melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas XI IPA Nahdhatu Muslimin.
9

Hamdu dkk (2011), melakukan penelitian dengan judul, Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Pestasi Belajar Ipa Di Sekolah Dasar, Hasil penelitian ini juga menginformasikan terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini berarti bahwa jika siswa memiliki motivasi dalam belajar, maka prestasi belajarnya pun akan baik (tinggi). Sebaliknya jika siswa memiliki kebiasaan yang buruk dalam belajar, maka prestasi belajarnya pun akan buruk (rendah).

10

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK 1. Karakteristik Jenjang Sekolah Dasar

Jenis penyelenggaraan pendidikan pada jenjang sekolah dasar meliputi Sekolah Dasar (SD) baik negeri maupun swasta, SD Kecil, SD Pamong, SD Luar Biasa baik negeri maupun swasta, SD Terpadu, dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) baik negeri maupun swasta. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak. Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas.Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah. Memahami Karakteristik Anak di Sekolah Dasar Masa usia SD (sekitar 6-12 tahun ) ini merupakan tahapan perkembangan penting dan bahkan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Karena itu, guru tidaklah mungkin mengabaikan kehadiran dan kepentingan mereka.Ia akan selalu dituntut untuk memahami betul karakteristik anak di SD.Bassett, Jacka, dan Logan (1983)mengatakan bahwa karakteristik anak usia sekolah dasar secara umum adalah : a. Mereka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi mereka sendiri.Jadi mereka akan mencoba mencari tahu apa yang ingin mereka tahu tentang sesuatu yang mereka dapat dan apa yang terjadi disekitar mereka baik positif maupun negatif. Maka dari itu kita sebagai guru dan orang tua harus dengan baik memahami karakristik anak yang seperti itu supaya mereka tidak terpengaruh oleh hal-hal buruk disekitar mereka.
11

b. Mereka senang bermain dan lebih suka bergembira / riang,karena anak usia SD tidak harus mendapatkan pelajaran yang terlalu rumit c. Mereka suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal yang dihadapinya, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha-usaha baru dan tidak akan pernah mau diatur oleh orang lain d. Mereka belajar dengan cara mengikuti atau berinisiatif dari apa yang temannya/orang lain dapat. Misal orang tua yang berbicara begini anak pun akan mengikuti apa yang didapatkannya. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : a. adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, b. amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar c. menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor d. pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri e. pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah f. anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama. Aspek Kognitif Bertitik tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik sendiri, di mana dalam proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar masih berpijak pada prinsip yang sama di mana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada dunia pengetahuan.

12

Aspek Pribadi Karakteristik anak usia SD adalah senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, serta senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung.Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran

2. Karateristik Anak Usia SMP

a. Aspek Jasmani/Fisik Pada masa remaja, pertumbuhan fisik mengalami perubahan lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan masa dewasa.Pada fase ini remaja memerlukan asupan gizi yang lebih, agar pertumbuhan bisa berjalan secara optimal.Perkembangan fisik remaja jelas terlihat pada tungkai dan tangan, tulang kaki dan tangan, serta otot-otot tubuh berkembang pesat.

b. Aspek Seksual Terdapat perbedaan tanda-tanda dalam perkembangan seksual pada remaja.Tandatanda perkembangan seksual pada anak laki-laki diantaranya alat reproduksi spermanya mulai berproduksi, ia mengalami masa mimpi yang pertama, yang tanpa sadar mengeluarkan sperma.Sedangkan pada anak perempuan, bila rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan menstruasi yang pertama.

Terdapat ciri lain pada anak laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki a. Pada lehernya menonjol buah jakun yang bisa membuat nada suaranya pecah; b. Didaerah wajah, ketiak, dan di sekitar kemaluannya mulai tumbuh bulu-bulu atau rambut; c. Kulit menjadi lebih kasar, tidak jernih, warnanya pucat dan pori-porinya meluas.

13

Pada anak perempuan a. Diwajahnya mulai tumbuh jerawat, hal ini dikarenakan produksi hormon dalam tubuhnya meningkat. b. Pinggul membesar bertambah lebar dan bulat akibat dari membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit. c. Payudara membesar dan rambut tumbuh di daerah ketiak dan sekitar kemaluan. d. Suara menjadi lebih penuh dan merdu. Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri ataupun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar.Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi. c. Aspek Kognitif Remaja sudah mulai berfikir kritis sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan, masih menganggapnya sebagai anak kecil.Mereka tidak akan terima jika dilarang melakukan sesuatu oleh orang yang lebih tua tanpa diberikan penjelasan yang logis. Misalnya, remaja makan didepan pintu, kemudian orang tua melarangnya sambil berkata pantang.Sebagai remaja mereka akan menanyakan mengapa hal itu tidak boleh dilakukan dan jika orang tua tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan maka dia akan tetap melakukannya.Apabila guru/pendidik dan oarang tua tidak memahami cara berfikir remaja, akibatnya akan menimbulkan kenakalan remaja berupa perkelahian antar pelajar. Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations).Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalahmasalah yang kompleks dan abstrak.

14

Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya.Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri.Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan.Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu

mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka. Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini.Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak, penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.

