Anda di halaman 1dari 11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS


Bagikan 0

Lainnya

Blog Berikut

Buat Blog

Masuk

Eliz Chilalahie
Sabtu, 16 Juni 2012 Arsip Blog
2012 (2) Juni (2) BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS bioetanol

BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

MK. BIOINDUSTRI LAPORAN PENELITIAN PENGARUH KADAR (BIO)ETANOL DARI LIMBAH NANAS (Ananas comosus) TERHADAP LAMA FERMENTASI DAN PENAMBAHAN RAGI (Saccaromyces Cerevicae) DENGAN STATER YANG BERBEDA

Mengenai Saya
Cha Eliz sahabat bukan datang disaat bahagia saja..... Lihat profil lengkapku

Oleh: Siska Elisabet . S Richard Howard Patty Putu Setia Budi Susi Albina Br Purba

I. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN

Pertambahan jumlah penduduk telah meningkatkan kebutuhan sarana transportasi dan aktivitas industri yang berakibat pada peningkatan kebutuhan dan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Untuk memenuhi kebutuhan BBM tersebut, pemerintah mengimpor sebagian BBM. Besarnya ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor semakin memberatkan pemerintah karena harga minyak dunia yang semakin tinggi. Beberapa dari bahan bakar nabati yang sekarang ini sedang dikembangkan adalah (bio)etanol. Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menghasilkan (bio)etanol mengingat bahan bakar nabati ini dapat memanfaatkan kondisi geografis dan sumber bahan baku minyak nabati dari berbagai tanaman yang tersedia di Indonesia.
Etanol (C2 H5 OH) merupakan suatu senyawa kimia berbentuk cair, jernih tak berwarna, beraroma khas, berfase cair pada temperatur kamar, dan mudah terbakar. Etanol memiliki karakteristik yang menyerupai bensin karena tersusun atas molekul hidrokarbon rantai lurus. Bioetanol adalah etanol (C2 H5 OH) yang dibuat dari biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa, seperti singkong, talas dan tetes tebu. Etanol bentuknya berupa cairan yang tidak berwarna dan mempunyai bau yang khas. Berat jenis pada 15o C adalah 0,7937 dan titik didihnya 78,32o C pada tekanan 76 mmHg. Sifatnya yang lain adalah larut dalam air dan eter, serta mempunyai panas pembakaran 328 kkal.

Buah nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan salah satu jenis buah yang terdapat di Indonesia, mempunyai penyebaran yang merata. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, nanas juga banyak digunakan sebagai bahan baku industri pertanian. Dari berbagai macam pengolahana
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html 1/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

nanas seperti selai, manisan, sirup, dan lain-lain maka akan didapatkan kulit yang cukup banyak sebagai hasil sampingan. Berdasarkan kandungan nutriennya, ternyata kulit buah nanas mengandung karbohidrat dan gula yang cukup tinggi. Menurut Wikana,dkk (1991) kulit nanas mengandung 81,72% air; 20,87% serat kasar; 17,53% karbohidrat; 4,41% protein; dan 13,65% gula reduksi. Mengingat kandungan karbohidrat dan gula yang cukup tinggi tersebut, maka kulit nanas memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan kimia, salah satunya etanol (melalui proses fermentasi). Proses fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan salah satunya adalah etanol . Pembuatan etanol dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara sintetik melalui reaksi kimia dan secara fermentasi melalui aktivitas mikroorganisme. Proses pembuatan etanol secara fermentasi telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu dengan menggunakan bahan yang mengandung karbohidrat sebagai bahan bakunya. Fermentasi glukosa menjadi etanol dilakukan dengan mikroorganisme yang terbagi ke dalam dua jenis, yaitu bakteri dan ragi. Namun penggunaan ragi sebagai biokatalis lebih sering dilakukan, karena ragi lebih mudah dikembangbiakan dan lebih mudah dikontrol pertumbuhannya. Kesulitan yang sering dijumpai dalam proses fermentasi etanol yaitu dalam pemisahan produk dari ragi yang digunakan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan dari fermentasi adalah mikroorganisme dan media yang digunakan, adanya komponen media yang dapat menghambat pertumbuhan serta kemampuan fermentasi mikroorganisme dan kondisi selama fermentasi (Astuty, 1991). Selain itu hal-hal yang perlu diperhatikan selama fermentasi adalah pemilihan khamir, konsentrasi gula, keasaman, ada tidaknya oksigen dan suhu dari perasan buah.
1.2 Tujuan 1.2.1 Menjelaskan potensi limbah nenas dalam memproduksi (bio)etanol. 1.2.2 Menjelaskan pengaruh lama fermentasi dan penambahan ragi (saccaromyces cerevicae) dengan stater yang berbeda terhadap produksi (bio)etanol? Manfaat

