Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dilakukan pemetaan Geologi Foto ini adalah supaya para mahasiswa atau praktikan dapat melalukan pemetaan dengan menggunakan foto udara, yang mana kenampakan foto uadar ini lebih terlihat srtereomodel dibandingkan dengan menggunakan peta topografi, namun dalam pemetaan geologi foto ini juga tetap menggunakan peta topografi. Dalam hal ini kita harus dapat menginterpretasikan foto udara tersebut dan kemudian kita mencocokkannya dengan di lapangan. Dalam pemetaan geologi foto ini tidak hanya mengamati tentang kenampakan-kenampakan morfologi yang ada tetapi juga struktur-struktur geologi yang ada bahkan litologi yang ada pada daerah pemetaan ini sendiri. I.2. Letak dan Kesampaian daerah a. Letak Letak dari daerah pemetaan kelompok XI berada di Kecamatan Wates dan Kecamatan Pengasih daerah Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. b. Kesampaian Daerah Pemetaan Untuk mencapai daerah pemetaan mahasiswa menggunakan kendaraan berupa sepeda motor yang berjumlah tiga buah. Selain itu pada daerah pemetaan tertentu mahasiswa juga harus berjalan kaki karena daerah pemetaan tidak dapat dilalui oleh kendaran yang kami gunakan namun jarak yang ditempuh tidak telalu jauh. I.3. Waktu Perjalanan pemetaan ini dilakukan dalam beberapa tahap ke lapangan yang tidak berurutan, yaitu tanggal 31 Oktober 2004 dengan menempuh 5 STA dan lapangan lagi pada tanggal 29 November 2004 menempuh 6 STA dan ke lapangan terakhir pada tanggal 5 Desember 2004 dengan menempuh 2 STA

I. 4.

Peralatan Dalam melakukan Pemetaan Geologi Foto ini kami menggunakan alat-alat

yang diperlukan waktu sebelum ke lapangan yaitu ketika pengamatan foto uadar di Laboratorium, alat-alat yang dipakai adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 1. Alat tulis dan penggaris OHP Marker Transparansi Selotip Kalkulator Kompas Geologi Digunakan untuk mengukur atau menentukan besar sudut kemiringan lapisan, kelerengan, selain itu juga digunakan sebagai bantuan untuk menentukan lokasi pengeplotan, dan juga sebagai penentu arah. 2. Palu Geologi Digunakan untuk memecah sampel batuan yang akan diambil sebagai sampel selain itu juga digunakan sebagai pembanding ketika membuat sketsa maupun dalam pembanding ketika di foto menggunakan kamera. 3. 4. Alat tulis Untuk menulis data-data dilapangan HCl Sebagai zat penguji apakah dalam batuan yang diambil mengandung material karbonat atau tidak. 5. Peta Topografi Digunakan untuk menentukan lokasi pengamatan dan fungsi utama dari peta itu sendiri 6. 7. Plastik Digunakan untuk tempat sanpel batuan yang diambil Buku Lapangan Digunakan untuk mencatat data-data yang diambil pada tiap-tiap stasiun pengamatan di lapangan dan membuat sketsa ketika dilapangan 8. Kamera Untuk mengambil gambar ketika di lapangan

Sedangkan alat-alat yang kami gunakan ketika di lapangan antara lain :

I. 5. Metode Penelitian Seluruh tahapan penelitian dibagi dalam tiga tahapan utama, yaitu : 1. Tahap persiapan - Menyiapkan peta topografi daerah pemetaan dan foto udara daerah pemetaan - Mempelajari peta geologi bersistem Jawa Lembar Jogjakarta 1408-2 dan 1407-5, skala 1:100.000 (Wartono Rahardjo, Sukandarrumidi, dan Rosidi) - Mempelajari beberapa pustaka yang dapat berupa text book serta publikasi lainnya yang berhubungan dengan daerah interpretasi. - Menginterpretasikan foto udara daerah pemetaan sehingga dapat membuat peta geologi, peta geomorfologi, pola penyaluran, tabel geologi dan tabel geomorfologi dari foto udara - Membuat Peta Tentatif sebagai data sekunder sebelum ke lapangan 2. Tahap penelitian Setelah tahap persiapan selesai dilakukan, maka tahapan selanjutnya adalah survei ke daerah pemetaan yang terletak di daerah Wates, kecamatan Wates dan Kecamatan pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mendapatkan data-data yang diperlukan sehihngga dapat penginterpretasian daerah pemetaan. Pengukuran paralaks dan beda tinggi, pengukuran luas dengan menggunakan ketiga metode pengukuran yang dilakukan di laboratorium Geo Dinamik sebagai lampiran lapran resmi 3. Tahap penyelesaian Tahap penyelesaian merupakan tahap terakhir yang berupa penyusunan peta tentatif setelah mendapatkan hasil data-data di lapangan daerah Kecamatan Wates dan Kecamatan Pengasih, kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta Peta Geologi dan laporan resmi dalam bentuk buku. dilakukan

BAB II GEOMORFOLOGI DAERAH PEMETAAN


II.1. Geomorfologi Regional daerah Pemetaan Secara fisiografis, kabupaten Kulon Progo tergolong dalam daerah yang relatif datar, meskipun dikelilingi pegunungan yang sebagian besar terletak pada wilayah utara, secara rinci luas wilayah Kulon Progo adalah sebagai berikut: 17,58 % berada pada ketinggian < 7 m di atas permukaan laut, 15,20 % berada pada ketinggian 8 - 25 m di atas permukaan laut, 22,85 % berada pada ketinggian 26 - 100 m di atas permukaan laut, 33,00 % berada pada ketinggian 101 - 500 m di atas permukaan laut dan 11,37 % berada pada ketinggian > 500 m di atas permukaan laut. Jika dilihat dari kemiringannya, 58,81 % dari seluruh wilayahnya memiliki kemiringannya < 15 , 18,73 % kemiringannya antara 16 - 40 dan 22,46 % kemiringannya > 40 ( www.kulonprogo.go.id ) Daerah Kulon Progo ini dahulu berbentuk kubah atau dome yang disebabkan oleh tenaga tektonik yang besar, terjadi sangat lama dan merupakan suatu pengangkatan ( uplift ). Pada bagian atas kubah masih terdapar peneplain yang lama disebut sebagai Plato Djonggrangan, begitu pula dengan lereng bagian selatan masih terdapat breksi volkanik yang membentuk sabuk melingkar. Bagian utara pegunungan Kulon Progo dipotong oleh sebuah gawir dan merupakan suatu peralihan antara zona selatan dan zona tengah yang pada dasarnya merupakan pegunungan Karang Bolong berupa tebing terjal yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Sedangkan pada bagian selatan berbatasan dengan Idjo Pass yang berhubungan dengan pegunungan yang terletak pada zona tengah. Bagian timur Kulon Progo juga dibatasi oleh dataran pantai Samudera Hindia dan bagian barat laut berhubungan dengan Pegunungan serayu selatan. Menurut relief dan topografinya, daerah Kulon Progo dibagi menjadi tiga satuan morfologi yang meliputi: 1. Sataun perbukitan berelief terjal 2. Satuan perbukitan berelief sedang 3. Satuan dataran rendah Perkembangan satuan pegunungan Kulon Progo tidak dipengaruhi oleh kegiatan volkanik dari gunung merapi. Menurut Van Bemmelen ( 1949 ), morfologi Kulon

