Anda di halaman 1dari 4

1. Antiseptik Senyawa yang dapat membunuh ataupun mencegah pertumbuhan jasad renik (mikroorganisme).

Antiseptika biasa digunakan terhadap jaringan tumbuh yang hidup. Dalam penggunaannya biasanya dalam kadar yang rendah, hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerusakan pada jaringan. Penggunaan antiseptic dalam kadar tinggi dapat membunuh sel-sel kuman maupun jaringan pada individu yang tekena. Sedangkan dalam konsentrasi rendah antiseptika hanya menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri patogen (bakteriostatik). Antiseptik juga dapat digunakan sebagai : a. Disinfeksi tangan : menjadi pengganti atau menyempurnakan membasuh tangan dengan air. Tenaga medis dan paramedis harus melakukan disinfeksi tangan dengan antiseptik sebelum dan sesudah melakukan tindakan medis. b. Disinfeksi pra-tindakan : antiseptik diterapkan ke lokasi tindakan untuk mengurangi flora kulit. c. Disinfeksi membran mukosa : irigasi antiseptik dapat ditanamkan ke dalam uretra, kandung kemih atau vagina untuk mengobati infeksi atau membersihkan rongga sebelum kateterisasi. d. Disinfeksi mulut dan mukosa : Obat kumur antiseptik dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi mulut dan tenggorokan. 2. Jenis-jenis Antiseptik a. Etakridin Laktat (Revanol) Etakridin laktat adalah senyawa organik berkristal kuning oranye yang berbau menyengat. Penggunaannya sebagai antiseptik dalam larutan 0,1% lebih dikenal dengan merk dagang rivanol. Tindakan bakteriostatik rivanol dilakukan dengan mengganggu proses vital pada asam nukleat sel mikroba. Efektivitas rivanol cenderung lebih kuat pada bakteri gram positif daripada gram negatif. Meskipun fungsi antiseptiknya tidak sekuat jenis lain, rivanol memiliki keunggulan tidak mengiritasi jaringan, sehingga banyak digunakan untuk mengompres luka, bisul, atau borok bernanah. Bila Anda memiliki bisul di pantat, duduk berendam dalam larutan rivanol dapat membantu mempercepat penyembuhannya. Untuk luka kotor yang berpotensi infeksi lebih besar, penerapan jenis antiseptik lain yang lebih kuat disarankan setelah luka dibersihkan. b. Alkohol Alkohol adalah antiseptik yang kuat. Alkohol membunuh kuman dengan cara menggumpalkan protein dalam selnya. Kuman dari jenis bakteri, jamur, protozoa dan virus dapat terbunuh oleh alkohol. Alkohol (yang biasanya dicampur yodium) sangat umum digunakan oleh dokter untuk mensterilkan kulit sebelum dan sesudah pemberian suntikan dan tindakan medis lain. Alkohol kurang cocok untuk diterapkan pada luka terbuka karena menimbulkan rasa terbakar. Jenis alkohol yang digunakan sebagai antiseptik adalah etanol (60-90%), propanol (60-70%) dan isopropanol (70-80%) atau campuran dari ketiganya. Metil alkohol (metanol) tidak boleh digunakan sebagai antiseptik karena dalam kadar rendah pun dapat menyebabkan gangguan saraf dan masalah penglihatan. Metanol banyak digunakan untuk keperluan industri.

c. Yodium Yodium atau iodine biasanya digunakan dalam larutan beralkohol (disebut yodium tinktur) untuk sterilisasi kulit sebelum dan sesudah tindakan medis. Larutan ini tidak lagi direkomendasikan untuk mendisinfeksi luka ringan karena mendorong pembentukan jaringan parut dan menambah waktu penyembuhan. Generasi baru yang disebut iodine povidone (iodophore), sebuah polimer larut air yang mengandung sekitar 10% yodium aktif, jauh lebih ditoleransi kulit, tidak memperlambat penyembuhan luka, dan meninggalkan deposit yodium aktif yang dapat menciptakan efek berkelanjutan. Salah satu merk antiseptik dengan iodine povidone adalah betadine.Keuntungan antiseptik berbasis yodium adalah cakupan luas aktivitas antimikrobanya. Yodium menewaskan semua patogen utama berikut spora-sporanya, yang sulit diatasi oleh disinfektan dan antiseptik lain. Beberapa orang alergi terhadap yodium. Tanda alergi yodium adalah ruam kulit kemerahan, panas, bengkak dan terasa gatal. d. Hidrogen Peroksida Larutan hidrogen peroksida 6% digunakan untuk membersihkan luka dan borok. Larutan 3% lebih umum digunakan untuk pertolongan pertama luka gores atau iris ringan di rumah. Hidrogen peroksida sangat efektif memberantas jenis kuman anaerob yang tidak membutuhkan oksigen. Namun, oksidasi kuat yang ditimbulkannya merangsang pembentukan parut dan menambah waktu penyembuhan. Untung mengurangi efek sampingnya, hidrogen peroksida sebaiknya digunakan dengan air mengalir dan sabun sehingga paparannya terbatas. Jika menggunakan hidrogen peroksida sebagai obat kumur, pastikan Anda mengeluarkannya kembali setelah berkumur. Jangan menelannya.Selain keempat bahan di atas, di masa lalu ada juga antiseptik berbasis merkuri yang dikenal dengan nama merkurokrom atau obat merah. Obat merah kini tidak dianjurkan, bahkan dilarang di banyak negara maju, karena kandungan merkurinya dapat berbahaya bagi tubuh. 3. Desinfektan

