Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Protozoa merupakan jenis protista yang menyerupai hewan.

Protozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu proto yang berarti pertama dan zoa yang berarti hewan. Sifat umum protozoa adalah uniseluler, heterotrofik dan merupakan cikal bakal hewan yang lebih kompleks. Protozoa yang sudah teridentifikasi berjumlah lebih dari 60 ribu spesies. Jenis protozoa yang sangat beragam tersebut dapat dibedakan menjadi empat kelas berdsarkan alat geraknya yaitu Rhizopoda, Ciliata, Flagelata dan Sporozoa. Dari keempat jenis protozoa di atas dapat memberikan keuntungan bagi makhluk hidup misalnya protozoa berperan penting dalam mengontrol jumlah bakteri di alam karena protozoa adalah pemangsa bakteri maupun menyebabkan kerugian misalnya yang hidup sebagai parasit. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus dan jamur. Parasit merupakan suatu bentuk simbion dimana organisme yang hidup dalam atau pada organisme lain yaitu inang serta mendapatkan makanan darinya. 1.2 Tujuan Mengetahui jenis-jenis flagelata yang banyak menyerang manusia baik itu masuk secara langsung maupun dengan menggunakan hospes perantara dengan binatang.

BAB II PEMBAHASAN Protozoa yang termasuk dalam kelas Mastigophora (flagelata) memilki satu atau lebih flagel yang berfungsi untuk bergerak. Berdasarkan tempat hidupnya, flagelata ini dapat dikelompokkan menjadi hemoflagelata yang berhabitat di dalam sistem peredaran darah dan jaringan dan kelompok yang lain adalah flagelata usus, mulut dan genital. Kelompok hemoflagelata di antaranya adalah genus Trypanosoma dan Leishmania, sedangkan yang termasuk dalam kelompok flagelata usus adalah Chilomastix mesnili, Trichomonas hominis, Enteromonas hominis, Embodomonas intestinalis dan Giardia lamblia. Sedangkan Trichomonas tenax termasuk flagelata mulut dan Trichomonas vaginalis termasuk kelompok flagelata genital. Flagelata yang berhabitat di usus, mulut dan genital umumnya mempunyai 2 macam bentuk yaitu trofozoit dan kista. Hanya genus Trichomonas yang memilki bentuk trofozoit. Pada bentuk trofozoit, lebih dari satu flagel keluar dari blefaroplas. Tidak semua genus flagelata mempunyai undulating membrane. Bentuk inti setiap flagelata mempunyai ciri khas. Reproduksi terjadi melalui membelah diri (binary fission). Dalam penularannya, bentuk kista flagelata merupakan bentuk yang infektif. Untuk keperluan siklus hidupnya flagelata golongan ini hanya membutuhkan satu hospes (monoksen). Giardia lamblia dan Trichomonas vaginalis sampai saat ini dapat menimbulkan sakit pada manusia. Hemoflagelata adalah parasit yang hidup di dalam darah atau jaringan tubuh manusia maupun hewan. Serangga merupakan hospes perantara sekaligus vektor penularnya. Famili Tripanosomidae antara lain terdiri dari genus Leishmania dan Trypanosoma dan mempunyai struktur tubuh yang rumit dengan morfologi umum sebagai berikut : 1. Mempunyai dua stadium dalam siklus hidupnya, yaitu stadium flagelata yang langsing, memanjang dan sering melengkung dan stadium non-flagelata yang berbentuk bulat atau lonjong. 2

2. 3.

Inti berbentuk bulat atau lonjong, umumnya terletak sentral. Inti berfungsi menyediakan makanan bagi parasit, sehingga disebut trofonukleus. Kinetoplas,suatu benda yang berbentuk bulat atau batang yang ukurannya lebih kecil daripada inti dan terletak di depan atau di belakang inti. Kinetoplas terdiri dari 2 bagian, yaitu benda parabasal dan blefaroplas.

4. 5.

Flagel, adalah cambuk halus yang berfungsi untuk bergerak yang keluar dari blefaroplas. Tidak semua bentuk mempunyai flagel. Undulating membrane, selaput yang terjadi karena flagel melingkari badan parasit sehingga terbentuk kurva-kurva yang jumlahnya bergantung pada panjangnya badan sitoplasma. Berdasarkan susunan struktur tubuhnya, Trypanosomidae mempunyai bentuk

(morfologi) yang berbeda dan berdasarkan stadium secara berurutan, terdiri dari : 1. 2. Leishmania, berbentuk bulat atau lonjong, mempunyai 1 inti dan kinetoplas serta tidak mempunyai flagel. Leptomonas, berbentuk memanjang, mempunyai 1 inti yang terletak sentral dan 1 flagel panjang yang keluar dari bagian anterior tubuh yang terletak kinetoplas, tetapi masih belum memiliki undulating membrane. 3. Kritidia, bentuk tubuh memanjang dengan kinetoplas yang terletak di depan inti yang letaknya sentral, mempunyai undulating membrane yang pendek dan menghubungkan flagel dengan tubuh parasit. 4. Trypanosoma, bentuk langsing, memanjang dan melengkung, mempunyai inti yang terletak sentral dengan kinetoplas terletak dekat ujung posterior dan flagel yang membentuk 2-4 undulating membrane. 5. Trypanosoma metasiklik, morfologinya mirip bentuk Trypanosoma, hanya ukuran lebih kecil dan biasanya ada di tubuh vektor penular sebelum menjadi infektif bagi manusia. (Muslim, 2009)

Gambar 1. Jenis flagelata bentuk trofozoit dan kista 2.1 Flagelata Traktus Digestivus 2.1.1 Giardia lamblia A. Penyakit Giardia lamblia disebabkan penyakit giardiasis atau lamblias B. Hospes Manusia adalah hospes alami Giardia lamblia C. Klasisfikasi Sub Kingdom : Protozoa Filum Sub Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Sarcomastigophora : Mastigophora : Zoomastigophorasida : Diplomonadorida : Hexamitidae : Giardia : Giardia lamblia

D. Daur Hidup Giardia lamblia hidup dalam usus halus orang yaitu bagian duodenum, jejenum dan bagian atas dari ileum, melekat pada permukaan epithel usus. Protozoa dapat berenang dengan cepat menggunakan flagellanya. Pada seorang yang menderita berat penyakit ini , ditemukan 14 milyard parasit dalam fesesnya, sedangkan pada infeksi sedang ditemukan sekitar 300 juta cyste. Dalam usus halus dimana isi usus berbentuk cairan, parasit ditemukan dalam bentuk trophozoit, tetapi setelah masuk kedalam colon parasit akan membentuk cyste. Pertama-tama flagella memendek, cytoplasma mengental dan dinding menebal, kemudian cyste keluar melalui feses. Pada awal terbentuknya cyste, ditemukan dua nukleoli, setelah sejam kemudian ditemukan 4 nukleoli.. Bila cyste tertelan hospes maka cyste tersebut langsung masuk kedalam duodenum, flagella tumbuh dan terbentuk trophozoit kembali (Ceureen, 2008).