Progo bagian tepi terdiri dari batuan beku andesit dan breksi vulkanik, serta sebagian tertutup batugamping berumur Eosen. Daerah Kulon Progo dan sekitarnya menurut Van Bemmelen ( 1949 ) dibagi menjadi lima satuan geomorfologi, yaitu : 1. Satuan Pegunungan Kulon Progo Penyebarannya memanjang dari selatan ke utara dan menempati bagian barat Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketinggiannya antara 100 1200 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng antara 15o 60o Pemanfaatan lahan didaerah ini digunakan sebagai perkebunan, sawah, pemukiman dan terdapat waduk 2. Satuan Perbukitan Satuan ini memiliki penyebaran satuan yang sempit, satuan ini terpotong oleh sungai Progo yang memisahkan wilayah Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Bantul. Satuan ini meliputi daerah kecamatan Pengasih dan Sentolo. Daerah satuan ini relatif bergelombang dengan ketinggian antara 50 500 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng antara 13o 17o. 3. Satuan Teras Progo Satuan ini terletak di sebelah utara satuan perbukitan Sentolo dan sebelah timur satuan pegunungan Kulon Progo yang meliputi Nanggulan dan Kalibawang dan terutama diwilayah tepi Kulon Progo. Daerah ini telah mengalami pengangkatan yang intensif yang diperlihatkan oleh adanya teras-teras. 4. Satuan Dataran Alluvial Satuan ini penyebarannya memanjang dari barat sampai timur meliputi Kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Galur dan Sebagian kecamatan Lendah yang merupakan dataran rendah dengan kemiringan lereng yang relatif landai. Pemanfaatan lahan sebagian besar digunakan untuk persawahan dan pemukiman. 5. Satuan Dataran Pantai Satuan dataran pantai ini masih dibagi lagi menjadi dua subsatuan yang terdiri dari :

a.

Subsatuan Gumuk Pasir Penyebarannya memanjang di sepanjang pantai selatan Yogyakarta yang meliputi Pantai Glagah dan Pantai Congot dengan sungai yang bermuara di Pantai Selatan adalah Sungai Serang dan Sungai Progo. Gumuk pasir ini terbentuk di sepanjang pantai akibat adanya aktivitas angin yang mengendapkan material-material berukuran pasir yang dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara di pantai.

b.

Subsatuan Dataran Alluvial Pantai Terletak disebelah utara subsatuan gumuk pasir yang tersusun oleh material-material berukuran pasir halus yang berasal dari subsatuan gumuk pasir oleh kegiatan angin. Pada daerah ini dijumpai sebagian gumuk pasir yang digunakan untuk persawahan dan pemukiman.

II.2.

Geomorfologi Interpretasi Foto Udara Dalam pengamatan geomorfolofi dengan menggunakan foto udara maka

dapat diinterpretasikan bahwa daerah pemetaan yaitu Kecamatan Wates dan Kecamatan Pengasih mempunyai 3 satuan morfologi yaitu bentang alam struktural, bentang alam fluvial dan bentang alam alluvial. Bentang alam struktural ini terletak di bagian barat laut foto udara dan peta topografi. Morfologi struktural ini mempunyai ketinggian dari 200 meter sampai dengan 1400 meter setelah diukur dengan metode paralaks dan beda tinggi. Bentang alam fluvial terdapat pada pinggiran sungai dengan jarak tindak lebih dari 10 meter dari pinggiran sungai. Bentang alam ini meliputi adanya bar deposit ( Chanel bar dan point bar ), selain itu juga terdapat adanya teras sungai, serta adanya meander. Meander yang kami interpretasikan dengan menggunakan foto udara terdapat pada alirang sungai serang baik pada hulu maupun pada hilir sungai. Bentang alam alluvial merupakan suatu dataran rendah yang merupakan dataran rendah yang ada di kecamatan Pengasih dan Wates. Dilihat dengan menggunakan foto udara, dataran alluvial ini dikelilingi oleh suatu perbukitan struktural yang berada di barat laut, tenggara dan timur laut. Sebelah barat laut dibatasi dengan morfologi struktural yang berlitologi napal pasiran, breksi andeist dan andesit, sedangkan pada bagian tenggara dan timur laut di batasi dengan perbukitan struktural berelief rendah yang berlitologi batugamping dan napal pasiran.

II.3.

Geomorfologi Setelah dilapangan Geomorfologi di daerah pemetaan dapat dibagi menjadi menjadi bebera

satuan morfologi, yaitu : A. 1. Satuan Bentang Alam Struktural Satuan Perbukitan Berlereng Terjal Satuan geomorfologi pada daerah ini berupa perbukitan dengan morfogenesis struktural pada satuan ini juga terdapat proses geologi berupa proses eksogenik yaitu berupa erosi. Pada satuan ini ditemukan singkapan berupa singkapan tubuh andesit. Bedasarkan data di lapangan bahwa singkapan Andesit ini dapat diinterpretasikan bahwa memiliki dua kemungkinan asal yaitu berasal dari aktifitas gunung api yang dulu terdapat di Kulon Progo yang kini telah terdenudasi. Kegiatan vulkanisme dari Gunung Menoreh, Gunung Gajah, dan Gunung Ijo yang berupa letusan dan dikeluarkannya material-material piroklastik dengan ukuran dari kecil hingga blok, yang berdiameter lebih dari 2 meter. Kemudian material ini dikenal dengan formasi Andesit Tua karena material vulkanik itu bersifat andesitik, dan terbentuk sebagai lava andesit dan tuf andesit.

