Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN ABORTUS

LAPORAN PENDAHULUAN ABORTUS

A. Definisi
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelu kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan. (Sarwono, P. 2002) Berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar disebut abortus. Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atu umur kehamilan 28 minggu. Ada juga yang mengambil sebagai batas untuk abortus berat anak yang kurang dari 500 gram. Jika anak yang lahir beratnya antara 500 dan 999 gram disebut partus immaturus. (Fakultas Kedokteran UNPAD) Abortus dapat dibagi menjadi sebagai berikut: 1. Abortus spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran); merupakan kurang lebih 20% dari semua abortus. 2. Abortus provokatus (disengaja, digugurkan); 80% dari semua abortus. a) Abortus provokatus artificialis atau abortus terapeutikus Abortus provokatus artificialis adalah pengguran kehamilan, biasanya dengan alat-alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu berpenyakit berat. Abortus provokatus pada hamil muda dibawah 12 minggu dapat dilakukan dengan pemberian prostaglandin atau kuretase dengan penyedotan (vacum) atau dengan sendok kuret. Pada hamil yang tua diatas 12 minggu dilakukan histerektomi, juga dapat disuntikkan garam hipertonis (20%) atau prostaglandin intra-amnial. Indikasi untuk abortus terapeutikus misalnya: penyakit jantung (jantung rheumatic), hipertensi esentialis, karsinoma serviks.

b) Abortus provokatus kriminalis.

Abortus provokatus kriminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang syah dan dilarang oleh hukum.

Secara klinis masih ada istilah-istilah sebagai berikut: 1) Abortus imminens (keguguran mengancam). Abortus baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya. 2) Abortus incipiens (keguguran berlangsung). Abortus ini sudah berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi. 3) Abortus inkompletikus (keguguran tidak lengkap). Sebagian dari buah kehamilan telah dilahirkan tapi sebagian (biasanya jaringan plasenta masih tertinggal didalam rahim. 4) Abortus kompletikus (keguguran lengkap). Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap. 5) Missed abortion (keguguran tertunda). Missed abortion adalah keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke-22, tetapi tertahan didalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati. 6) Abortus habitualis (keguguran berulang-ulang). Ialah abortus yang telah berulang dan berturutturut terjadi; sekurang-kurangnya tiga kali berturut-turut.

B. Etiologi
Walaupun terjadinya abortus habitualis berturut-turut mungkin kebetulan, namun wajar untuk memikirkan adanya sebab dasar yang mengakibatkan peristiwa berulang ini. Sebab dasar ini dalam kurang lebih 40% tidak diketahui; yang diketahui, dapat dibagi dalam tiga golongan: 1. Kelainan pada zigote Agar bisa menjadi kehamilan, dan kehamilan itu dapat berlangsung terus dengan selamat, perlu adanya penyatuan antara spermatozoon yang normal dengan ovum yang normal pula. Kelainan genetik pada suami atau istri dapat menjadi sebab kelainan pada zigote dengan akibat terjadinya abortus. Dapat dikatakan bahwa kelainan kromosomal yang dapat memegang peranan dalam abortus berturut-turut, jarang terdapat. Dalam hubungan ini dianjurkan untuk menetapkan kariotipe pasangan suami istri apabila terjadi sedikit-sedikitnya abortus berturut-turut tiga kali, atau janin yang dilahirkan menderita cacat.