Gambar 2. Siklus hidup Giardia lamblia E. Morfologi Giardia lamblia mempunyai bentuk trofozoit dan kista, hidup di duodenum dan di proksimal yeyunum. 5

- Bentuk trofozoit : besarnya 14 mikron, bagian anterior membulat dan bagian posterior meruncing. Bagian ventral terdapat satu batil isap yang besar. Terdapat dua inti dengan kariosom besar di tengah dan empat pasang flagel. Dua benda melintang sebagai benda parabasal. Benetuk kista : besarnya 10-14 mikron, bentuk oval, dengan dua inti pada kista muda serta empat inti pada kista matang (Prianto, 1994).

Gambar 3. Trofozoit Giardia lamblia F. Distribusi geografik

Gambar 4. Kista Giardia lamblia

Bersifat kosmopolit dan lebih sering ditemukan di daerah beriklim panas daripada di daerah beriklim dingin. Parasit ini juga ditemukan di Indonesia. G. Patologi dan gejala klinis Parasit yang melekat pada mukosa usus dapat menyebabkan peradangan kataral yang ringan. Kegiatan mekanik dan toksik tersebut mengganggu penyerapan vitamin A dan lemak (Muslim, 2009). Parasit ini dengan batil isap melekat pada mukosa duodenum dan yeyunum. Kelainan yang sering ditemukan berupa iritasi. Bila parasit menutupi sebagian besar mukosa usus, maka absorpsi lemak akan terganggu. Parasit ini dapat pula menyerang saluran dan kandung empedu sehingga terjadi iritasi dan penyumbatan bilirubin (Prianto, 1994). 6

Umumnya penderita mencret, kejang perut, kembung, mual, tinja buyar, berlemak, berat badan turun, badan lemah. Infeksi parasit Giardia lamblia, bervariasi mulai dari tanpa keluhan sampai diare yang berat gangguan penyerapan, hingga pertumbuhan anak terhambat. Gejala giardiasis akut, biasanya berlalu dalam 1 minggu, dapat berlanjut menjadi kronis dengan gejala gangguan pencernaan dan penyerapan makanan menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi, dan sangat jarang menimbulkan kematian. Selain itu dapat timbul kaligata (urticaria), uveitis dan radang sendi (arthritis). Kematian penderita Giardiasis, biasanya pada keadaan rendahnya gamma globulin (hipogammaglobulin) yang menurunkan kekebalan. Penyakit Giardiasis bisa bersama-sama dengan penyakit saluran cerna lain, seperti cystic fibrosis (Yatim, 2006). Kebanyakan pada bayi dan anak-anak yang terinfeksi Giardia tidak terlihat adanya gejala penyakit tersebut. Namun variasi manifestasi klinis dapat berkembang menjadi beberapa kemungkinan yaitu diare akut yang sembuh secara spontan dengan eradikasi, diare berlangsung secara terus menerus sampai terjadinya penurunan berat badan dan infeksi berlanjut, resolusi diare dengan eskresi kista kontinyu. Gejala infeksi akut mulai sesudah masa inkubasi lebihkurang 2 minggu. Gejala pada diare akut adalah diare, berbau, mual, distensi abdomen, flatulensi, tidak demam, tidak terdapat darah dalam tinja. Sedangkan pada gejala pada diare kronik adalah nyeri, distensi abdomen, tinja berlendir dan berbau, penurunan BB. Giardiasis adalah penyebab kedua steatore pada anak yang menderita sistik fibrosis. Perjalanan penyakit giardiasis biasanya akan sembuh sendirinya. Parasit dalam feses hilangdalam waktu 4-6 minggu walaupun pada beberapa kasus dapat presisten sampai beberapa bulan atau tahun. Intoleransi karbohidrat terjadi karena defisiensi laktase, 7

gejalanya berupa feses diare, perut kembung, flatulensi yang menetap setelah eradikasi infeksi dan hanya merespons terhadap diet laktosa. Pada giardiasis kronik dapat timbul malabsorpsi lemak, karbohidrat, vitamin B12, asam folat dan vitamin A. Giardiasis dapat menyebabkan urtikaria kronok, infeksi kandung dan saluran empedu namun jarang terjadi. Kolangitis dan hepatitis granulomatosa pernah dilaporkan sekali selain itu, kasus giardiasis dilaporkan dengan peradangan satu mata, sinovitis, proktitis, demam yang berkepanjangan, pankreatitis, adenitis, colitis ulserativa dan ganguan tingkah laku dengan EEG yang abnormal (Widyari, 2010). H. Diagnosis Ditegakkan dengan ditemukan bentuk trofozoit dalam tinja encer atau cairan duodenum. Ditemukan bentuk kista dalam tinja padat. I. Pengobatan Pengobatan dengan kuinakrin aman dan efektif. Semua infeksi diobati secara rutin dengan dosis : Dewasa : 100 mg X 3/hari selama 5 hari Anak-anak : 8 mg/kg BB/hari selama 5 hari Untuk pencegahan dilakukan tindakan seperti yang dilakukan pada infeksi Entamoeba histolytica Dapat juga diberikan obat metronidazol. (Prianto, 1994) J. Epidemiologi Giardia lamblia ditemukan kosmopolit dan penyebarannya tergantung dari golongan umur yang diperiksa dan sanitasi lingkungan. Prevalensi yang pernah ditemukan di Jakarta adalah 4,4%. Prevalensi Giardia lamblia di Jakarta antara tahun 1983 hingga 1990 adalah 2,9%.

K. Pencegahan Pencegahan dilakukan dengan meningkatkan sanitasi lingkungan dan hygiene pribadi (Entjang, 2001). 2.1.2 Chilomastix mesnili A. Penyakit Tidak menimbulkan penyakit (bersifat komensial) B. Hospes Manusia C. Klasifikasi Sub Kingdom : Protozoa Famili Ordo Kelas Genus Spesies D. Daur Hidup Awal Siklus Hidup Chilomastix yang paling sering ditemukan di lingkungan dalam bentuk kista, yang terbentuk di dalam usus. Dalam bentuk kista, Chilomastix mesnili mendapat keuntungan yaitu perlindungan dari lingkungan dan itu sebagai jalan untuk menemukan tempat hospes lain. Trofozoit Individu (chilomastix dewasa), serta kista, dapat ditemukan dalam tinja. Kista yang tertelan melalui makanan atau air yang terkontaminasi atau fecal oral. Tahap kista tahan terhadap tekanan lingkungan dan bertanggung jawab untuk transmisi Chilomastix. Baik kista dan trofozoit dapat ditemukan dalam tinja (tahapan diagnostik). Infeksi terjadi dengan menelan kista di air yang terkontaminasi, makanan, atau melalui rute fecal-oral (tangan atau formites). Chilomastix tinggal di sekum dan / atau usus 9 : Tetramitidae : Polymastigina : Mastigophora : Chilomastix : Chilomastix mesnili