Foto 1 Foto yang menunjukkan perbukitan berelief terjal Kamera menghadap ke Barat Daya

Potensi geologi negatif yang terdapat pada daerah ini adalah berupa gerakan massa seperti tanah longsor karena terletak pada perbukitan berlereng terjal selain itu adanya gerakan massa. Potensi yang bersifat positif dari daerah ini adalah untuk daerah perkebunan karena dilihat dari litologi yang merupakan

andesit yang telah mengalami pelapukan yang lebih lanjut dan tata guna lahan daerah ini sebagian besar oleh masyarakat sekitar dimanfaatkan sebagai daerah perkebunan karena daerah ini memiliki kondisi yang subur. Selain itu daerah ini juga dimanfaatkan sebagi daerah pemukiman penduduk 2. Satuan Perbukitan Berlereng Curam Struktural-Denudasional Satuan perbukitan berlereng curam sedang struktural-denudasional pada daerah yang dipetakan terletak di bagian tenggara, timur, timur laut, serta barat laut peta. Satuan ini memiliki pelamparan sebesar 34,4% dengan kelerengan 5,7 sampai 12 sehingga menurut klasifikasi Verstappen dan Zuidam (1969) daerah ini tergolong berlereng landai sampai curam sedang. (lihat foto 2)

Foto 2 Kenampakan perbukitan berlereng Curam Sedang Struktural-Denudasional Kamera menghadap ke Timur

Pola penyaluran yang berkembang pada daerah ini antara lain subdendritik, subparalel-dendritik, subparalel, dan trellis. Subdendritik Pola penyaluran ini berkembang di daerah timur laut peta, yaitu di daerah Kalipetir, Subparalel Pola penyaluran ini berkembang di daerah pada baratlaut peta, yaitu di daerah Dobangsan. Pola penyaluran ini terbentuk pada daerah yang

memiliki kelerengan menengah atau terkontrol oleh bentuklahan yang subparalel. 3. Satuan Geomorfologi Berelief landai Satuan geomorfologi ini tergolong dalam Formasi Sentolo yang diperkirkan berumur Miosen bawah sampai Pleistosen. Batuan penyusun daerah ini umumnya tergolong dalam batuan karbonat, yaitu batugamping, batunapal pasiran, batupasir napalan, dan batugamping berfosil. Adanya batuan-batuan tersebut mengindikasikan bahwa daerah ini dulu merupakan dasar laut dangkal yang kemudian terangkat oleh tenaga endogenik hingga membentuk tinggian seperti sekarang ini. Kelerengan yang tidak terlalu curam disebabkan litologinya yang mudah mengalami proses-proses denudasional, yaitu pelapukan kimiawi dan erosi. Satuan geomorfologi pada daerah ini berupa perbukitan dengan morfogenesis struktural. Pada satuan ini terdapat proses geologi yang tampak yaitu berupa proses eksogenik berupa pengangkatan. Sumber daya geologi yang ada berupa tambang mangan dimana mangan tersebut telah berasosiasi dengan batugamping dan pada daerah Selotanggung, mangan ini berasosiasi dengan batunapal. Secara umum daerah ini memiliki potensi tata guna lahan sebagai tambang rakyat, karena daerah ini memiliki litologi berupa batugamping berlapis dan ada beberapa tempat yang batugamping-nya telah mengalami pergantian oleh unsurunsur logam dimana unsur logam tersebut didominasi oleh unsur mangaan.

Foto 3 Foto yang menunjukkan satuan geomorfologi berelief landai Kamera menghadap ke Timur

B.

Satuan Dataran Alluvial Satuan dataran alluvial dari daerah yang dipetakan memiliki pelamparan sebesar

54,5%, dengan relief yang halus, dan kelerengan 0-0,59. Sehingga menurut klasifikasi Verstappen dan Zuidam (1969) daerah ini tergolong datar.(lihat Foto 4)

Foto 4 Kenampakan satuan Dataran Alluvial yang digunakan sebagai lahan pertanian Kamera menghadap ke Selatan

Pada satuan dataran aluvial ini tidak dijumpai adanya pola penyaluran. Hal ini disebabkan pada daerah yang relatif datar tidak berkembang suatu pola penyaluran. Satuan dataran aluvial ini mempunyai relief halus yang datar, yang merupakan hasil deposisi material dari perbukitan di sekitarnya. Sehingga pada daerah ini hampir tidak ada kontrol struktur yang membentuk dataran aluvial ini. C. Satuan Fluvial Satuan dataran fluvial dari daerah yang dipetakan, terletak di kelerengan 0-0,59, sehingga menurut klasifikasi Verstappen (1969) daerah ini tergolong datar. Satuan dataran fluvial ini mempunyai relief yang datar, yang merupakan hasil pengangkutan material-material yang dibawa oleh Kali Serang. Material tersebut tersebut kemudian mengendap karena energi pengangkutan yang dimiliki Kali Serang telah berkurang. Endapan-endapan tersebut kemudian membentuk bar sekitar Kali dan Zuidam Serang. Satuan ini memilik pelamparan sebesar 11,1% dengan relief halus, dan

10

deposit yaitu point bar

jika endapan tersebut berada di tepi sungai

ddan

channel bar jika material tersebut diendapkan di tengah sungai. Kenampakan fluvial lainnya yang terkait dengan energi sedimentasi dari sungai ini misalnya kenampakan braided stream yang terbentuk pada bagian hilir sungai yang memiliki slope hampir datar sampai datar. Sungai teranyam juga terbentuk karena erosi yang berlebihan pada bagian hulu sungai sehingga terjadi pengendapan pada bagian alurnya dan membentuk endapan gosong tengah, dikarenakan banyak terdapat endapan gosong tengah maka seolah-olah alirannya memberikan kesan teranyam. Di daerah ini juga terdapat dataran banjir dan teras-teras sungai. Dataran banjir adalah dataran yang masih dapat dicapai oleh air sungai, jika dataran tersebut tidak dapat dicapai oleh aliran sungai, maka akan terbentuk teras sungai. Teras sungai pada Kali Serang ada yang berpasangan (lihat Foto 5), namun ada juga yang berbentuk teras tunggal. Di Kali Serang diperkirakan terdapat struktur berupa sesar yang mengakibatkan sungai tersebut mengalami pembelokan. Namun secara umum daerah ini terbentuk bukan karena adanya struktur, tapi lebih disebabkan pengendapan atau sedimentasi material-material yang dibawa oleh Kali Serang.

Foto 5 Kenampakan bentang alam fluvial (point bar) di Sungai Serang Kamera menghadap ke Selatan

Pada satuan dataran fluvial ini relatif datar tidak berkembang suatu pola penyaluran. Pada daerah ini hanya terdapat sungai yang berstadia dewasa yaitu Kali Serang, yang dicirikan bentuk lembahnya yang relatif U karena

