Anda di halaman 1dari 13

KOMUNIKASI BUDAYA

A. Komunikasi Budaya 1. Pengertian dan Manfaat Di dalam buku Intercultural Communication: A Reader dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p.19). Selain itu, terdapat pula definisi lain menurut Liliweri yang menyatakan bahwa proses komunikasi antar budaya merupakan interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003, p. 13). Tujuan dari komunikasi antar budaya, antara lain : Memahami perbedaan budaya yang mempengaruhi praktik komunikasi. Memperluas komunikasi antarorang yang berbeda budaya. Mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi. Membantu mengatasi masalah komunikasi yang disebabkan oleh perbedaan budaya. Meningkatan ketrampilan verbal dan non verbal dalam komunikasi. Menjadikan kita mampu berkomunikasi secara efektif Selain itu, komunikasi antar budaya memiliki manfaat pribadi dan manfaat dan manfaat sosial bagi komponen-komponen komunikasinya, berikut uraian dari manfaat tersebut : Manfaat Pribadi Manfaat pribadi adalah manfaat komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu. Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang.

Selain itu komunikasi antar budaya dapat bermanfaat untuk menyatakan integrasi sosial. Artinya, konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip utama dalam proses pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah: saya memperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka. Bagi individu komuni8kasi antar budata juga bermanfaat untuk menambah pengetahua, serta untuk melepaskan diri atau jalan keluar. Artinya kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu kita namakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang komplementer dan hubungan yang simetris. Manfaat Sosial Manfaat sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda. Manfaat yang kedua yaitu untuk menjembatani. Artinya dalam proses komunikasi antarbudaya, maka manfaat komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi massa.

Manfaaat yang ketiga adalah sosialisasi nilai, sosialisasi merupakan manfaat yang berfungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain. Selain itu, komunikasi antar budaya memiliki manfaat menghibur 2. Gaya Komunikasi Antar Budaya Suatu kebudayaan dimana suatu prosedur pengalihan informasi menjadi lebih sukar dikomunikasikan biasa disebut High Context Culture (HCC). Sebaliknya, kebudayaan di mana suatu prosedur pengalihan informasi menjadi lebih mudah dikomunikasikan biasa disebut Low Context Culture (LCC). Para anggota kebudayaan HCC sangat mengharapkan agar digunakan cara-cara yang lebih praktis yang dapat menolong mereka dalam mengakses informasi dalam variasi stuasi apapun. Hal ini karena kebudayaan masyarakat HCC umunya bersifat implisit, mungkin sekali apa yang hendak disampaikan tersebut sudah ada dalam nilai-nilai, norma-norma, dan sistem kepercayaan mereka. Berbeda halnya dengan kebiasaan HCC, anggota kebudayaan LCC sangat berharap agar tidak menggunakan cara-cara praktis hanya untuk menolong mereka mengakses informasi dalam variasi situasi apapun. Pada LCC, cukup diberikan diberikan informasi secara garis besar saja dan mereka mampu mengaksesnya dengan mudah. Hal ini karena kebudayaan masyarakat LCC umumnya bersifat eksplisit, dan banyak informasi yang disampaikan mungkin sekali belum atau kurang diperhatikan dalam sistem nilai, norma, dan sistem kepercayaan mereka (Stella Ting Toomey, 1986;1988). Anggota kebudayaan LCC memakai gaya komunikasi langsung. Mereka mencari dan menyerap informasi langsung dari sumbernya. Gaya komunikasi mereka lebih mengutamakan pertukaran informasi secara verbal (hanya sedikit didukung oleh pesan non verbal), pertemuannya bersifat formal, tatap muka, tanpa basa-basi, dan langsung pada tujuan. Sedangkan pada budaya HCC selalu menggunakan gaya komunikasi tidak langsung. Gaya komunikasi kurang formal, pesan-pesan lebih banyak didukung oleh pesan non verbal, lebih menyukai cara berkomunikasi dengan tatap muka, jika perlu dengan basa-basi dan ritual. Komunikasi antar budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara dan gaya, diantaranya negosiasi, pertukaran simbol, sebagai pembimbing perilaku budaya untuk menujukkan fungsi sebuah kelompok. Dengan pemahaman mengenai komunikasi antar