2. Gangguan fungsi endometrium yang menyebabkan gangguan implantasi ovum yang dibuahi dan gangguan dalam pertumbuhan mudigah. Malfungsi endometrium yang mengganggu implantasi dan mengganggu dalam pertumbuhannya. Di bawah pengaruh estrogen, endometrium yang sebagian besar hilang pada waktu haid, timbul lagi sesudah itu, dan dipersiapkan untuk menerima dengan baik ovum yang dibuahi. Sesudah ovulasi glikogen yang terhimpun dalam sel-sel basal endometrium memasuki sel-sel dan lumen kelenjar-kelenjar dalam endometrium, untuk kelak dibawah pengaruh alkalin fosfatase diubah menjadi glukose. Di samping zat hidrat arang tersebut dibutuhkan pula protein, lemak, mineral, dan vitamin untuk pertumbuhan mudigah. Faktor-faktor yang dapat mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan endometrium adalah : a) Kelainan hormonal Pada wanita dengan abortus habitualis, dapat ditemukan bahwa fungsi glandula tiroidea kurang sempurna. Oleh sebab itu pemeriksaan fungsi tiroid pada wanita-wanita dengan abortus berulang perlu dilakukan; pemerikasaan ini hendaknya dilakukan diluar kehamilan. Selain itu gangguan fase luteal dapat menjadi sebab infertilitas dan abortus muda yang berulang. Gangguan fase luteal dapat menyebabkan disfungsi tuba dengan akibat transfor ovum terlalu cepat, motilitas uterus yang berlebihan dan kesukaran dalam nidasi karena endometrium tidak dipersiapkan dengan baik. b) Gangguan nutrisi Penyakit-penyakit yang mengganggu persediaan zat-zat makanan untuk janin yang sedang tumbuh dapat menyebabkan abortus. Anemia yang berat, penyakit menahun dan lain-lain akan mempengaruhi gizi penderita. c) Penyakit infeksi Penyakit infeksi menahun yang dapat menjadi sebab kegagalan kehamilan ialah luwes. Disebut pula mikoplasma hominis yang ditemukan di serviks uteri, vagina dan uretra. Penyakit infeksi akut dapat menyebabkan abortus yang berturut-turut. d) Kelainan imunologik Inkomtabilitas golongan darah A, B, O, dengan reaksi antigen-antibodi dapat menyebabkan abortus berulang, karena pelepasan histamin mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan mudigah

fragilitas kapiler. Inkomtabilitas karena Rh faktor dapat menyebabkan abortus berulang, tetapi hal itu biasanya menyebabkan gangguan pada kehamilan diatas 28 minggu. e) Faktor psikologis Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus berulang dan keadaan mental, akan tetapi sebelum terang sebab musababnya. Yang peka terhadap terjadinya abortus ialah wanita yang belum matang secara emosional dan sangat mengkhawatirkan risiko kehamilan; begitu pula wanita yang sehari-hari bergaul dalam dunia pria dan menganggap kehamilan sebagai suatu beban yang berat. Dalam hal-hal tersebut diatas, peranan dokter untuk menyelamatkan kehamilan sangat penting. Usaha-usaha dokter untuk mendapatkan kepercayaan pasien, dan menerangkan segala sesuatu kepadanya, sangat membantu.

3.

Kelainan anatomik pada uterus yang dapat menghalangi berkembangnya janin didalamnya dengan sempurna. Kelainan bawaan dapat menjadi sebab abortus habitualis, antara lain hipoplasia uterus, subseptus uterus bikornis dan sebagainya. Akan tetapi pada kelainan bawaan seperti uterus bikornis, sebagian besar kehamilan dapat berlangsung terus dengan baik. Walaupun pada abortus habitualis perlu diselidiki dengan histerosalpingografi, apakah ada kelainan bawaan, perlu diperiksa pula apakah tidak ada sebab lain dari abortus habitualis, sebelum menganggap kelainan bawaan uterus tersebut sebaga sebabnya. Diantara kelainan-kelainan yang timbul pada wanita dewasa terdapat laserasi serviks uteri yang luas, tumor uterus khususnya mioma, dan serviks uteri yang inkompeten. Pada laserasi yang cukup luas, bagian bawah uterus tidak dapat memberi perlindungan pada janin dan dapat menjadi abortus, biasanya pada inkompeten; pada kehamilan 14 minggu atau lebih ostium uteri internum perlahan-lahan membuka tanpa menimbulkan rasa nyeri dan ketuban mulai menonjol. Jika keadaan dibiarkan, ketuban pecah dan terjadi abortus. Mioma uteri, khususnya berjenis sub mukus, dapat mengganggu implantasi ovum yang dibuahi atau pertumbuhannya didalam cavum uteri.

C. Patofisiologi

Patofisiologi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2 .bagian yang terlepas dianggap benda asing, sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi. Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih tertinggal yang menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena itu, keguguran memberikan gejala umum sakit perut karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan, dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi. Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya: 1. sedikit-sedikit dan berlangsung lama 2. sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai gumpalan 3. akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun; dapat menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, tampak anemis dan daerah ujung (akral) dingin.

Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi: 1. umur kehamilan dibawah 14 minggu dimana plasenta belum terbentuk sempurna, dikeluarkan seluruh atau sebagian hasil konsepsi. 2. diatas 16 minggu, dengan pembentukan plasenta sempurna dpat didahului dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi, dan dilanjutkan dengan pengeluran plasenta berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan persalinan immaturus. 3. hasil kosepsi tiak dikeluarkan lebih dari 6 minggu, sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan pembekuan darah.

Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi: 1. mola karnosa: hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti daging. 2. mola tuberosa: amnion berbenjol-benjol, karena terjadi hematoma antara amnion dan karion 3. fetus kompresus: janin mengalami mumifikasi, terjadi penyerapan kalsium, dan tertekan sampai gepeng. 4. fetus papiraseus: kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan, laksna kertas. 5. blighted ovum: hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin, hanya benda kecil yang tidakberbentuk. 6. missed abortion: hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu.

D. Pathway Baca pathway abortus klik disini. E. Penatalaksanaan Kuretase


1. Persiapan Sebelum Tindakan a) Pasien 1) cairan dan selang infus sudah terpasang, perut bawah dan lipat paha sudah dibersihkan dengan air dan sabun. 2) Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmoner. 3) Siapkan kain alas bokong dan penutup perut bawah. 4) Medikamentosa Analgetika (pethidin 1-2 mg/kg BB, ketamin HCI 0,5 mg/kg BB, tramadol 1-2 mg/kg BB) Sedatifa (diazepan 10 mg) Atropin sulfat 0,25-0,50 mg/kg

5) Larutan antiseptik (povidon iodin 10%). 6) Oksigen dengan regulator. 7) Instrumen : Cunam tampon: 1 Klem ovum (foersters/fenster clemp) lurus : 2 Sendok kuret pasca persalinan : 1 Spekulum sims atau L dan kateter karet : 2 dan 1 Tabung ml dan jarum suntik no 23 (sekali pakai) : 2

b) Penolong (operator dan asisten) 1) Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata pelindung : 3 set 2) Sarung tangan DTT/steril : 4 pasang 3) Alas kaki (sepatu atau boot karet) : 3 pasang 4) Instrumen : Lampu sorot : 1 Mangkok logam : 2 Penampung udara dan jaringan : 1

2. Tindakan a) Instruksikan asisten untuk memberikan sedative dan analgetik. b) Bila penderita tidak berkemih, lakukan kateterisasi (lihat prosedur kateteresasi). c) Setelah kandung kemih dikosongkan, lakukan pemeriksaan bimanual. Tentukan besar uterus dan bukaan serviks. d) Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan klorin 0,5%. e) Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru. f) Pasang spekulum sims atau L, masukkan bilahnya secara vertikal kemudian putar ke bawah. g) Pasang spekulum sims berikutnya dengan jalan memasukkan bilahnya secara vertikal kemudian putar dan tarik ke atas sehingga porsio tampak dengan jelas. h) Minta asisten untuk memegang spekulum atas dan bawah, pertahankan pada posisinya semula. i) Dengan cunam tampon, ambil kapas yang telah dibasahi dengan larutan antiseptik, kemudian bersihkan lumen vagina dan poriso. Buang kapas tersebut dalam tempat sampah yang tersedia, kembalikan cunam ke tempat semula. j) Ambil klem ovum yang lurus, jepit bagian atas porsio (perbatasan antara kuadran atas kiri dan kanan atau pada jam 12). k) Setelah porsio terpegang baik, lepaskan spekulum atas. l) Pegang gagang cunam dengan tangan kiri, ambil sendok kuret pasca persalinan dengan tangan kanan, pegang diantara ibu jari dan telunjuk (gagang sendok berada pada telapak tangan), kemudian masukkan hingga menyentuh fundus. m) Minta asisten untuk memegang klem ovum, letakkan telapak tangan pada bagian atas fundus uteri (sehingga penolong dapat merasakan tersentuhnya fundus oleh ujung sendok kuret). a. Memasukkan lengkung sendok kuret sesuai engan lengkung cavum uteri kemudian laukan pengerokan dinding uterus bagian depan searah dengan jarum jam, secara sistematis. b. Masukkan ujung sendok sesuai dengan cavum lengkung uteri setelah sampai fundus, kemudian putar 180 derajat, lalau bersihkan dinding belakang uterus. Kemudian keluarkan jaringan yang ada. n) Kembalikan sendok kuret ke tempat semula, gagang klem ovum dipegang kembali oleh operator.

o) Ambil kapas (dibasahi larutan antiseptik) dengan cunam tampon, bersihkan darah dan jaringan pada lumen vagina. p) Lepaskan jepitan klem ovum pada porsio. q) Lepaskan spekulum bawah. r) Lepaskan kain penutup perut bawah, alas bokong dan sarung kaki masukkan ke dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5%. s) Bersihkan cemaran darah dan cairan tubuh dengan larutan antiseptik.