11

erosi lateralnya lebih dominan dibandingakan erosi vertikal, adanya dataran banjir, teras sungai, serta bar deposit. Daerah aliran kali Kokap Daerah ini memiliki morfologi berupa sungai dengan tipe aliran sungai ini adalah perrenial karena berair sepanjang tahun. Secara umum daerah aliran sungai Kokap merupakan sungai yang terkontrol oleh kekar. Sungai ini pada aliran terdapat material sedimen yang berupa breksi andesit yang kemungkinan berasal dari gunung api yang berada pada pegunungan Kulon Progo yang kini telah terdenudasi kemungkinan yang lain adalah berasal dari hasil letusan gunung api merapi tua. Daerah aliran sungai Nagung Daerah ini bermorfologi berupa sungai dengan stadia dewasa dengan tipe aliran sungai ini adalah perenial karena berair sepanjang tahun. Pada stasiun pengamatan 7 kami mengamati sungai ini terdapat tanggul alam dan juga terdapat dataran banjir, selain itu kami juga menemukan adanya point bar dan channel bar pada sungai walaupun tidak dalam ukuran dan jumlah yang begitu besar. Litologi endapan yang terdapat pada daerah aliran sungai ini berupa material karbonat. Yang kemungkinan endapan tersebut berasal dari proses transportasi material yang berupa batugamping berlapis. Batugamping ini berasal dari perbukitan berelief landai yang memang berlitologi batugamping berlapis. Daerah aliran sungai Serang Daerah ini bermorfologi berupa sungai berstadia dewasa karena dalam pengamatan dilapangan menemukan daerah pinggiran sungai berupa dataran banjir dan juga terdapat suatu meander bahkan juga ditemukan point bar dan channel bar dengan tipe aliran sungai ini adalah perenial karena berair sepanjang tahun. Pada aliran sungai serang bagian bawah secara tiba-tiba membelok. Kami interpretasikan adanya kekar yang menyebabkan terjadinya pembelokkan sungai itu. Litologi dari endapan yang terdapat pada daerah aliran sungai ini berupa material karbonat. Material ini kemungkinan berasal dari proses transportasi material yang berupa

12

batugamping berlapis. Batugamping ini berasal dari perbukitan berelief landai yang berlitologi batugamping berlapis.

BAB III STRATIGRAFI DAERAH PEMETAAN


III.1. Stratigrafi Regional Kulon Progo Dalam statigrafi regional mengenai daerah pemetaan, dibahas umur batuan berdasarkan batuan penyusunnya, untuk itu perlu diketahui sistem umur yang ditentukan batuan penyusun tersebut. Sistem tersebut antara lain: 1. Sistem Eosen Batuan penyusun yang menyusun sistem ini adalah batupasir, lempung, napal, napal pasiran, batugamping, serta banyak kandungan fosil foraminifera maupun moluska. Sistem Eosen dikenal dengan Nanggulan Group. Tipe dari sistem ini misalnya di desa Kalisongo, Nanggulan Kabupaten Kulon Progo yang secara keseluruhan ketebalannya mencapai 300 m. Tipe ini dibagi lagi menjadi empat yaitu Yogyakarta beds, Discocyclyna beds, Axiena beds, dan Napal globigerina, yang masing-masing tersusun oleh batupasir, napal, napal pasiran, lignit dan lempung. Disebelah timur Nanggulan group ini berkembang fasies gamping yang kemudian dikenal sebagai gamping Eosen yang mengandung fosil foraminifera, coelenterata, dan moluska. 2. Sistem Oligosen Miosen Pada sistem Oligosen Miosen terjadi kegiatan vulkanisme yang memuncak dari Gunung Menoreh, Gunung Gajah, dan Gunung Ijo yang berupa letusan dan dikeluarkannya material-material piroklastik dengan ukuran dari kecil hingga blok, yang berdiameter lebih dari 2 meter. Kemudian material ini dikenal dengan formasi Andesit Tua karena material vulkanik itu bersifat andesitik, dan terbentuk sebagai lava andesit dan tuf andesit. Sedang pada sistem Eosen, diendapkan pada lingkungan laut dekat pantai yang kemudian mengalami pengangkatan dan perlipatan dilanjutkan

13

dengan penyusunan laut. Bila dari hal tersebut maka sistem Oligosen Miosen dengan formasi andesit tuanya terletak tidak selaras dengan sistem Eosen yang ada dibawahnya. Diperkirakan ketebalan formasi ini sekitar 600 meter. Formasi andesit tua ini membentuk daerah perbukitan dengan puncak-puncak yang runcing.

3.

Sistem Miosen Setelah pengendapan formasi andesit tua mengalami penggenangan oleh air

laut atau penurunan sehingga formasi ini ditutupi oleh formasi yang lebih muda secara tidak selaras. fase pengendapan ini berkembang dengan batuan penyusunnya berupa batugamping reef, napal, tuff breksi, batupasir, batugamping globigerina, dan lignit yang kemudian disebut dengan formasi Djonggrangan, selain itu juga berkembang formasi Sontolo yang formasinya terdiri dari batugamping, napal, dan batugamping konglomeratan. Formasi Sentolo sering dijumpai berada di atas formasi Jonggrangan. Formasi Jonggrangan dan formasi Sentolo sama-sama banyak mengandung fosil foraminifera kecil yang menunjukan umur Burdigalian-Pliosen. Formasi-formasi tersebut mempunyai persebaran yang luas dan pada umumnya membentuk daerah perbukitan dengan puncak yang relatif bulat. Di akhir kala Pleiosen daerah ini mengalami pengangkatan dan pada kuarter terbentuk endapan fluviatil dan vulkanik dimana pembentukan tersebut berlangsung terus-menerus hingga sekarang yang letaknya tidak selaras diatas formasi yang terbentuk sebelumnya. Menurut Van Bemmelen ( 1949 ), dijelaskan bahwa stratigrafi rangkaian pegunungan Kulon Progo dimulai dari yang tertua sampai yang termuda yaitu sebagai berikut: 1. Formasi Nanggulan Formasi ini terdiri dari batupasir dengan sisipan lignit, napal pasiran, batulempung dengan konkresi lignit, sisipan napal dan batugamping, batupasir dan tuff, kaya akan forraminifera dan moluska. Lingkungan pengendapannya berupa litoral pada fase gunung laut. Menurut Winggoprawiro ( 1973 ) dan Purwaningsih ( 1974 ) bagian bawah formasi Nanggulan tersusun terutama oleh endapan laut dangkal, batupasir serpih berselingan dengan napal dan lignit. Bagian atas tercirikan oleh batuan yang bersifat napalan yang menunjukkan endapan laut yang lebih dalam dengan fasies beritik. Berdasarkan atas studi forraminifera, Plankton formasi Nanggulan 14