besar, melainkan umumnya dianggap sebagai komensal yang kontribusi terhadap patogenesis tidak menentu. Hewan dapat berfungsi sebagai reservoir untuk Chilomastix. Akhir Siklus Hidup Trofozoit dilepaskan ke lingkungan eksternal dari luar usus besar dan kadang-kadang lebih kecil dari host yang terinfeksi. Chilomastix, organisme komensal, diyakini tidak menyakiti dan tidak pula bermanfaat bagi lingkungan host di mana ia berada dan makanan keuntungan. Ini protozoa persisten yang ditemukan di seluruh dunia. (Jimmy, 2011). E. Morfologi Terbagi dua bentuk yaitu : Bentuk trofozoit : besarnya 13 mikron, bentuk seperti jambu monyet dengan spiral groove, mempunyai satu inti, sitostoma dan 3-4 flagel anterior. Bentuk kista : besarnya 8 mikron, bentuk seperti buah jeruk, berdinding tebal, mempunyai satu inti.

Gambar 5. Trofozoit Chilomastix mesnilini

10

Gambar 6. Kista Chilomastix mesnilini F. Distribusi geografik Parasit ini penyebarannya kosmopolit, sehingga distribusinya dapat meluas di dunia, meskipun lebih banyak ditemukan pada lingkungan yang beriklim panas. G. Patologi dan gejala klinis Parasit ini biasanya bersifat apatogen, tetapi dapat menyebabkan kelainan intestinal seperti diare pada kasus infeksi berat. Stadium trofozoit dapat ditemukan pada tinja cair atau lembek. Chilomastix mesnili hidupnya di sekum dan kolon manusia. Transmisi secara langsung terjadi melalui air minum yang terkontaminasi. H. Diagnosis Menemukan bentuk trofozoit atau kista dalam tinja. I. Pengobatan Tidak memerlukan pengobatan J. Epidemiologi Data penyebaran menunjukkan bahwa ditemukan sekitar 11% pada orang Mesir di US troops. Flagelata ini juga ditemukan pada anak-anak dan orang dewasa. Di Indonesia prevalensinya mencapai 0,8%. Di Amerika Serikat kasus infeksi oleh Chilomastix mesnili tidak bisa 11

dibilang langka, sebagaimana dilaporkan oleh Kofoid, Kornhauster dan Plate, mereka menemukan bahwa sekitar 5,8% dari 1.200 pasien yang diperiksa di New York dan 5,3% pasien yang diperiksa di Berkeley, California ditemukan terinfeksi juga oleh parasit ini. 2.2 Flagelata Traktus Urogenital 2.2.1 Trichomonas vaginalis A. Penyakit Pada wanita : trichomoniasis vagina Pada pria : prostatitis

B. Hospes Terdapat di bagian genital manusia pria maupun wanita C. Klasifikasi Sub Kingdom : Protozoa Filum Kelas Famili Genus Spesies D. Daur Hidup Pada sebagian besar kasus, Trichomonas vaginalis ditransmisikan saat terjadi hubungan kelamin. Pria sering berperan sebagai pembawa parasit. Parasit ini berada pada saluran urethra pada pria. Seorang pria yang membawa parasit akan menularkan pada pasangannya saat terjadi hubungan seksual. Selanjutnya wanita pasangannya tersebut akan terinfeksi oleh parasit dan berkembang biak di daerah genital. Apabila wanita tersebut kemudian berhubungan seksual dengan pria lain yang sehat maka akan terjadi penularan kembali. : Metamonada : Parabasalia : Trichomonadidae : Trichomonas : Trichomonas vaginalis, Trichomonas hominis, Trichomonas faetus

12

Mengamati proses penularan parasit ini, maka kelompok resiko tinggi untuk mengidap Trichomoniasis adalah para wanita pekerja seks komersial dan pria yang suka berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks serta semua orang yang memiliki kebiasaan seks bebas. (Kurniawan, 2010) E. Morfologi Hanya ditemukan dalam bentuk trofozoit. Besarnya 7-25 mikron. Mempunyai empat flagel anterior dan satu flagel posterior yang melekat pada tepi membrane bergelombang. Inti berbentuk lonjong, sitoplasma berbutir halus, ada aksostil dan tidak ada benda parabasal.

Gambar 7 dan 8. Bentuk parasit Trichomonas vaginalis F. Distribusi geografik Trichomonas vaginalis ditemukan dimana-mana. Penelitian menunjukkan bahwa parasit ini di temukan pada semua bangsa/ras dan pada semua musim, sukar untuk menentukan frekuensi penyakit ini di suatu daerah atau negeri, karena kebanyakan penelitian dilakukan pada golongan tertentu saja seperti golongan wanita hamil (18-25% di AS) dan dari klinik ginekologi (30-40% di Eropa Timur). Di Indonesia berdasar hasil penelitian di RSCM Jakarta terdapat 16% kasus dari klinik kebidanan dan 25% G. Patologi dan gejala klinis Pada wanita sering menyerang : vagina, uretra 13 wanita dari klinik ginekologi (sampel sebanyak 1146 orang) (Jimmy, 2011).

Pada pria sering menyerang : uretra, vesika urinaria, kelenjar prostat Gejala yang ditemukan : fluor albus, pruritus vagina, dysuria, urethritis, prostatitis, prostato-vesikulitis dengan trichomoniasis dapat simptomatik atau

Pasien-pasien

asimptomatik. Dan biasanya parasit ini dijumpai secara tidak sengaja melalui pemeriksaan secret vagina (latent trichomonas). Masa inkubasinya berkisar 3 sampai 28 hari, rata-rata 7 hari. Gejala klinisnya dapat terdiri dari : Dijumpainya cairan vagina berwarna kuning kehijauan, pada kasus yang berat dapat berbusa Cairan vagina berbau tidak sedap Rasa gatal Panas Iritasi Dispareunia Perdarahan vagina abnormal, terutama setelah coitus Disuria ringan

Nyeri abdomen dapat dijumpai pada 12% wanita penderita trichomonas dimana kemungkinan telah terjadi vaginitis berat dan dapat dijumpai regional lymphadenopati atau endrometritis/salpingitis. Pada pemeriksaan vagina dengan spekulum, mukosa vagina kadang tampak hiperemis dengan bintik lesi berwarna merah, yang sering disebut dengan strawberry vaginitis atau colpitis macularis. Pemeriksaan secara mikroskopik pada cairan vagina dari colpitis macularis ternyata rata-rata terdapat 18 organisme Trichomonas vaginalis perlapangan pandang besar, sedangkan pada yang tidak dijumpai colpitis macularis rata-rata hanya dijumpai 7 organisme.