3. Dekontaminasi 4. Cuci Tangan Sebelum Pasca tindakan 5. Perawatan Pasca tindakan

F. Data Fokus
Perdarahan Serviks Tertutup Uterus Sesuai dengan gestasi Gejala / tanda Kram perut bawah Uterus lunak

Sedikit membesar dari normal

Limbung atau pingsan Nyeri perut bawah Nyeri goyang porsio

Bercak hingga sedang

Massa adneksa Cairan bebas intra abdomen Tertutup atau terbuka Lebih kecil dari usia gestasi Sedikit atau tanpa nyeri perut bawah Riwayat ekspulsi hasil konsepsi

Sedang hingga masif atau banyak

Terbuka

Sesuai usia kehamilan

Kram atau nyeri perut bawah Belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi

Kram atau nyeri perut bawah Ekspulsi sebagian hasil konsepsi

Terbuka

Lunak dan lebih besar dari usia gestasi

Mual atau muntah Kram perut bawah Sindroma mirip pre eklampsia Tak ada janin keluar jaringan seperti anggur

G. Pengkajian
1. Riwayat Obstetri a) Riwayat menstruasi
Menarche Siklus Lama Banyak Warna Bau Flour albous HPHT Disminorhe

b) Riwayat kehamilan c) Riwayat kehamilan sekarang HPL

ANC Keluhan TT

d) Riwayat kontrasepsi 2. Riwayat perkawinan 3. Pola kebiasaan sehari-hari a) Nutrisi


Sebelum hamil Selama hamil

b) Eliminasi
Sebelum hamil Selama hamil

c) Istirahat
Sebelum hamil Selama hamil

d) Aktifitas
Sebelum hamil Selama hamil

e) Pola hubungan sexualitas


Sebelum hamil Selama hamil

f)

Personal hygiene
Sebelum hamil Selama hamil

4. Riwayat psikososial 5. Data spiritual

B. Data Objektif

1 2 3 4

Keadaan umum Kesadaran TTV TB BB sebelum hamil LILA BB setelah hamil

Pemeriksaan fisik a) Muka b) Mata c) Genetalia

Status obstetri a) Inspeksi Muka Perut Vulva b) Palpasi Abdomen / TFU

Pemeriksaan dalam Servik

Pemeriksaan penunjang Hb

H. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang berlebihan 2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya distribusi darah ke seluruh tubuh. 3. Resti infeksi berhubungan dengan tindakan invasif 4. Berduka berhubungan dengan kehilangan calon anak

I. Nursing Care Plan No


1.

Diagnosa
Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang berlebihan

Tujuan
x 2 jam diharapkan klien dapat mengontrol antisipasi nyeri yang dibuktikan dengan Criteria hasil : Klien menyatakan nyeri hilang/ terkontrol Ekspresi wajah tidak menunjukkan rasa menahan sakit Kualitas nyeri menunjukkan skala 0-3 Perilaku relaksasi TD 120/80 130/90 mmHg Nadi 90x/ menit

Intervensi
mengenai penyebab

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 Berikan informasi dan petunjuk

ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat Evaluasi tekanan darah (TD) dan nadi. perilaku kegelisahan Perhatikan (bedakan karena nyeri perubahan antara atau

Pola nafas efektif 24x/ menit

kehilangan darah akibat dari proses pembedahan. Ubah posisi klien, kurangi

rangsangan yang berbahaya dan berikan gosokan punggung anjurkan pernafasan distraksi kutan) penggunaan dan relaksasi teknik dan

(rangsangan

jaringan

K Palpasi kandung kemih, perhatikan adanya rasa penuh, memudahkan berkemih periodic setelah

pengangkatan kateter indwelling.

Anjurkan penyokong.

penggunaan

M dengan

Lakukan spirometri dengan

latihan intensif

nafas dan

dalam, batuk

menggunakan

prosedur-

prosedur tepat, 30 menit setelah pemberian analgesic. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 2 jam diharapkan klien dapat

2.