1.3

1.3.1 Untuk membantu pemerintah dalam mengatasi masalah krisis bahan bakar dan memasyarakatkan penggunaan bahan bakar alternatif 1.3.2 Memanfaatkan bahan baku limabh nenas untuk dijadikan bahan bakar alternatif berupa (bio)etanol.

II. 2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Nanas Nanas (Ananas comosus) bukan tanaman asli Indonesia melainkan tanaman

ini berasal dari Brazilia (Amerika Selatan). Tanaman ini diperkirakan masuk ke Indonesia tahun 1599, dibawa oleh para pelaut Spanyol dan Portugis. Sejarah juga menyebutkan bahwa pulau Jawa merupakan tempat yang penduduknya pertama kali mengembangkan tanaman nanas. Sebagai salah satu tanaman hortikultura, nanas sangat cocok dibudidayakan di daerah tropis yang cukup banyak turun hujan. Tanaman ini tidak akan tumbuh baik di tempat yang terlalu kering maupun pada lahan yang airnya tergenang. Di Indonesia, hampir semua daerah dapat dibudidayakan nanas. Pada zaman dahulu nanas dikenal sebagai buah istimewa. Buah ini sering
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html 2/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

dipakai sebagai persembahan untuk raja-raja. Sekarang tanaman ini sudah tersebar di mana-mana dan menjadi buah favorit yang selalu menghiasi hidangan-hidangan dimeja makan. Buah ini sangat digemari karena enak rasanya, kandungan vitaminnya banyak, serta nilai kalorinya tinggi sehingga sangat baik untuk kesehatan. Dalam sistematika tumbuhan tanaman nanas termasuk keluarga Bromeliaceae. Dalam keluarga genus termasuk keluarga ananas, dimana merupakan satu-satunya golongan yang cukup mempunyai nilai ekonomis. Nanas dipisahkan dari golongan lain dalam keluarga ini terutama didasarkan atas tipe sinkarpus (daun buah majemuk yang menyatu). Sistematika nanas sesuai dengan taksonominya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Monokotiledonae : Farinosae : Bromeliaceae : Ananas : Ananas comosus

Pada umumnya satu pohon nanas hanya menghasilkan satu buah pada satu masa panen. Apabila buah telah dipetik maka tanaman masih akan dapat berbuah lagi tetapi buah tidak akan muncul lagi pada pokok tanaman semula. Buah pada periode berikutnya akan muncul pada tanaman baru yang merupakan atau carang tanaman yang sudah tumbuh dewasa. Melangsungkan pertanaman selanjutnya kita tinggal merawat tunas akar yan biasanya sudah bertambah besar dan menjadi tanaman baru ketika buah dipetik. Dengan disertai perawatan dan pemupukan yang memadai, hasil buah maz bisa terus memuaskan sampai 4-5 generasi. Tak heran jika dalam sekali penanaman, umur panen dapat berlangsung hingga 2 tahun atau lebih. Namun, sesudah itu tanaman harus dibongkar dan diganti buah yang dihasilkan kecil-kecil. 1.2 Kulit Buah Nanas Limbah merupakan sisa pembuangan dari suatu proses kegiatan manusia dapat berbentuk padat, cair dan gas, dari segi estetika sangat kotor, tidak enak dipandang dan juga dari segi bau sangat menggangu. Dengan demikian secara langsung maupun tidak langsung limbah menimbulkan ketidaknyamanan di sekitarnya sebab pembuangan limbah ke lingkungan umumnya tidak diikuti dengan upaya penanganan dan pengolahan limbah yang baik, karena selalu dikaitkan dengan teknologi dan pengolahan yang relatif mahal. Menurut Nigam, (1999) saat ini banyak industri yang memanfaatkan limbah untuk pembuatan produk baru yang bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya seperti kulit buah nanas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan etanol, dimana dengan memanfaatkan kulit buah nanas dapat mengurangi pencemaran terhadap lingkungan. Pembuatan etanol diperlukan bahan baku dengan kadar gula yang cukup tinggi. Kulit buah nanas diketahui cukup banyak mengandung gula, sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan (bio)etanol. Menurut Wijana et al., (1991) dalam Attayaya (2008) kandungan gizi kulit buah nanas dapat dilihat pada Tabel 1. dan hasil analisis proksimat kulit buah nanas berdasarkan berat basah dapat dilihat pada Tabel 2. (Sidharta, 1989 dalam Attayaya, 2008) : Tabel 1. Kandungan Gizi Kulit Buah Nanas Kandungan gizi
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html