14

Apabila Trichomonas vaginitis ini tidak diterapi dengan baik, organisme ini dapat menjadi dormant dan berkolonisasi di urethra serta di kelenjar Skene dan Bartholin, sehingga hal ini menyebabkan berulangnya infeksi Trichomonas vaginitis sehingga menjadi trichomoniasis kronik. Dari penelitian terakhir ternyata infeksi Trichomonas vaginalis diketahui juga berhubungan dengan komplikasi pada organ reproduksi, seperti infeksi pasca operasi caesar, infertilitas serta kelahiran prematur. Pada pria biasanya asimptomatik. Trichomonas vaginalis biasanya dapat ditemukan di urethra, para-urethra dan kelenjar Cowper, vesikula seminalis, prostat, epididymis dan testis. Tetapi organisme ini paling sering ditemukan berkumpul di prostat. Apabila telah mengenai prostat dan vesikula seminalis atau bagian lain dari traktus urinarius, biasanya gejala menjadi lebih berat. Dari pemeriksaan dapat ditemui trichomonas vaginalis pada cairan kelamin. Prostat mungkin bisa membesar dan kadang-kadang dihubungkan dengan epididymitis. Gejala yang dikeluhkan dapat berupa disuria dan nokturia. Menurut jira, gejala trichomonas pada pria dapat dibagi menjadi 3 stadium, yaitu : Stadium akut primer, dijumpai eksudat urethra Stadium sub-kronik, eksudat dijumpai sangat sedikit Stadium laten, gejala klinis tidak dijumpai Stadium kronik, yang dapat berlangsung sampai beberapa tahun

Dari berbagai penelitian dikatakan bahwa Trichomonas vaginalis ditemukan dari 14-60 % pria pasangan wanita yang terinfeksi, tetapi sebaliknya Trichomonas vaginalis ditemukan dari 67-100 % wanita pasangan pria yang terinfeksi. Mungkin hal ini disebabkan oleh karena tingginya kadar zink dan substansi anti trichomonas pada cairan prostat 15

yang berperan menghambat perkembangan organisme ini (Andriyani, 2006).

Gambar 9. Penyakit akibat Trichomonas vaginalis H. Diagnosis Diagnosis berdasarkan keluhan keputihan atau flour albus, rasa panas, gatal pada vulva/vagina, keluarnya secret encer, berbusa, berbau tidak sedap dan berwarna kekuningan dan adanya bekas garukan karena gatal dan hyperemia pada vagina. Diagnosis laboratorium ditetapkan dengan menemukan parasite Trichomonas vaginalis pada secret vagina, secret uretra, secret prostat dan urine. Cara pembuatan sediaan : Pada wanita, dengan mengambil secret dari vagina (diambil pada bagian yang putih) Pada laki-laki, dengan memijat prostat sampai keluar secret 1-2 tetes. Untuk kontrol pasca pengobatan, pemeriksaan langsung dengan menggunakan mikroskop perlu ditunjang dengan melakukan biakan sekret vagina atau bahan lain dalam medium yang cocok. Uji serologis sulit dilakukan. I. Pengobatan Dasar pengobatan infeksi ini ialah memperbaiki keadaan vagina dengan membersihkan mukosa vagina dan menggunakan obat-obat per oral dan local. Pada saat ini metronidazole merupakan obat yang efektif untuk 16

pengobatan trikomoniasis, baik untuk pria maupun wanita. Dosis obat per oral 2 x 250 mg sehari selama 5-7 hari untuk suami atau istri. Dosis local untuk wanita adalah 500 mg metronidazole dalam bentuk tablet vagina sehari selama 5-7 hari (Muslim, 2009). J. Epidemiologi Trichomonas vaginalis ditemukan di mana-mana. Penelitian menunjukkan bahwa parasit ini ditemukan pada semua bangsa/ras dan pada semua musim. Penentuan frekuensi penyakit ini di suatu daerah atau negara sulit dilakukan karena kebanyakan penelitian dilakukan pada golongan tertentu saja, seperti golongan wanita hamil (18-25% di Amerika Serikat) dan dari klinik ginekologi (30-40% di Eropa Timur). Di Indonesia berdasarkan hasil penelitian di RSCM Jakarta terdapat 16% kasus dari klinik kebidanan dan 25% wanita dari klinik ginekologi (sampel sebanyak 1146 orang). Cara pemeriksaan yang berbeda dapat pula memberikan hasil yang berlainan, pada pria umumnya angka-angka yang ditemukan lebih kecil, mungkin sekali oleh karena parasit lebih sukar ditemukan dan oleh karena infeksi sering berlangsung pada gejala pada wanita parasit lebih sering di temukan pada kelompok usia 20-49 tahun, berkurang pada usia muda dan usia lanjut dan jarang pada anak gadis (Jimmy, 2011). K. Pencegahan Menghindari penularan dari penderita (menghindari hubungan sex di luar nikah) dan meningkatkan hygiene pribadi (Entjang, 2001) 2.3 Flagelata Darah dan Jaringan 2.3.1 Leishmania donovani A. Penyakit Leismaniasis viseral disebut juga kala-azar atau tropical splenomegaly atau dum-dum fever 17

B. Hospes Terdapat pada manusia. Hospes reservoarnya adalah anjing. sewaktu-waktu dapat ditularkan kepada manusia. C. Klasifikasi Sub Kingdom Filum Sub Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies D. Daur Hidup Mirip dengan L. tropica, dimana amastigot masuk kedalam vektor phlebotomus bersama dengan darah yang dimakan. Parasit tinggal di usus tengah dan memperbanyak diri, kemudian mereka berubah menjadi bentuk langsing disebut promastigot. Kemudian parasit bergerak ke oesophagus, pharynx dan buccal cavity dimana parasit kemudian diinjeksikan ke hospes vertebrata, parsit langsung dimakan oleh sel makrofag dan membelah diri dengan cepat dan membunuh sel tersebut. Keluar dari sel makrofag yang mati parsit dimakan oleh makrofag lain dan multiplikasi lagi sehingga membunuh sel tersebut, hal tersebut menyebabkan membunuh sistem reticuloendothelial. E. Morfologi : Protozoa : Sarcomastighopora : Mastighopora : Zoomastighopora : Kinetoplastida : Trypanosomatidae : Leishmania : Leishmania tropica, Leishmania donovani, Leishmania braziliaensis Di beberapa daerah, penyakit ini merupakan penyakit pada anjing,

18

Pada manusia, parasit ini hidup intraseluler dalam darah, yaitu dalam sel retikulo-endotel (RE) sebagai stadium amastigot yang disebut dengan Leishmania donovani. Parasit ini berkembang biak secara belah pasang dan berukuran kira-kira 2 mikron. Sel RE dapat terisi penuh oleh parasit sehingga sel itu pecah. Stadium amastigot sementara berada dalam peredaran darah tepi, kemudian masuk atau mencari sel RE yang lain, oleh karena itu stadium ini dapat ditemukan dalam sel RE hati, limpa, sumsum tulang dan kelenjar limfe viseral.