Gangguan jaringan dengan distribusi

perfusi berhubungan berkurangnya darah ke

Panatau tanda vital; palpasi nadi perifer dan perhatikan pengisian kapiler;kaji keluaran atau karakteristik urine, evaluasi perubahan mental. Inspeksi balutan dan pembalut prineal, perhatikan warna, jumlah dan bau drainase. Timbang pembalut dan bandingkan dengan berat yang kering, bila pasien mengalami perdarahan hebat.

menunjukkan perfusi aekuat, sesuai dengan bukti tanda vital atsbil, nadi teraba, pengisian kapiler baik,

seluruh tubuh.

mental biasa, keluaran urin adekuat secara individual dan bebas edema.

Ubah posisi pasien dan dorong batuk sering dan latihan nafas dalam.

Hindari posisi fowler tinggi dan tekanan di bawah lutut atau menyilangkan kaki.

Bantu/instruksikan latiha kaki dan telapak dan ambulas sesegera mungkin. Periksa tanda hormo. Perhatikan eritema, pembengkakan ekstremitas, atau keluhan nyeri dad tibatiba pada dispnea. Kolaborasi Berikan cairan IV, produk drah sesuai indiaksi.

Pekaikan stoking anti emboli.

Bantu/dorong penggunaan spirometri insentif. 3. Resti berhubungan tindakan invasif infeksi dengan
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 4 Anjurkan dan gunakan teknik x 24 jam diharapkan klien dapat menerapkan mencuci tangan dengan cermat dan teknik kontrol infeksi yang dibuktikan dengan pembuangan criteria hasil: pembakut pangalas parineal dan kotoran linen

Suhu 37 C Poal nafas efektif 24x/ menit Tidak terdapat nyeri tekan

terkontaminasi dengan tepat Tinjau ulang Hb/Ht prenatal:

perhatikan adanya kondisi yang Luka bekas dari drainase dengan tanda awal mempredisposisikan klien pada penyembuhan infeksi pasca operasi

Tidak terdapat kemerahan

Infeksi balutan abdominal terhadap eksudat/ rembesan. Lepaskan

balutans sesuai indikasi

Dorong dan masukan cairan oral dan diet tinggi protein, Vit C dan besi

Kaji suhu, nadi, dan jumlah sel darah putih

Kaji lokasi dan kontraktivitas uterus, perhatikan perubahan involusi/

adanya nyeri tekan uterus yang ekstrim

Kolaborasi: Berikan infuse antibiotic profilaksi dengan diberikan detil pertama segera biasanya setelah

pengekleman tali pusat dan 2 dosis lagi masing-masing berjarak 6 jam. Dapatkan kultur darah, vagina dan urin bila infeksi dicurigai

Berikan antibiotic khusus untuk untuk proses infeksi yang diidentifikasi.

4.

Berduka berhubungan dengan kehilangan calon anggota keluarga


1.

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Mandiri 1 x 24 jam diharapkan klien mampu menerima 1. Kaji status emosional keadaan yang sebenarnya tentang kematian anaknya yang dibuktikan dengan : mengidentifikasi dan menunjukkan perasaan secara cepat 2. menunjukkan perkembangan melalui proses duka 3. menikmati masa sekarang dan rencana untuk masa depan, hari demi hari 2. Sediakan mendengarkan ekspresi waktu pasien.

1.

2.

untuk 3. Dorong

tidak 4. berdaya dan keinginan untuk mati 3. Kaji potensial untuk berdiri

perasaan

bebas,

4.

Ikutsertakan orang terdekat dalam diskusi dan aktifitas sampai pada 5. tingkat yang mereka inginkan

5.

Berikan sentuhan atau pelukan bebas sesuai penerimaan individu 6.

Kolaborasi 6.

7.

Rujuk pada sumber-sumber lain sesuai indikasi, misalnya special klinik, perawat, pekerja social.

7.