15

d. Apek Emosi Emosi pada remaja masih labil, karena erat hubungannya dengan keadaan hormon. Mereka belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Dalam satu waktu mereka akan kelihatan sangat senang sekali tetapi mereka tiba-tiba langsung bisa menjadi sedih atau marah. Contohnya pada remaja yang baru putus cinta atau remaja yang tersinggung perasaannya.Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka daripada pikiran yang realistis. Saat melakukan sesuatu mereka hanya menuruti ego dalam diri tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi. e. Aspek Sosial Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya.

Ketrampilan-ketrampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial. Ketrampilan tersebut harus mulai dikembangkan sejak masih anak-anak, misalnya dengan memberikan waktu yang cukup buat anak-anak untuk bermain atau bercanda dengan teman-teman sebaya, memberikan tugas dan tanggungjawab sesuai perkembangan anak, dsb. Dengan mengembangkan ketrampilan tersebut sejak dini maka akan memudahkan anak dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan berikutnya sehingga ia dapat berkembang secara normal dan sehat. Ketrampilan-ketrampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri & orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, dsb.

16

Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Hal ini berarti pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan aspek psikososial dengan maksimal. Jadi tidak mengherankan jika pada masa ini remaja mulai mencari perhatian dari ingkungannya dan berusaha mendapatkan status atau peranan, misalnya mengikuti kegiatan remaja dikampung dan dia diberi peranan dimana dia bisa menjalankan peranan itu dengan baik.Sebaliknya jika remaja tidak diberi peranan, dia akan melakukan perbuatan untuk menarik perhatian lingkungan sekitar dan biasanya cenderung ke arah perilaku negatif. Salah satu pola hubungan sosial remaja diwujudkan dengan membentuk satu kelompok. Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik pada kelompok sebayanya sehingga tidak jarang orang tua dinomorduakan, sedangkan kelompoknya dinomorsatukan.Contohnya, apabila seorang remaja dihadapkan pada suatu pilihan untuk mengikuti acara keluarga dan berkumpul dengan teman-teman, maka dia akan lebih memilih untuk pergi dengan teman-teman. Pola hubungan sosial remaja lain adalah dimulainya rasa tertarik pada lawan jenisnya dan mulai mengenal istilah pacaran. Jika dalam hal ini orang tua kurang mengerti dan melarangnya maka akan menimbulkan masalah sehingga remaja cenderung akan bersikap tertutup pada orang tua mereka.Anak perempuan secara biologis dan karakter lebih cepat matang daripada anak laki-laki. f. Aspek Moral Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka.Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb.

17

Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya.Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya kenyataan lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya.Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain.Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak. Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan

ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya.Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan kenyataan yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap pemberontakan remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya.Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.
18

Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya.Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika lingkungan baru memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam. g. Aspek Kepribadian Secara umum penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, namun sebenarnya tidak.Karena apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya).Dalam hal ini amatlah penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung dikucilkan.Disinilah pentingnya orangtua memberikan penanaman nilai-nilai yang menghargai harkat dan martabat orang lain tanpa mendasarkan pada hal-hal fisik seperti materi atau penampilan.

3. Karakteristik Anak Sekolah Menengah Atas Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasan usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas.Masa remaja ini sering dianggap sebagai masa peralihan, dimana saat-saat ketika anak tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya ia belum dapat dikatakan orang dewasa.

Fase-fase masa remaja (pubertas) menurut Monks dkk (2004) yaitu antara umur 1221 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun
19

termasuk masa remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir. Karakteristik yang menonjol pada anak usia sekolah menengah adalah sebagai berikut. a. Adanya kekurangseimbangan proporsi tinggi dan berat badan b. Mulai timbulnya ciri-ciri sekunder. c. Timbulnya keinginan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa asing. d. Kecenderungan ambivalensi antara keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul dengan orang banyak serta antara keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua. e. Senang membandingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai etika, atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa. f. Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan. g. Reaksi dan ekspresi emosi masih labil. h. Kepribadiannya sudah menunjukkan pola tetapi belum terpadu. i. Kecenderungan minat dan pilihan karier sudah relatif lebih jelas.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu: a. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan. b. Ketidakstabilan emosi. c. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup. d. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua. e. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentanganpertentang dengan orang tua. f. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya. g. Senang bereksperimentasi. h. Senang bereksplorasi. i. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan. j. Kecenderungan berkelompok.
20

membentuk

kelompok

dan

kecenderungan

kegiatan

DAFTAR PUSTAKA

Slavin, Robert E. 2009. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik edisi 8. Jakarta: Pt. Index. Wade, Carole. 2007. Psikologi Edisi 9. Jakarta: Erlangga. Willingham, Daniel T. 2009. Why Dont Students like School?. San Frasisco: Jossey-Bass. Sukmadinata, Nana Syaudih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya. Purwanto, Ngalim. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jurnal: Aritonang, Keke T. 2007. Minat dan Motivasi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Penabur, No. 10. Rohim, Abdur. 2009. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Dengan Pendekatan Integrasi Matematika Islam Melalui Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universittas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Hamdu, Ghullam Dkk. 2011. Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Pestasi Belajar Ipa Di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 12 No. 01. Suyatno, Tri. 2011. Pengaruh Pornografi Terhadap Perilaku Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa Edisi I. Karafir, Y. P. Dkk. 2005. Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Manokwari. Jurnal Penelitian Pendidikan.

21