budaya dan bagaimana komunikasi dapat dilakukan, maka kita dapat melihat bagaimana komunikasi dapat mewujudkan perdamaian dan meredam konflik di tengah-tengah masyarakat. Dengan komunikasi yang intensif kita dapat memahami akar permasalahan sebuah konflik, membatasi dan mengurangi kesalahpahaman, dan dapat mengurangi tumbuhnya konflik sosial. Adapun gaya komunikasi antar budaya dalam proses negosiasi yaitu, anggota masyarakat kebudayaan LCC cenderung melakukan negosiasi yang bersifat linier dan logis dalam menyelesaikan masalah. Analisis merupakan suatu prosedur yang esensial dari kebudayaan ini, negosiasi harus singkat dan tidak bertele-tele, masuk akal, pakai otak, dan menggunakan pendekatan bargaining. Contohnya saja dalam gaya komunikasi untuk menyelesaikan konflik, mereka menjadikan informasi sebagai hal penting dalam proses resolusi konflik yang kadang-kadang menggunakan pendekatan konfrontasi. Sebaliknya pada masyarakat kebudayaan HCC memakai sistem perundingan yang halus, pilihan komunikasinya meliputi perasaan dan intuisi. Gaya HCC lebih mengutamakan hati daripada logika. Budaya HCC selalu menggunakan gaya komunikasi tidak langsung dalam menyelesaikan konflik, mereka tidak menjadikan informasi sebagai sesuatu yang utama dalam proses resolusi konflik, tetapi mengutamakan faktor-faktor relasi antar manusia, emosi budaya, yang kadang-kadang menggunakan pendekatan human relations. Telah dijelaskan sebelumnya, komunikasi antarbudaya pada intinya bermakna proses komunikasi antarpribadi (komunikator dan komunikan) yang berbeda latar belakang budaya. Dengan demikian, secara umum dan normatif, komunikasi antarpribadi itu mengandalkan gaya berkomunikasi yang dihubungkan dengan nilai-nilai yang dianut orang. Nilai-nilai itu berbeda diantara kelompok etnik yang dapat menunjang atau mungkin merusak perhatian tatkala orang berkomunikasi. Di sini, gaya itu bisa berkaitan dengana individu maupun gaya dari sekelompok etnik. Begitulah pendapat Candia Elliot (1999) yang menjelaskan bagaimana pengaruh gaya personal. Dalam komunikasi antarbudaya, gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi. Gaya komunikasi personal dapat ditunjukkan dengan cara kognitif maupun sosial. Banyak tipe atau gaya personal yang dimiliki manusia dalam melakukan proses komunikasi. Diantaranya, terdapat orang yang senang bercakap dengan menampakkan wajah senang atau penuh dengan kehangatan, namun ada pula orang yang bercakap dengan

wajah dingin dan kurang bersahabat, inilah yang biasanya kemudian lawan bicaranya memiliki perasaan kurang enak. Terkadang juga dapat berhadapan dengan orang yang bersikap otoriter, namun akan ditemui pula orang yang bersikap sangat demokratis. Ada orang yang menghargai lawan bicara dengan cara menatap mata, namun ada pula yang bersikap acuh dan menatap ke segala arah saat proses komunikasi berlangsung. Ada yang berkomunikasi dengan nada suara tinggi, namun ada pula yang bicara cukup dengan suara lembut. 3. Penyesuaian Pola Pikir dan Tindakan Komunikasi menjadi faktor yang sangat penting untuk membangun kesepahaman dalam hubungan masyarakat multietnik. Keberhasilan berkomunikasi dalam masyarakat multietnik akan memberikan pengaruh yang besar dalam membentuk pandangan suatu kelompok etnik terhadap kelompok etnik lainnya. Sebaliknya, komunikasi yang tidak baik akan mendorong timbul kecurigaan dan kesalahpahaman yang akan menjadi benih-benih konflik yang melibatkan berbagai etnik. Pertikaian antaretnik sering terjadi karena kesalahan pemahaman pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi. Kesalahan penafsiran dalam proses komunikasi multietnik menjadi faktor yang sangat krusial untuk terjadinya konflik etnik. Sesungguhnya dalam bidang ilmu komunikasi terdapat bentuk komunikasi yang memberikan perhatian kepada komunikasi yang melibatkan hubungan multietnik, yaitu komunikasi antarbudaya (intercultural communication). Komunikasi antarbudaya