Bantu dengan atau rencanakan dengan spesifik sesuai kebutuhan (misalnya instruksi lanjutan (untuk

menentukan

status

kode

atau

keinginan untuk hidup), membuat wasiat pengaturan pemakaman)

Kasus 27 Anda saat ini bertugas di ruang post natal, terdapat klien Ny. I 34 tahun. Status pernikahan kawin. Dx medis abortus habitualis in komplit. Masuk RS sejak 26 Juni 05. pengkajian dilakukan tanggal 27 Juni 05. status obstetri G4 P0 A4. riwayat haid klien menarche usia 16 tahun. Haid terakhir 3 bulan yang lalu, siklur teratur 28 hari klien mengeluh sedih terhadap hal yang menimpanya. Riwayat perkawinan 14 tahun. Kini klien direncanakan untuk tindakan kuretase nanti sore. TD 120/70 mmHg, N 84 x/menit, RR 24x/menit dan T 36,90C. Nyeri hebat di perut bawah skala 4, mulas mulas bertambah jika bergerak, berkurang bila klien tiduran. Keluaran darah pervaginam 100 cc/3 jam. Klien mengaku bingung dengan penyakitnya yang selalu mengalami keguguran dan menanyakan pada anda bagaimana tentang penyakitnya tersebut. Klien paham dengan tindakan yang akan dilakukan tetapi tetap cemas dengan tindakan tersebut. Ekspresi wajah klien selama menunggu tampak berkeringat banyak, sesekali mendesis nyeri. 1. Rencanakan NCP pada klien tersebut ! 2. Apa intervensi anda dan bagaimana evaluasinya ? (kaitkan dengan data berikut)

Dari evaluasi lebih lanjut klien menyatakan dengan nafas dalam yang diajarkan perawat nyeri berkurang sekitar skala 3. Td 120/70 mmHg, RR 24 x/menit dan T 36,90C. Ekspresi wajah masih cemas setelah dilakukan penyuluhan tentang penyakitnya. Klien bertanya apa yang dapat dilakukannya agar dia mempertahankan kehamilannya bila dia hamil lagi. Kapiler refill < dari 2 detik, nadi kuat teratur. Klien dapat kooperatif dengan perawat. Klien banyak berdzikir untuk menghilangkan kesedihannya.

A. Pengkajian. Data Subyektif 1. Biodata

Biodata klien Nama Umur Agama Pendidikan Suku /bangsa Pekerjaan Alamat : Ny.I : 34 tahun : Islam : SMU : Jawa/ Indonesia : Ibu rumah tangga : Mijen ungaran Nama Umur Agama

Biodata penanggung jawab : Tn.T : 40 tahun : Islam : SMU : Jawa/ Indonesia : Swasta : Mijen ungaran

Pendidikan Suku/ bangsa Pekerjaan Alamat

2. Alasan datang 3. Keluhan utama

: Ibu ingin memeriksa kehamilannya : Ibu merasakan nyeri pada perut bawah dan keluar bercak-bercak darah sejak kemarin.

4. Riwayat kesehatan a) Riwayat kesehatan Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit kronik seperti : Hipertensi, DM, Asma, Jantung, TBC. b) Riwayat kesehatan masa lalu Ibu tidak sedang menderita penyakit kronik seperti : Hipertensi, DM, Asma, Jantung, TBC, abortus berulang. c) Riwayat kesehatan keluarga Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun/ turunan seperti hipertensi,DM, Asma, Jantung,dan tidak mempuyai keturunan kembar. 5. Riwayat Obstetri a) Riwayat menstruasi
Menarche Siklus Lama Banyak Warna Bau Flour albous HPHT : 12 tahun : 28 hari : 7 hari : 100 : Merah segar : Amis : Kadang-kadang : 30 Januarai 2006

Disminorhe

: Tidak pernah

b) Riwayat kehamilan Abortus berulang selama 4 kali c) Riwayat kehamilan sekarang G4 P0 A4, UK HPL ANC Keluhan TT : 12 minggu 3 hari.

: 6 November 2006 : Belum pernah : IM I : 1x capeng

Ibu tidak mengkonsumsi obat-obatan Ibu tidak mempunyai kebiasaan buruk seperti : merokok, minum-minuman keras dan lain-lain yang mengganggu janin.