ini mempunyai kisaran umur antara Eosen tengah sampai Oligosen atas ( Hartono, 1969 ). Formasi ini terbagi menjadi 3 anggota yang lebih kecil lagi : a. Axine Beds Merupakan formasi yang terletak paling bawah dari formasi lainnya dengan ketebalan lapisan 40 meter. Formasi ini terdiri dari batupasir dan batulempung dengan sisipan lignit. Lapisan ini termasuk kedalam fasies litoral dan banyak mengandung fosil Pelecypoda. b. Yogyakarta Beds Merupakan bagian yang terletak pada bagian atas dari formasi Axinea Beds, ketebalan dari lapisan ini sekitar 60 meter. Lapisan ini terdiri dari batulempung dan batupasir yang kaya dengan fosil Forraminifera besar dan Gastropoda. c. Discocylina beds Formasi ini merupakan formasi yang berada di paling atas yang diendapkan secara selaras diatas formasi Axinea Beds dan Yogyakarta Beds. Formasi ini terdiri dari napal yang terinterklasi dengan batugamping dan batu tufan vulkanik yang kemudian disusul oleh batupasi arkose. Fosil yang khas adalah Discoclyna dengan ketebalan lapisan sekitar 200 meter. 2. Formasi Andesit Tua Terdiri dari dari breksi andesit, tuff, tuff lapilli, aglomerat, dan sisipan lairan lava nadesit. Lavanya terutama terdiri dari andesit hipersten dan andesit augithornblende. Nama andesit tua telah dipakai berulang kali sejak diperkenalkan dalam kepustakaan pada tahun 1896 dan dipakai untuk nama didaerah ini ( Marks, 1957:114 ) Kepingan Tuff Napalan yang merupakan hasil dari rombakan dari lapisan yang lebih tua dijumpai di kaki Gunung Mudjil di dekat bagian bawah formasi ini. Fosil Plankton pada kepingan ini dikenali oleh Purwaningsih ( 1974:12 ) berupa Globigerina ciperoensis BOLLI, Globigerina yugaensis WEINZIERL dan APPLIN, dan Globigerina praebulloides BLOW menunjukkan umur Oligosen atas. Formasi andesit tua ini merupakan formasi yang diendapkan tidak selaras diatas formasi Naggulan dan berumur Oligosen sampai Miosen. Ketebalannya kirakira 660 meter. 15

3.

Formasi Djonggrangan Formasi ini terdiri dari batugamping berlapis, batugamping koral, konglomerat, napal tuffaan. Bagian bawah terdiri dari konglomerat yang ditindih oleh napal tuff dan batupasir gampingan dengan sisipan lignit. Batuan ini ke arah atas berubah menjadi batugamping berlapis dan batu gamping berkoral. Batugamping membentuk bukit berbentuk kerucut di sekitar desa Jonggrangan. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras di atas formasi Andesit Tua dan Berumur Miosen bawah sampai Miosen tengah. Dijelaskan pula bahwa ada perbedaan dalam hal lingkungan pengendapannya antara formasi Djonggrangan dengan formasi Sentolo. Formasi ini dianggap berumur Miosen bawah, dan di bagain bawah berjari-jemari dengan batuan bawah dengan ketebalan formasi sentolo ( Pringgiprawiro, 1968: 7 ). Ketebalannya kira-kira 250 meter. Lingkungan pengendapan pada formasi Sentolo adalah neritik.

4.

Formasi Sentolo Terdiri dari batugamping dan batupasir napalan. Bagian bawah formasi ini terdiri dari konglomerat alas yang ditumpuki oleh napal tuff dengan sisipan tuff kaca. Batuan ini ke arah atas berangsur-angsur menjadi batugamping berlapis yang kaya foraminifera. Beberapa Spesies yang khas seperti Globigerinatella insueta CUSHMAN dan STAINFORTH, Globigerinoides sicanus DESTEFANI, Globorotella peripheroronda BLOW dan BANNER dan Hastigerina praesiphonifera BLOW ditemukan pada bagian bawah formasi ini oleh Darwein Kadar ( 1975 ) yang mengambil kesimpulan setelah melakukan penelitian terhadap fosil foraminifera bahwa formasi ini berkisar antara awal Miosen sampai Pleiosen ( zona N 7 sampai zona N 21 ), dimana ketebalnnya kira-kira 950 meter. Harsono ( 1968 ) menjelaskan, bahwa formasi ini terdiri dari napal, batugamping yang menunjukkna fase neritik, dengan ketebalan mencapai 250 meter. Formasi ini berumur Miosen bawah sampai Pleiosen.

5.

Endapan Alluvial dan Fluvial Endapan ini berumur paling muda dan terbentuk pada zaman kuarter, dimana proses-proses pembentukannya masih berlangsung sampai sekarang yang letaknya tidak selaras di atas formasi sebelumnya. Litologinya terdiri dari lempung, pasir, kerikil, dan kerakal yang bercampur menjadi batu. Umur Formasi / grup 16 Litologi

Kuarter

Fluviatil endapan vulkanik

Bongkah, kerakal, pasir, tuff, dan romabakan dari formasi yang lebih tua Batu gamping, napal, lenda lensavitric tuff, batu paisr konglomeratan Batu gamping reef, batu gamping

Sentolo Pleiosen Jonggrangan Aquitanian Old Andesite Napal globerina Discocyclina Djogjakartae

globerina, napal, tuff breksi batu pasir, lignit Lava andesuit, tuff breksi Napal batu pasir, napal, pasiran napal dan lempung

Eosen atas

Axinea batu pasir, napal, lignit Tabel 1 : Stratigrafi Regional Daerah kulon Progo III.2. Stratigrafi hasil interpretasi foto udara Startigrafi yang dapat kami interpretasikan dengan menggunakan foto udara adalah bahwa daerah pemetaan kami yaitu daerah Kecamatan Wates dan Kecamatan Pengasih mempunyai 3 satuan litologi, yaitu litologi pada dataran alluvial, litologi napal pasiran dan batugamping yang termasuk dalam formasi Sentolo, litologi breksi andesit yang termasuk dalam formasi Djonggrangan, dan paling tua adalah berlitologi Andesit yang termasuk dalam formasi Andesit Tua. Pada formasi paling tua mempunyai litologi berupa batuan beku andesit karena terbentuk dari hasil aktifitas gunung api yang dulu terdapat di Kulon Progo yang kini telah terdenudasi. Formasi ini terdapar pada morfologi struktural berelief terjal. Formasi selanjutnya adalah formasi Djonggrangan yang berlitologi breksi andesit. Formasi ini terletak juga pada morfologi struktural berelief terjal. Litologi pada formasi ini juga diperkirakan terbentuk dari hasil aktifitas gunug berapi. Formasi Sentolo mempunyai litologi berupa pasir napalan dan batugamping. Pada foto udara terlihat ciri-ciri dari suatu bentukan dari bentang alam karst tetapi setelah kami lihat pada peta topografi ternyata bentukan dari bentang alam karst belum terlihat sepenuhnya dengan kata lain formasi sentolo yang terdapat pada daerah