Gambar 10. Bentuk flagel Leishmania donovani F. Distribusi geografik Daerah epidemi penyakit ini sangat luas, yaitu berbagai negara di Asia (India), Afrika, Eropa (sekitar Laut Tengah), Amerika Tengah dan Selatan. Di Indonesia penyakit ini belum pernah ditemukan. Di sekitar Laut Tengah, penyakit ini hanya terdapat pada balita dan disebut kala azar infantil. Anjing merupakan hospes reservoar dan penting sebagai sumber infeksi. Kelainan pada anjing terdapat pada kulit, dinamakan hundle kala azar. Di Eropa dan Amerika Selatan anjing sebagai binatang peliharaan juga merupakan hospes reservoar, sedangkan di India penularan terjadi langsung antara manusia dan manusia karena anjing bukan hospes reservoar. G. Patologi dan gejala klinis 19

Gejala klinis umum adalah hepatomegali yang tidak nyeri dan plenomegali, limfadenopati dan kadang-kadang nyeri abdomen akut. Warna kulit wajah, tangan, kaki dan perut ( kala azar atau blacksickness) menjdai gelap dan sering terjadi di India pada orangorang yang warna kulitnya lebih cerah. Timbulnya anemia, kakeksia dan pembesaran hati serta limpa yang nyata merupakan petunjuk bahwa penyakitnya makin progresif. Kematian dapat terjadi beberapa minggu kemudian atau setelah 2-3 tahun pada kasus kronis. Sembuh secara spontan dapat terjadi juga pada seseorang yang asimtomatik. - Hipertrofi dan hiperplasi sel RE mengakibatkan splenomegali, hepatomegali, limfadenopati dan anemia - Infeksi usus menyebabkan diare dan disentri - Setelah gejala berkurang maka timbul leismanoid dermal sebagai leismaniasis pasca kala azar Oleh karena banyak sel RE yang rusak, maka tubuh berusaha membentuk sel-sel baru, sehingga terjadi hiperplasi dan hipertrofi RE. Akibatnya terjadi paembesaran limpa (splenomegali), pembesaran hati (hepatomegali), pembesaran kelenjar limfe (limfadenopati) dan anemia oleh karena pembentukan sel darah terdesak. Masa tunas penyakit ini belum pasti, biasanya berkisar 2-4 bulan. Setelah masa tunas, timbul demam yang berlangsung selama 2-6 minggu; mula-mula tidak teratur kemudian intermiten. Kadang-kadang demam menunujukan dua puncak seharai (double rise). Demam lalu hilang, tetapi dapat kambuh lagi. Lambat laun timbul spenomegali dan hepatomegali. Kelenjar limfe diusus dapat diserang parasit ini ; pada infeksi berat diusus dapat terjadi diare dan disentri. Anemia dan leukopenia terjadi sebagai akibat diserangnya sum-sum tulang. Kemudian timbul anoreksia (tidak nafsu makan) dan terjadi kakeksia (kurus kering), sehingga penderita menjadi lemah sekali. Daya tahan tubuh menurun, sehingga mudah 20

terjadi infeksi sekunder. Sebagai penyulit dapat terjadi kankrum oris dan noma. Penyakit kala azar biasanya bersifat menahun. Sesudah gejala kala azar surut dapat timbul Leismanoid dermal, yaitu kelainan kulit yang disebut juga leismaniasis pasca kala azar.

Gambar 11. Penyakit akibat Leishmania donovani H. Diagnosis 1. Menemukan parasit dalam sediaan darah langsung, biopsi hati, limpa, kelenjar limfe dan fungsi sumsum tulang penderita. 2. Pembiakan bahan tersebut dalam medium NNN (Novy, MacNeal and Nicole) 3. Inokulasi bahan tersebut pada binatang percobaan 4. Reaksi imunologi, yaitu : a. Uji aglutinasi langsung (direct agglutination test, DAT) b. ELISA (enzym linked immuno-sorbent assay) untuk mendeteksi adanya zat anti pada penelitian di lapangan. Untuk mengidentifikasi parasit secara cepat dikembangkan zat antimonoklonal yang spesifik, yang juga dapat digunakan untuk mendeteksi adanya antigen guna keperluan diagnostik.

21

c. Western blot untuk mendeteksi antigen yang timbul selama infeksi d. Reaksi rantai polimerase (polymerase chain reaction, PCR) untuk mendiagnosis leismaniasis di lapangan dan leismaniasis pada penderita dengan infeksi HIV (human immunodeficiency virus) karena uji serologi untuk mendeteksi adanya zat anti tidak banyak berguna pada kasus ini. I. Pengobatan Natrium antimonium glukonat, etilstibamin, diamidin, pentamidin, amfoterisin B dan stilbamidin merupakan obat yang toksik tetapi sangat efektif untuk pengobatan penyakit ini. Selain itu, penderita memerlukan istirahat total selama menderita penyakit akut, juga memerlukan banyak makanan yang mengandung kadar protein tinggi dan vitamin. Transfusi darah diberikan pada penderita dengan anemia berat, edema atau perdarahan pada selaput mukosa. J. Epidemiologi Daerah epidemi penyakit ini sangat luas, yaitu berbagai negara di Asia (India), Afrika, Eropa (sekitar Laut Tengah), Amerika Tengah dan Selatan. Di Indonesia penyakit ini belum pernah ditemukan. Di sekitar Laut Tengah, penyakit ini hanya terdapat pada balita dan disebut kala azar infantil. Anjing merupakan hospes reservoar dan penting sebagai sumber infeksi. Kelainan pada anjing terdapat pada kulit, dinamakan hundle kala azar. Di Eropa dan Amerika Selatan anjing sebagai binatang peliharaan juga merupakan hospes reservoar, sedangkan di India penularan terjadi langsung antara manusia dan manusia karena anjing bukan hospes reservoar. Gambaran klinik Leishmaniasis visceral cenderung berbeda antara kelainan yang endemik, epidemik dan sporadik. Penyakitnya merupakan zoonosis, kecuali di India, di mana kala azar merupakan 22

antroponis. Di India, tidak terbukti adanya hospes reservoar pada mamalia selain manusia, yang juga merupakan hospes reservoar di daerah tertentu di Cina dan Kenya.semua golongan umur rentan terhadap penyakit ini dan epidemi terjadi bila terjadi penurunan kekebalan. Leishmania donovani ditemukan di Afrika dan Asia, vektornya adalah lalat pasir Phlebotomus. Di daerah di mana terjadi penularan yang sporadis dari penyakit ini, Candidae liar dan berbagai binatang pengerat liar lainnya merupakan reservoar alamiah dari penyakit ini. Leishmania donovani infantum ditemukan di Afrika, Eropa, daerah Mediterania dan Asia Barat Daya. Infeksi terutama pada anak-anak dan di alam bersifat endemik. Manusia merupakan hospes aksidental, sedangkan anjing dan Candidae lainnya merupakan reservoar alamiah. Di daerah tertentu, tikus dapa terinfeksi, sehingga memungkinkan tikus bertindak sebagai hospes reservoar. Vektornya adalah lalat pasir Phlebotomus. K. Pencegahan Pencegahan dilakukan dengan : 1. Semua penderita diobati, untuk menghilangkan sumber penularan 2. Hilangkan sampah yang membusuk tempat berkembang biaknya Phlebotomus sp 3. Hindari gigitan Phlebotomus sp, misalnya dengan zat pengusir serangga dan tidur berkelambu 4. Berantas anjing liar yang mungkin menjadi reservoir Leishmania donovani (Entjang, 2001) 2.3.2 Leishmania tropica A. Penyakit Leismaniasis kulit atau oriental sore 23