memberikatan perhatian bagaimana orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda saling menginterpretasikan dan berbagi makna. Dengan kata lain, komunikasi antarbudaya terjadi bila penyampai pesan dan penerima pesan berasal dari budaya yang berbeda. Komunikasi antarbudaya sangat diperlukan untuk membangun hubungan damai dalam masyarakat multietnik sebab setiap etnik mempunyai pandangan, budaya dan bahasa yang berbeda. Yang terpenting adalah perbedaan itu harus bisa dipahami secara bersama-sama dan kita berusaha meminimalkan terjadinya kesalahan pemahaman akibat pandangan, budaya dan bahasa yang berbeda dengan cara menerapkan prinsip-prinsip komunikasi antarbudaya dalam masyarakat multietnik.

Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya Secara umum komunikasi antarbudaya terdiri dari atas empat variasi, yaitu : (i) interracial communication: interpretasi dan berbagi makna antara orang-orang yang berasal dari ras yang berbeda, (ii) interethnic communication: interaksi antara orang-orang yang berasal dari etnis yang berbeda, (iii) international communication: komunikasi antara orang-orang yang mewakili negara yang berbeda, dan (iv) iintracultural communication: interaksi antara anggota dari kelompok ras dan etnis yang berbeda (sub-culture) tetapi berasal dari induk budaya yang sama. Komunikasi antarbudaya juga bermakna communication between people who live in the same country but come from different cultural background. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan bentuk komunikasi multidemensi dari interaksi antara orang-orang yang berasal dari negara, etnis, ras, dan kelompok budaya lainnya yang berbeda.

Model Komunikasi Antarbudaya Sebagai bagian dari komunikasi, komunikasi antarbudaya mempunyai model tersendiri. Terdapat A dan B yang bermakna dua orang berasal dari dua kebudayaan yang berbeda sehingga mereka mempunyai persepsi yang berbeda tentang hubungan antarpribadi. Proses komunikasi antarbudaya terjadi ketika A dan B saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Perbedaan di antara mereka memungkinkan terjadinya kondisi ketidakpastian kecemasan dan kondisi ini mendorong terjadinya komunikasi yang bersifat akomodatif. Sehingga selanjutnya kondisi ini menghasilkan kebudayaan baru (C) yang bertujuan untuk menyenangkan kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi. Model komunikasi ini menghasilkan komunikasi yang adaptif karena A dan B saling menyesuaikan diri sehingga komunikasi itu bersifat efektif. Komunikasi antarbudaya melibatkan unsur komunikasi dan budaya. Kata budaya dalam komunikasi antarbudaya bermakna perbedaan cara hidup dari kelompok orang-orang dalam menghadapi kehidupan. Hubungan komunikasi dan budaya sangat erat karena dasar dari komunikasi itu adalah budaya itu sendiri. Oleh karena itu, dalam komunikasi

antarbudaya unsur budaya sangat berpengarauh dalam proses komunikasi yang melibatkan budaya yang berbeda. Unsur-unsur budaya yang mempengaruhi komunikasi antarbudaya adalah: 1. Persepsi : kepercayaan, nilai, sistem sikap; pandangan dunia; dan organisasi sosial

2. Proses verbal : bahasa verbal dan pola pikir 3. Proses non-verbal : perilaku non-verbal; konsep waktu; dan penggunaan ruang

Strategi Komunikasi Antarbudaya Komunikasi yang melibatkan multietnik tentu saja memerlukan strategi yang khusus agar komunikasi yang dijalankan benar-benar memberikan pemahaman bagi pihak yang terlibat dalam komunikasi. Berikut ini disampaikan beberapa strategi untuk menghasilkan komunikasi antarbudaya yang efektif.

Strategi komunikasi antarbudaya Teknik komunikasi diskriminatif Penyebuatan penghinaan terhadap daya atau kelompok lain Tujuan Menghina atau merendahkan orang dari budaya atau Teknik komunikasi inklusif Menolak penggunaan

kelompok lain Mengisolasi atau melebih-

penyebuatan penghinaan

Membuat streotip terhadap orangorang yang berasal dari kelompok tertentu

lebihkan faktor tertentu dan menerapkannya kepada semua orang dalam kelompok itu.