17

pemetaan kami ini belum termasuk dalam bentang alam karst walaupun dalam interpretasi foto udara terlihat sep[erti bentang alam karst. Dataran alluvial mempunyai litologi berupa alluvium yang berasal dari hasil erosi dari pegunungan struktural yang berlitologi breksi andesit, andesit dan juga batugamping serta napal pasiran. Jadi dimungkinkan litologi pada dataran alluvial ini berupa pasir, lempung, kerikil sampai material-material karbonat yang dibawa oleh sungai serang yang melalui formasi Sentolo. III.3. Stratigrafi daerah pemetaan Stratigrafi pada daerah pemetaan ini meliputi beberapa satuan litologi atau beberapa formasi antara lain Formasi Andesit Tua yang berada pada morfologi struktural yang berada diatas formasi Djonggrangan, sedangkan formasi Djonggrangan ini sendiri berada pada daerah morfologi struktural juga dengan litologi berupa breksi andesit. Formasi lainnya adalah formasi Sentolo yang berlitologi berupa batugamping dan pada dataran rendah mempunyai litologi berupa endapan alluvial. 1. Formasi Andesit Tua Formasi ini mempunyai litologi berupa batuan beku yaitu batu Andesit. Berdasarkan data dilapangan bahwa singkapan Andesit ini dapat diinterpretasikan bahwa memiliki dua kemungkinan asal yaitu berasal dari aktifitas gunung api yang dulu terdapat di Kulon Progo yang kini telah terdenudasi. Pada singkapan pada STA 8 menunjukkan adanya struktur yang memotong, sedangkan sebuah hasil dari aktifitas gunung api maka harusnya struktur yang tampak adalah struktur yang menyebar namun dalam singkapan ini struktur yang tampak adalah struktur yang saling memotong. Kemungkinan lain dari singkapan ini adalah berdasarkan adanya struktur yang saling memotong dan berdasarkan komposisi struktur yang ada maka dalam singkapan ini bukanlah suatu hasil dari proses sedimentasi. namun struktur tersebut memiliki komposisi andesit sehingga kemungkinan yang ada pada singkapan tersebut adalah berasal dari hasil ledakan gunung api yang merupakan batuan beku volkanik atau bisa saja merupakan hasil dari intrusi gunung api. Jika dilihat dari strukturnya kemungkinan besar bahwa singkapan itu berasal dari letusan gunung api dan dari mekanisme yang ada dikatakan bahwa struktur yang diakibatkan oleh aktifitas volkanik tidak akan menghasilkan struktur yang saling memotong tetapi saling menyebar ke segala arah. Kemungkinan yang lain 18

yang dapat di analisis adalah adanya struktur yang tampak merupakan dari intrusi karena jika dilihat dari struktur yang saling memotong tadi kemungkinan yang terbesar adalah hasil dari intrusi baik dari intrusi dangkal maupun intrusi menengah. Perkiraan intrusi yang bisa terjadi di sini adalah bisa berupa sill atau dike yang saling berulang sehingga membentuk struktur yang saling memotong. Daerah ini meliputi Kokap, Gunung Kendil, Gunung Jati Sawit, dan Sermo Wetan.

Foto 6 Kenampakan saling memotong dan diperkirakan adalah sill atau dike Kamera menghadap ke Utara

19

Foto 7 Foto yang menunjukkan pelapukan Membola Kamera menghadap ke Utara

Pada STA 7 yang berada di Gunung Kendil, menunjukkan adanya kontak antara Breksi Andesit dengan Andesit yang mana kontak antar batuan ini diperkirakan adalah suatu patahan atau sesar. Pada singkapan ini juga terdapat singkapan yang menunjukkan bahwa batuan di singkapan ini telah mengalami pelapukan dan pelapukan yang terdapat di singkapan ini adalah pelapukan jenis pelapukan membola.

Foto 8 Kontak antara Andesit dengan Breksi Andesit pada STA 7 Kamera menghadap ke Utara

2.

Formasi Djonggrangan Formasi ini berlitologi berupa breksi andesit. Litologi dari breksi andesit ini sendiri dimungkinkan terbentuk seperti cara pembentukan andesit pada formasi Andesit Tua yang juga merupakan hasil dari aktifitas gunung api yang dulu terdapat di Kulon Progo yang telah terdenudasi. Singkapan Breksi Andesit pada STA 6 ini mempunyai fragmen dengan ukuran dari kerakal sampai brangkal dengan matriks berukuran pasir sampai kerikil. Daerah formasi ini antara lain seperti Gunung Kukusan, Gunung Rebab, Kedungtangkil, Kalisepat.

20

Foto 9 Breksi Andesit pada Formasi Djonggrangan Bagian Runcing Palu geologi menghadap ke Utara

3.

Formasi Sentolo Formasi ini mempunyai litologi berupa batugamping dan batupasir napalan. Dari cara terjadinya formasi sentolo ini dulu merupakan dasar laut yang kemudian mengalami pengangkatan, hal ini ditunjukkan dengan litologi batuan yang karbonat. Pada daerah Gunung Gempal dan Kalinongkop yang merupakan STA 1 dan STA2 mempunyai litologi batupasir napalan, dengan arah bidang perlapisan pada STA 1 N 80o E/9o.

Foto 10 Bidang Perlapisan pada STA 1

21

Kamera menghadap ke Selatan

Pada STA 3 yaitu di Dusun Kersan menemukan adanya singkapan yang berupa napal yang termasuk dalam formasi Sentolo dan singkapan ini termasuk dalam satuan geomorfologi struktural berelief sedang. Arah bidang bidang perlapisan pada singkapan ini adalah N 265o E/15o.

Foto 11 Foto singkapan pada STA 3 Bagian Runcing Palu Geologi menghadap ke Utara

Foto 12 Foto Singkapan pada STA 4 kontak antara batugamping berlapis dengan batunapal yang mana batunapal tersebut terkena pemasukan unsur logam yaitu Mangan Kamera menghadap ke Tenggara

Sedangkan pada STA 4 yaitu di Dusun Selotanggung kami menemukan adanya singkapan Batunapal yang juga telah menjadi tambang rakyat. Singkapan ini juga merupakan kontak antara batugamping berlapis dengan batunapal yang 22

merupakan kontak tidakselaras yang berupa pararel unconformity, hal ini dikarenakan antara batunapal dengan lapisan batugamping yang berada diatasnya memiliki perlapisan yang sama dengan arah perlapisan batuan N 270 o E/9o. Pada singkapan ini batunapal terkena proses penggantian dan pemasukan unsur logam, dimana unsur logam tersebut adalah Mangan. Pada STA 8 terdapat suatu sumber daya geologi yaitu adanya tambang Mangan yang mana duku diusahakan secara besar-besaran namun sekarang sudah tidak diusahan kembali karena dinilai tidak ekonomis.

Foto 13 Singkapan batugamping berlapis pada STA 8 Kamera menghadap ke Barat

Foto 14 Bekas Tambang Mangan Kamera menghadap ke Utara

23

Pda STA 9 di dususn Kalipetir dan pada STA 10 di dusun Kembang mempunyai litologi berupa napal pasiran. Litologi pada kedua STA ini masih merupakan kelompok dari Formasi Sentolo yang mempunyai Litologi Batugamping dan Napal Pasiran. Arah kedudukan bidang lapisan pada STA 10 adalah N 130 o E/13o.