B. Hospes Manusia adalah hospes definitif dan hospes reservoarnya adalah anjing, gerbil dan binatang pengerat lainnya. C. Klasifikasi Sub Kingdom : Protozoa Filum Sub Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies D. Daur Hidup Pada waktu serangga menghisap darah yang mengandung amastigot, parasit memperbanyak diri dalam usus tengah kemudian bergerak ke pharynx. Pada saat serangga menggigit kembali mamalia lainnya maka parasit tersebut ditularkan. Dalam tubuh hospes mamalila parasit memperbanyak diri dalam retikuloendothelial dan sel lympoid pada kulit. E. Morfologi Morfologi sama dengan Leishmania donovani, hanya patogenitasnya lebih ringan. : Sarcomatighopora : Mastighopora : Zoomastighopora : Kinetoplastida : Trypanosomatidae : Leishmania : Leishmania tropica, Leishmania donovani, Leishmania braziliaensis

24

Gambar 12. Leishmania tropica F. Distribusi geografik Daerah endemis penyakit ini terdapat di berbagai negara sekitar Laut Tengah, Laut Hitam, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, NegeriNegeri Arab, India, Pakistan dan Sailan dan di Indonesia penyakit ini belum pernah ditemukan. Cara penularan : 1. 2. Melalui gigitan lalat phlebotomus atau melalui kontaminasi pada bekas gigitan dan luka-luka Kecepatan infeksi penyakitnya pada daerah-daerah endemik bersifat konstan, hal ini oleh karena kebiasaan menggigit dan vektornya tetap, yaitu pada musim-musim tertentu. G. Patologi dan gejala klinis Setelah parasit masuk ke dalam kulit hospes dan mengadakan multiplikasi di dalam sel retikulo-endotel. Tanda pertama kelainan kulit yaitu timbulnya papula yang keras dan tidak terasa sakit pada tempat gigitan. Masa inkubasi dapat pendek selama 2 minggu (L.major) atau beberapa bulan sampai 3 tahun (L.tropica dan L.aethiopica). papula terdapat pada bagian badan yang terbuka tempat 25

serangga dapat menggigit. Papula terasa sangat gatal dan ukuran diameternya dapat mencapai 2 cm atau lebih. Dapat menyerupai jerawat selama pertumbuhannya, tetapi tidak menyerupai abses piogenik bakteri.

Gambar 13. Penyakit akibat Leishmania tropica H. Diagnosis 1. Menemukan parasit dalam sediaan apus yang diambil dari tepi ulkus atau dari sediaan biopsi, dengan memperhatikan hal sebagai berikut : a. Aspirasi atau biopsi diambil dari bagian tepi atau dasar papula atau ulkus b. Untuk mengerjakan kultur, bahan harus diambil secara aseptik c. Imprint jaringan atau sediaan apus harus dipulas dengan pewarnaan Giemsa d. stadium amastigot ditemukan di dalam makrofag atau dekat dengan sel yang pecah 2. 3. Pembiakan dalam medium NNN (kultur harus diperiksa setiap minggu selama 4 minggu sebelum disebut negatif) Reaksi imunologi (uji serologis telah tersedia, tetapi tidak terlalu bermanfaat kecuali untuk diagnosis leismaniasis mukokutan dan viseral. Dai daerah endemis kegunaanya terbatas) I. Pengobatan

26

Obat yang efektif yaitu golongan antimon, seperti natrium stiboglukonat (Pentostam). Obat harus diberikan secara intravena atau intramuskular dan diberikan lambat. Efek samping yang sering terjadi yaitu bentuk, ruam kulit dan iritasi gastrointestinal. Glukantin (Nmethylglucamine antimonate) juga efektif, terutama digunakan di Amerika Latin dan negara yang berbahasa Prancis. J. Epidemiologi Semua lalat pasir dewasa yang menularkan leishamaniasis kutan termasuk dalam genus Phelobotomus. Vektor yang paling umum adalah P.papatasi dan P.sergenti. infektibilitas dari Pheleboromus sp terhadap L.tropica kompleks bervariasi, sehingga berpengaruh pada penularan penyakitnya. Infeksi juga dapat ditularkan secara kontak langsung dari lesi yang terinfeksi atau secara mekanik melalui gigitan lalat kandang atau lalat anjing (Stomoxys). Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya transmisi antara penderita dan vektor, dianjurkan untuk menutup luka pada penderita. Pemberantasan vektor (lalat pasir) dilakukan dengan penyemprotan DDT secara residual pada rumah-rumah. Juga dianjurkan memamkai kelambu atau repelen waktu tidur agar terlindung dari gigitan lalat. Imunisasi aktif dengan jasad hidup dapat memberikan perlindungan yang efektif, meskipun imunitas tersebut baru didapat setelah beberapa bulan. Di daerah endemik, vaksinasi diberikan dengan melakukan inokulasi eksudat dari lesi yang didapat secara alamiah ke orang yang non imun. Proses imunisasi ini mirip dengan infeksi alamiah dalam hal luas dan lamanya penyakit. Infeksi ini biasanya terbatas sebagai lesi tunggal. Orang yang di imunisasi akan menjadi pembawa penyakit carrier dan sumber infeksi sampai lesinya sembuh. Imunisasi jenis

27

ini akan memberikan perlindungan seumur hidup untuk spesies yang homolog.

