Anda di halaman 1dari 13

LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK

A. MODAL VENTURA
Istilah ventura berasal dari kata venture, yang berarti sesuatu yang mengandung risiko atau dapat pula diartikan sebagai usaha. Jadi, modal ventura (venture capital) adalah modal yang ditanamkan pada usaha yang mengandung risiko. Perusahaan modal ventura adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk dengan penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan untuk jangka waktu tertentu. Perusahaan yang memperoleh pembiayaan modal ventura disebut Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) atau investee company. Instrumen yang dapat digunakan dalam rangka modal ventura adalah obligasi konversi (convertible bond) yang memiliki hak opsi untuk ditukarkan dengan saham PPU. Umumnya, pembiayaan modal ventura hampir selalu disertai dengan persyaratan keterlibatan dalam manajemen PPU, yang biasanya disepakati dalam perjanjian modal ventura. 1. MV Sebagai Alternatif Sumber Dana 1) Kekurangan dana, masalah bagi dunia usaha (usaha kecil, menengah, besar) 2) Modal Sendiri (Equity) terbatas 3) Modal Luar (Lembaga-lembaga keuangan), misal Bank, penyertaan modal baru (go public), leasing dan modal ventura 4) Sektor usaha kecil (SUK) & koperasi kurang aksesnya terhadap bank, karena Lemahnya modal dan jaminan , pengelolaan usaha dibutuhkan : a. Modal b. Mitra usaha yang berperan sebagai pembimbing, pembina, pendamping dan turut menanggung resiko Perusahaan Modal Ventura (PMV) 5) SUK dan koprasi Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) 6) PMV Suatu bentuk penyertaan modal atau sejenisnya ke dalam suatu PPU yang ingin mengembangkan usahanya u/ memperoleh pembiayaan baik dr bank maupun pasar modal. 2. Sasaran Perusahaan Modal Ventura Sasaran PMV adalah perusahaan yang : Sedang tumbuh dan bersifat inovatif serta mempunyai potensi untuk berkembang di masa yang akan datang. Ingin ekspansi usaha, tetapi tidak punya akses terhadap bank dan pasar modal Punya pasar yang baik, tetapi perlu menggantikan fasilitas yang lebih canggih untuk memenuhi tuntutan kualitas/kuantitas dari konsumen Akan mengembangkan produk baru Ingin melakukan restrukturisasi hutang-hutang yang sudah mengganggu kesehatan perusahaan

3. Karakteristik Modal Ventura 1. Pembiayaan Modal Ventura Merupakan Equity (Quasi Equity Financing) Bentuk pembiayaan oleh perusahaan modal ventura dilakukan dengan penyertaan modal langsung pada perusahaan pasangan usaha. Di samping itu, pembiayaan modal ventura dapat pula dilakukan dengan menggunakan instrumen obligasi konversi atau convertible bond. Bentuk pembiayaan ini dikenal sebagai semi equity financing. 2. Modal Ventura Merupakan Investasi dengan Perspektif Jangka Panjang (Long-term Perspective) Modal ventura tidak mengharapkan perolehan keuntungan dengan memperdagangkan sahamnya secara jangka pendek, akan tetapi mengharapkan capital gain setelah jangka waktu tertentu. Hal ini berarti pembiayaan atau bisnis modal ventura, pada prinsipnya, memiliki perspektif yang bersifat jangka panjang. 3. Modal Ventura Merupakan Pembiayaan yang Bersifat Risk Capital Dikatakan berisiko tinggi karena pembiayaan modal ventura tidak disertai dengan jaminan, seperti halnya dengan kredit perbankan. Akan tetapi hanya didasarkan pada keyakinan atas gagasan yang diusulkan tersebut dengan harapan untuk mendapatkan return yang lebih besar. 4. Pembiayaan Modal Ventura Bersifat Aktif (Active Investnaent) Pembiayaan modal ventura selalu disertai dengan keterlibatan perusahaan modal ventura dalam manajemen perusahaan yang dibiayai, meliputi: manajemen keuangan, pemasaran dan pengawasan operasional. 5. Modal Ventura Bersifat Sementara Meskipun pembiayaan modal ventura berupa penyertaan saham, namun pada prinsipnya, tetapi bersifat sementara, misalnya, ketentuan jangka waktu penyertaan modal ventura di Indonesia maksimum 10 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, diharapkan perusahaan yang dibiayai sudah mencapai tingkat pertumbuhan yang diinginkan, dan selanjutnya perusahaan modal ventura akan menarik diri dengan menjual sahamnya (divestasi) pada perusahaan pasangan usahanya. 6. Keuntungan Berupa Capital Gain dan Dividen Keuntungan yang diharapkan diperoleh perusahaan modal ventura melalui capital gain atau apresiasi nilai saham di samping dividen. 7. Rate of Return yang Tinggi Bidang usaha yang umumnya dibiayai oleh modal ventura adalah yang bersifat terobosanterobosan baru yang menjanjikan keuntungan yang tinggi.