Jumlah (%)
3/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

Karbohidrat Protein Gula reduksi Kadar air Serat kasar

17,53 4,41 13,65 81,72 20,87

(Sumber: Wijana, et al., 1991 dalam Attayaya, 2008) Tabel 2. Hasil Analisis Proksimat Kulit Buah Nanas Berdasarkan Berat Basah Komposisi Air Protein Lemak Abu Serat basah Karbohidrat Rata-rata (%bb) 86,70 0,69 0,02 0,48 1,66 10,54

(Sumber: Sidharta, 1989 dalam Attayaya, 2008) 2.3 Limbah Pengolahan Buah Nanas Limbah merupakan suatu bagian dari industri yang tidak bisa dilepaskan bagi setiap industri manapun, dimana jika limbah tersebut tidak ditangani dengan baik maka akan merusak ekosistem lainnya. Menurut jenisnya limbah dibagi menjadi dua jenis yaitu organik dan non organik. Sekarang ini banyak perusahaan industri yang memanfaatkan limbah karena diketahui limbah merupakan hasil produksi olahan yang bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya, selain itu dapat mengurangi efesiensi pencemaran lingkungan sekitarnya. Salah satunya limbah industri yang sedang dimanfaatkan sekarang ini adalah limbah pengolahan buah nanas sebagai bahan baku pembuatan etanol. Dalam pembuataan etanol diperlukan kandungan gula yang cukup tinggi, telah ketahui bahwa limbah pengolahan buah nanas masih cukup banyak mengandung gula sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku dalam pembuataan (bio)etanol. Menurut Nigam (1999) komposisi kimia pabrik limbah makanan kaleng nanas adalah: Tabel 3. komposisi kimia pabrik limbah makanan kaleng nanas Unsur kimia ( g l1) Total gula Reduksi Gula Glukosa Sukrosa Fruktosa Raffinosa Galaktosa Protein Lemak Kjeldahl nitrogen Total padatan Jumlah mikroba pH (Sumber: Nigam, 1999) 2.4 Sumber Energi Alternatif Hingga saat ini, pemenuhan kebutuhan akan sumber energi, khususnya untuk bahan bakar, hampir seluruhnya berasal dari minyak bumi, solar, kerosn, LPG, dan parafin merupakan wujud bahan bakar yang berasal dari sumber yang sama, yaitu bahan bakar fosil. Secara praktis, penggunaan bahan bakar fosil
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html 4/11

Konsentrasi 82.530.78 39.460.60 22.700.85 38.701.12 15.810.83 2.850.33 6.400.33 1.200.17 2.320.15 5060* 102104 ml-1* 4.00.08