K. Pencegahan Lesi kulit harus ditutup agar tidak dihinggapi lalat untuk mencegah penularan kepada orang lain dan autoinfeksi (autoinoculation) (Entjang, 2001) 2.3.3 Trypanosoma cruzi A. Penyakit Chagas disease dan merupakan penyakit zoonotic B. Hospes Manusia merupakan hospes parasite ini dan hospes reservoir adalah binatang peliharaan (anjing dan kucing) atau binatang liar (tupai, armadillo, kera dan lain-lain). Triatoma berperan sebagai hospes perantara. C. Klasifikasi Kelas : Mastigophora Ordo : Kinetoplastida Famili : Trypanostomatidae Genus : Trypanosoma Spesies : Trypanosoma brucei brucei (Hewan), Trypanosoma brucei gambiense (orang), Trypanosoma brucei rhodesiense (orang), Trypanosoma evansi (hewan), Trypanosoma equiperdum (hewan), Trypanosoma cruzi (orang) D. Daur Hidup Trypanomiasis Amerika atau penyakit changas terdiri dari fase akut dan fase kronis. Fase akut terjadi sekitar seminggu sampai sebulan setelah terinfeksi feses serangga yang mengandung parasit. Pada fase 28

akut, penderita mengalami demam atau pembengkakan sekitar mata. Selain itu, fase akut juga bisa diikuti dengan peradangan di otot jantung dan daerah sekitar otak. Pada fase kronis bisa ditandai dengan ritme detak jantung yang abnormal, jantung membengkak sehingga tidak bisa memompa darah dengan baik, dan pembengkakan esofagus dan kolon sehingga mengalami kesulitan dalam makan. E. Morfologi Dalam badan manusia, parasite ini terdapat dalam dua stadium yaitu stadium tripomastigot dan stadium amastigot. Stadium tripomastigot hidup di luar sel (ekstraseluler) dalam darah dan tidak berkembangbiak, sehingga di dalam darah tidak ditemukan bentuk yang membelah. Panjangnya 20 mikron dan menyerupai huruf C atau huruf S dengan kinetoplas yang besar. Stadium amastigot yang besarnya hanya 2-3 mikron, terdapat intraselular dalam sel RE dan berkembangbiak secara belah pasang longitudinal.

Gambar 14. Trypanosoma cruzi F. Distribusi geografik

29

Penyakit ini ditemukan di Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Amerika Serikat (Corpus Christi, Texas) (Staf Pengajar Bagian Parasitologi, 1998). G. Patologi dan gejala klinis Pada porte dentree terbentuk granuloma (chagoma) dan edema Bila mata terinfeksi terjadi edema unilateral kelopak mata Juga dapat mengakibatkan splenomegali, hepatomegali, limfadenopati dan miokarditis. (Prianto, 1994)

Gambar 15. Penyakit akibat Trypanosoma cruzi H. Diagnosis 1. Menemukan parasit dalam darah pada waktu demam atau dalam biopsi kelenjar limfe, limpa, hati dan susunan tulang (stadium tripomastigot dan stadium amastigot) 2. Menemukan parasit pada pembiakan dalam medium NNN (stadium epimastigot) 3. Xenodiagnosis dengan percobaan serangga triatoma atau eimex

30

4. Beberapa uji imunodiagnostik yang telah dikembangkan untuk mendeteksi adanya zat anti terhadap Trypanosoma gambiense antara lain : a. Aglutinasi card (card aglutination test for trypanosomiasis atau CATT) yang banyak digunakan di lapangan b. ELISA untuk mendeteksi adanya antigen tripanosoma di dalam serum dan cairan serebrospinal c. Card indirect agglutination test (CIAT) yang merupakan modifikasi ELISA dengan uji aglutinasi lateks. (Muslim, 2009) I. Pengobatan Pengobatan terhadap penyakit ini tidak memuaskan karena belum ada obat yang dapat menghancurkan parasit yang berada dalam sel jaringan. Primakuin agaknya merupakan obat yang terbaik untuk membasmi tripomastigot dalam darah demikian mencegah invasi lebih lanjut ke dalam jaringan. Selain itu juga digunakan nitrofurans dan amfoterisin B (Muslim, 2009). J. Epidemiologi Hospes reservoar selalu merupakan sumber infeksi dan cara pencegahan dapat dilakukan dengan memberantas vektornya yaitu Triatoma dan melindungi manusia dari gigitannya. Hospes perantaranya adalah Triatoma infestans, Rhodnius prolixus dan Panstronglyus megistus yang hidup di sela-sela dinding rumah yang terbuat dari papan atau batu. Pengawasan bank darah juga merupakan upaya yang dapat mencegah timbulnya infeksi pada manusia (Staf Penagajar Bagian Parasitologi, 1998) K. Pencegahan

31

Pencegahan dengan menghindari gigitan Triatoma, misalnya tidur berkelambu, karena Triatoma sering menggigit di malam hari (Entjeng, 2001) 2.3.4 Trypanosoma gambiense A. Penyakit Tripanosomiasis (African sleeping sickness)

B. Hospes Penyakit ini terdapat pada manusia, sebagai hospes reservoir babi, sapi dan kambing. Sedangkan hospes perantaranya adalah lalat tse-tse (Glosina palpalis) C. Klasifikasi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Mastigophora : Kinetoplastida : Trypanostomatidae : Trypanosoma : Trypanosoma brucei brucei (Hewan), Trypanosoma brucei gambiense (orang), Trypanosoma brucei rhodesiense (orang), Trypanosoma evansi (hewan), Trypanosoma equiperdum (hewan), Trypanosoma cruzi (orang) D. Daur Hidup Dalam hospes vertebrata (definitif) yang secara alamiah terinfeksi, trypanosoma cenderung bebentuk polymorfik, yaitu ada yang berbentuk langsing sampai berbentuk gemuk yang semuanya disebut trypomastigot. Pada waktu darah terhisap oleh vektor, parasit berlokasi di bagian posterior usus tengah (midgut) dari lalat dan memperbanyak 32

diri dalam waktu 10 hari. Pada saat ini trypomastigot bentuk langsing bermigrasi keusus depan dan ditemukan pada hari ke 12 sampai ke 20. Kemudian bergerak ke esophagus, pharynx dan hypopharynx, kemudian masuk ke dalam glandula salivarius. Dalam kelenjar ludah tersebut parasit berubah bentuk menjadi epimastigot. Beberapa lama kemudian berubah menjadi metacyclic trypomastigot, berbentuk kecil, gemuk dan flagel bebasnya berkurang. Bentuk metacyclic ini adalah bentuk infektif pada hospes vertebrata. Pada waktu lalat tsetse menggigit, akan menginfeksi hospes vertebrata sampai beberapa ribu trypanosoma hanya dengan satu gigitan. Sekali masuk kedalam hospes vertebrata trypanosoma langsung bermultiplikasi sebagai trypomastigot di dalam darah dan limfe. Bentuk mastigot di temukan juga dalam limpa dan hati hewan percobaan tikus dan dalam myocardium monyet. Setelah beberapa periode waktu, banyak trypanosoma bergerak menuju saraf pusat, memperbanyak diri dan masuk kedalam ruang interseluler dalam otak. E. Morfologi Panjangnya 35 mikron, berinti satu, kinetoplast kecil, membran bergelombang dan flagel anterior (Prianto, 1994)