4. Tahap-tahap Prosedur Penyertaan Modal 1. Early Stage Financing Pembiayaan pada tahap awal ini merupakan tahap yang paling sulit karena perusahaan yang dibiayai tersebut baru berdiri sehingga tingkat risiko kegagalan usaha sangat tinggi. 2. Seed Financing Pembiayaan perusahaan modal ventura pada tahap ini adalah membiayai kegiatan perusahaan pasangan usaha, yang baru melakukan penelitian dan riset untuk mengukur viability suatu gagasan, yang nantinya akan menjadi suatu proyek atau objek pembiayaan. 3. Start-up Financing Pembiayaan yang diberikan perusahaan modal ventura pada tahap ini adalah untuk membiayai pekerjaan yang masih berkisar pada pengembangan produk. Sementara itu, perusahaan modal ventura bersama dengan perusahaan pasangan usaha bersiap-siap untuk mulai melakukan pemasaran. Pada tahap ini, tim manajemen perusahaan telah memulai perencanaan kegiatan untuk diarahkan pada program pemasaran produk untuk memasuki tahap komersial. 4. First Round Financing Pada tahap ini seluruh usaha dan kemampuan dikerahkan untuk menyukseskan peluncuran komersial prototipe produk. Oleh karena itu, pada kondisi ini sumber-sumber bahan baku benarbenar harus terjaga kontinuitasnya. 5. Expansion Stage Pada tahap ekspansi ini, pembiayaan modal ventura yang dibutuhkan adalah sebagi berikut: 6. Second Round Financing Pada tahapan pembiayaan ini, gagasan telah terbukti menjadi suatu kenyataan dengan berhasilnya menciptakan suatu prototipe produk disertai dengan analisis pasar. Pada tahap ini, cadangan bahan baku perlu diperbesar untuk menjamin kontinuitas produk. 7. Third Round Financing Pada tahap pembiayaan ini, perusahaan dapat dikatakan telah menjalankan operasinya dengan struktur formal. Perusahaan dipacu untuk mempertinggi turnover-nya untuk menutup biaya operasi yang tinggi 8. Bridge Financing (Mezzanine) Begitu perusahaan memasuki tahap ketiga (third round) seperti telah dibahas di atas, maka untuk memenuhi kebutuhan dananya, perusahaan dapat melakukan initial public offering (IPO). Pembiayaan yang dibutuhkan pada tahap ini adalah memperbaiki kondisi keuangan perusahaan agar dapat lebih visible, sehingga memenuhi persyaratan untuk go public dalam waktu dekat. Sumber pengembalian pembiayaan modal ventura tersebut diambil dari hasil go public.

9. Acquisition and Management Buy Out Financing Acquisition financing merupakan pembiayaan yang dibutuhkan oleh perusahaan yang telah berkembang dan memerlukan dana untuk membeli atau mengakuisisi perusahaan lain. Sedangkan management buy-out, pada dasarnya merupakan kebutuhan dana atau modal oleh pihak manajemen perusahaan yang akan digunakan untuk membeli atau memiliki sejumlah saham perusahaan yang bersangkutan. 10. Turn Around Situations Beberapa perusahaan modal ventura membiayai perusahaan yang berada dalam posisi kesulitan atau bahkan dalam kondisi bangkrut. Perusahaan yang mengalami kondisi seperti ini disebut turn around situations. 5. Cara Devestasi 1) Penawaran Umum Melalui Pasar Modal (Initial Public Offering) Divestasi dapat dilakukan dengan cara melakukan penawaran umum melalui pasar modal atau initial public offering (IPO). Masalah yang perlu diperhatikan di sini adalah apakah perusahaan pasangan usaha memang benar-benar telah memenuhi ketentuanketentuan emisi dan pencatatan saham (listing). 2) Menjual Kembali Kepada Perusahaan Pasangan Usaha (Buy Back) Penjualan saham perusahaan modal ventura kepada pemegang saham pendiri perusahaan dapat dilakukan sebagai alternatif divestasi apabila ada penyesuaian harga. Mekansime dan tata cara penjualan saham ini diatur dalam perjanjian pembiayaan modal ventura. Ketika perusahaan kekurangan dana, ia dapat memanfaatkan kredit bank atau menerbitkan promes (promissory notes) jangka panjang dengan tingkat bunga tertentu. 3) Menjual Perusahaan Kepada Perusahan Lain Perusahaan modal ventura dan perusahaan pasangan usaha dapat memutuskan secara bersama untuk menjual keseluruhan saham perusahaan pada perusahaan lain atau kepada individu. Mekanisme divestasi ini juga disebut dengan private placement. Penjualan perusahaan ini akan menyebabkan masing-masing pihak terlepas dari kepengurusan atau kepemilikan perusahaan. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh dengan divestasi seperti ini: a. menjual perusahaan secara tunai kepada pihak lain; b. menjual perusahaan dengan menerima pembayaran dalam bentuk promes; c. melakukan share swap; dan d. menjual semua aset perusahaan untuk memperoleh uang tunai. 4) Menjual Perusahaan kepadu Investor Barn Perusahaan pemodal ventura dapat mencari investor baru atau pihak ketiga yang bersedia membeli penyertaan perusahaan modal ventura. 4