d) Riwayat kontrasepsi Ibu belum pernah memakai kontrasepsi setelah melahirkan ibu ingin memakai alat kontrasepsi (Pil KB) 6. Riwayat perkawinan Menikah 1x Lama perkawinan 14 tahun Umur waktu menikah : 20 tahun, Suami : 24 tahun 7. Pola kebiasaan sehari-hari a) Nutrisi
Sebelum hamil Makan 3x sehari, porsi nasi, sayur, lauk. Minum 5-6 gelas/hari air putih dan teh Selama hamil Makan 3x/sehari, porsi setengah nasi sayur, lauk. Minum 5-6 gelas/ hari air putih dan susu

b) Eliminasi
Sebelum hamil BAB 1x/hari konsistensi lunak, kuning kecoklatan BAK 3-4x/hari konsistensi lunak, kuning kecoklatan . Selama hamil BAB 2x/hari konsistensi lunak, kuning kecoklatan . BAK 4-5x/hari, warna kuning jernih

c) Istirahat
Sebelum hamil Tidur malam 8 jam jarang terbangun

Tidur siang 1-1,5 jam. Selama hamil Tidur malam 8 jam jarang terbangun Tidur siang kadang-kadang

d) Aktifitas
Sebelum hamil Selama hamil Ibu dapat melakukan pekerjaanya sendiri tanpa bantuan Ibu dapat melakukan pekerjaanya kadang-kadang dengan bantuan

e) Pola hubungan sexualitas


Sebelum hamil Selama hamil 3x/minggu 2-3x/ minggu

f)

Personal hygiene
Sebelum hamil Selama hamil Mandi 2x/minggu, gosok gigi 3x/hari, keramas 1x/2 hari Mandi 2x/hari, gosok gigi3x/hari, keramas 1x/2hari.

8. Riwayat psikososial Emosi ibu stabil, hubungan ibu dengan tetangga dan masyarakat sekitar terjalin dengan baik, ibu cemas dengan keadaan kehamilan. 9. Data spiritual Sebagai pemeluk agama islam ibu rajin menjalankan sholat 5 waktu.

Data Objektif
1 2 3 Keadaan umum Kesadaran TTV TD N R S : 120/70 mmHg : 84x/menit : 24x/menit : 36,9C : Sedang : Composmentis

TB BB sebelum hamil LILA BB setelah hamil

: 157 cm : 48 kg : 24 cm : 52 kg

Pemeriksaan fisik d) Muka e) Mata f) Genetalia : Berkeringat banyak, mendesis nyeri : Konjungtifa tidak pucat, seclera tidak kuning : Tidak terdapat oedem, tidak terdapat varises

Ststus obsteri a) Inspeksi Muka Perut Vulva b) Palpasi Adomen : Uterus teraba lunak, terdapat nyeri tekan pada perut bawah, TFU teraba agak keras : Tidak terdapat closma gravidarum : Tidak terdapat strie gravidarum : Keluar darah dari jalan lahir

Pemmeriksaan dalam Servik : Tertutup

Pemeriksaan penunjang Hb : 14 gr%

B. ANALISA DATA

No 1.

Data DS : klien mengeluh sedih terhadap hal yang menimpanya

Etiologi Krisis situasional

MK Berduka

2.

DS : klien mengaku bingung dengan penyakitnya yang selalu mengalami keguguran DO : ekspresi wajah klien selama

Krisis situasional

Cemas

menunggu tampak berkeringat banyak 3. DS : P : bertambah jika bergerak Berkurang bila klien duduk R : nyeri di perut bawah Skala nyeri : 4 Klien merasa mulas-mulas DO : klien sesekali mendesis nyeri Kontraksi uterus yang berlebihan Gangguan rasa nyaman: nyeri

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang berlebihan 2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional 3. Berduka berhubungan dengan krisis situasional

D. NURSING CARE PLAN

No
1.

Diagnosa
Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang berlebihan

Tujuan
x 2 jam diharapkan klien dapat mengontrol antisipasi nyeri yang dibuktikan dengan Criteria hasil : Klien menyatakan nyeri hilang/ terkontrol Ekspresi wajah tidak menunjukkan rasa menahan sakit Kualitas nyeri menunjukkan skala 0-3 Perilaku relaksasi TD 120/80 130/90 mmHg Nadi 90x/ menit

Intervensi
mengenai

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 Berikan informasi dan

ketidaknyamanan dan i yang tepat

Evaluasi tekanan darah ( nadi. perilaku kegelisahan Perhatikan (bedakan karena

nye

Pola nafas efektif 24x/ menit

kehilangan darah akibat da pembedahan. Ubah posisi klien,

rangsangan yang berbah berikan anjurkan gosokan penggunaan

pernafasan dalam dan rela distraksi kutan) (rangsangan

Palpasi kandung kemih, p

adanya rasa penuh, mem berkemih periodik

pengangkatan kateter indw

Anjurkan penyokong.

penggunaan

Lakukan spirometri dengan

latihan intensif

nafas

dan

menggunakan

prosedur tepat, 30 meni pemberian analgesic.