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

memang lebih mudah, tetapi konsumsi secara terus menerus pada akhirnya akan menghabiskan cadangan minyak yang ada, karena bahan bakar fosil tidak dapat diperbaharui. Menjawab masalah kelangkaan bahan bakar fosil, manusia kemudian mencari kemungkinan lain yaitu sumber energi alternatif. Menurut Padmawati (2005), sumber energi alternatif terbarukan, di Indonsia berasal dari biomassa, geotermal, sinar surya, mikrohidro, angin, dan energi samudra. Masing-masing sumber energi alternatif tersebut memiliki keunggulan yang khas dan pada gilirannya, jika teknologinya sudah memungkinkan, sumber energi alternatif lah akan mengambil alih pasar bahan fosil. 2.5 Energi Biomassa Biomassa merupakan sumber energi alternatif terburukan dengan potensi terbesar di Indonesia. Keseluruhannya meliputi potensi sebesar 50.000 MW. Melalui pembakaran langsung dan teknologi konversi lain seperti pirolisis dan gasifikasi, biomassa dapat dikonversi ke dalam bentuk lain, yaitu energi kalor dan energi listrik. Di Indonesia, saat ini kapasitas terinstalasi biomassa untuk pembangkit daya baru adalah 302,4 MW, yaitu sekitar 0,6% (Padmawati, 2005). Dalam perkembangannya, teknologi konversi biomassa menunjukan perkembangan yang pesat di negara-negara seperti Brazil dan Jepang. Karena di kedua negara tersebut biomassa telah berhasil dikonversi secara efisien menjadi (bio)etanol, yang sangat potensial sebagai campuran bahan bakar bensin. Saat ini produknya umum dikenal sebagai gasohol (gasolin dan alcohol). Di masa depan (bio)etanol sangat mungkin menjadi pengganti bensin secara utuh. 2.6 (Bio)etanol A. Apa Itu (Bio)etanol (Bio)etanol sebenarnya bukan barang baru lagi. Sejak tahun 1980-an, beberapa peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian telah mengembangkan riset mengenai (bio)etanol. Hanya saja ketika itu, bahan bakar minyak yang harganya disubsidi karena jumlah minyak bumi yang masih banyak sehingga harga minyak bumi pun belum melambung tinggi. Namun, ketika harga minyak mentah melambung dan Indonesia menjadi net-importer country BBM, penelitian terkait dengan (bio)etanol kembali mulai ditekuni. Bioetanol adalah etanol yang dibuat dari biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa, seperti singkong dan tetes tebu. Dalam dunia industri, etanol umumnya digunakan sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran untuk minuman keras (seperti sake atau gin), serta bahan baku farmasi dan kosmetika. Berdasarkan kadar alkoholnya, etanol terbagi menjadi tiga grade sebagai berikut: 1) Grade industri dengan kadar alkohol 90-94%. 2) Netral dengan kadar alkohol 96-99,5%, umumnya digunakan untuk minuman keras atau bahan baku farmasi.

3) Grade bahan bakar dengan kadar alkohol di atas 99,5%. Ketika harga BBM merangkak semakin tinggi, (bio)etanol diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pensubstitusi BBM untuk motor bensin. Sebagai bahan pensubstitusi bensin, (bio)etanol dapat diaplikasikan daam bentuk bauran dengan minyak bensin (EXX), misalnya 10% etanol dicampur dengan 90% bensin (gasohol E10) atau digunakan 100% (E100) sebagai bahan bakar. Penggunaan E100 membutuhkan modifikasi mesin mobil, seperti halnya di Brazil. Brazil merupakan salah satu negara yang telah sukses mengembangkan (bio)etanol sebagai bahan
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html 5/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