6. Kelemahan dan Keunggulan MV a) Keunggulan 1. Sumber dana bagi perusahaan baru. 2. adanya penyertaan manajemen. 3. Keperdulian yang tinggi dari perusahaan modal Ventura. 4. Dengan adanya penyertaan modal, Perusahaan Pasangan Usaha dapatmencari bantuan modal dalam bentuk lain. 5. Modal Ventura menaikkan pamor Perusahaan Pasangan UsahadanPerusahaan Modal Ventura itu Sendiri. 6. Perusahaan Pasangan Usaha mendapat mitra baru yang dimiliki perusahaan modal ventura. 7. Mendukung usaha kecil yg berpotensi berkembang dan memperluaskesempatan kerja.B. b) Kelemahan Modal Ventura 1. Jangka waktu pembiayaan yang relatif panjang. 2. Terlalu selektifnya perusahaan modal ventura dalam mencari perusahaan pasangan usaha. 3. Kontrol manajemen perusahaan pasangan usaha dapat diambil aliholeh perusahaan modal ventura apabila menunjukan gejalakegagalan.

7. Kendala Kerjasama 1. Faktor intern. Faktor intern yang sangat potensial dalam mempengaruhi keberhasilan PPU adalah masalah kemampuan pengelolaan (manajemen) kegiatan usaha yang dijalankan oleh direksi atau pengurus yang merupakan mitra bisnis PMV. Kegagalan kerja sama yang diakibatkan oleh faktor manajemen tersebut, pada umumnya disebabkan oleh hal-hal berikut: a) adanya keterbatasan kemampuan dalam mencari atau mengantisipasi pasar b) tidak mampu memperoleh bahan baku yang relatif murah c) kurang mampu membaca laporan keuangan sehingga tidak dapat mengetaui penyebab lemahnya kemampuan keuangannya d) kegiatan usaha cenderung dilakukan sendiri atau one man show e) lemahnya pengetahuan di bidang ketentuan perundangan misalnya perpajakan

f) pencampuran keperluan pribadi dengan pengelolaan perusahaan, khususnya masalah keuangan g. sumber dan besarnya pendapatan yang terbatas g) kurangnya keterbukaan dan kejujuran mengungkapkan permasalahan perusahaan h) latar belakang pendirian usaha berawal dari bisnis keluarga yang tertutup bagi pihak lain i) perselisihan di antara pemegang saham non-PMV 2. Faktor ekstern. Faktor ekstern yang sangat berpengaruh pada keberhasilan kerja sama pembiayaan ini terutama disebabkan oleh faktor ekonomi makro, antara lain meliputi: a) kompetisi pasar yang sangat tajam b) terjadinya resesi atau depresi ekonomi c) kebijakan pemerintah yang kurang kondusif terhadap usaha PPU d. dukungan lembaga regulator 8. Pola kerjasama PMV dan Perusahaan Mitranya
PMV PPU (SUK & Koperasi) disvestasi stlh 5-10 thn