Mengakui dan menghindari penggunaan bahasa bersifat stereotif. yang

Menempatkan satu kelompok Menggunakan bahasa yang Pengabaian ke dalam kelompok lain inklusif dan bahasa yang

dengan penyebutan (label), lebih disukai oleh kelompok nama atau istilah tertentu Memaksa minoritas penggunaan

pandangan Menghindari

Pemaksaan penyebutan (labelling)

kelompok mayoritas karena satu sebuatan umun untuk minoritas kekuatan kurang memiliki sejumlah orang yang berasal untuk dari kelompok yang berbeda

mendefinisikan diri mereka sendiri Menekankan pada perbedaan Penglihatan yang berlebihan seperti latarbelakang gender, ras, atau etnik Menghindari pada penekanan seperti

perbedaan

latarbelakang gender, ras, atau etnik

Teknik komunikasi inklusif di atas dapat mendukung terjadinya komunikasi antarbudaya yang efektif agar pesan komunikasi yang disampaikan benar memberikan makna yang positif bagi masyarakat multietnik. Perbandingan teknik komunikasi diskriminatif dan teknik komunikasi inklusif menunjukkan bahwa komunikasi diskriminatif cenderung menghasilkan kondisi permusuhan dan konflik sebab tidak mempertimbangkan perasaan dan sensitifitas kelompok lain. Sedangkan teknik komunikasi inklusif cenderung mendorong tercipta kondisi damai sebab pihak yang terlibat dalam komunikasi saling memberikan pengakuan dan penghormatan terhadap kelompok lain yang berbeda dengannya. Untuk membangun komunikasi antarbudaya yang efektif perlu pula dipahami beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan hubungan antara kelompok yang berbeda: 1. Enkulturasi (enkulturation): proses mempelajari dan menyerap kebudayaan yang berasal dari satu masyarakat. 2. Akulturasi (acculturation): proses penyesuaian kebudayaan dengan kebudayaan tempatan dengan mengadopsi nilai, simbol dan/atau perilaku. 3. Etnosentris (ethnocentrism): suatu pandangan yang menganggap bahwa suatu kebudayaan lebih unggul dari pada kebudayaan lainnya. 4. Relativisme kebudayaan (cultural relativism): pengakuan terhadap perbedaan budaya dan menerima bahwa setiap kelompok masyarakat mempunyai norma-norma sendiri. Keempat konsep di atas berkaitan dengan pandangan seseorang terhadap kebudayaannya sendiri, kebudayaan orang lain, dan bagaimana menjalin hubungan dengan orang yang berbeda kebudayaan dengannya. Konsep enkulturasi dan akulturasi menujukkan pandangan kebudayaan yang bersifat dinamik dan adaptif karena terjadinya proses penyerapan dan penyesuaian antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Konsep etnosentris adalah satu cara pandang yang bersifat sempit dan kaku karena hanya

menganggap kebudayaan mereka yang paling tinggi dibandingkan kebudayaan lain. Pandangan seperti ini tentu saja akan menghambat terjadi komunikasi antarbudaya yang efektif. Sebaliknya, konsep relativisme kebudayaan memberikan pandangan bersifat mengakui dan menghargai perbedaan kebudayaan sebab setiap kebudayaan mempunyai keunggulan sendiri sehingga tidak perlu dipertentangkan keunggulan suatu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Ini bermakna kearifan lokal yang dimiliki setiap ini itu perlu diangkat dan penganggatan kearifan lokal itu tidak akan menghasilkan pertentangan atau permusuhan sebab relativisme kebudayaan telah mengajarkan kepada kita bahwa setiap kebudayaan memiliku keunggulan masing-masing. 4. Etika, Norma, dan Pantangan Pergaulan Lintas Budaya Etika dan Norma Komunikasi Antarbudaya Prinsip-prinsip etika dan norma-norma yang relevan dalam bidang lain juga berlaku bagi komunikasi antar budaya. Prinsip-prinsip etika sosial seperti misalnya solidaritas, subsidiaritas, keadilan dan kesamaan, serta pertanggung jawaban dalam menggunakan sumber-sumber umum dan pelaksanaan peranan usaha-usaha umum selalu bisa diterapkan. Komunikasi harus selalu penuh kebenaran, karena kebenaran adalah hakiki bagi kebebasan individu dan demi komunitas yang otentik antara pribadi-pribadi. Etika dalam komunikasi antar budaya menyangkut bukan hanya apa yang adil, dengan apa yang nampak dalam media, tapi sebagian besar juga di luar itu semua. Dimensi etika tidak hanya menyangkut isi komunikasi (pesan) dan proses komunikasi (bagaimana komunikasi dilakukan) tapi juga struktur fundamental dan persoalan-persoalan yang menyangkut sistem, yang kerap kali menyangkut persoalan-persoalan besar mengenai kebijakan yang berkaitan dengan pembagian tehnologi yang canggih serta produknya, siapa yang akan kaya informasi dan yang akan miskin informasi. Persoalan-persoalan ini menunjuk ke persoalan lain yang mempunyai implikasi ekonomi dan politik untuk kepemilikan dan kontrol. Dalam komunikasi antar budaya, bagi orang yang mempunyai kehendak baik sekalipun tidak selalu segera menjadi jelas bagaimanakah menerapkan prinsip-prinsip etika serta norma-norma. Misalnya saja dalam kasus-kasus khusus seperti refleksi, diskusi dan dialog diperlukan penerapan etika dan norma tersebut lebih mendalam. Hal tersebut dikarenakan dialog semacam itu merupakan dialog yang menyangkut antara komponen