Gambar 16. Trypanosoma gambiense F. Distribusi geografik

33

Penyakit ini ditemukan di Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Amerika Serikat (Corpus Christi, Texas) (Staf Pengajar Bagian Parasitologi, 1998). G. Patologi dan gejala klinis Tempat gigitan terjadi benjolan kulit yang keras dan sakit. Demam hilang timbul, tidak teratur Limfadenopati pada leher dan daerah servikal belakang (Winterbottoms sign). Edema dan melemahnya penerima rasa sakit (Kerandels sign). Ruam pada kulit, splenomegali, hepatomegali, anemia mikrositik ringan, meningitis, ensefalitis, kelainan motorik letargi dan koma Gejala dan tanda penyakit ini dapat bervariasi dan umumnya dibagi menjdai 3 fase : 1. Fase awal (Initial stage) Ditandai dengan timbulnya reaksi inflamasi lokal pada daerah gigitan lalat tsetse. Reaksi inflamasi dapat berkembang menjadi bentuk ulkus atau parut (primary chancre). Reaksi inflamasi ini biasanya mereda dalam waktu 1-2 minggu. 2. Fase penyebaran (Haemoflagellates stage) Setelah fase awal mereda, parasit masuk ke dalam darah dan kelenjar getah bening (parasitemia). Gejala klinis yang sering muncul adalah demam yang tidak teratur, sakit kepala, nyeri pada otot dan persendian. Tanda klinis yang sering muncul antara lain : Lymphadenopati, lymphadenitis yang terjadi pada bagian posterior kelenjar cervical (Winterbottons sign), papula dan rash pada kulit. Pada fase ini juga terjadi proses infiltrasi perivascular oleh sel-sel endotel, sel limfoid dan sel plasma, hingga dapat menyebabkan terjadinya pelunakan jaringan iskemik dan perdarahan di bawah

34

kulit (ptechial haemorhagic). Parasitemia yang berat (toksemia) dapat mengakibatkan kematian pada penderita. 3. Fase kronik (Meningoencephalitic stage) Pada fase ini terjadi invasi parasit ke dalam susunan saraf pusat dan mengakibatkan terjadinya meningoenchepalitis difusa dan meningomyelitis. Demam dan sakit kepala mejadi lebih nyata. Terjadi gangguan pola tidur, insomnia pada malam hari dan mengantuk pada siang hari. Gangguan ekstrapiramidal dan keseimbangan otak kecil menjadi nyata. Pada kondisi yang lain dijumpai juga perubahan mental yang sangat nyata. Gangguan gizi umumnya terjadi dan diikuti dengan infeksi sekunder oleh karena immunosupresi. Jumlah lekosit normal atau sedikit meningkat. Bila tercapai stadium tidur terakhir, penderita sukar dibangunkan. Kematian dapat terjadi oleh karena penyakit itu sendiri atau diperberat oleh penyakit lain seperti malaria, disentri, pneumonia atau juga kelemahan tubuh (Siahaan, 2004).

Gambar 17. Penyakit akibat Trypanosoma gambiense H. Diagnosis Gejala klinis dan menemukan parasit dalam darah, cairan otak, cairan pungsi sumsum tulang I. Pengobatan 35

Antripol (Suramin, Naganol), Triparsamid, Pentamidin, Mel B, Stilbamidin (Prianto, 1994) J. Epidemiologi Hospes reservoar selalu merupakan sumber infeksi dan cara pencegahan dapat dilakukan dengan memberantas vektornya yaitu Triatoma dan melindungi manusia dari gigitannya. Hospes perantaranya adalah Triatoma infestans, Rhodnius prolixus dan Panstronglyus megistus yang hidup di sela-sela dinding rumah yang terbuat dari papan atau batu. Pengawasan bank darah juga merupakan upaya yang dapat mencegah timbulnya infeksi pada manusia (Staf Penagajar Bagian Parasitologi, 1998) K. Pencegahan Menghindari gigitan Glossina sp pengobatan penderita untuk menghilangkan sumber penularan, pemberantasan lalat dengan insectiside dan menghilangkan binatang reservoir Trypanosoma (Entjang, 2001)

36

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Protozoa dalam kelas flagelata terbagi menjadi tiga yaitu flagelata traktus digestivus, flagelata traktus urogenital dan flagelata traktus darah dan jaringan. Flagelata yang paling banyak menyerang pada manusia adalah pada golongan flagelata traktus urogenital dan sangat membahayakan sekali apabila terkena penyakit yang di akibatkan oleh flagelata tersebut meskipun dapat diobati. 3.2 Saran - Sebaiknya selalu menjaga kesehatan tubuh dan kebersihan agar terhindar dari kuman-kuman yang dapat menyebarkan penyakit - Pada wanita dan pria agar selalu menjaga kebersihan bagian genital sehingga parasit tidak dapat hidup pada daerah tersebut dan bagian tersebut adalah bagian yang sangat sensitif

37

DAFTAR PUSTAKA Andriyani, Yunilda. 2006. Trichomonas vaginalis. Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara : Sumatera. Ceureen. 2008. Giardia lamblia. http://ilmu-epidemiologi.blogspot.com/ 2008/11/ giardia-lamblia.html. diakses pada tanggal 5 April 2012. Chaira, Shinta M. 2009. Infeksi Campuran. FKUI : Jakarta. Entjang, Indan. 2001. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan. PT. Citra Aditya Bakti : Bandung. Jimmy. 2011. Trichomonas vaginalis. http://jimmy-zone.blogspot.com/2011/09/ trichomonas-vaginalis.html. diakses pada tanggal 31 maret 2012. Jimmy dan Enggar. 2011. Chilomastix mesnili. http://jimmyenggar.blogspot.com/ 2011/03/chilomastix-mesnili.html. diakses pada tanggal 30 Maret 2012. Kurniawan, Sodikin. 2010. Trichomonas vaginalis. http://www.sodiycxacun.web.id/ 2010/06/trichomonas-vaginalis.html. diakses pada tanggal 8 April 2012. Muslim, H.M. 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan. EGC : Jakarta. Muslim, Muhammad. 2010. Haemoflagellat lieshmania donovani. http://analisbanjarmasin. blogspot.com /2010 /09/ haemoflagellata lieshmania -donovani.html. diakses pada tanggal 1 april 2012 Prianto, Juni L.A, Tjahayu P.U dan Darwanto. 1994. Atlas Parasitologi Kedokteran. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta. Siahaan, Lambok. 2004. Trypanosomiasis Gambia. Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara : Sumatera. Staf Pengajar Bagian Parasitologi. 1998. Parasitologi Kedokteran. FKUI : Jakarta. Widyari, Made Vrety. 2010. Penyakit Giardiasis. http://www.scribd.com/ doc/46544408/ABSTRAK. diakses pada tanggal 21 April 2012. Yatim, Faisal. 2006. Cermin Dunia Kedokteran : Giardiasis (Demam Linsang). Depkes RI : Jakarta.

38