Evaluasi Proposal

Layak

Tidak Layak

Penilaian Aset PPU & Penyertaan PMV

Stop

Perjanjian

Modal penyertaan & Bimbingan Manajemen

B. RESI GUDANG
Resi gudang atau dalam bahasa asing disebut warehouse receipt adalah dokumen bukti kepemilikan barang yang disimpan di suatu gudang terdaftar secara khusus yang diterbitkan oleh pengelola gudang itu. Ini hanya berlaku kalau semua persyartan yang ditentukan UU no 9 tahun 2006. Oleh karena resi gudang merupakan bukti kepemilikan, maka resi gudang ini dapat diperdagangkan, diperjual belikan, dipertukarkan, ataupun digunakan sebagai jaminan bagi pinjaman, maupun dapat digunakan untuk penyerahan barang dalam transaksi derivatif seperti halnya kontrak berjangka (futures contract).

1. Dasar Hukum Resi Gudang 1. Undang-undang No. 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang 2. Peraturan Pemeeritah No> 36 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-undangNo 9 Tahun 2006 Tentang Sistem Resi Gudang 3. Peraturan Mentri Perdagangan No . 26/ MDAG/ PER/6/2007 Tentang BarangYang Dapat di simpan di Gudang dalam penyelenggaraan Sistem Resin Gudangserta 4. Peraturan kepala Bappebti tentang Peraturan Teknis Pelaksanaan Sistem ResiGudang. 2. Barang yang Disimpan dalam Gudang Gudang di sini artinya bisa macam-macam, tergantung komoditas yang disimpan, mulai dari, coklat, kopi, beras, hingga minyak sawit (crude palm oil-CPO). Resi gudang ini nantinya bisa digunakan sebagai jaminan atas kredit dari perbankan. Namun sayangnya penggunaan resi gudang ini masih sangat terbatas karena kebanyakan negara belum bersedia menerima konsep bukti kepemilikan atas barang gerak. Biasanya bukti kepemilikan hanya ada untuk barang tidak gerak. Penyimpangan yang sudah ada adalah Bill of Lading (Konosemen) yang juga merupakan Bukti Kepemilikan atas barang gerak dan juga dapat dipindahtangankan dengan endorsement. Hingga saat ini ada 8 ( delapan ) komonditi yang dapat di resi gudangkan yaitu : Gabah, Beras, Jagung, Kopi, Kakao, Lada, Rumput laut sebagai mana di tentukan dalam Peraturan Mentri Perdagangan No . 26/M-DAG/PER/6/2007 Tahun 2007 tentang barang yang dapat di simpan di Gudang Dalam Penyelenggaraan Sistem Resi Gudang. 3. Proses Penerbitan Resi Gudang Setelah dilakukan penyimpanan barang, pengelola gudang melakukan penerbitan Resi Gudang dengan tata cara sebagai berikut : 1. Pengelola Gudang menginput data untuk Resi Gudang melalui SRG-Online dan meminta kode registrasi untuk resi gudang kepada Pusat Registrasi melalui SRG-Online, 2. Dalam hal hasil verifikasi data untuk Resi Gudang memenuhi syarat maka Pusat Registrasi menerbitkan kode registrasi, 7

3. Pengelola gudang mengirimkan bukti konfirmasi telah diterimanya kode registrasi melalui SRGOnline, 4. Pengelola gudang mencetak resi gudang dengan bentuk dan isi sesuai dengan formulir yang telah ditentukan dan menandatanganibersama-sama dengan pemilik barang atau kuasanya, 5. Pengelola gudang menyerahkan resi gudang kepada pemilik barang atau kuasanya, 6. Pengelola gudang memberitahukan telah diterbitkannya resi gudang, 7. Pusat registrasi melakukan penata usahaan resi gudang atas dasar pemberitahuan dari pengelola gudang, 8. Pusat registrasi memberikan identitas pemakai dan kode akses rahasia langsung kepada setiap pemegang resi gudang 4. Syarat Pengelola Gudang untuk dapat Menerbitkan Resi Gudang persyaratan komoditi yang dapat di simpan di Gudang untuk diterbitkan Resi Gudang 1. memiliki daya simpan paling sedikit 3 (tiga) bulan 2. memenuhi standar mutu tertentu 3. jumlah minimum komonditi yang di simpan sesuai aturan