komunikasi atau para pembuat kebijakan mengenai komunikasi, para komunikator profesional, para ahli etika dan moral, para penerima komunikasi, dan orang-orang lain yang terkait. Hambatan atau Pantangan Pergaulan Lintas Budaya Menurut Chaney & Martin (2004, p. 11), hambatan komunikasi (communication barrier) adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Salah satu contoh dari hambatan komunikasi adalah gerakan menganggukan kepala, dimana di Amerika Serikat anggukan kepala menandakan bahwa orang tersebut mengerti sedangkan di Jepang anggukan kepala tidak berarti seseorang setuju, melainkan hanya berarti bahwa orang tersebut mendengarkan. Terdapat dua hambatan dalam pergaulan lintas budaya, yaitu hambatan diatas air (above waterline) dan dibawah air (below waterline). Hambatan komunikasi antarbudaya yang berada di dalam air sulit untuk dilihat karena merupakan sikap atau perilaku seseorang. Yang termasuk ke dalam hambatan ini adalah persepsi (perceptions), norma (norms), stereotip (stereotypes), filosofi bisnis (business philosophy), aturan (rules), jaringan (networks), nilai (values), dan grup cabang (subcultures group). Sedangkan hambatan di atas air lebih bersifat hambatan fisik, yaitu : 1. Fisik (Physical) Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik. 2. Budaya (Cultural) Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya. 3. Persepsi (Perceptual) Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbedabeda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. 4. Motivasi (Motivational) Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau

apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi. 5. Pengalaman (Experiantial) Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu. 6. Emosi (Emotional) Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui. 7. Bahasa (Linguistic) Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan katakata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan. 8. Nonverbal Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan (receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan. 9. Kompetisi (Competition) Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua) kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal. Keragaman kulutur dan budaya yang ada merupakan salah satu hambatan yang pada akhirnya menimbulkn pantangan bagi komponen komunikasinya. Karena jika seluruh umat manusia memiliki budaya yang sama maka tidak akan sulit untuk melakukan komunikasi yang efektif dan efisien. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu maka dibuat pantangan-

pantangan agar komunikasi antar budaya yang kita lakukan dapat bersifat efektif dan efisien. Pada intinya pantangan dalam komunikasi antar budaya adalah menyampaikan suatu pesan yang mendobrak atau mengganggu kedaulatan suatu budaya.

DAFTAR PUSTAKA
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budaya-definisi-dan.html http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/iko/article/viewFile/16676/1666 http://nurhasanahnana.wordpress.com/2010/04/07/komunikasi-antar-budaya/ http://wa2npo3nya.blogspot.com/2008/02/apa-itu-komunikasi-antar-budaya.html http://books.google.co.id/books?id=U1ckHCx7nYC&pg=PA118&lpg=PA118&dq=gaya+komun ikasi+antar+budaya&source=bl&ots=K6L7ymhrBG&sig=Hrzao1DpoqQDV8hS6GAHyt6IEhQ &hl=id&ei