bakar alternatif pensubstitusi bensin. B. Alat Pengolahan (Bio)etanol Pembuataan (bio)etanol membutuhkan beberapa peralatan. Tangki fermentasi dan destilasi merupakan peralatan utama yang digunakan. Dalam aplikasi di industri pengolahan (bio)etanol, peralatan lain yang diperlukan di antaranya penggilangan, tangki pemasakan, dan tangki pemisahan padatan dan cairan (untuk pemanfaatan tanaman penghasil pati sebagai bahan baku), tangki penampungan bubur, tangki pemisahan antara etanol dan sludge, tangki penampungan gas CO2, dan tangki penyimpanan. Saat ini di Indonesia baru terdapat satu industri pengolahan (bio)etanol yang beroperasi dengan memanfaatkan tetes tebu sebagai bahan baku. C. Karakteristik (Bio)etanol Dibandingkan Dengan Bensin Bagaimana karakteristik (bio)etanol dibandingkan dengan bensin? Itulah salah satu pertanyaan yang mungkin muncul di benak masyarakat awam. Jika sesuatu diasumsikan dapat menggantikan posisi sesuatu, setidaknya sesuatu yang menggantikan itu memiliki karakteristik unggul dibandingkan dengan sesuatu yang digantikan atau setidaknya memiliki karakter yang sama. Pertanyaan tersebut akan dijawab dalam point pembahasan kali ini. (Bio)etanol memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan dengan bensin berbasis petrochemical: 1) (Bio)etanol mengandung 35% oksigen, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pembakaran dan mengurangi emisi gas rumah kaca. 2) (Bio)etanol memiliki nilai oktan yang lebih tinggi, sehingga dapat menggantikan fungsi bahan aditif, seperti metil tertiary butil eter dan tetra etil lead. 3) (Bio)etanol memiliki nilai oktan (ON) 96-113, sedangakan nilai oktan bensin hanya 85-96. 4) (Bio)etanol bersifat ramah lingkungan, karena gas buangannya rendah terhadap senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai polutan, seperti karbn monoksida, nitrogen oxida, dan gas-gas rumah kaca. 5) (Bio)etanol mudah terurai dan aman karena tak mencemari air. 6) (Bio)etanol dapat diperbahurui (renewable energy) dan proses produksinya relatif lebih sederhana dibandingkan dengan proses produksi bensin. Umumnya, penggunaan (bio)etanol masih dalam bentuk campuran dengan bensin pada konsentrasi 10% (E-10), yaitu 10% (bio)etanol dan 90% bensin. Campuran (bio)etanol dalam bensin di samping dapat menambah volume BBM, juga dapat meningkatkan nilai oktan bensin. Penambahan (bio)etanol 10% dalam bensin mampu meningkatkan nilai oktan hingga mencapai point ON 92-95. selain itu, penambahan etanol dalam bensin dapat berfungsi pengganti MTBE (metiy tertiary butil eter) yang sekarang ini banyak digunakan sebagai bahan aditif dalam bensin. 2.7 Fermentasi Alkohol Fermentasi adalah proses pembebasan energi tanpa adanya oksigen yang bersifat anaerob. Fermentasi dilakukan dalam tangki fermentasi, pada kepekatan tetes 24oBrix dengan kadar gula total 15%. Apabila kadar gula substrat rendah maka dibutuhkan kondisi anaerob, sehingga sel-sel ragi dapat melakukan fermentasi yang akan mengubah tetes yang mengandung gula menjadi alkohol. Proses fermentasi ini menyebabkannya terjadi peningkatan panas. Agar panas yang timbul dapat diserap maka diperlukan pendingin untuk menjaga suhu yang tetap pada 30oC selama proses fermentasi yang berlangsung selama 30-40 jam. Pada prinsipnya reaksi dalam proses pembuatan alkohol dengan fermentasi
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html 6/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

adalah sebagai berikut: C6H12O6 2 C2H5OH + 2 CO2

Jika digunakan disakarida seperti sukrosa, reaksinya adalah sebagai berikut: C12H22O11 + H2O Invertase 2 C6H12O6 Pada proses reaksi hidrolisis disakarida konversi gula menjadi alkohol dengan cara fermentasi dimana disakarida terdiri dari sukrosa dan maltosa yang dapat difermentasikan dengan cepat oleh khamir karena mempunyai enzim sukrase atau invertase dan maltase untuk mengubah maltosa menjadi heksosa. khamir dapat menfermentasikan glukosa, manosa, dan galaktosa dan tidak memecah pentosa (Sudjata dan Antara, 1997; Suwaryono dan Ismaeni, 1998; Rahayu et al., 1988) 2.8 Distilasi Fermentasi yang berlangsung cepat dengan hasil sangat diperlukan di dalam pembuataan alkohol hasil distilasi. Adapun kecepatan fermentasi sangat tergantung pada komposisi bahan dasar, kecepatan pemindahan nutrisi ke dalam membran sel, kondisi suhu, pH dan oksigen terlarut, tingkat inokulasi, kondisi fisiologi inokolum khamir, aktivitas enzim yang penting di dalam jalur dan toleransi khamir pada kondisi ekstrem yaitu terhadap kadar gula tinggi pada awal fermentasi dan konsentrasi alkohol tinggi pada akhir fermentasi (Rahayu dan Rahayu, 1998). Distilasi merupakan proses pemurnian dengan memisahkan dua atau lebih komponen berdasarkan perbedaan titik didih. Adapun jenis-jenis dari distilasi (Anon, 2005) adalah: 1 Distilasi sederhana, prinsipnya memisahkan dua lebih komponen cairan berdasarkan perbedaan titik didih yang jauh berbeda. 2 Distilasi Frakionasi (bertingkat), sama prinsipnya dengan distilasi sederhana, hanya distilasi bertingkat ini memliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang berdekatan. 3 Distilasi Azeotrop, memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang sulit dipisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut, atau dengan menggunakan tekanan tinggi. Distilasi kering memanaskan material padat untuk mendapatkan fase uap dan cairannya. Biasanya digunakan untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu

atau batu bata. 5 Distilasi vakum: memisahkan dua komponen yang titik didihnya sangat tinggi, metode yang dugunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm, sehingga titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk mendistilasinya tidak perlu terlalu tinggi. Proses distilasi dikembangkan sejak dahulu kala dan pertama kalinya digunakan untuk membuat minuman beralkohol seperti anggur kosmetik, obatobatan, dan bahan bakar (bio)etanol.(Sudjata, et al, 1997). Pada umumnya distilasi digunakan secara batch, yaitu cara distilasi yang dikerjakan dengan menempatkan cairan fermentasi ke dalam still (pot still), kemudian didistilasi tanpa dilakukan penambahan cairan fermenasi yang baru. Distilasi dinyatakan selesai apabila komponen yang mudah menguap dalam cairan fermentasi sudah habis atau tinggal sedikit sehingga tidak menguntungkan lagi untuk didistilasi lebih lanjut. Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 780C sedangkan air adalah
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html 7/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

1000C (kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 780C1000C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95% volume (Rahayu dan Rahayu, 1998). Dan untuk proses pembuatan (bio)etanol dengan menggunakan bahan baku limbah nanas pada penelitian ini sistem pemurnian yang digunakan adalah dengan cara distilasi. 2.9 Kegunaan (Bio)etanol v (Bio)etanol secara umum dapat digunakan sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran bahan bakar untuk kendaraan. Grade (bio)etanol harus berbeda sesuai dengan pengunaanya. (Bio)etanol yang menpunyai grade 90% -96,5% volume digunakan pada industri, grade 96% - 99,5% digunakan dalam campuran untuk miras dan bahan dasar industri farmasi. Besarnya grade (bio)etanol yang dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan harus betul-betul kering dan anhydrous supaya tidak menyebabkan korosi, sehingga (bio)etanol harus mempunyai grade sebesar 99,5% -100% (Rini Khairani, 2007). v (Bio)etanol yang digunakan sebagai bahan bakar mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya lebih ramah lingkungan, karena bahan bakar tersebut memiliki nilai oktan 92 lebih tinggi dari premium nilai oktan 88, dan pertamax nilai oktan 94. v Hal ini menyebabkan (bio)etanol dapat menggantikan fungsi zat aditif yang sering ditambahkan untuk memperbesar nilai oktan. Zat aditif yang banyak digunakan seperti metal tersier butil eter dan Pb, namun zat aditif tersebut sangat tidak ramah lingkungan dan bisa bersifat toksik. (Bio)etanol juga merupakan bahan bakar yang tidak mengakumulasi gas karbon dioksida (CO2) dan relatif kompetibel dengan mesin mobil berbahan bakar bensin.

III.
3.1 Tempat dan Waktu

METODE PENELITIAN

Praktikum dilakukan di Laboratorium Bioindustri Teknologi Pertanian , Laboratorium Analisis Pangan, dan Laboratorium Biokimia dan Nutrisi , Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana. Waktu pelaksanaan praktikum pada 18 Mei 2012 sampai 9 Juni 2012. 1.2 Bahan dan Alat a. Bahan - Limbah Nanas - Aquades - Aluminium foil - Ragi roti (S. cerevisiae) - Ragi tape (S. cerevisiae) - Kapas - Amonium Sulfat - Glukosa - NaOH - HCl - Urea - PDA - Es Balok
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html 8/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

- Plastisin - Malt - Alkohol - NPK b. Alat - Gelas ukur - Gelas beaker - Setrifuge - Labu Erlenmeyer - Batang gelas bengkok - Tabung Reaksi - Pipet - Destilator - Timbangan Analitik - pH Meter - Portex - Autoclaf - Gabus - Pisau - Plastik - Kertas Buram - Cawan Petri - Laminarflow - Tisue - Inkubator - Refraktometer - Jarum ose