Foto 15 Singkapan Napal Pasiran pada STA 10 Kamera menghadap ke Utara

Pada STA 11 yaitu di daerah dusun Pantjaran terdapat singkapan yang sama dengan STA 10 yaitu Napal pasiran dengan arah kedudukan lapisan N 245 o E/10o.

Foto 16 Singkapan Napal Pasiran pada STA 11 Arah runcing Palu Geologi menghadap ke Utara

24

Pada STA 12 di dusun Plugon juga mempunyai litologi yang sama yaitu napal pasiran yang juga merupakan dari formasi sentolo. Arah kedudukan perlapisan batuan N 260o E/19o

Foto 17 Singkapan Napal Pasiran pada STA 12 Arah runcing pada palu geologi ke arah Utara

Sedangkan pada STA 13 yang terdapat di Gunung Dandang mempunyai litologi batugamping pada singkapan ini juga terdapat batugamping yang telah menjadi mineral kalsit. Singkapan ini juga digunakan sebagai tambang rakyat.

Foto 18 Singkapan Batugamping (a) dan juga mineral Kalsit (b) pada STA 13 Bagian runcing palu geologi menunjukkan arah utara

25

4.

Endapan Alluvial Endapan Alluvial yang terdapat pada dataran rendah di Kecamatan Pengasih dan Kecamatan Wates adalah berumur paling muda dan terbentuk pada zaman kuarter, dimana proses-proses pembentukannya masih berlangsung sampai sekarang yang letaknya tidak selaras di atas formasi sebelumnya. Litologinya terdiri dari lempung, pasir, kerikil, dan kerakal yang bercampur menjadi batu. Daerah yang merupakan endapan Alluvial contohnya Wates, Pengasih, Tambak, Djelok dan Pendem. Endapan Alluvial ini kebanyakan digunakan sebagai lahan pertanian seperti sawah dan juga digunakan untuk pemukiman.

Foto 19 Foto Endapan Alluvial di Dusun Tambak yang digunakan sebagai Lahan pertanian yaitu sawah Kamera menghadap ke Selatan

26

BAB IV STRUKTUR GEOLOGI


IV.1. Struktur Geologi Reginal Menurut Van Bemmelen ( 1949 ), secara keseluruhan daerah Kulon Progo mempunyai bentuk kubah yang lonjong yang lebih dikenal dengan nama Oblong Dome dengan diameter berukuran 32 km yang mengarah NNE SSW, dan berukuran 20 km yang mengarah ESW WNW. Sebelah timur dibatasi oleh lembah Progo, sebelah barat laut berhubungan dengan Pegunungan Serayu Selatan dan di sebelah utara berbatasan dengan Pegunungan menoreh dan Dataran Magelang. Di bagian selatan kubah tersebut tertutup oleh batugamping, napal, tuffan yang berlapis ke arah selatan dan tenggara dengan beberapa bagian telah berupa bentuk antiklin dan sinklin yang terpatahkan.kumpulan litologi terakhir ini disebut denan formasi Sentolo. Disamping itu juga ada gerakan tanah terutama di daerah pelamparan formasi Nanggulan di mana gerakannya masih berlangsung sampai sekarang dan mudah diamati gejala-gejala yang ada di lapangan. Karena strukturnya yang berupa dome, maka batuan yang tersingkap memiliki kemiringan yang relatif kecil karena adanya pengangkatan setelah terjadi pengendapan batuan dibawahnya. Kubah ini terjadi setelah jaman Miosen, hal ini dapat dilihat dari tidak ditemukannya perlapisan yang berumur Pliosen-Plestosen. Berdasarkan hasil interpretasi foto udara maka struktur geologi yang ada di daerah Sungai Progo dan sekitarnya adalah berupa kelurusan. Kelurusan yang dijumpai di daerah ini berupa gawir yang memanjang, adanya belokan Sungai Progo, adanya puncak bukit yang memanjang yang dapat berupa sesar. Namun adanya pembelokan aliran sungai yang terdapat di Kulon Progo tersebut sulit dibuktikan sebagai sesar. Secara regional, Jawa merupakan bagian tepi lempeng Benua Eurasia yang merupakan tepi benua aktif. Penunjaman lempeng India-Australia terhadap lempeng Benua Eurasia selama kapur akhir-Oligosen menghasilakan zona penunjaman berarah barat-timur di Jawa Tengah bagian selatan (Daly et al., 1978; Hamilton, 1979; Hamilton 1989,. Rangin et al., 1990; Sukendar, 1974 dalam Sujanto dan Roskamil, 1975)

27

Pegunungan Kulonprogo memliki tiga inti kubah yang terdiri atas tiga gunung api tua dengan komposisi andesit, yaitu Gunung Gajah yang berada di tengah, Gunung Ijo yang berada di bagian sekatan Gunung Menoreh yang berada di bagian utara. Kompleks pegunungan ini mengarah ke utara dan timur dibatasi oleh dataran pantai di Jawa Tengah, di barat laut berhubungan dengan pegunungan Serayu selatan. Pada pegunungan Kulonprogo telah terjadi dua fase pengangkatan. Pengangkatan pertama terjadi pada akhir aktivitas Gunung Menoreh, pada kala Oligosen-Miosen sehingga membentuk struktur lembah. Fase kedua terjadi pada kala Pleistosen, yaitu pada saat pegunungan ini terangkat kembali dan mengakibatkan terbentuknya sesarsesar yang berpola radier. Struktur geologi regional disekitar pegunungan Kulonprogo berupa sesar dan lipatan (Wartono Rahardjo et al., 1995). Berikut ini adalah penjelasan masingmasing struktur: 1. Sesar Sesar yang terbentuk di sekitar pegunungan Kulonprogo dapat dibedakan menjadi dua yaitu, sesar turun dan sesar geser. Dimana kedua sesar ini dapat diketahui dengan kenampakan dimensinya dilapangan sebagai berikut: a.Sesar turun. Sesar turun yang dapat dijumpai dibagian barat-barat laut pegunungan Kulonprogo dengan panjang sekitar 11 km. b. Sesar geser Sesar geser yang dapat dijumpai adalah sesar geser mendatar ke arah kanan. Sesar geser ini berada di sebelah barat laut Pegunungan Kulonprogo, dengan panjang sekitar 11 km. 2. Lipatan Lipatan yang terbentuk adalah sinklin dan antiklin. Secara umum formasi tertua yang terlipat adalah formasi Nanggulan, di selatan Gunung Jonggol, sedangkan formasi termuda yang terlipat adalah formasi Sentolo.

28

IV.2.

