Anda di halaman 1dari 7

PENGUKURAN PARALAKS STEREOSKOPIK DAN PENGUKURAN BEDA TINGGI

Maksud dan Tujuan Dapat menentukan jarak antara 2 titik bayangan obye pada foto udara Dapat menentukan tinggi obyek pada foto udara

Langkah Kerja Menentukan Paralaks Stereoskopik Tiap lembar foto udara dicari pusat foto udara ( PP 1 dan PP2 ) dengan menggunakan fiducial mark Menentukan pusat foto konyugasi atau Conjugate Principle Point ( CPP1 dan CPP2 ) Menghubungkan pusat foto dengan pusat foto konyugasi sampai terbentuk jalur terbang ( sumbu X ) Membuat sumbu Y tegak lurus dengan sumbu X pada kedua foto udara Menentukan titik-titik yang akan diukur paralaksnya (misal titik A 1 dan B1) kemudian dicari titik-titik tersebut pada foto udara satunya lagi dengan menggunakan stereoskop di dapat ( A2 dan B2 ). Di dapat XA1 = jarak A1 dari sumbu Y, XA2 = jarak titik A2 dari sumbu Y, XB1 = jarak antara titik B1 dari sumbu Y, dan XB2 = jarak titik B2 dari sumbu Y Sehingga kita dapat menentukan paralaks kedua titik ( PA = paralaks titik A, PB = paralaks titik B ) dengan menggunakan rumus PA = XA1 (- XA2) = XA1+XA2 ( jika XA2 berada di kiri sumbu Y sehingga bernilai -) PB = XB1 (+ XB2) = XB1 - XB2 ( jika XB2 berada di kanan sumbu Y sehingga bernilai + ) Langkah Kerja Menentukan Beda Tinggi Membuat tabel perhitungan X1 memuat jarak antara sumbu Y dengan titik yang akan diukur, X 2 memuat jarak antara sumbu Y dengan titik yang akan diukur ( jika titik berada di sebelah kanan sumbu Y maka bernilai positif (+) tapi jika titik berada di sebelah kiri sumbu Y maka benilai negatif (-)

Pn, adalah paralaks stereoskop. Mencari P dengan cara selisih antar kedua paralaks Mencari titik paling rendah sehingga Hr titik terendah tersebut adalah tinggi terbang ( misal titik paling rendah adalah B ) Menentukan h pada titik A ( titik A lebih tinggi dari titik B ), dapat dicari Hr. P dengan rumus jika A lebih tinggi dari B berarti + h = ------------Jika A lebih rendah dari B berarti PA P Menentukan Hr A, A lebih tinggi dari titik B sehingga dapat menentukan Hr dengan rumus Hr
A

= Hr

h ( jika A lebih tinggi dari B berarti -, namun

jika A lebih rendah dari B berarti + ) Menentukan H dengan rumus HA = HB h ( jika A lebih tinggi dari B berarti +, namun jika A lebih rendah dari B berarti - ) Tabel Hasil Perhitungan No 1 2 3 4 5 6 titik A Turun B Turun C Naik D Naik E Naik F X1 4,3 5,4 6,7 7,9 9,0 9,2 X2 - 4,7 - 3,4 - 2,0 - 0,9 0,3 0,6 Pn 9,0 0,2 8,8 0,1 8,7 0,1 8,8 0,1 8,7 0,1 8,6 7722,48 7811,24 88,76 377,82 7900 88,76 288,76 7811,24 88,76 200 7902,07 90,83 288,76 P Hr (m) 8085,82 8 183,76 197,93 h (m) H (m) 14,162

Perhitungan Hr D = 7900 meter

H = 200 meter PD = 7,9 (-0,9) = 8,8 Hr D . P 7900 . 0,1 790 h D = ------------- = ---------------- = ------- = 88,76 meter PD + P 8,8 + 0,1 8,9 Titik C : naik PC = 6,7 (-2,0) = 6,7 + 2,0 = 8,7 PC = PD - PC = 8,8 8,7 = 0,1 Hr D . P 7900 . 0,1 790 h C = ------------- = ---------------- = ------- = 88,76 meter PC + P 8,8 + 0,1 8,9 Hr C = Hr D - h = 7900 88,76 = 7811,24 meter HC = HD + h = 200 + 88,76 = 288,76 meter Titik B : turun PB = 5,4 (-3,4) = 5,4 + 3,4 = 8,8 PB = PB - PC = 8,8 8,7 = 0,1 Hr C . P 7811,24 . 0,1 781,124 h B = ------------- = -------------------- = ----------- = 90,83 meter PC - P 8,7 - 0,1 8,6 Hr B = Hr C + h = 7811,24 + 90,83 = 7902,06 meter HB = HC - h = 288,76 - 90,83 = 197,93 meter Titik A : turun PA = 4,3 (-4,7) = 4,3 + 4,7 = 9,0 PA = PA PB = 9,0 8,8 = 0,2 Hr B . P 7902,06 . 0,1 790,206 h A = ------------- = -------------------- = ----------- = 183,768 meter PB - P 8,8 - 0,1 8,7 Hr A = Hr B + h = 7902,06 + 183,768 = 8085,828 meter HA = HB - h = 197,93 - 193,768 = 14,162 meter Titik E : naik PE = 9,0 0,3 = 8,7 PE = PE PF = 8,7 8,6 = 0,1 Hr E . P 7811,24 . 0,1 7811,24 h E = ------------- = -------------------- = ----------- = 88,764 meter PE + P 8,7 + 0,1 8,8 3

Hr E = Hr D - h = 7900 88,76 = 7811,24 meter HE = HD + h = 200 + 88,76 = 288,76 meter Titik F PF = 9,2 0,6 = 8,6 Hr F = Hr E - h = 7811,24 - 88,76 = 7722,48 meter HF = HE + h = 288,76 + 88,76 = 377,82 meter PROFIL

DAFTAR PUSTAKA
Soetoto,2001, Hand Out Mata Kuliah Geologi Foto Pokok

Bahasan:Fotogrametri Untuk Geologi, Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Soetoto, 1982, Geologi Citra Penginderaan Jauh, Ranggon Studi HaasjebodniJooswi, Yogyakarta

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEOLOGI LABORATORIUM GEODINAMIK

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM GEOLOGI FOTO Acara : Paralaks dan Beda Tinggi

DISUSUN OLEH :
NAMA

: Dodi Fuadi : 03/168996/TK/28757 : 3 / 11 : Chandra Hadi K dan


Maria Chandra M

NIM ROMB / KEL Assisten Acara

Yogyakarta Oktober

2004