Jumlah minimum komonditi yang dapat di Resi Gudangkan Jumlah minimum komonditi yang dapat di Resi Gudangkan tergantung pada kebijakan dari Pengelola Gudang, namun sebagai contoh untuk Jagung, bila dilihat dari kapasitasmesin pengering yang umum digunakan dilapangan, maka jumlah minimum yang wajar untuk disimpan di gudang adalah kurang lebih 20 ton untuk setiap Resi Gudang yangditerbitka, satu Resi Gudang dapat diterbitkan untuk satu kelompok tani. Pengelola Gudang yang dapat menerbitkan Resi Gudang pada Sistem Resi Gudang hanyalah Pengelola Gudang yang telah memperoleh persetujuan dari Bappebti. Penerbitan persetujuan untuk Pengelola Gudang dilakukan melalui tahapan kelengkapan dokumen-dokumen yang dimiliki, ( termasuk sertifikat manajemen mutu ISO 9001 :2000), memiliki kekayaan bersih tentu serta memiliki gudang yang memenuhi persyaratan kelayakan gudang. Pengawasan yang di lakukan Bappebti, selain dilakukan dengan permeriksaan langsung di lapangan baik yang terjadwal atau pun sewaktu-waktu, juga dilakukan secara elektronis melelui Sistem Informasi Pengawasan yang dapat memantau lalu lintas informasi dalam Sistem resi Gudang setiap saat (realtime). 5. Tugas dan Tanggung Jawab Pengelola Gudang 1) Tugas Pengelola Gudang adalah sebagai berikut : a. menyeleksi dan menilai Gudang; b. mendaftarkan Gudang Terdaftar kepada LKB untuk ditetapkan sebagai Gudang terdaftar; c. menerima komoditas dengan melakukan penilaian kesesuaian komoditas; 8

d. melakukan kemitraan dengan pemilik-pemilik Gudang; e. melakukan kerjasama dengan LKB dan Penyelenggara Pasar Spot; f. membuat perjanjian pengelolaan agunan Komoditas dengan Penerima Dana Komoditas KUKM; g. melakukan penutupan pertanggungan asuransi atas Gudang Terdaftar dalamnya; dan komoditas di

h. mengadministrasikan keluar masuknya dan penempatan komoditas di gudang Terdaftar; i. melaksanakan instruksi LKB untuk kepentingan eksekusi terhadap komoditas milik Penerima Dana Komoditas KUKM yang cidera janji yang pelaksanaannya dikoordinasikan dengan Penyelenggara Pasar Spot; dan j. menyusun dan menyampaikan laporan sediaan komoditas secara harian, mingguan dan bulanan serta rekapitulasinya. 2) Tanggung Jawab Pengelola Gudang adalah sebagai berikut : a. mengelola agunan komoditas; b. menjamin keabsahan dokumen dan isi Resi Gudang; dan c. menjamin keamanan, keutuhan dan kelengkapan komoditas yang disimpan di Gudang Terdaftar sejak proses penerimaan, penyimpanan dan penyelesaian penyerahan Komoditas sesuai perjanjian dengan Penerima Dana Komoditas KUKM. 6. Peran Pengelola Gudang

1. Kepala Gudang
Mengelola penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian logistik dan peralatan sebagai buffer stock maupun sebagai dukungan pada saat tanggap darurat dan paska bencana. Melakukan perencanaan, pengendalian dan pelaporan pergudangan pada saat pra, terjadi, dan paska bencana. Mengamankan pergudangan beserta isi dan lingkungannya dari segala sesuatu yang mengancam keberadan gudang beserta isinya, Mendukung percepatan pendistribusian bantuan logistik dan peralatan untuk penanggulangan bencana

2. Petugas Perencanaan, Pengendalian dan Pelaporan


Merencanakan, mengendalikan dan melaporkansetiap logistik dan peralatan yang masuk, disimpan dan didistribusikan setiap periode tertentu atau secara berkala.

3. Petugas Penerimaan
Mengelola penerimaan, logistik dan peralatan di gudang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

4. Petugas Penyimpanan dan Pemeliharaan


Mengelola penyimpanan dan pemeliharaan logistik dan peralatan. Melakukan penyimpanan dan pemeliharaan logistik dan peralatan di gudang sesuai dengan karakteristik logistik dan peralatan pada tempat yang sesuai.

5. Petugas Pendistribusian
Mengelola pendistribusian logistik dan peralatan. Melakukan pendistribusian logistic dan peralatan sesuai dengan permintaan dan peraturan yang berlaku.

6. Petugas Keamanan
Mengelola keamanan dan pengamanan gudang beserta isi dan petugas pengelola gudang. Melakukan pencegahan dan penanganan keamanan gudang beserta isi dan petugas pengelola gudang dan pelaporan kondisi keamanan gudang setiap saat atau setiap periode tertentu.