Struktur Geologi hasil Intrerpretasi Foto Udara Struktur geologi yang terlihat pada foto udara yaitu adanya kelurusan-

kelurusan pada daerah bermorfologi struktural dan diperkirakan adalah suatu sesar atau patahan maupun adanya kekar. Patahan-patahan yang tampak pada morfologi struktural situnjukkan oleh adanya lereng-lereng terjal. Sedangkan pada daerah berlitologi batugamping maupun napal pasiran diperkirakan adanya kekar-kekar yang tidak dapat terlihat oleh foto udara. Struktur geologi lainnya pada morfologi fluvial terlihat jelas pada kelurusankelurusan pada Sungai Serang dan Sungai-sungai yang ada pada morfologi struktural. Struktur geologi juga nampak jelas pada batas antara formasi Djonggrangan dengan Formasi Sentolo pada bagian tengah foto udara, terlihat jelas terpisahkan oleh adanya patahan sehingga merupakan batas kontak batuan. IV.3. Struktur Geologi Setelah lapangan Kontrol Struktur paling banyak dijumpai terdapat pada daerah dengan morfologi struktural yaitu kontrol sesar, sedangkan pada daerah berlitologi batugamping dan batupasir napalan banyak ditemukan adanya kekar-kekar. 1. Struktur Geologi pada morfologi struktural Banyak dijumpai adanya sesar yang ditunjukkan adanya triangle facet dan igirigir. Kelurusan-kelurusan yang terjadi adalah pada daerah Gunung Kukusan, Kali Biru yang ditunjukkan dengan adanya sungai yang terbentuk dari adanya kontrol struktur patahan ini, Struktur Geologi lainnya juga terlihat di daerah Sermo yang terlihat adanya struktur sesar yang memanjang sehingga membentuk suatu sungai, bahkan sesar ini melewati bendungan yang ada di Waduk Sermo, sesar ini dimungkinkan adalah Dip Slip Fault yang memperlihatkan adanya perpindahan yang relatif yaitu Up ( naik ) dan Down ( turun ). Kali Pantaran yang terdapat di lereng Gunung Malaban juga terlihat jelas dari peta topografi maupun foto udara terbentuk dari adanya suatu patahan atau sesar. Selain itu juga terdapat di lereng Gunung Bibis terdapat sesar yang memanjang dari lereng Gunug Bibis sampai Wonokembang. Patahan juga terlihat jelas pada peta topografi dan foto udara yaitu batas antara formasi Djonggrangan dengan Formasi Sentolo yaitu sesar yang memisahkan Gunung Dandang yang berlitologi batugamping dengan dusun Blubuk yang belitologi breksi andesit. Kali Gede dan Kali Ngrantjang juga terbentuk dari adanya struktur sesar.

29

Kali Serang juga memisahkan formasi sentolo yang berlitologi batupasir napalan dengan batugamping. Ditunjuukan pada Gunung Gamping dipisahkan dari Dusun Djaten yang berlitologi batupasi napalan, Gunung Cangkir yang berlitologi batupasi napalan tersesarkan dengan Gunung Dandang yang mana sesar ini juga membentuk sungai yaitu Sungai Serang. Patahan juga terdapat di selatan dusun Pucanggading dan memanjang sampai dusun Kebonrejo. Struktur geologi di daerah ini adalah Dip Slip Fault yang memperlihatkan adanya perpindahan yang relatif yaitu Up ( naik ) dan Down ( turun ) dan bergeser ke kiri, pergeseran ini kearah utara selatan. Sesar-sesar yang sama juga terdapat di lereng Gunung Jeruk memanjang sampai dusun Bletok dengan arah pergeseran tenggara barat laut; dan juga terdapat pada lereng Gunung Roto sampai Dusun Ngulakan dengan arah pergeseran tenggara barat laut.

Foto 20 Foto yang menunjukkan adanya sesar yang ada di Waduk Sermo Kamera menghadap ke Barat Laut

Struktur Geologi juga terdapat pada perbukitan berelief landai dibagian tenggara kota Wates. Struktur geologi di perbukitan ini adalah adanya Struktur lipatan yang berarag tenggara barat laut. Sayap sinklin berada di sebelah barat laut dan antiklin berada di bagian barat daya. Sayap sinklin berada pada STA 1 dengan kedudukan bidang perlapisan N 80o E/ 9o dan sayap sinklin yang berlawanan kami temukan pada 30

STA 2 yaitu di dusun Gotakan dengan kedudukan perlapisan batuan N 260 o E/ 11o sedangkan sayap antiklin paling tenggara dengan kedudukan perlapisan batuan N 75 o E/ 8o. 2. Struktur Geologi pada daerah Fluvial Pada satuan ini seperti yang telah dijelaskan bahwa kontrol struktur yang dijumpai berupa sesar yang hanya mengontrol pembelokan Kali Serang. Sedang kontrol struktur yang mempengaruhi bentuk morfologi satuan ini tidak ada. Dengan demikian, secara keseluruhan dapat dikatakan tidak ada kontrol struktur yang mempengaruhi pembentukan satuan dataran fluvial ini. Kelurusan juga terlihat di cabang hulu sungai Serang di sebelah barat dusun Paingan. Pada peta topografi jelas sekali bahwa kelurusan ini memanjang dari hulu sungai pada Formasi Andesit Tua dan melewati Formasi Djonggrangan dan Formasi Sentolo dan dimungkinkan kelurusan ini disebabkan oleh adanya kekar. 3. Struktur Geologi pada Dataran Alluvial Pada dataran alluvial ini tidak begitu jelas adanya struktur geologi baik sesar, kekar maupun sesar namun dimungkinkan bahwa dataran rendah Kecamatan Pengasih dan Kecamatan Wates terbentuk dari adanya Graben, yaitu daerah yang terangkat adalah daerah morfologi struktural yang terdapat di barat kota wates dan pengasih dan daerah di timur kota Pengasih dan Kota Wates, sehingga kota Wates dan Kota Pengasig adalah daerah yang dikelilingi oleh pengangkatan seperti halnya graben Yogyakarta.

Gambar 1 Peta Geologi Regional daerah Pemetaan dan sekitarnya

31

DAFTAR PUSTAKA
http://www.kulonprogo.go.id Priantoro, Agus, 1997, Karya Referat dengan judul Genesa Deposit Mangan Daerah Kliripan dan sekitarnya Kecamatan Kokap Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta, jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tidak dipublikasikan Soetoto, 2001, Geologi, Laboratorium Geodinamik Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Staff Asisten Geomorfologi, 2001, Panduan Praktikum Geomorfologi Edisi VI, Laboratorium Geodinamik Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sudarmawan, 1998, Karya Referat dengan judul Pemetaan Geologi Daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta Berdasarkan Interpretasi Citra Landsat Thematic Mapper, Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. tidak dipublikasikan. Van Bemmelen, R.W., 1970, The Geology of Indonesia, vol 1A, General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes, 2 nd ed., Martinus Nijhoff, The Haque

32