1.3 Substrat Substrat yang digunakan dalam proses pembuatan (bio)etanol /etanol ini adalah limbah kulit nanas. kulit nanas mengandung 81,72 % air; 20,87 % serat kasar; 17,53 % karbohidrat; 4,41 % protein dan 13,65 % gula reduksi. Mengingat kandungan karbohidrat dan gula yang cukup tinggi tersebut maka kulit nanas memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan (bio)etanol. (Bio)etanol yang digunakan sebagai bahan bakar mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya lebih ramah lingkungan, karena bahan bakar tersebut memiliki nilai oktan 92 lebih tinggi dari premium nilai oktan 88, dan pertamax nilai oktan 94. (Bio)etanol merupakan cairan hasil proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. 1.4 Yeast Saccharomyces cerevisiae Ragi yang digunakan adalah Saccharomyces cerevisiae. Dalam penelitian ini digunakan 1(satu) jenis ragi Saccharomyces cerevisiae dari ragi roti dan ragi wine. Dalam pembuatan kultur Saccharomyces cerevisiae dilakukan peremajaan tujuannya untuk menumbuhkan mikroba tersebut. Isolat yeast S. cerevisiae diremajakan pada media PDA dan diinkubasi selama 2 hari. 1.5 Pelaksanaan Penelitian a. Peremajaan Kultur Murni Peremajaan kultur dilakukan dengan menumbuhkan mikroba dari kultur murni Saccharomyces cerevisiae ATCC 9763 ke dalam media agar, kultur murni
siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html 9/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS

diambil sebanyak satu ose dan dimasukkan secara aseptis ke dalam media cair 5ml PW (pepton water) steril per tabung. Mikroba yang telah divortex kemudian diambil sebanyak 0,1 ml dengan pipet mikro dan diencerkan ke dalam media cair pepton water steril per tabung, lalu divortex. Setelah itu, disebar dengan menggunakan batang gelas bengkok ke dalam media agar cawan PDA (Potatoes Dextrosa Agar) steril, lalu di inkubasi selama 2-3 hari pada suhu 30oC dalam posisi terbalik. b. Pembuatan Kultur Kerja Media Cawan Petri Kultur murni yang telah diremajakan diambil sebanyak satu ose pada media agar cawan lalu dipindahkan secara aseptis ke dalam media cawan petri steril kemudian digores secara zig-zag, setelah itu di inkubasi selama 2-3 hari pada suhu 30oC yang nantinya digunakan sebagai kultur kerja. c. Perbanyakan Sel Kultur kerja yang telah tumbuh kemudian dipindahkan sebanyak 1-2 ose secara aseptis ke dalam 5 ml media cair aquades steril per tabung lalu divortex, setelah itu di inkubasi selama 2-3 hari pada suhu 30oC untuk mendapatkan suspensi sel. d. Pengolahan Kulit Buah Nanas Kulit buah nanas dipotong, dibersihkan, dan dimasukkan ke dalam alat penghancur (juicer) untuk mendapatkan cairan ekstraksi dari kulit buah nanas kemudian disaring. Tujuan penyaringan adalah untuk memisahkan cairan dari ampas nanas yang masih ada pada cairan kulit buah nanas tersebut. Pada ekstrak kulit buah nanas dilakukan analisis yaitu analisis derajat keasaman (pH). e. Proses Produksi Etanol Hasil ekstraksi kulit buah nanas sebanyak 600 ml, dicek kadar gula, serta dicek pH awal diatur (4) dengan menggunakan NaOH dan HCl, serta menambahkan sumber nutrisi yaitu NPK 0,04 gr dan Amonium sulfat 0,15 gr, lalu dipasteurisasi pada suhu 70oC selama 30 menit, kemudian didinginkan. Setelah kultur kerja yang telah disiapkan dicampur ke dalam hasil ekstraksi kulit buah nanas kemudian difermentasi selama 2 hari dengan suhu kamar 27-30oC. Sesudah itu, fermentasi dihentikan, lalu dipasteurisasi pada suhu 70 oC selama 30 menit untuk mematikan sel yang masih aktif pada substrat tersebut. Hasil fermentasi tersebut didistilisasi untuk mendapatkan pemurnian etanol sebanyak 40 ml/tabung. Pada penghentian proses fermentasi variabel yang diamati yaitu pH, kadar gula dan kadar etanol. Pada hasil etanol variabel yang diamati yaitu kadar etanol.
Diposkan oleh Cha Eliz di 08.43
Rekomendasikan ini di Google

Tidak ada komentar: Poskan Komentar

siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html

10/11

01/04/13

Eliz Chilalahie: BIOETANOL DARI KULIT BUAH NANAS M a s u k k a nk o m e n t a rA n d a . . .

Beri komentar sebagai: Google Account Publikasikan Pratinjau

Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Posting Lama

Template Travel. Diberdayakan oleh Blogger.

siskaelisabets.blogspot.com/2012/06/bioetanol-dari-kulit-buah-nanas.html

11/11