10

C. LEASING
1. Arti Leasing Kata leasing berasal dari kata lease (bahasa inggris) yang berarti menyewakan. Oleh sebab itu, maka yang dimaksudkan dengan leasing adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan atau menyewakan barang barang modal untuk digunakan oleh perusahaan lain dalam jangka waktu tertentu dengan criteria adalah sebagai berikut:1. Pembayaran sewa dilakukan secara berkala.2. Masa sewa guna usaha ditentukan minimal 2 tahun untuk barang modal golongan 1. 3tahun untuk barang modal golongan II dan III, dan minimal 7tahun untuk barang modal bangunan. Golongan jenis barang modal tersebut sesuai ketentuan tentang Pajak Penghasilan.3. Adanya hak Opsi, yaitu hak dari perusahaan pengguna barang modal untuk mengembalikan atau membeli barang modal yang disewa pada akhir jangka waktu perjanjian leasing. 2. Direct Finance Lease Transaksi leasing dalam bentuk direct financial lease, sering pula disebut truelease, atau disingkat direct lease aja ; merupakan suatu bentuk transaksi leasing di mana lessor membeli suatu barang atas permintaan pihak lessee dan sekaligus menyewa gunausahakan barang tersebut kepada lessee yang bersangkuatan. Spesifikasi barang yang akan di-lease tersebut termasuk penentuan harga dan penentuan supplier dapat dilakukan oleh lessee. Diberikan pada perusahaan yg baru berdiri, berkembang atau yg akan memperluas usaha yg membutuhkan barang2 modal sementara perusahaan tidak ingin dana jangka pendeknya terpakai. 3. Sales and Lease Back Transaksi leasing dalam bentuk sale and lease back ini pada prisipnya adalah pihak lessee sengaja menjual barang modalnya kepada lessor untuk kemudian dilakukan kontrak sewa guna usaha atas barang tersebut. Lessee dalam hal ini berperan sebagai pihak yang menjual barang untuk digunakan selama masa lease yang disetujui kedua pihak. Metode leasing ini dimaksudkan untuk memperoleh tambahan dana untuk modal kerja. Jadi transaksi leasing di sini bersifat refinancing. 4. Keuntungan Sewa Guna Usaha 1. Penghematan modal Dapat menghemat modal dikarenakan tidak perlu mengeluarkan tunai yang besar pada awal tahun. 2. Flexibilitas Fleksibilitas ini meliputi struktur kontraknya, besarnya pembayaran sewa dan jangka waktu pembayarannya 3. Sebagai sumber dana

11

4.

5.

6.

7. 8.

Leasing merupakan salah satu sumber dana bagi perusahaan-perusahaan industri maupun perusahaan-perusahaan komersillainnya. Mekanisme untuk untuk memperoleh dana yaitumelalui sale and lease back atas asset tersebut. On atau Off Balance sheet Kemudahan dalam pembukuan dapat disesuaikan dengankebutuhan, bisa dibukukan dengan menggunakan on atau offbalance sheet. Menguntungkan cash flow Fleksibilitas dari penentuan besarnya sewa sangatmenguntungkan cash flow, karena dapat disesuaikan dengankemampuan cash flow yang ada. Menahan pengaruh inflasi Dalam keadaan inflasi, lessee mengeluarkan biaya sewa yangsama. Dengan demikian niali riil dari sewa tersebut telahberkurang. Dapat dikatakan bahwa lessee membayarmembayar hari ini dengan dengan perhitungan niali matauang kemarin. Bebas beban pajak dan biaya seperti pajak kekayaan,depresiasi. Bebas dari kewajiban mengurusi laporan investasi, barang bekas, dan lain-lain.

5. Mekanisme Leasing a. Direct Finance Lease

Keterangan : 1. Nasabah memilih/menentukan barang modal pada supplier 2. Nasabah mengajukan Permohonan pembiayaan pada PT GSMF 3. PT GSMF menerima kontrak pembelian 4. Persetujuan & Pembuatan Perjanjian 5. Pengiriman Barang dari supllier kepada Nasabah 6. PT GSMF Melakkukan Pembayaran 7. Penutupan Asuransi

12

b. Sales and Lease Back

Keterangan : 1. Nasabah Menngajukan Permohonan Pembiayaan kepada PT GSMF 2. Kontrak pembelian barang & Perjanjian sewa guna usaha 3. PT GSMF melakukan pembayaran kepada nasabah 4. Penutupan Asuransi

13