Senyawa yang dapat mencegah infeksi dengan jalan penghancuran ataupun pelarutan jasad renik yang bersifat pathogen (sesuatu yang dapat menyebabkan sakit). Disinfektan biasanya digunakan untuk barang-barang yang tidak hidup, seperti kandang, alat praktek, ruang operasi dll. Di dalam bidang kedokteran hewan, disinfektan digunakan untuk mencegah ataupun mengendalikan penyakit infeksi. Biasa digunakan untuk disinfeksi pada kandang, bangunan, serta alat-alat peternakan. Digunakan pula dalam pencegahan penyakit menular, waktu dilakukan pembedahan bangkai, serta pada proses penguburannya terhadap hewan ataupun ternak yang diduga mengidap penyakit menular. Kadang-kadang penggunaan disinfektan dengan cara dicampur air panas, kemudian disemprotkan ke dalam ruangan-ruangan pengelolaan susu, daging, ataupun dalam kandang suatu peternakan. Sanitizer juga sering digunakan untuk mengurangi jumlah kuman. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih desinfektan adalah : Sifat mikrosidal (membunuh jasad renik) Sifat mikrostatik (menghambat pertumbuhan jasad renik)

Kecepatan penghambat Sifat lain (tidak mahal, aktivitasnya tetap dalam waktu lama, larut dalam air dan stabil dalam larutan) 4. Macam-macam desinfektan Desinfektan dibagi dalam beberapa golongan yaitu :
a. Kelompok alkohol larut Contoh : isopropil alkohol, etanol Konsentrasi : 70-90 % Keuntungan : bakterisidal cepat, tuberkulosidal Kelemahan : tidak membunuh spora, menyebabkan korosi metal kecuali ditambah dengan pereduksi b. Kelompok gas sterilisasi Contoh : etilen oksida Waktu reaksi: 4-8 jam Keuntungan : tidak berbahaya untuk kebanyakan bahan, mensterilkan bahan, digunakan untuk bahan yang tidak tahan panas. Kelemahan : membutuhkan peralatan khusus c. Kelompok gas desinfektan Contoh : formaldehida Konsentrasi : larutan jenuh dalam bentuk gas Keuntungan : membunuh spora, tidak korosif, digunakan untuk bahan yang tidak tahan panas Kelemahan : membutuhkan bahan yang relatif lama sebagai desinfektan, menimbulkan bau, keracunan pada membran kulit dam membran mukus. d. Kelompok halogen Contoh : khlorin, yodium Konsentrasi : hipoklorit-konsentrasi tinggi Keuntungan : - Khlorin : tuberkulosidal - Yodium : pencuci dan desinfektan, tidak meninggalkan warna, meninggalkan residu anti bakteri Kelemahan : - Khlorin : memutihkan bahan, korosi logam, tidak stabil dalam air sadah, larutan harus segar - Yodium : yodium tinkur menimbulkan warna dan menyebabkan iritasi kulit, aktifitasnya hilang dalam air sadah, korosif terhadap kulit, menyebabkan pengeringan kulit. e. Kelompok fenol Contoh : kreosol, fenol semi sintetis, lisol Konsentrasi : kresol 2 %, lisol 1% Keuntungan : aktifitasnya tidak hilang dalam bahan organik, sabun. Ataupun air sadah, meninggalkan efek residu jika kering Kelemahan : kresol harus digunakan dalam air lunak f. Kelompok detergen kationik

Contoh : amonium quartener Keuntungan : tidak berbau Kelemahan : tidak bersifat tuberkulosidal