2.

Cemas berhubungan dengan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 Kaji respon psikologis keja krisis situasional

x 3 jam diharapkan klien dapat mengatasi ketersediaan system pendu Klien mengungkapkan rasa takut dari masalah Klien mengungkapkan rasa ansietas berkurang Menggunakan mekanisme koping yang tepat.

ansietas yang dibuktikan dengan Criteria hasil: Tetap bersama klien dan tet

perlahan, tunjukkan empati

Menunjukkan TTV normal

Beri penguatan aspek positif

Anjurkan

klien

atau

mengungkapkan

mengekspresikan perasaan

Dukung

atau

arahkan koping

mekanisme diekspresikan

Berikan

masa

privasi,

rangsang lingkungan.

3.

Berduka berhubungan dengan kehilangan calon anggota keluarga


4.

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Mandiri 1 x 24 jam diharapkan klien mampu menerima Kaji status emosional keadaan yang sebenarnya tentang kematian anaknya yang dibuktikan dengan : mengidentifikasi dan menunjukkan perasaan secara cepat 5. menunjukkan perkembangan melalui proses duka 6. menikmati masa sekarang dan rencana untuk masa depan, hari demi hari

Sediakan waktu untuk mend pasien. Dorong ekspresi

bebas, tidak berdaya dan k untuk mati Kaji potensial untuk berdiri

Ikutsertakan orang terdeka

diskusi dan aktifitas sam

tingkat yang mereka ingink

Berikan sentuhan atau peluk

sesuai penerimaan individu

Kolaborasi

Rujuk pada sumber-sum

sesuai indikasi, misalnya

klinik, perawat, pekerja soc

Bantu dengan atau re

dengan spesifik sesuai k

(misalnya instruksi lanjuta menentukan status

kod

keinginan untuk hidup),

wasiat pengaturan pemakam

B. IMPLENTASI dan EVALUASI


No 1. Tanggal 27 Juli 2005 Diagnosa Gangguan rasa nyaman1) : Nyeri Implementasi Mengajarkan klien tehnik

non S : - Klien menyatakan n

farmakologis untuk mengurangi nyeri - Klien dapat melakuk yaitu tehnik relaksasi

mengurangi rasa ny O : TD : 120/80 mm hg

2)

Mengajarkan tehnik untuk nafas dalam RR : 20x/menit untuk mengurangi nyeri N : 80x/menit A : Teratasi sebagian

3)

P : - Ulangi pengukuran Membanu ibu untuk meningkatkan rasa - Evaluasi rentang nye nyaman dengan mengambil data klien tentang karakteristik nyeri - Berikan lingkungan

- Berikan instruksi na 4) Mengukur TD, RR dan nadi setiap 1-2 menit

2.

27 Juli 2005

Cemas

1)

Pantau suhu dan nadi dengan rutin S : - Klien kelihatan tena sesuai indikasi kering

O : Kemerahan (+), Ek 2) Catat karakteristik balutan dan luka

A : Jahitan mulai meny P : berikan pendidikan

bekas insisi pembed

3.

27 Juli 2005

Berduka

1. Membantu klien untuk mengidentifikasi reaksi awal terhadap adanya suatu

S:

Klien mengatakan a

kehilangan 2. Mendukung ekspresi perasaan tentang kehilangan 3. Membantu untuk mengidentifikasi strategi koping 4. Anjurkan klien untuk minum susu sebelum mau tidur

akan pergi tidur

Klien mengungkapk O : klien kelihatan

A : kaji perasaan kl telah diajarkan

P : bantu klien men

DAFTAR PUSTAKA

Didik Tjindarbumi, Dkk. 2001.

Pencegahan, Diagnosis Dini, Dan Pengobatan Penyakit Kanker.

Yayasan Kanker Indonesia : Jakarta.

Doengoes, M. Rencana Perawatan Maternitas / Bayi, Egc : Jakarta. 2001.

Suzanne C. Smeltzer. Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta : Egc.

Read more: http://perawatmasadepanku.blogspot.com/2012/08/laporan-pendahuluanabortus_28.html#ixzz2J00jIk2e